Disclaimer : Tokoh dalam fanfiksi ini sepenuhnya milik Masashi Kishimoto-sama. (saya hanya meminjamnya) – NARUTO
.
.
.
Warning : OOC (udah berusaha dibikin gak OOC, tapi susah), AU, typo's, dan banyak kekurangan lainnya.
Mengandung beberapa konten yang tidak pantas dibaca anak dibawah umur (DLDR)
.
.
.
Mini Black Briefcase
.
.
.
[Sasuke POV]
'Sebentar lagi akan ada rapat besar dengan Uzumaki Corp, aku yakin Dobe sedang menungguku disana'. Kulihat jam tanganku sekilas, 'Ahh, pukul 06.00, rapat itu memang akan dimulai satu setengah jam lagi. Tapi lebih baik aku kesana sekarang, lagian materi untuk rapat hari ini juga sudah siap karena sudah disiapkan sebelumnya'. Akupun mengambil kunci mobilku dan langsung meluncur ke kantor Dobe.
.
.
.
Setelah sampai dikantor Dobe, aku pun memarkirkan mobil berwarna biru tua ku dan langsung melangkahkan kakiku menuju ruangannya dilantai 3. Aku sudah cukup sering kesini, jadi aku tidak perlu bertanya lagi pada resepsionis.
Sesekali ada karyawan yang tersenyum dan membungkuk padaku, aku hanya mengangguk kecil. Ternyata aku cukup dihormati disini, hal itu membuatku senang. Belum lagi tatapan memuja dari para pekerja wanita yang membuatku menyeringai dalam hati.
Sebelum masuk kedalam ruangannya, aku mengetuk pintu karena takut kejadian 'itu' terulang. Kejadian dimana aku langsung masuk keruangan ini dan melihat sesuatu yang benar-benar mengotori mataku.
Kejadian yang ku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Saat itu Dobe sedang bercinta bersama seorang wanita berambut hitam panjang yang kuketahui adalah calon istrinya sendiri, Hinata. Aku mengerti bahwa mereka akan menjadi suami istri nantinya, tapi tak bisakah mereka mencari tempat yang lebih bagus dari pada harus bercinta diatas meja ruangannya sendiri? Mungkin ini konyol, tapi setelah itu aku benar-benar tak pernah 'nyelonong' masuk kedalam ruangan Baka-Dobe ini.
Terdengar suara "Masuk saja, Sakura-chan," aku pun menyeritkan kening. Siapa itu Sakura-chan? Dan sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Akupun masuk dan melihat Dobe yang tengah serius dengan pekerjaannya yang tampak menggunung diatas mejanya. Karena merasa aku diam dan tak ada pergerakan, ia pun kembali berbicara.
"Duduk saja dulu, Sakura-chan. Aku masih banyak pekerjaan," aku benar-benar kebingungan dengan sikapnya yang –sok- sibuk itu sampai ia sama sekali tidak berniat melihat siapa yang ada dihadapannya ini. Tapi aku masih tidak bergeming dari pintu ruangan itu, aku akan menunggu sampai ia menyadari kalau aku bukanlah 'Sakura-chan' nya itu.
Karena Dobe tak kunjung mendengar langkah kaki yang bergerak untuk duduk di sofa sesuai instruksinya, ia pun mendongakkan kepala dan menemukanku disamping pintu ruangannya.
"TEMEEEE... kenapa kau tak bilang itu kau?" ucapnya sambil merengek, menjijikan sekali.
"Bodoh, kau saja yang 'sok' sibuk. Siapa itu Sakura –chan?" ucapku sambil menekankan pada suffix –chan yang menggambarkan keakrabannya dengan perempuan itu.
"Aku benar-benar sibuk, Teme. Padahal sebentar lagi kita akan rapat besar, tapi aku belum juga menyelesaikan pekerjaanku yang bertumpuk-tumpuk ini,"
"Itu karena kau selalu menunda-nunda pekerjaanmu, bodoh. Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku barusan?"
"Pertanyaanmu yang mana, Teme?" aku bertanya malah dijawab dengan pertanyaan juga, dia ini bodoh atau apa?
"Siapa itu Sakura-chan?" aku mengulangi lagi pertanyaanku. Dobe pun manggut-manggut, aku berdecak kesal saat ia seolah-olah sedang berpikir. Padahal aku tidak yakin dengan kapasitas otaknya sendiri.
"Dia sekretaris baruku, Teme. Dirapat besar nanti dia akan mendampingiku," aku pun mengangguk dan menutup pintu, lalu aku segera mendudukan diri di sofa ruangan itu. Kulihat Dobe berdiri dan berjalan kearahku dan mendudukkan dirinya didekatku.
"Ada apa kau kemari, Teme?"
"Tentu saja rapat," ia melirik jam dinding diruangan itu, 06.40.
"Tapi kan ini masih 20 menit lagi sebelum rapat dimulai, Teme. Dan aku yakin, rapat besar kali ini pasti akan molor. Atau jangan-jangan kau merindukanku, Teme?" ucapnya sambil menyeringai yang membuatku bergidik ngeri, akhirnya kuputuskan untuk menjitak kepala pirangnya.
"Merindukanmu? Cih menjijikan. Aku hanya bosan berdiam diri dikantor karena pekerjaanku sudah beres," aku menyeringai angkuh, sindiran ku terhadap pekerjaan Dobe yang belum selesai sukses membuatnya diam.
Tak lama setelah kami berdiam, ada suara deritan pintu ruangan yang terbuka. Kami pun sontak menoleh kearah pintu yang mulai terbuka. Kulihat ada rambut merah muda yang menyembul dari balik pintu. Melihat hal tersebut, pikiranku langsung tertuju kepada perempuan yang beberapa hari silam mengganggu pikiranku.
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
[Normal POV]
Sasuke yang masih menatap Sakura saat itu langsung keringat dingin. Ia tidak tau gejolak apa yang dirasakannya dalam dada, tapi ia sadar bayangan mesum telah terlintas diotaknya. Bayangan bagaimana mulusnya punggung Sakura dan bagaimana perempuan itu hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya yang proporsional itu. Semua itu tidak ia rasakan saat menemukan gadis itu dalam keadaan menderita, tapi saat keadaannya normal seperti ini hormon laki-lakinya mengambil alih semua, ia pun mengalami ereksi atas bayangan diotaknya itu. Sasuke yang masih menahan dirinya pun refleks berteriak.
"Kau..."
"Uchiha-san..." Sakura menutup mulutnya yang terbuka lebar denngan telapak tangannya. Naruto hanya bisa terperangah melihat Sasuke dan Sakura saling berteriak.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke.
"Apa-apaan kau, Teme? Dia ini Sakura-chan, sekretaris baruku. Kau ini kasar sekali,"
"Maaf," Sasuke pun berdehem canggung, padahal keringat dingin sudah membasahi sebagian besar tubuhnya. Sepertinya AC diruangan itu tidak bekerja dengan baik.
Melihat situasi yang sangat kikuk diruangannya itu akhirnya Naruto memutuskan untuk menyuruh duduk di sofa yang berada dihadapan mereka. Dengan tersenyum kaku, Sakura pun mengangguk dan mengikuti apa kata Naruto.
"Sakura-chan, apa kau mengenal Teme? Uhh, maksudku Uchiha Sasuke ini?" ucap Naruto membuka percakapan sambil menunjuk 'Teme' yang ada disampingnya. Sedangkan orang yang merasa ditunjuk tetap tidak bergeming dan masih menatap perempuan mungil dihadapannya dengan tatapan ingin 'memakan'
"Aku juga tidak yakin, Naruto," seketika itu juga Naruto jengkel mendadak karena jawaban Sakura tidak memuaskan, sedangkan Sasuke sendiri juga berjengit mendengarnya.
"Apa-apaan itu?" ucap Sasuke kesal.
"Teme, seharusnya aku yang bilang gitu," bukannya mengerti, Sasuke malah menyeritkan keningnya lagi. Seakan paham atas ketidakjelasan dirinya, Naruto pun menjelaskan maksudnya kepada Sasuke.
"Aku yang bertanya, seharusnya aku juga yang kesal. Kenapa malah kau yang meresponnya?"
"Karena aku yang dibicarakan, bodoh,"
"Oh iya, hehehe," ucap Naruto sambil nyengir kuda kepada Sasuke dan Sakura. Sedangkan Sakura hanya bisa menunduk menghindari tatapan Sasuke, ia sudah terlalu malu dengan semua yang sudah terjadi dengan Sasuke. Akhirnya Sakura pun memutuskan untuk membuka suara.
"Tentu saja aku tidak yakin, Uchiha-san. Kita bahkan belum pernah berjabat tangan untuk saling mengenalkan diri,"
Tepat setelah mengucapkan itu, Sasuke langsung mengulurkan tangannya didepan Sakura. Melihat hal itu, Sakura hanya bisa melongo.
'Refleksnya cepat sekali, dia benar-benar sulit ditebak' pikir Sakura. Mau tidak mau, Sakura membalas jabatan tangan dari Sasuke dengan enggan. Seketika itu juga ada aliran listrik yang sangat kuat berasal dari tangan dingin yang sedikit berkeringat milik Sasuke. Dilihatnya Sasuke yang masih berdiam dengan masih menggenggam tangan Sakura sambil menatap dalam iris Emerald hijau itu.
'Tatapan menusuk macam apa itu? Seperti ingin menelanku saja,' batin Sakura. Pusaran mata kelam yang menenggelamkan siapapun dalam kabut nafsu didalamnya. Benar-benar menggairahkan, jika saja Naruto tidak berdehem kencang mungkin mereka akan berakhir di hotel terdekat.
"Uhhh, tidak kah kalian terlalu lama berjabat tangan?" ucap Naruto kikuk.
"Ahahaha, iya," Sakura pun melepaskan tangannya dan kembali menunduk. Sekilas terlihat Naruto yang mengecek jam di dinding ruangannya.
"Lima menit lagi rapat besar itu akan dimulai, bagaimana jika kita menuju keruang rapat?" ucap Naruto memecah situasi awkward disana.
"Hn,"
Melihat Sasuke bergumam, Sakura pun hanya menunduk dan mengikuti Naruto yang berjalan didepannya. Karena terus menunduk, Sakura pun melihat ada tonjolan dibalik celana Sasuke yang sedang berjalan disampingya.
'Astaga, apa yang dia pikirkan sampai tersangsang begitu?' Sakura pun meneguk liurnya, ia pun menyadari kalau pemuda berwajah tampan disampingnya ini benar-benar berbahaya.
.
.
.
Rapat pun telah berlangsung selama hampir dua jam, dan selama itu pula perdebatan alot terjadi didalam ruangan rapat dikantor Uzumaki Corporation. Sebenarnya tanpa menghadiri rapat besar ini pun, Naruto dan Sasuke sudah berada dalam posisi aman karena kepemilikan saham yang cukup besar hampir di setiap perusahaan besar yang ada di Jepang.
Maka dari itu, tugas Sakura tidak lah berat karena ia tidak mengambil andil besar dalam rapat ini. Sesekali pandangan mata Onyx tertangkap basah sedang memperhatikan tubuh Sakura. Perempuan bersurai merah muda itu hanya dapat pasrah dan sesekali menggaruk tengkuknya risih.
Sampai rapat berakhir pun, Naruto belum beranjak dari kursi rapatnya karena masih menonton acara 'tatap-tatapan' dari Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura yang sangat membingungkan baginya.
"Hoii Teme, mau sampai kapan kau memandangi Sakura-chan seperti itu?" ucap Naruto sambil melambai-lambaikan tangannya didepan mata Sasuke. Melihat kelakuan aneh Naruto itu, Sasuke pun merasa risih sehingga ia pun berdecak.
"Ckkk, lebih baik aku pulang saja. Aku lelah," melihat hal itu pun Sakura hanya bisa memendam rasa kecewanya didalam hati karena ia menyangka lelaki berambut raven itu ingin mengenal dirinya lebih dalam. Hei, maksudnya mengenal pribadi Sakura, bukan mengenal isi dalaman Sakura, catat !
Sasuke pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju pintu untuk kembali kerumahnya, tapi sebelum itu tangan yang tadinya berada dalam sakunya pun perlahan keluar dan memegang pinggul Sakura. Sakura yang merasa kaget pun hanya menegang, tapi dengan cepat tangan Sasuke kembali masuk kedalam kantongnya.
Sakura yang merasa heran pun langsung berbalik badan untuk melihat punggung Sasuke yang menjauh, tapi tepat sebelum Sasuke keluar dari ruangannya ia sempat memberikan kedipan sebelah matanya kepada Sakura. Didalam hatinya, Sakura bersorak girang karena perilaku Sasuke barusan memperlihatkan bahwa Sasuke tertarik pada tubuhnya.
Saat Sakura hendak melihat bagaimana reaksi Naruto ketika mereka saling bertukar pandang, ia merasa ada sesuatu yang janggal di pinggangnya. Saat matanya mengarah pada tubuh bagian bawahnya sendiri, ia pun melihat potongan kertas kecil yang menyembul dibalik kantong rok formalnya. Diambilnya lah kertas itu dan ternyata isinya adalah alamat email Sasuke. Inikah keberuntungan Sakura?
Ternyata Naruto yang tadinya menatap Sakura dan Sasuke telah kembali terpaku melihat berkas-berkas yang dibahas dalam rapat besar tadi tepat saat Sasuke bilang akan pulang. Sakura pun melihat wajah Naruto terlihat frustasi bahkan melebihi orang yang akan menikah. Tunggu, bukankah Naruto memang akan menikah dengan Hinata? Ah sudahlah.
.
.
.
Diluar ruangan itu terdapat Sasuke yang sedang berjalan keluar dari gedung Uzumaki Corporation menuju parkiran tempat dimana mobilnya berada. Wajahnya sedari tadi selalu menyampaikan seringai-seringai yang sangat mencurigakan, mungkinkah karena ia telah berhasil meninggalkan kontak agar perempuan berambut merah muda itu menghubunginya? Entahlah.
Ia pun pergi menuju rumahnya, kediaman Uchiha. Mansion mewah dengan corak kipas merah putih sebagai simbolnya telah menjadi ciri khas.
Ketika sampai, ia sudah disambut oleh para pelayanan dirumahnya. Hingga akhirnya ia telah sampai diruang keluarga yang menyambung ke lantai atas tempat kamar tidur Sasuke. Dilihatnya semua telah berkumpul diruang keluarga tersebut. Perasaan aneh menyelimuti Sasuke karena mereka jarang sekali berkumpul diruang keluarga, paling istimewa juga hanya berkumpul di meja makan.
"Sasuke, kemarilah. Duduklah disamping kakakmu, Itachi," ibunya Sasuke dan Itachi, Mikoto memanggil Sasuke. Diliriknya lah ayahnya, Fuugaku. Sedangkan Fuugaku hanya menganggukkan kepalanya.
"Sasuke, kau ingat dengan pertemuanmu yang gagal empat hari yang lalu?" ucap Mikoto membuka percakapan itu.
"Tentu saja, dan aku bersyukur karena dia menghilang," kata Sasuke dengan acuh.
"Ekheemm," Fuugaku berdehem kencang karena melihat ekspresi Mikoto yang murung setelah Sasuke bicara barusan.
"Maaf, Kaa-san, Tou-san. Aku benci mengakuinya, tapi aku sudah punya incaran,"
"Apa-apaan itu, Sasuke? Harusnya kau itu bersyukur karena anak gadis itu akan dijodohkan denganmu," ucap ayah Sasuke.
"Dia adalah gadis yang baik, pintar, juga punya rambut berwarna merah-..." ucapan ibu Sasuke terpotong seketika.
"Cukup, Kaa-san. Aku tidak mau dengar lagi, aku sudah punya targetku sendiri," Sasuke pun pergi kelantai atas menuju kamarnya melalui tangga. Saat Mikoto hendak mengejar Sasuke, Itachi pun langsung bangkit dari sofa diruang keluarga itu.
"Sudah, Kaa-san. Biar aku saja yang berbicara dengannya," ucap Itachi sambil meyakinkan ibu dan ayahnya.
"Baiklah, buatlah di merasa tenang. Jangan biarkan dia terbebani, Itachi," saran Mikoto pun hanya dibalas dengan anggukan singkat oleh Itachi, dan dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Sasuke.
.
.
.
[Sasuke POV]
'Apa-apaan mereka itu? Ingin menjodohkanku dengan wanita berambut merah yang jalang itu huh? Cih, aku tak akan sudi menikahinya'
Tok.. tok.. tok..
"Sasuke, buka pintunya," mendengar hal itu Sasuke pun mendengus kasar. Ternyata kamar Sasuke sedari tadi tidak terkunci, dengan begitu Itachi dengan mudah masuk kedalam kamar Uchiha bungsu satu ini.
"Untuk apa kau kemari? Ingin merayuku, huh?"
"Aku kesini bukan untuk merayumu, tapi menyadarkanmu," ucap Itachi yang muak dengan sikap Sasuke yang uring-uringan seperti ini.
"Apa maksudmu?"
"Tentu saja kau harus menerima perjodohan ini, bodoh. Bukankah kemarin kau menerimanya? Kenapa sekarang harus begini?"
"Kemarin aku bukan menerimanya, tapi ragu-ragu. Tapi sekarang aku sudah yakin untuk menolaknya,"
Itachi menyeritkan keningnya, "Ohh, jangan-jangan ini semua karena perempuan berambut aneh itu, hah?"
"Apa yang kau bilang itu tidak sopan, Nii-san. Mana tata krama yang selalu kau jaga didepan orang itu, huh?"
"Ahsudahlah, yang pasti kamu harus menerima perjodohan ini karena kita sudah terlanjur menyetujuinya. Kau pasti tidak mau mempermalukan Uchiha didepan orang banyak, kan?"
Sasuke pun terdiam, ia mulai bimbang dengan keputusan yang dia ambil. Memilih untuk menerima perjodohan ini atau mendapatkan Sakura yang belum pasti itu.
.
.
.
.
tbc
.
.
.
.
Fuwahhh, saya ngantuk sekali. Chapter ini saya selesaikan jam 3.09 pagi. Insom? Enggak, kok. Ini karena saya bener-bener udah ngelewatin 1 minggu dari waktu yang saya janjikan, gomen gomen. Dan ini chapter Sasuke pelupa part 2, sadar gak sih dichapter sebelumnya Sasuke itu manggil Sakura dengan sebutan 'nona' bukan Haruno atau Sakura apalagi Uchiha, hahaha :v
Chapter ini awalnya gak langsung masuk ke inti cerita dan malah ada semi-flashback dulu deh #huffttt
Sebenarnya setiap saya posting Mini Black Briefcase ini, script ceritanya saya bikin dalam 1 hari penuh. Dibuku udah ada kerangkanya, terus buat isi tiap chapter saya isi sesuai dengan mood menulis hari itu. Makanya isinya abal-abal dan berubah gini terus. Fyi, saya nulis chapter ini pas lagi dalam kondisi mesum-mesuman hahaha :v
Dan banyak yg bingung sama flashback 1 chapter kemaren, eh ralat deh 2 chapter flashback-an semua. Mungkin karena saya masih gabisa move on? :v
Terus kemaren ada yang ngasih tau tentang inner gitu makasih ya, langsung saya perbaikin loh.. hmm kalo ada typo-typoan atau kalimatnya gak masuk akal, masukin kekolom review aja, soalnya saya bener-bener gak ngecek ulang. Gomen.
Buat yang baru baca makasih senpai :D yang gak login juga makasih ya udah ninggalin review. Jarang-jarang loh ada yang mau ninggalin review kalo gak login, hehehe :v jangan takut rock lee jadi ama sakura ya HAHAHA *caps jebol*
PROMOTED :
Instagram : luvchu_bby = baru :'v
Facebook : Michiyo Hasegawa (Hime)
Line : luvchu_bby
Special thanks to :
Asuura-chan, sarahachi, zarachan, Luca Marvell, Rein Riekho Kei, Rein Cherry, Aikaa-chan, Rizuki Yoshida, Ladys can, Nasyaila, hanazono yuri, puma178, Laifa, sqchn, Yukihana Miyano, Day-99, ElzaMarquez, Olivia J, comet cherry, Adyashta adelio cetta, dan
semua silent reader yang baca fic gaje ini :'v
Karena saya masih belajar dan akan terus belajar, mohon berikan review dan saran untuk memperbaiki fic saya yang berantakan ini jika berkenan..
12/10/2016
Hime Luvchubby
