~Angel's Soul~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : K+
Characters : Karma.A, Nagisa.S, Nakamura.R, Asano.G
Genre : Friendship, Romance, Humor, ect.
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam Charactersnya saja, Kesamaan alur cerita,tempat,ect hanyalah kebetulan.
Warning:
Hanya semata imajinasi saya, Typo bertebaran, penyiksaan Characters oleh author…. Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silahkan pencet tombol balik
Summary:
Bagaimana kalau Malaikat dan Iblis mendapatkan kesempatan untuk menjadi manusia biasa?
First Chapter…..
[…..malaikat akan di turunkan lebih awal keduania dan iblis akan diturunkan satu jam setelahnya, malaikat dan iblis yang diturunkan kedunia harus menyembunyikan identitas mereka, mereka memiliki tiga kesempatan, jika mereka gagal menyembunyikan identitas mereka kekuatan mereka akan berkurang 33%, begitulah seterusnya sampai kekuatan mereka habis…..]
1st Month: Nakamura & Asano's POV
Nakamura's POV
Apartemen Nakmura Rio
"Shiiiii~(Nama buatan Nakamura Rio: versi pendek dari Shiota) sarapan sudah siap!...Shii?..., yamapun ternyata dia masih tidur" Aku mencubiti pipi Mahluk (malaikat) yang ada di depanku, tidak terasa sudah hampir genap satu bulan semenjak turunnya Shiota dan Akabane ke dunia "Bangun Shii-chan, kita sudah kesiangan lho~" Makhluk biru di depanku membuka matanya "Aku ingat Nama depanku Nakamura-chan" makhluk biru mengganti posisi berbaringnya menjadi posisi duduk "Eh kau serius?, itu bisa membantumu Shii!" Aku langsung tersenyum bahagia sambil menggoyangkan pundaknya "Nama depanku Nagisa, Nagisa Shiota" Shii (yang kini sudah berubah menjadi Nagisa) tersenyum manis "kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu Nagi" Aku tersenyum puas, semenjak Nagisa tinggal di rumahku beberapa minggu yang lalu dia banyak menunjukkan perubahan, Nagisa menjadi lebih expresif dan periang, dengan perubahannya menjadi semakin baik seharusnya dia bisa menjalani misi ini dengan baik tapi aku yakin Nagisa bisa membunuh Akabane dengan jurus mematikannya yang sangat sangat tidak terduga, tapi yang membuatku tidak yakin Nagisa bisa membunuhnya adalah karena sikapnya, setelah di turunkan ke bumi malaikat dan iblis seperti bertukar peran, iblis akan menjadi protagonis yang mengabulkan permintaan manusia dan membuat mereka senang, sementara malaikat akan berubah menjadi Antagonis dan Harus membunuh mereka, tapi aku sama sekali tidak melihat sikap Antagonis dari Nagisa, Nagisa tidak seperti malaikat lainnya Nagisa sangat penyayang, Nagisa sayang pada semua orang walaupun mereka sudah menyakitinya…
[From someone else, even myself, it is not expected….]
Nagisa kelihatan agak pendiam akhir akhir ini, akupun belum tahu alasannya tapi aku sudah berniat untuk menanyakannya "Nakamura-chan"
"Ya?" aku menjawab Nagisa dengan nada datar sambil menengok kearahnya, sejujuranya aku agak senang dia bicara karena sejak tadi dia hanya diam saja
"ini Tentang Nama depanku, kenapa kau bilang itu bisa membantuku?" Nagisa menengok kearahku dengan wajah penasaran
"sebenarnya aku tidak boleh memberitahukan tentang ini padamu, tapi baiklah aku akan beritahu Jadi...….setelah kau berhasil menjadi manusia, kau akan melupakan semua yang terjadi selama ujian ini, kecuali namamu" masih banyak informasi penting yang harus di ketahui Nagisa kan? Aku benar benar tidak ingin kehilangan Nagisa dan Akabane, aku yakin Asano-kun juga merasakan hal yang sama. Aku berharap aku bisa menyelamatkan mereka berdua
[….Since then I wondered…But I ended up, keep believing on
the imagination I've created….]
Pagi ini aku, Nagisa, Asano dan Akabane berangkat ke sekolah bersama seperti biasanya, tapi karena suatu urusan yang mereka sebut "urusan laki laki" aku dan Nagisa jadi pulang lebih awal. karena bosan berdiam diri di rumah aku mengajak Nagisa untuk pergi ke salah satu Cafe yang berada di sekitar Tokyo University, saat di sekolah tadi aku sempat mengatakan rencanaku kepada Asano dan Akabane, tentu saja mereka berdua melarang kami pergi alasanya karena disana bayak pereman yang berkeliaran tapi siapa peduli? kalau kami tidak menganggu mereka itu tidak menjadi masalah kan?
aku dan Nagisa memilih menaiki Shinkansen (kereta cepat Jepang) untuk mempersingakat waktu perjalanan, sepanjang perjalanan Nagisa terus berkata kalau dia ingat sesuatu tapi tetap saja akhirnya dia lupa, aku penasaran tentang apa yang Nagisa ingat selama hampir satu bulan ini Nagisa banyak menginggat tentang masa lalunya dan tentu saja hal itu akan sangat membantunya. kami sampai di stasiun Tokyo University dan langsung mencari cafe yang ingin kami kunjungi setalah bertanya pada sesaorang yang sepertinya adalah mahasiswa di kampus itu kami akhirnya sampai di depan gang kecil, aku sebenarnya agak ragu memasukinya toh kita sudah berjalan sejauh ini masa berhenti disini hanya karena keraguanku, Nagisa yang berdiri di belakangku tiba tiba mencolek punggungku "Nakmura-chan, kau yakin ini tempatnya? aku merasa agak ragu" Nagisa menatapku sejanak "aku juga sedikit ragu Nagisa-chan, tapi kita tidak akan tau kan kalau tidak melihatnya dulu?" Nagisa mengangguk setuju dan berjalan kesampingku, kami mulai berjalan memasuki gang itu saat sudah sampai di tengah tengah gang kepalaku di pukul oleh sesuatu yang keras, setelahnya pandanganku menjadi gelap
aku membuka mataku, tempat ini sangat asing tidak ada penarangan kecuali cahaya bulan sabit yang menerawang jendela
kaki dan tanganku diikat sangat kencang, mulutku di sumpal dengan kain yang baunya sangat aneh, jadatku juga berdarah karena pulukan tadi, di sampingku Nagisa tertunduk lemah bayak luka lebam dan darah di tubuhnya, sepertinya dia melwan pereman pereman sialan itu setelah mereka memukulku dan dengan perbandingan jumlah yang sangat besar Nagisa akan dengan mudah dikalahkan "Nagisa" aku memanggilnya pelan, Nagisa menanggok kearahku dengan muka yang berlumuran darah "Bodoh...apasih yang telah kulakukkan, tugasku kan menjaga Nagisa tapi aku justru malah melukainya" Nagisa tersenyum tipis "maaf ya Nakamura-chan jumlah mereka terlalu banyaksih" Nagisa tertawa kecil "Nagisa, maafkan aku ya seharusnya aku melindungimu tapi aku justru melibatkanmu dalam masalah" Nagisa tersenyum lembut "tidak apa-apa Nakamura-chan, aku juga kurang hati-hati tapi aku yakin kita akan menemukan jalan keluar darisini" Aku tersenyum dan menggangguk
"kelihatannya gadis gadis cantik ini terlalu percaya diri ya?" suara telapak kaki terdengar mendekat, beberapa orang pria mendekati kami pria pertama mendekati Nagisa, berjongkok di depannya dan menggangkat dagunya agar bertatapan langsung dengan matanya "kekuatanmu lumayan juga ya, padahal kau cantik sekali lho~ tapi sayangnya kau tetap saja kalah" pria pria yang berdiri di belakangnya tertawa nista, disaat konsentrasi mereka terah kepada Nagisa aku berusaha melepaskan ikatan tangank,u ikatan itu perlahan longgar aku meraba isi tasku dan mencari barang yang bisa kugunakan untuk melumpuhkan mereka, Bingo! teryata aku masih meyimpan pisau lipat dan wasabi pemberian Akabane. dengan cepat aku menusukkan pisau lipat itu ketangan pria yang daritadi terus mengganggu Nagisa, pria pria lain di belakangnya dengan cepat maju dan berusaha memukulku tapi usaha mereka gagal, wasabi yang ada di tanganku mendarat tepat di mata mereka dan menunjukkan kekuatan aslinya, hahaha untuk kali ini saja barang barang nistamu itu berguna Akabane!, Nagisa tersenyum kearahku aku mendekatinya dan membantunya melepaskan ikatannya, baru saja aku memegang tangan Nagisa tiba sesaorang membekapku dari belakang dengan saputangan yang mengandung gas beracun badanku menjadi lemas, mereka memukul Nagisa dan menggikatku lebih kencang dari sebelumnya "berhentilah melawan nona nona cantik, ikutlah dengan kami ke club malam ini lalu kami akan melepaskan kalian, bagaimana?" pria yang merupakan ketua geng preman itu merogoh kantongnya "atau..." dia mengeluarkan Pistol dan menodongkannya kearah kami "kami akan membunuh kalian dan semuanya akan berakhir" aku akhirnya pasrah aku menenggok kearah Nagisa, Nagisa diam saja aku akhirnya mengangguk "kami akan ikut dengan kalian" PRANG! kaca yang menjadi satu satunya penerangan di ruangan ini tiba tiba saja pecah di sana dua makhluk berambut Merah dan Orange menampakkan dirinya, makluk berambut orange itu tersenyum berbahaya sambil mendekati preman preman itu "tidak semudah itu preman preman bodoh, kalau kau ingin membawa mereka...langkahi mayatku dulu"
[...your serious voice cuts me, this single love was born among a sky full of million stars]
Nakamura's POV, End
.
.
Asano's POV
Flashback~
Sudah jam setengah sebelas malam, tapi si pirang itu belum menghubungiku sama sekali Akabane juga tidak mendapat berita apapun dari Nagisa atau Nakamura awalnya aku menanggapnya biasa saja, mungkin mereka berdua kecapean lalu tetiduran. "Hei lipan" iblis merah ini kelihatannya mulai cemas "apa?" tapi aku menjawabnya datar tetap berusaha stay cool "kalau Nagisa-chan mati sebelum membunuhku apa yang akan terjadi?" Nada bicaranya mendadak menjadi serius "itu namanya bonus, tentu saja Kau akan berubah menjadi manusia" aku masih menjawabnya dengan datar sambil memainkan ponselku siapatahu tiba tiba si pirang itu menelfon, bisa saja kan? makhluk di sebelahku melanjutkan pertanyaannya "lalu apa yang akan terjadi pada Nagisa?" aku berhenti memainkan ponselku menatap Akabane "dia akan menghilang" maklhuk di depanku membelakkan Matanya dan langsung mengecek ponselya Jam 11:45, dia menyambar jaketnya dan dengan cepat memakainya "Kita harus mencari mereka Asano" kebencian dan kemarahan mulai terpancar dari matanya entah kenapa itu membuatku merasa kesal, khawatir dan marah memikirkan kondisi mereka aku mengangguk mantap dan langsung membuntutinya, tanpa mengunci pintu rumah karena terburu-buru kami langsung pergi ke area Tokyo University
[I'm thinking of nothing but you, To the point I can't see anything else...]
Flashback End~
.
.
Setelah pertarungan yang cukup menguras tenaga akhirnya preman preman bang*at itu berhasil kami kalahkan, hasilnya? beberapa lebam di tangan kananku dan beberapa goretan pisau di tangan kiri Akabane, tapi aku yakin kondisi Nakamura dan Nagisa lebih parah daripada kondisi kami aku juga sangat bersyukur karena bisa datang sebelum mereka di bawa ke tempat nista yang bernama 'Club Malam' kami menghampiri mereka "Asano!, Akabane!" Nakamura berteriak sambil menetap kami khawatir, sementara Nagisa hanya tertunduk lemas, aku melepaskan ikatan Nakamura sambil perlahan-lahan menasihatinya, saat sedang asyik menasihati Nakamura (yang tumben sekali) hanya mengangguk-ngangguk, Nagisa yang daritadi hanya diam tiba tiba berbicara "Aku ingat Nama depan Akabane-kun" aku dan Nakamura langsung menenggok kearah mereka, Akabane menatap Nagisa tidak percaya "Karma, Akabane Karma" Nagisa tersenyum tipis sambil menatap Karma
lagi lagi kami bertiga di selamatkan oleh tas obat obatan yang selalu dibawa Nagisa, setelah merawat luka kami aku dan Karma membantu Nakamura dan Nagisa merawat luka mereka ternyata keadaan mereka lebih parah daripada yang kami kira, apalagi Nagisa dia sempat melawan preman preman gila itu sendirian setelah Nakamura pingsan, aku membalut kepala Nakamura yang mengeluarkan banyak darah, di dalam hati aku bersumpah tidak akan membiarakan kejadian seperti ini terulang lagi
[...from now on, I'm gonna win your heart, now matter what, I swear it !]
melihat kondisi mereka yang sangat menenaskan aku dan Karma memutuskan untuk menggendong mereka sampai ke apartemen, tentu saja mereka berdua menolaknya Nakamura langsung menurut saat aku menatapnya tajam, tapi Nagisa tetap menolak dengan alasan "aku masih kuat berjalan Karma" sampai akhirnya terjadi adu mulut antara Nagisa dan Karma dan tentu saja Karmalah pemenangnya, Nagisa akhirnya pasrah dan Naik ke punggung Karma. selama di perjalanan orang orang terus menatap kami ada yang menatap kami dengan tatapan aneh, jijik, datar, beberapa dari mereka mengganggap yang kami lakukan itu Cute, sungguh menyebalkan
"hei Nakamura" aku sedikit menganggkat kepalaku untuk menatap Nakamura rio yang ada di punggungku
"Hm?" aku sebenarnya tau Nakamura pasti sangat lelah sekarang, tapi aku tidak bisa menahannya lagi
"Kalau aku suka padamu Bagaimana?" semburat merah muncul di pipiku
"Aku akan menyukaimu Juga" semburat merah tipis muncul di pipinya, Nakamura tersenyum manis tersenyum seperti itu, apakah artinya kamu menerimaku?
semburat merah di pipiku makin berulah setelah melihatnya tersenyum seperti itu, karena mengingginkan jawaban yang jelas aku mendudukannya di kursi kereta yang hanya tersisa satu aku sedikit berjongkok di depannya, memutuskan untuk bertanya lagi "mungkin ini saat yang tidak tepat tapi aku hanya ingin mengatakan, aku menyukaimu" Nakamura memerah, aku berusaha untuk terus menatap mata birunya yang mulai berkaca kaca "tenang saja kau tidak harus membalas perasaanku, bisa mengatakan ini sudah membuatku bahagia kok" aku tersenyum tipis, Nakamura memelukku tanpa peringatan aku bisa merakasan detak jantungnya yang sangat tidak stabil, dia menangis di dadaku, aku membalas pelukannya tanpa berkata apapun dia mempererat pelukannya "Terima..Kasih...kau membuatku sadar...dengan Semua yang sudah kaulakukan untukku selama ini...itu membuatku sadar...Aku menyukaimu, Asano-kun" Nakamura berbisik tepat di telinga kananku menangis membuat nafasnaya tidak stabil "Aku tidak ingin kehilangan Nagisa dan Karma...aku ingin mereka menginggat tentang kelas pembunuhan kita, Koro-sensei, kesombonganmu pada kelas 3E dan semua kenangan yang kita buat bersama" tangisnya semakin menjadi jadi, perlahan aku mengelus rambutnya lembut "Kita akan mencari cara untuk meneyelamatkan mereka berdua aku Okay?, yakin kita bisa melakukannya Nakamura-chan"
.
.
.
Reviews:
raniaasalsabila- di awal sudah saya jelaskan Untuk jadwal update Fanfic saya tidak bisa tentukan, untuk Return saya akan usahakan update secepatnya :D
ParkYuu- Yosh! ^^
Nanaho Haruka- Sudah Up ya :)
Fanny Lim- wkwkwkwk, Yosh! diusahakan ^,^
Fuyukaze Aoi 24- ah, terimakasih :DD
Amaya Kuruta- Yup!, makailatnya saya buat jadi Badass (maafkan Fuyuumi), Nagisanya cewe kok wkwkwk
Frwt- saya baru sadar ini bukan one-shoot, pairignya tidak mengganggu satu sama lain kok
hanazawa kay- Yosh!, Terimakasih ^^
Raina Awasari- Sudah di lanjut yaa, eh memangnya bahasaku ketinggian ya? Gomen...gomen
Thanks For Review! ^.^
.
.
Bonus* Spoiler untuk Chapter berikutnya
Chapter berikutnya - 2nd & 3rd Month: Karma's POV:
"Kini aku sadar...Aku Mencintainya, tapi kalau aku mengatakannya itu hanya akan membuat keadaan semakin buruk kan?"
Review please ^^
jangan lupa Favorite & Follow juga
End or Next?
