Disclaimer : Tokoh dalam fanfiksi ini sepenuhnya milik Masashi Kishimoto-sama. (saya hanya meminjamnya) – NARUTO

.

.

.

Warning : OOC (udah berusaha dibikin gak OOC, tapi susah), AU, typo's, dan banyak kekurangan lainnya.

Mengandung beberapa konten yang tidak pantas dibaca anak dibawah umur dan BASHING CHARA (DLDR)

.

.

.

Mini Black Briefcase

.

.

.

"Tapi, kau kan tidak memiliki kekasih. Untuk apa menolak perjodohan itu?" dia terus-terusan bertanya. Naruto ini bodoh atau apa sih?

"Kau tidak tau kan apa yang kuliat dari balik tembok rumahku?" ucapku memancing rasa penasarannya.

"Memang apa yang kau lihat, Sakura?" tanyanya sambil menatap aku kebingungan.

"Jadi sebenarnya yang kulihat itu adalah ..."

.

.

.

Chapter 5

.

.

.

[Flashback On] [Sakura POV]

Ragaku memang berada disini, dikantor Tou-san ku 'Haruno Corporation' tapi tidak dengan pikiranku. Hal yang membuatku tetap datang ke kantor hari ini bukanlah perkataan Tou-san melainkan keinginanku untuk tetap melajang dulu karena jika aku seolah bosan bekerja aku akan dijodohkan dengan lelaki pilihan Tou-san dan Kaa-san.

Ah hari sudah sore, aku pun memutuskan untuk pulang kerumah. Aku memutuskan untuk berjalan kaki karena jarak dari kantor menuju rumahku tidak terlalu jauh. Dan aku pun tidak ingin cepat-cepat pulang kerumah karena kejadian tadi pagi.

'TIDAKKK' aku menunduk sambil menggerak-gerakkan kepalaku kekiri dan kekanan.

Tak lama setelah aku masih menggeleng frustasi, ada telapak tangan kecil yang memegang pundakku. Kudongakkan kepalaku dan kulihat kearah sampingku, ternyata tangan mungil itu milik Hinata, sahabatku.

"Ada apa, Sakura-chan?" sebenarnya aku tak mau Hinata tau tentang masalahku dulu, jadi kuputuskan untuk menggoyangkan kepalaku pelan.

"Ceritalah, jangan biarkan dirimu frustasi dengan masalahmu." Huftt... kalau sudah begini aku jadi tidak bisa mengelak lagi dari Hinata. Akhirnya kami berdua pun berjalan beriringan.

"Baiklah... baiklah... Walaupun aku tidak sepertimu yang selalu menyembunyikan identitas kekasih dari sahabatnya sendiri, hehehe," kulihat wajahnya merona hebat. Sepertinya 'nyindir no jutsu' ku bekerja dengan baik padanya, eh?

"Sa-Sakura-chan, kenapa kau bilang begitu? Aku hanya menunggu waktu yang tepat," aku terkekeh melihatnya masih tergagap karena malu, mukanya sangat menggemaskan.

"Sebenarnya tadi pagi..." aku pun mulai menceritakan kejadian tadi pagi yang benar-benar menyebalkan.

. . .

"Jadi begitu, Hinata." Aku pun mengakhiri sesi ceritaku. Kulihat lagi Hinata yang masih disampingku.

Sekilas aku lihat dia mengangguk, "Sakura, cobalah untuk menerima permintaan orang tua mu, kita kan sudah dewasa sudah saatnya kita memiliki pasangan. Aku tau ini sulit, tapi cobalah untuk percaya kepada pilihan keduanya. Mereka pasti memilih yang terbaik dan tidak akan membiarkan sahabat merah mudaku ini bersedih, bukan?"

Aku pun tersenyum, benar kata Hinata. Mungkin aku akan mencoba untuk bertemu dengan orang yang akan dijodohkan denganku dulu, kalau aku tidak suka aku akan jujur kepada Tou-san dan Kaa-san. Aku rasa ini lebih baik daripada bersikap canggung kepada mereka seperti tadi pagi, rasanya aku seperti bukan bagian dari keluarga Haruno saja.

"Baiklah, Hinata. Terima kasih telah menyadarkanku, hampir saja aku menjadi anak durhaka," aku masih menyunggingkan senyum hingga mataku menjadi sipit.

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Ummm, sepertinya kita akan berpisah disini. Arah rumahku kan berbeda denganmu," Hinata menghentikan langkahnya sejenak.

"Kau benar, Hinata. Ngomong-ngomong, kau tadi dari mana, Hinata?"

"Ummm itu... ummm... aku tadi sedang memesan undangan untuk pernikahanku nanti," ucap Hinata gugup.

"APAAA? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan menikah? Kau jahat sekali, huhuhu" aku pun memasang wajah memelas dan berpura-pura mengisakkan tangisku.

"Maaf, Sakura-chan. Tapi aku sudah disuruh untuk tutup mulut olehnya, katanya untuk kejutan," dia menautkan jari telunjuknya grogi.

[Flashback Off]

"SAKURAA-CHAN," ucapan Naruto menginterupsi cerita Sakura.

"Ada apa, Naruto? Aku bahkan belum menyelesaikan ceritaku," kulihat sekilas wajah Naruto memerah.

"I-Itu.. Jangan marah kepada Hinata. Dia tidak bermaksud begitu, aku yang menyuruhnya-"

"APAA? "

"Aku yang menyuruhnya tutup mulut agar bisa memberimu kejutan. Tapi aku tidak rela jika dia jadi dimarahi olehmu,"

Kupukul saja kepala rubah itu, sikapnya benar-benar menyebalkan menuduhku memarahi Hinata.

"JADI KAU CALON SUAMI HINATA, NARUTO-BAKA?"

"Tentu saja dan hei berhenti memanggilku baka, Sakura-chan,"

"Satu lagi, aku tidak memarahi Hinata, Naruto. Kau bahkan belum selesai mendengarkan aku bercerita dan sudah menyimpulkan seperti itu, pikiranmu pendek sekali," aku memijit keningku pelan, aku sudah pusing dengan kelakuan teman lama ku ini.

"Benarkah? Terima kasih, Sakura-chan. Kukira kau bersikap sama sepertiku pada Hinata,"

Perempatan siku-siku mulai bermunculan, aku hampir tidak tahan dengan sikapnya. Tapi aku sadar posisiku disini adalah 'meminta bantuan' aku menarik nafas dan menghembuskannya mengatur emosiku yang masih menggebu-gebu untuk membogemnya dikepala.

"Naruto, aku tidak mungkin memperlakukan Hinata sama seperti aku memperlakukanmu. Hinata tidak semenyebalkan itu, Naruto-baka," oke, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpatnya.

"Oh ya? Baguslah kalau begitu dan kenapa kau menyebutku menyebalkan? Ahsudahlah, lanjutkan saja ceritamu, Sakura-chan," ucap Naruto.

"Karena kau terlalu banyak bicara. Jadi, setelah itu..."

[Flashback On] [Sakura POV]

"Maaf, Sakura-chan. Tapi aku sudah disuruh untuk tutup mulut olehnya, katanya untuk kejutan," dia menautkan jari telunjuknya grogi.

Melihatnya begitu aku jadi tidak tahan untuk tertawa.

"HAHAHAHA, aku hanya bercanda, Hinata. Kalau aku ada diposisimu, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Karena aku tidak ingin mengecewakan calon suamiku," aku tersenyum lagi melihat ekspresi Hinata yang plong itu.

"Terima kasih karena sudah tidak marah padaku, Sakura-chan. Sebaiknya kita segera pulang, hari sudah semakin gelap,"

"Kau benar, Hinata. Jaa ne," aku melambaikan tangan kepada Hinata.

"Jaa," dia tersenyum kepadaku dan membalas lambaian tanganku kemudian dia berjalan kearah yang berbeda dariku. Kami benar-benar terpisah saat ini.

Akhirnya aku pun pulang kerumah, tapi sebelum itu ia melihat ada mobil asing didepan rumahku. Membuatku memutuskan untuk sembunyi dibalik dinding yang menjadi pagar didepan rumahku dan mengawasi seorang lelaki yang muncul dari dalam rumah.

Lelaki itu pun mendekat, tapi tidak terlalu dekat dengan jaraknya saat ini. Karena tujuan utama lelaki itu adalah mobil mewahnya yang terparkir indah didepan rumahnya. Dia berjalan seolah aura kepercayaan dirinya menguar dari dalam tubuhnya.

'Inikah orang yang akan dinikahkan denganku?' aku menatap nanar lelaki itu. Aku tidak bisa membayangkan lelaki seperti inilah yang dipilhkan Tou-san dan Kaa-san untukku.

Dia memang bukan pria gemuk yang doyan makan ataupun pria hitam yang membuatnya lebih seperti orang Afrika nyasar di Jepang, tapi tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang putih itulah yang menjadi masalah.

Lihatlah badannya yang terlalu tinggi dan kurus, berbeda jauh dengan tipe lelaki idamanku. Rambutnya juga hitam, aku tidak mempermasalahkan warna rambutnya seperti kebanyakan orang, tapi aku mempermasalahkan bentuknya. Ya Tuhan, bagaimana bisa dia tahan dengan bentuk rambut itu tanpa khawatir dengan nenek-nenek yang akan mengira rambutnya adalah pantat panci? Atau takut dengan balita yang bisa saja menjambaknya karena melihatnya seperti mangkok gosong yang dipakai untuk menutupi kepala botaknya?

Belum lagi pakaiannya yang sangat monoton seperti tidak ada perpaduan yang layak menandingi warna hijau lumut dipakaiannya, hanya sedikit warna jingga dikain sekitar pergelangan kaki sampai lututnya. Membuat dia terlihat seperti –errr acar-

Belum lagi alis tebalnya, mungkin panggilan yang cocok untuknya adalah 'gejimayu' –si alis tebal-

Dan apa itu tadi? Saat ia membuka pintu mobil mewahnya itu di tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi rapi yang sangat berkilau ketika diterpa sorot lampu didepan rumahnya dan tentu saja rambut mangkoknya.

'ARRGGGHHHH' ini benar-benar gila. Bagaimana jika ia benar-benar jadi suamiku nanti. Aku tidak bisa membayangkan anakku punya rambut mangkok berwarna soft pink yang berkilau dan memakai pakaian berwarna hijau lumut yang terkontaminasi oleh warna merah.

Lihat, aku sangat menyedihkan bukan? Aku masih disini bersembunyi dibalik tembok pagar, hingga kulihat mobil itu bergerak menjauh dari rumah ku.

Setelah lelaki itu pergi, aku memutuskan untuk langsung memasuki rumahku dan disambut senyum sumringah Kaa-san. Tiba-tiba suara ceria keluar dari mulut Kaa-san ku.

"Besok lusa kau akan bertemu orang yang akan dijodohkan denganmu, Sakura. Dia orang yang baik,"

"Aku berubah pikiran, Kaa-san. Aku tidak mau dijodohkan!" mataku telah berkilat marah dan berkabut kekesalan, aku benar-benar berpikir ini sangat konyol.

"Bagaimana bisa, sayang. Keluarga kita telah menyetujui perjodohan itu, lagian kamu juga belum punya pasangan. Tak ada salahnya, kan?" Kaa-san masih merayu ku, aku sudah memutuskan tekad untuk tidak menerima perjodohan itu. Aku juga mengabaikan ucapan Hinata tadi dan mengambil resiko untuk jadi durhaka.

"Tidak, lebih baik aku pergi!" aku yang masih mengenakan pakaian formal kantor pun langsung naik menuju kamarku dan mengambil koper hitam kecil, tidak lupa ku sisipkan dompet didalamnya. Aku pun langsung turun dan keluar rumah dengan cepat. Sampai didepan rumah, aku pun memberhentikan taksi dan menaikinya. Aku mengabaikan teriakan Kaa-san dan memutuskan untuk menahan tangisannya ditaksi. Tanpa pikir panjang aku pun memutuskan untuk pergi ke Konoha dengan taksi ini menuju stasiun dan menggunakan kereta.

Saat aku sudah berada distasiun, aku langsung membeli tiket ke Konoha. Setelah lama menunggu, akhirnya aku dapat masuk ke peron dan duduk sambil melihat pemandangan keluar melalui kaca. Sebenarnya aku tidak tega dengan Kaa-san dan Tou-san, tapi aku lebih tidak mau mengorbankan sisa hidupku untuk hidup bersama orang aneh itu.

[Flashback Off]

"Ahhh, semuanya benar-benar melelahkan. Jadi, setelah aku sampai ke sini, aku menginap dihotel selama 2 hari ini, Naruto," ucapku mengakhiri cerita panjang yang membosankan ini.

"APAA? KAU SUDAH BERADA DI SINI SEJAK 2 HARI LALU? KENAPA KAU BARU MENGHUBUNGIKU SEKARANG?"

"NARUTO-BAKA, BERHENTILAH BERTERIAK. Kau bisa membuat gendang telingaku pecah," aku pun memiringkan kepalaku kekanan dan menepuk telinga kiriku seolah hal itu bisa membuat semua ucapan naruto keluar dari otakku.

"Apa-apaan itu, Sakura-chan? Tapi kenapa kau baru menghubungiku sekarang?" Naruto mengulang pertanyaannya lagi. Dia benar-benar penasaran sepertinya.

"Sudah kubilang, kan? Aku kesini untuk mencari pekerjaan. Jadi aku menunggu persediaan uangku menipis dulu,"

"Apa maksudmu, Sakura-chan? Aku tidak paham," aku menggelengkan kepalaku, melihat kebodohannya dalam masalah seperti ini.

"Tentu saja itu karena aku sudah kehabisan stock uang, Naruto. Aku tidak mau mengambil resiko dengan menggunakan kartu kreditku, itu akan memudahkan Tou-san dan Kaa-san untuk menemukanku,"

"Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana? Kau pintar sekali, Sakura-chan,"

"Sudahlah, Naruto. Kau ingin memberiku pekerjaan atau tidak?"

"Ohh itu, tentu saja. Sudah sejak lama aku ingin mengganti sekretarisku, yang kau lihat didepan tadi hanya karyawan biasa yang merangkap jadi sekretaris. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Sakura-chan,"

"Terima kasih, Naruto. Entah kenapa aku jadi terharu," aku pun menyunggingkan senyum kepada Naruto.

"Apa yang membuatmu terharu, Sakura-chan?"

Perempatan siku-siku dikepalaku bertambah lagi, tidak tahukah Naruto. Bahwa dia telah benar-benar menghancurkan mood baikku?

"Tentu saja karena kau ingin membantuku, kan? Apalagi?" aku sangat marah terhadapnya.

"Membantumu? Aku kan memberimu pekerjaan, Sakura-chan. Dan apa kau tau? Menjadi sekretaris orang penting sepertiku itu sulit,"

"Baiklah.. baiklah terserahmu saja, Naruto," aku sudah pasrah dengan ocehan tidak jelas yang terus-menerus keluar dari mulutnya.

"Ummm, Sakura-chan. Apa kau hari ini sibuk?"

"Tentu saja tidak, Naruto. Memangnya ada apa?"

"Malam ini perusahaan kami akan mengadakan rapat besar dengan perusahaan paling besar di Konoha. Aku harap kau mau membantuku nanti, Sakura-chan,"

"Ohhh, boleh. Tapi, pastikan kau akan memberiku bonus tambahan untuk ini," ucapku menyeringai.

"Tak masalah untuk temanku, kau boleh beristirahat dan kembali kesini nanti malam, Sakura-chan. Tapi pastikan kau datang sebelum jam tujuh" ucapnya sambil menampilkan senyum lima jarinya.

"Terima kasih, Naruto. Aku akan kembali lagi nanti,"

.

.

.

[Normal POV]

Sakura pun sudah sejak siang tadi sampai ke kamar hotelnya dan memutuskan untuk tidur siang, dia akhirnya terbangun jam 5 sore.

'Sepertinya masih ada banyak waktu sebelum rapat, aku hanya harus mandi dan bersiap-siap' inner Sakura.

Tak lama setelah itu, Sakura pun melenggangkan kakinya menuju kamar mandi dan mulai mandi. Diresapinya lah air dingin yang menyelimuti tubuhnya. Setelah selesai mandi, ia pun keluar dan mengambil baju formal didalam kopernya.

'Koper ini, mengingatkan ku lagi dengan Uchiha itu. Kurasa aku mulai gila sekarang," Sakura merasa bayangan Uchiha yang sedang memeluknya menjadikan dirinya diselimuti imajinasi liarnya.

'Tidak.. tidak.. tidak.. lebih baik aku bersiap-siap ke kantor Naruto sekarang'

Setelah dirinya merasa siap, Sakura pun kembali menaiki taksi menuju kantor Uzumaki Corporation. Setelah sampai, ia pun langsung kelantai 3 dimana ruangan Naruto berada. Saat akan membuka pintu ruangan, ia mendengar ada sayup-sayup suara orang yang sedang berbincang. Awalnya ia ragu untuk memasuki ruangan itu, tapi saat melihat jam tangannya menunjukkan pukul 6.45, Sakura pun memutuskan untuk membuka pintunya dengan sedikit membungkuk. Tiba-tiba ada suara baritone yang terasa familiar ditelinganya.

"Kau..."

"Uchiha-san..." Sakura menutup mulutnya yang terbuka lebar denngan telapak tangannya. Naruto hanya bisa terperangah melihat Sasuke dan Sakura saling berteriak.

.

.

.

.

tbc

.

.

.

.

Chapter 5 ini aku selesaikan dengan mood yang jelek, yeeee *plok plok plok* dan sangat pendek *dihajar*

Beberapa hari ini aku emang benar-benar menyibukkan diri buat sekolahan karena ada beberapa ulangan, ya tau sendiri kalau udah kelas XII kayak gini.

Dan udah ditambahin diwarningnya kalo ada bashing chara di chapter ini, jadi kalau gak suka yang tekan back aja.

Aku udah dapat 1 flammer yang review dichapter pertama, dan aku yakin dia belom baca ff aku yang gaje ini, horeeee *girang*

Yang penasaran sama fanfic ini, pantengin aja terus, karena aku bakalan update sekitar 1 minggu sekali sekarang.. huhuhu padahal kemaren-kemaren 3 hari sekali :'v

Buat yg bilang 'beberapa percakapan sakura dan orang tuanya terlalu padat dan sedikit formal, gak keliatan kesan keluarganya' makasih sarannya, tapi menurut aku itu wajar kok kalo kalian lagi dalam keadaan ngambek sama ortu, hehehe *pengalaman*

Dan yang iseng-iseng bilang Rock Lee juga selamat ya, tebakan kamu bener.. *cipok*

Juga buat yang kesel karena chapter kemaren dipotong dibagian yg bener-bener greget bikin gigit jari, maaf ya :'v Maaf juga karena gak bisa membalaskan rasa kesel kalian dichap ini *apa sih?*

Buat yang akunnya balik, makasih karena udah mao review lagi. Buat yang gamau dipanggil senpai juga makasih karena saya merasa di'tua'kan :v

Dan untuk yg review+fav+foll makasih banyak, mungkin saya gak bisa bales satu per satu kayak chapter kemaren tapi makasih banyak karena ada kalian yg bikin saya jadi semangat nulis lagi :*

Special thanks to :

QLenka (Lenka), hater, hanazono yuri, Asuura-chan, Vinachan (Yukihana Miyano), zarachan, Nasyaila, williewillydoo, echaNM, puma178, Luca Marvell, Aikaa-chan, sqchn, Laifa, KendallSwiftie, ElzaMarquez, Rizuki Yoshida, Guest, sarahachi, dan

semua silent reader yang baca fic gaje ini :'v

Karena saya masih belajar dan akan terus belajar, mohon berikan review dan saran untuk memperbaiki fic saya yang berantakan ini jika berkenan..

02/10/2016

Hime Luvchubby