Naruto Selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

Nikamakusa : Waduh... waduh... sabar bu... sabar hehehe

Mantika Mochi : Hehehe iya nih.. Sasuke malu-malu tapi mau *dichidori*

Ikalutfi97 : Aku juga manis kok bukan Cuma Sasu aja haaiiyyaaahh iya, Saku anak bangsawan ^^ bukan bang toyip loh hohoho

KuroNeko10 : Waduh ributnya ngak sampe ngajak golok dan temen2 sebangsanya kan hehehe... iya makasih untuk salamnya ^^

Annisa alzedy : Iya aku jg yakin sara-chan anak Sasu dan aku eh Sasu dan Saku hahaha

Abangsasorikun : Hihihi iya aku juga setuju itu hehe

Guest : Sipp ini udah diupdate ^^ makasih udah suka loh hehe, kamu kembaran? Wah ngak identik ya (km bilang ngak mirip) hehe... sudah tenang. Jangan diambil pusing omongan para pecinta pairing lain ^^

Fiochan51 : Ini udah dipanjangin loh dan klo soal smpe brp chapter sih blom tau juga ^^ makasih ya...

Indah P : Hihihi ada dikit sih kayanya,,, dikit doank tapi ^^ apaan tuh, gaara hanya milikku seorang PLAK! (kali ini aku nyuruh pakkun yang nampar) hehhee

GaemSJ : Tau aku juga keselnya pas bagian Sarada sekalipun ngak pernah ketemu bapake yaelah sasu kejem imit dah!

NikeLagi : Yaudah bacanya nanti aja daripada nambah emosi klo udah baca hehhe

Suket alang-alang : Hohoho apa kamu sudah bisa menebaknya? Kasih tau aku donk tebakanmu heheh

Jheincheyoun : yaiyalah... Gaara kan belom punya anak upsss... istri aja blom kayanya ya hahaha smoga nanti ketawan deh di Gaara hiden *kokjadi ngaco bahasnya* hihi yowes saku emang anak bangsawan kok hahaha

Yoktf : Tunggu aku bayangin dulu yak ahahhaa... bloody scenenya ngak mendetail kayanya deh ehehe masih tahap ringan...

Hanazono yuri : Oke... kita bahas samurai heart aja yah hahhaa

Lisa Smile : Hehehe iya nih.. Eh, kamu ujian ya senin depan? Semangat ya ^^ GANBATTE! (Ngajak seluruh aliansi shinobi buat ngasih semangat hehehe) Peluk cium jg buat kamu :*

Respitasari : Eh, tau dr mana ada hurtnya? Hihihi wah makasih udah jatuh cinta,, untuk ending ya kita liat nanti gmn ^^

Krystaljung13 : Heiii ^^ uhm blom tau sih bakal brp chap hehe

Mariyuki Syalfa : Hai iya gpp, makasih udah muncul untuk mereview ^^ wah kita satu pemikiran ya berarti ^^

Undhott : Hihihi kalo baca yg chap ini deg2 apa entar hehehe

kHalerie Hikari : Hahaha kaya roti aja ya mengembang hehehe

Eysha Cherryblossoms : Hihihi Sasuke emang aslinya sadis, ngak pulang2 ke konoha (Lah ini apa?) iya tapi dia itu aslinya lembut kok klo sama sakura dan aku doank sih hahaha

Uchiha Riri : Hahaha... ya, begitulah OM MK hehe ^^

Lhylia Kiryu : Heheh makasih juga udah suka ceritanya ^^

Ttebayo-chan : Engga lupa kok ^^ makasih udah love this fic hehehe

Henilusiana : Hihi jangan nambah deh jempolnya tar aku yg takut hehe.. eh, masa blom tau naruto gaiden? Klo skrg udah baca? Aku kira baby panda itu Gaara hehe ohh.. dia mau solo karir mungkin... sudah jgn sedih lagi, kan yg penting masih eksis dan nongol di TV hehehe gpp kok heni tenang ja ^^

Gita Zahra : Sipp gitaudah update lagi ini ^^

Guest123 : Haii kemana aja kamu? Baru punya kuota ya heheh pisssss ^^ Eh seriusan? Tapi kayanya baru nongol di GHOST FILE ya kamu? Wah blom ada confirm tuh klo Karin adalah ibu sarada ^^ kamu banting ke aku aja hp nya nanti aku ambil hahaha dan acara TV apa itu, aku ngak pernah nonton hehehe

6934soraoi : Makasih udah suka, eh kamu lomba apa? Hihi aku jadi kepo deh. Iya aku juga yakin sara-chan anak sasusaku hehe

Guest Miss jung : Untuk masalah itu lama-lama akan terbuka ^^ blom bisa bilang hehe di tunggu aja ya.. Hahaha di simpen dimana, masa foto pernikahan ngak di pajang di rumah sendiri ^^ jgn2 Saku hamil kaya model guru kurenai kali ya hahha wah klo itu aku sih ngak tau bener apa engga tapi kurasa engga mungkin sih hahha

Wokeehhhh Makasih selalu buat kalian semua *pelukatuatu* Terima kasih atas dukungan yang selalu memberikan semangat untuk kami ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Helaan napas meluncur dari bibir mungil Sakura. Hampir setiap menit hal itu ia lakukan mengingat saat ini ia hanya duduk manis di dalam kamar, di salah satu penginapan di desa lain. Butuh waktu seminggu bagi mereka untuk sampai di desa ini. Setelah insiden yang menimpa Sakura, Sasuke langsung memutuskan untuk kembali pergi.

Sasuke memang mengatakan bahwa ia peduli pada Sakura. Tapi keputusan Sasuke untuk segera pergi di saat tubuh Sakura masih merasakan sakit yang teramat sangat, bukankah terlihat seperti Sasuke tidak memedulikan kondisinya?

Ia bahkan terus diam selama perjalanan. Memang biasanya seperti itu, tapi Sakura tahu diamnya Sasuke kali ini berbeda. Lebih gelap. Lebih dingin dan lebih menakutkan. Seakan aura hitam menguar di seluruh tubuhnya. Diamnya kali ini penuh dengan kemarahan.

Bahkan saat pagi tiba. Sasuke melarang dirinya untuk ikut berlari bersamanya seperti yang biasa mereka lakukan. Sakura tidak bisa membantah, ia hanya mengangguk pelan menuruti perintah Sasuke.

Apakah pria penolongnya masih marah padanya?

Kepala merah muda itu terbenam di atas lututnya yang tertekuk. Apakah kali ini Sakura sudah sangat sangat sangat menyusahkan?

Karena ... akupeduli.

Ucapan itu kembali terngiang. Kata-kata yang Sasuke lontarkan saat itu membuat debaran jantung Sakura bekerja lebih cepat. Bahkan ia sadar ada perasaan senang saat mendengar ucapan itu.

Sakura sendiri sulit untuk menggambarkannya. Bahkan sempat sulit untuk memercayai bahwa pria penolongnya peduli padanya. Jika boleh berbangga, bukankah terdengar kalau dirinya sedikit berharga untuk dipedulikan. Yang berarti bahwa dirinya sedikit berharga untuk Sasuke.

Seulas senyum kembali tercetak di wajah Sakura. Mengingatnya saja bisa membuat Sakura sesenang ini. Tapi detik berikutnya senyuman itu hilang karena sikap Sasuke yang seakan mendiamkannya. Apakah Sasuke menghindarinya?

Inilah yang membuat semangat Sakura lenyap sedari tadi. Membayangkan sikap Sasuke membuat mood-nya hilang tak bersisa. Kegiatan yang biasa ia lakukan saat Sasuke pergi untuk bekerja kali ini tidak ia lakukan.

Ada banyak hal yang dipikirkan Sakura sekarang. Kenyataan tentang simbol kalung miliknya yang mana ia tahu adalah simbol Kekaisaran Haruno. Bila diasumsikan maka kemungkinan besar ia adalah keturunan dari keluarga Kaisar Haruno. Rasa-rasanya masih banyak teka-teki yang harus ia pecahkan. Ia harus mencari jawabannya.

Tapi ...

Itu artinya ia harus meminta izin lagi dari Sasuke. Helaan napas meluncur kembali, sepertinya hal itu akan sangat sulit dilakukannya. Sudah pasti Sasuke tidak akan mengizinkannya. Entah bagaimana Sakura bisa sangat yakin untuk yang satu ini.

Suara pintu yang terbuka membuat kepala merah muda itu terangkat. Mata hijaunya menangkap sosok Sasuke masuk dan menutup pintu kamar itu. Sakura segera bangkit. Sebuah senyuman tergambar di wajah manisnya. Ya, senyuman yang selalu ia berikan ketika Sasuke pulang. Mungkin bisa disebut senyuman sambutan. Kebiasaan yang tanpa sadar Sakura lakukan.

"Okaeri Sasuke-san. Tidak biasanya urusanmu selesai secepat ini?" Baru beberapa detik pertanyaan itu terlontar dari mulutnya. Sakura langsung menelan ludahnya seraya memasang ekspresi takut.

Dalam hati ia sudah merutuki dirinya sendiri karena pertanyaan bodohnya barusan. Pertanyaan yang terdengar seperti sindiran. Seperti pertanyaan yang terkesan mengatur hidup Sasuke. Harusnya cukup sampai kata "Okaeri" saja yang keluar dari mulutnya. Kenapa mulutnya selalu saja seperti ini!

"Gomenasai ... Maksudku, itu ... Ah, aku tidak bermaksud men—" Ucapannya terhenti begitu saja saat Sasuke menyodorkan sebuah benda padanya.

"Kurasa sudah saatnya kau mempelajari ini."

Matanya berkedip beberapa kali seraya menengaskan kalau yang dilihatnya bukanlah sebuah ilusi. Sebuah Shinai atau pedang kayu yang terbuat dari belahan empat buah bambu yang disatukan dengan satu ikatan. Pedang yang digunakan pemula untuk belajar pedang sebelum ke tahap selanjutnya seperti Bokken (Pedang kayu menyerupai pedang asli) atau katana.

Sakura mengambil benda yang di sodorkan Sasuke. Ia menatap sekali lagi benda itu dari dekat. Benarkah ia bisa menggunakannya?

Sasuke sendiri sudah menarik katana-nya. Bagian besinya ia sandarkan di dinding dan bagian sarung pedangnya ia gengam. Ia membuka kedua kakinya satu langkah melebihi lebar bahunya. Ujung ibu jari kakinya ia arahkan sedikit ke sisi bagian dalam, kemudian ia menekuk sedikit lututnya. Memasang kuda-kuda pertahanan. Kuda-kuda dasar.

Ia kemudian menjelaskannya pada Sakura dan menyuruh perempuan itu untuk mengikutinya. Sakura mengangguk sembari menuruti perintah Sasuke. Mereka kini berdiri berhadapan dengan posisi yang sama.

Sasuke melanjutkan penjelasannya mengenai cara memegang sebuah pedang. Tangan mana yang lebih mendominasi dan memberikan kekuatan yang lebih besar berada di dekat pangkal handle pedang. Sakura mendengarkan dengan seksama dan merekam di dalam ingatannya. Mata hijaunya menatap serius pemuda di depannya karena ia tidak ingin satu detail pun terlewat.

Tapi, kenapa mata hitam itu menghindarinya? Belum ada hitungan satu menit pandangan mereka bertemu, mata hitam itu berpindah menatap tangan Sakura yang memegang Shinai. Sakura hanya bisa bertanya dalam hati tentang keanehan ini. Pasalnya baru kali ini terjadi setelah beberapa bulan saat Sasuke mengajarinya. Ia selalu menatap tegas Sakura.

Apakah mungkin memang Sasuke lebih mengutamakan kebenaran cara memegang pedang? Atau Sasuke masih marah padanya hingga ia tidak mau menatap Sakura? Kenapa tiba-tiba Sakura merasa sesak? Menyesakkan saat tahu Sasuke masih kesal padanya. Terlebih menghindarinya.

"Apa yang kuajarkan masih kurang jelas?" tanya Sasuke tegas.

Sakura sedikit terhentak. Mata hijaunya kini mendapati Sasuke yang berdiri sembari melipat kedua tangan di depan dadanya. Ada raut kekesalan yang tercetak jelas di wajahnya. Namun begitu tidak juga mengurangi ketampanannya. Oh sial, mengapa malah hal itu yang terbersit di kepala Sakura? Kenapa sedari tadi Sakura tidak bisa memfokuskan diri?

"Cara mengayunkan pedangmu masih salah!"

Hening. Sakura hanya diam. Mata hijaunya bergerak tak menentu. Terlalu banyak hal yang dipikirkannya membuat ia tidak mendengarkan dengan baik apa yang Sasuke ajarkan. Jadi, bagaimana ia mau memperbaiki gerakannya jika ia saja hanya asal mengayunkan shinai-nya.

Bahkan kini tubuhnya tidak bisa digerakkan saat Sasuke jalan mendekatinya. Sakura berusaha menelan ludahnya namun tenggorokannya terasa kering. Matanya melebar saat Sasuke mengayunkan sarung pedangnya dan mengarahkan pada Sakura. Kedua matanya terpejam erat. Apakah Sasuke menghukumnya? Apa ia setega itu memukul Sakura dengan sungguh-sungguh?

Namun ... TUK!

Sarung pedang biru itu mengetuk pelan kepala merah muda yang tertunduk itu.

"Apa isi kepalamu ini tidak bisa mengerti?"

Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan hingga sarung pedang itu menggesek kepalanya.

"Apa penjelasanku terlalu rumit untukmu?"

Sakura menjawab lagi dengan menganggukkan kepalanya. Perlahan ia membuka kedua matanya hingga mata berbeda warna itu kembali bertemu pandang dengan jarak cukup dekat. Secara bersamaan mereka merasa ada hentakan pada jantung mereka. Ada desiran halus yang membelai mereka.

Secara spontan Sasuke kembali mengetuk-ngetuk sarung pedang itu hingga membuat kedua mata Sakura kembali terpejam, "Dengarkan baik-baik, aku hanya akan menjelaskannya sekali."

Sasuke kembali menerangkan sembari terus mengetukkan sarung pedangnya. Ia tidak bisa membiarkan mata hijau itu kembali menatapnya. Ia mampu menyadari bahwa ia sudah terjerat oleh mata itu dan jika dibiarkan Sasuke tidak akan mengerti apa yang akan terjadi padanya. Mata hijau itu terlalu berbahaya untuknya.

Dan menghindarinya adalah satu-satunya cara agar ia bisa terbebas dari jeratan itu.

Sasuke kembali memerintahkan Sakura untuk mengulangi gerakannya, namun ia terlebih dahulu menjauh dari perempuan itu. Kembali memperhatikannya dari jarak yang jauh. Sakura tidak langsung menuruti perintah yang diberikan Sasuke. Masalahnya adalah bagaimana Sakura mengerti jika Sasuke saja menjelaskan dengan cara seperti itu. Sakura bahkan tidak bisa mendengarkannya dengan baik, ketukan di kepalanya membuyarkan seluruh konsentrasinya.

Sakura menghela napas sebelum memulainya, dengan mengikuti insting dan menggunakan ilmu mengira-ngira, Sakura mencoba mengayunkan shinai-nya lagi. Menuruti perintah Sasuke yang masih menatapnya tajam. Seakan siap memangsa Sakura dan menelannya hidup-hidup jika ia salah sedikit saja.

Baru tiga kali Sakura mengayunkan pedangnya. Sarung katana milik Sasuke kembali melayang dan mendarat tepat di atas kepala Sakura.

"Kenapa gerakanmu masih salah, hah?!"

Sakura kembali diam. Kepalanya sedikit tertunduk. Sebenarnya kali ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Kalau saja Sasuke tidak menjelaskan sembari mengetuk-ngetuk kepalanya. Ia pasti bisa langsung mengerti dan memahaminya. Tapi, ia tidak mungkin memprotes pria yang sekarang menatap kesal padanya.

Bisa-bisa bukan hanya sarung pedangnya melainkan katana-nya juga ikut jatuh ke atas kepala Sakura.

Helaan napas meluncur dari mulut Sasuke. Mungkin ia memang tidak pandai dalam menjelaskan hingga Sakura masih juga tidak mengerti. Jadi sepertinya lebih baik ia langsung mempraktekkannya pada perempuan itu. Seperti dulu saat gurunya mengajarinya.

Sasuke meletakkan sarung pedangnya asal, kemudian ia mengambil posisi berdiri di belakang Sakura. Kedua tangannya kini ikut memegang shinai itu kemudian ia gerakkan hingga tangan Sakura ikut terayun. Ya, beginilah dulu gurunya mengajarinya pedang.

"Kau harus mengayunkannya seperti ini. Gunakan semua kekuatanmu ..."

Sakura membeku seketika. Embusan napas Sasuke jelas terasa membelai lehernya. Ditambah dengan tangan Sasuke yang kini juga menggenggam erat tangannya. Tangan yang kuat dan hangat, dan kehangatan itu menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Sakura merasa seluruh tubuhnya memanas. Terlebih posisi mereka saat ini. Sasuke seperti memeluk tubuhnya. Bukan, Sasuke memang memeluknya!

Punggung Sakura mampu merasakan dengan baik tubuh Sasuke. Bagian itu menempel tanpa ada celah sedikitpun. Sakura panik, bagaimana jika debaran jantungnya yang kini menggila mampu dirasakan oleh Sasuke?

"... apa kau sudah mengerti?" tanya Sasuke masih dengan suara tegasnya.

Dan sekali lagi. Sakura tidak mendengarkan dengan baik semua penjelasan Sasuke. Salahkan Sasuke yang kembali menjelaskan dengan cara yang kali ini membuat sekujur tubuh Sakura melemas. Ditambah wajah Sakura sudah merah sempurna.

"Kau masih belum mengerti juga?" Kali ini nada bicara Sasuke sedikit meninggi.

Bukan itu masalah utama bagi Sakura, ia tidak peduli Sasuke akan memarahinya atau tidak. Masalah utamanya sekarang adalah embusan yang seakan menggelitik lehernya yang membuat ia tak kuasa. Ia merasa kakinya sudah tidak kuat lagi untuk menyangga tubuhnya.

Sakura perlahan menggerakkan kepalanya, "Ma ... maaf," ucapnya sembari menatap Sasuke. Dan karenanya pandangan mereka kembali bertemu. Bahkan lebih dekat dari sebelumnya.

Sasuke merasa waktu seakan berhenti. Kesadarannya seakan tersedot oleh warna hijau itu. Ia bahkan bisa merasakan kehangatan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Tanpa sadar ia mengeratkan kedua tangannya. Satu kata yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.

Cantik.

Satu kata yang menggambarkan pemandangan di depannya. Dan Sasuke menyukai apa yang sedang dilihatnya. Apa yang sedang ditangkap kedua matanya. Aneh. Sasuke sendiri tidak mengerti. Kedua mata hitamnya tidak juga mau melewatkan pemandangan itu sedikitpun.

Kedua insan itu tidak bisa lagi membedakan jantung siapa yang berdetak sangat cepat. Karena keduanya merasakan hal yang sama. Jantung mereka berdetak seirama. Keduanya merasakan debaran yang sama. Embusan napas yang sama hingga menyentuh kulit mereka bersamaan. Hangat dan mendebarkan. Memberikan sensasi yang membuat mereka terlupa. Mereka telah terhipnotis dan saling tarik-menarik bagaikan sebuah magnet yang bertemu.

Tanpa sadar Sasuke semakin menundukkan wajahnya, memperpendek jarak mereka. Sakura sendiri telah terbuai dan hanya bisa memejamkan kedua matanya, mengikuti instingnya. Tanpa ada perlawanan kedua bibir itu bertemu, Sasuke mengecupnya dan mengesap pelan bibir mungil Sakura. Dengan kedua matanya yang juga telah terpejam, ia mampu meresapi setiap hal yang baru kali ini rasakan. Perasaan aneh yang ternyata mampu membuatnya merasa bahagia.

Kini Sasuke tidak bisa lagi memilah. Mana yang menjadi urusannya dan mana yang bukan jika sudah berurusan dengan perempuan merah muda itu. Didominasi oleh perasaan aneh itu, Sasuke merasa akal sehatnya semakin hilang. Hal yang semula ia kira sama dengan perasaan yang ia punya untuk ibunya, entah mengapa perlahan-lahan memunculkan perbedaan.

Sasuke sadar rasa ini lama kelamaan tidak sama. Debaran di jantungnya adalah salah satu perbedaannya. Desiran pada hatinya dan perasaan yang seakan menggelitiknya itu tidak ia temukan ketika ia membayangkan sosok ibunya.

Dan ketika Sasuke menatap mata hijau itu, ada perasaan tenang yang ia rasakan. Ini gila. Sasuke muak dengan perasaan ini namun dari dasar hatinya ia tahu ia menyukai ketenangan saat Sakura berada di sampingnya.

Ia merasa tenang saat mata hitamnya menangkap sosok merah muda di dekatnya. Dan semakin lama ia kini merasa takut. Takut jika suatu hari sosok itu menghilang dari sisinya. Sosok merah muda itu tidak tampak lagi di matanya.

Ia sudah lupa apa itu kesendirian. Ia sudah lupa bagaimana rasanya sejak ada perempuan ini di sampingnya. Sasuke harus mengakuinya. Ia mengakui bahwa ternyata ia menyukai kehadiran sosok merah muda itu. Ia menyukai situasi yang telah melenyapkan kesendiriannya.

Atau mungkinkah ia juga ... menyukai sosok merah muda itu?

.

.

.

.

"Hinata-sama. Kaisar memanggil Anda."

Perempuan berambut ungu panjang menoleh ke asal suara. Kedua matanya mendapati sosok pria berambut kuning membungkuk hormat padanya. Ia berbalik dengan kedua tangan menyangga di pinggangnya.

"Bukankah sudah kubilang tidak perlu seformal itu jika tidak ada siapapun!" Bentaknya kesal. Pria yang semula tertunduk kini mengangkat kepalanya. Mata birunya terpana melihat sosok perempuan yang sedang menatap kesal padanya. Kedua pipinya mengembang seakan-akan ingin meledak.

Bukankah ia malah terlihat menggemaskan? Ya, itulah isi hati pemuda itu. Dan jika sudah begitu, pria bernama Naruto itu akan semakin semangat untuk menjahili teman masa kecilnya itu.

"Maaf, Hinata-sama. Tapi Kaisar menyuruh Anda untuk segera datang."

Perempuan itu memalingkan wajahnya. Kedua tanganya bersilang di depan dadanya. Dengusan kesal meluncur sebagai tanda kekesalan dan penolakan darinya. Naruto mengerti arti bahasa tubuh perempuan itu yang menandakan bahwa ia tidak akan mengeluarkan sepatah kata pun jika Naruto masih tetap memanggilnya dengan embel-embel -sama.

"Baiklah, Hinata. Ayahmu memanggilmu. Jika kau tidak segera datang, bukan hanya ayahmu, ayahku juga akan mencekikku."

Perempuan itu menoleh hingga rambut panjangnya sedikit berkibar, "Ada perlu apa lagi orang tua itu? Tidak tahukah aku masih kesal dengan keputusan sepihaknya!"

Kedua tangannya sudah terlepas namun raut kekesalan masih terpampang jelas di wajah cantiknya. Walau begitu kesan cantiknya tidak jua hilang. Begitulah menurut Jenderal Divisi 1 itu.

"Itu adalah keputusan terbaik untukmu, Hinata." Naruto pun bangkit dan membuka pintu ruang tengah tempat perisirahatan Hinata. Kepalanya bergerak memberi tanda pada perempuan itu untuk keluar.

"Dengan memperketat penjagaanku dan melarangku ke manapun. Jangan bercanda, Naruto-kun," ucap Hinata disusul dengusan sebal saat melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.

"Berhentilah merengek, Nona Manja. Nyawamu berada dalam bahaya, sudah jelas ini adalah jalan terbaik untuk melindungimu." Pria berambut kuning itu menyamai posisi Hinata. Berjalan tepat di sampingnya.

"Aku tahu kau pasti yang mengusulkan ide bodoh ini pada orang tua itu 'kan?"

"Ide bodoh katamu! Suatu saat kau akan berterima kasih pada ide bodohku ini. Hinata-sama."

"Aku membencimu, Namikaze-san!"

Satu tangannya bersiap membuka pintu ruangan Kaisar Hyuuga. Sebelum ia menggesernya, Naruto tersenyum pada Hinata yang menatap kesal ke arahnya, "Terima kasih kembali, Hinata-chan!" Mata kirinya berkedip genit hingga membuat Hinata memalingkan wajahnya.

Hinata kesal. Selalu saja ia kalah oleh sahabat baiknya ini. Satu-satunya teman yang ia miliki selama ini. Kedekatan kedua orangtua mereka membuat ia dan Naruto saling mengenal sedari kecil. Naruto-lah satu-satunya orang yang berteman tanpa ada rasa takut dan segan padanya.

Dari awal pertemanan, Naruto tidak pernah membedakan dirinya. Hanya pada Naruto, Hinata bisa merasa layaknya orang biasa. Bukan seorang putri yang harus dihormati dan ditakuti. Bukan orang yang seharusnya dijauhi.

"Anda memanggil saya?" tanya Hinata setelah membungkukkan badannya diikuti oleh Naruto yang berdiri di samping kanan Hinata. Beberapa langkah di belakang perempuan itu.

"Bangsawan Senju mengundang Kekaisaran untuk menghadiri jamuan teh. Aku mengutusmu untuk menghadirinya. Sudah saatnya bagimu untuk terjun langsung pada hal-hal seperti ini," ucap Hiashi yang merupakan Kaisar Hyuuga. Ayah dari Hinata.

Pria yang saat ini duduk tegap di kursi kebanggaannya. Kursi berwarna merah terang yang menegaskan warna keberanian. Dengan lambang Hyuuga besar berada di dindingnya. Lambang yang sama dengan bandul milik Hinata.

"Apa mungkin aku bisa menolaknya? Perintahmu adalah mutlak, bukan?"

Hiashi sedikit terhentak namun ia kembali memasang wajah tenang. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi kalau putri pertamanya ini memang berani berbicara lantang padanya. Mengeluarkan semua hal yang menurutnya tidak cocok dan tidak sejalan dengan pikirannya secara lantang tanpa rasa takut.

Seperti keputusan Hiashi beberapa minggu yang lalu. Keputusan tentang pengawalan Putri Hyuuga yang diperketat setelah mendapat kabar mengenai Itachi Uchiha. Jelas hal itu membuat Hiashi tidak mungkin mengabaikannya dengan mudah. Karena ia tahu, Itachi pasti benar-benar akan melakukannya untuk balas dendam.

"Kau masih tidak menerima keputusanku?"

"Tentu saja, Tou-san! Kau melarangku ke manapun tapi sekarang kau mengizinkanku keluar untuk menghadiri acara membosankan seperti itu."

"Hinata-sama!" Bentak Naruto. Ia tidak suka jika Hinata berbicara dengan nada tinggi walau itu adalah ayahnya sendiri. Naruto tidak suka mendengar seluruh petinggi selalu mengecap Hinata sebagai pemberontak. Naruto benci itu.

"Tidak apa, Naruto," ucap Hiashi dengan tenang. Naruto menganggukkan kepalanya hingga kini pandangan mata Hiashi berpindah menatap Hinata.

"Kau tahu alasan aku melakukan itu. Tapi Bangsawan Senju adalah salah satu bangsawan tinggi yang memiliki pengaruh penting dengan para pedagang asing. Dan acara itu akan dihadiri oleh mereka juga. Aku memiliki kegiatan yang tidak bisa aku tinggalkan, di sisi lain acara itu juga adalah acara yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Karena itu aku mengutusmu untuk menghadirinya," ucap Hiashi tenang. Namun pancaran matanya mengisyaratkan kesungguhan. Inilah salah satu hal yang membuat ia disegani oleh seluruh pengikutnya.

"Aku memberi kebebasan pada Naruto untuk masalah pengawalanmu. Tugasnya adalah membawamu kembali dengan selamat dan utuh. Jika ia gagal, kematian adalah hukuman untuknya. Termasuk jika kau tidak datang ke acara itu."

Kedua alis Hinata mengerut. Pancaran matanya menatap marah pada pria paling berkuasa itu, "Kau menggunakan Naruto untuk mengancamku?"

"Aku hanya memberi hukuman yang pantas untuknya. Pilihan tetap ada padamu, Hinata."

Hinata menggeram. Mulutnya terasa gatal untuk melontarkan umpatan dan makian akan kekesalannya. Namun semua itu tertahan di tenggorokannya. Kedua matanya melebar dengan tarikan napas pendek-pendek. Selalu saja, ayahnya selalu memutuskan semua seenaknya.

Pilihan katanya! Apanya yang bisa ia pilih jika salah satunya adalah kematian Naruto. Sudah jelas ia tidak akan mungkin memilih itu. Apakah memang seperti ini perlakukan seorang ayah terhadap anaknya? Selalu memaksakan kehendak mereka?

Kedua tangan Hinata terkepal. Tanpa memberi hormat, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Menulikan pendengarannya saat Naruto kembali membentaknya atas ketidaksopanan Hinata pada Kaisar Hyuuga. Yang mirisnya adalah ayahnya sendiri.

Ayah. Benarkah? Rasa-rasanya ia tidak pernah sekalipun merasakan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya. Yang ada hanya seorang pria tua yang selalu mengatur semua kehidupannya. Semua yang dia anggap terbaik untuk dirinya.

Hinata terus melangkah menuju ruangannya. Ia bahkan mengabaikan sapaan beberapa pekerja yang dilewatinya. Matanya menatap lurus ke depan dengan emosi terpancar jelas di sana. Ia bahkan menutup dengan keras pintu ruangan itu. Tidak peduli lagi mengenai aturan dan tata krama mengenai kesopanan atau hal lainnya.

Ia tidak peduli! Dihentak-hentakkan kaki kanannya dengan cara yang biasa ia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya.

"Hinata." Satu suara lembut yang membuat Hinata menghentikan kegiatannya itu. Ia kini sibuk mengatur irama napasnya. Berusaha meredam emosinya.

"Kau membelanya. Aku tahu kau ke sini untuk membelanya 'kan!" Nada kekesalan sudah hilang dari ucapannya barusan namun ia masih tidak mau membalikkan tubuhnya dan menatap Naruto.

Satu-satunya orang luar yang berani masuk ke ruangan Hinata tanpa izin dari sang empunya memang hanya Naruto. Dan Hinata sendiri tidak pernah mempermasalahkan itu. Karena Hinata sudah menganggap Naruto seperti kakak laki-lakinya.

"Aku ke sini karena mencemaskanmu."

Hening. Tidak ada sahutan dari Hinata hingga membuat Naruto berjalan menghampirinya. Di pegangnya bahu Hinata dan ia gerakkan hingga tubuh mungil itu kini menghadap ke arahnya.

"Hinata ... maafkan aku," sambung Naruto, Hinata yang semula menundukkan wajahnya kini berani menatap wajah Naruto. Ucapan yang penuh rasa bersalah dari pria di depannya membuat kekesalannya hilang begitu saja.

Naruto tahu. Dirinyalah secara tidak langsung membuat Hinata kesulitan. Ia sendiri tidak menyangka bahwa Kaisar Hyuuga akan menggunakan dirinya untuk membuat Hinata tunduk pada keputusannya. Entah ia harus senang atau tidak, karena sebagian perasaannya merasa senang saat tahu Hinata memedulikannya. Bukankah itu artinya ia sedikit berharga untuk Hinata?

Walau mungkin Hinata masih ... menganggapnya sebatas kepedulian terhadap seorang kakak.

"Ini bukan salahmu. Kenapa kau harus meminta maaf," ucap Hinata pelan. Sedikit ikut merasa bersalah. Bola matanya sempat menghindar kala melontarkan kata-kata itu, "Seharusnya aku 'kan ... yang mengatakan itu."

Harusnya Hinata yang meminta maaf karena ayahnya menyeret Naruto ke dalam masalahnya. Apalagi dengan mempertaruhkan nyawanya. Keterlaluan! Inilah yang membuat Hinata marah pada ayahnya. Apa nyawa seseorang bisa begitu mudahnya ia pertaruhkan? Apakah nyawa Naruto sebegitu tidak berharganya?

Naruto yang jelas-jelas sudah mengabdi dan melaksanakan perintahnya dengan baik selama ini. Naruto yang jelas-jelas adalah orang yang memiliki arti penting untuk Hinata dan ayahnya memanfaatkannya. Ia kesal. Ia marah meski itu adalah ayahnya sendiri. Ia tidak suka jika Naruto diperlakukan seperti itu. Ia tidak bisa menerimanya.

Sebuah senyum terulas di wajah Naruto, "Kalau begitu katakan! Aku mau mendengarnya."

"Tidak! Ini juga salahmu tahu!" Kedua tangan Hinata kini menyangga di pinggangnya, "Karena itu, aku hanya mau dikawal olehmu saja."

"Tidak bisa! Itu terlalu berbahaya."

"Jadi kau meragukan dirimu sendiri?"

"Ini bukan tentang meragukan diri sendiri, Hinata! Ini tentang keselamatanmu! Aku tidak mau memperdebatkan masalah ini lagi!" ucap Naruto penuh keseriusan.

Hinata sudah sangat hapal dengan pria kuning itu dan ucapannya barusan tidak main-main lagi. Naruto bahkan berniat pergi dan mengakhiri pembahasan ini.

"Tunggu, Naruto!" Hinata dengan cepat menahan tangan Naruto, "Setidaknya jangan gunakan seluruh pasukanmu untuk mengawalku. Tidak perlu terlalu banyak ... itu membuatku tidak nyaman."

"Kau tidak sedang merayuku 'kan?"

"Tidak, aku tidak merayumu."

Tepat setelah itu Hinata menarik tangan Naruto dan ia sendiri memajukan tubuhnya untuk mengecup pipi kanan Naruto singkat.

"Kalau sekarang iya," ucap Hinata yang kemudian menjulurkan lidahnya.

Tubuh Naruto bagai membatu. Ia seakan lupa caranya untuk mengedip. Ia terdiam dengan jantung yang sudah berdetak cepat. Ini memang bukan kali pertama Hinata melakukan hal ini. Dulu, saat mereka masih berumur di bawah sepuluh tahun. Hinata sering merayunya menggunakan cara ini. Ia selalu mencium pipi Naruto.

Tapi hal itu sudah tidak pernah dilakukannya lagi semenjak mereka beranjak dewasa. Terlebih karena Naruto sendiri lebih sering menghabiskan waktu untuk berlatih menjadi seorang samurai hingga berhasil menjadi salah satu anggota Ke-shogun-an milik ayahnya.

Dan kali ini Hinata melakukannya lagi. Naruto berdehem sejenak untuk mengusir perasaan senangnya. Ia kini tersenyum licik menatap Hinata.

"Cara ini sudah tidak berguna lagi. Karena kita sudah dewasa, jadi kau harus merayuku dengan cara dewasa juga, Tuan Putri Hinata."

Lagi. Naruto mengedipkan salah satu matanya lagi sebelum membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu.

"Naruto-baka! Kau tidak sopan! Kau sangat tidak sopan!"

Hinata kembali menghentak-hentakkan kakinya. Kali ini antara kesal dan malu saat mendengar ucapan Naruto. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan rona merah pada wajahnya.

"Akan kuadukan pada ayah dan ibumu nanti!"

Kata-kata itu yang masih terdengar jelas saat Naruto menutup pintu ruangan itu. Ia menghela napasnya pelan. Kepala kuningnya menengadah ke atas. Mata birunya bertemu dengan warna yang serupa. Hamparan langit luas.

Senyuman jahilnya telah hilang.

Ada yang salah dengan ini semua. Bukan perasaan yang ia punya untuk Hinata tapi perasaan Hinata untuknya. Salah. Seharusnya Hinata bisa melihat perhatian yang ia curahkan selama ini untuknya. Rasa cinta. Sebagai seorang laki-laki.

Tapi Hinata dengan mudahnya mengatakan kalau dirinya bagaikan seorang kakak untuknya. Lucu. Tepat saat Naruto ingin mengutarakan semua perasaannya, ucapan itu terlontar dari bibir Hinata. Kenyataan yang tidak bisa ia terima saat itu. Naruto hanya diam dan ... tersenyum.

Bodoh! Ia memang bodoh! Entah ia harus menyesal karena telah mengenal Hinata sedari kecil atau menyesal karena ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Mengatakan semua perasaannya. Karena, saat mengetahui bahwa Hinata hanya menganggapnya seorang kakak. Dari situ Naruto sudah tahu bahwa ia tidak ada di dalam hati perempuan itu.

Bahwa Hinata tidak juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Kedua mata Naruto terpejam. Selalu ia bertanya pada dirinya sendiri setiap ia mengingat hal ini. Mau sampai kapan ia menjadi orang bodoh? Mau sampai kapan ia membodohi dirinya sendiri? Kapan ia siap jika suatu saat Hinata menghindarinya?

Salah satu alasan yang Naruto takuti selama ini. Hinata yang pergi darinya setelah mengetahui semua perasaannya, hingga Naruto sekali lagi menjawab semua pertanyaan itu. Menjadi bodoh mungkin lebih baik daripada kehilangan Hinata. Ya, jawaban yang selalu menjebaknya. Jiwa pengecut yang ia timbulkan.

Karena nyatanya ia tidak pernah siap kehilangan Hinata.

.

.

.

Seorang pria berjalan tenang dengan salah satu tangannya setia memegang handle pedangnya. Beberapa orang yang dilewatinya memberi hormat padanya namun tak dihiraukannya. Dengan wajah tenang ia terus menatap lurus ke depan. Tepat di depan sebuah ruangan, dua orang yang bertugas menjaganya membungkukkan badan mereka sebelum membuka pintu tersebut.

"Bagaimana?" tanya pria itu beberapa saat setelah ia melangkahkan kakinya masuk.

"Duduklah dulu." Pria yang duduk di kursi besar itu menepuk kedua tangannya sebagai pertanda sebuah perintah pada bawahannya. Dua orang perempuan cantik datang dengan masing-masing nampan berisi satu botol sake dan gelas.

Kedua perempuan itu menghampiri kedua pria yang kini saling duduk berhadapan walau jarak mereka tidak begitu dekat. Dengan lincah mereka menuang sake itu dan mengambil posisi duduk di dekat sang pria.

"Aku tidak suka mengulang perkataanku," ucap pria yang telah meletakkan pedangnya di lantai tepat di sampingnya.

Sedangkan pria yang duduk dengan lambang Senju tergambar di belakangnya itu hanya tersenyum kemudian mengambil gelas berisi sakedan meneguknya.

"Tentu saja aku sudah melakukan apa yang kauminta. Hanya saja ..." Pria bernama Hashirama Senju itu menahan ucapannya. Gelas putih yang telah kosong tidak ia letakkan kembali. Sang perempuan yang mengerti pertanda itu segera menuangkan isi botol putih yang berisikan sake.

"Kaisar mengutus Putri Hyuuga untuk menggantikan dirinya. Sedikit meleset dari rencana kita."

"Itu tidak jadi masalah."

Hashirama memukul kencang meja hitam itu hingga botol putih itu jatuh dan pecah. Perempuan yang duduk di sampingnya bergegas merapihkan pecahan dan juga tumpahan sakeyang mengotori lantai dan juga sebagian meja kaisar.

"Tapi itu berarti kita semakin lama bergerak untuk membunuh Kaisar Hyuuga! Bukankah tujuanmu adalah membunuhnya dan menyerahkan posisi kekaisaran padaku! Kita seharusnya segera mencapai tujuan itu!"

Bangsawan Senju itu tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Sudah cukup banyak waktu yang ia habiskan untuk mencapai tujuan yang dijanjikan oleh pria di hadapannya ini. Hingga ia mau bekerja sama dan memberikan semua fasilitas yang dibutuhkan pria itu untuk membalaskan dendamnya.

Pria itu tidak bergeming. Ucapan penuh amarah itu tidak juga membuatnya takut. Mata hitamnya masih memancarkan ketenangan.

"Apa kau sudah lupa, Senju? Di sini aku yang memberi perintah. Kau cukup duduk diam dan aku akan memberikan posisi itu padamu. Kau hanya butuh bersabar lebih lama lagi untuk mendapatkannya, karena yang kubutuhkan bukan hanya kematian pria itu. Dengan membunuh Putri Hyuuga, dia akan merasakan penderitaan seperti yang aku rasakan. Perasaan sakit akan kehilangan orang yang ia cintai. Perasaan kehilangan. Sama sepertiku."

Ucapan yang penuh dengan perasaan benci dan dendam membuat Hashirama Senju bergetar takut. Pancaran matanya telah berubah diikuti oleh aura yang terasa mencekam. Dingin dan menakutkan. Hashirama tidak bisa berkutik. Sekali pria itu menarik pedangnya, bisa dipastikan saat itu juga nyawa Hashirama akan lenyap.

"Ba- baik. A- aku mengerti. Itachi."

Bersambung.

Curcul :

Wah... wah... ternyata banyak yg kesel gara2 Naruto Gaiden ya. Aku punya sedikit saran, sedikit sih...

Jika nanti terbukti sarada anak Sasusaku, saya harap sih kita ngak berkoar dan menjelek2kan pairing lain. Karena kalian aja sebel dan kesel kan digituin, jadi ada baiknya kita tidak melakukan hal yang membuat kita sebel juga ke orang lain ^^

Bukan sok baik. Tapi setidaknya melakukan hal yang baik tidaklah salah ^^ dan memulai dari diri sendiri adalah hal yang mendasar. Jujur, saya tidak pernah membenci Karin dan semua chara di Naruto... Mau itu Sasukarin mau itu Sasuhina saya tidak pernah membencinya. Mereka dan kita sama-sama memiliki kebebasan untuk menyukai tokoh yg dibuat MK.

Masalah siapa duluan yang mulai cari ribut, ya balik lagi. Mulailah dari diri sendiri untuk saling menghargai ^^

Okeeehhhhhhh kembali ke laptop eh ke cerita hihihi

Akhirnya tokoh lain mulai muncul ^^ karena pas ntn the last Bang Naruto ngak peka sekarang aku buat Hinata disini yg ngak peka HAHAHAHA *diresengan*

Terus, Itachi muncul (lope lope muncul dimata Hana :D) dan Sasusaku eeaaa bener kata emak saya, laki-laki dn perempuan jangan beduaan doank tar yg ketiga-nya setan (Itu berarti saya donk mak setannya?) hahaha...

Sepertinya saya mulai ngawur nih... klo gitu sampai ketemu chap depan. Maaf jika ada kata-kata saya yang tidak berkenan ^^

02-05-15

Ucul World – Istri Taka, One Ok Rock :* –