Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

Fiochan51 : Wah klo yang bagian update kilat kayanya saya blom sanggup hehe tapi akan selalu diusahakan cepat ^^

Nikaamakusa : Hehe maaf dipikiranku dari semua hokage dia doank tuh yg kadang konyol jadi pas aja haha dan maaf kmrn aku salah nulis bapaknya hinata itu Hiashi tapi ketulis Kizashi maaf ya ^^

Ayuniejung : Hihihi makasih loh ^^ setuju tuh, Sasuke emang apalah-apalah wkwkwk ketawa aku pas baca kata itu hehe

Jheinchyeon : Eh episode filler 410-411 banyak Gaa-matsu nya loh huehehe (Jadi Kompor) kamu udah liat blom? Iya ada Naruhina disini semoga ttp suka ya ^^

Yoktf : Klo berapa chap blom tau, pokoknya ngak sebanyak GF deh hahaha

Eysha Cherryblossoms : Terima kasih banyak lohhhh... karena ripiumu aku langsung buru-buru ganti.. makasih ya ^^

Shee : Terima kasih.. aku tunggu ripimu juga :p dan dan dan jangan panggil senpai ya ^^

Byun429 : Hai, bikin akun baru ya ^^ wah dia cuti kenapa? Ngak cuti hamil kan *digeplak* wah kamu UN.. udah selesai ya skrg? Jadi udah sah nih aku update chapter 6 nya kan hehe klo masa lalu mereka tenang nanti terungkap kok hehe diikutin terus ya ^^

KureNeko10 : Hehehe gmn temen kamu suka juga ngak? Iya nih, naruhinanya ikutan tapi ttp suka kan hehe.. makasih ya ^^

Annisa Alzedy : Hmmm kasih tau ngak ya hehehe.. salut sm tebakanmu ^^ dan hanya tinggal Sakura seorang kok yg idup hihihi makasih selalu suka crt ini ^^

Mantika Mochi : Hehehe awas senyum2nya jgn keterusan ya ^^

GaemSJ : Hihi iya karin tuh tsundere nya kebangetan, lucu hehehe

Luluchai10 : Eh,, tapi aku gtw tuh apa itu akatsuki no yona, klo anggota akatsuki aku tau hehe klo gitu selamat datang kembali ^^ seneng klo Fic yg ini kamu juga suka, makasih ^^

PinkRamen : Mau donk bolunya :p Wah, perannya Hinata dan Naruto disini lumayan sih, secara dia Putri yang incar :D dan dan hatiku sudah penuh dengan Taka jadi aku ngak bisa bales lop u mu huahahaha :v

Guest : Hihihi Kan Sasusaku udah full 4 chapter jadi kata Naruhina berbagilah sedikit hehe semoga terus suka crt ini ya ^^

AoRIn : Arigato,, Maaf klo apdetnya ngak bisa cepet huhuhu

NikeLagi : Chap 2 udh keluar tuh, jadi udah baca belom hehe ya aku sengaja ninggalin mereka biar ciumannya lama huahaha

Ikalutgi97 : Wuah seneng deh klo suka juga ^^ tapi ada benernya kok kamu, lebih baik menghindari apa yg ngak kita suka jd dgn bgtu kita ngak cari gara-gara sm diri sendiri kan hehe salut ^^

Dinayasashii7 : Iya bener.. aku juga setuju sm kamu ^^

Hanazonoyuri : Siiippp ^^

JYB : Dilanjut kok. Hehehe klo Sasusaku mulu tar crtnya ngak maju2 donk hehe.. tapi akan selalu saya usahakan loh ^^

6934soraoi : Sasuke mah emang apalah-apalah tuh hehe dan yang dimaksud Itachi ya keluarganya, siapa lagi hehehe wohh lomba akutansi ya.. keren donk ^^

kHalerie Hikari : iya dilanjut kok ^^

Kimmy ranaomi : Hihi tar jontor bibirnya kalo kebanyakan wkwkwk ada saatnya nanti lah huahaha

Gita Zahra : Hihihi wah seneng deh klo feelnya dapet ^^

Lhylia Khiryu : Iya nih NH nya ikutan, semoga ttp suka ya ^^

Gue : Eh masa sih 'hot' dan maaf ngak bisa kilat tapi ttp diusahain secepatnya sih hehe ngak kok, aku suka baca bacotanmu, terima kasih telah menghargai Fic ini ^^ dan gimana klo kata Fans saya ganti menjadi Friend ^^ sepertinya ini lebih enak :D

Mariyuki Syalfa : Wah nomer 1 nya bagus ^^ but will see dan no.2 nya, aku senang klo km juga suka Hinata disini ^^ dan no.3 nya klo bijak sih masih kebagusan buat saya deh hehehe makasih, tenang kata2mu sm sekali tidak ada yg menyinggung kok ^^

Dauddolmayan : Siapa yg keren? Saya ya.. lah emang huahaha *ditelen*

Suket alang-alang : Kiss doank kok ngak lebih tar gumoh klo kelebihan wkwkkw dan apakah chap ini bisa memberikan clue untuk pertanyaanmu hehehe

Ranuchiha88 : Ia aku lanjut kok ^^

Anyva : IYA AKU BENERAN SUKA OOR :* suaranya Taka telah menjerat hatiku ini ughh TAKAAAAAAA! Disah kan oleh mejelis ulama dalam mimpi saat chapter 1 SH diorbitkan hahaha, kamu suka OOR jg? Oke kembali ke cerita..Makasih udah suka sm crt ini ^^

Shityrukoyach05 : Aku emang Cool *ditelenlagi*

Nacha : Aku tunggu ripiumu lagi klo gitu huehehehe ^^

JF : Hai makasih ^^

Dianandraha : Wah,, diusahakan ya ^^

Sagasar : Eh aku-nya juga manis loh *ditelen* hmm orang ketiga ya, kayanya itu aku deh huahuahua *dilempar* makasih udah suka sm Fic ini ^^

Makasih sebanyak-banyaknya untuk kalian huhuhu aku terharu baca ripiunya. Aku senang sekali *pelukatuatu* terima kasih selalu menghargai kerja keras kami ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Terdengar suara kegaduhan yang ditimbulkan oleh perempuan berambut merah muda di dalam kamarnya. Shinai di tangannya ia arahkan ke kepalanya. Ia ketuk-ketuk pelan ke kepalanya beberapa kali. Semula ia ingin berlatih menggunakan senjata itu, namun bayangan mengenai peristiwa kemarin selalu muncul dan menghancurkan seluruh konsentrasinya.

Rona merah dengan cepat menghiasi wajahnya. Satu tangannya kini membelai lembut bibirnya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya? Bahkan ia masih bisa mengingat jelas bagaimana kelembutan bibir Sasuke saat mengecupnya, hingga akhirnya Sakura sendiri terbuai untuk ikut membalas ciuman itu. Bagaimana akhirnya kejadian itu terekam dengan baik dalam ingatan Sakura hingga akhirnya tidak ada satu kata pun yang meluncur dari bibir keduanya saat ciuman itu terlepas.

Sasuke tiba-tiba keluar meninggalkan Sakura, yang saat itu langsung terduduk lemas. Kedua kakinya tidak mampu menyangga tubuhnya lagi. Kejadian itu di luar kendali mereka. Tapi masing-masing dari mereka dapat merasakan perasaan yang tersampaikan oleh ciuman itu. Perasaan yang tersirat dari ciuman penuh kelembutan itu.

Hanya saja Sakura masih tidak memercayai apa yang dirasakannya. Ia takut itu hanyalah khayalan atau keinginan hatinya saja. Jadi, apakah hanya sebatas situasi kejadian itu terjadi? Ataukah bisakah ia meyakini bahwa Sasuke juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Karena tanpa pernah Sakura sadari, sudah ada satu nama yang menetap di dalam hatinya. Ruang di hatinya telah terisi oleh pria penolongnya. Perasaan kagumnya telah berubah. Begitupun dengan rasa 'butuh' yang telah berkembang. Berawal dari rasa membutuhkan pertolongan pria itu kini menjadi membutuhkan sosok itu.

Ia telah terjerat dan bahkan telah terjatuh. Ya, ia jatuh cinta pada pria penolongnya. Tapi apakah pria itu juga merasakan yang sama?

Suara pintu yang terbuka kembali menyadarkan Sakura. Ia segera bangkit namun kali ini ia memilih menundukkan kepalanya.

"O-okaeri, Sa- Sasuke-san." Dan kata-kata ini adalah kalimat pertama yang terucap setelah kejadian itu karena mereka berdua lebih memilih diam dan sedikit saling menghindar. Saat pagi datang pun Sakura memilih berpura-pura tidur dan membiarkan Sasuke untuk melakukan olahraga pagi sendirian. Toh, Sasuke sendiri juga tidak berniat untuk mengajaknya seperti biasa.

"Segeralah bersiap!" perintah Sasuke setelah ia mendengar berita tentang keberangkatan Putri Hyuuga menuju kediaman bangsawan Senju. Walau begitu pandangannya menatap ke arah lain. Ke mana saja asal tidak menatap mata hijau milik Sakura.

Sebenarnya tidak berbeda dengan Sakura. Saat itu, Sasuke sendiri sudah mendudukkan dirinya di halaman belakang penginapan. Ia menjambak rambutnya keras, berusaha mengurangi debaran jantung yang serasa bisa meledak saat itu juga. Semburat merah tipis sudah merambat di kedua pipinya.

Apa yang baru saja ia lakukan? Pertanyaan itu terus mengulang di kepalanya. Ia sudah tahu kalau mata itu mampu menjeratnya. Dan usahanya untuk menghindari mata itu harus berakhir sia-sia. Tapi, tidak bisa ia pungkiri. Ia menyukai apa yang baru saja terjadi. Hal yang baru kali ini ia alami. Hal yang selama ini tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya. Yang ia pikirkan hanya dendam, dendam, dan dendam.

Tapi entah sejak kapan. Ada perasaan lain yang ikut berkembang pesat di dalam hatinya. Perasaan hangat yang berlawanan dengan perasaan dendamnya. Ada sosok lain yang mampu menghantuinya. Sosok yang tidak bisa ia abaikan keberadaannya sekarang karena Sasuke merasa di situlah dunianya berada. Di situlah ia bisa mengecap perasaan bahagia. Perasaan tenang dan damai, seperti dulu.

Di sosok itulah Sasuke menemukan perasaannya yang dulu telah hilang. Dan Sasuke menyadari dengan baik bahwa ia menyukai sosok itu. Sosok wanita selain ibunya. Tapi, apakah perempuan itu memiliki perasaan yang sama?

Keheningan kembali menyelimuti perjalanan mereka, tapi tidak di dalam pikiran keduanya. Kembali Sasuke memilih berjalan di depan Sakura, setidaknya hal itu mampu mengurangi rasa canggungnya. Ia bukan ingin menghindar, walau secara tidak langsung memang terlihat seperti itu. Ia hanya tidak mengerti apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia meminta maaf? Atau haruskah ia mengatakan perasaannya yang sebenarnya?

Sayangnya keduanya terlalu sulit ia lakukan. Ia ragu, ia meragukan perasaan Sakura padanya. Bagaimana jika reaksi perempuan itu tidak sesuai dengan keinginannya? Bagaimana jika nyatanya perasaan yang ia miliki akan menyakiti dan menyulitkannya? Dan berujung menyulitkan mereka berdua?

Kuso. Kenapa pikirannya terus memikirkan hal ini? Seharusnya Itachi-lah prioritas utamanya. Kenapa ia tidak bisa mengusir bayangan Sakura? Kenapa hal itu juga sulit dilakukannya?

...

"Apa Hinata dan Naruto sudah pergi?" tanya Hiashi pada Minato. Jangan heran mengapa ia tidak menanyai langsung pada Naruto yang bertanggung jawab atas pengawalan Hinata, karena ia sendiri saat ini sudah beranjak pergi untuk menghadiri acara lain.

Kedua pria itu berjalan menuju kereta kuda yang biasa digunakan untuk perjalanan jauh. Kendaraan milik Istana yang saat ini juga dipakai oleh Hinata. Beberapa pengawal sudah bersiap di depan dan di belakang kereta. Sebagian ada yang menaiki kuda sebagian lagi tidak. Bila dihitung mungkin ada lebih dari dua puluh orang prajurit andalan milik Minato yang berjaga di sekitar kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda itu.

Minato menganggukkan kepalanya yang kini berjalan tepat di samping Hiashi, "Hanya saja Naruto mengurangi jumlah pasukan yang bertugas untuk mengawal Hinata-sama. Aku baru mengetahui hal itu beberapa saat sebelum keberangkatan mereka. Aku sudah memarahinya tapi ia mengatakan bahwa Anda memberi kebebasan khusus padanya mengenai pengawalan Hinata-sama."

Hiashi tersenyum simpul sesaat setelah mendudukkan tubuhnya di dalam kereta dengan Minato yang duduk di depannya.

"Ya, aku memang mengatakan hal itu karena aku percaya, apapun yang terjadi Naruto pasti akan melindungi Hinata. Meski harus membayar dengan nyawanya sendiri."

Minato hanya diam. Ia membenarkan perkataan Hiashi karena Minato sadar putranya memiliki perasaan khusus pada Hinata dan sepertinya Kaisar sendiri mengetahuinya. Tapi terbesit perasaan tidak menyenangkan mendengar ucapan pria di hadapannya, yang terdengar seperti memanfaatkan perasaan Naruto demi kepentingannya.

Pria yang ia temui pertama kali saat menyelamatkannya dari Itachi yang kini mengincar putrinya. Hingga akhirnya ia diangkat menjadi shogun milik Kaisar. Tapi tidak pernah sekalipun ia mengetahui mengapa Itachi selalu berniat membunuhnya.

Bukan berarti Minato tidak pernah menyinggung perihal Itachi yang selalu berniat menghancurkan Kekaisaran Hyuuga. Tapi Hiashi tidak pernah mau menjawabnya, dengan santai ia hanya mengatakan bahwa Itachi hanyalah seorang pemberontak yang berniat mengambil kekuasaannya.

...

"Hinata!" teriak Naruto saat ujung rambut belakangnya ditarik oleh tangan putih milik Hinata yang terjulur dari celah kecil berbentuk kotak yang berfungsi sebagai penghubung dengan pengendara kereta yang duduk di samping kanan Naruto.

Hinata segera menarik tangannya kembali saat Naruto menghadap ke arah jendela kecil yang hanya mampu menampilkan sebagian wajah Hinata.

"Kenapa kau tidak duduk dan menemaniku di dalam? Kau tahu, aku bosan, Naruto!"

Walau begitu kedua pipi Hinata yang mengembung masih terlihat jelas oleh Naruto. Dan Naruto selalu menyukai setiap kali Hinata melakukan itu.

"Aku bisa mati bosan tahu," sambung Hinata pelan.

"Kau tidak akan mati hanya karena bosan, Hinata. Berhentilah merengek."

Hinata memajukan wajahnya sampai menempel dengan dinding di sekitar celah kecil itu. "Tapi perjalanan menuju kediaman bangsawan Senju bisa menghabiskan waktu satu minggu, dan selama itu aku hanya sendirian. Kau mau melihat aku berubah menjadi patung?" tanya Hinata yang meninggikan nada bicaranya.

Naruto menyeringai jahil, "Bukankah itu bagus? Akan kusimpan patungmu di dalam kamarku nanti, setidaknya patungmu lebih manis karena ia tidak secerewet dirimu."

Naruto tertawa kencang melihat Hinata kembali menggembungkan pipinya. Pertanda bahwa Hinata kesal karena tidak mampu membalas ucapan Naruto. Mereka kini sudah berada di luar area istana dan mulai memasuki desa terdekat dengan istana. Salah satu desa yang tersohor dengan jumlah penduduk yang cukup padat.

Mayoritas pekerjaan penduduk di desa ini adalah pedagang, itulah yang membuat desa ini selalu padat. Karena banyak pula penduduk dari desa lain yang berkunjung dan melakukan kegiatan jual beli di desa ini.

Tiba-tiba kereta kuda mereka berhenti. Naruto yang semula menghadap ke Hinata kini menolehkan kepalanya pada salah satu anak buahnya yang berjalan mendekatinya.

Pria itu membungkukkan badannya, "Ada sebuah perayaan sehingga membuat jalan begitu padat oleh penduduk. Setidaknya butuh waktu agar kita bisa melewati jalan ini, Naruto-sama."

"Kalian tidak mengecek hal ini sebelumnya?" tanya Naruto yang kemudian turun dan berdiri tepat di depan pria yang masih membungkukkan badannya. Sedangkan Hinata terus melihat di balik celah itu. Samar-samar ia mendengar kata "perayaan" dan itu membuat sebuah senyum muncul di wajahnya.

Sedari dulu Hinata sangat penasaran. Apakah perayaan penduduk desa sama seperti perayaan yang dilakukannya di dalam istana? Karena menurutnya, perayaan di dalam istana sangatlah membosankan. Tapi dari cerita yang pernah ia dengar dari beberapa pekerja di dalam istana, mereka selalu antusias dan tersenyum senang saat menceritakan tentang perayaan di tempat tinggal mereka sebelum mereka mengabdi ke istana.

Di balik celah itu kedua mata Hinata mulai bergerak untuk melihat lebih jauh. Mencoba melihat apa yang sedang terjadi, hingga sebuah suara pintu yang terbuka membuat ia menghentikan kegiatannya. Kini kedua matanya mendapati sosok Naruto berdiri di depan pintu.

"Aku akan pergi sebentar untuk mengawasi keadaan sekitar. Ingat, jangan bertindak macam-macam, Hinata. Aku serius!"

Hinata hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis, "Aku mengerti," jawabnya hingga membuat Naruto menutup pintu itu. Kembali meninggalkan Hinata sendirian.

Hinata kembali melanjutkan kegiatannya. Tanpa sadar ia mengigit bibir bawahnya karena tidak jua berhasil melihat apapun. Dengusan kesal meluncur dari mulutnya kala ia kembali duduk dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.

Sungguh ia sangat ingin pergi melihat perayaan itu, namun larangan keras dari Naruto tidak mugkin ia langgar. Apalagi pakaian yang ia pakai jelas sekali menampakkan pakaian sekelas bangsawan dan jelas hal itu akan mengundang perhatian banyak orang nantinya. Setidaknya ia harus bisa menyamarkan keberadaannya 'kan? Hei, mengapa ia terkesan benar-benar akan pergi?

Tapi bukankah itu ide yang bagus?

Pasti tidak akan ada yang menyadarinya kalau ia bisa menyembunyikan identitasnya. Lagi pula ia hanya ingin melihat-lihat, tidak lebih. Jadi, pasti ia hanya akan menghabiskan waktu sebentar saja. Satu tangannya mulai membuka tas penyimpanan pakaian miliknya. Hinata mengambil sehelai kain hitam dan ia gunakan untuk menutupi kepala dan sebagian pakaiannya.

Ia melangkah keluar kereta. Dua pengawal langsung menghampirinya dan berdiri di depannya.

"Maaf, Hinata-sama, tapi Naruto-sama berpesan agar Anda tidak meninggalkan kereta ini," ucap salah satu pria itu sembari menundukkan wajahnya.

"Aku hanya akan keluar sebentar, aku janji tidak akan lama. "

"Tapi ini perintah langsung dari Naruto-sama," sambung pria yang satunya.

"Jadi kau lebih mendengarkan perintah Naruto dibandingkan aku? Aku janji hanya melihat sebentar, setelah itu aku akan kembali dan kupastikan aku akan kembali sebelum Naruto."

Kedua pria itu saling menatap sejenak dan kemudian menundukkan kepalanya saat Hinata berjalan melewati mereka. Tepat sebelum mereka berniat untuk mengikuti Hinata, perempuan itu sudah membalikkan tubuhnya, "Jangan ada yang mengikutiku, karena jika kalian melakukan itu maka penyamaranku akan terbongkar. Mengerti?"

Kedua pria itu mengangguk ragu, "Baik, Hinata-sama!"

Hinata tersenyum senang. Ia segera membaur dengan beberapa penduduk yang berlalu-lalang. Satu tangannya menjepit kain hitam itu agar tidak terlepas. Kakinya melangkah cepat, ia harus bisa kembali sebelum urusan Naruto selesai.

.

.

Kedua insan itu kini hampir tiba di gerbang desa. Kebetulan desa yang mereka singgahi semalam ini adalah desa yang terdekat dengan istana Kaisar. Keduanya harus menghentikan langkah mereka karena di depan mereka kini terdapat sebuah perayaan.

Perayaan itu berlangsung di jalan utama desa. Satu-satunya jalan besar di desa ini yang telah dipadati oleh penduduk dan stan-stan penjual dadakan khusus perayaan. Walau nanti malam adalah acara puncak perayaan itu, namun semua penduduk sudah menyambutnya dan merayakan beberapa ritual sedari pagi. Terlihat dari padatnya orang yang mengantri untuk berdoa di kuil.

Dan satu-satunya cara untuk bisa keluar dari desa ini adalah melewati kerumunan para penduduk desa. Sasuke menoleh ke belakang, kedua mata itu kembali bertemu sesaat karena kali ini keduanya sama-sama langsung menghindar.

"Ayo!" Ajak Sasuke yang kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kerumunan penduduk desa diikuti Sakura.

Sayangnya tubuh Sakura harus beberapa kali tertabrak sehingga membuat langkah kakinya mundur. Satu matanya menyipit kala tubuhnya terdorong oleh seorang pria besar dengan keras. Tubuh Sakura terhuyung namun tidak terjatuh karena kembali terapit oleh tubuh lain di sekitarnya.

Dan parahnya ia baru menyadari bahwa sosok Sasuke tidak lagi terlihat oleh kedua matanya. Sosok itu sudah hilang. Bagaimana? Apa Sasuke akan mencarinya? Karena Sakura sama sekali tidak bisa menahan arus dorongan dari kerumunan penduduk desa itu. Ditambah lagi adanya sebuah parade patung hingga semua orang kini mulai berjalan untuk melihat patung dewa itu.

Satu tangan Sakura terjulur, berusaha meraih apapun agar ia bisa terbebas dari dorongan kuat ini. Ia bahkan tidak dapat melihat tangannya yang kini sedang menggapai sesuatu karena terhimpit oleh tubuh orang lain.

Tubuh Sakura sudah miring ke kanan, ia siap terjatuh namun tiba-tiba ada sesuatu yang menarik tangannya. Kuat, kuat sekali. Ada sebuah tangan yang menarik tangan Sakura dan kemudian Sakura melihat ada tangan lain yang terjulur ke arahnya.

Tangan itu memegang bahu Sakura kencang. Kedua tangan itu sama-sama menarik tubuh Sakura hingga ujung hidung Sakura menabrak keras tubuh seseorang.

"Kau tidak apa-apa?"

Dan mata Sakura seketika melebar mendengar suara itu. Sakura sudah hapal betul siapa pemilik suara itu. Suara pria yang selalu menolongnya. Suara milik Sasuke.

"Terima kasih, Sasuke-san," jawab Sakura tanpa menatap Sasuke. Sakura sadar hal itu tidak mungkin ia lakukan karena posisi mereka saat ini hampir mirip seperti saat itu. Dan jika mata mereka kembali bertemu dalam jarak sedekat ini, maka kemungkinan besar ... entah mengapa Sakura sedikit yakin kalau mereka akan kembali melakukan hal itu lagi.

Sasuke segera melepas satu tangannya yang mendekap tubuh Sakura. Ia kemudian mengganti tugas tangan itu untuk mengenggam tangan Sakura. Menggenggamnya erat. Sakura sendiri tidak melawan. Ia tahu hal ini juga untuk kepentingannya.

Meski begitu ada perasaan hangat dan senang ketika Sasuke melakukan hal itu. Sasuke melindunginya. Selalu. Pria itu selalu datang menolongnya.

Mereka kembali berjalan dengan Sasuke yang menuntun Sakura. Ia mencari celah dan membuka jalan. Seulas senyuman mengembang di wajah Sakura. Ia dapat merasakan kehangatan pada genggaman tangan Sasuke serta sikap yang melindunginya.

Sasuke kemudian berbelok di salah satu gang kecil di mana daerah itu tidak dipadati oleh pengunjung. Sekilas sebelum ia menemukan Sakura menghilang, ia melihat sebuah kereta kuda milik Kaisar. Apakah mereka juga sudah berada di desa ini? Apakah kendaraan itu milik Putri Hyuuga? Ia harus pergi untuk memastikannya, namun saat menyadari Sakura menghilang akibat keramaian ini bahkan hampir terluka, Sasuke tidak ingin hal itu terjadi.

"Tunggu di sini!" Perintah Sasuke, "Dan jangan sekalipun pergi. Aku akan segera kembali. Kau mengerti?"

Sakura mengangguk pelan, "Baik."

Setelahnya genggaman tangan itu terlepas disusul oleh sosok pria penolongnya yang juga menghilang. Menghilang di tengah kerumunan penduduk desa. Sasuke bergegas untuk memastikan apa yang dilihatnya. Di sisi lain ia tidak ingin—ah, tidak bisa meninggalkan Sakura sendirian. Apalagi di tengah kerumunan orang sebanyak ini. Tapi setidaknya ia meninggalkan Sakura di gang terdekat dengan lokasi kendaraan milik istana.

...

Hinata memandang takjub sekelilingnya. Ia yang semula hanya ingin melihat-lihat tanpa sadar semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak perayaan ini. Terlebih tentang parade yang membuat orang mulai berbondong-bodong mendekati lokasi parade itu. Dengan antusias Hinata ikut pergi untuk menyaksikannya. Ia telah lupa tentang larangan Naruto, yang ada di kepalanya sekarang hanyalah perayaan ini.

Kimono yang dipakainya tidak membuat ia menyerah. Dengan tubuh kecilnya ia menyalip dari sisi luar kerumuman itu. Meski begitu Hinata tidak bisa selamanya menghindar dan berhasil melewati dorongan kuat kerumunan itu. Seperti sekarang, tubuhnya terhuyung, namun tangan Hinata segera menarik dan memegang sesuatu agar tubuhnya tidak terjatuh.

Dengan menggunakan kedua tangannya ia berhasil berpegangan erat. Tangannya mengenggam erat pakaian seseorang, akibatnya kain hitam yang ia gunakan merosot. Hinata buru-buru menarik kembali kain penutupnya saat pria itu menoleh karena merasakan pakaian belakangnya tertarik dengan kencang.

"Maaf," ucap Hinata yang menundukkan wajahnya. Kedua tangannya sudah memegang erat kain hitam yang sudah melekat kembali di tubuh Hinata.

"Anda ..." Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Hinata segera bergegas pergi karena sepertinya pria itu mengetahui identitasnya.

Sayangnya kerumunan itu membuat Hinata kesulitan untuk berlari. Pasalnya kini pria itu mengejar dirinya dan sepertinya bukan hanya dia saja, kini ada empat orang yang mengejarnya. Sepertinya mereka adalah kawanan pria itu.

Pria terdepan berhasil menggapai Hinata, tangannya menarik kain hitam itu hingga terlepas. Hinata menoleh dan mendapati ke empat pria itu menyeringai karena perkiraan mereka benar. Perempuan itu adalah Putri Hyuuga.

Mata Hinata melebar, ia ketakutan. Wajah ke empat pria itu terlihat menyeramkan untuknya. Kedua tangannya kini ia gerakan untuk mendorong tubuh-tubuh yang menghalangi jalannya. Ia harus segera kembali pada Naruto.

Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi karena satu pria itu berhasil menarik tubuh Hinata. Tubuh mungil itu menabrak keras dada pria yang menangkapnya. Satu tangan pria itu kini membekap mulut Hinata di mana tangan yang satunya berada di pinggang Hinata. Menahan tubuhnya.

Ke empat orang itu segera membawa Hinata. Keluar dari kerumunan penduduk itu. Hinata meronta namun kekuatannya tidak sebanding dengan pria yang menyanderanya. Kedua tangannya berusaha melepaskan tangan pria yang membekap mulutnya. Kepalanya ia gerakan. Kedua kakinya menendang-nendang walau nyatanya ia hanya berhasil menendang udara. Tapi apapun akan ia lakukan agar ia bisa terbebas.

Tepat saat mereka berbelok ke gang kecil, tangan Hinata berhasil melepaskan tangan pria itu hingga mulutnya terbebas. Dengan segera ia meneriakkan satu kata, "Tolong!"

Sayangnya tangan itu kembali membekap mulut Hinata. Tapi tepat saat ia mengucapkan kata itu ada seseorang yang melihatnya hingga pandangan mata mereka bertemu. Ada seseorang yang menyadarinya. Mata hijau perempuan itu bertemu dengan mata milik Hinata.

Sakura dapat melihatnya. Tatapan mata perempuan itu yang mengisyaratkan permohonan. Ditambah satu tangannya terjulur seakan meminta Sakura untuk menarik tangan itu. Perempuan itu memohon padanya. Ia meminta pertolongannya.

Sakura terdiam. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia pergi menolongnya? Tapi, mana mungkin Sakura sanggup menghadapi empat orang pria? Ia harus meminta bantuan pria penolongnya. Ya, Sasuke pasti sanggup melawannya.

Sakura kembali menoleh ke kerumunan penduduk itu. Masalahnya sekarang bagaimana ia mencari sosok Sasuke di sekumpulan orang-orang? Pasti akan memakan waktu yang sangat lama, dan jika begitu apakah perempuan itu masih baik-baik saja? Bagaimana? Ia harus bagaimana?

Tanpa sadar kedua tangannya mengepal. Bayangan tentang dirinya yang selalu meronta dan menjerit kala membutuhkan pertolongan kembali berputar. Perasaan sedih saat tahu tidak ada satu orangpun yang berusaha menolongnya. Bagaikan nyawanya bukanlah sesuatu yang berharga.

Ia selalu mengeluh saat tidak ada satupun orang yang menolongnya, lalu kini apakah ia akan sama seperti orang-orang itu? Apa ia hanya akan diam saja saat seseorang membutuhkan pertolongannya?

Tidak!

Sakura segera melangkahkan kakinya namun tiba-tiba terlintas dalam benaknya ucapan Sasuke hingga membuat Sakura menggigit bibirnya.

"Tunggu di sini!"

"Dan jangan sekalipun pergi."

Kata-kata itu membuatnya ragu. Kakinya kembali tertahan. Tapi, tatapan mata itu tidak bisa ia lupakan. Sakura dengan jelas melihatnya. Perempuan itu menangis.

Sakura membulatkan tekad. Dalam hati ia mengucapkan maaf karena mungkin saja Sasuke tidak akan mencarinya. Mungkin saja Sasuke akan meninggalkannya karena Sakura memilih untuk pergi menyelamatkan perempuan itu. Ia memang menyusahkan, bukan? Karena itu mungkin Sasuke tidak akan memedulikannya.

Sakura berlari mengejar perempuan itu. Di sela-sela kegiatannya ia terus meneriakkan kata "tolong" dengan kencang. Berharap ada yang mendengarnya karena sepertinya suaranya kalah dengan suara parade perayaan itu. Lebih-lebih di lubuk hatinya ia berharap pria penolongnya mampu mendengar suaranya.

Seperti biasanya ia akan datang padanya. Pria itu akan datang menolongnya. Karena Sakura tahu, ia tidak mungkin menang.

...

Kedua pengawal yang berjaga di depan pintu kereta Hinata bergetar ketakutan saat melihat sosok Naruto berjalan mendekat. Peluh membasahi wajah mereka yang kini menunduk saat Naruto berdiri di depan mereka.

Salah satu pengawal itu meneguk ludahnya sebelum memulai untuk mengeluarkan suaranya.

"Maafkan kami Naruto-sama. Hinata-sama pergi melihat perayaan dan sampai saat ini belum kembali."

Pria itu sempat melirik hingga pandangan mata mereka bertemu.

"Apa kau bilang?" tanya Naruto yang menatap pria itu dengan tatapan marah. Mata birunya tidak lagi memancarkan ketenangan.

Pria itu bagai terpaku. Ia takut tapi tidak berani menghindari tatapan mata milik Naruto. Mata yang seakan berkata jika ia bergerak sedikit saja maka ia akan mati.

"Maafkan kami."

"Maaf katamu!" Tangannya segera menarik kerah baju pria itu dan kemudian ia dorong keras tubuh itu hingga terhempas menabrak kereta kayu itu.

"CARI DIA!" Naruto segera bergegas menuju barisan pengawal yang berjaga di area belakang.

"Kalian semua PERGI dan cari Tuan Putri Hinata! Jangan kembali sampai kalian menemukannya!"

Para barisan itu segera menuruti perintah ketua mereka. Sedangkan barisan pengawal depan yang duduk di atas kuda hanya diam. Meski begitu mereka juga merasa takut hanya mendengar nada bicara sang ketua. Mereka paham bagaimana menyeramkannya Naruto, terlebih hal itu menyangkut Tuan Putri-nya.

Sasuke yang bersembunyi di balik salah satu pohon itu mendengar semuanya. Mata hitamnya melihat semua kejadian yang terjadi. Barisan pengawal yang mulai berpencar pergi disusul oleh pria berambut kuning yang memerintah mereka dengan kasar.

Keadaan yang kacau karena hilangnya Tuan Putri Hyuuga. Apakah kali ini Itachi sudah melancarkan aksinya? Dia-kah yang menculik Putri Hyuuga? Inilah kesempatan Sasuke untuk menyelesaikan tujuannya. Ia harus bergegas mencari Putri Hyuuga dan kemudian ia akan membunuh Itachi.

Sasuke segera pergi meninggalkan tempat persembunyiannya. Ia kembali memasuki kerumunan penduduk yang kini sudah diobrak-abrik oleh pengawal istana. Sebelum ia pergi untuk mencari, Sasuke terlebih dahulu pergi menemui Sakura. Perempuan yang ia tinggalkan persis di belokan kecil lima meter dari tempat ia berdiri sekarang.

Seharusnya Sakura ada di sini. Tidak mungkin Sasuke lupa. Ia ingat betul lokasinya. Tapi kenapa sosok itu tidak ada? Ke mana? Bukankah Sasuke sudah menyuruhnya untuk menunggu.

Mata hitamnya mengitari daerah sekitar. Tapi tidak juga ia temukan sosok Sakura, "Kuso!"

Panik bercampur kesal. Ya, itu yang ia rasakan sekarang. Perasaan yang sama persis dirasakan oleh Ketua Jenderal Divisi 1. Keduanya memiliki kesibukan yang sama sekarang. Sama-sama menjelajahi seluruh tempat itu.

Naruto mulai keluar dari kerumunan dan masuk ke gang kecil itu. Jalan kecil yang sepi. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa Hinata dibawa pergi melewati jalan ini. Mengikuti keyakinannya, Naruto kini berlari pergi menyusuri jalan kecil itu.

"Kau di mana, Hinata?"

Mata Hitam Sasuke terfokus pada satu warna. Merah muda. Warna yang selalu menghiasi harinya dan kini warna itu menghilang. Ia bahkan tidak lagi mengingat tentang tujuannya untuk mencari Putri Hyuuga dan membunuh Itachi. Hilangnya Sakura membuat seluruh pikirannya hanya memikirkan sosok itu.

Sasuke mulai kembali ke tempat di mana ia meninggalkan Sakura. Rasa-rasanya ia yakin Sakura tidak mungkin berada di kerumunan itu. Matanya memandang lurus jalan kecil itu. Mengikuti keyakinannya, Sasuke juga berlari menyusuri jalan kecil itu.

"Kau di mana, Sakura?"

Dalam hati keduanya kini sama-sama menyebutkan nama orang terpenting untuk mereka.

Bersambung.

Curcul :

Terima kasih telah membaca chap ini.. semoga kalian suka ^^

Ngak yangka aku adegan kissingnya banyak yang suka ya, awalnya itu ngak kepikiran sm sekali tapi pas ngetik kupikir ah sekalian aja deh huahahaha...

Soalnya aku klo ngetik selalu ditemani sm suara suami aku dan abang aku (baca : Taka dan Eric Martin) Jadi, lagi ngetik adegan kissing lagunya malah bukan lagu cinta #guemahgituorangnya... Haha tapi seru ngetik smbil denger lagu gedubrak2 sih, terlebih itu suami sendiri *dibekep* (dia malah ngebahas Taka!)

Oke, oke balik ke cerita lagi... Di cerita ini Naruhina banyak muncul juga kok, secara mereka terhubung. Terutama Hinata karena dia adalah Putri Hyuuga (yg diincer Itachi). Ya, saya harap masih suka ceritanya ^^ entah kenapa ngebayangin Hinata dgn karakter kaya gitu, keren aja menurutku hehehe (menurutku loh ya)

Udah ah, makin lama saya makin ngak jelas. Sampai ketemu chap selanjutnya ya. Maaf klo ada kata-kata saya yang kurang berkenang dihati para pemirsah sekalian ^^

.

09-05-15

Ucul World – Istri sah Taka, One Ok Rock :* –