Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

Lady Uchiharuno : Iya, maaf kmtn apdetnya lama ya ^^

Rda : Hihi nanti lama2 TBC nya juga ilang hoho, wahh kan gantian naruhina jg pny peran penting disini hehe ^^

Moikomay : Hihihi dichap ini dijelasin kok wuaahhh makasih loh udah suka Fic ku yg itu hehe makasih ya ^^

Ikalutfi97 : Hihihi di chap ini terjawab kok dan dan kepisah ngak ya wkwkwk

KuroNeko10 : Fius syukur deh klo masih seru buat dibaca sm kamu ^^ di chap ini terjawab kok, jadi silakan dibaca ya ^^

Guest : Hihihi, aku seneng baca ripiumu terlihat sangat antusias sekali ^^ smoga chap ini bisa menjawab rasa penasaranmu ya ^^

Guest : Hum mini orang sama bukan ya hohoho well kita lihat saja apakah analisa mu benar atau tidak hehe

Annisa852 : Aku seneng klo kamu suka ^^ tentu aku selalu semangat kok buat lanjutin crt ini ^^ dan soal THR huhuhu aku ngak dapet malah kebagian bagi2 THR buat ponakan hehehe *diacurcol*

Herocyn Akko : Aihhhh kamu tau aja sih cara nyenengin hatiku :3 dichap ini terjawab kok, dan ngak telat2 amat kan skrg updatenya hehehe

Aiko Asari : Halooo aikooooo :D ya gpp, sama2 makasih jg udah ripiu ^^ gpp kok, saya emang sengaja ngasih clue biar ditebak hehe yang jahat itu tukang jualan knp pada ikutan libur *lah!

Vanny-chan : Maaf kmrn lama apdet ya ^^ Huaaaa *nangisdipelukanTaka* aku ngak nyangka kamu smpe sgitunya sm crt ini, makasih loh aku beneran terhura huhu, smoga chap ini bisa menyenangkan buatmu ya

Dianarndraha : Smoga chap ini bisa ngilangin rasa penasaranmu ya hehe silakan dibaca ^^

PinkRamen : Maaf kmrn lama apdet ya huhu skrg aga lumayan cepet kan hohoho, dan semoga chap ini membayar rasa penasaranmu ya ^^

The DeathStalker : Laahhh knp takut gitu? Aku ngak gigit kok, udah lumayan jinak hhahhaa it's oke gpp kok ^^ makasih buat smangatnya ^^

Yoktf : Hihi udah kaya judul pelem aja, ada apa dengan cincah hehehe

Mantika Mochi : Aaaaa… ada sesuatu lah hihihi

Cherryhime85 : Well ya memang tidak baik sih untuk hubungan mereka hahaha pokoknya jawaban pertanyaanmu ada dichap ini hihi

Ciheelight : Oh ngak kok, ripiumu tidak menyakiti kok ^^ dan smoga chap ini membayar luas rasa penasaranmu ya hehe

Sagasar : Ini udah aku panjangin lohhhh, ya skrg lebih focus ke urusan crimenya dulu hehe, dan apakah tebakanmu benar heheh

Eysha Cherryblossoms : Hihihi ngak lama kok updatenya, Ya kan? Ya, kan? *diamaksa* wkwkwk

SantiDwiMw : Semoga mereka bisa terus bersatu ya *ketawajahat* hohoho

Fiiyuki : Hihihi silahakn dibaca chap ini ya ^^

Yuie : Uhmmm ada apa ya? Hohoho dan ngak ngaret kan chap ini hehe

EndraPrima : Iya udah dilanjut ^^

Arisahagiwara : Hihi kayanya kebalik deh, aku perempuan hehe kan istri taka, masa cowo sih -,-

Suket alang-alang : Jawabanya adalah jreng jreng, silakan menuju kebawah hihihi

Guest : Jangan salah, Itachi itu saying bgt loh sama adenya cieehhhh, jd dia ngelakuin itu demi adiknya juga ^^

Virinda : Skrg apinya nemplok dibadan aku nih huhu tepar

Shita15 : Yg terjadi ada di chapter ini silakan dibaca ya hohohoho

Sheryl Euphimia : Ini udah apdet loh, ngak lama kan *kedipcantik*

Imphyslonely sugar : Hohoho pisah ngak yaaaaa *ditelen* pokoknya dibaca aja ya hehe

Ayuniejung : Hahaha aku ketawa loh baca ripiumu sumpeh rasanya pengen nangkep itu HP (Lumayan kan hahhaa)

Wowwoh geegee : Hihi maaf jatah Sasusaku seuprit hoho yah bgtulah kudu gantian soalnya hehehe

GaemSJ : Udah kupanjangin loh chap ini ^^

Saki23 : Heheh map kmrn telat bgt ya apdetnya yosh silakan dinikmati chap ini ^^

Hanazono yuri : Tentu tidak hihihi, Itachi udha milik si Hana katanya hehe

Aitara Fuyuharu 1 : Masa sih manis, ya sebelas, sebelas setengah lah manisnya sm aku hohoho *dilempar* iya lagunya emang bagus2 kok hihihi siapa dulu suamiku gt loch eeeaaaa hihihi oh, ya salam balik dari Hana loh ^^

Kyuaiioe : Iya dilanjutin kok ;D

Nathalie Ichino : Hihi maaf sasusaku scenenya sedikit ya, hihi well kita lihat aja reaksi sasuke ya hehe

Misakiken : Tau si Itachi ngapain sih hohoho *diizanami*

6934soraoi : Hihi jawabannya ada di chap ini kok, dan saya ngak pernah ngerasa gmn2 kok baca isi ripiu minta apdet cepet hihi, dan isi ripiumu tidak pernah menyinggung kok ^^ makasih ya ^^

Salam balik dari Kak Hana ^^

Hikaru Sora 14 : Betul, Naruhina dan Sasusaku sama2 tersakiti hoohohoh

Luchaaai : Wkwkwkwk Itachi ngejones wkwkwk Itachi sm Saku ngak punya hubungan apa2, Cuma sebatas adik dan kaka ipar aja loh hahhaa

Michelle : Hai salam kenal juga y ^^ blom tau tamat dichapter brp, ttp ditunggu aja ya ^^

Annisa Alzedy : Masiha da rahasianya nih, klo udah terbongkar brarti dikit lagi ending haha

Ha Ni : Yeyeyeye makaish juga udah ripiu ya ^^

Thasya Rafika Winata : Ini dia penjelasannya silakan dibaca ^^

Nikechaaan : Sasuke skrg balak kebanyakan galau hahhaha

DarkCrows : Iya maaf telat kmrn ya hehe, jawabannya di chap ini silakan ^^

B Skypiea : Haloo ^^ gpp, makasih udah baca ^^ saya sungguh2 senang baca ripiunya hehe jadi malu saya (Biasanya jg malu-maluin luh) tenang kata-katanya tidak ada yg menyinggung sama sekali kok, makasih banyak ya ^^

Mariyuki Syalfa : Gimana ya? Ngak gmn2 sih *dilempar* hihi pokoknya baca aja chap ini ya hehe

Kurograce75 : Haha bisa jadi bisa jadi :D iya kita sodara tidak sekandung (Apaan!) Kenal sama hanaruppi karena dia bales ripiu saya (Padahal waktu itu saya ngak login) saya smpe terharu baca balesannya. Ngak nyangka aja dia smpe nyari id saya huhu. Dan Hanaruppi orangnya sangat welcome sekali, secara saya masih newbie tapi dia ngak mandang hal itu. Dan kebetulan obrolan kita nyambung gitu. Iya udah saya smpaikan ke Hana kok katanya salam balik. ^^

Gita Zahra : Silakan menuju ke bawah untuk mendapatkan jawabannya hehhee

Tiya-chan : Iya ini dilanjut hehe

Kura Cakun : Hehe maaf ya kudu gantian sm genre crimenya biar cpt selesai crtnya hihih

Haruki Ahou : Iya Sasuke emang kece disini hohoho

Hotarobi-chan : Etto, aku malah baru tau loh ada anime basilik, blom pernah ntn (Ketingalan jamban) Dan sepertinya saya tdk bisa memenuhi requestmu maaf ya huhu gpp ya ^^

Nurulita As Lita-san : Jawabannya ada dibawah sini hehe silakan ^^

East Robo : Silakan diliat feelingmu bener apa engge hehe

CherryBlossoms : Hehe karena Sasuke dendam

Mira Cahya 1 : Ada sesuatu lah diantara mereka haha, well sejak Fic ini beredar di pasaran hahhaa, selama ini memang dirahasiakan tapi skrg udah go public hahahaha

Makasih buat kalian *pelukatuatu* makasih buat terus memberi semangat sama kami ^^ maaf klo ada yg kelewat atau ada kata2 yng kurang mengenakan. Mohon di maafkan ya ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

"Tinggalkan perempuan itu, sebelum dia membencimu."

"Apa maksudmu?"

Akhirnya kata itu terlontar dari mulut Sasuke, setelah ia sempat terdiam beberapa saat. Mata hitamnya menatap curiga pada Itachi. Apakah ini adalah salah satu akal bulusnya untuk menjauhkan Sakura darinya? Karena Sasuke tahu dari awal ia membawa Sakura bersamanya, Itachi terlihat jelas tidak menyetujuinya.

"Jangan bicara seakan kau mengenalnya!" sambung Sasuke kesal.

"Bagaimana jika kukatakan aku tahu tentangnya?"

Itachi menghentikan ucapannya sesaat, mencoba untuk membaca raut wajah yang ditampilkan Sasuke saat ini. Raut wajah tak percaya.

"Perempuan itu … Haruno, benar, bukan?" tanya Itachi datar.

"Lalu? Apa hubungannya dengan urusan kita?" tanya Sasuke yang berusaha terlihat sedatar mungkin seakan ucapan yang baru saja ia dengar tidaklah mengejutkan untuknya.

Lagi pula jika memang Sakura adalah keturunan Haruno, lantas mengapa Itachi menyuruhnya untuk menjauhi Sakura? Bukankah hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan misi balas dendam mereka?

"Tidak ada. Tapi ada hal yang berhubungan dengan kematian Tou-san."

Kedua tangan Sasuke terkepal. Ia berusaha untuk menahan perasaan kesalnya. Apa-apaan ucapan Itachi barusan? Bagaimana mungkin Sakura terkait dengan kematian ayahnya, jika Itachi saja baru mengenal Sakura? Jadi Sasuke sendiri bisa menjamin bahwa Sakura juga tidak mengenal ayah mereka. Apa pria itu sedang melontarkan lelucon padanya?

Pria itu, Itachi. Apa tujuan ia mengatakan ini padanya? Apakah Itachi benar-benar berniat membuat ia menjauhi Sakura? Usaha yang sia-sia saja. Bodoh!

Sasuke mendengus sembari menampilkan senyum remehnya, "Jangan konyol, Itachi."

"Aku jadi semakin meragukan ceritamu. Apa semua yang kaukatakan padaku waktu itu benar? Atau kau sedang mengarang cerita padaku sekarang?" tanya Sasuke yang kini menatap Itachi tajam.

"Ucapanmu kali ini tidak masuk akal," lanjutnya.

Tatapan Itachi masih tetap tenang. Wajahnya pun masih mengisyaratkan keseriusan. Tegas. Seakan berkata secara tidak langsung bahwa tidak ada satu kebohongan pun dalam ucapannya.

Dan hal itu membuat Sasuke semakin tidak menyukai kondisi ini. Firasat buruk. Ya, ia merasa bahwa ucapan Itachi selanjutnya adalah hal buruk untuknya.

"Kau berpikir bahwa aku sedang bercanda saat ini?"

"Jangan berbelit-belit, Itachi! Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa Kaisar Hyuuga-lah yang membunuh Tou-san? Lalu mengapa sekarang kau membawa Haruno ke dalamnya? Yang mana dari ucapanmu yang harus kupercaya sekarang?"

"Semuanya. Semua yang kukatakan padamu adalah kebenarannya."

.

[Di tempat Naruto]

Sesampainya di Istana. Beberapa pelayan Istana sudah berbaris menyambut kedatangan rombongan Putri Hyuuga. Satu orang pengawal membuka pintu kereta kuda Hinata. Naruto yang duduk paling dekat dengan pintu itu lantas segera turun, kemudian satu tangannya terjulur untuk membantu Hinata turun dari kereta.

Hinata sempat menatap uluran tangan Naruto sebelum akhirnya ia memilih untuk mengabaikannya. Menolak uluran tangan itu. Dengan sedikit susah payah, Hinata turun dari kereta dan langsung berjalan pergi meninggalkan Naruto.

Semua pasang mata di sana menatap heran pemandangan barusan. Para pengawal dan pelayan istana termasuk Nenek Chiyo—pengasuh Hinata, hanya terdiam menyaksikannya. Bisa dibilang pemandangan barusan merupakan suatu hal yang sangat langka. Namun mereka segera mengalihkan pandangan mereka kala melihat Jenderal Divisi 1 mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tangan yang tadi diabaikan oleh Hinata.

Kedua mata Naruto terpejam dengan rahangnya yang mengeras. Raut wajah yang seakan menahan sakit teramat sangat. Dadanya terasa sesak. Rasanya benar-benar menyakitkan, namun ia terus berucap di dalam hatinya. Bagaikan merapalkan sebuah mantra. Mantra yang ia ciptakan untuk mengusir perasaan sakit itu.

Tidak apa-apa. Inilah resikonya.

Sebenarnya kondisi itu tidak berbeda dengan Hinata, yang kini mengigit bibirnya kuat-kuat. Meski ia berjalan tegap seakan memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja, namun Nenek Chiyo yang berjalan di sampingnya dapat melihat pancaran mata Hinata. Pancaran kesedihan yang sedang coba ia tutupi.

"Hinata-sama," panggil Nenek Chiyo lirih. Matanya menatap penuh kekhawatiran pada Putri Hyuuga itu.

"Aku ingin beristirahat. Biarkan aku sendiri."

Tanpa menoleh pada lawan bicaranya, Hinata langsung menutup pintu ruangannya. Mengabaikan beberapa pelayan yang membawa barang-barangnya, termasuk Nenek Chiyo yang sedari tadi mengikutinya.

Punggung itu langsung bersandar di balik pintu. Wajahnya tertunduk, dengan kedua tangan terkepal kencang di samping tubuhnya. Hinata tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Ia ingin menangis. Hinata ingin melampiaskan semua kekesalan dan kesedihannya, termasuk dengan apa yang telah ia lakukan pada Naruto.

Air mata pun akhirnya meluncur dari matanya. Sekuat tenaga ia menahan isak tangisnya agar tidak terdengar. Kini ia hanya sendiri. Benar-benar seorang diri karena tidak ada lagi orang yang bisa ia percayai.

Tidak ada lagi Naruto di sisinya. Naruto yang selalu membelanya. Naruto yang selalu mendukungnya. Tidak ada. Naruto kini sama seperti ayahnya. Naruto kini sama seperti yang lainnya.

Naruto tidak lagi memercayainya.

Namun yang menyebabkan air mata Hinata semakin deras mengalir adalah karena Hinata menangisi kebodohannya sendiri. Sungguh Hinata menyesalinya. Mengabaikan Naruto adalah hal yang tidak ingin Hinata lakukan. Menjauhi Naruto adalah hal yang selalu Hinata hindari.

Dan raut wajah Naruto barusan tidak bisa Hinata lupakan. Hinata telah melukainya.

Hinata tidak ingin begini. Tapi, Naruto juga amat melukainya. Apa yang telah ia lakukan tidak bisa Hinata terima begitu saja. Menyebalkan. Perasaan ini. Hinata tidak mengerti. Rasanya sungguh menyusahkan. Hinata tidak suka.

Hinata butuh Naruto sekarang. Saat ini juga. Tapi… Hinata tidak mau. Naruto tidak bisa ia percaya lagi.

Tak perlu waktu lama bagi Naruto untuk segera menjalankan apa yang sudah ia rencanakan. Mengabaikan perasaannya, ia bergegas pergi menemui orang kepercayaannya yang sebelumnya sudah ia tunjuk untuk mencari tahu mengenai Kekaisaran Haruno. Informasi yang tadinya ingin ia berikan pada Sakura.

Langkahnya lantas terhenti ketika sosok yang dicarinya telah berdiri di depannya, di depan kamarnya. Pria itu—Shimura Sai adalah orang yang sedari dulu sudah mengabdi pada Naruto. Sai lantas menundukkan tubuhnya—memberi hormat ketika melihat Naruto.

Sewaktu kecil Sai pernah diselamatkan oleh Naruto. Berdasarkan utang nyawa itulah Sai kini menjadi orang kepercayaan Naruto. Meski Naruto tidak pernah meminta Sai untuk membalasnya, namun Sai sudah memutuskan untuk memberikan hidupnya pada Naruto. Ia bersikeras akan selalu berada di sisi Naruto. Membantunya. Menjadi tangan kanannya.

Bisa dibilang bahwa Sai adalah bayangan Naruto. Karena itu pulalah Naruto tidak pernah ragu memberikan tugas rahasia apapun pada Sai. Meski begitu Naruto selalu menganggap Sai sebagai teman baiknya. Saudara laki-lakinya.

"Tinggalkan sejenak mengenai Kekaisaran Haruno. Aku memberi tugas baru padamu. Sekarang aku ingin kau mencari tahu tentang Fugaku Uchiha."

Sai mendongakkan kepalanya hingga mata mereka bertemu pandang. Mata biru yang sedang menatapnya tegas, dan terlihat ada amarah yang sedang ia coba tahan. Sai pun menegakkan tubuhnya kembali.

"Dari pencarian informasi yang telah kuperoleh, Fugaku Uchiha adalah pemimpin dari ke-shogun-an resmi Kekaisaran Haruno. Ke-shogun-an Uchiha."

Mata biru itu berubah, menatap tak percaya pada pria di depannya.

"Ke-shogun-an Uchiha? Apa kau tidak salah Sai? Ke-shogun-an resmi Kekaisaran Haruno adalah Hyuuga."

"Aku sendiri tidak percaya ketika mengetahui ini. Sepertinya ada sesuatu hal yang disembunyikan rapat-rapat oleh mereka."

"Mereka?" Kedua alis Naruto mengerut.

"Aku mencoba melacak jejak kematian para korban pembantaian Itachi. Dan dari semua korban itu, aku menemukan bahwa mereka semua adalah para daimyo yang berkuasa pada zaman Kekaisaran Haruno. Setelah kematian Kaisar Haruno, secara resmi Kaisar Hyuuga mengangkat mereka menjadi pejabat istana dan melengserkan para pejabat Kaisar Haruno."

"Bukankah dalam sejarah kekaisaran pernah menyebutkan bahwa para pejabat Kaisar Haruno diturunkan dari jabatan karena banyaknya skandal?"

"Sebagian benar, namun sebagian besar tidak. Aku bersusah payah untuk mendapatkan banyak informasi mengenai ini. Aku berhasil menemukan mantan wanita simpanan salah satu penjabat Kaisar Haruno. Wanita itu mengatakan, sehari setelah Kaisar Haruno terbunuh, pria yang menjabat sebagai kaisar sekarang mencabut semua jabatan mereka. Menolak sama dengan mati. Dan parahnya, menuruti pun juga berakhir mati."

"Apa?!" Tanpa sadar Naruto menaikkan nada bicaranya.

Sai mengangguk kecil, "Ya. Berdasarkan informasi itu, aku berhasil mendapatkan hal yang menakjubkan. Bahwa semua mantan pejabat Kaisar Haruno telah meninggal dunia. Kematiannya pun beragam. Dari waktu ataupun penyebab kematiannya. Ada yang meninggal karena hukuman skandal, penyakit dan juga sebagian besar kecelakaan."

"Tidak mungkin," gumam Naruto pelan. Sedikit meragukan ucapan Sai.

"Wanita itu mengatakan bahwa mereka adalah dalang dari kematian beruntun itu. Bisa jadi penyakit itu pun mereka jugalah penyebabnya."

"Kau sudah selidiki hal itu?"

Sai menggeleng pelan, "Sayangnya baru sampai tahap itu aku berhasil mendapatkan informasi mengenai Kekaisaran Haruno, yang sepertinya berujung pada rahasia besar milik Kasiar Hyuuga. Kau terlalu cepat kembali dari tugasmu? Apa ada yang terjadi, Naruto?"

Mata biru itu meredup, "Aku bertemu dengan Itachi Uchiha. Dan dia mengatakan hal yang awalnya tidak masuk akal untukku. Bahwa Kaisar Hyuuga telah membunuh Fugaku Uchiha, tou-san-nya."

"Satu lagi puzzle terbuka. Bukankah ini semakin menarik?" Seringai tipis tercetak di wajah pucat Sai.

Naruto tidak menanggapi senyum palsu milik Sai. Pikirannya sekarang sedang menerka-nerka dan menyusun informasi yang baru ia terima, sehingga banyak pertanyaan timbul dalam benaknya.

Kenapa hal ini menjadi saling berkaitan? Ada apa antara Haruno, Uchiha dan Hyuuga? Apakah semua yang Itachi katakan itu benar? Mengapa semua data mengenai Uchiha seperti tersembunyi? Begitupun mengenai Kekaisaran Haruno.

Seperti ada peristiwa yang hilang di sini. Entah hilang atau disembunyikan? Yang pasti Naruto harus mencari kebenarannya.

Satu tangannya kini memegang erat handle katana-nya, "Beritahu aku, Sai, apa masih ada "mereka" yang tersisa?"

Sai mengangguk cepat, "Ada Hidan dan juga Orochimaru. Kau bebas memilh, Naruto."

"Kalau begitu biar aku sendiri yang akan mengurusnya. Kau cukup cari informasi mengenai pergerakan Itachi. Kali ini Itachi tidak sendiri, ada pria bernama Sasuke ikut bersamanya."

Sai kembali mengangguk, "Baik." Dan kemudian memberi hormat pada Naruto.

Tapi sebelum ia benar-benar pergi, Naruto kembali mengeluarkan suaranya. Sejenak Sai menghentikan langkahnya dan menatap pria kuning itu.

"Berhati-hatilah, Sai."

Pria itu kembali mengangguk sembari tersenyum tipis. Setelah sosok Sai benar-benar menghilang, Naruto juga bergegas pergi menuju tempat di mana semua rahasia ini akan terbongkar.

.

.

Sasuke mencoba menekan emosinya. Mencoba untuk tetap tenang sepeti Itachi. Pria yang masih menunjukkan wajah seriusnya. Masih menengaskan bahwa kata-katanya barusan adalah benar.

"Aku tidak mengerti. Apa hubungannya Haruno dengan Uchiha?" tanya Sasuke yang sudah kembali tenang.

Itachi tidak langsung menjawabnya. Matanya terpejam sesaat, ia masih menimbang-nimbang untuk menjawab pertanyaan itu. Jawaban yang Itachi yakini tidak akan bisa dengan mudah Sasuke terima. Namun akhirnya ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Sasuke. Bagaimanapun pria itu tetaplah ayah mereka, dan Sasuke wajib mengetahuinya. Baik dan buruknya pria itu.

"Karena Fugaku Uchiha, tou-san kita membunuh Kaisar Haruno."

Dan sesuai dengan apa yang Itachi perkirakan. Meski hanya sebentar Itachi melihat keterkejutan di wajah Sasuke. Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa ia tidak memercayainya. Mata hitam itu seakan berkata bahwa Itachi sedang menyampaikan kebohongan.

Maka sebelum mulut Sasuke yang melontarkan ketidakyakinan itu. Melontarkan beribu pertanyaan di benaknya. Itachi kembali melanjutkan kata-katanya.

"Kau mungkin tidak akan memercayainya, tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Tou-san kitalah yang menghabisi nyawa Kaisar Haruno, yang mana adalah ayah dari perempuan itu."

Mata Sasuke melebar. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.

"Sakura? Anak dari Kaisar Haruno? Bagaimana kau bisa tahu bahwa dia anak dari Kaisar Haruno? Jangan hanya berbicara omong kosong belaka, Itachi!"

"Sudah kukatakan padamu. Semua yang kukatakan adalah kebenarannya. Kalung itu, simbol dari Kekaisaran Haruno. Akulah yang meletakkannya."

Flash Back

Itachi terus berlari menjauh dari pemandangan yang menyakitkan untuknya. Rumah yang ia tinggali selama ini bersama dengan ayah, ibu serta adik yang baru beberapa hari terlahir ke dunia kini dilahap oleh api.

Meski Itachi sekuat tenaga berlari untuk menyelamatkan ibu dan adiknya. Namun nyatanya api telah melahap semua bangunan itu. Kobaran panas itu seakan melarang semua orang untuk masuk ke dalamnya, termasuk dengan Itachi.

Dengan wajah berhias air mata Itachi mencari ke sekeliling. Berteriak memanggil-manggil nama ibu dan adiknya. Berharap bahwa mereka berhasil menyelamatkan diri, atau mungkin berhasil diselamatkan oleh seseorang. Namun ternyata nihil. Tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda keberadaan mereka.

Beberapa orang yang berada di sana hanya bisa menundukkan wajahnya ketika Itachi bertanya tentang ibu dan juga adiknya. Mereka semua hanya bisa diam dan menggelengkan kepala mereka.

Dan hal itu semakin membuat tangisan Itachi semakin deras. Ia terlambat menyelamatkan mereka. Itachi telah gagal menyelamatkan orang yang ia sayangi. Di hari yang sama, ia telah kehilangan semua orang yang berarti dihidupnya.

Bahkan noda darah sang ayah, yang juga telah tewas masih menempel di pakaiannya. Noda merah itu bahkan belum jua mengering. Satu tangan Itachi mencengkram erat noda itu. Cairan merah yang kini menempel di telapak tangannya. Semakin membuat ia tidak bisa menghentikan air matanya.

Itachi tidak bisa menepati janjinya dengan sang ayah. Janji terakhir sebelum pria itu mengembuskan napas terakhirnya. Itachi berteriak di sela-sela tangisannya. Tidak ada lagi yang ia miliki di dunia ini. Semuanya telah lenyap. Semuanya telah direnggut darinya.

Direngut oleh laki-laki yang membunuh ayahnya. Laki-laki berengsek!

Tangan Itachi terkepal. Wajahnya mengeras. Pandangan matanya menajam meski air mata masih mengalir dari matanya.

Laki-laki itu harus merasakannya. Perasaan kehilangan ini. Perasaan sakit ini.

Ya, Itachi akan membuat perhitungan dengan laki-laki itu. Itachi bersumpah akan mengabdikan sisa hidupnya untuk membuat laki-laki itu menderita.

Dan seketika Itachi segera berlari kencang. Ia sadar, cepat atau lambat laki-laki Hyuuga itu pasti akan membunuhnya juga. Karena itu Itachi memutuskan untuk keluar dari lingkungan istana, dan jalan utama bukanlah pilihan yang tepat sekarang.

Itachi memilih berlari ke belakang area istana, di mana terdapat hutan yang Itachi yakini tidak akan dilalui oleh para suruhan laki-laki Hyuuga itu. Hutan itu jarang terjamah oleh manusia. Jadi menurutnya tempat itu adalah tempat pelarian yang pas.

Bagaimanapun Itachi harus tetap hidup.

Berbekal pencahayaan seadanya, Itachi memasuki hutan itu hingga ia berhasil menemukan sebuah sungai besar di sana. Sungai yang terdapat tepat di tengah hutan itu. Ia bersyukur ayahnya pernah mengajaknya latihan di dalam hutan ini. Ayahnya pernah mengatakan bahwa aliran sungai ini akan mengantarnya menuju desa lain.

Mata Itachi menatap lurus aliran sungai itu. Sungai yang tidak begitu deras, dan memiliki air yang sangat jernih. Ia berjalan di salah satu sisi sungai itu. Mengikuti ke mana arus air mengalir. Baru beberapa langkah ia jalani, mata hitamnya menangkap sosok tubuh yang tergeletak di depannya.

Tanpa pikir panjang lagi Itachi segera mendekati sosok itu, yang ternyata adalah sosok seorang wanita. Itachi membalikkan tubuh itu hingga mata hitamnya dengan jelas bisa melihat wajah wanita itu. Wanita yang Itachi ketahui adalah istri dari Kaisar Haruno. Mebuki. Itachi pernah sekali bertemu dengannya.

Perlahan mata wanita itu terbuka, "Tolong selamatkan putriku."

Wanita itu merintih di sela-sela napasnya yang pendek. Pandangan matanya menatap sayu pada Itachi. Wajahnya bahkan telah dihiasi oleh peluh.

Mata Itachi segera menjelajah dan menemukan sebuah luka yang cukup dalam di bagian perut wanita itu. Awalnya Itachi cukup terkejut saat mengetahui identitas wanita ini. Wanita yang seharusnya juga diburu dan dibunuh. Itachi tidak menyangka bahwa Mebuki berhasil melarikan diri hingga ke hutan ini.

"Bertahanlah. Aku akan mencoba untuk mengobati luka Anda."

Mebuki menggelengkan kepalanya lemah. Satu tangannya bergerak dan menahan tangan Itachi yang berniat membalut luka di perutnya.

"Aku tidak sanggup lagi untuk bertahan. Tolong selamatkan saja putriku, kumohon," pinta Mebuki lemah.

Mata Itachi bergerak menatap keranjang rotan berisi bayi mungil yang tertidur lelap. Bayi perempuan berambut merah muda. Seketika itu juga terlintas di benaknya bayangan adik kecilnya. Sasuke.

Ada perasaan perih melanda Itachi. Apakah hukum karma itu berlaku?

Mata Itachi kembali menatap wanita itu. Ia menganggukkan kepalanya mantap. Tentu saja, ia pasti menyelamatkannya. Mungkin hal ini bisa menebus sedikit kesalahannya.

Mebuki berusaha untuk tersenyum, kedua matanya hampir tertutup dan semakin sulit ia buka. Mungkin ini sudah tiba baginya untuk pergi. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi.

"Tolong, aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali."

Itachi mengangkat bayi kecil itu, dan ia perlihatkan tepat di depan wajah Mebuki. Seketika air mata meluncur dari kedua mata Mebuki. Matanya menatap lekat pada bayi mungil yang masih terpejam. Bayinya, anaknya yang sangat ia cintai.

Ada sebagian dari perasaannya yang tidak rela meninggalkan buah hatinya. Namun kondisinya sudah tidak lagi memungkin untuk bisa bertahan. Ia tidak punya pilihan lagi selain harus pergi, menyusul suami tercintanya yang telah lebih dulu meninggalkannya.

Mata yang masih tergenang itu kini berpindah menatap Itachi, "Bisakah kau ambilkan kalung di leherku ini? Hanya itu satu-satunya benda yang bisa kuberikan padanya. Kalung pemberian dari suamiku, tou-san-nya."

Itachi mengangguk sebagai jawabannya dari permintaan wanita itu, kemudian mata Mebuki kembali berpindah menatap bayi mungil itu.

"Anakku, maafkan kaa-san yang tidak bisa bersamamu. Meski begitu, kaa-san dan tou-san tetap mencintaimu. Kami tidak akan meninggalkanmu. Kalung itu adalah tanda bahwa kami selalu mencintaimu. Kami selalu bersamamu. Kami selalu berdoa agar kebaikan selalu datang padamu."

Dan Mebuki kembali menatap Itachi. Wanita itu tersenyum di sela-sela tangisannya.

"Te-terima kasih," ucap Mebuki lemah dan terbata-bata, dan tepat setelahnya wanita itu pun mengembuskan napas terakhirnya.

Itachi menundukkan wajahnya dan bersamaan dengan itu, bayi mungil itu pun menangis. Mungkinkah ia menangisi kepergian ibunya?

Dan entah mengapa Itachi sendiri tidak bisa menahan air matanya. Itachi seakan melihat bayangan ibunya. Ia membayangkan ibunya sedang mengatakan hal itu padanya. Dadanya pun terasa sesak mengingat sosok ibunya yang juga telah pergi, beserta adik laki-lakinya.

Sekali lagi pertanyaan itu muncul di dalam benaknya. Apakah hukum karma berlaku? Karena sepertinya apa yang ia terima hari ini adalah buah yang ditanam oleh ayahnya sendiri.

Mata hitam Itachi kembali berpindah menatap bayi kecil itu. Bayi yang kini bernasib sama dengannya. Bayi yang juga harus menderita seperti dirinya. Seketika Itachi memeluk bayi itu.

Dua orang itu kini sama-sama menangis. Suara pilu yang memecah keheningan malam.

"Jangan menangis lagi. Dan kumohon, tolong maafkan tou-san-ku."

Dan sesuai permintaan Mebuki, Itachi pun mengambil kalung itu dan meletakkannya di dalam keranjang rotan itu. Tepat di sebelah bayi mungil yang kini tertidur lelap.

Lalu ia pun berjalan pergi menyusuri aliran sungai itu, dengan membawa bayi mungil itu.

Flash Back Off.

"Dan kemudian aku sengaja meletakkan bayi itu di sebuah sungai, hingga sepasang suami-istri di sana menemukannya kemudian membawanya."

Sasuke berusaha untuk tidak memercayai apa yang didengarnya, namun semua bukti itu tergambar jelas di depan matanya.

"Apakah dia bisa menerima kenyataan ini? Perempuan itu, apakah masih akan mencintaimu jika ia tahu yang sebenarnya?" tanya Itachi mengintimidasi.

"Kalau begitu cukup rahasiakan hal ini darinya," jawab Sasuke cepat. Bahkan tanpa ada keraguan sedikit pun.

Tidak bisa. Sasuke tidak bisa jika harus kehilangan Sakura. Tidak akan. Tidak akan bisa.

.

.

[Keesokan Harinya]

Kabar kembalinya Kaisar Hyuuga dari perjalan telah sampai di telinga Naruto. Perintah untuk segera menghadapnya pun juga telah sampai. Perintah untuk memberikan laporan mengenai perjalan mereka.

Alisnya sempat mengerut sesaat kala salah satu utusan Kaisar datang menghadapnya. Menyampaikan semua perintah Kaisar. Naruto hanya tidak habis pikir, mengapa Kaisar terlihat terburu-buru? Pasalnya pria itu bahkan baru saja tiba. Bukankah lebih baik ia mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu?

Apakah topik mengenai Itachi Uchiha membuatnya tidak bisa tenang? Tanpa sadar Naruto menyunggingkan senyuman remehnya.

Naruto mengangguk pelan hingga utusan Kaisar itu pun pergi. Tak beberapa lama, mata biru itu menangkap satu sosok pria berjalan mendekat ke arahnya. Pria yang sebenarnya Naruto nantikan kehadirannya sedari tadi.

Namikaze Minato. Ayahnya.

Mata yang memiliki warna serupa itu saling menatap. Minato dapat melihat jelas kekakuan di raut wajah putranya. Raut wajah yang seolah menyimpan beban sangat banyak.

"Ada apa? Bukankah Kaisar memerintahkanmu untuk menghadapnya? Kenapa kau masih berada di sini?" Tanya Minato sembari memperpendek jarak dengan Naruto. Ia sadar, ada sesuatu yang ingin Naruto sampaikan padanya.

Naruto tidak langsung menjawabnya meski Minato sudah berjalan melewatinya. Masuk ke dalam kediaman mereka. Minato sejenak melirik putranya, yang kini hanya dapat menemukan punggung tegak Naruto.

Namun kemudian mata biru itu melihat Kushina yang berjalan menghampirinya. Dengan menggunakan isyarat, Minato menyuruh Kushina untuk tidak mendekat. Kushina sempat menatap cemas ke arah dua pria yang sangat ia cintai itu, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan dan berjalan pergi menuruti perintah suaminya.

"Apa kau mengetahui tentang Itachi Uchiha?" Tanya Naruto tanpa menatap orang yang diajaknya bicara.

Langkah Minato seketika terhenti.

"Pria pemberontak yang mengincar kedudukan Kaisar," jawab Minato tenang meski ia sendiri tidak mengerti mengapa putranya tiba-tiba menanyakan hal ini.

"Apakah hanya itu?"

Minato kembali melirik kearah putranya, "Apa kau mengetahui hal lainnya?"

"Jawab saja pertanyaaku, Tou-san?" Tanya Naruto tegas.

"Ya, hanya itu," jawab Minato singkat.

Mendengar nada penuh keseriusan yang seakan tidak bisa dibantah olehnya, membuat Minato semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada putranya kini. Pria yang terlihat seperti menyimpan banyak rahasia di dalamnya.

"Bagaimana kau bisa mengenal Kaisar Hyuuga? Mengapa ia menjadikan Ke-shogun-an Namikaze menjadi Ke-shogun-an milik Kekaisaran Hyuuga?

"Bukankah kau sendiri sudah mengetahui jawabannya?" Minato pun mengubah posisinya menghadap punggung Naruto. Menatap punggung itu dengan tatapan tidak mengerti.

"Ada apa, Naruto? Apa yang sedang kau coba yakini?"

"Keterkaitanmu," jawab Naruto cepat.

Minato memilih diam. Ia seakan menunggu ucapan Naruto yang seakan masih tertahan di dalam mulutnya.

"Apa kau berada dipihaknya?" sambung Naruto.

Dan akhirnya Naruto membalikkan tubuhnya hingga kedua pria itu kini saling berhadapan. Mata biru itu saling menatap. Mata yang kini memancarkan emosi berbeda.

"Apa kau juga ada sangkut pautnya dengan runtuhnya Kekaisaran Haruno?"

"Katakan padaku apa yang telah kau ketahui?" Mata biru milik Minato menajam. Menatap marah pada putranya, "Apakah kabar itu benar? Bahwa kaulah yang membunuh Hidan?"

[Di tempat Sasuke]

Dengan langkah gontai, Sasuke berjalan menuju tempat di mana Sakura berada. Tempat di mana Sakura menunggunya. Kepalanya menunduk, tatapan matanya berubah kosong. Di dalam benaknya, ucapan Itachi terus saja terulang. Berputar-putar tanpa bisa ia enyahkan.

Ucapan yang telah memutar dunianya. Ucapan yang telah meruntuhkan keyakinannya. Ucapan yang sampai saat ini sebenarnya masih belum bisa ia terima.

Langkah kaki itu terhenti. Di depan pintu kamar itu, mata hitamnya menatap ragu. Kenyataan yang telah ia ketahui itu telah sukses menggores perasaannya. Sakura? Akankah perempuan itu bisa menerimanya?

Belum sempat ia mengumpulkan tekadnya untuk bertemu dengan Sakura. Pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Sakura yang sedikit terkejut karena mendapati Sasuke sedang berdiri di sana. Namun kemudian helaan napas meluncur dari mulutnya.

"Baru saja aku ingin mencarimu. Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?" tanya Sakura yang menatap Sasuke dengan pandangan cemas. Mata hijaunya menjelajah dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa tidak ada luka di sana.

Pasalnya ia sudah menunggu seharian, namun Sasuke tidak juga muncul. Seakan menghilang dan itu membuat Sakura takut. Sakura sudah membayangkan berbagai kemungkinan terburuk, dan yang terparah adalah Itachi membunuh Sasuke.

Tanpa sadar Sasuke meletakkan satu tangannya di kepala Sakura yang sedang menunduk—menatap kakinya. Ia gerakan tangan itu perlahan. Membelai pelan rambut merah muda itu.

"—tou-san kita membunuh Kaisar Haruno."

Sasuke memejamkan matanya, seakan menahan perasaan sakit yang tiba-tiba muncul di benaknya.

"—Tou-san kita lah yang menghabisi nyawa Kaisar Haruno, yang mana adalah ayah dari perempuan itu."

"Jika aku tidak membunuh Hinata, kau tetap akan bersamaku 'kan?" Tanya Sasuke tiba-tiba.

Kemudian tangan itu berpindah ke belakang kepala Sakura dan menariknya hingga ujung hidung Sakura menempel di dadanya.

"Jangan pergi, Sakura."

Mata hijau Sakura melebar. Terlebih Sasuke kini mendekapnya erat. Mendekap seakan tidak akan melepasnya. Membuat Sakura merasa sedikit sesak. Namun bukan itu alasan utama mengapa Sakura terkejut mendengar ucapan Sasuke barusan.

Ini adalah kali pertama Sasuke memanggil namanya. Pelan dan teramat dalam. Seakan ada nada permohonan terselip di dalamnya. Apa yang terjadi? Apa ia kembali mengingat ibunya? Apakah kenangan buruk itu kembali melandanya?

Karena terakhir kali yang Sakura ingat. Sasuke pernah seperti ini saat pertama kalinya ia dan Itachi bertemu. Sasuke yang terlihat bisa hancur saat itu juga. Pria yang terlihat merapuh.

Sakura pun melepaskan pelukan itu. Kedua tangannya menangkup wajah Sasuke, hingga akhirnya mata mereka bertemu. Mata hitam yang meredup. Menampakkan luka yang jelas di sana. Entah tidak sempat atau mungkin tidak bisa Sasuke sembunyikan.

"Apa yang terjadi?" tanya Sakura lembut. Kedua ibu jarinya membelai pelan wajah Sasuke.

"Apa Itachi mengatakan hal yang buruk padamu?" Mata hijau itu ikut meredup. Tiba-tiba timbul perasaan kesal pada sosok Itachi, meski ia adalah kakak kandung dari Sasuke.

"Kau bisa ceritakan padaku. Kau tidak lagi sendiri, Sasuke."

Sebuah senyuman manis tercetak di wajah Sakura. Senyuman yang mengumpulkan kembali pecahan perasaan yang terserak begitu saja. Senyuman yang kembali menguatkan perasaan Sasuke.

Namun kini senyuman itu juga menggores perasaan Sasuke. Apakah senyuman itu masih bisa ia lihat lagi? Apakah senyuman itu masih bisa ia dapatkan?

Setelah beberapa menit terlewati oleh keheningan. Sakura kembali mencoba melontarkan pertanyaan itu lagi. Ia masih berusaha untuk mengambil beban yang sedang Sasuke pikul saat ini. Kesedihan itu, Sakura tidak suka melihatnya.

"Jadi, apa saja yang Itachi katakan?"

Mata Sasuke terpejam sesaat, "Semua yang dikatakannya memang benar. Tidak ada keraguan lagi."

"Hanya itu?" tanya Sakura lagi.

Sasuke melepaskan kedua tangan Sakura, kemudian membawa tubuh itu ke dalam pelukannya lagi. Ia tidak bisa membicarakan hal ini ketika harus menatap mata hijau itu.

"Juga tentang rencana balas dendamnya," jawab Sasuke pelan.

Tangan Sakura kini melingkari pinggang Sasuke. Membalas pelukan hangat itu, namun entah mengapa terdapat perasaan luka yang mampu ia rasakan pada pelukan ini.

"Dia telah mengumpulkan tenaga bantuan untuk meruntuhkan Kekaisaran Hyuuga. Bersama dengan Hashirama Senju, mereka meminta bantuan pihak asing untuk melakukan itu. Kemarin negoisasi sudah terjadi, dan kesepakatan itu telah berhasil. Beberapa hari ke depan mereka siap menyerang Kekaisaran Hyuuga."

Tanpa sadar jemari Sakura mencengkram erat pakaian Sasuke. Itachi berniat menghancurkan Kekaisaran Hyuuga?

"Dan kau menyetujuinya?"

Mendengar tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sasuke membuat Sakura lantas melepas paksa pelukan itu. Tangannya mencengkram erat kedua tangan Sasuke.

"Kau menyetujuinya, Sasuke?" tanyanya dengan nada keras. Memaksa. Seoalh menuntut Sasuke untuk segera memberinya jawaban.

Tidak juga mendapat tanggapan dari pria di depannya. Kepala merah mudanya menggeleng pelan, "Apa kau tidak sadar dengan apa yang akan kalian lakukan?"

Mata hijaunya kini menatap tegas, dan terselip kemarahan di sana. Sakura tidak bisa menerimanya. Rencana itu. Menghancurkan Kekaisaran Hyuuga? Jangan bercanda! Itu hanya keinginan egois pria bernama Itachi saja. Dan yang semakin membuatnya marah adalah Sasuke yang tampak ikut menyetujuinya.

"Bukankah kau sendiri tahu bahwa itulah tujuan hidupku?"

"Tujuan hidup? Kau bukan hanya akan menghancurkan Kekaisaran Hyuuga, tapi kau juga akan menghancurkan seluruh bangsa ini, Sasuke. Tidakkah kau sadar?" tanya Sakura lagi.

"Harus ada berapa orang lagi yang akan menjadi Itachi dan Sasuke yang lain?"

Sakura segera melepaskan cengkraman tangannya. Bahkan ia mundur beberapa langkah dari Sasuke.

"Harus ada berapa orang lagi yang merasakan deritamu? Berapa orang yang harus kehilangan orang yang dicintainya sepertimu?"

"Kau tidak bisa menerimanya? Jalan hidupku ini?" tanya Sasuke tajam.

Dua pasang mata berbeda warna itu masih saling berpandangan. Masih mencoba untuk saling membaca. Berusaha untuk menyelami emosi masing-masing, hingga akhirnya Sakura mengeluarkan suaranya.

"Tidak. Aku tidak bisa," jawabnya tegas.

Sakura memutuskan bahwa ia tidak bisa menerima keputusan Sasuke. Rencana itu, Sakura tidak bisa menerimanya. Kali ini masalahnya bukan hanya dendam Itachi dan Sasuke, tapi sudah menyangkut seluruh hidup masyarakat banyak.

Bersambung

Curcul :

Hai ^^

Gimana chap ini? Bikin kalian pusing ngak? Wkwkwk *ketawajahat* sengaja ngak terbuka, jadi silakan menebak dari clue2 diatas hahaha

Dan maaf yak klo adegan Sasusaku mulai berkurang, ya emang, mau ngak mau 'kan. Crimenya sekarang merajalela, dan hubungan dua pairing disini mengalami hal yang sama haha. Sasuke dan Naruto sm2 menyembunyikan apa yng mereka tahu dari para gadisnya uhh so sweet.

Sesuai janji, saya panjangin loh chap ini dan ngaret updatenya ngak lama kan. Tapi masih blom bisa janji update rutin. Maaf ya huhu, apalagi skrg saya tepar huhu, kebanyakan ngebolang nih hahaha…

Anggap saja ini THR dari kami buat kalian. Smoga kalian suka ya ^^

Sampai ketemu di chap selanjutnya ya ^^

22-07-15

.

[U W] — Istri Sah Taka, One Ok Rock :* —