Disclaimer : Tokoh dalam fanfiksi ini sepenuhnya milik Masashi Kishimoto-sama. (saya hanya meminjamnya) – NARUTO
.
.
.
Warning : OOC (udah berusaha dibikin gak OOC, tapi susah), AU, typo's, dan banyak kekurangan lainnya.
Mengandung beberapa konten yang tidak pantas dibaca anak dibawah umur (DLDR)
.
.
.
Mini Black Briefcase
.
.
.
"Ummm, maaf Uchiha-san. Lebih baik saya pulang saja, terima kasih untuk semuanya" sambil membungkuk canggung, Sakura langsung menyampirkan jas yang ada dilengannya kekursi kebesaran ruangan itu dan membawa koper hitam kecil yang ada diatas meja itu pergi bersamanya.
Sasuke dan Itachi melihat Sakura berjalan keluar ruangan itu. Tapi sebelum Sakura sempat menyentuh gagang pintu, Sasuke pun langsung berbicara.
"Jangan bergerak dari sana, biarkan aku yang mengantarmu,"
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
[Sakura POV]
'Kriieettt'
Aku membuka pintu di kamar mandi karena sudah selesai mengganti handuk ini dengan baju yang lebih layak.
Ahh, akhirnya aku dapat pulang dengan tenang setelah ini. Setidaknya pakaianku ini lebih nyaman dari pada jas dan handuk ini.
Aku pun berjalan dan ingin mengembalikan jas Sasuke. Tapi karena aku juga membawa handuk, akhirnya aku memutuskan untuk menyampirkannya dulu ditangan kiriku.
Saat terdengar ada suara, aku pun langsung mengalihkan pandangan ku ke arah asal suara.
"Siapa itu, Sasuke?" aku melihat seorang laki-laki yang wajahnya mirip Uchiha-san, tapi ada garis kerutan diagonal diantara mata dan hidungnya. Keningnya menyerit, mungkin keberadaanku memang benar-benar membuatnya bingung.
"Bukan urusanmu, nii-san," suara baritone Sasuke yang seksi mulai terdengar. Ehh, tunggu apa itu tadi? Jadi orang yang bertanya barusan itu Nii-san nya Sasuke. Ya, mereka memang mirip.
Tiba-tiba terdengar lagi suara Nii-san nya, aku masih berdiri terpaku disini, aku tidak mungkin bisa mengganggu interaksi 'kakak-adik' mereka.
"Apa ini yang membuatmu menggagalkan kerja sama dengan Suna? Apa kau terlalu sibuk dengan berbagi kehangatan dengannya? Ingatlah Sasuke, kau sudah dijodohkan dengan anak kenalan Kaa-san,"
Ia berbicara begitu sambil melihat sesuatu yang ada ditanganku. Ohh, bagaimana mungkin aku lupa? Aku sedang memegang jas Sasuke dan juga handuk, mungkin dia pikir kami habis berbuat macam-macam. Tapi, memang benar apa yang Nii-san Sasuke katakan, aku yang menggagalkan kerja sama perusahaan mereka dengan menyimpan kopernya yang berisi data penting.
Aku jadi merasa tidak pantas disini, seolah-olah akulah yang merusak semuanya. Bagaimana jika orang tuanya datang dan melihat kami disini? Mungkin aku akan disingkirkan karena dia sudah dijodohkan, aku harus pergi dari sini. Hatiku sesak, rasanya aku akan menangis. Tidak, tidak boleh, aku harus pergi sekarang. Sekali lagi aku mendengar Sasuke berbicara dengan menahan geraman.
"Mengapa kau bisa berpikir seperti itu, nii-san?" Sasuke langsung melirik ke arahku. Ditatap seperti itu makin membuatku membulatkan tekad untuk pergi, aku akan berterima kasih dulu dengannya. Aku akan keluar dari sini dengan cepat, aku tidak mau tangis ku tumpah disini.
"Ummm, maaf Uchiha-san. Lebih baik aku pulang saja, terima kasih untuk semuanya" aku pun membungkuk untuk memberi hormat. Dengan cepat aku langsung menyampirkan jas Sasuke ke kursi kerjanya dan menggeret koper mini hitamku menuju pintu keluar ruangan ini. Tapi, sebelum aku sempat menyentuh gagang pintu, Sasuke langsung berbicara...
"Jangan bergerak dari sana, biarkan aku yang mengantarmu,"
Kepalaku menggeleng cepat. "Tidak perlu Uchiha-san, saya akan kembali ke hotel sendiri. Terima kasih Uchiha-san," aku masih membelakangi mereka, tanganku masih memegang gagang pintu dan dengan perlahan membuka pintunya sebagian. Tapi saat aku akan melangkah keluar, tiba-tiba ada tangan yang mencegahku.
'Tes..'
Air mata ku sukses mengalir, bagaimana bisa dia menahanku seperti ini. Apa dia akan mengantarku dan meninggalkan nii-san nya? Air mataku sudah mengalir tapi aku tidak mungkin memperlihatkan air mataku didepan kakak beradik tersebut.
"Apa kau masih tidak mengerti? Aku tidak menerima penolakan," Sasuke pun langsung menarik tanganku dan membuatku berjalan dibelakangnya sambil menggeret koperku.
Tapi sebelum kami benar-benar keluar dari ruangan itu, ada suara nii-san Sasuke yang berteriak."Mau kemana kau, Sasuke?"
Karena mendengar itu, aku langsung berbicara pada Sasuke agar menghentikannya yang akan membawaku pergi.
"Uchiha-san, apa tidak apa-apa kau meninggalkan Nii-san mu pergi?" aku berbicara seperti itu sambil mengurangi isakkan tangisku yang hampir pecah.
"Kau terlalu banyak bicara !" Sasuke masih memegangi lenganku dan semakin mempercepat langkahnya untuk membawaku pergi dari tempat ini.
.
.
.
[Normal POV]
Mereka telah berada di depan mobil, Sasuke pun berdiri menghadap Sakura, tangannya terangkat dan mulai mengusap air mata dipipi perempuan bermata emerald tersebut.
"Kau tidak perlu menangis hanya karena hal ini,"
"Ini semua salahku, aku yang membuat proyek kerja sama perusahaanmu hancur. Maafkan aku... hiks,"
"Sudahlah, lagian ini bukan salahmu," dengan tenang Sasuke menurunkan tangannya yang tadi dipakai untuk menghapus air mata Sakura diwajahnya.
"Bagaimana bisa?" Sakura pun menyeritkan kening.
"Data itu, ternyata aku punya copy-an nya. Aku hanya lupa," persetan dengan harga diri, Sasuke hanya ingin mengakui kesalahannya.
Tangan Sasuke pun mengambil koper yang ada ditangan Sakura dan gerakannya tertahan. Tapi sebenarnya, Sakura lah yang menahan kopernya agar tak diambil oleh Sasuke. Tiba-tiba Sakura pun menggelengkan kepala dan menundukkan agar menghindari tatapan tajam Uchiha Sasuke.
"Tidak Uchiha-san, aku yang minta maaf. Tapi kau tidak perlu mengantarku karena kau sudah dijodohkan dengan orang lain, aku tidak mau membuat keluargamu salah paham,"
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak peduli dengan perjodohan itu dan akan tetap mengantarmu!"
"Tapi-" baru saja Sakura akan berbicara panjang lebar untuk menolak kebaikan Uchiha bungsu satu ini, tapi ia malah mendapatkan pandangan mata super tajam dari mata Onyx yang membuatnya terdiam seketika.
"Masuklah," akhirnya Sakura masuk kedalam mobil dan mengantarnya kembali kehotel. Sebelum pulang, Sakura memaksa Sasuke untuk membawa kopernya. Akhirnya Sasuke pun kembali ke kantornya dengan membawa koper hitam miliknya.
.
.
.
[Sakura POV]
Akhirnya aku kembali ke sini, aku sudah terlalu lelah dengan semuanya. Aku sudah tidak bisa membayangkan apa yang akan dihadapi oleh Uchiha itu karena ku. Ah sudahlah itu semua tidak penting, aku sekarang sudah bebas. Lebih baik aku mengurus diriku sendiri ketimbang memikirkannya.
Saat akan terpejam, otakku mengingat sesuatu yang penting. Ya, aku harus mengetahui kondisi keuanganku saat ini, aku pun membuka dompet. Huh, uangku hanya cukup untuk menginap dihotel ini 2 hari lagi.
'Bagaimana ini? Sepertinya aku harus mencari kerja karena aku yakin kartu-kartu ini tak akan membantuku dalam waktu dekat.'
'Tapi bagaimana aku bisa mencari kerja kalau semua berkas ku ada dirumah? Aduh, aku sudah putus asa sekali kalau keadaannya seperti ini. Lebih baik aku menemuinya saja, semoga ia dapat membantuku.'
Aku pun melangkahkan kakiku kedepan hotel ini dan menyetop sebuah taksi. Setelah aku masuk dan menyebutkan tujuannya, taksi ini pun melaju dan memberhentikanku ditempat tujuan.
Dihadapanku ada gedung tinggi yang menjulang dengan tulisan -Uzumaki Corporation- besar di bagian depannya. Dengan yakin aku memasuki gedung ini dan akan bertemu dengan seseorang, ya seseorang yang kupercaya dapat membantuku saat ini. Aku pun bertanya dengan seseorang yang sekiranya dapat membantuku bertemu dengan orang itu di meja resepsionis.
"Maaf, apakah saya bisa bertemu dengan Uzumaki Naruto-san?"
"Apa anda telah memiliki janji dengannya?" tanyanya balik.
"Umm, tidak. Tapi saya mengenalnya, jadi bisakah saya bertemu dengannya?"
"Sebentar," ia pun mengambil gagang telepon dan memencet beberapa nomor yang menyambungkannya dengan seseorang. Tak lama ia melihat kearahku dan bertanya...
"Maaf, nama anda siapa?"
Seketika itu juga aku merasa deja vu, teringat dengan pertemuan pertamaku dengan Uchiha dan aku mengaku sebagai Uchiha Sakura, aduh aku malu sekali.
"Ummm, namaku Haruno Sakura," ucapku sambil tersenyum karena tak mengalami kesalahan untuk kedua kalinya.
"Kemudian ia kembali berbicara dengan orang ditelepon itu yang tidak ku perhatikan sehingga aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Kemudian ia kembali melihat kearahku.
"Nona, Haruno. Anda dipersilahkan bertemu dengan Uzumaki-sama dilantai 3. Silahkan," Ucapnya sambil tersenyum kepadaku kemudian membungkuk. Dan aku pun juga ikut membungkuk untuk meresponnya.
Aku kembali menaiki lift, seketika itu juga aku deja vu lagi, aku pun tersenyum-senyum sendiri saat mengingatnya. Pertemuan dengan Uchiha tampan itu membuatku senang juga sedih. Perlakuannya terhadapku sangat naik-turun secara drastis, kadang jahat kadang juga baik sekali. Walaupun begitu, aku pikir dia bukan orang yang buruk juga.
Pintu lift terbuka dan aku pun berjalan menuju meja sekretaris yang aku pikir itu adalah sekretaris Naruto, Naruto adalah teman lama ku. Ia pindah dari Suna ke Konoha karena pekerjaan orang tuanya, maka dari itu aku mengenalnya sebagai teman lama. Aku pun menghampiri sekretaris itu dan bertanya...
"Dapatkah saya bertemu dengan Uzumaki Naruto-san?"
"Apakah anda yang bernama Haruno Sakura?" tanyanya kembali kepadaku. Aku heran kenapa diperusahaan ini sangat suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.
"Ya,"
"Kalau begitu silahkan masuk kedalam, Uzumaki-sama telah menunggu anda,"
Aku pun membungkuk dan pergi menuju ruangan itu. Kubuka perlahan pintu ruangan nya sampai ada senyum lebar –tawa- dari lelaki berambut pirang tersebut.
"Naruto,"
"Sakura, kau lucu sekali," dia tertawa sambil melihatku. Aku menyeritkan kening setelah mendengarnya.
"Ada apa Naruto,"
"Kau memanggilku dengan Uzumaki Naruto-san, HAHAHA. Aku merasa seperti dihormati olehmu, padahal dulu kau sama sekali tidak pernah bersikap baik padaku. Yang kau lakukan hanyalah memukulku, HAHAHA"
Rasanya perempatan siku-siku dikeningku sudah muncul, aku sangat jengkel dengan penuturannya yang super-duper jujur itu.
"Berhentilah tertawa, Naruto. Atau aku akan benar-benar memukulmu saat ini,"
"Baiklah-baiklah, Sakura. Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau datang kemari?" tanya Naruto sambil berjalan dan kemudian duduk disofa depanku, padahal sebelumnya ia duduk dikursi kekuasaannya.
"Begini, Naruto. Aku ingin mencari pekerjaan," aku melihat wajahnya, ia kebingungan.
"Bukankah kau harusnya ada di Suna? Kenapa kau malah kemari dan ingin mencari pekerjaan?"
"Ummm, sebenarnya aku memang sudah bekerja di Suna. Diperusahaan ayahku 'Haruno Corporation'. Tapi ..."
"Tapi apa Sakura? Jangan membuatku penasaran,"
"Tapi sebenarnya, aku kabur dari rumah,"
Hening
1 detik
2 detik
3 detik
"APAAA? KAU KABUR, SAKURA? APA YANG TERJADI?"
"Naruto, tenang dulu. Dengarkan ak-"
"Aku akan menelpon orang tuamu, tunggu sebentar,"
"JANGAN NARUTO, AKU TIDAK INGIN MEREKA TAU KEBERADAANKU," aku pun langsung menghentikan gerakan tangannya yang akan menekan nomor kontak ayahnya. Aku menggeleng dan mengambil paksa telepon Naruto.
"Kenapa, Sakura? Apa yang terjadi sampai kau pergi dari rumah?"
"Baiklah aku akan menceritakannya,"
[Flashback On]
Lima hari yang lalu dipagi hari yang cerah, Sakura ada dikamarnya, tiba-tiba Kaa-san nya -Haruno Mebuki- mengetuk kamar itu dari luar.
'tuk.. tuk... tuk'
"Buka pintunya, sayang."
"Iya, Kaa-san," Sakura pun membuka pintunya dengan cepat. Kepala berambut merah muda Sakura pun menyembul keluar dari pintu.
"Ada apa Kaa-san? Apa kita akan sarapan bersama?"
"Biarkan Kaa-san mu ini masuk kekamarmu dulu karena ada yang ingin Kaa-san sampaikan padamu," Sakura pun membuka pintu kamarnya dan membiarkan Kaa-san nya masuk.
"Kaa-san, apa yang ingin dibicarakan?"
"Bagaimana pekerjaan mu sekarang?:
"Baik, seperti biasa. Kadang aku bosan karena melelahkan tapi sebentar lagi aku akan pergi ke kantor,"
"Lelah ya?" ucap Kaa-san nya perlahan.
"Iya, kadang aku berpikir untuk berhenti saja," Sakura pun menundukkan kepalanya. Ka-sannya melihat hal itu dan langsung berbicara dengan lembut.
"Kau benar ingin berhenti?"
"Apakah boleh Kaa-san? Sebenarnya aku mau bekerja di perusahaan karena Tou-san menyuruhku untuk mandiri,"
"Tentu saja, tapi ada satu syarat,"
"Syarat? Apa itu Kaa-san?" Sakura semakin keheranan karena Kaa-san nya memberikan penawaran yang aneh.
"Kamu harus menikah dengan lelaki pilihan Kaa-san dan Tou-san,"
Bagaikan tersambar petir, Sakura langsung diam dan bersiap masuk kedalam kamar mandi. Tapi sebelum sempat memegang gagang pintu kamar mandinya, suara Kaa-san nya menghentikannya.
"Bagaimana, Sakura?"
"Aku akan memikirkannya nanti, Kaa-san. Sekarang aku akan bersiap-siap kekantor dulu, jadi aku akan mandi,"
"Ummm, baiklah. Aku akan turun kebawah. Setelah mandi jangan lupa ke meja makan untuk sarapan,"
"Iyaa,"
.
.
.
Sakura pun turun dari kamarnya dan langsung menuju meja makan. Dilihatnya Tou-san dan Kaa-san nya yang sejak tadi menunggunya, ia pun langsung menduduk kan dirinya dan mengambil selembar roti yang kemudian mengolesnya dengan selai untuk makan paginya.
"Ehemm, Sakuraa," Tou-san Sakura, Haruno Kizashi yang merupakan kepala keluarga berdehem.
"Ada apa, Tou-san?"
"Aku kira kau sudah tau apa yang telah Kaa-san mu bicarakan tadi,"
"Ya,"
"Tapi sebelum itu, Tou-san akan bertanya. Apakah kau memiliki pacar?" pertanyaan Tou-san yang langsung menohok hatinya. Sejak lama Sakura tidak memiliki pacar. Ingin rasanya ia berbohong agar terhindar dari perjodohan bodoh ini, tapi apa daya? Mata Tou-san yang sudah menatap langsung ke Emerald nya membuatnya tak bisa berbohong.
"Tidak ada, Tou-san," Sakura menggeleng lemah.
"Baguslah, jadi apa keputusanmu, Sakura?" tanya Kizashi memastikan kepada putrinya lagi.
"Aku akan memikirkannya, Tou-san, aku akan berangkat kerja dulu,"
"Baiklah hati-hati," ucap ayahnya.
"Hati-hati, Sakura," ucap ibunya, Mebuki.
.
.
.
Sampai dikantor, Sakura seperti tidak memiliki semangat hidup. Teman sekantornya pun tidak ada yang berani mengganggu Sakura yang sedang tidak mood itu.
Akhirnya ia pun pulang kerumah, tapi sebelum itu ia melihat ada mobil asing didepan rumahnya. Sakura pun memutuskan untuk sembunyi dibalik tembok pagar rumahnya. Tapi saat ada orang mendekat, ia pun semakin gugup dan masih bersembunyi dan mengawasi lelaki itu dari balik tembok.
Dalam hatinya ia berkata.
'Inikah orang yang akan dinikahkan denganku?' ia menatap nanar lelaki itu.
Setelah lelaki itu pergi, ia langsung memasuki rumahnya dan disambut senyum sumringah Kaa-san nya.
"Besok lusa kau akan bertemu orang yang akan dijodohkan denganmu, Sakura. Dia orang yang baik,"
"Aku berubah pikiran, Kaa-san. Aku tidak mau dijodohkan!" mata Sakura telah berkilat marah dan berkabut kekesalan.
"Bagaimana bisa, sayang. Keluarga kita telah menyetujui pertemuan itu, bagaimana jika bertemu dulu dengannya? Tak ada salahnya, kan?"
"Tidak, lebih baik aku pergi!" Sakura yang masih mengenakan pakaian formal kantor pun langsung mengambil koper hitam kecilnya dan menyisipkan dompet didalamnya. Ia pun keluar rumah dengan cepat dan menaiki taksi sambil tidak menghiraukan teriakan Kaa-san nya. Tanpa pikir panjang ia pun pergi ke Konoha dengan taksi menuju stasiun dan melanjutkannya dengan kereta.
[Flashback Off]
"Begitu ceritanya, Naruto," ucapku dengan ekspresif setelah menyelesaikan cerita kepergian tragisku dari Suna.
"Tapi, Sakura. Aku masih tidak mengerti kenapa kau ingin kabur kesini,"
"Sudah jelas aku tidak ingin dijodohkan, Naruto," aku menatap Naruto geram karena masih tidak mengerti masalah yang sudah kuceritakan panjang lebar itu.
"Tapi, kau kan tidak memiliki kekasih. Untuk apa menolak perjodohan itu?" dia terus-terusan bertanya. Naruto ini bodoh atau apa sih?
"Kau tidak tau kan apa yang kuliat dari balik tembok rumahku?" ucapku memancing rasa penasarannya.
"Memang apa yang kau lihat, Sakura?" tanyanya sambil menatap aku kebingungan.
"Jadi sebenarnya yang kulihat itu adalah ..."
[Flashback On]
.
.
.
.
tbc
.
.
.
.
Yeay ch 4 update *tawa nista* niatnya mau dibikin update seminggu sekali tapi tangan saya gatel pengen upload, kalo masih ada typo tolong dikasih tau ya soalnya chap ini kurang edit :'v
dan jeng..jeng di chap ini terbongkarlah alasan Sakura jauh-jauh datang dari Suna ke Konoha. Hahaha :v
Aku rasa ini udah cukup puanjanggg, ya. Niatnya mau dipotong pas flashback biar semua flashbacknya chap depan aja tapi takut kependekkan, akhirnya malah dipotong pas lagi asik flashback-an, hahaha :v *deviLaugh*
.
.
Sekarang balesan review dulu ya ^_^
QLenka: Waduh mini black forest, jadi pen makan yang manis-manis nih, hahaha. Ini word nya udah dipanjangin dikit, makasih review nya yahh, senpai :'v Btw, namanya dikurangin titik gagapa ya?
Keila : Hahaha iya asyik, maunya sih gitu tapi... ehmm, dipertimbangkan deh.. makasih reviewnya,, senpai :'v
HitsugayaWaifu : Iya ini udah update, setuju banget sampe saya kurang bahan bacaan ff SasuSaku loh *eh* Kalo ada saran ff SasuSaku yang seru PM aja ya, senpai :D Makasih reviewnya, senpai :'v
ElzaMarquez : Iya ini udah lanjut, kok.. oh gitu, sabar aja ya. Yang penting review aja terus ff ini *tawa nista* #plak. Makasih reviewnya, senpai :'v
Aikaa-chan : Hello too, senpai :'v bukan, kok. Sakura buka perwakilan dari Suna... hahaha saya aja ngetiknya sambil ketawa nista loh pas adegan masuk kantor pake handuk itu #plakk iya, ini udah panjang belom. Makasih reviewnya, senpai :'v
lightflower22 : huhuhu :v ini udah gasalah paham lagi, kan? Makasih reviewnya, senpai :'v
zarachan : Iya deh gapapa.. yang penting review teru *eh* #plakk.. makasih reviewnya, senpai :'v
sarada15 : tihati senpai, ntar bahaya kalo senyam-senyum sendiri mulu.. hahaha maaf ya dichap ini gaada debarannya(?) #plakk .. Makasih reviewnya, senpai :'v
echaNM : Iya kali, gatau neh :v #plakk.. tanda-tanda apa ya? *gapeka* ikutin ff ini terus aja yah #plakagain :v Makasih reviewnya, senpai :'v
Luca Marvell : Tertarik gak ya? Ini kan pairnya Sasusaku, ya pasti tertarik lah, hahaha :v Makasih reviewnya, senpai :'v
Nurulita as Lita-san : Asekkk, true senpai :'v Makasih reviewnya, senpai :'v
hanazono yuri : Udah panjang belom? Makasih reviewnya, senpai :'v
Rein Riekho Kei: Iyalah makanya aku suka *eh #dishannarosakura #plak Makasih reviewnya, senpai :'v
Azuma Sarafine : Ini udah update? Makasih reviewnya, senpai :'v
sarahachi : Ini udah diupdate, hahaha :v aku malah gayakin bakalan seru #plakk.. Makasih reviewnya, senpai :'v
Special thanks to :
QLenka, Keila, HitsugayaWaifu, ElzaMarquez, Aikaa-chan, lightflower22, zarachan, sarada15, echaNM, Luca Marvell, Nurulita as Lita-san, hanazono yuri, Rein Riekho Kei, Azuma Sarafine, sarahachi dan
semua silent reader yang baca fic gaje ini :'v
Karena saya masih belajar dan akan terus belajar, mohon berikan review dan saran untuk memperbaiki fic saya yang berantakan ini jika berkenan..
23/09/2016
Hime Luvchubby
