Naruto selamanya milik bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
Mantika Mochi : Wah makasih banyak ^^
Guest : Cup..cup cup jangan sedih ^^ Mereka udah mulai jatuh cinta kok hahaha… Makasih ya ^^
KureNeko10 : Waduh, klo dalam bentuk chapter sih, gtw deh jadinya brp chapter yg pasti ngak mau sebanyak chapter GHOST FILE :D.. wah makasih buat temennya juga ya udah suka ^^
GaemSJ : Huehehehe.. bingung? pegangan biar ngak jatoh deh *uapasih* peace ^^
Ikalutfi97 : Hehehe ya itu Sasuke pikir itachi-lah penyebab semua ini dan klo soal hubungan sma kaisar Hyuuga nanti bakal kejawab kok hahahaha *sokmisterius* makasih juga udah suka Fic GF ku ^^
Eysha Cherryblossoms : Hmmmm ya, begitulah Itachi.. gtw deh dia masih bisa disebut baik atau jahat entar hahahahaha, will see ;p
NikeLagi : Hmmm gtw deh dia bisa ketemu lagi apa engga, yang pasti saat Sakura tahu ttg keluarganya lalalalala ditunggu aja deh,, pokoknya maaf ya Sakura *pelukSaku*
Jeincheyon : Jangan peluk dia Gaara! Karena dia baru muncul skrg hohohoho *abaikan* makasih ya ^^
Tsubaki : Oh.. Haloo.. jangan panggil senpai ya ^^ wah saya malah baru tahu ttg novel itu :D maklum saya jarang baca novel lebih seneng baca komik soalnya ada gambarnya. Klo novel tulisan semua jadi bikin ngantuk hahahhahah (ini jujur loh) dan makasih loh btw akunya juga manis kok *digeplak*
Yoktf : EH, itu mah adegan di GHOST FILE … tapi gtw deh disini dipisah lagi apa engga eeeeaaaaaa
Annisa Alzedy : Terima kasih udah suka ^^ dan jawaban pertanyaanmu ada di chap ini silakan dibaca ^^
kHalerie Hikari : Iya ini udah dilanjut ^^
Gita Zahra : Hai gita ^^ tentu saya masih ingat hehe… semoga suka crt nya ya ^^
JYB : Makasih loh ^^ dan hmmm gtw deh liat nanti ada cemburu2annya apa engga heheh ^^
Hanazono yuri : Siippp udah lanjut ^^
6934soraoi : Hmm waktu itu Itachi berumur 15 tahun hehe. Hanaruppi : Beta pake laptop ;p Kita cuma kirim2an file lewat email aja.
IndahP : Wah udah mentok panjangnya tuh…nulis segitu aja ampe dipejit dua kali tangan eke hahhaha.. tapi makasih loh akan diusahakan deh ^^
Henilusiana39 : Klo berabad-abad aku ngak jamin apa aku masih ada hahahhaa makasih ya Heni ^^
Undhot : Iye ini udah lanjut hehe
Lisa smile : Hohoho makasih ya ^^ seneng deh klo kamu maki suka sm ceritanya hihihi
Suket alang-alang : Blom bisa bilang Itachi salah atau engga.. akan ada saatnya Itachi menjelaskan hehehe kebetulan disini aku ngak pake banyak pemain jadi klo udah ketemu sm naruhina maka konfliknya udah dimulai.
SS : Iya ini udh di update CH 4 nya ^^
Makasih banyak buat kalian semua *pelukatuatu* makasih udah menghargai kerja keras kami dengan ripiunya ^^
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
Chapter 4 :
Sudah seminggu berlalu sejak Sasuke mendapat informasi mengenai sang kakak, Itachi Uchiha. Ia pun segera bergegas untuk kembali mengembara menuju desa yang terletak dekat dengan Istana Kaisar Hyuuga. Untuk bisa sampai ke sana, Sasuke harus melewati empat desa kecil dan dua desa besar, perjalanan yang mungkin memakan waktu cukup lama. Apalagi kali ini ia membawa satu orang bersamanya.
Tapi Sasuke yakin, Itachi tidak akan begitu saja membunuh targetnya yang kali ini kemungkinan besar adalah Putri Hyuuga. Sejak mengetahui bahwa kakaknya adalah seorang buronan. Sasuke mulai menyita perhatiannya pada kasus Itachi. Siapa targetnya? Bagaimana kematiannya? Sampai pada rentan waktu pembunuhannya. Semua, semua yang berhubungan dengan Itachi akan ia telan demi keberhasilan rencananya.
Dan hasil dari pengamatan itu, Itachi tidak membunuh dalam rentan waktu yang cukup dekat. Entah ia sengaja melakukannya atau tidak, tapi sampai Sasuke kini berumur dua puluh satu tahun, Itachi baru membunuh enam orang saja. Dimana pembunuhan pertama terjadi saat Sasuke berumur kurang lebih enam tahun.
Itachi membunuh Menteri Kesehatan, Akemichi Chouja. Mayatnya digantung di alun-alun Istana Kaisar Hyuuga. Tubuhnya terkoyak, di mana tangan dan kakinya terikat tambang. Mulutnya robek, kedua indera pendengarnya hilang dan darah sudah membungkus seluru tubuhnya. Kasus itu masuk ke dalam pembunuhan paling mengerikan sejak Hyuuga Hizashi menjabat sebagai Kaisar.
Kejadian berikutnya Itachi tidak lagi main-main. Ia langsung mengincar Kaisar Hyuuga. Namun sayang usahanya yang sudah dua kali ia lakukan selalu saja gagal. Pertempuran itu membuat Itachi harus mundur karena tameng yang melindungi Kaisar Hyuuga, Minato Namikaze. Yang akhirnya mendapat pangkat sebagai Shogun Kaisar.
Sejak saat itu Ke-shogun-an Namikaze resmi menjadi Ke-shogun-an milik Kaisar.
"Apa kau mau pergi lagi, Sasuke-san?" tanya Sakura sekembalinya dari membersihkan diri sehabis menjalankan rutinitas pagi harinya bersama Sasuke, yaitu lari pagi.
Sasuke hanya menganggukkan kepalanya sembari menyematkan katana-nya. Mata hitamnya hanya melirik pada Sakura. Kali ini sudah tidak ada lagi ekspresi cemas dan takut yang terpasang di wajahnya seperti saat pertama kali ia meninggalkannya.
Lagi pula perempuan ini sudah berubah. Ia sudah mengenal dasar-dasar bela diri. Sasuke bahkan harus mengakui ketekunannya. Ia tidak menyangka jika Sakura tidak main-main dengan ucapannya. Sakura dengan cepat mampu mempraktikkan dengan baik apa yang Sasuke ajarkan.
Sasuke tahu bahwa Sakura terus mengulang gerakan itu ketika Sasuke pergi untuk bekerja. Bahkan saat lari tadi, Sakura mampu memperpendek jarak dengan Sasuke. Sasuke salut terlebih karena ia adalah seorang perempuan.
Walau begitu, bukan berarti ia sudah tidak menyusahkan Sasuke. Bagaimanapun ia tetap saja menyusahkan, bahkan lebih. Dikarenakan perasaan aneh yang terus saja mengusik Sasuke. Perasaan yang Sasuke sendiri tidak pernah bisa mengerti. Kenapa?
Setiap melihat mata hijau itu. Setiap kali perempuan itu menyebut namanya. Perasaan itu semakin mengganggunya. Ia bahkan tidak bisa mengendalikannya. Debaran jantung yang juga ikut bekerja lebih cepat yang Sasuke yakini karena perasaan aneh itu.
"Sasuke-san, boleh kan kalau aku pergi sebentar?" tanya Sakura ragu, wajahnya tertunduk menghindari mata hitam Sasuke.
"Kau mau ke mana?" tanya Sasuke datar. Ia kini membalikkan tubuhnya menghadap Sakura.
"Ada hal yang harus aku cari," jawab Sakura yang sempat menatap sebentar mata hitam itu karena jantungnya kembali bergemuruh hebat. Mata yang seakan selalu menariknya.
Kembali Sasuke merasa aneh pada dirinya sendiri. Bukankah harusnya ini bukan menjadi urusannya? Harusnya ia tidak peduli dengan apa yang ingin dilakukan oleh perempuan merah muda ini. Tapi entah bagaimana ada perasaan cemas saat tahu Sakura keluar tanpa ia berada di sampingnya.
Ada perasaan tidak tenang yang mengelayuti hatinya hingga pertanyaan "bagaimana" sudah menyeruak keluar. Bagaimana jika perempuan itu terluka? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang membuat Sasuke semakin kesal pada dirinya sendiri.
"Segeralah kembali setelah urusanmu selesai," ucap Sasuke kembali memunggungi Sakura. Sasuke sadar, bagaimanapun ia tidak berhak melarang Sakura.
Langkah kakinya terhenti saat ia akan menutup pintu kamar itu. Matanya kembali melirik Sakura. Sungguh, ia sendiri tidak mengerti, tapi ia juga tidak bisa menghentikan perasaan cemas ini.
"Jangan bertindak gegabah dan ... saat aku kembali, kau harus sudah ada di sini."
Sedangkan Sakura hanya tersenyum dengan tangan kanannya memegang belati pemberian Sasuke. Belati yang sudah menjadi milik Sakura. Sebuah benda yang membuat Sakura merasa aman, karena ia merasa pria penolongnya juga bersama dengannya. Karena itu ia tidak takut. Toh, ia hanya akan mampir ke salah satu tempat yang menarik perhatian Sakura saat tiba di desa ini.
Tempat kecil dengan berbagai buku terpajang di sana. Siapa tahu Sakura bisa menemukan petunjuk mengenai simbol kalung miliknya disalah satu buku itu.
Kakinya terus melangkah mendekati pusat perbelanjaan di desa ini. Tempat yang lumayan ramai dikunjungi oleh penduduk desa. Mata hijaunya menatap ke sekeliling, betapa ia merindukan pemandangan seperti ini. Pemandangan yang selalu mengingatkannya pada masa lalunya.
Ia menghentikan langkah kakinya tepat di depan tempat itu. Butuh waktu setengah jam dari penginapan untuk bisa sampai ke tempat tujuannya. Pria penjaga toko itu tersenyum ramah pada Sakura yang baru saja sampai. Sakura membungkukkan tubuhnya dan membalas senyum pria paruh baya itu.
Kakinya melangkah masuk dan matanya mulai menjelajah barisan buku yang terdapat di dalam lemari. Mencari judul yang bisa menjadi kata kunci tentang simbol-simbol kelompok bangsawan. Tangannya menggamit buku bersampul hitam berisi tentang kelompok bangsawan yang berada di desa ini. Penguasa besar desa yang ia tempati sekarang.
Tangan Sakura membuka lembaran kertas tipis yang dipenuhi oleh tinta hitam tulisan sang penulis. Matanya sibuk membaca tiap kata yang tertera di sana. Namun sudah hampir setengah halaman ia gali, tidak juga ia temukan gambar simbol dari kalung miliknya. Bunga Sakura.
Sudah hampir dua jam terlewati dengan empat buku yang sudah habis dilahapnya, namun tidak ada satu pun petunjuk yang mengarah pada simbol kalung miliknya. Sakura menghela napasnya sesaat sebelum kembali melanjutkan untuk membaca buku ke limanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pria penjaga toko itu ramah. Ia berdiri tepat di samping kanan Sakura dengan kedua tangannya yang mengait di belakang tubuhnya.
"Ah, aku sedang mencari-cari sebuah simbol, tapi tampaknya tidak ada di buku ini," jawab Sakura sembari menutup buku itu dan meletakkannya kembali.
Mata hijaunya kembali berkelana mencari-cari buku lainnya. Tangan kanannya mengelus pelan dagunya saat kepala merah mudanya menengadah ke bagian atas lemari buku itu.
"Simbol? Mungkin aku bisa membantumu, Nak. Simbol seperti apa yang kau cari?" tanya pria itu yang juga mulai mengambil salah satu buku di lemari itu. Pria yang bernama Kabuto.
Seketika itu juga Sakura segera menarik bandul kalungnya hingga lambang bunga Sakura keluar dari dalam pakaian Sakura.
"Ini, apa Anda mengetahui tentang simbol ini?" tanya Sakura yang kini menghadap pria paruh baya itu.
"Cantik sekali," gumam Kabuto yang menatap penuh kekaguman pada kalung milik Sakura. Benda itu jelas tidak mungkin bisa dimiliki oleh kalangan rakyat biasa, minimal hanya golongan bangsawan besar yang mampu memiliki benda secantik ini. Yang bila ditaksir nilainya sangat tinggi.
"Apa Anda mengetahui sesuatu?" tanya Sakura yang kembali memasukkan bandul kalungnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya, "Sayangnya aku baru pertama kali ini melihat simbol seperti itu," jawab Kabuto yang kembali memfokuskan pandangannya pada buku di depannya. Tangannya dengan lincah mengambil beberapa buku dari rak yang berbeda.
Ia membawa tumpukan buku itu ke meja kerjanya. Meja kecil yang berada di pojok ruangan. Sakura berjalan mendekati pria yang kini sudah duduk dan membuka buku yang terletak di tumpukan paling atas. Tangan pria itu dengan cekatan membolak-balik lembar buku itu.
"Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan mencarinya. Siapa tahu simbol itu ada di dalam salah satu buku ini," ucap Kabuto sembari membetulkan kacamata bundarnya. "Kau bisa kembali lagi besok. Tenang saja, Nak. Aku memang suka mencari sesuatu yang aku tidak ketahui," sambungnya kembali menampilkan senyuman.
Sakura tersenyum senang. Ia memang tidak bisa menghabiskan banyak waktu di tempat ini. Ia harus tiba di penginapan terlebih dahulu sebelum Sasuke. Bersyukur pria pemilik toko ternyata mau membantunya.
"Terima kasih banyak. Kalau begitu aku akan kembali lagi besok," pamit Sakura sembari membungkukkan badannya dan kemudian pergi meninggalkan pria paruh baya yang tersenyum licik menatap kepergian punggung Sakura.
...
"Kau akan pergi lagi?" tanya Sasuke menatap tajam Sakura. Ada nada keterkejutan terselip di sana. Ia tidak menyangka Sakura akan kembali meminta izin untuk pergi.
Sakura mengangguk kaku, "Aku masih belum menemukan apa yang aku cari," jawab Sakura sedikit takut. Takut pada mata hitam yang berada tepat di depannya.
"Memangnya apa yang kau cari?" Sebenarnya Sasuke sangat tidak menyukai hal ini. Ia terkesan ikut campur urusan perempuan ini. Ini seperti bukan dirinya. Ia sadari itu. Tapi entah kenapa, ia tidak bisa tenang membiarkan perempuan ini berkeliaran bebas di desa yang asing bagi mereka.
Bahkan kemarin tanpa sadar Sasuke menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Ia merasa harus cepat kembali ke penginapan. Ada perasaan was-was yang menghantuinya seharian penuh dan perasaan itu lenyap begitu saja saat kedua matanya mendapati sosok merah muda saat ia membuka pintu kamar penginapan.
Aneh. Memang. Dan Sasuke tahu itu. Tapi, ia sendiri tidak bisa menghentikannya. Sasuke menngira-ngira, mungkin perasaan ini sama seperti ketika ia mengkhawatirkan ibunya. Sama-sama tidak ingin mereka terluka. Ya, begitulah menurutnya.
Sakura sendiri sangat terkejut saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Sasuke. Orang yang selama ini terlihat tidak memedulikan semua yang Sakura lakukan. Ia seperti melihat sosok Sasuke yang lain.
"Itu..." Sakura menghentikan ucapannya, ia sedikit ragu untuk memberitahu Sasuke. Matanya menatap ragu mata Sasuke. Haruskah ia memberitahukan hal ini pada pria penolongnya? Sakura tidak ingin menambah beban Sasuke untuk mencari informasi mengenai keluarganya.
Sasuke menyadari keraguan itu. Ia memejamkan matanya sebentar untuk menekan perasaan cemas ini. Karena ia harus sadar, ia tidak berhak. Tidak berhak atas perempuan merah muda ini.
"Aku hanya akan pergi sebentar, jadi waktumu tidak banyak hari ini. Kau harus sudah ada saat aku kembali, ingat itu!" ucap Sasuke yang terdengar seperti perintah mutlak untuk Sakura.
Ia segera berlalu tanpa menunggu persetujuan Sakura. Mengambil upah atas keberhasilan pekerjaannya kemarin yang tidak sempat ia ambil. Ia lebih memilih langsung bergegas pulang saat tahu matahari hampir menghilang. Lebih memilih mengenyahkan perasaan tidak menyenangkan yang melandanya. Walau sepenuhnya ia tahu, hal itu tidak harus ia lakukan. Karena semakin lama perasaan aneh itu bisa menguasainya.
...
Sakura mempercepat langkah kakinya karena kali ini ia tidak memiliki banyak waktu. Ia mengatur napasnya dan menyeka peluh di dahinya sebelum menghampiri pria penjaga toko yang duduk di mejanya.
"Ah, kau sudah datang rupanya." Kabuto bangkit sembari melepaskan kacamatanya dan meletakkannya di meja.
"Apa Anda sudah menemukannya?" tanya Sakura antusias.
Pria itu mengangguk. "Darimana kau mendapatkan benda itu?" tanyanya dengan nada penuh kecurigaan. Matanya sedikit memicing menatap Sakura.
"Jika Anda berpikir saya mencurinya, maka Anda salah besar. Benda ini memang milikku," jawab Sakura dengan nada penuh kesungguhan. Menengaskan bahwa tidak ada kebohongan sedikitpun.
"Benda itu adalah simbol Kekaisaran Haruno yang pernah berjaya selama 200 tahun. Simbol kekaisaran yang telah musnah, lalu bagaimana kau bisa memilikinya?"
Sakura tidak segera menjawab pertanyaan itu. Pasalnya ucapan pria itu sungguh mengejutkan untuknya. Jadi, kalung yang dimilikinya adalah simbol Kekaisaran Haruno? Kekaisaran yang telah musnah? Benarkah? Apakah ia adalah keturunan Haruno?
Tapi, kenapa ia dibuang?
Tanpa Sakura sadari sudah ada tiga pria berbadan lebih besar berjalan mendekatinya. Bayangan hitam itu mulai menyadarkan Sakura. Terlihat salah satu pria itu mengangkat tangannya untuk menangkap tubuhnya.
Sakura menghindar sembari menarik tangan pria penjaga toko itu untuk menjauh. Tubuh mereka menabrak salah satu rak yang tepat berada di samping meja. Mata hijau itu menatap marah pada ketiga pria yang tidak Sakura kenal sama sekali. Lalu, apa yang mereka inginkan? Mengapa mereka menyerang dirinya?
"Anda baik-baik saja?" tanya Sakura yang mencoba untuk bangkit. Namun ada tangan yang menahannya. Tangan yang ternyata milik sang penjaga toko. Kedua alis Sakura mengerut. Bukannya merasa takut, Kabuto malah tersenyum senang.
"Tak kusangka kau bisa menghindarinya."
Seketika kedua mata Sakura melebar. Apakah ia tidak salah dengar barusan? Jadi...
"Ya, benda itu bernilai sangat tinggi dan aku menginginkannya. Aku bisa menjadi kaya raya dengan menjual benda itu," sambung Kabuto yang semakin mencengkram erat tangan kiri Sakura.
Satu tangannya kini mulai bergerak untuk mengambil kalung Sakura, sementara ketiga pria itu mulai mendekat ke arah mereka. Sakura segera menepisnya. Ia menarik tangan kirinya dan mengigit tangan pria itu hingga ia menjerit dengan keras.
Cengkraman itu berhasil terlepas, namun Sakura segera bergerak menghindar saat satu pria itu melayangkan pukulannya. Sayang, ia terkepung. Satu-satunya cara ia bisa keluar dari tempat ini hanyalah menghajar ke empat pria yang berada di depannya. Karena tidak mungkin ia memberikan apa yang mereka inginkan.
Tapi... empat lawan satu, apa mungkin Sakura bisa?
Tolong!
Tiba-tiba sosok pria penolongnya muncul begitu saja di dalam benaknya. Pria yang selalu menyelamatkannya. Hingga tanpa sadar di dalam hatinya, Sakura menyebutkan satu nama.
Tolong aku, Sasuke-san!
...
Mata hitam itu menatap pintu kamar penginapan beberapa saat sebelum ia membukanya. Ia menghela napasnya. Lagi. Kenapa ia harus terburu-buru untuk kembali ke sini? Kenapa perasaan tidak menyenangkan ini terus saja mengganggunya sejak ia meninggalkan penginapan ini? Lebih tepatnya sejak ia meninggalkan Sakura sedari pagi—yang ia tahu bahwa Sakura akan pergi lagi.
Tangannya membuka pelan pintu kamar, tapi sosok yang ingin dilihat oleh kedua matanya tidak ada. Sosok perempuan merah muda itu tidak berada di sana. Kosong. Ruangan itu kosong.
Perasaan yang sedari tadi melandanya semakin besar. Semakin memunculkan pertanyaan tentang sosok itu. Kenapa ia belum kembali? Apa yang terjadi? Apakah memang Sasuke yang terlalu cepat datang? Ataukah Sakura memang baru saja pergi?
Belum sempat ia melangkahkan kakinya masuk, Sasuke kembali bergegas pergi. Tanpa disadari ia menutup pintu kamar itu dengan keras. Kakinya berjalan cepat untuk menemui pemilik penginapan. Seorang pria yang biasa duduk di depan untuk menyambut tamu yang datang, mungkin saja ia tahu kapan Sakura pergi.
"Apa Anda tahu kapan Sakura pergi?" tanya Sasuke tepat di depan pria itu.
"Mungkin sekitar satu jam yang lalu."
"Apa Anda tahu kemana?"
Pria itu berpikir sejenak, "Kemarin ia sempat bertanya padaku jalan menuju ke Pasar Besar di desa ini."
Sasuke bergegas pergi setelah mengucapkan terima kasih pada pria itu. Berlari secepat yang ia bisa untuk mencari sosok merah muda itu. Entah mengapa, bayangan tentang punggung ibunya yang berlalu pergi meninggalkannya kembali berputar.
Punggung wanita yang sangat ia cintai, yang terlihat untuk terakhir kalinya. Wanita yang tidak bisa ia lindungi. Dan entah mengapa perasaan sesak itu kembali melanda. Ia tidak suka ini. Ia tidak suka merasakan perasaan ini.
...
Sakura mengerang kala tangan besar itu mencekik lehernya dengan kuat. Tubuh kecilnya terangkat hingga kedua kakinya bergerak-gerak berusaha untuk tidak meninggalkan pijakan. Kedua tangannya berusaha untuk melepaskan cengkraman itu.
"Dengan begini kau tidak bisa menghindar lagi," ucap Kabuto dengan seringai di wajahnya. Pria yang merupakan otak dari rencana ini. Dengan wajah penuh kebahagian ia berjalan mendekati Sakura setelah sebelumnya Sakura menendang perutnya.
Kedua mata Sakura terpejam erat. Ia merasa udara semakin sulit ia dapatkan. Organ pernapasannya terasa sesak. Ia butuh udara. Satu matanya memicing menatap sekeliling. Kenapa tidak ada seorangpun yang menolongnya?
Kenapa mereka semua hanya diam? Mengapa semua terlihat tidak memedulikannya? Kenapa mereka memilih bersembunyi?
Toko itu sudah porak poranda karena Sakura berhasil menghindar dari kepungan ke empat pria itu. Ia berhasil keluar namun berhasil juga tertangkap kembali. Walau ia sudah berusaha untuk melawan namun tidak bisa ia pungkiri, kekuatannya tidaklah seimbang.
Saat ia berhasil menendang salah satu dari mereka, maka saat itu juga Sakura mendapat serangan yang sama dari pria lainnya. Bahkan mungkin bisa lebih jika ia tidak berhasil menangkis serangan itu. Tidak mungkin Sakura bisa mengalahkan mereka. Jelas itu tidak mungkin!
Tapi... ia juga tidak ingin kehilangan satu-satunya benda penghubung antara dia dan kedua orangtuanya. Lalu bagaimana? Ia harus bagaimana?
Disisa-sisa tenaganya, Sakura menggerakkan kedua tangannya untuk memegangi kedua lengan pria itu. Ia mencengkramnya dengan kuat karena di saat bersamaan kaki kanannya bergerak menendang tubuh pria itu. Mengenai tepat di bagian alat vital miliknya.
Pria itu menjerit dengan keras. Ia jatuh bersimpuh dengan kedua tangan memegangi area bekas serangan Sakura. Sama seperti Sakura yang ikut terjatuh saat pria itu melepaskan cengkramannya. Ia langsung menghirup udara sebanyak-banyak disertai batuk-batuk kecil.
Kabuto yang sudah berjarak dengannya langsung menarik tangan Sakura hingga tubuh itu bangkit. Di dorongnya dengan kasar tubuh kecil itu hingga menabrak dinding toko milik orang lain yang sudah berlari untuk bersembunyi.
"Ugh..." Erangan meluncur bersamaan dengan suara benturan keras tubuh Sakura.
"Berhentilah melawan perempuan jalang! Kalau kauserahkan benda itu aku tidak akan membunuhmu!" Teriak Kabuto kesal. Amarahnya sudah memuncak. Mengapa begitu sulit untuk mengambil kalung itu dari perempuan kecil ini?
Sakura tidak menjawab, ia masih berusaha mengatur napasnya dan meredam rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia hanya menatap marah pada Kabuto. Tatapan penuh kebencian dan rasa muak.
PLAK!
Satu tamparan mendarat pada pipi kanan Sakura.
"Beraninya kau menatapku seperti itu, jalang!" Teriaknya lagi.
"Perempuan sialan!" Dan kemudian satu tendangan mendarat telak mengenai perut Sakura dari laki-laki yang mencekik dirinya tadi. Ia melampiaskan seluruh kekesalannya dan rasa sakit akibat serang Sakura.
Sakura merasa sesak. Namun ia tidak bisa meringkuk karena tangannya kembali tertarik memaksa dirinya untuk tetap berdiri. Napasnya tersengal-sengal, peluhnya bahkan sudah menetes deras. Sakit. Sakura merasakan rasa sakit yang teramat sangat hingga tanpa bisa ia cegah lagi, air matanya menetes.
Orang-orang di sekeliling hanya menatap sendu perkelahian dan penganiayaan itu. Beberapa laki-laki di sana hanya diam. Tatapan mereka memancarkan rasa takut. Mereka tahu kejadian itu begitu mengerikan dan perempuan merah muda itu membutuhkan pertolongan. Tapi, rasa takut mengalahkan rasa kemanusiaan yang mereka punya. Mereka bersikap tidak ada yang salah dengan kejadian itu atau ... itu bukanlah urusan mereka. Diam sama dengan aman. Dan mereka memilih untuk diam. Menyedihkan.
Kabuto tersenyum senang ketika melihat cairan bening itu turun dari kedua mata Sakura. Ia merasakan tangan Sakura bergetar, entah karena merasa takut atau merasa kesakitan. Yang pasti, ia sudah berada di atas angin.
Ia tertawa terbahak-bahak diikuti oleh ketiga orang suruhannya, "Harusnya kau diam saja sedari tadi, tidak perlu melakukan hal yang sia-sia."
Satu tangannya kini bergegas mengambil kalung milik Sakura. Bandul bunga Sakura itu sudah berhasil ia genggam. Seringai penuh kebahagiaan tercetak di wajahnya kala pikirannya sudah membayangkan betapa banyaknya uang yang akan ia miliki.
"Lepaskan tanganmu atau pedangku yang akan melakukannya!"
Seketika semua mata melebar kala melihat sebilah pedang sudah menempel di atas lengan Kabuto. Di atas lengan yang menggenggam erat bandul kalung Sakura. Mereka kini menoleh ke asal suara itu. Sosok pria yang menatap marah pada Kabuto.
Kepala Sakura yang semula tertunduk kini juga ikut menatap Sasuke. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sosok pria yang selalu datang menolongnya. Ada di depannya. Ia datang untuk menolongnya lagi.
Pandangan mata mereka bertemu. Dua warna yang berbeda itu saling menatap. Satu dengan tatapan terkejutnya dan satu lagi dengan tatapan berjuta makna, ada kemarahan, benci, iba dan juga rasa sedih terpancar di warna gelap itu. Perasaan sedih yang mencabik-cabiknya saat melihat sosok merah muda yang penuh luka. Ditambah ada air mata yang masih turun membasahi wajahnya.
Persis saat ia tiba, ia melihat segerombolan orang yang berkumpul. Entah bagaimana, Sasuke merasa yakin bahwa Sakura pasti berada di sana. Sasuke merumuskan bahwa di tempat Sakura berada maka di sana pasti ada keributan. Ya, Sasuke yakin itu kecuali jika dirinya bersama perempuan merah muda itu. Itulah mengapa ia tidak bisa tenang jika meninggalkan perempuan itu sendiri. Salah satu alasan yang baru Sasuke sadari sekarang.
Mata hitam itu kemudian berpindah menatap Kabuto. Ia sedikit menekan pedangnya hingga cairan merah itu mengalir keluar dan menetes. Tidak, ia bukannya sedang menahan kesabarannya. Ia tidak sebaik itu. Ia hanya sedang menunggu agar tangan itu terlepas dan ia bisa dengan bebas menebas tangan itu. Menebas tidak di depan kedua mata Sakura. Tidak dengan jarak sedekat itu. Ia sendiri tidak mengerti kenapa? Ia hanya tidak bisa melakukannya.
Ketiga orang suruhan Kabuto berniat untuk bergerak menolong pria berambut putih itu, namun sebuah suara dengan nada menusuk dan dingin menghentikan aksi mereka.
"Jika kalian kalian bergerak satu langkah saja dari sana. Aku tidak bisa menjamin kaki kalian masih bisa menyangga tubuh kalian," ancam Sasuke menatap ketiga orang itu bergantian.
Pandangannya kembali beralih pada Kabuto, "Lepaskan kedua tanganmu!" tegas Sasuke kembali.
Tanpa banyak kata, Kabuto langsung melepaskan kedua tangannya dari Sakura. Bersamaan dengan itu Sasuke mengubah arah pedangnya. Bagian tajam itu sudah menempel di leher Kabuto. Pria berambut putih itu berjalan mundur karena Sasuke berjalan maju. Menuntun Kabuto untuk menjauh dari Sakura.
Amarah yang sempat ia tekan kini mulai ia lepaskan. Merasa jaraknya dengan Sakura sudah tidak lagi dekat, ia menendang kuat Kabuto hingga terjatuh. Diangkatnya katana itu kemudian ia ayunkan hingga menebas tangan kanan Kabuto. Pria itu bahkan tidak sempat menjerit saat satu tangannya yang lain juga sudah terlepas akibat katana Sasuke.
Sasuke tidak memedulikan teriakan keras itu. Ujung katana-nya sudah menempel di dahi Kabuto. Ia tekan sedikit hingga cairan merah itu kembali mengalir melewati hidungnya.
"Tolong! Maafkan aku, kumohon jangan bunuh aku!" pinta Kabuto dengan air mata yang turun dari kedua matanya. Ketiga orang suruhannya hanya bisa diam. Mereka bagai terpaku di sana. Tidak bisa bergerak. Lebih tepatnya mereka ketakuan.
Sakura sendiri tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Ia hanya bisa melihat punggung Sasuke dan mendengar jeriatan penuh kesakitan dari Kabuto. Tapi dari ekspresi setiap orang di sekelilingnya ia tahu bahwa Sasuke telah melakukan suatu hal yang mengerikan. Hal itu di dukung oleh cairan merah yang kini tergenang.
Mata Sakura melebar saat melihat potongan lengan yang tergeletak di atas genangan darah itu. Jantungnya berdegup kencang. Sasuke-kah yang melakukan itu? Sasuke melakukan itu untuknya?
Tidak! Sakura tidak menyukai ini.
Sakura segera bangkit dan berjalan mendekati pria yang berdiri membelakanginya. Tangan Sasuke kembali terangkat, bersiap untuk mengayunkan pedangnya kembali.
"Hentikan, kau tidak perlu melakukannya. Kau tidak pantas mengotori tanganmu Sasuke-san." Satu tangannya menggenggam erat tangan Sasuke, seakan menahan tangan itu untuk tidak kembali mengayunkan pedangnya.
Bagaikan mantra. Saat itu juga Sasuke merasa tangannya kaku. Tangannya menuruti dengan baik perintah Sakura.
"Terima kasih!" ucap Kabuto sembari bersujud diikuti oleh ketiga orang suruhannya.
Sakura menatap mereka dengan tatapan muak. "Aku tidak melakukan ini untuk kalian. Aku membenci kalian! Aku benci hingga aku merasa kalian pantas mati. Kalian pantas mendapatkannya, tapi tidak untuk Sasuke. Dia tidak perlu melakukan ini. Mengotori pedangnya dengan darah kalian."
Tidak lagi. Sakura tidak ingin Sasuke mengotori tangannya lagi demi dirinya.
Bola mata hitam itu terpaku menatap Sakura. Ucapannya barusan membuat perasaan aneh kembali mengusik Sasuke. Ucapan yang terdengar berisi penuh kepedulian. Yah, Sasuke yakin.
"Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran!"
Selepas ucapan Sakura, ketiga orang suruhan Kabuto langsung pergi dengan membawa Kabuto yang telah kehilangan kedua tangannya. Begitupun kumpulan orang-orang yang sedari tadi menonton kejadian itu. Mereka seketika pergi meninggalkan Sakura dan juga Sasuke.
Setelah menyarungkan kembali katana-nya, mereka mulai berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Kedua tangan Sasuke terlipat di depan dadanya. Kali ini Sasuke kembali pada kebiasaannya, berjalan di depan Sakura. Tidak memedulikan Sakura yang mengekorinya. Tidak peduli, apakah Sakura berjarak dekat atau jauh darinya. Ia tidak peduli.
Saat ini ia berusaha setengah mati meredam perasaan kesalnya. Ia begitu marah, ia begitu kesal. Bukan karena Sakura menghentikannya, tapi ada alasan lain. Dan Sasuke benci mengakui itu.
"Sasuke-san ... Terima kasih."
Mendegar suara Sakura yang terbata-bata, tanpa sadar Sasuke menghentikan langkahnya. Ia merasa rasa kekesalannya semakin memuncak.
"Bukankah sudah kubilang jangan gegabah!" Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan. Bahkan ia sama sekali tidak menatap Sakura yang kini menundukkan wajahnya.
Setelah ia tahu apa yang diinginkan oleh keempat orang itu dari cerita Sakura, ia tahu bahwa hal itu bermula dari kebodohan Sakura yang dengan mudahnya menunjukkan benda bernilai mahal itu. Jelas hal itu memancing niat jahat mereka.
"Maaf, maaf karena selalu merepotkanmu." Tangannya yang masih menampakkan rona kemerahan itu menggenggam erat pakaiannya. Menahan perasaan bersalah yang melandanya. Kepala merah mudanya menunduk. Ia tahu ini memang sepenuhnya kesalahannya.
Sasuke menghela napasnya pelan. Ia sadar, sepertinya ia sedikit kelewatan. "Lain kali, jangan kauulangi," ucapnya dengan nada emosi yang sudah menghilang.
"Kenapa?" tanya Sakura ragu. Setengah tidak percaya mendengar ucapan Sasuke barusan. Ucapan itu terdengar seperti sebuah bentuk perhatian. Begitu menurut Sakura. Namun ia tidak mau mengira atau menebak hingga tanpa sadar ia melontarkan pertanyaan itu begitu saja.
Hening. Sasuke terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Sakura. Ya, kenapa? Kenapa ia begitu mengkhawatirkan perempuan ini? Kenapa ia bisa semarah ini? Kenapa?
Mungkin...
"Karena ... aku peduli," jawabnya pelan bahkan hampir seperti berbisik.
Rasa peduli yang sama dengan kepeduliannya terhadap ibunya. Ya, Sasuke yakin rasa itu sama. Mungkin. Entahlah.
Yang pasti perasaan ini benar-benar menyusahkan!
Bersambung
Curcul :
Apa kalian sudah baca Naruto Gaiden? Saya pikir pasti sudah semua.
Aku sih tetep yakin Sarada itu anak Sasusaku ^^
Tau sendiri dari dulu om MK demen banget ngerecokin Sasusaku smpe mau bunuh2an segala. Sedikit aneh sih pas baca Naruto Gaiden, berasa lagi nonton sinetron hehehe. Peace ^^
Pertanyaanku itu cuma satu. Masa iya sih ngak ada foto pernikahan mereka? Klo nyatanya Sakura udah resmi memakai lambang uchiha di belakang punggungnya?
Apa yang terjadi? Apa Sasuke balik ke Konoha cuma ngasih benih doank (Enak bener!)?
Klo emang sarada anak Karin. Karin kan masih idup (blom ada bukti klo Karin mati), so kenapa juga mesti Sakura yang diakui sebagai uchiha?
Sejahat2nya Sasuke tapi perasaan dia itu sungguh2. Contoh, kesungguhannya untuk membalas dendam. Maka, ketika ia juga sudah jatuh cinta sama perempuan. Aku yakin perasaannya juga sungguh2. Bisa dibilang tipe setia lah hahaha… Jadi ngak mungkin segampang itu dia berpaling hati, semisal klo emang bener Sarada anaknya Karin dan misal karinnya mati seperti yang banyak ditebak orang2. Ngak semudah itu dia akan menerima Sakura ^^
Jadi menurutku. Sakura di akui sebagai Uchiha karena memang Sasuke yang memilihnya. Karena Sasuke cinta dan menikahinya (walau blom ada fotonya). Dengan sarada adalah hasil cinta mereka. Masalah kenapa Sarada memakai kacamata, mungkin itu akan menjadi konflik tersendiri nanti di Boruto the movie..
Entahlah. Ini mah cuma pemikiranku dan uneg2ku aja setelah baca Naruto Gaiden hahaha… Pendapat pribadi aja.. lagi pula aku mah apa atuh ngak bisa nebak isi pikiran Om MK bisanya cuma ngayal sembari nebak2 haha…
Tapi aku kesel juga sama Sasuke. Ngak inget anak istri apah, masa pulang bentar ngak bisa dari rentan waktu selama itu hadehhh kezel :3 dan dia pulang disaat rumahnya ambruk *ngenes* wkwkwkwk
HAH sepanjang ini isi curculku cuma ngebahas naruto gaiden haha maaf ya… klo gitu sampai ketemu chap selanjutnya ^^
.
24-04-15
Ucul World – Istri Taka, One Ok Rock :* –
