Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
Luluchai10 : Makasih semangatnya, maaf klo ngak bisa kilat T_T. Aku tuh smpe saat ini masih penasaran loh, gmn kamu bisa menemukan tw**terku (Sumpah penasaran!) hahaha
Gue : Doain aja segala urusanku lancar jaya, jadi ttp bisa ontime :D
Adrienna : Kapan yah? Uhmm rahasia ah, biar kamu baca trus ;p
KuroNeko10 : Pasti disampein kok, tenang aja. Wuahh, tapi saya seneng kok bacanya kalo kamu suka bgt sm Fic ini plus temenmu itu juga :D dan makasih buat semangatnya ^^
Yoktf : Wuih udah lanjut nih hahaha
Dytantri : Iya, makasih banyak ya ^^
Misakiken : Sipp, makasih banyak tapi aku lebih seneng dipanggil kakak sih klo kamu ngak keberatan ^^
Fiochan51 : Oh thanks, but I prefer call u a friends than a fans ^^ (Sorry for my bad English :p) daripada liat marsha mending liat Taka huehehehe
Mantika Mochi : Bener, karena Sakura lah mereka ketemu hahaha.. maaf blom bisa update kilat nih aku ^^
Haruchan : Bukan, bukan aku yg geplak kamu. Neji tuh pelakunya :p dan iya, aku kelupaan haha jadi kuganti jadi tabib deh hahha makasih ya ^^ hmmmm emang kemanisanku masih kurang? Kan klo ceritanya ngak manis, masih ada aku yg manis *dilepeh*
Ayuniejung : Dua-duanya tuh hahaha.. wah kissu ya? Ditunggu aja lah pokoknya hahhaa
Fa : Sweet? Aku maksudnya ya? Hahaha.. sip ini udah update ^^
PinkyLover : Hmm, ngak smpe gmn2 kok, Cuma rasa penasaran Hinata aja hehehe gitulah pokoknya *ngomongapasih*
Dshityrukoyach50 : Ini udah dilanjut ^^
Lisa Smile : Gurunya Sasuke, masih blom tau bakal aku ceritain apa engga sih, hahaha… maaf ya, aku ngak update kilat T_T ..
Ironira : Makasih, klo untuk chapter blom tau sih, pengennya sih ngak panjang2 banget hehehe
Annisa Alzedy : Iya dikasih lem biar lengket wkwkwk, jgnkan kamu.. aku juga mau ama bang sasu eeaaaaa ^^
NikeLagi : Jiaaahhh, Sasuke mau bunuh Itachi loh, kok jadi ke Hinata hahaha… kamu kehilangan fokus ya, nih (nyodorin aq*a) hehe piss
The DeathStalker : Hai, uhmm aku panggil apa ya enaknya? Hihi gtw sih tiba2 kepikiran aja nama itu hehehe… eh, aku juga gitu kok.. liat Sasuke jadi samurai tuh greget haha.. makasih dan salam kenal juga ya ^^
Byun429 : Sabar, mungkin dia merasa lebih baik berpisah (Apa dah aku ini hehe) maaf klo ngak kilat T_T
Nana Juka : Sama-sama, makasih ya ^^
Wowwoh geegee : And I know whats ur mean ^^ Eh, aku juga menggemaskan kok, gemas pengen nabok maksudnya hehehe
Ikalutfi 97 : Awas, jgn kelamaan cengar-cengirnya tar klo diliat orang bahaya hehhe
PinkRamen : Makasih lohh.. dan ini next chapie nya :p
Moikomay : Makasih udah suka ya ^^
May : Boleh kok *sumpelkuping* hehehe, dan kalo ngak keberatan panggil kak ucul aja ^^
6934soraoi : Aku juga keren kok *dilemparpanci* hihihi mau naik kudanya, apa nyeder sm sasu hayo hayo :p
Guest : Iya udah dilanjut ^^
Hanazono yuri : Siiipppppp ^^
Thasya Rafika Winata : Hihihi seneng deh klo ngena ^^ tapi klo boleh, panggil aja aku kak ucul ^^
Dianarndraha : Sippppppp ^^
Guest : Kapan ya? Hmmm ada deh :p pokoknya dibaca terus aja ^^ makasih ya…
Shita : Yeaayyy Shita muncul lagi ^^ semoga penasaran trs kan jadi baca trs hehehe..
Uchiha June : Hai juga ^^ kayanya Sasuke udah tahu deh soal kalung Sakura (chapter 6 ya klo ngak salah)
Undhot : Iya dilanjut kok ^^
Lady Hanabi : Hahaha… iya bener bagusnya emang sakura di lem aja tuh dan saya jg setuju bgt Hinata jg diomelin so silahkan baca chap ini ^^
Mariyuki Syalfa : hmmm gtw deh… aku ngak pandai bikin adegan romance loh T_T
Yuie : Aku juga manis kok *Dikucek-kucek* hehehe kayanya chap ini lebih panjang deh wordnya..
Tsurugi de Lelouch : Terima kasih banyak ya ^^ dan ini udah dilanjut ^^
Biiancast Rodith : Hai Bii ^^ makasih udah repot2 mampir ke ceritaku. Lebih suka mana, Sasuke yg di GF atau di cerita ini hayo? Kapan ya? Ada deh pokoknya ditunggu aja :p dan aku juga suka Hinata yang begini (?) haha kita liat aja feelingmu bener apa engga ^^ HEYYY aku loh istri sah Taka, km ngak boleh ngaku2 :P hehhe dan udah ku sampaikan ke Hana dia bilang "Salam balik" tapi maaf nih Bii, tulisan Hana itu lebih bagus, lebih bervariasi kata2nya dibandingkan tulisanku, jadi sangat jelas beda. Kasian donk Hana disamain sama tulisanku hehe
Tsubaki : Hehe makasih ^^ jadi sekarang kata-katanya di tabung dulu biar banyak hehehe
Gita Zahra : Hehe untung ngak malu-maluin ya interaksinya hehe
Nacha : Sipppp ^^
Sagasar : Hehehehe… pegangan lah klo bingung piss ^^ makasih ya buat semangatnya ^^
Chihiro : Hahaha.. ah, kamu bisa aja deh ngerayunya *digelindingin* emang sengaja di OOC in Hinatanya hahaha.. kebetulan saya seneng karakter yg kaya gituh :D .. hehehe lucu deh ripiumu ^^
Nathalie Ichino : Hehehe kan emang Saku-nya bandel sih, maen kabur ngak pamit2
Makasih buat semuanya ^^ *pelukatuatu* makasih selalu mampir dan maaf ya kalo ada yg kelewat balesnya (Pengalaman di setiap Fic, saya suka kelewat bales T_T) jadi silahkan bilang aja dan maaf klo ada kata2 saya yg kurang menyenangkan, semua murni ketidaksengajaan ^^
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
Suasana saat ini terlalu sunyi di antara Naruto dan Hinata di atas kuda. Keduanya diam. Terlebih Naruto yang terlihat sama sekali tidak berniat untuk melontarkan apapun. Awalnya Hinata berpikir Naruto akan memarahinya seperti biasa. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Naruto terus saja diam. Mata birunya terus saja menatap ke depan.
Seharusnya Hinata senang karena Naruto tidak memarahinya. Tapi kini hal itu malah terasa aneh untuk Hinata. Bahkan Naruto tidak menanyakan apapun, termasuk kondisinya sekarang. Apa kau terluka? Bagian mana yang sakit? Biasanya Naruto akan bertanya seperti itu. Tapi kenapa ia malah diam saja? Seperti bukan Naruto yang biasanya. Seperti bukan Naruto yang Hinata kenal. Naruto seakan berubah tidak peduli padanya.
Kenapa rasanya kesal sekali saat tahu Naruto tidak memedulikannya? Kesal saat tahu Naruto tidak mengkhawatirkannya sedikitpun.
"Naruto," panggil Hinata sedikit mengangkat kepalanya agar bisa menatap wajah pria kuning itu.
Tidak ada satu suarapun yang keluar. Naruto hanya sedikit menundukkan kepalanya hingga mata mereka bertemu sesaat karena Naruto kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Dan tentu saja hal itu membuat Hinata semakin kesal.
"Naruto, apa kau marah padaku?" tanya Hinata yang masih tetap menatap pria itu.
"Menurutmu?" tanya Naruto datar dengan mata yang masih terfokus ke depan.
Hinata menunduk dengan kedua pipinya yang kini mengembang. Pasalnya, kenapa Naruto malah balik bertanya? Sudah jelas Hinata bertanya karena ia tidak tahu. Kalau ia tahu untuk apa ia repot-repot bertanya. Sayangnya suasana di antara mereka terasa pekat sehingga Hinata tidak melontarkan apa yang ada di pikirannya.
"Mana aku tahu," gumam Hinata pelan sembari mengangkat kecil bahunya. "Seandainya kau memang marah, kenapa kau tidak memarahiku? Kalau memang tidak ... jangan diam saja."
Naruto melirikkan matanya. Namun mata birunya hanya bisa menangkap ujung kepala Hinata, "Apa itu berpengaruh untukmu?"
"Apa maksudmu?" tanya Hinata yang kembali mengangkat kepalanya. Ia sedikit kaget ketika kedua matanya bertemu dengan mata biru itu.
Mata itu tidak secerah biasanya. Terlalu banyak perasaan yang tidak bisa Hinata mengerti pada tatapan mata Naruto kali ini. Tapi melihat pancarannya saja mampu membuat Hinata bersedih. Apa ini karena dirinya?
"Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau tidak mendengarkan kata-kataku. Lalu sekarang, kau ingin aku memarahimu? Apa kau juga akan mendengarkannya? Atau kata-kataku akan kembali kauabaikan?"
"Aku bukannya mengabaikan kata-katamu!" Tanpa sadar Hinata menaikkan nada bicaranya. Matanya terbuka lebar namun sedetik kemudian mata itu memancarkan keraguan. "Hanya saja ... aku hanya, aku hanya ..."
Kedua bola matanya menghindari tatapan Naruto. Hinata berpikir keras untuk menemukan alasannya. Sekiranya alasan yang bisa Naruto terima. Tapi sekeras apapun ia memikirkannya, memang terlihat Hinata mengabaikan perintah Naruto, bukan? Jadi tidak ada kata yang tepat bagi Hinata untuk menjawabnya. Sial.
Hinata memasang senyum termanisnya, "Sudahlah. Apa kau takut karena ancaman ayahku? Lagi pula aku tidak apa-apa 'kan? Jadi kau tidak perlu cemas lagi, Naruto."
Pandangan mata Naruto menajam. Pegangan pada tali kemudinya mengerat. Ucapan Hinata baru saja menambah kekesalannya. Apa Hinata tidak menyadari betapa kalutnya semua orang karena sosoknya menghilang? Betapa cemas dirinya saat tahu perempuan ini tidak ada. Apa ia tidak menyadarinya?
Dan sekarang Hinata menganggap rasa cemasnya karena ancaman Kaisar padanya? Hanya sebatas itu? Sudah jelas sekali ia tidak peduli tentang ancaman itu! Ia bahkan tidak pernah mengingatnya!
Apa Hinata tidak bisa sedikit saja mengerti betapa penting dirinya untuk Naruto? Betapa berharganya dia untuk Naruto, hingga Naruto pun rela mempertaruhkan nyawanya hanya demi Hinata? Apa perempuan itu tidak bisa mengerti!
Merasa tidak mendapat tanggapan dari pria kuning itu, senyuman di wajah Hinata memudar. Hinata mendengus kecil karena Naruto kembali memfokuskan tatapannya ke depan. Kenapa Naruto seakan menjelma menjadi Naruto yang lain hari ini? Naruto yang tidak memedulikannya. Naruto yang tidak bisa Hinata mengerti.
"Jadi kau tidak marah padaku lagi 'kan?" tanya Hinata pelan. Bagaimanapun ia perlu meyakinkan dirinya sendiri.
"Apa aku berhak untuk memarahimu, Hinata-sama?"
"Apa-apan barusan!" protes Hinata kesal. Emosi pun terlihat jelas dari raut wajahnya. Ucapan itu terasa dingin untuk Hinata.
"Kau tahu, aku tidak suka kau memanggilku seperti itu!" Dan kekesalannya bertambah karena Naruto tidak menatap dirinya. Bahkan melirik pun tidak. Benar, ini pasti bukan Naruto yang ia kenali. Naruto yang ia tahu sedang tidak ada di sini.
Sudah cukup. Kekesalan Hinata sudah tidak bisa ditawar lagi. Jika memang Naruto tidak ingin berbicara padanya, maka Hinata juga akan melakukannya. Dengan senang hati ia akan melakukan hal yang sama. Memangnya hanya pria itu saja yang bisa melakukannya? Huh.
Dan setelahnya tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara untuk memecah keheningan. Keduanya hanya diam. Bergelut dengan pikiran masing-masing sampai tiba di peternakan kuda, tempat mereka meminjam kedua kuda putih itu.
Mereka lantas segera mengembalikannya dan berjalan kembali menuju kendaraan istana. Langit pun sudah mengganti warnanya. Pertanda acara puncak festival akan segera berlangsung. Jalanan yang tadi begitu padat kini sedikit merenggang karena parade patung telah usai.
Tak jauh di depan mereka kini sudah tampak barisan pengawal kuda yang masih setia duduk di atasnya. Mereka lantas segera turun saat melihat sosok yang tidak asing bagi mereka datang mendekat.
"Naruto-sama! Hinata-sama!" Semua pasukan membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Diikuti oleh beberapa pengawal yang berjaga di belakang kereta. Kelegaan sudah terpampang di wajah mereka. Beberapa bahkan tidak sadar sudah tersenyum melihat Putri Hyuuga dan ketua mereka yang dalam kondisi baik-baik saja.
"Segera pesan sebuah penginapan terbaik di desa ini. Kita akan melanjutkan perjalanan kembali besok," perintah Naruto pada salah satu pengawal yang bertugas untuk mengurusi segala keperluan perjalanan.
Pria berambut biru itu segera menundukkan badannya, "Baik, Naruto-sama!" Dan berlalu pergi menjalankan perintah Naruto.
"Tolong obati perempuan itu. Dia dan laki-laki itu telah membantu menyelamatkan Putri Hyuuga," perintah Naruto lagi pada pria berkacamata. Tabib terbaik yang ia bawa.
"Hari ini mereka adalah tamuku. Jadi, berikan pelayanan yang terbaik untuk mereka," sambung Naruto sembari menatap semua anak buahnya tegas.
"Baik, Naruto-sama!" jawab mereka serempak.
"Dan kalian!" Mata Naruto langsung tertuju pada dua orang pengawal.
Sepertinya kelegaan tidak bisa hilang dari dua orang penjaga yang masih berdiri tegak di depan kereta kuda Hinata. Tangan mereka bergetar saat tahu Naruto segera berjalan menuju ke arah mereka. Kepala mereka menunduk karena takut menatap mata biru itu.
"Kepergian Putri Hyuuga adalah akibat dari kelalaian kalian. Walau Putri Hyuuga berhasil kembali dengan selamat, kalian tetap harus menerima hukuman dari kesalahan kalian!"
"Tunggu, Naruto!" Hinata yang sedari tadi diam langsung berdiri tepat di belakang Naruto. Satu tangannya berusaha menarik tangan Naruto agar berbalik menatap dirinya.
"Mereka tidak salah! Aku yang salah. Aku yang meminta mereka untuk tidak mengikutiku. Aku yang memaksa mereka untuk menuruti perintahku! Aku, aku yang salah!"
"Anda tidak salah Hinata-sama," ucap Naruto sembari sedikit menundukkan kepalanya.
"NARUTO!" Genggaman Hinata menguat. Suaranya bahkan ia bebaskan keluar mencapai oktaf tertingginya. Sikap Naruto saat ini benar-benar kelewatan. Siapa pria ini? Siapa pria yang sekarang ada di hadapan Hinata?
"Hentikan!" ucap Hinata tajam membuat seluruh pengawal yang berada di sana bergidik ngeri. Mereka serempak langsung menundukkan wajah mereka. Sedangkan Sasuke dan Sakura hanya diam menyaksikan pemandangan itu.
"Kalau kau memang marah, marahlah padaku! Marahi aku! Jangan seperti ini ... kau menyakitiku!"
"Lalu, apa hanya kau yang bisa melakukan hal sesuka hatimu? Mengatasnamakan kekuasaan hingga kau berhak melakukan hal yang kausukai? Aku sudah menuruti permintaanmu untuk mengurangi penjagaan, karena aku percaya padamu! Tapi kau tidak menuruti permintaanku untuk tetap tinggal."
Naruto menggeram sesaat. Tatapan mata itu, Naruto tidak bisa melihatnya. Emosi yang semula terlihat jelas di mata Hinata langsung lenyap. Bola mata itu bergetar dan Naruto mampu melihat ada sedikit genangan air di sana. Bahkan Naruto mampu merasakan tangan Hinata yang bergetar. Ia tahu saat ini perempuan itu sedang mencoba menahan tangisannya. Tapi, ia tidak bisa lagi menahan semua kekesalannya. Yang ia lakukan saat ini hanya ingin agar Hinata mengerti. Bahwa tidak mudah untuk menyepelekan semua hal.
"Apa kau pikir nyawamu hanya berpengaruh untukmu saja? Apa kau pikir jika hal buruk menimpamu, mereka bisa hidup tenang? Apa kau memikirkannya? Coba kau pikirkan apa yang terjadi jika kau tidak kembali dengan selamat? Mereka juga memiliki keluarga yang menunggu kepulangan mereka! Apa kau pernah pikirkan itu?"
Hinata mengigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kata-kata Naruto barusan seperti menamparnya keras. Kata-kata Naruto menusuk tepat pada perasaannya. Benar. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Bahkan terlintas pun tidak. Ia tidak pernah memikirkannya sejauh itu.
"Jika orang lain yang bertugas mengawasimu saat ini, kau tahu apa yang terjadi pada mereka 'kan? Hukuman apa yang akan mereka dapatkan? Di sini, semua orang di sini, termasuk dirimu adalah tanggung jawabku! Lalu kau bilang, aku hanya takut karena ancaman Kaisar padaku."
Naruto menghentikan ucapannya. Tatapan matanya berubah, mata birunya kembali tenang. Ia menghela napasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "Kau tahu, aku sangat mencemaskanmu. Aku takut ... aku takut tidak bisa melindungimu."
Hinata segera melepaskan genggaman tangannya. Kini kedua tangannya sudah menutupi wajahnya. Hinata tidak sanggup lagi untuk menahan air matanya, "Maafkan aku. Naruto, maafkan aku hiks ... Maaf."
Semua pengawal yang berada di sana segera menyingkir. Tanpa adanya perintah, mereka sudah paham bahwa mereka tidak pantas untuk terus berada di sana. Termasuk Sasuke dan juga Sakura. Kedua insan itu mengikuti ajakan tabib yang ditunjuk Naruto untuk mengobati Sakura.
Meski sebenarnya mereka tahu Naruto tidak pantas untuk membentak Hinata karena kedudukan mereka, tapi semua orang di istana sudah mengetahui kedekatan mereka. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Hinata lebih mendengar kata-kata Naruto dibanding ayahnya. Bahkan Kaisar Hyuuga sendiri juga tahu mengenai hal itu.
Sesungguhnya, Naruto tidak benar-benar marah apalagi berniat menghukum kedua pengawal itu. Terlebih untuk membentak Hinata. Tidak, Naruto sama sekali tidak ingin melakukannya. Tapi adakalanya Hinata memang harus mengerti sebuah tanggungjawab besar.
Kedudukan yang dipunyainya. Status yang ia miliki. Ia harus tau itu semua. Naruto ingin Hinata sadar akan hal itu.
"Aku harap kau bisa mengerti. Maafkan aku, Hinata," ucap Naruto pelan tepat di telinga kanan Hinata. Ya, Naruto sudah memeluk Hinata. Membawa perempuan itu ke dalam dekapannya. Hal yang biasa ia lakukan jika Hinata menangis, terlebih kali ini Hinata menangis karena dirinya.
Hinata menggelengkan kepalanya. Bersamaan dengan itu kedua tangannya juga berpindah melingkar di pinggang Naruto. Meresapi dekapan hangat dari pria ini. Dekapan penuh kasih sayang. Inilah Naruto yang ia kenali, "Aku yang salah. Maafkan aku. Aku sudah menyakitimu."
Sebuah senyuman mengembang di wajah Naruto, walau masih ada isakan keluar dari mulut Hinata karena tangisannya yang belum terhenti. Disandarkan pipi Naruto pada kepala Hinata hingga beberapa helai rambutnya terasa menggelitik. Baru saja satu tangannya menempel di kepala Hinata dan berniat untuk membelai pelan rambutnya. Hinata sudah terlebih dahulu menengadahkan kepalanya.
"Lain kali, jangan diam saja seperti tadi." Matanya yang masih basah oleh airmata itu bertemu dengan mata Naruto. Namun sedetik kemudian Hinata kembali menenggelamkan wajahnya di dada Naruto, "Dan aku tidak suka kau memperlakukan aku seperti itu—seperti Tuan Putri. Kau sudah berjanji padaku dulu untuk memperlakukanku seperti sahabatmu."
Naruto menganggukkan kepalanya sembari bergumam rendah. Mata birunya kembali sayu. Sungguh, ucapan Hinata sangat menyakiti dirinya. Mengapa perempuan ini tidak bisa melihat perasaan Naruto yang sesungguhnya?
Harus sampai kapan ia bertahan seperti ini?
Setelah Hinata merasa puas menangis, ia pun segera melepaskan pelukan itu. Tak lupa ia kembali menampilkan senyum termanisnya pada Naruto, yang juga dibalas senyuman kecil oleh Naruto. Mereka mulai melangkah menghampiri sekumpulan pasukan yang berdiri di belakang kereta kuda, termasuk dengan Sasuke dan juga Sakura.
Hinata segera bergegas meminta maaf kepada dua pengawal itu. Sedangkan pengawal yang diminta oleh Naruto untuk mencari penginapan langsung memberikan laporannya pada Naruto. Sesuai dengan perintah Naruto, mereka segera bergegas menuju penginapan terbaik di desa itu.
...
Sang tabib memulai mengobati luka Sakura. Dirobeknya lengan baju Sakura agar mempermudah untuk membersihkan lukanya. Sakura meringis dengan satu mata yang ikut terpejam kala lukanya tersentuh akibat perih yang dirasanya.
Sedangkan Sasuke saat ini memilih berada di luar. Duduk di depan ruangannya yang berseberangan dengan ruangan Sakura. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Kepalanya sedikit menunduk, meski begitu saat ini mata hitamnya tidak terfokus pada apapun.
Pikirannya sedang melayang jauh. Memikirkan tentang peristiwa penculikan Putri Hyuuga. Awalnya ia sangat yakin bahwa Itachi sendiri yang menculiknya, namun tidak ada sosoknya di antara para pelaku. Lalu siapa mereka? Apakah mereka bawahan Itachi? Apakah penculikan ini ide Itachi?
Lamunannya terhenti saat Sasuke mendengar langkah kaki yang mendekat. Kepalanya menoleh ke asal suara dan mendapati Putri Hyuuga berdiri dengan pakaian tersampir di salah satu tangannya.
Sasuke lantas berdiri dan menundukkan kepalanya singkat. Hinata pun balas melakukan hal yang sama, yang disusul dengan senyuman di wajahnya. Tepat seperti yang diperkirakannya. Pria itu hanya diam. Tidak seperti Naruto yang selalu membalas senyum Hinata. Pria itu hanya menatapnya datar.
Hinata masih ingat betul, tanpa banyak bicara pria itu langsung mengangkat tubuh Hinata dan menaikkannya ke kuda. Melihat Hinata pun tidak. Bahkan pria itu langsung turun dan pergi begitu saja. Menggabaikan dirinya. Apa ia tidak tahu kalau perempuan yang ditolongnya adalah seorang putri?
Kebanyakan pria akan menatap kagum padanya atau merasa segan dengannya. Pengecualian untuk Naruto seorang. Tapi tidak dengan pria ini. Jujur saja, baru kali ini Hinata menemukan pria seperti ini. Tidak memandang siapa dirinya. Mungkin juga tidak memedulikannya, tapi entah mengapa Hinata merasa tertarik. Pria ini ... menarik.
"Terima kasih, uhm ..."
"Sasuke," ucap Sasuke yang mengerti maksud Hinata yang menggantungkan ucapannya.
"Terima kasih, Sasuke-san," lanjut Hinata sembari terus memasang senyumnya.
Hening. Tidak ada sahutan dari Sasuke seperti yang diharapkan Hinata. Tatapan matanya pun masih tetap sama. Tidak ada emosi yang Hinata temukan di mata hitam itu. Tidak seperti saat mereka menyusul Naruto. Ada kecemasan tergambar jelas di mata itu. Apa ini karena Sakura? Apakah Sakura adalah kekasihnya?
"Maukah kau menjadi pengawalku?" tanya Hinata antusias.
"Kupikir kau sudah mempunyai pengawal yang sangat bisa diandalkan." Sasuke bukan tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia hanya masih merasakan adanya kejanggalan pada permintaan Putri Hyuuga barusan.
"Tentu saja. Naruto memang sangat hebat. Hanya dia yang berani menentangku bahkan memarahiku, tapi tidak dengan puluhan pengawal yang lainnya. Dan kau sama seperti Naruto, kau pasti juga berani untuk menentangku."
Hinata tetap mempertahankan senyumannya sembari menunggu balasan Sasuke. Namun pria itu masih saja diam. Seakan ucapan Hinata belum memuaskannya. Belum bisa membuat pria itu mengerti tujuan Hinata.
"Sebenarnya ini sebuah rahasia tapi aku akan memberitahukannya padamu. Seseorang mengincar nyawaku. Itachi Uchiha, seingatku itu namanya. Awalnya kupikir itu hanyalah kabar angin tapi, setelah insiden tadi Naruto pun sadar kemungkinan kabar itu adalah benar. Jadi kupikir menambah jumlah pengawal saat ini adalah jalan keluar yang baik, dan kulihat kau sama hebatnya seperti Naruto."
"Apa pengawalmu menyetujuinya? Maksudku, laki-laki yang bernama Naruto itu."
"Tentu saja. Ia pasti menyetujuinya." Hinata mengangguk yakin, "Karena dengan begitu Sakura akan menemaniku di dalam kereta dan aku tidak akan kesepian lagi. Jadi Naruto pasti akan menyetujuinya."
Sasuke tidak langsung membalas ucapan Hinata. Pikirannya kembali melayangkan berbagai pertanyaan. Salah satunya adalah haruskah ia melibatkan Sakura dalam misi balas dendamnya?
Belum juga ia menemukan jawaban dari pertanyaannya. Matanya segera berpindah saat mendengar suara pintu yang terbuka. Pintu yang Sasuke yakini adalah ruangan tempat Sakura berada. Mata hitamnya menangkap sosok tabib dan juga Sakura beranjak keluar dari ruangan itu.
Hinata melihatnya. Mata hitam itu tidak lagi datar. Ada emosi terpancar jelas di sana. Ada berbagai perasaan yang sedang ia coba sembunyikan. Apa-apaan itu! Apa dia tidak menarik untuk pria di depannya ini?
"Apa jawabanmu, Sasuke-san?" tanya Hinata tegas. Laki-laki di hadapannya ini membuat ia kesal. Hanya dia yang berani memperlakukan Hinata seperti ini.
Sasuke kini menatap Hinata kembali. Dan Hinata benci mengakuinya. Mata hitam itu tidak lagi memancarkan perasaan apapun ketika mereka bertemu pandang.
"Aku harus tahu bayaran apa yang akan kudapatkan," jawab Sasuke datar.
"Ah, mengenai itu. Kau bisa sebutkan apa saja yang kauinginkan, kau bebas me—" Hinata menyipitkan kedua matanya. Memandang tak suka pada Sasuke yang kembali melirikkan matanya. Mata hitam itu kembali menatap ke arah Sakura. Jadi benar Sasuke adalah kekasih Sakura?
"Sasuke-san. Aku sedang berbicara padamu!" Hinata sengaja menaikkan nada bicaranya.
"Dan aku mendengarkannya," balas Sasuke dingin. Sama seperti tatapannya sekarang.
"Apa kau tidak tahu tata krama? Kau harus melihat pada orang yang mengajakmu berbicara, Sasuke-san. Apa ada sesuatu yang menarik perhatianmu?"
Mata hitam itu menajam, "Apa yang menarik bagi saya sepertinya juga bukan menjadi urusan Anda. Hinata-sama." Ada penekanan pada saat Sasuke menyebut nama Hinata.
Perempuan di depannya telah sukses menambah kekesalan Sasuke. Pasalnya, mata hitamnya langsung bereaksi saat tahu Sakura sedang bertegur sapa dengan seorang pria. Yang lebih tepatnya adalah Naruto.
Ada rasa tidak suka saat melihat Sakura tersenyum untuk orang lain selain dirinya. Terlebih pria kuning itu pernah menolongnya. Ada rasa keingintahuan yang besar pada diri Sasuke mengenai pembicaraan mereka. Kuso!
"Lalu apa keputusanmu? Katakan!"
"Mengenai bayarannya, aku rasa pengawal Anda harus mengetahuinya. Aku harus mendapatkan persetujuannya."
"Naruto? Kenapa? Bukankah sudah kukatakan dia pasti menyetujuinya."
"Kupikir, aku tidak perlu mengulangi ucapanku lagi."
Hinata mendengus kecil. Pria ini benar-benar dingin, "Baiklah, kita bicarakan hal ini dengan Naruto."
Sasuke kembali menolehkan kepalanya untuk menatap Sakura sebelum memulai untuk berjalan mengikuti Hinata. Entah mengapa Sasuke bisa merasakan panas di seluruh tubuhnya. Ia merasa terbakar. Ia tidak bisa tenang. Ia kesal. Sungguh perasaan ini membuatnya sangat tidak nyaman.
Hinata juga baru menyadarinya. Naruto dan Sakura sedang berbincang diiringi senyuman dari keduanya. Apa yang sedang mereka bicarakan? Mengapa rasanya Naruto terlihat begitu menikmati perbincangan itu? Apa memang Sakura juga lebih menarik bagi Naruto? Menyebalkan! Naruto baka!
"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Naruto tepat setelah tabib itu pergi meninggalkan Sakura sendirian.
Sakura yang sedikit terkejut segera membalikkan tubuhnya, dan mendapati sosok Naruto tersenyum padanya.
"Lukanya tidak dalam, jadi beberapa hari akan hilang," jawab Sakura yang kemudian balas tersenyum.
"Baguslah. Sepertinya aku belum mengucapkan terima kasih padamu karena kau sudah menolong Hinata."
"Anda juga telah menolong saya. Seharusnya saya juga berterima kasih pada Anda, Naruto-sama," ucap Sakura dengan sedikit membungkukkan badannya. Bagaimanapum pria di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan.
Ia sendiri terkejut saat tahu perempuan yang ditolongnya adalah seorang putri. Ia memang mengetahui kaisar mereka memiliki putri yang sangat cantik, namun Sakura sama sekali tidak pernah mengetahui wajahnya.
"Hei ... tidak perlu seformal itu, Sakura. Dan panggil saja aku, seperti aku memanggilmu."
Sakura menatap tak percaya. Bagaimana pria ini mengetahui namanya? Rasa-rasanya ia tidak pernah memberitahunya? Ataukah Hinata yang memberitahu pria ini?
Naruto yang menyadari tatapan mata itu segera mengeluarkan suaranya kembali, "Ah, aku mengetahuinya saat pria itu meneriakkan namamu, dan sebenarnya dia juga yang menyuruhku untuk menolongmu karena keadaan saat itu tidak menguntungkannya."
Naruto menggaruk kepalanya sembari tertawa kecil. Naruto sedikit merasa kikuk karena merasa tidak sopan. Sakura yang tadinya diam juga mulai ikut tertawa kecil.
"Jika kau butuh pertolongan, jangan sungkan untuk memintanya padaku. Aku dengan senang hati akan membantumu, Sakura."
Sakura mengangguk dengan senyuman di wajahnya, "Terima kasih, Naruto."
"Sakura ..." Teriak Hinata yang langsung mengapit lengan Sakura yang tidak terluka. Senyuman lebar menghiasi wajahnya.
"Ah, Hinata-sama!" Sakura melonjak kaget dan berniat untuk segera memberi hormat pada Hinata. Namun Hinata langsung menahan tubuh Sakura.
"Tidak ... tidak, kau tidak perlu memanggilku seperti itu, Sakura. Cukup dengan Hinata saja," ucap Hinata yang kemudian melepaskan tangan Sakura.
"Aku membawakan pakaian untukmu. Aku dengan senang hati akan memakaikannya, jadi kau tidak boleh menolakku. Mengerti!" Satu tangan Hinata mengangkat kimono merah muda yang dibawanya. Tak lupa senyuman senang tercetak jelas di wajahnya.
"Dan Naruto, bolehkah aku tidur bersama Sakura malam ini?" tanya Hinata dengan tatapan memohon yang ia tunjukkan khusus pada Naruto.
Tanpa pikir panjang lagi Naruto langsung menganggukkan kepalanya, yang segera disambut teriakan penuh kebahagiaan dari Hinata. Naruto tahu, Hinata tidak pernah memiliki teman selain dirinya. Bukan karena tidak ada yang ingin berteman dengan Hinata, tapi semua orang yang dikenalinya ingin berteman karena status yang dimiliknya. Jadi Naruto paham benar bahwa Hinata sudah memilih Sakura menjadi temannya, karena memang Sakura mau menolong dirinya tanpa memandang siapa itu Hinata.
"Ah, satu lagi. Boleh 'kan jika Sasuke menjadi pengawalku?"
Pertanyaan Hinata berikutnya membuat kedua alis Naruto sedikit mengerut. Sepertinya permintaan Hinata kali ini sedikit berlebihan.
Hinata segera menggenggam satu tangan Naruto, "Kau kan yang bilang sendiri padaku bahwa Itachi orang yang berbahaya. Jadi, bukankah itu bagus jika menambah jumlah pengawal. Lagi pula aku akan merasa aman jika Sakura berada di dalam kereta bersamaku. Boleh, kan?" Hinata sedikit mengecilkan suaranya saat meminta persetujuan Naruto.
Naruto menghela napasnya pelan. Kenapa Hinata bisa terlihat begitu menggemaskan sekarang? Sial. Tapi apa yang diucapkan Hinata ada benarnya. Selain Sasuke memang terlihat hebat, Sakura juga bisa menemani Hinata selama perjalanan. Setidaknya ia tidak merengek terus kepadanya.
"Baiklah. Apa mereka sudah menyetujuinya?" tanya Naruto yang kini menatap ke arah Sakura dan Sasuke yang berada tepat di depannya.
"Kau setuju 'kan, Sakura?" Tanya Hinata yang ikut menolehkan kepalanya.
"Aku mengikuti apapun keputusan Sasuke-san." Secara bersama Sasuke dan Sakura saling menatap sejenak.
Hinata bersorak riang kembali. Toh, Sasuke pasti akan menyentujuinya, "Terima kasih, Naruto." Dan saking senangnya, Hinata langsung mengecup pipi Naruto. Ia bahkan tidak sadar ada dua orang selain mereka saat ini.
Hinata segera menarik tangan Sakura, "Ayo, aku akan memakaikan pakaian ini."
Sakura tidak bisa berkutik lagi. Ia hanya bisa pasrah mengikuti ke mana Hinata membawanya pergi. Matanya sempat menatap Sasuke sesaat, yang kebetulan saat itu Sasuke juga sedang menatap ke arahnya. Mata mereka kembali bertemu, mereka sama-sama tidak melepaskan pandangan mereka sampai sosok Sakura benar-benar menghilang.
Naruto sendiri sedang berusaha menghilangkan rona merah pada wajahnya. Satu tangannya sudah bertugas menutupi wajahnya. Kepalanya menggeleng sebentar. Bisa-bisanya jantungnya langsung berdebar kencang hanya karena itu.
Dan setelahnya pandangan mata kedua pria itu bertemu, di mana rona merah di wajah Naruto juga telah hilang.
"Jadi, kau menyetujuinya?" tanya Naruto dengan keseriusan.
Sasuke mengangguk singkat, "Asal kau memberikan bayaran yang kuinginkan."
"Apa itu?" Mata birunya berusaha membaca pria di depannya.
"Itachi Uchiha. Aku yang akan membunuhnya. Aku yang harus membunuhnya!"
Naruto terkejut ketika mendengar nada bicara Sasuke yang menyiratkan rasa benci yang begitu dalam. Sangat berbeda dengan pria yang ia temui beberapa waktu yang lalu, pria yang bekerja sama dengannya. Mata hitamnya begitu gelap. Menyiratkan keinginan membunuh yang begitu kuat. Pria ini, mengapa sangat membenci Itachi? Apa yang membuatnya ingin membunuh Itachi?
"Dan kau tidak perlu tahu apa alasannya," sambung Sasuke.
"Tugasku hanya melindungi Hinata. Kalau kau memang berminat untuk membunuh Itachi Uchiha, bukankah itu menguntungkanku? Tentu saja, aku menyanggupinya. Tapi perlu kauingat, tugas utamamu juga melindungi Hinata," ucap Naruto tegas.
...
"Waaah, kau cantik sekali. Sesuai dengan perkiraanku, kalau pakaian ini pasti sangat cocok untukmu." Mata Hinata berbinar melihat hasil kerja kerasnya mendandani Sakura. Ia memakaikan kimono bercorak bunga sakura, lalu merapikan rambutnya dan juga menghiasnya dengan jepit rambut miliknya.
"Bagaimana? Kau suka dengan pakaian ini?" tanya Hinata dengan penuh rasa bangga.
Sakura mengangguk ragu, "Pakaian ini sangat indah, hanya saja ... Aku lebih nyaman menggunakan pakaian lamaku."
Melihat senyum Hinata yang memudar, Sakura lantas membungkukkan badannya. "Maaf, aku tidak bermaksud menolaknya. Tapi pakaian ini membatasi gerakanku, dan dengan begitu aku akan sulit menjagamu."
Perlahan-lahan Hinata kembali menampilkan senyumannya, "Kau benar. Aku tidak memikirkannya sejauh itu. Tapi pakaian lamamu sudah tidak layak untuk dipakai."
Secara bersamaan Hinata dan Sakura sama-sama menatap pakaian Sakura yang tergeletak di lantai. Dan memang benar, pakaian itu tidak bisa lagi Sakura kenakan.
"Besok aku akan meminta Naruto untuk membelikan pakaian yang baru untukmu. Jadi sementara ini kau pakailah kimono itu."
"Terima kasih banyak, Hinata."
Hinata segera menggelengkan kepalanya, "Aku yang seharusnya mengatakan itu padamu. Kau terluka karena melindungiku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku saat ini seandainya kau tidak datang menolongku."
Kedua tangan Hinata kini menggenggam erat tangan Sakura, "Terima kasih, Sakura. Mulai saat ini kita adalah teman 'kan?"
Sakura mengangguk sembari membalas senyuman Hinata. Tangannya pun ikut menggenggam erat tangan Hinata, "Dengan senang hati, Hinata."
"Padahal kau sangat cantik memakai pakaian ini. Pantas saja Sasuke tertarik denganmu. Beruntung sekali Sasuke mempunyai kekasih secantik dirimu."
Sakura menggelengkan kepalanya cepat, "Dia bukanlah kekasihku."
"Benarkah?!" Kedua alis Hinata mengerut. Padahal Hinata bisa dengan jelas melihat banyak emosi pada mata hitam Sasuke saat menatap Sakura. Hanya menatap Sakura. Tidak mungkin ia salah.
"Lalu apa kau menyukainya?" tanya Hinata yang kemudian melihat rona kemerahan di wajah Sakura. Matanya berkedip beberapa kali untuk menyakinkan apa yang dilihatnya. Dan kemudian muncullah seringai di wajah Hinata.
"Kau menyukainya, ya," ucap Hinata yang sedikit memajukan wajahnya. Menatap Sakura dari jarak yang dekat. "Kalian ini pasangan yang bodoh, ya!"
"Cepat kau temui dia. Dia pasti akan bertekuk lutut melihatmu dengan pakaian ini, Sakura!" Hinata menyikut pelan tangan Sakura.
Wajah Sakura memerah sempurna sehingga suara tawa meluncur dari mulut Hinata karena melihatnya.
"Percayalah padaku," ucap Hinata sembari mengedipkan mata kirinya.
Hinata bergegas memutar tubuh Sakura dan kemudian mendorongnya keluar ruangan, "Ayo, cepat!"
"Tu- tunggu!"
Namun Hinata langsung menutup pintu ruangan itu tepat saat Sakura sudah berada di luar. Ia hanya tersenyum tipis saat Sakura memanggil namanya. Namun perlahan senyuman itu memudar, matanya tidak lagi berbinar.
Satu tangannya berpindah menyentuh dada bagian kirinya. Ia sudah mengakui bahwa Sasuke itu adalah pria yang menarik. Hinata pikir hanya sebatas itu. Apa ia sudah benar-benar jatuh cinta pada pria itu? Kalau tidak mengapa rasanya sedikit sakit di bagian dadanya. Rasanya seperti tertusuk. Perih sekali.
Jadi benarkah ia menyukai Sasuke? Jujur saja baru kali ini Hinata merasakannya. Selama ini tidak ada laki-laki yang bisa merebut perhatiannya. Tapi pria itu, Sasuke, jelas berbeda. Hinata merasa tertarik untuk bisa mendapatkan perhatiannya. Pria yang juga telah menolongnya.
Tapi, ia tidak bisa. Ia sudah tahu pada siapa pria itu menaruh hatinya. Pada siapa pria itu memberikan perhatiannya. Satu-satunya wanita yang membuatnya berbeda. Dan wanita itu pun merasakan yang sama. Jadi, sudah tidak ada celah lagi untuk Hinata. Terlebih Hinata sudah menyayangi Sakura seperti saudaranya sendiri. Miris.
Baru kali ini merasakan jatuh cinta dan di saat yang sama, ia juga merasakan apa yang disebut patah hati.
Bersambung.
Curcul (Curahan Ucul) :
Haiii ^^
Ada beberapa yang panggil saya curcul nih, hanya ingin meluruskan. Jadi curcul itu cuma singkatan gaze saya aja… Ngak marah sih aku, cuma yang bener memang lebih enak (?)
Dan sebenernya juga kurang suka dipanggil senpai (Kebetulan di beberapa curcul aku udah pernah bahas juga). Kurang cocok aja buat ane hehehe. Lebih seneng dipanggil Kak (biar berasa muda hahaha) dan kurang suka juga dipanggil Thor (Soalnya saya bukan anggota Avenger yang ganteng itu loh, bawa2 palu lagi) :P
Saya tahu kalian pasti pengen nabok saya karena ngak ada adegan Sasusaku 'kan? Apalagi dominan oleh adegan Naruhina diawal. Yah, abisnya memang harus begitu eeeaaaaa… *dibejek* (Lari ke pelukan Taka)
Kan perlu juga membuat interaksi keempat orang itu. Biar akrab juga gitu mereka. Pokoknya gituh deh hahha. (Apaan sih cul!)
Oh ya, knp jadi banyak bgt yang minta adegan Kissu sih? Eeeeaaa… jgn terlalu mengharapkan adegan romance dari orang sejenis Ucul (yg kata ade saya, isinya jiwa action doank) Apalagi di sini ada genre crime juga, jadi ya gitu (kebanyakan gitu nih daritadi :s )
Sampe ketemu di chap depan ya dan sepertinya apa yang banyak kalian minta akan muncul di chap depan :p
Mohon maaf atas segala kekurangan yang ada ^^
23-05-15
.
[U W] – Istri sah Taka, One Ok Rock :p –
