Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

Annisa Alzedy : Makasih ^^, iya nanti char yang lain bakalan muncul kok... bahkan nama'y udah kesebut di chap ini ^^

SHL7810 : Iya, last scene bikin iri hahaha.. aku juga mau hoho.. ^^

Yoktf : Makasih, aku emang keren *salahfokus* plakk!

Aria : Makasih ya, seneng kamu juga suka tapi ngak usah panggil senpai.. ucul atau ka ucul aja biar lebih asik ngobrolnya ya ^^

KuroNeko10 : Makasih ^^ langsung semangat nih abis baca ripiumu hehe makasih ya

GaemSJ : Aku emang sweet *salahfokus* digeplak! Diusahain kok untuk update cepet ^^

Shinohara Akari : Sip,, ini udah dilanjut ^^

Undhott : Klo keabisan tisu lagi, saya jual nih.. selembar dua rebo hahahaha *abaikan* Makasih udah suka ^^

Hanazono yuri : Tadinya sih mau gitu tapi si Hanaruppi ngak rela, jadi batal deh hahaha

Nur520 : Makasih.. ^^

Manthika Mochi : Kirain Go..go power ranger *Jd rengerkuning* hahaha... makasih ya ^^

6934soraoi : Hihihi... Klo Sasuke yg nawar Sakura, jadi ngak keren entar hahaha pssssttt (Lagi juga Sasuke ngak punya duit banyak tauk) *dichidori*

Sofi asat : Iyaa udah dilanjut nih hehe

IndahP : Yeaaay indah mampir lagi ^^ dan dan pertanyaanmu udah terjawab di chap ini kok. Makasih buat doanya *pelukIndah*

Guest : Aku juga suka kamu meninggalkan jejak hohoho.. makasih ya ^^

Eysha Cherryblossoms : Hihihi iya nih ^^ aku juga ngak nyangka bisa collab sama Hana hohoho. Emang sengaja ngak disebut nama keluarga Sakura sebelumnya. Jadi, mereka emang Cuma ngasih nama Sakura aja gitu ngak pake embel apa2.

Ttebayo-chan : Udah dilanjut nih.. Makasih ya ^^

Henilusiana39 : Heniiiiiiii *pelukHeni* ... Maaf ya, Kado Fic mu masih terlantar, udah diketik sih tapi baru dapet 4 lembar dan trs aku mentok gitu idenya huhuhuhu, klo inspirasinya muncul lagi bakal lgsg aku selesein deh huhu maaf ya. Keluarga Sakura, suatu saat akan terbongkar kok hahahaha (sokmisterius)

FiaaAtiarizqi : Hihihi ya semoga saja berakhir happy ending hahaha makasih ya ^^

Yu : Aku juga keren kok *ditelen*

mii-chanchan2 : Udah dilanjut tapi ngak kilat *nyengir*

Kuro Shina : Udah udah udah hohohoho ^^

Lisa Smile : Namamu berubah lagi hehehe... wah, semangat untuk ujian Chunin tahap selanjutnya hehe... ripiumu ngak kepanjangan kok ^^ makasih ya dari Hana juga buat salamnya ^^

Makasih buat kalian ^^ *pelukatuatu* Makasih udah mendukung Kita dengan ripunya. Makasih juga buat yang Fav dan Follow, termasuk yeaaahhh pembaca gelap yang masih bersembunyi (Apah sih cul) hahaha senang kalau kalian juga ikut mengapresiasi kerja keras kami ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Pemandangan pertama yang terlihat oleh sepasang mata hijau itu adalah atap cokelat yang terbuat dari anyaman bambu. Dan hal yang ia rasakan pertama kali adalah kelembutan alas tidur dan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya.

Kepalanya menoleh ke sekeliling, namun tak jua ia temukan seorangpun di dekatnya. Sakura mendudukkan tubuhnya hingga selimut itu melorot dan menampakkan pakaian yang robek di beberapa bagian. Seketika itu juga ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kembali.

Sakura terdiam. Hal yang dialaminya mulai berputar di pikirannya. Kepergian Ichiro dan Yuuko, itu benar? Semua itu bukan mimpi? Jadi, yang semalam benar-benar terjadi?

Sakura memeluk tubuhnya erat. Tatapan mata yang menelanjanginya terekam sangat jelas di ingatan. Membuat tubuhnya merinding dan jijik di saat bersamaan. Kemudian hal yang yang ia ingat adalah pelukan hangat dan menenangkan yang ia rasakan.

Pelukan yang memberikan rasa aman. Ia merasa terlindungi. Ya, Sakura ingat betul pria itu datang menolongnya, lagi. Ada perasaan hangat yang menjalar di dada Sakura kala mengingat sosok itu. Hanya pria ini yang mampu membuat Sakura percaya, bahwa dia akan selalu melindunginya.

Tapi di mana dia? Apakah ia kembali meninggalkannya lagi? Bukankah ia sudah berjanji? Ia berjanji tidak akan meninggalkannya.

Suara pintu yang terbuka membuat lamunan Sakura lenyap. Ia semakin mengeratkan selimut putih itu. Tubuhnya kembali gemetar takut. Siapa? Siapa di sana? Apa jangan-jangan ...

"Nona sudah bangun?"

Kepala Sakura langsung menoleh mendengar suara yang tidak ia kenali. Suara milik seorang perempuan.

"Air hangatnya sudah saya siapkan," ucap wanita yang kira-kira seumuran dengannya. Ia berjalan mendekati Sakura dengan pakaian yang berada di tangannya. Tepat di depan Sakura, ia meletakan yukata hitam itu dan kemudian membentangkan kain polos berwarna biru gelap.

"Pakai ini dan mari ikut saya, Nona," sambungnya sembari menyerahkan kain itu.

Sakura mengambil kain itu lalu membungkus bagian bahu dan juga punggungnya karena kain itu cukup lebar.

"Bagaimana Anda tahu?" tanya Sakura yang kini berjalan mengikuti perempuan di depannya.

"Pria yang membawa Anda yang menyuruh saya melakukan ini," jawabnya dengan nada ramah. Seketika jantung Sakura kembali berdebar, ia setengah tak percaya dengan apa yang didengar barusan.

"Di mana dia?" tanya Sakura antusias.

"Dia menunggu Anda di depan penginapan sedari pagi." Jawaban perempuan itu terasa bagaikan angin sejuk untuk Sakura. Ia senang karena pria penolongnya tidak pergi meninggalkannya. Bahkan ia melakukan ini semua untuk Sakura dan itu membuat perasaan Sakura menghangat.

Sakura yakin, pria itu menyuruh perempuan ini karena dia tidak ingin Sakura ketakutan atau pun risih dengan keberadaannya terlebih kondisi Sakura yang saat ini terlihat begitu ... memalukan. Yah, walau ini masih pemikiran Sakura pribadi namun itu membuat Sakura semakin nyaman bersama pria ini. Pria yang selalu datang menyelamatkannya.

Setelah beberapa menit berselang, Sakura sudah keluar dengan yukata hitamnya. Riasan di wajahnya pun telah hilang dan rambut panjangnya kembali tergerai. Setelah mengucapkan terima kasih pada perempuan itu, Sakura segera pergi menghampiri pria penolongnya. Pria itu hanya menoleh saat Sakura sudah berdiri tepat di belakangnya. Entah bagimana pria itu bisa menyadari kehadiran Sakura padahal langkah kaki Sakura bahkan tidak terdengar.

Sasuke hanya diam dengan mata masih menatap Sakura. Setelah Sakura tertidur, Sasuke membawa Sakura pergi dengan mengendongnya. Meninggalkan desa, tempat menjijikkan itu, sebelum kemarahan semakin menguasainya. Dia sendiri tidak mengerti, rasa-rasanya ia seperti melihat masa lalunya kembali. Dirinya yang mengalami hal mengerikan, dirinya yang membutuhkan pertolongan.

Ia melihatnya pada perempuan merah muda ini. Rasanya ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

Belum sempat Sakura mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Sasuke sudah lebih dulu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar penginapan kecil itu.

"Ayo," ajak Sasuke tanpa menolehkan kepalanya.

Sakura mengikuti dengan diam. Berjalan dengan tenang mengikuti ke mana pria itu membawanya pergi. Tapi kali ini berbeda, pria penolongnya tidak lagi berjalan meninggalkannya. Pria itu berjalan tepat di samping Sakura. Ia bahkan mau menyamai langkah kaki Sakura yang terlampau pelan.

Seperti ini saja jantung Sakura sudah berdetak tak menentu. Sikap tak biasa yang dilakukan pria penolongnya membuat suatu perasaan hangat semakin membesar di dada Sakura. Jujur saja, ia merasa seperti dilindungi.

Tepat di depan sebuah toko pakaian, Sasuke menghentikan langkah kakinya, begitu pun Sakura. "Pilihlah, aku akan menunggu disini."

Sakura sempat menatap Sasuke lama sebelum akhirnya menuruti perintahnya. Sebenarnya ia sedikit merasa terbebani ketika memutuskan untuk mengikuti perintah Sasuke, tapi di sisi lain dirinya memang membutuhkan pakaian baru berhubung pakaiannya sudah tidak layak lagi untuk dikenakan.

Mata hijaunya memperhatikan beberapa potong pakaian yang tergantung dengan rapih atau terlipat di atas meja kayu. Kakinya melangkah semakin ke dalam, memperlihatkan semakin banyak pakaian dengan berbagai corak dan warna yang beragam. Pakaian yang cantik menurut Sakura.

Tangannya mengelus salah satu kimono berwarna merah terang dengan corak bunga Sakura mendominasi. Indah, itulah yang terbesit di benak Sakura. Corak yang sama seperti namanya selalu menjadi favoritnya dalam mencari pakaian. Namun kali ini lain, sejak kejadian tadi malam ia memutuskan untuk tidak lagi memakai kimono ataupun yukata.

Kenapa? Alasannya sederhana. Dengan pakaian itu membuat ia sulit untuk bergerak terutama untuk berlari. Apalagi kali ini ia akan ikut berkelana dengan pria penolongnya. Jelas sekali ia tidak ingin ditinggal jauh olehnya karena langkah kakinya yang kecil, dan itu akan menjadikannya seperti wanita menyusahkan, bukan?

Pandangannya terhenti pada sejenis pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh pria penolongnya. Ya, uwagi berwarna putih susu dengan hakama berwarna hitam menjadi pilihannya. Sakura yakin, pakaian ini yang cocok untuknya.

"Tuan, te- terima kasih," ucap Sakura menatap langsung mata hitam Sasuke. Mereka kini telah kembali di dalam kamar penginapan. Setelah selesai membeli pakaian untuk Sakura, mereka langsung kembali ke penginapan. Sasuke pun segera mengganti pakaiannya. Ia telihat bersiap untuk pergi.

"Tunggulah di sini. Ada urusan yang harus aku kerjakan," ucapnya saat menyematkan katana birunya.

Belum sempat kakinya melangkah, ia merasa ada sesuatu yang menahan. Dengan sedikit gemetar tangan Sakura menarik kecil pakaian Sasuke, tepat di punggungnya. Kepalanya menunduk menghindari mata Sasuke yang kini menatapnya heran.

Sakura sendiri tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Dengan sendirinya tangan Sakura bergerak untuk menahan kepergian pria itu. Ia takut. Takut jika pria itu benar-benar akan pergi meninggalkannya dan tidak akan kembali.

"Aku pasti akan kembali," ucap Sasuke tegas. "Jadi tunggulah di sini."

Walau ucapan itu cukup meyakinkan untuk Sakura tapi ia masih enggan untuk melepaskan tangannya. Rasa takut dan cemas itu masih menguat, tidak bisa ia kikis dengan mudah. Sakura sendiri paham, tidak ada sosok ini maka rasa aman itu juga hilang. Pergi bersama dengannya.

Helaan napas meluncur dari mulut Sasuke, sedikit kesal karena sikap perempuan merah muda ini. Sangat menyusahkan. Ia sendiri masih tidak mengerti kenapa ia mau bersusah payah seperti ini, membawa wanita ini untuk ikut bersamanya.

Satu tangannya mengambil belati kecil yang biasa ia gunakan sebagai senjata untuk melempar musuh yang jauh. Melesat secepat busur anak panah. Sasuke berbalik hingga tubuhnya menghadap Sakura yang kini terkejut. Mata hitam itu tepat berada di depannya.

"Gunakan ini," ucapnya sembari meletakan benda itu ke tangan Sakura. "Mulai sekarang kau harus membiasakan diri dengan benda-benda seperti itu."

Sakura menganggukkan kepalanya dan menggenggam erat belati itu. Tepat saat Sasuke akan menutup pintu kamar mereka, ia kembali menatap Sakura yang menatapnya, walau ia berusaha untuk menyembunyikannya namun Sasuke masih dapat melihatnya dengan jelas. Wajah yang memancarkan rasa takut dan cemas.

"Dan jangan pernah sekalipun keluar dari kamar ini," ucapnya sebelum menutup pintu kamar itu.

Sakura kini duduk bersandar pada dinding kamar. Belatinya ia letakkan tepat di samping kanannya. Kedua kakinya tertekuk dengan wajah yang ia sandarkan di atas lututnya. Mata hijaunya menatap lantai kamar.

Sepi. Sakura merasa sangat kesepian. Banyak hal bermunculan di benaknya. Pikirannya menerawang jauh mengingat masa lalunya. Kenangan yang tidak pernah bisa ia lupakan hingga berakhir menjadi sebuah pertanyaan, mengapa?

Mengapa semuanya bisa menjadi seperti ini? Hidupnya? Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia cari? Untuk apa ia ikut bersama dengan pria penolongnya, jika bisanya hanya menjadi beban?

Dan berjuta pertanyaan muncul karena kesendiriannya.

Sakura semakin memeluk erat kakinya dan menenggelamkan wajahnya. Ia menangis, air matanya turun begitu saja mengingat tak satupun jawaban yang ia temukan, yang ada semakin lama pertanyaan itu semakin memburunya. Semakin mendesaknya. Membuat kepalanya berdenyut nyeri hanya karena memikirkannya. Tiba-tiba ia kembali mengangkat wajahnya. Tangannya dengan cepat melepaskan kalung pemberian ibunya.

Dipandanginya kalung berbentuk bunga Sakura yang kini berkilat begitu indah. Inilah yang tersisa dari semua kenangan yang ia miliki. Wujud dari suatu kenangan. Satu benda yang mampu menjawab sedikit pertanyaan yang ada di dalam benak Sakura. Apa yang harus ia cari?

Sakura menyadari sekarang, kalau ia harus mengetahuinya. Tentang siapa dirinya? Siapakah kedua orangtuanya? Dan mengapa ia dibuang?

Yah, setidaknya sekarang Sakura mempunyai satu tujuan. Bersama dengan pria penolongnya ia akan mencari informasi tentang benda ini. Tentang semua jawaban pertanyaan itu. Dan satu lagi pertanyaannya terjawab, apa yang harus ia lakukan saat ini?

Apa yang bisa ia lakukan jika ia selemah ini? Jika ia selalu bergantung pada pria penolongnya. Tidak! Sakura tidak ingin kejadian buruk kembali menghantuinya karena dirinya yang lemah. Dirinya yang tidak berguna. Tangan yang tidak bisa melindungi orang-orang berharga untuknya.

Ia tidak ingin hanya bisa menangis! Karena Sakura sadar, hidupnya kali ini sudah tidak sama. Mulai saat ini, tangan ini harus bisa melindungi. Harus.

Tanpa sadar Sakura mengeratkan genggaman pada belatinya. Ia sudah membulatkan tekad untuk meminta sekali lagi bantuan pria penolongnya untuk bisa mengunakan senjata. Dia harus berubah! Karena hanya dia sendirilah yang bisa mengubah hidupnya.

.

.

.

"Kau yakin?" tanya Sasuke yang kini sudah duduk bersimpuh dengan tangan yang terlipat di depan dadanya. Mata hitamnya menatap tajam mata hijau itu.

Sepulangnya dari menerima pekerjaan—kali ini harus membunuh salah satu Daimyo di desa ini—Sasuke harus terkejut kala mendengar permintaan perempuan merah muda ini saat mengembalikan belati miliknya.

Sasuke tahu, tidak ada keraguan sama sekali yang terpancar dari sepasang mata hijau itu. Dan Sasuke sendiri tidak butuh alasan mengapa perempuan ini memutuskan untuk mempelajari ilmu pedang. Sekali lagi, Sasuke tidak peduli. Apapun alasannya, itu bukanlah menjadi urusannya.

Sasuke hanya ingin melihat sejauh mana keinginan itu ada. Lagi pula bukankah ini akan menguntungkannya? Setidaknya ia tidak akan terlalu menyulitkan nantinya. Perempuan ini bahkan mengatakan akan pergi jika ia sudah merasa cukup bisa melindungi dirinya sendiri.

Hey, tidakkah ia kembali melihat dirinya di masa lalu?

Wanita itu mengangguk mantap. Matanya masih terus membalas tatapan mata hitam itu dengan keseriusan.

"Baiklah. Tapi kau harus tahu mempelajari ilmu pedang bukanlah suatu hal yang mudah. Butuh ketekunan dan kerja keras jika kau ingin menguasainya. Dan juga, aku tidak suka ada keluhan atau bahkan air mata saat kau mempelajarinya."

Tidak ada alasan bagi Sasuke untuk menolaknya. Ia tidak perlu repot-repot lagi untuk melindunginya. Terlebih, ia tidak akan lagi direpotkan olehnya. Yah, ini lebih baik.

"Aku mengerti," ucap Sakura tegas yang kemudian diiringi oleh senyuman kecil di wajahnya. Senyuman yang membuat Sasuke terusik perasaan aneh. Ini memang bukan kali pertama ia melihat senyuman gadis merah muda ini. Tapi ini adalah kali pertama gadis ini tersenyum senang karena dirinya. Senyuman itu karena dirinya. Kata-kata itu menimbulkan perasaan aneh yang membuatnya semakin tak nyaman.

Keheningan kini menguasai mereka. Keduanya hanya diam tanpa saling menatap. Kepala merah muda itu tertunduk, sedangkan Sasuke lebih memilih menatap dinding kamar mereka walau nyatanya kini mereka masih saling berhadapan.

Seharusnya hal ini adalah hal yang biasa bagi mereka. Keheningan memang selalu menemani mereka. Tapi kini keduanya merasa ada keanehan pada suasana sepi ini. Aneh, keduanya merasa aneh. Rasa-rasanya ini terlalu sunyi. Entah, mereka juga tidak bisa memastikannya tapi mereka sadar, mereka tidak suka keheningan ini.

Tanpa sadar Sakura meremas erat hakama hitamnya. Perlahan ia pun mengangkat wajahnya. Ya, ada hal yang sangat ingin Sakura ketahui sedari awal mereka bertemu. Siapakah nama pemuda ini, pemuda yang dirasa Sakura memiliki umur yang sama dengannya.

"Tu- Tuan," panggil Sakura ragu, suaranya pun terlampau lemah namun bisa terdengar oleh Sasuke yang kini menatap Sakura.

"Bo- bolehkah saya mengetahui na-na-na-nama Tuan?" tanya Sakura yang kembali menundukkan wajahnya.

"Sasuke Uchiha," jawab Sasuke dengan datar.

"Ka- kalau be- begitu, apa boleh saya memanggil nama Tu- Tuan?" Sakura kembali bertanya dengan wajah yang sudah terangkat. Menatap was-was mata hitam itu.

Kembali ia merasa ada perasaan aneh yang semakin menganggunya melihat mata itu. Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban permintaan Sakura.

"Aku Sakura. Terima kasih ... Sa- Sasuke-san." Seketika Sakura merasa jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Ada debaran tak biasa kala ia menyebut nama itu, bahkan ada rona merah menjalar di pipinya. Satu nama, dan itu membuat Sakura tidak berdaya untuk menahan debaran di jantungnya. Ini aneh, perasaan ini. Aneh.

"Aku keluar sebentar." Itulah jawaban yang diberikan Sasuke tepat saat Sakura menyebut namanya. Seketika itu juga ia bergegas keluar meninggalkan Sakura begitu saja.

Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak dengan keras. Ada perasaan mengelitik kala mendengar namanya dipanggil selembut itu olehnya. Tidak mengerti, ini bahkan hanya sekedar nama. Bukan sekali ini saja seorang wanita menyebut namanya. Tapi kali ini ada yang berbeda, entah, Sasuke sendiri tidak mengerti di mana letak perbedaannya.

Tapi debaran jantungnya tidak bisa ia hentikan. Perasaan aneh itu semakin menguasainya. Suara itu bahkan terekam jelas dan berputar berkali-kali di dalam otaknya. Bukan karena keinginannya, tapi suara itu terus melantun bagai sebuah melodi.

Ini tidak baik. Perempuan itu, memang harus cepat pergi darinya. Perasaan ini, sungguh tidak biasa untuknya. Ia merasa sangat tidak nyaman. Sama sekali.

.

.

Setelah sarapan Sasuke segera bergegas pergi untuk melakukan pekerjaan lain. Kali ini ia lebih banyak mengambil pekerjaan dibanding biasanya karena ia sadar biaya hidupnya kini bertambah menjadi dua kali lipat. Terlebih, ia harus memesan kamar untuk tempat peristirahatan mereka. Walau memang sampai saat ini mereka masih memesan satu kamar untuk berdua.

Sakura sendiri tetap berada di kamar sesuai perintah Sasuke dengan belati yang ia letakkan di dekatnya. Ada sedikit perbedaan kali ini. Jika kemarin ia merenung dan menangis, maka tidak untuk hari ini.

Ia sibuk melakukan olahraga ringan yang diajarkan Sasuke sebelum pergi. Olahraga yang meningkatkan kekuatan otot tangan dan kaki. Bahkan pagi-pagi sekali Sasuke mengajaknya untuk berlari. Dan seperti ucapannya kemarin, ia benar-benar tidak main-main dalam mendidik Sakura.

Ia terus saja berlari bahkan mengabaikan Sakura yang memintanya untuk beristirahat barang sebentar. Mau tak mau Sakura tetap terus berlari agar tidak tertinggal jauh dengan pria itu. Jujur saja, Sakura masih takut jika pria itu jauh darinya.

Sakura merasa matanya berkunang-kunang saat merebahkan tubuhnya di kamar. Peluh bahkan sudah ikut membasahi pakaian Sakura. Deru napasnya semakin berlomba untuk keluar.

Sedangkan Sasuke, ia tetap tenang walau tubuhnya juga basah oleh keringat tapi tidak ada ekspresi lelah tercetak di wajahnya. Ia hanya melontarkan ucapan dengan nada datar bahwa ini adalah rute lari terpendeknya—yang mana bagi Sakura adalah rute terpanjang selama hidupnya.

Tapi ia sudah bertekad. Kini ia kembali melakukan olahraga untuk melatih otot-ototnya. Memperkuat pertahanan tubuh dan memperbaiki staminanya. Yah, itulah yang Sasuke katakan padanya. Karena untuk bisa memegang sebuah pedang, Sakura harus memiliki otot tangan yang kuat dan kaki yang juga berfungsi sebagai kuda-kuda pertahanan.

.

.

"Kudengar imbalan Itachi Uchiha sudah berubah menjadi 75 juta yen," ucap salah satu pria di samping Sasuke yang kini sibuk memasukan makanan ke dalam mulutnya. Tampaknya ia merupakan salah satu bagian Shogun milik kekaisaran.

"Ya, ia berhasil membunuh salah satu pejabat teras kaisar tadi malam. Ia memang benar-benar pembunuh mengerikan," sahut pria lainnya yang duduk di depan pria itu.

Ia membunuh orang kaisar lagi.

"Apakah ia sangat membenci kekaisaran Hyuuga? Karena setelah lima tahun Kaisar Hyuuga berkuasa, ia mulai membunuh para pejabat kaisar. Dengan ini sudah enam orang terbunuh olehnya."

"Entahlah, banyak desas-desus yang bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa ia membunuh semua penjabat yang mengkhianati Kaisar, jadi yang dia lakukan itu sebenarnya adalah demi kebaikan Kaisar Hyuuga. Dan yang paling mengherankan adalah dia membunuh karena dendam pribadinya. Tapi aku juga tidak tahu kebenarannya, apalagi sampai saat ini belum ada yang bisa membunuhnya. Mereka semakin menutup mulut mereka karena takut menjadi incaran Uchiha itu."

"Ada pula kabar yang muncul kalau ia juga berniat mengincar Putri Hyuuga. Entahlah, ini baru kabar angin saja," ucap pria yang berada di sebelah Sasuke kemudian meneguk air dari gelas di depannya.

Putri Hyuuga. Jadi, dia akan membunuhnya juga?

"Ya, aku juga mendengarnya. Karena berita itu, Jenderal pengawal Kaisar dari Divisi 1 Ke-shogun-an Namikaze diperintahkan untuk mengawal Putri Hyuuga saat ini, berjaga-jaga jika kabar itu benar adanya."

"Ah, bukankah itu ketua divisimu?"

"Iya, Jenderal Naruto Namikaze."

"Semoga saja kabar itu tidak benar. Jikapun iya, semoga saja Jenderal Naruto bisa membunuh Itachi Uchiha dan melindungi Putri Hyuuga."

Seketika Sasuke berdiri setelah meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya. Dengan tenang ia berjalan meninggalkan rumah makan itu. Tapi tidak dengan hatinya, karena ia sudah bersumpah dengan tatapan mata yang penuh akan kebencian.

Akulah yang akan membunuh Itachi Uchiha ... Laki-laki yang disebut sebagai Kakakku!

Flashback On.

Kepulan asap hitam menghalangi pemandangan bocah laki-laki berumur tujuh tahun yang berlari mengikuti wanita yang merupakan orangtuanya. Ibunya.

"Kaa-san, aku takut," teriak laki-laki kecil bernama Sasuke. Wajahnya pucat melihat pemandangan di sekelilingnya. Rumah penduduk yang sudah hancur dan api yang menelannya. Darah yang menjadi noda dengan tubuh yang sudah tergelatak di segala tempat.

"Tidak apa-apa, ada Kaa-san di sini," ucap Mikoto dengan tenang walau kecemasan mendominasi paras cantiknya.

Dipeluknya tubuh mungil itu dengan erat, kemudian Mikoto membawa pergi Sasuke dalam gendongannya. Tangan kecil itu sudah melingkari leher Mikoto di mana kepala Sasuke bersandar nyaman di bahunya. Mikoto dapat merasakan bahwa tubuh putra kecilnya gemetar karena takut. Ia sadar, pemandangan ini sungguh sangat mengerikan.

Penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok samurai untuk memperluas daerah membuat desa yang damai dan tenang berubah menjadi medan perang. Sebagian mencoba melawan, sedangkan sisanya berusaha untuk melarikan diri walau kemungkinan berhasil sangatlah kecil.

Tapi, ia tidak mungkin hanya diam. Ia harus bisa menyelamatkan satu-satunya harta yang ia miliki sekarang. Darah daging yang tidak mungkin ia biarkan tewas begitu saja. Air matanya menetes. Lagi, ia harus mengalami hal seperti ini kembali.

"Kaa-san menangis? Apa Kaa-san juga takut?" tanya Sasuke saat menyadari ada air yang mengenai wajahnya. Dengan lembut Sasuke menyeka air mata itu, tangan kecilnya mengusap-usap jejak-jejak air di wajah Mikoto.

"Ada Ba-san, ada Tou-san yang akan melindungi Kaa-san. Sasuke juga akan melindungi Kaa-san." Setelahnya tangan itu kembali memeluk leher Mikoto erat.

Mikoto tersenyum pedih mendengar ucapan putra bungsunya. Ia tahu hal itu sudah tidak mungkin karena orang-orang yang dimaksud oleh Sasuke kemungkinan besar sudah tewas ketika menyuruh Mikoto untuk menyelamatkan Sasuke. Membawanya pergi dari desa ini.

Kakinya terus berlari tidak peduli walau beberapa benda sudah melukai kakinya. Ia harus bisa mencapai sisi timur desa di mana ada sebuah hutan yang merupakan pembatas antara desa ini dan desa seberang. Hanya itu satu-satunya jalan keluar dari neraka ini.

"Sasuke, berjanjilah pada Kaa-san bahwa Sasuke akan pergi dari sini apapun yang terjadi," ucap Mikoto di sela-sela ayunan kakinya yang terus melaju secepat yang ia bisa.

Mata hitam milik bocah kecil itu kini menatap Mikoto dengan tangan yang masih mengalung di lehernya. "Sasuke tidak mengerti."

Mikoto menatap Sasuke, "Sasuke harus terus berlari pergi dari sini dan hidup dengan tenang di tempat lain."

"Bersama Kaa-san?"

Mikoto kembali menatap lurus ke depan, "Walau tidak bersama Kaa-san," jawab Mikoto yang menghindari tatapan mata Sasuke yang penuh harap.

"Kenapa?" tanya Sasuke dengan air mata yang siap turun membasahi wajahnya. "Kenapa Kaa-san tidak ikut?"

Beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan putra bungsunya, Mikoto kini menangkap orang yang mengejar mereka bertambah menjadi dua orang. Usahanya agar tidak terlihat ternyata sia-sia. Walau jarak mereka masih terlampau jauh, Mikoto yakin jumlah samurai yang mengejarnya akan semakin bertambah.

"Kaa-san harus menghukum semua orang jahat di sini bersama Oba-san dan Oji-san, dan saat itu Sasuke harus terus berlari pergi dari sini," ucap Mikoto, kini menurunkan Sasuke tepat di pagar pembatas dengan hutan itu.

"Tapi Sasuke mau ikut bersama Kaa-san."

Mikoto menggelengkan kepalanya, kedua tangannya kini memegang erat bahu mungil putranya, "Sasuke harus pergi dan mencari Onii-chan. Dia adalah Itachi Uchiha, pergi dan hiduplah dengan rukun bersama dengannya."

"Sasuke mau bersama Kaa-san juga," ucap Sasuke yang masih menahan diri untuk tidak menangis.

"Dia adalah laki-laki yang sangat baik, jadi dia pasti akan melindungi Sasuke dari apapun karena Itachi sangat menyayangi Sasuke."

"Kalau begitu, kita cari Onii-chan bersama-sama saja."

"TIDAK BISA!" Teriak Mikoto hingga membuat air mata Sasuke akhirnya turun. Bocah kecil itu menangis tanpa sadar. Kedua matanya melebar menatap takut pada ibunya. Sasuke tidak pernah melihat apalagi mendengar teriakan dari Mikoto, karena ibunya adalah wanita yang lembut.

Mikoto mengigit bibir bawahnya dan segera menarik tubuh Sasuke ke dalam pelukannya. Ia sadar, ucapannya tadi terlalu keras untuk Sasuke.

"Maafkan Kaa-san Sayang. Kaa-san tidak marah pada Sasuke. Maaf ..." Perlahan akhirnya air mata Mikoto ikut turun membasahi wajahnya. Hal ini terlalu sulit untuknya. Tapi ia tahu, ia tidak punya banyak waktu.

"Apa Sasuke sayang Kaa-san?"

"Tentu, Sasuke sayang sekali dengan Kaa-san, Ba-san dan juga Tou-san," jawab Sasuke diiringi dengan isakan kecil.

Dibelainya rambut hitam itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Kalau begitu Sasuke harus menuruti apa kata-kata Kaa-san. Mengerti?"

Anggukan kepala Sasuke membuat senyuman tercetak di wajah Mikoto. Dilepasnya pelukan itu hingga wajah mereka kini saling berhadapan. Tangan Mikoto pun kini menghapus air mata di wajah Sasuke, kemudian mengecup pelan dahi putranya.

"Sasuke ingat apa yang dikatakan Oji-san?" tanya Mikoto dengan senyuman di wajahnya. Satu pria yang Sasuke sudah anggap seperti ayahnya sendiri. Pria yang sangat Sasuke cintai dan hormati, karena Sasuke tahu bahwa ayahnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Kepala hitam itu kembali mengangguk, "Tou-san bilang Sasuke harus jadi anak laki-laki yang kuat dan jangan membuat Kaa-san, Ba-san dan Tou-san sedih."

Mikoto segera mengangkat tubuh Sasuke kembali, "Sekarang pergilah yang jauh dan jangan pernah kembali ke sini. Apapun yang nanti terjadi, jangan pernah kembali. Karena jika Sasuke lakukan hal itu, maka Ba-san, Oji-san dan Kaa-san akan sedih."

"Tapi-"

Diangkatnya tubuh itu melewati pagar pembatas yang cukup tinggi, untuk terakhir kalinya Mikoto menatap wajah putra bungsunya. Tanpa bisa ia cegah, air matanya kembali mengalir. Inilah saat perpisahannya, di dalam hati ia sudah memanjatkan berbagai doa untuk keselamatan Sasuke. Agar putranya bisa hidup dengan bahagia, walau tidak bersama dengannya.

"Pergi ... Sekarang!"

"Tidak, Kaa-san ..."

Dilepaskannya tubuh mungil itu, akibatnya Sasuke terjatuh dengan keras. Mikoto yang melihat Sasuke tidak mengalami cidera ataupun luka segera membalikkan tubuhnya.

Ditariknya keluar sebuah pedang kecil yang tersemat dibalik pinggang Mikoto. Empat orang samurai sudah berlari untuk membunuhnya.

"Tidak!" Sasuke segera bangkit. Tapi ternyata di balik pagar kayu itu ada lekukan ke dalam hingga membuat ujung bawah pagar pembatas itu setara dengan kepala Sasuke.

Tangan kecilnya berhasil memegang ujung pagar kayu itu. Kedua kakinya kini mulai bergerak untuk naik.

Mata hitam itu akhirnya berhasil menangkap punggung ibunya, "Kaa-san!" Panggil Sasuke sembari terus merayap naik.

Ia berharap wanita itu akan menghampiri dan membawanya pergi, tapi nyatanya sosok itu berlari menjauh. Pergi menjauh dari tempat ini tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.

"Kaa-san ... Jangan pergi!"

Mikoto memejamkan matanya kala mendengar jeritan memilukan itu. Sekuat mungkin ia berusaha untuk tidak memedulikan teriakan putra bungsunya. Kakinya terus berlari menjauh dari tempat itu agar ke empat samurai itu tidak bisa menemukan putranya.

"Kaa-san!"

Maafkan Kaa-san, Sasuke.

Ini semua ia lakukan demi Sasuke. Demi putra tercintanya. Ia harus bisa mengulur waktu. Ia yakin, Sasuke pasti bisa bertahan hidup. Ia yakin, sebesar keyakinannya terhadap Itachi, putra sulungnya yang terpisah beberapa hari setelah Sasuke terlahir ke dunia.

Putra yang harus terpisah karena insiden itu. Insiden yang juga ikut merenggut nyawa suaminya.

"Kaa-san! Jangan tinggalkan aku sendiri ... huhu ... Ba-san, Tou-san ... Sasuke takut!"

Flashback Off

Ya, itulah tujuan hidupnya selama ini. Membunuh orang yang bahkan belum pernah ia temui seumur hidupnya. Laki-laki yang ia anggap telah merusak kebahagiaannya. Laki-laki yang harus bertanggung jawab dengan membayar kematian orang-orang yang dicintainya. Ia yakin, Itachi-lah penyebabnya. Itachi-lah awal mula kehancuran hidupnya.

Karena dulu ia hampir membunuh Kaisar Hyuuga.

Bersambung

Curcul :

Okeh, udah ketawan kan siapa Itachi yang ternyata adalah suami Hana Hohoho… Jadi apakah Itachi bakal jadi orang ketiga jawabannya tidak sama sekali, Hana tidak merestuinya wkwkwk.

Sampai ketemu di chap selanjutnya ^^ untungnya chap kali ini Hana mem-beta dengan sangat cepat hanya beberapa jam loh *Tepuk tangan* jadi membantu keterlambatan saya hingga chap ini masih bisa publish seminggu lebih dikit hahhaa :p

Dan dan … Ternyata Toneri boleh juga dilirik, pas pake baju pengantin keren juga hahahaha *abaikan*

.

17-04-15

Ucul World – Istri Taka, One Ok Rock :* -