Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

HestyEclair : Gpp, makasih loh udah nyempetin untuk ripiu ^^ dan makasih buat semangatnya ya ^^

Sasara Keik : Klo salah paham bener :D klo lupa ingatan dsb, chap ini terjawab kok hehe

Saki23 : Selamat datang kembali ^^ Duh, kasian Itachi dibilang kejam, istrinya nanti marah loh *tunjukHana* hehe, seneng deh kalau km nunggu Fic ini trs :D

Ikalutfi97 : Aiiihhh kamu mah bisa aja deh :p peganganlah biar ngak jatoh klo bingung hahaha, yah smoga chap ini dapat menjawab pertanyaanmu ya hihi Soal death chara, ada lah pasti hahahaa *ketawa jahat*

Fiiyuki : Boleh, cu-chan juga lucu hehehe, akunya juga manis kok haha *disembur*

BaekhyunsaranghaeHeni : Ya, amin. Smoga jalan yg dipilih selalu mandatangkan kebaikan buat heni ya ^^ dan smoga chap ini bs menjawab prtnyaanmu ya ^^

Yuie : Hihi klo untuk yg itu masih rahasia *bekepmulut* aku juga kangen *dilempar* makasih doanya, maaf telatnya jauh sekali nih huhuhu..

Nanajuka : Maaf ya aku telat update hehe

Fichan51 : Duh, genrenya ngak Cuma romens nih, klo udah konflik brarti romensnya berkurang hehehe, gpp ya ^^

Lady Hanabi : Hihi udh dikorek2 nih Itachinya ^^ dan dan itu masih rahasia hihi

Qren : Maaf ya aku lama update huhu

Anyva : Wah masa? Ngak nyangka aku hehe

KuroNeko10 : Ya, salam balik juga ya buat tmnnya y, mampir2 kesini ^^ makasih ya buat semangatnya

Gue : Chap ini lebih ngaret huhu ya, smoga smua urusannya bisa lancer terus ya hehe

Yoktf : Hihi yups ini next chapnya nih hehe

The DeathStalker : Hihi, doakan saja smoga ngak sad ending :p

Akiko Asami : Hihi ya, semoga Sakura ngak ninggalin Sasuke ya

Ayuniejung : Hihihi, smoga chap ini bisa menjawab kesalahpahaman mereka ya huhuhu

SS-Lovers4305 : Iya makasih ya nunggu SH terus ^^

Sagasar : Hooh, makin kesini mungkin banyakan bagian crime nya sih tp diusahakan seiring sejalan sama romensnya jg hohoh, makasih buat doanya ^^

NikeLagi : Lah emang mau dibunuh tai ngak jadi, untung ada Sakura haha

Ozora-chan : Duh, bisaan deh manggilnya, jadi mikir deh dipisahin apa engga ya hehehe

Mantika Mochi : Huehehe amin, smoga makin banyak yg suka ^^ dan makasih klo suka actionnya jadi semangat haha

Fa : Masa sih? Duh makasih banyak, jd seneng deh ^^ udah aku udah makan pisang, dan aku beneran BAB coba *curhat* duh bsk2 ngak mau ngomong gitu lagi ah hehehe

PinkyLover : Hahaha, smoga chap ini bisa ngilangin pensaranmu ya hehe

Jheincheyon : Gaara udah pny istri keles, namanya itu (baca deh gaara hiden :p) smoga kejawab di chap ini ya ^^

Suket alang-alang : Nah, silakan temukan jawabanya di chap ini hehe

Guest katalinane : Sayang, disini ngak ada lemonnya ^^. Aku ngak jualan lemon (Bukan tukang buah saya :p), aku jualan cerita action cmpur romens aja hehe smoga ttp suka ya ^^

Natheline Ichino : Hmmm ninggalin ngak ya? Yeah masih rahasia ha hahhahaa

Guest : Nah. Jawabannya ada di chap ini, silakan dinikmati ya ^^

Wowwoh Geegee : Hihihi aku ketawa km nulis gigit kunai, bisa aja dah haha yeahh ini makin ke konflik panas kok ^^

Lhylia Kiryu : Hooh haha, aku pecinta battle sih ciat ciat haha, kan depan2 udah minim bgt battlenya, jadi gantian hahhaa

Annisa Alzedy : Makasih udah suka adegan brantemnya dan, yah jawabanya ada di chap ini ^^

U know Yunjae : Hihihi,, silakan di nikmati chap ini smoga rasa penasaranmu terjawab ya hehe

Uchiha Viona : Makasih udah mau bersabar, maaf saya telat ^^

R : selamat datang di SH ^^ well, smoga sasusaku trs bersatu deh haha, makasih loh udah mereview ^^

Luluchai10 : Huahaha nih udah kupublish smoga suka ya ^^ mksh trs nunggu crt ini hehe

Uchiha Ouka : Makasih ya ^^

Ironira : Hihi doakan saja smoga tidak sad ending ^^ usia sasusaku+naruhina sama sekitar 20-21 itachi +15 dr umur sasusaku

Dianandraha : Iya maaf bgt ya kali ini updatenya juga lama

Me : Aku jg seneng baca ripiumu, makasih ya maaf telat update T_T

6934soraoi : Ide pertarungannya, bikin sendiri sih haha mungkin udh kebanyakan ntn film action jd scra ngak lngsg mneginspirasi hohoho, aku jg ngak jago bikin romens huhuhu Hihihi gpp, apa aja asal jgn senpai sm author aja hohoho kaka ucul jg gpp hehe

Pink Ramen : Hihih ini chapternya ^^

Shita : Amin, smoga semuanya lancar jaya ya hehe

Eysha Cherryblossoms : Nice, jawabannya ada di chapter ini ^^

Younha RyotaSmile : Aminn, makasih ya ^^ maaf telat ya

Undhott : Maaf ngak bisa kilat huhu

Ciheelight : Makasih banyak ya ^^

Aiko Asari : Hooh aku jg mikir gitu, krn emang dy lebih deket sm ibunya deh di canonnya juga ya hehe

Hikaru Sora 14 : Iya makin rumit nih, dan maaf aku ngak bisa bls panjang tapi aku suka kok sm ripiumu. Pemikiran yang bagus ^^

Vanny-chan : Hmm klo asal usul Sakrua ngak sekarang, mungkin bbrp chap ke depan hehe

Gita Zahra : Hihi, semoga makin ke depna makin seru ya ^^

Hanazono yuri : Haha si Hana ngak ikhlas katanya untuk berbagi suami wkwkwkw

Istrinya Soujiro : Duh jd enak dipanggil gitu :p ya itachi bakalan sering eksis skrg hehe

Cherry Philein : Makasih ya ^^ maaf lama, salam saying juga dr istri sah Taka huehehe

Mira Cahya 1 : Hihihi makasih, selamat menikmati chap ini klo gitu ^^

Thasya Rafika Winata : Hihi bisaan aja dah kamu, takut abis, emang chiki hahaha makasih ya ^^

Santidwim : Maaf ngak kilat ya ^^

Misakiken : Hihi puyeng ya baca adegan brantemnya haha

Imphyslonely sugar : Makasih ^^

Chiakichi : Hihi aku kasih bocoran banyak deh di chap ini. Hahaha, Hanaruppi aja minta dipasangin sm Itachi disini aku ngak kasih wkwkwk biarin aja sm kaya diceritanya dia jomblo hohoho

Bos816 : Hmmm yah, will see. Blom bisa blg Itachi mati apa engga :P

Katsuya L : Hmmmm…. Diusahakan deh, tp nga janji hehehe, makasih udah ripiu ya ^^

Moikomay : Maaf ya moiko yg cantik aku updatenya telat hehehe

Masaaki Komori : Terimakasih smoga ttp suka trs sm SAsusaku dan suka trs sama SH ya ehehe semangat!

Meiko Fujiwara : Gpp makasih udah ripiu, hmmm rahasia donk,, jd ikutin trs crt SH ya ehehehe

Makasih untuk semua doa dan kata-kata yg bikin kita semangat dan ketawa bacanya ^^ maaf kalau ada yg terlewat ya *pelukatuatu*

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Di balik sebuah pohon yang menjulang tinggi, sesosok pria sedang mengigit sisi perban untuk mengikat simpul perban di salah satu tangannya yang terluka. Menutup luka di tangannya akibat belati milik seorang perempuan merah muda.

Ia menghela napas sembari menyandarkan tubuhnya. Matanya terpejam, bayangan kejadian siang tadi kembali berputar di kepalanya. Menampilkan dengan jelas sosok pria yang menjadi lawannya, sosok yang ternyata adalah adiknya sendiri.

Kenyataan yang baru ia saja ketahui, bahwa adiknya masih hidup. Adik yang baru satu kali ia temui dulu. Bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia. Bayi yang tertidur pulas di dalam gendongan wanita berparas cantik dan lembut, Mikoto Uchiha.

Ia masih ingat. Mikoto Uchiha, ibunya menyebutkan nama bayi itu dengan wajah penuh senyuman kebahagiaan.

"Dia Sasuke Uchiha. Adikmu yang harus kaujaganantinya."

Itachi terus mengingat dengan jelas bagaimana ia menyentuh kulit tipis pipi bayi kecil itu. Senyumnya merekah kala ia menatap wajah adiknya. Adik satu-satunya yang sangat ia sayangi.

Hingga akhirnya memori itu membuat wajah Itachi mengeras. Tepat sehari setelah adiknya lahir, rumah mereka hangus terbakar. Dengan wajah penuh air mata, Itachi berusaha untuk mencari sosok ibu dan adiknya. Sayangnya, tidak ada tanda-tanda keduanya masih hidup. Semuanya telah lenyap. Dua orang yang berharga dalam hidupnya telah tewas.

Di hari yang sama, ia telah kehilangan semuanya. Ayah, Ibu dan adiknya. Ia sendirian di dunia yang kejam ini. Semua kebahagiannya telah hilang. Tidak ada yang ia miliki lagi selain perasaan dendamnya, selain kebenciannya yang langsung membara. Setelah kebahagian telah direnggut paksa darinya. Keinginannya hanya satu. Membuat orang yang telah membunuh semua keluarganya harus merasakan hal yang sama. Merasakan penderitaan yang sama. Ya, semenjak itu Itachi bersumpah tidak akan mati sebelum ia bisa melihat orang itu menderita.

Namun kini, tiba-tiba saja muncul sesosok pria bernama Sasuke. Pria yang memanggilnya kakak. Jadi, adik kecil yang sangat ia sayangi masih hidup. Seulas senyum tipis mengembang di wajah Itachi. Ia tidak bisa memungkiri, ia dapat merasakan lagi apa yang disebut dengan perasaan bahagia. Untuk pertama kalinya, ia kembali tersenyum.

Ia bahagia. Teramat sangat bahagia. Namun luka kembali menghampirinya mengingat apa yang telah ia lakukan pada Sasuke. Ia jelas-jelas hampir membunuhnya. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya. Rasa sesal kini merasuk ke dalam benaknya.

Tapi, kenapa pria itu menyerangnya? Jika ia memang mengenal Itachi sebagai kakaknya, lalu kenapa Sasuke berniat membunuhnya? Kenapa?

Kenapa Sasuke memilih melindungi orang yang telah menghancurkan keluarga mereka?

Itachi bangkit. Rahasia ini. Rahasia gelap yang disimpan oleh pria berengsek itu. Kenyataan yang sesungguhnya harus ia beritahukan pada Sasuke. Kenyataan di balik kematian ayah mereka. Ya, Sasuke wajib mengetahuinya. Karena ia tidak seharusnya berada di pihak itu. Sasuke harus berdiri di pihaknya.

.

.

Beberapa tabib sedang sibuk mengobati luka para pasukan Naruto. Mereka semua saat ini sedang berada di salah satu penginapan terbaik di desa terdekat dengan lokasi kejadian itu. Sesampainya di desa, Naruto langsung meminta bantuan para tabib terbaik desa untuk membantu mengobati pasukannya yang terluka.

Sedangkan Sasuke yang mengalami luka cukup parah dirawat langsung oleh tabib istana. Di satu ruangan khusus, Naruto yang bersandar di dinding ruangan itu menunggu pemasangan perban terakhir pada tubuh Sasuke. Pria yang saat ini sedang terbaring mengistirahatkan tubuhnya.

Kedua tangan Naruto terlipat di depan dadanya. Punggungnya ia sandarkan di tembok dekat dengan pintu. Matanya terpejam seraya mengusir pertanyaan yang berkelebatandi dalam benaknya saat ini.

Mata biru itu kembali terbuka kala sang tabib sudah berdiri di depannya. Tabib itu membungkukkan tubuhnya sebelum meninggalkan ruangan itu.

"Terima kasih," ucap Naruto yang juga membungkukkan tubuhnya. Setelahnya tabib itu keluar, Naruto segera mendekati Sasuke yang juga berusaha untuk duduk di tepi ranjang.

"Aku tidak akan berbasa-basi padamu. Jadi, Itachi adalah kakakmu?" tanya Naruto yang memilih berdiri di depan Sasuke, yang duduk menghadap Naruto.

Kepala Sasuke menengadah untuk mempertemukan mata hitamnya dengan mata biru milik Naruto. Sasuke lantas melemparkan tatapan tak suka, "Bukankah sudah kukatakan? Kau tidak perlu mengetahui alasannya."

Naruto mendengus kesal, "Kau hampir mati tadi. Masih bisa bertingkah seperti ini!" protes Naruto ketus. "Katakan, apa saja yang kau ketahui tentang Itachi?"

"Tidak ada," jawab Sasuke singkat, yang mendapat delikan mata dari Naruto.

"Konyol," sahut Naruto disertai dengusan kecil, "Dia kakakmu, dan kau tidak tahu apapun tentangnya?" tanya Naruto tak percaya.

Sasuke hanya diam, matanya menatap malas pada pria di depannya. Pria yang kembali melempar pertanyaan padanya, "Jangan bilang bahwa kau juga baru pertama kali ini bertemu dengannya?"

Hening. Dan Naruto menganggap bahwa keheningan itu adalah jawaban 'ya' dari Sasuke. Pertanyaan yang semula sederhana kini berkembang menjadi besar di dalam benak Naruto.

"Lalu kenapa kau berniat membunuhnya?" tanya Naruto pelan, yang langsung mendapat tatapan kesal dari Sasuke.

"Aku tidak berniat mengurusi masalahmu dengan kakakmu, yang kubutuhkan adalah informasi mengenai Itachi. Pria yang berniat membunuh Hinata. Hanya itu," sambung Naruto cepat.

"Ceritanya terlalu panjang," jawab Sasuke malas.

"Kalau begitu singkatnya saja."

"Aku membencinya!"

Mata Naruto melebar dengan tangan yang juga terkepal kencang. Rasa-rasanya ia lebih baik bicara dengan batu daripada dengan pria ini. Karena batu jelas-jelas tidak bisa berbicara.

"Aku bisa saja menambah lukamu, Sasuke!" teriak Naruto kesal. Terlihat jelas di mata birunya.

Sasuke mendecih sebelum memutuskan untuk menjawab kembali pertanyaan Naruto, yang pastinya bukan karena ia takut dengan ancaman pria kuning barusan.

"Tepat sebelum kematian ibuku, aku juga baru mengetahui kalau aku memiliki seorang kakak laki-laki. Aku mencarinya. Namun kenyataan yang kuterima, ternyata ia adalah seorang buronan kaisar. Aku tidak mengerti dengan pilihan hidupnya, meninggalkan kami dan lebih memilih untuk merebut kekaisaran Hyuuga." Mata hitam Sasuke lantas berpindah menatap tangan kanannya yang diselimuti oleh perban.

"Apakah hal itu lebih penting daripada melindungi orang yang terpenting untuknya? Kecuali ... jika selama ini ia memang menganggap itu tidaklah penting. Karena itulah aku membencinya," sambung Sasuke yang juga mengepalkan tangannya kuat. Perasaannya kembali berkecamuk. Perasaan benci itu kembali membakar tubuhnya.

Pria itu. Itachi. Telah meninggalkan dia dan Mikoto, yang mana Sasuke juga telah mengetahui bahwa ia tidak memiliki seorang ayah yang seharusnya mendampinginya untuk tumbuh. Mengajari dan membimbingnya. Ia tidak pernah tahu bagaimana rupa pria itu, wajah dari ayahnya. Tapi semuanya terasa baik-baik saja sampai hari kematian ibunya dan orang-orang di sekelilingnya. Hal itu merenggut kebahagiaannya.

Sasuke benci berandai-andai. Karena dulu, saat ia mengetahui bahwa kakak laki-lakinya seorang buronan. Ia seketika juga berandai-andai, jika saja pria itu hidup bersamanya. Pasti ia bisa melindungi Ibu. Seandainya pria itu bersamanya, maka hidupnya tidak akan seperti ini. Lalu angan-angannya semakin besar dan membawanya menuju satu kesimpulan. Apakah ayahnya tewas karena Itachi? Karena keserakahannya? Pria bodoh yang lebih memilih menjadi buronan dan meninggalkan mereka hanya demi mendapatkan tahta kekaisaran?

"Dan semua informasi tentang Itachi kudapatkan dari kertas yang sering kalian sebarkan. Dari wajah dan juga harga yang tertera untuk kematiannya. Hanya itu."

Naruto dapat melihatnya. Kebencian yang menguar jelas dari Sasuke. Jadi, inikah alasannya berniat kuat untuk membunuh Itachi. Lalu, apa yang menjadi alasan Itachi untuk merebut kekuasaan Hyuuga seperti yang disebutkan oleh Kaisar selama ini? Sebegitu inginkah berkuasa dirinya sehingga meninggalkan semua orang di hidupnya?

Hening beberapa saat sebelum akhirnya Naruto yang memecah keheningan itu dengan suaranya.

"Dari pertarungan tadi sudah jelas sekali kau tidak bisa mengalahkannya."

Mata hitam itu memandang kesal Naruto, "Itu bukan urusanmu. Sudah kukatakan aku akan membunuhnya, maka apapun akan kulakukan meski harus mengorbankan nyawaku sendiri."

"Lalu bagaimana dengan Sakura?" tanya Naruto cepat, "Apa kau tidak memikirkannya?"

Mata hitam Sasuke segera berpindah, disertai helaan napas meluncur dari mulutnya. Tentu saja ia memikirkannya, tidak mungkin tidak. Tapi, membunuh Itachi adalah hal yang menurutnya wajib ia lakukan. Itu adalah tujuan hidupnya sebelum bertemu dengan Sakura.

Sasuke sadar betul, jauh di lubuk hatinya, ia ingin terus bersama Sakura. Hidup dengan melupakan keinginan membunuhnya. Hidup tanpa beban berat itu. Tapi, ia tidak bisa melupakan resiko yang harus ia hadapi kala berhadapan dengan Itachi. Resiko terburuk yang harus ia tanggung adalah kematian. Yang mana artinya ia harus siap jika harus berpisah dengan Sakura. Tapi ia tahu ... ia tidak menginginkan hal itu.

Terlebih sejak Sakura melindunginya dari Itachi. Ada perasaan yang tidak menyenangkan hadir dan terus mengusiknya. Perasaan kuat yang seakan mengatakan bahwa perempuan itu akan pergi. Sungguh, ia tidak ingin kehilangan perempuan merah muda itu. Sakura. Ia ingin terus bersama dengannya, dan perasaan itu semakin menguat. Maka, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa terus bertahan. Apapun yang terjadi.

"Lain kali, jika aku kembali melawan Itachi, bisakah aku memintamu untuk menjaga Sakura?" tanya Sasuke pelan, mata hitamnya kini menatap dalam pada Naruto. Tersirat permohonan di dalamnya, "Jangan biarkan ia melakukan hal seperti tadi."

"Aku bukan pengasuh, tapi aku bisa menahannya selama kau bisa memimpin pertarungan dengan Itachi. Kurasa ini adil, untukmu dan untuk Sakura juga."

Tepat setelah Naruto mengucapkan itu, seseorang mengetuk pintu ruangan Sasuke. Secara bersamaan kedua pria itu lantas menoleh ke asal suara. Naruto segera membuka pintu itu hingga menampilkan sosok Sakura yang sedikit terkejut.

Naruto tersenyum singkat, "Masuklah, urusanku juga sudah selesai."

Sakura mengangguk pelan sebelum sosok Naruto menghilang di balik pintu yang kini telah kembali tertutup.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sakura cemas. Ia bahkan tidak mampu untuk menutupinya, ditambah mata hijaunya kini melihat ke seluruh tubuh bagian atas Sasuke telah diselimuti oleh perban.

Sakura menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Sasuke, yang tidak juga melepaskan mata hitamnya dari Sakura. Mata berbeda warna itu bertemu. Mereka berpandangan sesaat sebelum akhirnya Sasuke memutuskan untuk menyandarkan kepalanya di bahu Sakura.

"Aku lelah," ucap Sasuke cepat sebelum ada satu kata keluar dari mulut Sakura.

Ia pejamkan kedua matanya. Menikmati setiap detik yang ia lakukan saat ini. Mencoba menghilangkan perasaan buruk yang kembali menghantuinya kala ia menatap mata hijau itu. Terlebih, bayangan masa lalunya juga turut kembali datang. Sungguh, ia lelah. Bukan hanya fisiknya, namun juga batinnya.

Sosok ini. Sungguh, betapa ia tidak ingin kehilangannya.

Hening. Dan tidak ada satu pun yang mencoba untuk menghentikan kesunyian itu. Bahkan Sakura dengan jelas merasakan embusan napas hangat Sasuke yang menerpa bahunya. Sangat teratur dan tenang. Apa pria ini tertidur?

Sakura yang semula hanya diam, perlahan mulai memberanikan diri untuk melingkarkan tangannya di punggung Sasuke. Ia sedikit memajukan wajahnya hingga ujung hidungnya menyentuh bahu Sasuke yang tidak tertutupi apapun. Ia hirup dalam-dalam wangi tubuh Sasuke, sembari mengelus pelan punggung itu.

Sensasi ini terasa begitu dalam ... dan juga menenangkan. Apakah Sasuke juga merasakannya? Apakah saat ini pria itu juga sedang menenangkan diri? Karena saat mata Sakura bertatapan dengan mata Sasuke, walaupun hanya sebentar Sakura dapat melihatnya. Perasaan kalut yang terpancar jelas di mata hitam itu.

Sakura sangat ingin menanyakannya. Rasanya ia sangat ingin mengambil beban itu dari pundak Sasuke. Mengenyahkan resah yang melandanya. Namun sepertinya Sasuke sama sekali tidak berniat untuk menceritakan apapun padanya.

"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Sakura pelan, yang terdengar seperti gumaman. Pertanyaan yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk mendapat jawaban dari Sasuke, karena sepertinya pria itu telah terbuai oleh mimpi.

Namun apa yang diperkirakan Sakura ternyata meleset. Pria itu, Sasuke, masih terjaga dan menjawab pertanyaan Sakura.

"Kau," jawab Sasuke, dengan posisi yang masih belum juga berubah. Namun sedetik kemudian, Sasuke langsung mengalungkan kedua tangannya. Memeluk erat pinggang Sakura. Mendekap tubuh Sakura posesif.

"Biarkan aku beristirahat, jadi diamlah," sambung Sasuke cepat sebelum Sakura mengeluarkan rentetan pertanyaan lainnya. Sasuke ingin seperti ini. Ia ingin terus seperti ini.

Sasuke ingin ... waktu terhenti saat ini juga.

.

.

Malam semakin larut. Naruto, satu-satunya pria yang tidak memiliki luka satupun di tubuhnya. Berjalan mengelilingi sekitar penginapan. Berjaga-jaga, mengingat serangan yang mereka dapat siang tadi membuat tingkat kewaspadaannya bertambah. Ia tidak ingin hal buruk datang di saat mereka sedang lengah. Lagi pula ia tidak juga bisa memejamkan kedua matanya. Jadi, tidak ada salahnya ia melakukan hal ini.

Ia mengambil ancang-ancang untuk mencabut pedangnya kala merasakan ada sosok yang datang mendekat. Semua orang yang telah terbuai oleh mimpi membuat penginapan ini terlampau sunyi. Sehingga Naruto dapat dengan baik mendengar bunyi di sekitarnya.

Sosok itu semakin mendekat, tepat berada di belakangnya. Ia segera berbalik dengan tangan yang sudah menarik katana-nya. Namun belum sempat pedang itu meninggalkan sarungnya, Naruto kembali memasukkan pedangnya. Ia menghela napas kecil saat mata birunya bertemu dengan mata hitam itu.

"Hampir saja aku menebas kepalamu," ucap Naruto yang kembali memunggungi Sasuke.

"Kenapa kau berkeliaran? Seharusnya kau beristirahat saja," tanya Naruto yang duduk dan menyandarkan punggungnya pada salah satu tiang kayu itu.

Sasuke pun mengikutinya, ia duduk di tiang satunya. Dan kini mereka duduk berhadapan, "Aku sudah cukup banyak beristirahat."

"Yah, sepertinya begitu. Aku bahkan tidak melihat Sakura semenjak ia masuk ke dalam ruanganmu. Kau menahannya hampir seharian."

Sasuke langsung menatap tajam Naruto. Sedangkan pria kuning itu hanya membalasnya dengan cengiran khasnya.

"Jangan salah paham. Hinata mencarinya. Aku bahkan harus menemaninya sampai ia tertidur karena Sakura tidak ada bersamanya."

"Bukankah itu menguntungkan untukmu?" tanya Sasuke dengan seringai mengejek di wajahnya.

Naruto mendengus kesal. Sialan! Ia kalah telak oleh ucapan pria itu.

Tiba-tiba sebuah pisau kecil melesat cepat dan menancap pada dinding tepat di tengah mereka. Mata kedua pria itu melebar dan bergegas berpindah menatap ke arah serangan itu berasal.

Di atas salah satu cabang pohon. Itachi berdiri dan menatap Sasuke. Pria itu muncul lagi! Rahang Sasuke mengeras. Kedua pria itu menyiagakan diri. Tangan mereka sudah menggenggam handle katana-nya.

"Naruto, ini urusanku!"

Mata biru Naruto melirik sesaat sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya singkat.

Pria itu melompat turun. Tanpa banyak kata Sasuke langsung berlari menghampiri Itachi. Ia angkat katana-nya tinggi, seakan siap membelah langit. Namun sayang Itachi berhasil mengelak serangan itu. Tebasan pedang Sasuke berhasil ditangkis.

"Tidak perlu repot-repot menguras tenagamu. Aku tidak berniat untuk membunuhmu, Sasuke."

"Lalu apa yang kauinginkan sampai repot-repot datang menemuiku?"

"Mendengar jawabanmu," jawabnya cepat. "Apa selama ini kau hidup bersama kaa-san?"

Sasuke tertawa sinis, "Kau masih mengingatnya? Kau masih mengingat wanita yang sudah melahirkanmu? Jadi, sekarang kau rindu padanya? Kau ingin menemuinya?"

Mata Itachi menajam. "Tidak pernah satu kalipun di dalam hidupku, aku melupakannya," jawabnya dengan nada serius.

Sasuke terbahak-bahak. Menganggap ucapan itachi adalah ejekan untuknya. Kemarahannya memuncak. Kebencian kembali menguasai dirinya. Satu pukulan telak mendarat di pipi Itachi. Pria itu terhuyung ke belakang, namun dengan cepat Sasuke mencengkram pakaiannya hingga kini wajah mereka berhadapan.

"Jangan membuatku tertawa, berengsek!" Teriak Sasuke, "Kaa-san tewas karena ulahmu!"

Kedua mata Itachi melebar. Tewas, karenanya?

"Awalnya kupikir pembantaian yang terjadi di desaku semata-mata karena keinginan untuk memperluas daerah kekuasaan. Namun setelah sekian tahun akhirnya aku mengetahui kebenarannya. Ternyata salah satu daimyo memberitahu petinggi kaisar kalau ia melihat Mikoto Uchiha, Kaa-san-mu tinggal di desa itu." Tangan Sasuke bergetar hebat. Matanya berkilat marah, namun terselip luka mendalam di mata hitam itu.

"Mereka membunuhnya. Mereka menguliti tubuh Kaa-san. Mereka menggantung tubuh itu kemudian membakarnya," sambungnya lirih.

Dan tanpa bisa dicegah lagi, air mata itu meluncur dari mata Sasuke. Luka itu kembali menyakitinya lagi. Luka masa lalunya.

"Mereka membalas caramu membunuh petinggi Kaisar. Kau berengsek, Itachi!"

Di balik pohon tempat Sasuke bersembunyi. Ia menyaksikan semuanya. Dari atas bukit itu, dia melihat tubuh ibunya dikerek dan digantung di salah satu pohon bersama dengan tubuh penduduk desa lainnya, yang mana Sasuke yakini ada tubuh Tou-san dan Baa-san di salah satunya.

Sasuke muntah, perutnya lantas mual. Kepalanya berdenyut nyeri menyaksikan pemandangan keji itu. Ia terus menangis kencang sembari memanggil nama ibunya hingga kesadarannya hilang.

Itulah yang membuat Sasuke membenci dirinya sendiri. Ia hanya bisa menangis menyaksikan kejadian itu tanpa bisa melakukan apa-apa. Tidak ada yang ia lakukan selain menangis. Lemah. Ia terlalu lemah dan terlalu takut. Ia tidak bisa menyelamatkan mereka.

Rahang Itachi mengeras. Ia merasa saat itu dadanya diremas kuat-kuat. Sangat kuat sehingga ia sulit menghirup udara di sekitarnya. Jantungnya bagai tertusuk ribuan jarum. Sungguh menyakitkan. Sangat sakit hingga tanpa terasa air mengalir di kedua pipinya. Keluar begitu saja dari kedua matanya.

Kenyataan lain yang kini ia ketahui. Ibunya tewas karena dirinya.

"Pergi selamatkan Kaa-san-mu dan Sasuke, Itachi. Tou-san titip mereka padamu, cepat pergi!"

Tenggorokannya tercekat. Panas dan menusuk. Seharusnya ia bisa melindungi mereka. Ia sudah berjanji waktu itu, tapi kini karena dirinyalah ibunya tewas. Karena dirinya.

"Kaa-san tewas karena dirimu dan kaubilang kau tidak pernah melupakannya? Jangan membuatku muntah karena bualanmu, berengsek! Kalau kau tidak pernah melupakannya lalu kenapa kau meninggalkannya?"

"Karena aku tidak tahu kalau kalian masih hidup," jawab Itachi dengan suaranya yang berubah serak.

Sasuke mengerutkan kedua alisnya, "Apa maksudmu?"

"Karena hari itu, aku tidak bisa menemukan kalian. Hari di mana Tou-san tewas di depan mataku sendiri. Kaupikir, aku melakukan ini hanya untuk mendapatkan posisi kekaisaran? Aku tidak membutuhkan itu. Aku tidak peduli dengan hal itu. Selama ini aku melakukan hal yang sama dengan yang kaulakukan. Membalas dendam."

Tragis, bukan? Jika Itachi yang menyaksikan sendiri kematian ayahnya, maka Sasuke yang menyaksikan sendiri kematian ibunya hingga menyulut api dendam di keduanya. Menjadikannya suatu tujuan hidup mereka. Berjalan di atas rasa yang sama. Dendam yang akhirnya membuat mereka bertahan hidup. Membuat mereka ingin orang yang mereka benci merasakan sakit yang sama.

"Aku ingin dia merasakan penderitaan yang sama seperti yang kurasakan. Kehilangan segalanya. Sama seperti aku kehilangan Tou-san, Kaa-san dan juga kau saat itu. Karena itulah aku mengincar Putri Hyuuga dan berniat membunuhnya."

"Apa maksudmu, berengsek? Hinata tidak ada hubungannya denganmu!" Teriak Naruto menatap amarah pada Itachi.

Bola mata Itachi bergeser, menatap langsung mata biru itu, "Memang. Dia tidak ada hubungannya, tapi dia memiliki hubungan dengan Kaisar. Laki-laki yang telah membunuh Fugaku Uchiha, Tou-san-ku, dan membakar seluruh keluargaku!"

Reaksi Naruto tak berbeda jauh dengan reaksi Sasuke sekarang. Tidak mungkin! Hiashi Hyuuga membunuh? Kaisar Hyuuga menghancurkan keluarga Uchiha? Tapi kenapa?

"Tidak mungkin," gumam Naruto dengan kedua mata yang masih menatap Itachi tidak percaya. Pasti ada alasannya 'kan? Pasti ada, Naruto yakin itu. Pria ini hanya asal bicara!

Naruto menggeram kesal. Mengikuti desakan emosinya, ia mengayunkan pedangnya dan menarik mundur Sasuke. Itachi berhasil menghindar, ia melompat jauh kemudian berdiri di atas dinding penginapan.

"Seharusnya kau berada di sisiku. Kita harusnya memiliki dendam yang sama! Ayo, kita hancurkan Kekaisaran Hyuuga. Kita buat dia juga merasakan penderitaan ini, Sasuke!"

Kedua mata hitam itu saling berpandangan, "Kau tidak seharusnya melindungi Putri Hyuuga, kau seharusnya membunuhnya!"

Kemarahan Naruto memuncak. Ia lantas bergerak menyerang Itachi kembali. Naruto melompat tinggi dan langsung menebas Itachi. Namun pedang Itachi berhasil menahan serangan itu. Tubuhnya merunduk sembari memutar pedangnya, mengarahkan arah pedang Naruto ke kiri. Kemudian dengan ujung handle katanya-nya ia memukul telak perut Naruto.

Naruto sedikit meringkuk, di saat yang sama Itachi mengarahkan tendangannya ke arah pelipis Naruto. Naruto yang melihatnya berusaha menangkis tendangan itu, sayangnya ia kalah cepat. Tubuh Naruto terjatuh dengan bagian pelipis matanya sedikit mengeluarkan darah, akibat goresan dari tendangan Itachi.

"Tidak perlu terburu-buru, Jenderal Divisi 1. Ada saatnya kita bertarung nanti. Bukankah sudah kukatakan? Aku ke sini hanya untuk mendengar jawaban Sasuke," mata itu kini kembali menatap Sasuke.

Terlihat jelas Sasuke sedang mencerna semua yang barusan ia dengar. Kenyataan yang baru ia ketahui. Lagi pula ia tidak bisa mendekat karena Naruto sudah kembali memasang kuda-kuda untuk menyerang.

"Aku menunggumu, Sasuke. Kau cukup tinggalkan tempat ini, maka aku akan datang padamu."

Sosok itu pun akhirnya menghilang. Meninggalkan dua orang yang kini sama-sama berdiri menatap kepergian Itachi dengan emosi yang berbeda. Naruto pun tanpa basa-basi langsung mendekati Sasusuke.

Diacungkan pedangnya ke leher Sasuke, "Aku tahu, aku terdengar egois. Mungkin ucapanku lebih terdengar seperti bualan untukmu, tapi aku tetap akan mengatakannya. Jangan bunuh Hinata."

Kedua mata itu saling berpandangan. Mata Sasuke menatap dingin, meski begitu ribuan tanya sedang menerpanya. Apakah semua yang dikatakan Itachi benar? Apakah ia dapat mempercayai segala ucapannya? Sasuke belum bisa sepenuhnya percaya, meski tahu tidak ada kebohongan dalam pancaran mata Itachi.

"Dia tidak bersalah di sini. Dia bahkan tidak tahu apa-apa. Kita harusnya mencari tahu alasan di balik semua yang dilakukan oleh Kaisar Hyuuga."

"Lalu apa aku dan Kaa-san-ku juga bersalah saat itu? Aku juga tidak mengerti apa-apa, tapi Kaisar Hyuuga tetap ingin membunuhku. Apa alasan dirinya ingin membunuh bayi yang tidak mengerti apapun? Dia sendiri tidak membutuhkan alasan 'kan?"

"Jadi, itukah keputusanmu? Hanya demi membalas dendam?" tanya Naruto kesal. Apakah itu artinya, Sasuke berdiri di sisi Itachi?

Sasuke diam. Dan tampak ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan itu. Satu-satunya yang harus ia lakukan sekarang adalah mendengar secara langsung semua kejadian itu dari mulut Itachi.

Naruto kemudian menurunkan pedangnya, "Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya."

"Lakukan saja apa yang memang harus kaulakukan. Dan satu lagi, jangan katakan 'hanya', Naruto. Kau tidak pernah mengalami apa yang aku alami."

Seiring dengan angin yang berembus. Sasuke juga berlalu meninggalkan Naruto yang masih terdiam dengan rahangnya yang mengeras. Bulan menjadi satu-satunya saksi, dua punggung yang kini saling membelakangi dan perlahan menjauh. Mengambil jalan yang berbeda.

Fajar pun mulai bangkit. Mengganti hari dan menenggelamkan kejadian itu. Pria bermata hitam itu melangkah tegap ke dalam kamarnya. Seakan tiap langkah yang ia ambil adalah keyakinan yang ia pungut untuk menegaskan keputusannya.

Dengan membawa Sakura yang masih terlelap dalam gendongannya. Sasuke melangkah melewati Naruto. Berjalan menuju pintu keluar penginapan ini. Tepat saat pundak mereka bersinggungan, Naruto mengeluarkan kata-katanya kembali.

"Aku memang tidak pernah mengalami hal yang kaualami. Tapi, kau juga tidak berhak memaksakan deritamu pada orang yang tidak mengerti apapun. Jika seperti itu, kebencian tidak akan berhenti. Siklus kebencian akan berputar dan itu akan kembali padamu lagi."

Sasuke hanya melirik dari sudut matanya, "Persiapkan saja dirimu, Jenderal Divisi 1."

Setelahnya dua sosok itu berlalu tanpa bisa Naruto cegah lagi.

Bersambung.

Curcul :

Hai ^^

Maaf ya atas keterlambatan updatenya huhuhu dan sepertinya masih berlaku untuk chap depan juga *diciumTaka*

Dan ... Saya (yang manis dan cakep ini) beserta suami saya -Taka, juga Hanaruppi beserta suaminya (Itachi) –maaf yg pada patah hati- mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, bagi kawan2 smua yang menjalankannya ^^

Yah, walau telat tapi gpp ya hehehe…

Oh ya, buat yg kemarin nanya alamat twitter saya, uhhmmm bisa di follow di dii_creamy hehehe...

Sampai ketemu chap depan ya ^^

21-06-15

.

[U W] - Istri sah Taka, One Ok Rock :* -