Naruto Selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, berhubung chapter kemarin ripiunya —alhamdulilah—banyak. Dan saya juga kebetulan banget tidak punya luang yang teramat banyak, jadi saya minta maaf karena saya blsnya dirangkum saja ya ^^
Q : Apakah Sasuke bakal bunuh Hinata?
Ucul : Di chap ini terjawab kok huehehe (jawaban macam apa inih cul!) *disiram*
Q : Apakah Sasuke musuhan dengan Naruto?
Ucul : Secara teknis sih iya, tapi aslinya Sasuke ngak mau kok ngelawan Naruto. Jawabannya ada juga sih di chapter ini, baca ajah :D *disiramlagi*
Q : Apakah pembantaian Uchiha ada hubungannya dengan Kekaisaran Haruno?
Ucul : Hmm … gimana ya? Eeaaa *diceburin* hahha ada lah XD
Q : Udah mau klimaks ya ceritanya?
Ucul : Iya, lagi anget2nya nih sekarang hahaha
Q : Berapa chapter sih? Masih panjang ngak?
Ucul : Masih kayanya. Engga tau juga sih hehe tapi masih pada mau kan ngikutin terus *kedipcantik*
Q : Bikin Sasusaku genre Romens donk?
Ucul : Satu-satu aku sayang ibu ehh maksudnya, satu-satu dulu ajah hehe,, blom mau mikirin yg lainnya tar takut keteteran hehe (Ini aja ngaret kan)
Q : Chapter depan wordnya panjangin?
Ucul : Pengennya sih gitu, tapi kerjaan lagi unyu2nya jadi maaf blom bisa huaaaaaaa T-T mudah2an kedepannya bisa ya ^^
Q : Apa Hyuuga yang bunuh Uchiha? Apa alasannya?
Ucul : Untuk alasannya mungkin di chapter selanjutnya jadi, mampir lagi chap depan yah haha *modus* ^^
Q : Kenapa keluarga Sasuke dibunuh?
Ucul : Pengen aja *digetok* ya, nanti terjawab kok ^^
Q : Apakah Kekaisaran Haruno sudah tewas semua?
Ucul : Ngak, masih sisa Sakura tuh, tapi kan Sasuke DLL ngak ada yg tau :D kita2 aja kan yg tau hahaha *dilempar*
Q : Kolaborasi enak ngak sih? Rasanya gimana?
Ucul : Rasanya tuh deg2an, cenat cenut, senang dapet henpon! *Ditelen* Ehem maaf, kali ini aku serius jawabnya *ditonjok* Katanya Hana sih klo kolaborasi biasanya tiap chapter gantian gitu ngetiknya. Nah, karena tiap chapter aku smua yg ngetik jadi ngak ada beban, karena jalan certanya suka2 aku mau gmn hahaha tapi seneng krn di beta-in sm Hana lebih tepatnya di ajarin banyak hal. Terlebih Hana itu tdk memaksakan gaya tulisan saya harus sama dgn tulisan dia, tapi lebih ke masalah teknis aja.. pokoknya menyenangkan deh ^^ seruuuu, klo saya sih! Tau klo Hana XD (Masalahnya saya yg banyak ngerepotin dia sih hahaha)
Q : Pengemar One Ok Rock ya? Lagunya apa aja yang bagus?
Ucul : Iyah donk :D . Masa band suami sendiri ngak saya dukung sih *Cium Taka* Lagunya banyak kok yang bagus, tapi klo masih blum terbiasa sm musik yg ngedubrak2 dengerin lagu mereka yang nyantai aja kaya Be The Light, Heartache, Pierce, Wherever u are, Chaosmyth, Living dolls, dan banyak lagi hehe. Kebetulan klo lagu yg paling aku suka dari mereka sih Cry Out, Kanzen Kankaku dreamer, Memories, The beginning, Re:Make, wah kayanya hampir semua aku sukaaaaaaa klo disebutin satu-satu bakalan panjang hehe *Cium Taka Lagi*
Q : Kak Ucul Salam kenal ya?
Ucul : Salam kenal buat semua yang baru mampir ke sini, makasih banyak loh *pelukatuatu* maaf ngak bisa balesin satu-satu ya. Tapi aku baca semuanya dan aku senang loh ^^ plus tambah semangat juga karena kalian semua bilang Semangat! Hehe makasih. Smoga chap depan saya bisa balas seperti biasanya ^^
Makasih buat kalian yg telah mendukung kerja keras kami. Maaf klo ada salah penulisan ya.
Feeza Uchiha, Akane Hime Chan, Indah P, Kurograce75, Mira Cahya 1, Luluralla, Ontokkiroylee, Harocyn Akko, Guest, Meiko Fujiwara, Akasunaharune, Arisahagiwara chan, Li Iiyonume, Misakiken, Thasya Rafika Winata, Tsurugi de lelouch, Istrinya Soujiro, Guest, Eysha Cherryblossoms, Mariyuki Syalfa, Virinda, Darkcrowds, Aditanit, Megan091, Annisa Alzedy, Nurulita as Lita-san, Jheinchyeon, Baekhyun SaranghaeHeni, Kura cakun, Cherry Hime85. Sheryl Euphimia, Uchiha Ouka, Egha714, Nikechaan, Katsuya-l, Wowwoh geegee, Annisa852, Gita Zahra, Hanazono yuri, 6934soraoi, PinkRamens, The DeathStalker, Anonim-chan, Yuie, Luchaaai, Ayuniejung, Nathalie Ichino, ImphysLonely sugar, Fiochan 51, Rda, Yunitaayu917, Jeremy Liaz Toner, Hikaru Sora 14, Vanny-chan, Miskyatuleviana, Yoktf, Kira, GaemSJ, Guest, Dianarndraha, SAGASAR, Ikalutfi97, Fiiyuki, KuroNeko10, AMaya No Katsumi, Lhliya Kiryu, Guest, Moikomay, Purachan, Suket alang-alang, Saki23, Mantika Mochi, Gue, Alexaryan55, Aitara Fuyuharu1.
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
Pagi telah datang. Hinata pun terbangun dari mimpinya. Matanya menjelajah ke sekeliling mencari sosok Sakura yang sedari kemarin tidak juga muncul. Ia mendesah pelan. Apa Sasuke masih menahan Sakura bersamanya? Atau mungkinkah Sakura belum terbangun?
Sasuke. Kenapa tiba-tiba terbesit perasaan iri di dalam benak Hinata?
Tunggu!
Hinata menggelengkan kepalanya cepat. Pikiran itu harus segera ia musnahkan. Tidak, tidak boleh! Sasuke hanya menyukai Sakura, begitupun sebaliknya. Jadi Hinata harus sadar dengan hal itu.
Setelah membersihkan diri, Hinata segera keluar kamar dan mencari sosok Sakura. Namun kepala merah muda itu tidak juga tampak di sekitar penginapan. Langkah kakinya semakin dekat dengan kamar yang ditempati oleh Sasuke. Pintu yang masih tertutup rapat menimbulkan tanya kembali di benak Hinata. Apa mereka masih terlelap?
Hinata tepat berdiri di depan pintu. Tanpa sadar ia meremas-remas tangannya. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia mengetuk pintu itu? Atau ia memanggil nama Sakura?
Kepalanya menggeleng. Tidak! Bukankah itu tidak sopan? Hinata takut hal itu akan menganggu mereka. Tapi, sepertinya para pasukan sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka. Jika mereka belum juga bangun, bukankah mereka bisa menghambat perjalanannya?
Hinata yang masih bergelut dengan batinnya sendiri tersentak kaget ketika mendapati seseorang yang menepuk pundaknya. Sontak Hinata memutar tubuhnya hingga bertatapan dengan Naruto. Pria yang kini tersenyum padanya.
"Apa yang sedang kaulakukan di sini?"
"Sakura. Aku mencari Sakura," jawab Hinata yang menunduk malu. Ia berharap semoga Naruto tidak memikirkan hal-hal aneh mengenai dirinya saat ini.
Mata biru Naruto berubah sendu. Namun cepat-cepat ia kembali menegaskan pandangan matanya.
"Dia sudah pergi," ucap Naruto, yang membuat Hinata segera mengangkat kepalanya hingga kedua mata mereka kembali bertemu.
"Mereka pergi semalam," sambung Naruto.
Kedua alis Hinata mengerut, "Kenapa? Bukankah mereka sudah menjadi pengawalku?" tanya Hinata tak percaya.
"Karena kita tidak akan pergi ke kediaman Senju. Hari ini kita akan kembali ke Istana. Aku sudah memberikan laporan mengenai kejadian kemarin pada Kaisar, dan dia sudah menyetujui usulanku. Jadi mulai hari ini, Sakura dan juga Sasuke tidak lagi menjadi pengawalmu," jawab Naruto tegas.
Sebenarnya Naruto hanya melaporkan mengenai insiden penyerangan Itachi. Ia tidak menceritakan kronologi perihal kejadian tadi malam. Ia masih menyembunyikannya rapat-rapat dari semua orang, termasuk Hinata.
"Lagi-lagi kalian memutuskan semua seenaknya! Kenapa kau tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu denganku?" Hinata menaikkan nada bicaranya. Matanya menatap kesal pada Naruto.
"Tentu saja karena hal itu membahayakanmu!"
"Setidaknya kau bertanya mengenai pendapatku terlebih dahulu, Naruto! Kau tidak berhak mengaturku sesukamu!" Satu jari Hinata menunjuk tegas pada Naruto. Emosi sudah tidak bisa ia kendalikan lagi. Selalu saja ia diperlakukan sesuka hati mereka.
"Setidaknya biarkan aku berbicara dengan Sakura. Dengan begitu, aku bisa mengajaknya untuk ikut bersamaku. Atau aku akan meminta pada Tou-san untuk memberikan pekerjaan pada Sakura dan juga Sasuke. Atau setidaknya, aku akan meminta dia untuk datang menemuiku lagi." Ucapan Hinata terhenti. Dengan segera ia mencengkram kedua lengan Naruto, di mana kepalanya sedikit mendongak agar bisa menatap kedua mata Naruto.
"Kenapa? Kenapa saat itu kau tidak membangunkanku saja? Harusnya kau memberitahukanku, Naruto! Kenapa kau diam saja? Mungkin saja saat itu Sakura ingin berpamitan padaku 'kan?"
Naruto hanya diam. Ia tidak juga berniat untuk menggubris Hinata. Ia tidak mungkin mengatakan semuanya pada Hinata. Ia tidak ingin Hinata mengetahui tentang perkataan Itachi mengenai Kaisar Hyuuga, ayahnya. Meski belum tentu ucapan Itachi sepenuhnya benar, namun hal itu tetap akan membuatnya menderita.
Dan Naruto tidak bisa melihat Hinata menderita.
"Maaf, Naruto-sama. Persiapan keberangkatan telah selesai," ucap salah satu bawahan Naruto yang lantas segera membungkukkan tubuhnya dan berjalan pergi.
"Ayo, Hinata," ucap Naruto yang segera melepaskan cengkraman Hinata. Mengabaikan Hinata yang menunduk sembari mengigit bibirnya kuat-kuat. Naruto terus saja berjalan pergi hingga ucapan Hinata menghentikan langkah kakinya. Membuat Hinata hanya dapat menatap punggung Naruto.
"Kenapa, Naruto? Padahal Kaisar mempercayakan hal ini padaku. Untuk pertama kalinya ia mempercayakan tugas besar padaku dan kau mengacaukannya begitu saja. Untuk pertama kalinya, Tou-san-ku mengandalkanku. Dan kau menghancurkannya."
Hinata terus mengucapkan kata-kata itu sembari berjalan menyusul Naruto yang masih terdiam, yang tidak juga menolehkan kepalanya pada Hinata. Naruto diam, dengan mata yang menatap ke depan.
Wajahnya tetap tenang, tapi tidak pada perasaannya. Bohong jika Naruto mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan semua ini. Ia tahu Hinata kecewa padanya. Naruto tahu sedari dulu Hinata ingin ayahnya melihatnya. Dan mengakuinya.
"Padahal aku sangat memercayaimu."
Persis saat posisi mereka sudah sejajar. Hinata mengucapkan itu dengan pandangan yang juga ikut menatap ke depan, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Naruto.
Naruto dapat mendengarnya dengan jelas. Nada ucapan penuh penekanan yang dilontarkan Hinata barusan. Ucapan dingin dan penuh dengan rasa kecewa dari perempuan yang sangat ia cintai.
Kedua tangan Naruto terkepal kencang. Mata birunya menatap nanar punggung Hinata yang semakin menjauh. Naruto sudah memikirkannya baik-baik. Apapun yang terjadi, ia akan melindungi Hinata. Meski pun Hinata membencinya, karena Naruto tidak ingin melihat Hinata terluka.
Hinata segera membuang muka saat pandangan matanya bertemu dengan mata biru milik Naruto, yang baru saja masuk ke dalam kereta dan duduk di sampingnya. Naruto juga sudah memutuskan kalau ia akan menemani Hinata. Tak peduli jika Hinata menolak keputusan itu.
Naruto tidak akan membiarkan Hinata berada dalam bahaya. Ia akan melindunginya. Ia harus melindunginya. Karena kali ini lawannya bukan hanya Itachi.
Selama perjalanan dua orang berbeda jenis itu pun tidak juga berniat untuk membuka mulut mereka. Hanya kebisuan yang terjadi. Tapi tidak di dalam benak mereka. Hinata sibuk memikirkan keberadaan Sakura, dan juga rasa kesalnya pada Naruto. Ia sudah memutuskan bahwa ia tidak akan berbicara pada Naruto.
Hinata marah. Harusnya Naruto tahu bahwa baru kali ini Hinata memiliki seorang teman selain dirinya. Baru kali ini Hinata menemukan orang yang tidak memandang dirinya hanya dari kedudukan yang ia miliki. Sakura tulus berteman dengannya. Dan Hinata sangat menyayanginya.
Harusnya Naruto tahu itu, tapi mengapa ia membiarkan Sakura pergi begitu saja? Terlebih Naruto juga mengambil keputusan sepihak tentang pembatalan tugas Kaisar padanya. Dan juga memutuskan sepihak mengenai pengawalan Sakura dan Sasuke, tanpa berunding terlebih dahulu dengannya.
Ada apa, Naruto? Apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan seperti dirimu.
Hinata melirik ke arah Naruto sesaat sebelum kembali memandang jendela di sampingnya.
Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?
Sedangkan Naruto sendiri masih memikirkan ucapan Hinata. Ucapan yang terus terputar tanpa bisa ia hentikan.
"Padahal aku sangat memercayaimu."
Kata-kata itu terus menghantuinya. Kata-kata yang terus menusuk-nusuk perasaan Naruto. Kata-kata yang membuat Naruto mengingat kepingan masa lalunya.
"Aku tidak mau jadi perempuan!" Teriak gadis kecil berumur tujuh tahun itu sembari melepas semua atribut yang biasa dikenakan oleh perempuan.
Alis Naruto berkerut melihat pemandangan di depannya. Mata birunya menatap heran pada sosok perempuan kecil yang kini menangis dan melempar semua atribut itu ke sungai.
Sosok yang ia ketahui bernama Hinata Hyuuga. Putri dari seorang kaisar, yang mana dulu ayahnya pernah mengenalkannya. Gadis kecil yang seumuran dengannya. Meski ia sering bertemu dengannya di istana, namun ia jarang berbicara dengannya karena Hinata lebih banyak diam.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Naruto yang kini bediri tepat di samping Hinata.
Gadis kecil itu menoleh. Kedua pipinya sudah basah oleh air mata, "Aku tidak mau jadi perempuan. Aku ingin jadi laki-laki saja," jawab Hinata yang kembali menangis kencang.
"Kenapa?"
"Aku tidak sengaja mendengar para pelayan istana berbicara. Mereka mengatakan bahwa sebenarnya Kaisar Hyuuga menginginkan anak laki-laki. Bukan anak perempuan. Sekarang aku tahu kenapa Tou-san tidak pernah mau bermain denganku."
"Kau 'kan bisa bermain dengan Kaa-san-mu."
"Aku sudah sering bermain dengan Kaa-san. Aku juga ingin bermain dengan Tou-san."
"Kalau begitu denganku saja. Bagaimana?"
Hinata diam sejenak. Matanya yang basah menatap mata biru Naruto, kemudian kepalanya mengangguk ragu, "Tapi aku tetap ingin jadi laki-laki saja, karena aku ingin Tou-san bangga padaku. Aku ingin bisa meneruskan nama Hyuuga."
"Sayang sekali, padahal kau itu sangat cantik."
"Tidak. Aku tidak mau dibilang cantik."
"Tapi kau memang cantik."
"Kenapa kau terus bilang begitu!?"
"Karena aku suka rambutmu. Rambutmu bagus dan panjang seperti Kaa-san. Jadi kau juga cantik seperti Kaa-san. Dan cantik itu bagus."
"Tidak mau! Aku tidak suka rambut panjang! Kalau begitu besok aku akan memotong rambutku karena laki-laki itu berambut pendek, dan mulai besok aku akan membuat Tou-san bangga padaku. Aku akan menjadi anak laki-laki yang diinginkannya. Kau pasti akan membantuku 'kan?"
Naruto mengangguk pelan, "Iya. Aku akan membantu, jadi jangan menangis lagi."
Tangan mungilnya menghapus air mata di pipi Hinata. Dan setelahnya Naruto dapat melihat senyuman gadis kecil itu. Senyuman yang ternyata sangat ia sukai.
Lamunan Naruto terhenti kala ia mendapati sesuatu menabrak sisi tubuh sebelah kirinya. Senyuman kecil mengembang di wajahnya ketika melihat Hinata tertidur dan bersandar padanya. Ia semakin merapatkan diri dan mengatur posisi tubuhnya sepelan mungkin agar Hinata merasa nyaman.
Mata birunya terus menatap wajah Hinata. Ada sedikit rasa sesal mendera Naruto. Ia tahu, Hinata bukan hanya merasa kecewa tapi ia juga merasa sedih. Hanya saja ia tidak pernah mau memperlihatkannya. Ia tidak mau terlihat lemah. Terlebih di depan ayahnya.
Ia selalu memberontak. Sebagai bentuk rasa kekecewaannya dari semua yang telah ia lakukan agar ayahnya memperhatikannya. Seakan ia mengatakan bahwa ia juga kuat. Bahwa ia juga bisa melakukannya meski ia adalah seorang perempuan.
Hinata ingin menunjukkan pada ayahnya. Bahwa ia juga bisa diandalkan. Ia bisa meneruskan nama Hyuuga. Ia pantas menyandang nama Hyuuga. Karena itu Hinata selalu melanggar semua peraturan. Terutama tentang hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh seorang putra mahkota. Maka ia akan melakukannya, dan meninggalkan semua hal yang harus dilakukan sebagai seorang putri.
Dan Naruto. Hanya Naruto-lah satu-satunya tempat di mana Hinata bisa menumpahkan semuanya. Ketika Hinata sedang merasa lemah. Merasa takut. Merasa ragu. Dan merasa sedih. Ia tunjukkan semua pada Naruto, sisi yang selalu ia sembunyikan dari semua orang. Tapi sekarang Hinata tidak lagi memercayainya.
Dan kini Hinata juga bersembunyi darinya.
Tangannya mengelus pelan rambut Hinata yang menghalangi wajahnya. Rambut yang sedari dulu sudah membuatnya jatuh cinta. Mata birunya menatap lekat wajah Hinata yang tertidur. Begitu tenang. Tanpa beban.
Naruto ingin sekali melindunginya. Naruto ingin menjaganya. Tidak ingin Hinata menangis. Karena itu ia harus mencari tahu kebenarannya. Akan ia selesaikan semuanya sendiri.
Dan kemudian ia akan menanggungnya. Menanggung rasa benci Hinata, jika ucapan Itachi memang benar adanya.
Ia cium helaian rambut Hinata. Dan kata-kata itu kembali terputar.
"Padahal aku sangat memercayaimu."
"Maaf," ucap Naruto dengan mata biru yang berubah sayu. Kemudian Naruto mencium ujung kepala Hinata. Matanya terpejam sembari meresapi wangi yang selalu ia sukai.
Percayalah padaku sekali lagi. Hinata.
Naruto sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Hanya saja ia tidak bisa mengatakannya. Mengatakan semuanya. Dan menurut Naruto, lebih baik seperti ini saja.
.
(Sebelumnya di tempat Sasuke)
Kedua pria Uchiha itu kembali bertemu. Tak perlu cukup waktu lama bagi Itachi menunggu kedatangan adiknya. Ia sudah memperhitungkan bahwa Sasuke pasti akan datang padanya.
Tapi ternyata perhitungannya sedikit meleset ketika mata hitamnya mendapati sosok perempuan merah muda berada di dalam gendongan Sasuke. Perempuan yang berhasil melukainya saat itu.
Tepat saat mata hitam Itachi berpindah menatap Sasuke. Pria itu langsung mengeluarkan suaranya, "Perempuan ini bersamaku."
"Dia kekasihmu?"
"Itu bukan urusanmu!"
"Harusnya kau sadar, perempuan itu hanya akan menghambat kita saja."
"Jangan berani mengaturku. Jangan berlagak menjadi kakakku sekarang."
Kedua mata hitam itu sama-sama menatap tegas lawan bicara mereka. Sama-sama mempertahankan ego mereka.
"Baiklah. Lakukan sesukamu," ucap Itachi yang kemudian memilih berjalan pergi.
Itachi membawa mereka ke salah satu penginapan. Tempat istirahat mereka sebelum kembali pergi menuju kediaman Senju. Lagi pula ia harus menceritakan tentang rencana yang ia sudah siapkan untuk menghancurkan Kekaisaran Hyuuga pada Sasuke.
Rencana yang sudah ia susun bertahun-tahun. Rencana bersama dengan Hashirama Senju.
Mata Itachi sempat melirik sesaat pada perempuan merah muda yang dibawa Sasuke. Akankah perempuan itu menyetujuinya? Akankah perempuan itu akan mendukung jalan yang dipilih oleh Sasuke? Jalan dendam? Jalan kehancuran?
Perempuan itu. Itachi meragukannya. Itachi tidak ingin jika nantinya perempuan itu akan mengacaukan rencana yang sudah ia persiapkan sejak lama. Terlebih pada Sasuke. Ia tidak ingin hal itu akan mempengaruhi keputusan Sasuke, yang mungkin bisa berujung pada kegagalan.
Sepertinya Itachi harus merencanakan kembali kemungkinan-kemungkinan buruk itu. Karena tampaknya perempuan itu memiliki arti penting untuk adiknya, yang tidak bisa ia remehkan. Ia harus menyusun kembali langkah-langkah yang harus ia ambil untuk mencegah hal itu terjadi.
….
Kedua mata Sakura terbuka. Bola mata hijau itu bergerak menatap sekeliling hingga membuatnya tersadar bahwa dirinya berada di kamar yang asing baginya. Seingatnya, terakhir ia menemani Sasuke hingga tanpa sadar ia tertidur. Tapi ruangan yang ia tempati kali ini bukanlah kamar Sasuke dan juga bukan kamar Hinata. Lalu di mana ini?
Terdengar suara pintu yang terbuka dan menampakkan sosok Sasuke yang kini masuk ke dalam ruangan itu. Mengambil posisi duduk tepat di depan Sakura.
"Ada yang harus aku bicarakan padamu," ucap Sasuke tegas, "Ini tentang misi balas dendamku."
Mata Sakura menatap tak percaya dengan semua penjelasan Sasuke. Tentang bagaimana kedua orangtuanya tewas, hingga membuat Itachi memutuskan untuk membalas dendam. Hingga yang paling mengejutkan adalah pelaku pembunuh ayah Sasuke. Yang ternyata adalah Kaisar Hyuuga.
"Benarkah?" Tanya Sakura dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pahanya.
"Apa alasan Kaisar Hyuuga melakukan itu?" Mata hijaunya menatap Sasuke ragu. Suaranya berubah pelan. "Apa semua yang dikatakan Itachi benar?"
"Karena itulah aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku akan mencari tahu kebenaran kata-katanya."
Sakura sedikit terhentak. Matanya menatap tak percaya pada pria di hadapannya. Jadi Sasuke kini berada di pihak Itachi?
Menyadari keterkejutan Sakura, Sasuke langsung menggenggam erat tangan perempuan itu. Ia tahu hal ini tidak mudah diterima oleh Sakura.
"Tetaplah bersamaku, Sakura."
Mata mereka masih saling memandang. Sakura pun tidak langsung menanggapi permintaan Sasuke. Semua masih terlalu mengejutkan untuknya. Dalam waktu semalam semuanya berubah. Mereka tadinya berada di pihak Kaisar. Kini tak lagi berdiri di tempat yang sama.
Apakah itu artinya Sasuke juga akan membunuh Hinata? Seperti yang ingin Itachi lakukan selama ini?
"Hinata? Apakah kau juga akan membunuhnya?" Tanya Sakura ragu.
Sasuke melihatnya. Pancaran mata Sakura yang meredup kala melontarkan pertanyaan itu. Bahkan terselip kesedihan di sana yang sedang coba Sakura sembunyikan.
Mata Sasuke lantas menghindari mata hijau itu, sebelum akhirnya ia memilih untuk menarik perempuan merah muda itu ke dalam pelukannya. Helaan napas meluncur dari mulutnya.
Sasuke tahu ini adalah hal tersulit yang akan ia alami ketika ia memutuskan untuk berdiri di sisi Itachi. Hal yang entah mengapa membuat perasaan Sasuke terasa berat. Jika biasanya ia akan bebas melakukan apapun atau memutuskan sesuatu sesuai keinginannya, maka kali ini tidak lagi. Ada satu sisi di mana ia akan memikirkan Sakura.
Dengan semua hal yang ia putuskan. Semua hal yang akan ia lakukan. Sasuke pasti memikirkan bagaimana dengan Sakura? Apa ia akan senang? Apa hal itu tidak akan menyakitinya? Atau apakah Sakura akan bisa menerimanya? Apa Sakura akan mendukungnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menyangkut perempuan merah muda itu.
Sejak bayangan kejadian mengerikan yang dialami oleh ibunya muncul saat Sasuke melihat punggung Sakura. Membuat Sasuke terus dilanda perasaan cemas. Perasaan tidak ingin kehilangan sosok Sakura. Dan perasaan itu membuatnya bimbang.
Seperti saat ini. Sasuke bimbang dengan perasaannya. Perasaan yang terus saja menganggunya. Perasaan yang membuatnya tak nyaman. Perasaan ragu.
"Aku tidak tahu."
Akhirnya Sasuke mengeluarkan perkataan yang ia sendiri tidak menyakininya. Ia memang tidak tahu, namun alasan kata-kata itu keluar adalah karena ia tidak ingin Sakura menjauh darinya. Ia tidak ingin Sakura pergi.
Sasuke takut Sakura tidak bisa menerima keputusannya.
Sasuke menghela napasnya lagi sebelum melontarkan pertanyaan pada Sakura.
"Apa kau bisa menerimanya, Sakura? Jika aku melakukan hal itu?"
Kepala merah muda itu langsung menggeleng cepat. Dan tanpa bisa Sasuke lihat, ada genangan di kedua sudut matanya. Sekuat tenaga Sakura mencoba untuk menahan air itu agar tidak tumpah.
Sakura sungguh tidak mengerti harus bagaimana menyikapi hal ini? Sudah jelas ia sangat mencintai pria yang sedang memeluknya erat. Ia tahu kekejaman yang telah dialami pria itu. Hal yang tidak bisa lantas terlupa begitu saja oleh Sasuke.
Tapi Sakura juga sadar. Ia tidak bisa mendukung hal itu. Membunuh Hinata. Seseorang yang jelas tidak bersalah di sini. Sakura tahu ini tidak adil untuk Sasuke. Tapi, ia juga menyayangi Hinata layaknya saudara.
Sakura bimbang. Ia sendiri tidak tahu harus berdiri di sisi sebelah mana? Ia harus mendukung sebelah mana?
Mata Sasuke terpejam sesaat. Sebenarnya ia sendiri sudah mengetahui apa jawaban Sakura. Sasuke hanya butuh meyakinkan dirinya sendiri.
"Ini bukan tentang siapa yang bersalah di sini. Ini tentang suatu hal yang tidak bisa aku terima. Tentang kematian orang-orang yang kusayangi. Orang-orang yang berarti di hidupku. Aku tidak bisa menerima itu. Apakah dengan begitu, kau akan meninggalkanku?"
Sakura tidak langsung menjawabnya. Kedua tangannya kini ikut membalas pelukan erat pria itu. Ia dekap kuat, dengan satu tangan yang kini membelai lembut punggung pria itu. Berusaha menenangkan dirinya, dan juga Sakura sendiri.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi aku juga tidak ingin kau membunuh Hinata. Bisakah?"
Sasuke hanya diam. Memikirkan pertanyaan itu dalam-dalam. Jawaban itu lantas tidak langsung meluncur dari mulut Sasuke. Sasuke hanya bergumam pelan, setengah ragu. Gumaman tanpa arti. Karena Sasuke juga sadar, ada sebagian dari dirinya yang tidak ingin membunuh Hinata. Dan itu semakin kuat ketika mendengar permintaan Sakura.
Mungkin ia bisa untuk tidak membunuh Hinata tapi ia akan tetap menghancurkan Kekaisaran Hyuuga. Meski itu tandanya ia akan berhadapan dengan Naruto. Salah satu orang yang sebenarnya enggan untuk Sasuke lawan.
Namun sebelum membuat keputusan itu, Sasuke akan mencari kebenaran ucapan Itachi. Ya, itulah tujuan awal Sasuke menyetujui untuk berada di sisinya. Setelah mendengarnya barulah Sasuke akan memutuskan.
Apa yang akan ia lakukan?
"Akan kupertimbangkan, setelah aku mendengar penjelasan Itachi."
Setelah kepergian Sasuke. Sakura memutuskan untuk membersihkan diri. Merendam tubuhnya di air hangat. Menenangkan pikirannya. Ia sendiri masih tidak memercayainya. Kejadian ini. Mengapa semuanya jadi serumit ini?
Helaan napas meluncur dari mulutnya. Apa semua ucapan Itachi benar? Kenapa Kaisar Hyuuga membunuh ayah mereka? Untuk apa Kaisar Hyuuga melakukan itu?
Namun sekeras apapun Sakura memikirkannya. Ia tetap tidak juga menemukan jawabannya. Sepertinya Sasuke benar. Ia harus memastikan ucapan Itachi. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Dan mengapa?
Lalu, bagaimana jika semua itu benar? Dan Kaisar Hyuuga membunuh karena alasan yang kejam. Demi kepentingannya semata. Lantas bagaimana? Sedangkan Sakura masih tidak bisa menerima jika Sasuke harus membunuh Hinata. Apa ia bisa menghentikannya?
Apakah ia bisa menghentikan perasaan dendam Sasuke?
Mata hijau itu berubah sayu. Ada keraguan di pancaran mata itu. Sakura sendiri tidak tahu. Pasalnya ia bukan Sasuke. Terlebih Sakura tidak mengalami kejadian mengenaskan itu. Meski kedua orangtua—yang Sakura tahu bukan kedua orangtua kandungnya tewas dengan cara mengerikan. Tapi Sakura sama sekali tidak memiliki perasaan dendam.
Entah karena Sakura tidak mau atau karena semua pembantai itu telah dibunuh oleh Sasuke?
Mungkinkah karena semua pembantai itu telah tewas maka Sakura bisa merasa tenang?
Seandainya saja para pembantai itu masih hidup. Apakah Sakura juga akan mengambil jalan yang Sasuke pilih? Balas dendam?
Apakah perasaan benci itu juga akan mengaliri aliran darahnya?
Sakura tidak tahu jawabannya. Sakura benar-benar tidak mengerti.
Juga dengan perasaan Sasuke. Sakura tidak mengerti.
Dan Sakura tidak tahu harus bagaimana?
Seselesainya membersihkan diri. Sakura berjalan kembali menuju kamarnya. Sasuke memang sudah mengatakan bahwa ia akan menemui Itachi, karena itu Sakura tidak perlu lagi mencari sosok Sasuke.
Lagi pula Sasuke sendiri meminta Sakura untuk tetap berada di dalam kamar—setelah selesai membersihkan diri. Menunggunya. Sakura dengan senang hati menurutinya karena ia sendiri belum mau bertemu dengan Itachi.
Masih ada perasaan janggal. Lebih tepatnya, masih ada perasaan takut melihat sosok itu. Ia yang semula adalah lawan. Seketika berubah menjadi kawan. Dan Sakura masih belum terbiasa dengan itu.
Tiba-tiba saja sesuatu menabrak keras tubuh Sakura. Membuat langkahnya sempat goyah, yang untungnya tidak sampai membuat Sakura terjatuh. Seketika Sakura menunduk kala mata hijaunya bertemu pandang dengan mata orang yang menabraknya.
Orang itu. Orang yang dihindarinya. Itachi.
"Ma- maaf," ucap Sakura, yang masih menunduk menghindari mata hitam itu.
Meski tahu bahwa ini murni ketidaksengajaan, tapi masih ada perasaan tak nyaman di benak Sakura. Perasaan canggung meski ia tahu semua alasan mengapa Itachi memilih untuk membalas dendam. Terlebih mata itu terlihat begitu menyeramkan. Meski memiliki warna mata yang sama. Mata Sasuke tidak sekelam mata Itachi. Sakura masih bisa merasakan kehangatan dan kelembutan pada mata Sasuke.
Mata hitam Itachi masih menatap lekat Sakura. Lebih tepatnya menatap lurus pada bandul kalung Sakura yang keluar dari persembunyiannya akibat tabrakan itu.
Bandul kelopak bunga sakura.
Seketika terbesit dengan cepat di dalam benak Itachi sesuatu yang berkaitan dengan kelopak bunga sakura. Sebuah simbol. Sebuah simbol di masa lalunya. Simbol yang ia ketahui adalah milik Kekaisaran .…
"Haruno," gumam Itachi pelan, yang langsung mendapat tatapan dari mata hijau Sakura.
Sakura jelas sekali mendengar Itachi menyebut sesuatu tentang kalung miliknya. Tidak salah lagi. Ia pasti tidak salah mendengarnya. Pria itu menyebut "Haruno". Apakah pria itu mengetahui tentang Kekaisaran Haruno?
Namun belum sempat Sakura melontarkan berbagai pertanyaan yang terbesit di dalam kepalanya. Itachi sudah lebih dahulu membalikkan badannya dan berjalan pergi. Kini ingatan tentang simbol itu terputar di kepalanya. Ingatan tentang kejadian di masa lalunya. Potongan kejadian yang tidak bisa ia lupakan.
Perempuan itu. Mungkinkah?
Itachi hampir tidak memercayainya, tapi kalung itu adalah bukti. Kalung itu adalah saksi. Saksi bisu antara dirinya dan wanita itu. Dulu.
Jadi apakah benar? Bahwa dia adalah seseorang yang pernah Itachi selamatkan dulu?
Tidak salah lagi!
Kakinya terus melaju mencari sosok adik laki-lakinya. Sejenak Itachi telah melupakan misi balas dendamnya. Dalam benaknya hanya berputar mengenai Haruno. Membuatnya sesegera mungkin harus memberitahu perihal ini pada adik laki-lakinya.
Kedua pria yang sama-sama saling mencari akhirnya bertemu di satu titik. Di halaman belakang penginapan itu. Dua pria yang sama-sama memiliki hal yang ingin mereka sampaikan.
Tepat saat mereka berhadapan. Suara Itachi-lah yang lebih dahulu terlontar dari mulutnya. Membuat kedua mata Sasuke melebar, tidak terima dengan ucapan pria itu. Ucapan yang terdengar seperti perintah mutlak darinya, yang juga terpancar jelas dari tatapan matanya.
"Jauhi perempuan itu!"
Baru saja Sasuke berniat untuk membantah ucapan Itachi. Pria itu, kakak laki-lakinya, kembali mengucapkan kata-kata yang membuat Sasuke terdiam.
"Tinggalkan perempuan itu, sebelum dia membencimu."
Bersambung.
Curcul :
Hai ^^
Saya tau saya udah keterlaluan ngaretnya, saya mohon maaf ya ^^ kebetulan kemarin2 saya sibuk fokus di Fic saya yang untuk Event BTC judulnya SILENCE (Aku promo dikit gpp yak hahahahha) Jadi yang belum baca, silakan mampir hihihi eh bukan, tapi Ayo Mampir! (Pake maksa hihihi) becanda ding :p
Oh,ya ! Saya dan Hanaruppi -Beserta suami2 kami- wkwkwk mau ngucapin Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Maaf klo selama ini ada kata-kata yang tidak menyenangkan dari kami, mohon dimaafkan ya. Gpp ya kecepetan, karena saya rasa minggu depan saya tidak update hehehe, hmm yah masih blom tau kapan update lagi tapi saya harap ngak sengaret chapter ini hehehe
Oke, sampai ketemu di chap selanjutnya ya ^^
.
12-07-15
.
[U W] -Istri sah Taka, One Ok Rock :*-
