Disclaimer : Tokoh dalam fanfiksi ini sepenuhnya milik Masashi Kishimoto-sama. (saya hanya meminjamnya) – NARUTO
.
.
.
Warning : OOC (udah berusaha dibikin gak OOC, tapi susah), AU, typo's, dan banyak kekurangan lainnya.
Mengandung beberapa konten yang tidak pantas dibaca anak dibawah umur (DLDR)
.
.
.
Mini Black Briefcase
.
.
.
'Hangat, mengapa ini begitu hangat? Rasanya nyaman sekali, apa yang terjadi denganku? Ahh aku ingat, tanganku diikat dengan kencang oleh Uchiha brengsek itu. Sakit sekali, perih, tapi kenapa aku juga merasakan kehangatan? Apakah aku sudah berada disurga?' batin Sakura saat matanya masih terpejam.
Perlahan Sakura membuka kedua kelopak matanya yang sangat berat itu. Ia pun mengeluarkan sebuah lenguhan kecil tapi itu dapat terdengar oleh Sasuke yang jaraknya sangat dekat dengan Sakura. Sasuke pun melepaskan dekapannya dari Sakura dengan sangat lembut seolah-olah Sakura sangat rapuh. Ditahannya kedua bahu Sakura agar dapat menopang badannya yang lemas. Dilihatnya lah ekspresi Sakura yang begitu lemah membuat hari Sasuke teriris, bagaimana bisa ia setega ini dengan perempuan yang tak sepenuhnya salah?
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
Melihat lelaki brengsek yang telah mengikatnya ada dihadapannya, membuat Sakura berkeinginan untuk menelan kepala pantat ayam itu hidup-hidup. Ia berusaha melepaskan bahunya dari tangan yang telah membuatnya menderita selama satu malam itu. Tak bisa! Ia terlalu lemah bahkan untuk sekedar menggerakkan jarinya. Akhirnya ia memilih untuk berbicara.
"U-chiha-san," suaranya terdengar parau dan hampir seperti gumaman.
"Ada apa, nona?" mendengar Sakura mulai membuka suara yang tidak terlalu jelas membuatnya menajamkan indera pendengar nya.
"Aku i- ka- per- ," walaupun Sasuke sudah menajamkan telinganya, ia hanya mendengar samar-samar ucapan Sakura yang masih seperti gumaman tidak jelas.
"Ahh, mungkin kau laper ? Baiklah, aku akan membelikanmu makanan." Sebelum ia pergi, kepala Sakura telah disandarkan dikepala ranjang dengan bantal sebagai penopangnya agar posisi Sakura hampir seperti duduk. Setelah itu ia pun pergi, keluar dari kamar yang dimasukinya beberapa waktu lalu dengan tergesa-gesa.
'Aku ingin kau pergi, Uchiha-san. Tapi setelah kau pergi, kenapa aku merasa kehilangan kehangatan yang membuatku nyaman?' mata sayunya kini menatap punggung Sasuke yang semakin lama semakin menjauh.
.
.
.
Tak lama setelah ia membeli bubur ayam, Sasuke pun kembali ke kamar hotel Sakura. Dilihatnya Sakura yang masih terdiam seolah memikirkan –melamunkan- sesuatu yang menyedihkan. Dada Sasuke kini terasa sesak –sangat sesak- melihat perempuan itu jadi semengenaskan ini .
"Aku sudah membelikanmu bubur, jadi makanlah," ucap Sasuke yang kini sudah siap menyuapi Sakura dengan sesendok bubur ditangannya.
Sakura hanya melihat Sasuke yang akan menyuapinya, ia masih ragu dengan sikap Sasuke yang telah berubah menjadi sebaik malaikat. Siapa tau Sasuke ingin membunuhnya dengan bubur sianida, kan? Sakura memang harus selalu berhati-hati saat didekatnya.
"Kenapa? Apa kau takut kuracuni?" seolah membaca pikiran Sakura, Sasuke pun memasukkan sendok itu kedalam mulutnya dan memakannya. Kemudian ia kembali menyendokkan bubur itu untuk Sakura.
Melihat hal itu Sakura pun kaget, wajahnya sudah memerah, jika ia memakan bubur yang ada disendok itu artinya ia telah melakukan 'ciuman tidak langsung' dengan lelaki berparas tampan itu, bukan? Sebelum Sasuke mengarahkan sendoknya kedepan mulut Sakura yang menutup rapat, ia berusaha menggelengkan kepalanya.
Melihat gelengan kepala Sakura yang artinya tidak mau memakan bubur yang sudah ia beli susah payah, membuat Sasuke sangat kesal.
"Aku tidak menerima penolakan!" perintah Sasuke yang sukses membuat Sakura kembali ketakutan dengan sosok yang ada dihadapannya ini. Padahal baru beberapa menit lalu ia melihatnya seperti malaikat tapi sekarang ia lebih mirip –err iblis berambut pantat ayam-. Mau tidak mau ia harus memakan suapan demi suapan yang diberikan oleh Uchiha bungsu itu.
Setelah selesai menyuapi dan memberi minum Sakura, ia pun melihat jam dan bersiap akan kembali ke kantor. Dilihatnya Sakura yang masih terlihat –err, menyedihkan karena tak memakai baju- ia pun berinisiatif untuk membawanya ikut serta dan perlahan Sasuke mendekati Sakura.
"Nona, kau akan ikut ke kantorku untuk mengambil kopermu. Jadi biarkan aku menggendongmu," ucap Sasuke yang terdengar hampir seperti perintah.
"T-tunggu, Uchiha-san,"
"Aku tidak menerima penolakan, nona,"
"B-bukan" suaranya telah terdengar lebih baik karena asupan energi tadi. Sasuke pun menyeritkan keningnya, dilihatnya Sakura menunjuk kolong tempat tidur.
"Kopermu, Uchiha-san"
"Ahhh, kau benar tapi itu sudah tidak penting. Nanti akan kusuruh orang lain untuk mengambilnya" mendengar hal itu, Sakura pun mengangguk mengerti dan membiarkan Sasuke menggendongnya menuju mobil yang akan membawa mereka menuju kantor Uchiha Corporation. Ia sudah tak bisa lagi mengelak dari lelaki yang tidak menerima penolakan tersebut.
.
.
.
Sasuke pun keluar dari mobilnya, tapi Sakura terlihat enggan untuk keluar dari mobil dan berjalan melewati para pekerja di perusahaan Uchiha Corp. Kenapa begitu? Tentu saja karena ia tak memiliki pakaian, ia hanya mengenakan selembar handuk yang sejak semalam –err, belum diganti- dan jas Sasuke yang wanginya –sangat- memabukkan.
"Kenapa, nona?"
"Aku tidak memakai baju, Uchiha-san," terang Sakura. Ia sangat malu mengucapkan itu didepan lelaki yang baru dikenalnya selama satu malam itu.
"Kau malu, huh?" terlihat lagi seringai dibibir seksi milik lelaki berambut hitam kebiruan tersebut.
"Te-tentu saja, Uchiha-san. Ini akan benar-benar terlihat memalukan jika aku berjalan disampingmu,"
Melihat Sakura yang sejak tadi menunduk dan tidak mau turun dengan alasan malu karena tak memakai pakaian yang layak dan malu karena akan berjalan disampingnya, membuat Sasuke harus menggendongnya –lagi- ala bridal style. Sasuke terlalu muak dengan alasan-alasan logis yang dilontarkan oleh Sakura, memangnya dalam situasi ini siapa yang dapat berpikir logis, huh?
Saat mereka memasuki kantor itu, terlihat hampir seluruh pekerja yang tadinya mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing jadi terganggu dengan pemandangan langka itu. Tentu saja mereka tau kalau pimpinannya itu –sangat- tampan, tapi bukan berarti mereka lupa juga dengan sikap dingin yang selalu ditampilkan kepada mereka.
Sakura yang melihat banyak orang yang memperhatikan mereka tentu saja merasakan malu yang luar biasa, sontak menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sasuke yang sejak tadi masih berjalan membawa Sakura dalam gendongannya pun langsung terkikik geli melihat Sakura yang menutupi wajahnya itu. Memangnya hal itu dapat mengurangi rasa malunya, huh? Ada-ada saja.
Saat akan masuk ke ruangannya, Ino selaku sekretaris Sasuke yang baru saja membawa perempuan dalam gendongannya langsung terbelalak kaget. Bagaimana bisa pemimpin yang selama ini selalu menampilkan wajah stoic-nya didepan orang-orang bisa terkikik geli seperti tadi? Aneh memang tapi inilah kenyataannya.
Setelah sampai di ruangannya, Sasuke pun langsung menurunkan perempuan berhelai merah muda itu di sofa ruangannya. Merasa sudah diturunkan, Sakura pun membuka kedua telapak tangan yang tadinya menyembunyikan wajahnya itu. Pandangan matanya langsung menyapu ruangan kerja milik Sasuke itu, tapi saat ia melihat siluet kopernya ia langsung melongo.
"Ternyata U-uchiha-san benar-benar membukanya," wajah Sakura sudah cukup merah dan menunduk karena malu.
"Tentu saja, aku kan ingin membuka file data pentingku," elak Sasuke, seolah-olah Sakura menuduhnya sebagai lelaki mesum.
"Bolehkah aku mengambil koperku sekarang?" tanya Sakura yang masih menundukkan kepalanya.
"Tentu saja,"
Karena merasa diijinkan, ia langsung buru-buru melangkahkan kakinya menuju meja kerja Sasuke. Dipungutinya satu per satu bikini yang sebagian keluar dari kopernya dengan sangat cepat karena takut dilihat oleh Sasuke. Sakura yang sudah memisahkan pakaian yang akan digunakannya pun langsung meminta ijin pada Sasuke.
"Ummm, Uchiha-san. Dapatkah saya meminjam kamar mandinya? Saya ingin berganti pakaian,"
"Tentu saja, kamar mandi diruangan ini ada disebelah sana," ucap Sasuke sambil menunjukkan arah letak kamar mandi pada Sakura.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," Sakura pun langsung mengambil pakaiannya dan melenggangkan kakinya menuju kamar mandi.
Tak lama setelah Sakura memasuki kamar mandi ruangan itu, tiba-tiba terdengarlah ketukan dari luar. Tanpa pikir panjang, Sasuke pun langsung berkata...
"Masuk"
Ketika Sasuke melihat orang yang mengetuk pintunya tadi masuk kedalam ruangannya, ia pun refleks menautkan kedua alisnya tanda bahwa ia bingung. Terlihat senyum Itachi mengembang yang ditujukan untuk adiknya kesayangannya.
"Ada apa, Otouto ku tersayang? Kau bingung melihatku disini, eh?"
'Cih, menjijikan sekali panggilan –sok- sayangnya itu'
"Kenapa nii-san kembali dari Oto?"
"Hahaha, aku ingin tau hasil kelanjutan dari kerja sama kita dengan Suna. Tapi sepertinya otouto ku ini sudah menyelesaikannya dengan sempurna, eh?"
Bagaikan tersambar petir, muka Sasuke yang dingin langsung berubah menjadi kaku. Ia sudah menggagalkan proyek kerja sama yang dititipkan Itachi padanya.
"Aku tidak berhasil," wajahnya masih datar.
Itachi menyeritkan keningnya, kebingungan dengan apa yang dilakukan Sasuke sampai harus meninggalkan proyek kerja sama itu dan membuatnya gagal.
"Apa yang kau lakukan, eh? Sejauh ini aku selalu tau kalau kau mampu menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, ceritakanlah apa yang mengganggumu" rayu Itachi. Ia tau sikap Sasuke agak aneh saat ini.
"Hn, hanya ada sedikit kesalahpahaman,"
"Maksudmu?" sudah kesekian kalinya Itachi menyeritkan kening mendengar pernyataan Sasuke yang sangat ambigu itu. Kali ini ia memang harus bersabar agar adik kesayangannya itu mau menceritakan sebab-akibat dari ketidakberhasilan proyek kerja sama itu,
Belum juga terjawab rasa penasaran Itachi, sudah ada suara pintu yang hendak terbuka sepenuhnya dari arah kamar mandi.
"Ada siapa itu? Apakah ada tamu, Sasuke?"
Belum sempat pertanyaannya itu terjawab oleh Sasuke, tiba-tiba ada seorang perempuan berambut merah muda yang sedang menyampirkan jas dan handuk dilengan kirinya. Melihat hal itu, lagi-lagi Itachi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaannya yang jawabannya bisa menjelaskan keanaehan diruangan ini.
"Siapa itu, Sasuke?" Itachi masih menyeritkan keningnya.
"Bukan urusanmu, nii-san," Sasuke masih menampilkan wajah datar tapi bulir-bulir keringat sudah mengalir dipelipisnya, ia sudah –seperti- ketahuan memiliki 'simpanan kecil' selama ini.
"Apa ini yang membuatmu menggagalkan kerja sama dengan Suna? Apa kau terlalu sibuk dengan berbagi kehangatan dengannya? Ingatlah Sasuke, kau sudah dijodohkan dengan anak kenalan Kaa-san,"
"Mengapa kau bisa berpikir seperti itu nii-san?" wajak Sasuke sedikit berubah, kaget mendengar pertanyaan nii-san nya yang menohok hati. Ia langsung melirik ke arah Sakura, memastikan bahwa keadaan Sakura saat ini baik-baik saja.
Sakura yang ditatap oleh Sasuke langsung merasa sangat bersalah dan memilih untuk membuka mulutnya...
"Ummm, maaf Uchiha-san. Lebih baik saya pulang saja, terima kasih untuk semuanya" sambil membungkuk canggung, Sakura langsung menyampirkan jas yang ada dilengannya kekursi kebesaran ruangan itu dan membawa koper hitam kecil yang ada diatas meja itu pergi bersamanya.
Sasuke dan Itachi melihat Sakura berjalan keluar ruangan itu. Tapi sebelum Sakura sempat menyentuh gagang pintu, Sasuke pun langsung berbicara.
"Jangan bergerak dari sana, biarkan aku yang mengantarmu,"
.
.
.
.
tbc
.
.
.
.
Akhirnya chapter 3 selesai, yeee *teriak gaje* Dichapter 2 kemaren ada beberapa typo yang baru bisa diubah tadi, huahuahua... Terus saya minta maaf karena udah bikin Sasuke jadi LUPA, ya walaupun menurut saya orang sepintar apapun pasti pernah lupa juga, kan? Hahaha :v
Maaf juga kalo feel di ch 2 ga terlalu kerasa karena Sasuke yang awalnya jahat banget dibikin jadi baik banget, hehehe :v
.
.
Sekarang balesan review dulu ya ^_^
zarachan : ini udah lanjut, cepet kan? Hahaha :v login yuu *maksa* #plak
Ranindri : Saku-chan gak di perk*sa, kok.. Maaf ya ngecewain karena gajadi lemon, hahaha :v
Yukihana Miyano : Makasih Yuki-chan, ganyangka ada yang bilang sugoi *terharu* . Ini udah lanjut, kok.. maaf kalo ngecewain L
Aikaa-chan : iya nih, update kilat soalnya.. 2 hari sekali, tapi kayaknya untuk chapter depan bakalan 1 minggu sekali deh :'v Sasu-chan gajahat-jahat amat, kok.. Dia kan masih mau tanggung jawab, hehehe #plak
HitsugayaWaifu: panjangin lagi, ya? Ini udah panjang belom? Nambah ratusan kata doang sih *hiks* Gabisa terlalu banyak nambahinnya soalnya update kilat 2 hari sekali, jadi agak ngebut, hehehe :v
ElzaMarquez : Iya ada yang janggal, kan ada typo nya kemaren, tapi sekarang udah dibenerin, kok.. hahaha :v iya login dong *maksa* #plakk
echaNM : Hahaha :v iya, kebanyakan su'udzon sama khilafnya nih Sasu-chan. Pantengin terus ya fic gaje ini...
Gue : Iya ada copy-annya, Sasuke jadi pelupa deh. Maaf ya Sasuke dibikin jadi lupa :'v Gaada apa-apa, kok. Sasuke langsung ninggalin Sakura gitu aja dalem kamar hotel itu, maaf ya gajadi lemon :'v
hanazono yuri : Ini udah lanjut, thanks reviewnya :'v
Haruno Yumi : Iya, maaf ya bikin Sasuke lupa dan malu-maluin Uchiha. Tapi lupa itu hal wajar bagi manusia kan? Maafin akuh yahhh *alay* #plak
Guest : ini udah lanjut, cepet kan? Hahaha :v login yuu *maksa* #plak
lightflower22 : Hahaha :v maaf ya kalo feelnya gakerasa.
Kucing genduttidur : Makasih udah suka *ganyangka* #plak ... Susah manjangin lagi nih, soalnya update kilat 2 hari. Tapi untuk ch depan kayaknya bakalan 1 minggu sekali. Pantengin terus ya :D
Special thanks to :
zarachan, Ranindri, Yukihana Miyano, Aikaa-chan, HitsugayaWaifu, ElzaMarquez, echaNM, Gue, hanazono yuri, Haruno Yumi, Guest, lightflower22, Kucing genduttidur dan
semua silent reader yang baca fic gaje ini :'v
Karena saya masih belajar dan akan terus belajar, mohon berikan review dan saran untuk memperbaiki fic saya yang berantakan ini jika berkenan..
20/09/2016
Hime Luvchubby
