Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
Guest123 : Hai wantutri ^^ iya nih hehe.. eh, sama kok aku juga suka sasusaku loh.. cieeh jd baca yg crime nih hihihi gpp lagi, malah seru kan haha.. oke sip, makasih buat semangatnya ya. Saya seneng bacanya ^^
Smiley : Makasih, aku memang keren *salahfokus* *digeplak* hehehe
KuroNeko10 : Iyah, maaf kmrn lupa nulis bersambungnya hahaha.. makasih ya. Semoga trus suka crt ini ^^
Undhot : Wah makasih, kita juga seneng klo kamu seneng sm crtnya ^^
Mantika Mochi : Wah makasih.. :D
GaemSJ : Aihhh jadi malu :D iyeee... ini udah kilat blom dah? Hohoho
Suket alang-alang : Baru mulai hihihi aku lupa nulis bersambungnya hahha *disedot* Oh, Hanaruppi udah pensiun nulis ff kok, cuma dulu dia pengin bikin Fic tema Samurai. Nah, krn kebetulan aku juga pgn buat crt tema itu, akhirnya hana ngasih idenya dan kita mulai menyambungkan ide itu hingga akhir cerita gitu ^^
6934soraoi : Makaksih dan jawaban pertanyaanmu ada di chap ini loh ^^
Hanazono yuri : Sippp ^^
Sugirusetsuna : Hehehe makasih ya ^^ semoga chap ini juga suka
Haruka Smile : Iya nih ^^ diusahakan ada deh actionnya hohoho... semangat ya buat ujian chuninnya ^^
IndahP : Iyaa nihhh hehehe... makasih sangat ya.. aku terharu bacanya loh *srrooott* ^^
Annisa alzedy : Makasih loh ^^
Waaaahhhhhh... makasih banyak buat kalian ya *peluatuatu* dan juga buat yang Fav and Follow.. serta para pembaca gelap hohoho padahal seru kalau kita bisa bertegur sapa bukan ^^
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
Sakura merasa matanya terlalu sulit dibuka, seperti ada lem yang merekatkannya. Ia merasa matanya menjadi dua kali lipat lebih besar. Dengan perlahan akhirnya sepasang mata hijau itu terbuka dan mendapati warna cerah mendominasi pemandangannya. Matanya memincing, membiasakan cahaya terang yang terasa menyilaukan. Suara gemercik air ditambah kicauan burung-burung seakan menyambut dirinya.
Sakura tidak menyangka jika hari telah berganti, kegelapan telah hilang bagaikan ditelan oleh sang matahari yang bertugas menyinari dan memberikan kehangatan sebagai ganti dari dingin yang diberikan oleh malam.
Sakura bahkan tidak ingat kapan tepatnya ia tertidur lelap. Hal yang terakhir ia ingat adalah dirinya menangisi kepergian penduduk desa terutama kedua orangtuanya. Ia menyesali nasib yang menimpanya dan berandai jika saja pria penolongnya bisa datang lebih cepat. Seandainya ... Tunggu!
Pria penolongnya?!
Kenapa ia baru mengingatnya!
Seharusnya ia bisa menjaga mulutnya. Mengapa ia bisa memprotes pria penolongnya? Dan mengatakan kata-kata seandainya yang terdengar seperti penyesalan karena pria itu tidak datang lebih cepat. Terdengar seakan menyalahkannya, bukan?
Harusnya cukup sampai kata terima kasih saja yang terlontar. Seharusnya. Tapi hatinya masih belum bisa menerima kenyataan sehingga membuat ia melontarkan dengan bebas apa yang ingin ia ucapkan. Melontarkan apa yang ada di dalam hatinya. Bukankah ia terlihat seperti gadis yang menyusahkan walau sebenarnya dari awal ia memang sudah menyusahkan pria itu?
Lalu, di mana pria itu sekarang? Apakah karena ucapannya semalam, ia memutuskan untuk pergi?
Sakura merutuki diri sendiri, ia baru sadar pada apa yang sedang ia lakukan sekarang. Pantas saja ia tidak merasa kedinginan dan merasa sangat nyaman, padahal ini adalah kali pertama ia tertidur tanpa atap yang melindunginya dan alas yang menjadi tumpuannya.
Bagaimana tidak, kepalanya bersandar dengan sangat nyaman pada bahu yang terasa seperti sebuah bantal. Satu tangannya memeluk lengan pria itu dan mendekapnya tanpa sadar. Apa ini juga termasuk tindakan menyusahkan?
"Cepat minggir kalau kau sudah bangun!"
Seketika kepala Sakura terangkat dan ia menggeser tubuhnya untuk menjauh dari pria penolongnya. Jantungnya menderu hebat hanya dengan mendengar suara pria itu dari dekat. Entah ini adalah debaran karena rasa takut, atau ada perasaan lain? Entahlah.
Dengan kepala tertunduk, Sakura menghadap Sasuke. "Maaf ... Aku sungguh tidak bermaksud. Aku tidak tahu-"
"Bersiaplah, kita akan melanjutkan perjalanan," potong Sasuke yang segera bangkit dan berjalan ke tepi sungai untuk membasuh wajahnya. Dinginnya air meresap masuk ke pori-pori kulit putihnya, membuat seluruh wajahnya terasa segar.
Hal itupun dilakukan oleh Sakura. Sebagian air mengalir jatuh ke lehernya serta membasahi kimono-nya yang kini terlihat kusam. Belum sempat ia mengeringkan wajahnya, sepasang bola matanya bertemu dengan mata kelam itu. Mata yang ternyata sangat tajam dan dalam. Seakan menarik dirinya untuk menyelaminya.
Tak butuh waktu lama pandangan mata itu segera berakhir karena Sasuke sudah membalikkan tubuhnya dan mulai beranjak pergi. Sakura bangkit dan menyusul pria penolongnya. Toh, wajahnya akan kering dengan sendirinya oleh angin.
Hening. Ya, itulah yang terjadi sejak mereka pergi meninggalkan tempat persinggahan mereka. Tidak ada satu ucapan pun yang terlontar dari mulut keduanya, bahkan hanya sekedar gumaman. Keduanya memilih untuk menutup mulut mereka.
Sakura sendiri tidak berani untuk mengeluarkan suaranya, apalagi untuk menanyakan berjuta pertanyaan pada pria di depannya. Tidak boleh menyusahkan, itulah syarat yang mengikatnya. Syarat yang membuatnya bisa berada di sini sekarang. Berjalan dengan tenang di belakangnya sembari menatap punggungnya.
Tenang dan sebisa mungkin tidak menyusahkan.
Tapi ada hal yang Sakura tidak mengerti. Seperti saat ini, tiba-tiba saja pria itu berhenti dan menyuruh Sakura untuk duduk di atas rerumputan liar yang lebat kemudian ia segera turun dan mengambil air untuk mereka.
Setelah lima belas menit berlalu barulah mereka kembali melanjutkan perjalanan. Aneh, bukan? Pasalnya hal itu tidak terjadi sekali atau dua kali saja. Bukannya Sakura merasa keberatan, ia malah sangat bersyukur pria itu sering berhenti untuk beristirahat sehingga Sakura juga bisa mengistirahatkan kakinya sejenak.
Entah pria penolongnya melakukan ini untuk dirinya sendiri atau memang ia melakukannya karena tahu kondisi kaki Sakura? Setidaknya Sakura semakin yakin bahwa pria ini adalah orang baik. Ia memang terlihat tidak peduli tapi nyatanya ia tetap memperhatikan hal yang seharusnya bisa ia abaikan begitu saja.
Sesekali Sakura melirikkan matanya. Diam-diam memperhatikan wajah pria penolongnya dari jarak yang cukup dekat. Betapa Sakura memuji keindahan yang ada di depan matanya sekarang. Bagaimana bisa seorang pengembara memiliki kulit seputih dan sebersih pria ini. Wajahnya terlihat semakin tampan kala ia hanya diam dan tidak memberikan tatapan mengerikan seperti yang pernah Sakura lihat.
Bukankah dia sangat ... Uhuk!
Air minum yang semula berada di dalam mulut Sakura meluncur dengan bebas hingga membasahi dagu dan lehernya. Dengan ujung kimono-nya ia membersihkan wajahnya. Ia mengumpat dalam hati, kenapa ia bisa memikirkan hal yang sangat tidak sopan sama sekali. Bahkan jantungnya kembali berdebar yang Sakura sendiri tidak mengerti entah karena apa?
Sasuke hanya menatap Sakura sebentar sebelum akhirnya ia kembali berdiri dan bersiap melanjutkan perjalanannya lagi. Tampaknya Sasuke tidak peduli sama sekali pada apa yang terjadi dengan Sakura. Huh!
Tak beberapa lama akhirnya mereka tiba di sebuah desa kecil yang berjarak paling dekat dengan desa Sakura dulu. Para penduduk yang sibuk berlalu-lalang di sekitar mereka. Sepasang mata hijau milik Sakura sudah sibuk menatap pemandangan di sekelilingnya. Anak-anak berlarian, para wanita sibuk berkumpul dan membicarakan banyak hal. Entah kenapa, semua pemandangan ini membuat ia rindu pada desanya. Desa yang telah musnah.
Mereka berhenti tepat di depan satu-satunya penginapan yang ada di desa ini. Sakura masuk mengikuti Sasuke yang sudah masuk terlebih dahulu. Kedatangan mereka disambut dengan wajah penuh senyuman dari sepasang suami istri paruh baya.
"Selamat datang," sapa mereka berbarengan.
Sakura tersenyum sembari balas membungkukkan badannya, beda dengan pria di depannya yang hanya diam sembari menundukkan kepalanya sesaat.
"Kami ingin memesan kamar untuk dua orang," ucap Sasuke datar.
"Kebetulan hanya tersisa satu kamar kosong, tapi kami bisa menyediakan dua futon jika Tuan menginginkannya," balas Yuuko dengan ramah.
"Baiklah," ucap Sasuke cepat tanpa ragu.
Sakura sempat terkejut saat mendengar ucapan Sasuke. Dia tidak pernah menyangka bahwa Sasuke akan menyetujui begitu saja. Bukankah ini artinya mereka akan tidur bersama, lagi?
"Mari ikut saya," ucap Ichiro yang kini menuntun kedua insan berbeda gender itu ke kamar yang sudah mereka sewa untuk satu hari. Tepat di ujung ruangan pria berambut putih itu menghentikan langkahnya dan membukakan pintu kamar mereka.
"Ini kunci kamar kalian." Sasuke segera mengambil benda itu dan menyimpannya.
"Kami juga menyediakan pemandian air hangat kecil. Jika Anda ingin menggunakannya, kami akan segera menyiapkannya," sambung Ichiro sembari menatap Sasuke dan Sakura bergantian. Tentunya dengan senyuman ramah di wajahnya.
"Tentu, setelah ini kami akan menggunakannya."
"Baiklah, akan kami siapkan," ucap Ichiro yang kemudian membungkukkan badannya sebelum pergi meninggalkan Sasuke dan Sakura yang sudah masuk ke dalam kamar.
Sasuke melepaskan katana-nya dan menyandarkannya di ujung dinding kamar mereka. Kamar yang hanya berisikan satu ruangan dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, dan satu meja kecil di pojok kanan kamar.
Sakura hanya diam. Kedua tangannya sudah mengenggam erat kimono-nya. Ia tidak mengerti dengan apa yang harus ia lakukan saat ini. Rasa-rasanya suasana di dalam kamar ini lebih terasa menegangkan dibandingkan saat mereka berdua menghabiskan waktu selama di perjalanan.
Bola matanya bergerak tak menentu menatap ke segala arah. Sungguh, ia bingung harus bersikap bagaimana sekarang. Beruntungnya suara ketukan pada pintu kamar mereka dapat menyelamatkan ketegangan yang dirasakan oleh Sakura.
Sosok Yuuko-lah yang tertangkap oleh mata Sakura saat Sasuke membuka pintu kamar mereka. Dengan senyuman di wajahnya, Yuuko menyodorkan dua set pakaian dengan warna yang sama kepada Sakura dan juga Sasuke.
"Mari ikut saya, airnya telah siap."
Setelah mengambil pakaian itu mereka mengikuti Yuuko yang sudah berhenti di depan dua buah pintu kayu yang berada di sisi kanan dan kiri mereka.
"Tuan bisa menggunakan ruangan sebelah sini," ucap Yuuko yang menunjukkan pintu sebelah kanan.
"Dan Nona menggunakan ruangan satunya," sambung Yuuko yang menunjukkan pintu lainnya yang berhadapan dengan pintu Sasuke.
Tanpa sadar Sakura menghela napasnya lega. Ia sempat menyangka tempat pemandian di penginapan ini hanya menyediakan untuk umum di mana wanita dan pria menggunakannya bersama-sama. Sakura sendiri tidak sanggup membayangkan jika hal itu sampai terjadi.
...
"Nona sudah selesai?" tanya Yuuko yang berpapasan dengan Sakura yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Satu tangannya memegang kimono merah mudanya yang telah ia ganti dengan pakaian yang diberikan oleh Yuuko sebelumnya. Warna hitam yukata yang dikenakannya semakin menambah terang kulit putih yang menyelimuti tubuhnya.
Sakura mengangguk pelan dan menampilkan senyuman pada wajah cantiknya yang terlihat semakin segar. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai hingga menyentuh punggungnya.
"Rambutmu indah sekali," puji Yuuko yang menatap kagum pada rambut merah muda itu.
"Terima kasih. Kaa-san-ku bilang karena warna rambutku inilah dia menamaiku Sakura," ucap Sakura sembari menyisipkan helaian rambut kebelakang telinganya. Bersamaan dengan itu Sasuke juga keluar dari ruangannya.
"Maaf sebelumnya Tuan, kami akan mencucikan pakaian Anda jika Anda menginginkannya."
Sasuke mengangguk sembari menyerahkan pakaiannya pada Yuuko yang kemudian beralih menatap Sakura. "Bagaimana dengan Anda, Nona Sakura? Sepertinya pakaian Anda penuh dengan noda darah."
Namun bukan suara Sakura yang keluar untuk menjawab melainkan suara berat milik Sasuke, "Pakaiannya juga. Bersihkan noda itu sampai benar-benar hilang."
Dingin dan tajam. Kata-kata yang terlontar barusan seperti ada sesuatu yang tersirat di dalamnya. Entah bagaimana, Sakura seakan dapat merasakannya bahwa ucapan itu penuh dengan rasa penyesalan.
"Terima kasih," ucap Sakura saat menyerahkan pakaian itu kepada Yuuko. Mereka secara bersamaan pergi meninggalkan tempat itu di mana Sasuke berjalan di depan mereka. Sedangkan Sakura mengikutinya sembari berbicara banyak hal dengan Yuuko.
Sikap ramah yang Sakura terima dari Yuuko membuatnya merasa sangat nyaman berada di penginapan ini. Padahal baru beberapa jam mereka saling bertemu, tapi Sakura seperti sudah lama mengenal Yuuko. Sakura bahkan melihat sosok Yuuko seperti sosok seorang ibu baginya.
Dengan sopan Yuuko membantu menyanggul rambut Sakura yang telah kering. Perlahan dan penuh kelembutan, Yuuko menyisir rambut Sakura. Merapikan dan menggulung rambut merah mudanya. Di sela-sela kegiatannya mereka berbincang tentang banyak hal. Sesekali mereka tertawa dan tersenyum saat ada kelucuan yang terucap dari salah satunya.
Kembali, Sakura seperti melihat sosok ibunya pada Yuuko. Ada sisi yang kembali sakit kala mengingat sosok ibunya yang telah tiada dan sebaliknya ada sisi yang menghangat saat merasakan perlakuan yang sama seperti yang biasa ibunya lakukan. Rindu. Ya, Sakura sangat merindukannya.
Di balik pintu yang ia biarkan terbuka, sepasang mata hitam itu terus memperhatikan sosok perempuan berambut merah muda itu. Sasuke dapat melihat Sakura yang merasa nyaman bersama dengan Yuuko. Mungkin sikap keibuannya mampu membuat senyuman di wajah itu kembali mengembang. Senyuman yang tidak pernah Sasuke temukan sejak ia bersama dengannya.
Sepertinya, meninggalkannya di tempat ini adalah pilihan yang terbaik. Bukankah memang itu yang akan ia lakukan karena ia memiliki tujuan sendiri yang harus ia cari.
Tujuan yang lebih penting!
"Terima kasih," ucap Sakura ketika rambutnya telah selesai tergulung rapih.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku senang melakukannya, sayang sekali kau besok harus pergi. Aku sungguh senang bertemu denganmu."
Seketika raut wajah Sakura berubah murung. Kedua matanya berubah sayu dengan senyuman yang langsung hilang dari wajah cantiknya. Pasalnya ia teringat kata-kata pria penolongnya bahwa ia akan ditinggalkannya. Tanggung jawab pria itu hanya sampai mereka menemukan desa lain. Itu berarti besok ia benar-benar sendirian. Besok, ia bukan lagi menjadi urusan pria penolongnya.
Sedih, sudah pasti. Namun yang membuat ia semakin sedih adalah ia tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Apa yang harus ia lakukan untuk bisa bertahan hidup? Di mana ia akan tinggal?
Di tengah pikirannya yang sedang kacau tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan di antara kedua wanita itu. "Ia bisa tinggal di sini jika Anda menginginkannya."
Sontak kedua kepala berbeda warna menoleh ke asal suara yang berada tepat di belakang mereka. Sakura masih setengah tidak percaya, suara itu milik pria penolongnya.
"Anda pasti sudah mendengar berita tentang pembantaian di Desa seberang. Dia adalah satu-satunya korban yang selamat," sambung Sasuke menatap Yuuko dengan keseriusan.
"Benarkah?" tanyanya dengan penuh antusias dan mendapat anggukan kepala dari Sasuke sebagai jawabannya.
"Aku tidak merasa keberatan jika kau ingin tinggal bersamaku. Kau tahu sendiri bahwa aku tidak memiliki anak. Aku akan merasa sangat senang bila kau mau tinggal bersamaku, Sakura," ucap Yuuko yang kini menggenggam erat tangan Sakura. Kedua matanya berbinar menatap Sakura. Menatap Sakura dengan penuh harap.
Sakura sempat terdiam, kedua matanya menatap Sasuke dan Yuuko secara bergantian. Sedikit ragu, Sakura menganggukkan kepalanya. Ia lega karena tahu ada orang baik hati yang mau menerimanya tapi di sisi lain ia takut dan juga sedih, besok ia harus berpisah dengan satu-satunya orang yang mampu memberikan rasa nyaman padanya.
Yuuko segera menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya. Ia sangat bahagia. Sakura sudah ia anggap layaknya anak kandungnya sendiri. Kini lengkaplah sudah hidupnya dengan kehadiran sosok Sakura di tengah-tengah kehidupannya kelak.
Tapi tidak dengan Sakura. Ia bukannya tidak senang. Hanya saja ada perasaan aneh yang hinggap di dalam benaknya kala melihat kepergian punggung pria penolongnya di balik pelukan hangat yang ia rasakan. Tidak mengerti, Sakura tidak tahu perasaaan apa ini. Perasaan yang sangat menganggunya.
Yang pasti, ia tidak ingin punggung itu berlalu. Dan meninggalkannya.
...
Pagi telah datang. Walau Langit belum seutuhnya cerah dan matahari masih bersembunyi, namun kedua mata Sakura sudah terbuka. Mata hijaunya mendapati Sasuke sudah terbangun dan keluar dari kamarnya.
Mereka memang menghabiskan malam bersama, tapi seperti malam sebelumnya hanya ada kebisuan di antara mereka. Walau jarak mereka tidak begitu jauh tapi Sakura merasa seperti tidak ada di dalam satu ruangan bersamanya.
Tak beberapa lama pintu itu kembali terbuka. Sasuke kembali dengan pakaiannya yang telah berganti. Katana-nya pun kini berada di pinggangnya kembali. Ia bahkan mengabaikan Sakura yang sudah menatapnya sedari tadi.
Yah, sepagi ini ia telah siap untuk pergi. Sakura sudah merapikan kedua futon itu, segera menyusul Sasuke yang telah keluar dari ruangan itu. Ia terus mengikuti hingga sampai di depan pintu penginapan.
"Tuan ...," panggil Sakura tepat saat Sasuke berdiri di depan pintu gerbang.
Sasuke menoleh dan mendapati Sakura yang kini menundukkan wajahnya dengan tangan saling meremas di depan tubuhnya.
"Te- terima kasih." Wajahnya perlahan terangkat dan menatap mata hitam milik Sasuke.
"Tapi, apa Tuan tidak bisa tinggal di Desa ini?" gumam Sakura pelan. Matanya kini beralih dan wajahnya kembali menunduk.
"Aku takut," ucapnya dengan suara yang sangat lemah. Ia tahu seharusnya ia tidak berbicara seperti ini tapi bayang-bayang mengerikan tentang desanya kembali menghantuinya. Lihat, kini ia menjadi perempuan menyusahkan lagi.
Tapi Sakura tidak peduli. Perasaan tenang dan aman yang dirasakannya beberapa hari ini karena pria ini berada di sampingnya. Karena ia tahu, pria ini pasti melindunginya. Lalu, bagaimana jadinya jika ia tidak ada?
"Kau tidak perlu takut, tidak akan ada yang terjadi. Kau sudah aman." Tanpa ragu Sasuke pergi meninggalkan Sakura yang kini menatap sendu kepergian Sasuke.
Tidak bisa ia cegah. Pria itu pasti pergi meninggalkannya namun kenapa Sakura merasa sangat kehilangan? Sakura sangat takut karena pria itu tidak ada bersamanya.
Tepukan lembut pada pundaknya membuat ia tersadar dari lamunannya. Sebuah senyuman hangat menyambutnya. Wanita berambut kuning itu membelai kepala Sakura dengan penuh kasih sayang. Sama persis seperti yang dilakukan ibunya kala melihat Sakura bersedih. Mungkin pria penolong itu benar, tidak akan ada yang terjadi. Dia benar-benar telah aman.
...
Sakura kini sibuk membantu Ichiro dan Yuuko membersihkan penginapan mereka. Seperti halnya Yuuko, Ichiro pun sangat senang mengetahui keputusan Sakura untuk tinggal bersama mereka. Tanpa ragu, ia langsung mendekap tubuh Sakura erat. Ia berbisik dengan suara lembutnya, "Anakku."
Sakura merasa sangat tersentuh dan ingin meneteskan air matanya. Mereka berdua benar-benar menyayangi Sakura dengan sepenuh hati. Kini Sakura merasa bahwa hidupnya kembali utuh.
Sekarang ia tengah membantu Yuuko untuk menyiapkan makan siang sedangkan Ichiro sibuk menunggu di pintu masuk untuk menyambut tamu yang datang.
Anehnya, kedua wanita itu mendengar samar-samar adanya suara keributan. Merasa suara itu berada di sekitar penginapan, mereka berdua bergegas menuju keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kedua mata mereka melebar saat melihat Ichiro yang terjatuh dengan salah satu kaki pria bertubuh besar menindihnya.
Ichiro mengerang kesakitan. Kedua tangannya berusaha untuk menyingkirkan kaki yang menginjak perutnya. Menekannya sekuat tenaga seperti berniat untuk meratakannya dengan tanah.
"Tidak! Apa yang kalian lakukan?" Teriak Sakura dan Yuuko bersamaan. Keduanya segera menghampiri Ichiro, membantu melepaskan kaki itu.
"Ini adalah akibat karena kalian tidak segera melunasi utang kalian!" Sahut pria yang berdiri di sebelah pria besar itu.
"Bunga yang kauberikan terlalu besar, seharusnya utang kami sudah lunas kalau kalian tidak mematok dengan bunga yang tinggi!" Protes Yuuko dengan nada tinggi.
Dengan geram pria menampar pipi Yuuko hingga cairan merah mengalir dari mulutnya. Meninggalkan warna merah pada pipinya.
"Jangan banyak alasan! Cepat bayar atau kubakar penginapan ini!"
"Jangan lakukan itu!" Teriak Sakura yang sudah memeluk tubuh Yuuko.
Kedua alis pria itu mengerut, sepertinya ia tidak pernah melihat Sakura sebelumnya. "Kau punya anak yang cantik rupanya?"
Pria itu menarik tangan Sakura hingga pelukan itu terlepas.
"Tidak!" Teriak Yuuko yang mencoba untuk menarik tangan Sakura namun sebuah tendangan mendarat di tubuhnya hingga membuat ia terjatuh. Menempel dengan tanah.
"Lepaskan!" Teriak Sakura sembari mencoba untuk melepaskan cengkraman kuat tangan pria itu. Tapi semakin Sakura meronta, genggaman itu semakin mengerat.
Pria itu menatap Sakura dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Dia pasti bernilai sangat mahal jika kujual. Baiklah, utang kalian lunas dibayar olehnya."
"Tidak, kumohon jangan lakukan itu!" Teriak Yuuko yang kini menahan kaki pria itu. Air matanya turun melihat Sakura yang juga kini menangis berusaha untuk melepaskan diri.
"Kumohon, jangan bawa anakku," ucapnya dengan nada memohon.
Dengan mudahnya pria itu melepaskan tangan Yuuko dan menendang wajahnya dengan sekuat tenaga. Cairan merah kembali mengalir dari hidungnya. Seakan mendapat dorongan tenaga, Ichiro berhasil melepaskan diri dan berlari menerjang tubuh pria itu.
"Lepaskan anakku!" Teriaknya sembari memberikan pukulan yang dengan mudah dihindari oleh pria itu. Dan tendangan berhasil mendarat di punggung Ichiro hingga ia kembali terjatuh. Pria paruh baya itu kembali meringgis kala tubuhnya menabrak tanah dengan keras.
"Tidak! Hentikan!" Sakura masih terus berusaha untuk melepaskan diri namun tenaga pria itu terlalu besar. Ia tidak terima dengan apa yang terjadi pada kedua orangtua angkatnya.
Tapi pria itu melangkahkan kakinya pergi namun kembali tangan Yuuko menahan kakinya.
"Tidak akan kubiarkan kalian membawanya," ucapnya dengan tatapan penuh kemarahan. Ichiro yang melihat kesempatan itu segera menghampiri Sakura untuk melepaskan tangan pria itu.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya bagaikan sebuah mimpi buruk untuk Sakura. Dengan sekali kedipan mata sebuah katana sudah menembus tubuh Ichiro. Mata pedang yang keluar dari dadanya kembali tertarik dengan cepat hingga tubuh itu terjatuh.
Kejadian itu terlalu cepat untuk Sakura sehingga tidak ada jeritan yang keluar dari mulutnya. Ia terkejut dan tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi. Di depan matanya ia harus kembali melihat kematian ayahnya.
Dengan seringai di wajahnya pria bertubuh besar itu kembali mengayunkan pedangnya dan menebas tangan Yuuko yang menahan kaki pria itu.
"TIDAAAKKKK! KUMOHON HENTIKAN!" Sakura menjerit histeris berbarengan dengan suara teriakan yang terlontar dari mulut Yuuko. Air mata semakin membasahi wajahnya. Kejam, mereka sangat kejam!
Tidak ada satu orang pun yang menolong mereka. Semua hanya menyaksikan kejadian itu seperti sebuah tontonan yang sayang untuk dilewatkan. Bahkan ada beberapa yang seolah tidak mengetahui dengan apa yang terjadi pada mereka. Takut, itulah yang mereka rasakan. Mereka tidak berani untuk melawan.
Tapi apakah mereka tidak memiliki hati? Apakah mereka tega melihat kekejaman ini?
Bahkan ketika pedang itu kembali menebas tubuh Yuuko. Mereka seakan tidak melihat dan mendengar teriakan atas rasa sakit yang ia rasakan.
Wajah Yuuko memucat, darah mengalir keluar dari tubuhnya. Ichiro sendiri sudah tidak bergerak. Kedua matanya terpejam dengan dada yang juga terdiam. Dan Sakura? Walau sekuat tenaga ia mencoba tapi hasilnya percuma. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang bisa ia lakukan. Tenaganya tidak sebanding dengan kedua pria itu. Lemah, yah Sakura terlalu lemah. Sakura bahkan hanya bisa meneteskan air matanya melihat ayunan katana itu.
Mau tak mau tubuhnya ikut terseret mengikuti ke mana pria itu membawanya. Samar-samar Sakura masih mendengar rintihan Yuuko yang meminta agar Sakura tidak dibawa pergi hingga akhirnya suara itu tidak terdengar lagi. Bukan karena jarak mereka yang sudah terlalu jauh, tapi karena Yuuko sudah mengembuskan napas terakhirnya. Tertidur untuk selamanya di samping tubuh Ichiro.
Secepat inikah ia harus kehilangan keluarganya lagi. Kenapa? Kenapa ia tidak bisa memberi perlawanan sama sekali? Kenapa ia selemah ini?
.
.
Sasuke menghentikan langkahnya tepat di sebuah rumah makan sederhana di sebuah desa yang baru ia masuki beberapa menit yang lalu. Biasanya ia membawa sedikit makanan sepeninggalnya dari sebuah desa tapi berhubung ia pergi pagi-pagi sekali tidak ada yang bisa ia bawa bersamanya.
Dan di sinilah ia sekarang. Duduk di pojok kanan rumah makan yang ternyata sedang ramai pengunjung, padahal waktu makan siang telah dua jam berlalu. Ia menyantap makanan pesanannya dengan tenang, walau begitu telinga terfokus mendengarkan perbincangan sekelompok pria di sampingnya.
Ini memang sering ia lakukan untuk mendapatkan informasi mengenai sosok buronan yang sangat dicari saat ini. Itachi Uchiha, yah itulah alasan mengapa ia mengembara. Tujuannya hanya satu yaitu membunuhnya. Bukan untuk mendapatkan bayaran atas kematiannya, tapi semuanya ia lakukan untuk membayar kehidupannya. Masa lalunya.
"Malam ini akan diadakan lelang mahal untuk wanita baru di Desa seberang," ucap sang pria.
"Kau akan membelinya?" tanya pria lainnya.
"Tentu saja. Wanita ini belum terjamah siapapun dan dia sangat cantik. Rambutnya sangat indah, berwarna merah muda."
Tubuh Sasuke menengang. Tangannya pun berhenti melakukan aktifitasnya. Merah muda? Warna itu mengingatkannya pada sosok perempuan yang ia tinggalkan. Tapi mungkinkah?
"Warna rambutnya sangat cocok dengan namanya. Sakura."
Sumpit itu segera terlepas dari tangan Sasuke. Awalnya ia menyangkal bahwa banyak wanita yang memiliki rambut berwarna sama dengan perempuan yang ditinggalkannya. Namun saat mendengar nama itu, ia tidak sanggup lagi menyingkirkan perasaan cemasnya.
"Sepertinya kau sangat tertarik dengannya?"
"Tentu, Akan kubayar berapapun untuk bisa menikmati tubuhnya."
BRAK!
Sontak semua kepala menoleh ke pojok ruangan tempat di mana Sasuke berada. Matanya menatap tajam sekelompok pria di sampingnya. Pria-pria itu sudah meletakkan satu tangannya di pegangan katana mereka.
"Mohon jangan berkelahi Tuan," ucap sang kakek pemilik rumah makan yang datang mendekati Sasuke yang juga telah bersiap menarik katana-nya
Ia sempat terdiam sejenak. Ia sendiri tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Kenapa ia merasa semarah ini? Kenapa rasanya ia ingin sekali memotong lidah laki-laki kurang ajar itu?
Apa yang terjadi padanya?
Matanya terpejam sesaat sebelum akhirnya ia melepaskan genggamannya. Ia segera bangkit, meletakkan beberapa lembar uang di atas mejanya dan beranjak pergi. Tapi bayangan tentang perempuan itu belum juga pergi dari pikirannya. Semakin ia berusaha untuk mengeyahkan maka gambaran tentang perempuan itu semakin menguasainya.
Aku takut.
Tiba-tiba kata-kata itu muncul dibenak Sasuke. Ucapan yang terlontar dari mulut perempuan itu sesaat sebelum ia meninggalkannya. Kata-kata yang sama persis ia ucapkan dulu. Jemarinya semakin mengerat. Ada rasa sesak bercampur cemas yang memyelimuti dadanya. Membuatnya semakin tidak nyaman.
Kenapa?
Kenapa ia harus peduli?
Untuk apa ia peduli?
Seharusnya ini bukanlah urusannya. Perempuan itu bukanlah urusannya.
Kuso!
.
.
.
Sakura menjerit dan meronta kala seorang wanita mengganti pakaiannya dan merias wajahnya. Satu tamparan mendarat di wajahnya saat ia mencoba melawan. Kaki dan tangannya diikat saat kimono telah berhasil terpasang di tubuhnya.
Beberapa tamparan ia terima kala ia terus saja mengeleng-gelengkan kepalanya. Wanita itu terus menghapus air mata yang turun dari Sakura. Bahkan saat dirinya terpajang di depan kerumunan para pria yang menatap lapar padanya. Tatapan yang menjijikan bagi Sakura. Membuat ia merasa sangat tidak nyaman. Merasa ia telah ditelanjangi hanya dengan tatapan mata itu.
Beberapa menit telah berlalu dan akhirnya satu pria berhasil menyebut angka yang tidak mampu disaingi olah yang lainnya. Seketika tubuh Sakura segera dibawa pergi oleh wanita itu. Ikatan pada tangan dan kakinya dilepas dan secara paksa ia diseret untuk masuk ke sebuah kamar.
Kamar di mana pria itu sudah berada di dalamnya. Sakura mencoba untuk membuka pintu hitam itu tapi tidak percuma saja. Pintu itu tidak juga terbuka. Pria itu semakin mendekat. Tanpa sadar satu tangan Sakura memegang bagian leher kimono-nya. Erat. Agar tidak mudah terlepas.
Pria itu berhasil memegang kedua bahu Sakura saat dia mencoba untuk menghindar. Sakura meronta sekuat yang ia bisa, berusaha melepaskan tangan yang mulai mencoba melepaskan pakaiannya.
Bagian bahu kanan robek akibat tarik menarik antara keduanya yang sama-sama mempertahankan keinginan mereka. Terpampanglah bahu putih Sakura dan sebagian tangannya. Pria itu semakin kehilangan akal untuk melepas semua pakaian milik Sakura. Matanya semakin menatap liar tubuh Sakura.
Sakura segera memukul kepala pria itu menggunakan benda yang berhasil diraihnya. Pria itu mengerang karena dahinya yang terluka. Matanya kini menatap marah pada Sakura yang mencoba untuk menjauh dari pria itu. Sayangnya ia terjatuh saat pria itu berhasil menarik pakaiannya hingga kembali tersobek di bagian belakang. Menampilkan punggungnya yang semakin membuat gejolak nafsu pria itu meningkat.
"Jangan! Kumohon," pinta Sakura yang sudah meringkuk di pojok ruangan. Tubuhnya gemetaran di mana ia memeluk kedua lututnya seakan bersembunyi dari pria itu.
Ia menangis sembari terus memohon agar pria itu tidak menyentuhnya. Berharap jika pria itu mau mendengarkan permintaannya.
Tapi percuma, dengan senyuman penuh kebahagiaan pria itu berjalan mendekati Sakura sembari melepas pakaiannya. Sakura yang masih ketakutan segera menutup kedua matanya. Tatapan mata itu, ia tidak ingin melihatnya. Tubuh itu, ia tidak ingin melihatnya.
Tidak! Jangan! Sakura terus mengucapkan kata-kata itu bagaikan sebuah mantra. Mantra yang seakan dapat membebaskannya dari situsi menjijikan seperti sekarang.
Tangan pria itu sudah terjulur tapi belum sempat ia menyentuh tubuh putih itu. Pintu ruangan itu terbuka dan sesosok pria menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. Katana yang digenggamnya penuh dengan darah yang menetes ke lantai kamar itu. Pakaiannya pun tak luput oleh noda merah yang sebagian juga menodai wajahnya.
Amarahnya semakin meledak kala ia melihat sosok wanita di balik tubuh pria itu. Kepala merah muda itu. Wajah itu. Jadi benar, dia ... Berengsek!
"Siapa-"
Belum selesai kalimat itu terlontar, secepat kilat Sasuke mengayunkan pedangnya hingga kepala pria itu terpisah dari tubuhnya. Bahkan pria itu belum sempat berteriak merasakan tajamnya pedang yang mengenai tubuhnya.
Suara keras akibat tubuh pria yang terjatuh membuat Sakura membuka kedua matanya. Tapi apa yang dilihat Sasuke sungguh membuat perasaannya semakin teriris kala melihat sosok Sakura yang meringkuk. Pakaiannya telah sobek dan menampilkan tubuhnya. Mata itu, mata hijau itu menatapnya takut. Tidak seperti saat ia bertemu dengannya. Ia ketakutan, ia menangis sembari menutupi tubuhnya.
Salahkah ia? Salahkah dirinya yang telah meninggalkannya?
Sasuke segera melepaskan pakaiannya. Ia menunduk untuk menutupi tubuh Sakura tapi sebelum hal itu ia lakukan, hatinya kembali merasa perih kala ia mendengar rintihan wanita itu. Rintihan bercampur dengan isak tangis memilukan.
"Jangan!" gumamnya dengan isakan yang semakin kencang. Kepalanya kembali ia sembunyikan di antara lututnya.
"Jangan, kumohon!" Ia merasa seperti dadanya terpukul dengan keras.
Ini salahnya. Benar ini adalah salahnya. Ia tidak mengerti. Kenapa? Kenapa perasaannya bisa merasa sakit seperti ini. Dan baru kali ini ia menyalahkan dirinya sendiri atas hal yang bukan menjadi urusannya.
"Tidak apa-apa. Sekarang tidak akan ada lagi yang menyakitimu," ucap Sasuke sembari membungkus tubuh Sakura dengan pakaiannya.
Mendengar suara yang tidak asing lagi baginya membuat kedua mata Sakura terbuka. Di ruangan yang tidak bercahaya itu, ia tahu siapa sosok yang ada di depannya sekarang. Sosok pelindungnya. Pria penolongnya.
"Tuan ..." Tangannya yang gemetar segera mengalung di leher Sasuke. Dia melepaskan semua ketakutannya dengan mendekap erat tubuh itu. Suara isak tangis memilukan itu semakin terdengar jelas oleh Sasuke. Tubuh kecil yang gemetaran membuat ia semakin merasa bersalah.
Seharusnya ia tidak pernah meninggalkannya. Seharusnya ia tetap membawa wanita ini bersamanya. Ya, seharusnya.
"Maaf." Entah bagaimana kata itu terucap begitu saja dari mulut Sasuke. Tangannya sudah mengelus lembut punggung Sakura. Berusaha memberikan rasa aman padanya. Menyampaikan kalau semua baik-baik saja.
"Jangan tinggalkan aku," ucap Sakura di sela-sela isak tangisnya. Kata-kata itu yang terus terulang dari mulutnya.
Jangan tinggalkan aku.
Kata-kata yang entah kenapa kembali membawa Sasuke ke masa lalu telah terlontar dua kali dari gadis ini. Mengingatkannya pada kejadian yang tidak pernah ingin ia ingat lagi. Rasa sakit yang akhirnya ikut muncul dan mengirisnya. Bayang-bayang kelam masa lalunya.
Dirinya yang lemah. Dirinya yang meronta. Dirinya yang meminta, tapi tidak pernah dikabulkan.
"Tidak akan," balas Sasuke tegas. Dua kata yang mampu menenangkan Sakura yang masih memeluknya erat. Bagaikan sihir, ucap dan tangisan Sakura terhenti. Ia tertidur lelap dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya. Kembali Sakura tertidur di pundak kanan Sasuke. Tenang dan damai.
Bersambung...
Curcul :
Maaf ya, kmrn lupa nulis kata "bersambungnya" :p
Oh ya, Hanaruppi benar-benar udah pensiun nulis di FF kok, kebetulan kami memiliki keinginan yang sama untuk membuat crt tema samurai ^^ dan Saya penyambung ide crt yg ngak kesampaian dia tulis dulu. Begitu.
Tapi klo kalian mau bertegur sapa sm dia silakan aja sampaikan di kotak ripiu.. Hahahaha piss Hana :v
Bagaimana dengan chap2 nya? Hohoho... Semoga tetap suka. Duh, Senangnya Saku bisa bobo di peluk Sasuke #ngiristengahmampus
Penasarankah siapa Itachi? (Klo kata hana sih, pacarnya dia wkwkkw)
Doakan chap3 bisa cepet ya, kebetulan tangan kananku sedang cidera :D dan untuk yg melaksanakan UN alias Ujian chuniN hahahaha semangat terus ya ^^
.
09-04-15
Ucul World – Istri Taka, One Ok Rock :* -
