Naruto selamanya milik bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
KuroNeko10 : Syukurlah kalau sudah ngak bingung :D Di hatiku *Tabokh* entah, mungkin nanti dikit lagi kali ya klimaksnya? Apa ngak ada ya? Duh, (Dia bingung sendiri) -,-
Jheincheyon : Betul sekali.. masa sih? Iya ya gpp, jangan diulangi lagi ya klo ngak nyawa gaara melayang (Apaan?) hihi
Manthika Mochi : Duh bang Sasuke aja udah ngak galau noh..
Ikalutfi97 : Iya coba Sasuke menuruti kamu ya hohoho.. Tebakanmu benar, hebat *tepoktangan* keren keren... (ceritaku mudah tertebak ya :D )
Guest : Ada kok sasusaku tapi munculnya beda tmpt hihihi.. sipp.. tepat waktu kan chap kali ini ^^
Harocyn Akko : Maaf, ini ngak ngaret kan ^^ PLAK! Berapa kali mamah bilang jangan cium2 SUAMIku sembarangan :P
Ferish0407 : Jujur saya sebenarnya punya 2 ending, ada sad ada happy udah saya siapin 22 nya kok haha dan maaf scene Ssnya sedikit di chap ini, maklum kan lagi pisah ranjang haha
Fiochan51 : Gpp kok ^^ makasih masih mampir loh hehe
Pinkrames : Ulala centar membahana hihi kasian ya dua cowo ganteng itu (cium Naru dan Sasu) hhihi
East Robo : Tidaakkk *Lempar bom* enak aja suamiku dibawa2 PLAK! :P
Yoktf : Cie yang ditinggalin (Apaan sih?) *DiAmaterasu*
GaemSJ : Tet! Alamat palsu, penyanyi ayu ting tong! (Dikata tebak lagu)
Dianarndraha : Iya sementara adegan itu ngak ada dulu hehe
Ulfia834 : Betul, gantian ya Saku yang capcus hihi eh, aku jg gt kok, aku dikasih tau sm adeku malah, dan bener awal2 ngak ngerti sm istilah yg ada di FF gt, sering kejebak haha gpp aku suka kok baca curhatanmu hehe
Aiko Asari : Jawabannya adalahhh, jelas ada sih namanya lagi perang haha dan kita lihat apakah tebakanmu nanti benar hehe...
Beery Uchiha : Haii salam kenal juga, selamat datang di SH ^^
Ayuniejung : Kasian Sakura juga sih haha Sasuke yah kita liat dichap ini aja ya
Nia SSL : Gtw smpe chap brp nih hehe panggil Kak Ucul jg gpp, hmm disatuin ngak ya *diceburin* ya baca trs aja ya hehe
Sheryl Euphimia : Udah lanjut nih, makasih ya ^^
Raniaa485 : Makasih, ya emang udh jalannya bgtu wkwk cek PM mu ya? Atau ngak twitter aku ada, Dii_creamy hehe
Ahyazki Sho : Aku jg sedih mereka pisah :D hmmhh maaf sesuai naskah, chap depan didominasi oleh Naruhina, duh kasian sekali hinata *pelukmamaHinata* klo dibunuh nanti kasian sm bebep naruto donks huhuh
Nikechaaan : Ada pas perang kan banyak prajurit yang mati wkwkwk
Arisahagiwara chan : Iya, semoga klo bareng senengnya bisa dua kali lipat hehe
Young Lee : Sip ^^
Princess948 : Huee aku kurang mendramatisir ya (Kurang nonton drama kayanya ya) Aku usahakan deh, smoga kedepannya makin greget ya...
Guest : Sip ^^
Aitara Fuyuharu1 : Tau nih Itachi -,- Duh, sama kali ya manisnya kaya aku *dijotos*
Egha714 : Sama2 lagi, aku juga seneng dpt ripiu dr kamu makanya aku bales ^^ Mksh banyak ya semangatnya.. hmm buat romensnya mungkin nanti (gtw dichap brp) ada lagi ^^
Guest : Hihi blom ada satu chapter ke pisah, ngak lama kok nanti kan diperang ketemu upssss
Suket alang-alang : Smoga sih, Sakura gitu loh.. yah, dia emang wanita kuat sih, kuat nunggu Sasuke dari kecil wkwk kok jd ngaco ya aku bahasnya hehe
Septiyvia28 : Gpp, makasih dah baca ya ^^ hmm maunya sad end apa happy hehe. Gaara libur dulu, bosen lah klo crtnya Cuma panas2an doank hehe
Vanny chan : Makash udah suka ^^ eh, aku sudah melewati dua masa itu hehe.. aku udah kerja hehe
Ciheelight : Sabar perangnya dikit lagi kok. Sama2, terima kasih banyak atas dukunganya ^^ *peluk*
Virinda : Eh masa sih? Ywd balikin donk Sakura bilang cucian oiring drmhku udah numpuk *dishanaro*
SRH : Blom tau nih chap brp huhu bener sih, tapi tahu tuh Sasuke *lirikbangganteng* hoho blom bisa jawab ahhhh, dan chap ini lebih panjang kok.. sudah jgn galau lagi ya, mending baca SH aja wkwkw
Neko : Iya ini udah cepet kan? Hihi
Wowwoh geegee : Hihi Sasuke jarang galau kebanyakan sakura mulu yg galau haha
Septemberstep : Pacar? Ehm sejak kapan ya Sasuke jd pacar kamu :p haha aku juga suka sm Naru *ciumNaru* ada donk deathchara namanya perang hihi
Annisa Alzedy : Nanti ketemu lagi kok (bukan di chap ini tapi) terima kasih banyak buat doanya *terharu*
Gita Zahra : Huhuhu smoga crtnya menarik terus deh hehe aku kan ratu tega ^^
Hanazono yuri : Siaaappp ^^
6934soraoi : Hooh, hashirama Cuma pengen tahta aja.. bagian naruhina ada dibawah hehe hmm masih rahasia klo yg itu hehe chap ini jauh lebih panjang tapi gtw feelnya deh
Eysha Cherryblossoms : Hooh aku aja pas bacanya sejarah jepang pusing (Sebenarnya aku tdk suka pelajaran sejarah).. sayang Sakura ngak tau yak.
Natahlie Ichino : Trs ngak kasian sm Naruto wkwk ngak lama kok cm brp chap doank hehe
Alzenardsmr : Sakura ngak jahat kok dikit sadis aja hehe hmmmm udah ada di skrip jadi kita liat nanti aja klo ktmu gmn haha
Darkcrowds : Sipppp ^^
Istrinya Soujiro : Ohh orang tegal (Sok kenal bgt dah ane) Itachi pasangannya sm Hana hehe. Hihi klo itu sm Hana langsung aja *kunci mulut* aku ngak bisa kasih sop iler eh spoiler hehe
Yuie : Untung deh udh ngak bingungin ^^Masa? Tadi ada yg bilang paling kasian Haruno. Orang beda2 sih ya hoho. balikan ngak ya? Hmmm ditunggu aja deh ;P
Anna Pratiwi267 : Mau perang dulu ya hehe trs ngak ada sayang. Ngak ada lemon, lime dan sejenisnya klo jambu air mau ngak? Hehe pisss
Ash Shey : Jawabannya di chap ini (Singkat amat jawaban aku yak hehe) iya semangat kok krn ripiu kamu
BaekhyunSaranghaeHeni : Hihi kmn aja hayooo :P maaf blom sempet kesentuh lagi ihhh,, ya smoga abis SH ya (Smoga)
Dark Heiji : Makasih ya ^^
Eva 77Phone : Salam kenal juga ^^ eh drama apa ya klo boleh tau? *kepo
Fahri Uchiha : Makasih banyak buat smngatnya ya
Pinktomato : Iy nanti ada saatnya ketemu kok Sasusakunya ^^
Istrisasuke : Iya, ngak lama kok, cm chap ini emang blom ketemu hehe...
Makasih banyak untuk kalian selalu. Terima kasih selalu menghargai kerja keras kami ^^ *pelukatuatu* maaf klo ada kesalahan penulisan nama atau kata-kata ya ^^
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
Hinata memandang langit dari jendela kamarnya. Setelah kepulangannya, tidak sekalipun ia beranjak pergi dari kediamannya. Ia hanya menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Sendirian. Lagi pula apa yang bisa ia lakukan di luar sana?
Jangan lupa bahwa Hinata tidak memiliki seorang teman pun kecuali Naruto, yang kini juga sudah tidak ia anggap lagi sebagai temannya. Jadi mau berada di dalam kamar ataupun di luar kamar, semua akan berakhir sama. Sama-sama sendiri, dan hanya memandangi keadaan sekitar. Seperti yang Hinata sekarang lakukan saat ini. Memandangi langit.
Meski begitu, Hinata tahu bahwa kemarin ayahnya yang baru saja pulang dari perjalanan langsung memanggil Naruto. Kabar ini ia dengar langsung dari mulut Nenek Chiyo yang datang membawakan makanan untuknya. Hinata tidak menanggapi. Ia memilih sibuk mengunyah makanan itu dengan tenang, tapi tidak juga meminta Nenek Chiyo untuk menghentikan ceritanya.
Hinata harus mengakui, meski ia tidak lagi memercayai Naruto, namun topik mengenai pria kuning itu tidak bisa Hinata abaikan—meski ia mencoba terlihat tidak peduli. Ada sedikit perasaan cemas yang melandanya ketika mengetahui Naruto datang menemui Kaisar Hyuuga.
Dan kemudian disusul perasaan sedih kala Naruto tidak datang menemuinya, seperti biasa yang ia lakukan jika ia datang ke kediaman Kaisar Hyuuga. Dan kini batinnya sendiri mengkhianatinya karena tiba-tiba saja ia memikirkan bagaimana keadaaan Naruto. Apakah ayahnya memberi hukuman yang berat untuknya? Atau jangan-jangan, ayahnya membunuh Naruto?
Tiba-tiba jantung Hinata terasa diremas. Membayangkan hal buruk menimpa Naruto. Apakah mungkin ayahnya setega itu?
Hinata lantas menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Pun jika mendapat hukuman pasti bukan hukuman yang berat. Benar 'kan? Ini bukan sepenuhnya kesalahan Naruto 'kan?
Tunggu. Kenapa sekarang Hinata membela perlakuan Naruto? Kenapa ia mendukung keputusan sepihak Naruto saat itu? Ketidakhadirannya di acara perjamuan itu memang sepenuhnya salah Naruto 'kan? Tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengannya, Naruto membatalkan kepergian mereka. Jadi, memang salah Naruto? Tapi ….
Suara pintu yang terbuka membuat lamunan Hinata lenyap, disusul dengan suara dari seseorang yang sangat ia kenali.
"Saya membawakan makanan Anda, Hinata-sama," ucap Nenek Chiyo sembari memberi hormat pada Hinata. Berjalan masuk dan meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kayu yang berada di belakang Hinata.
Hinata berjalan mendekat kemudian duduk, dan mulai mengambil sumpit untuk menghabisi hidangan yang disediakan Nenek Chiyo. Mau semarah apapun Hinata tidak mungkin membuang-buang makanan buatan Nenek Chiyo. Hinata selalu menghargai kerja keras wanita yang terbilang sudah tidak muda lagi itu.
Hinata mengunyah suapan pertama dengan tenang. Berusaha terlihat sebiasa mungkin. Padahal batinnya sudah meronta untuk segera mengajukan pertanyaan mengenai Naruto. Sialnya, Nenek Chiyo yang biasanya bercerita banyak hal—terutama tentang Naruto. Kali ini diam membisu. Hanya berdiri tegak di samping kiri Hinata.
Diam-diam Hinata melirikkan matanya. Sialnya lagi, mata mereka bertemu pandang. Nenek Chiyo yang menangkap lirikan mata Hinata hanya membalasnya dengan senyuman lebar.
Hinata hanya bisa menggerutu dalam hati sembari memfokuskan pandangannya pada hidangan di depannya. Tapi desakan dalam hatinya tidak juga mereda, malah semakin menjadi-jadi. Hinata sendiri tidak mengerti, mengapa ia sebegini ingin tahunya perihal Naruto? Mungkinkah ia hanya merasa khawatir? Mungkin saja 'kan? Lagi pula sebelumnya Naruto adalah teman terbaiknya, jadi wajar kalau sekarang ia sedikit cemas—ya, sedikit. Kenapa ia sendiri ragu dengan kata itu? Entahlah.
Yang jelas sekarang ia harus memadamkan rasa penasaran yang bergejolak hebat dalam hatinya. Karena semakin lama, perasaan ini membuat Hinata resah dan tidak tenang. Seakan ingin meledak. Ia tidak sanggup lagi menahannya.
Hinata berdeham pelan sembari menghentikan sejenak kegiatannya itu.
"Ada apa Hinata-sama? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Nenek Chiyo yang berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Hinata.
"Tidak. Eh, bukan, sebenarnya … ehm … apa kemarin tidak ada sesuatu hal yang terjadi?" tanya Hinata ragu-ragu, kemudian memasang wajah datarnya lagi.
Senyuman kembali tergambar di wajah Nenek Chiyo, "Apa maksud pertanyaan Nona itu mengenai Naruto-sama?"
Sebenarnya Nenek Chiyo sangat paham gerak-gerik Hinata tadi, hanya saja ia memang sengaja berpura-pura tidak mengetahuinya. Bahkan ketika Hinata bersikap seolah tidak peduli pada saat ia bercerita mengenai Naruto, Nenek Chiyo tahu bahwa Hinata sebenarnya mendengarkan semua cerita itu.
Nenek Chiyo sudah mengasuh Hinata sedari kecil. Bukan perkara sulit untuk mengerti bahwa Naruto adalah salah satu orang yang memiliki arti penting bagi Hinata. Meski Hinata bersikeras untuk tidak memedulikan pria itu, Nenek Chiyo tahu ia tidak bisa mengabaikan Naruto sedikit pun. Mungkin tanpa Hinata sadari.
"Aku tidak mengatakan itu," jawab Hinata ketus, sembari memasukkan lagi makanan ke dalam mulutnya.
Inginnya Nenek Chiyo terkikik geli melihat sikap Hinata, hanya saja ia mencoba untuk menahannya. Nona mudanya ini memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Dan terlalu bodoh untuk memahami perasaannya sendiri.
"Sebenarnya saya mendengar kabar yang kurang mengenakkan tentang Naruto-sama."
Dan Nenek Chiyo berhasil menangkap ekspresi terkejut dari Hinata meski hanya sebentar. Bahkan tangannya pun sempat terhenti beberapa detik.
"Kabarnya Naruto-sama saat ini terluka parah. Bahkan tidak bisa berjalan lagi. Tubuhnya pun penuh dengan luka. Sebaiknya Anda tidak perlu mendengar kelanjutannya lagi Hinata-sama," lanjut Nenek Chiyo sembari memasang wajah sedihnya. Diikuti dengan nada bicaranya yang terkesan menahan kesedihan teramat dalam.
Hinata langsung meletakkan sumpit dengan kasar. Ada perih yang dirasa olehnya.
"Apa Tou-san yang melakukan itu?" Tanya Hinata mencoba untuk tidak terlihat cemas—sayangnya terlihat jelas oleh Nenek Chiyo.
Nenek Chiyo tidak menjawab, hanya diam dengan kepala tertunduk. Hinata pun mengerti. Nenek Chiyo tidak akan berani membicarakan Kaisar Hyuuga. Jadi apakah itu hukuman yang didapatkan Naruto? Apa ayahnya benar-benar menghajar Naruto? Apa Naruto baik-baik saja?
"Hinata-sama tidak perlu khawatir. Naruto-sama kini sedang dirawat oleh Ayame," ucap Nenek Chiyo lagi, yang masih menampakkan kesenduan pada ucapan dan raut wajahnya.
APAAAAA!
Jika bisa berteriak mungkin itu kata yang akan terlontar dari mulut Hinata. Seketika perasaan kesal menyusup ke dalam benaknya. Ia tidak membenci Ayame, tidak sama sekali. Hanya sedikit tidak suka jika tahu perempuan itu bersama Naruto. Sedikit. Ya, benar, sedikit. Kenapa ia meragukan kata itu lagi?
Kalau dipikir-pikir lagi, Hinata juga tidak mengerti kenapa ia bisa menjadi kesal jika sudah menyangkut perempuan itu dan Naruto. Mungkin karena dulu ada pengalaman tak mengenakkan menyangkut perempuan itu. Ya, benar. Hinata ingat betul saat Naruto dengan wajah tersenyumnya mengatakan bahwa dia menyukai perempuan berambut panjang. Dan belakangan Hinata sering melihat Naruto bermain dengan Ayame ketimbang dengan dirinya—yang saat itu berambut pendek, seperti keinginannya untuk tampil seperti laki-laki.
Dulu Hinata berpikir bahwa Naruto lebih senang bermain dengan Ayame karena rambutnya yang panjang. Sejak saat itu, Hinata memutuskan untuk memanjangkan kembali rambutnya karena ia tidak ingin kehilangan satu-satunya teman yang ia miliki.
Dulu.
Lalu kalau sekarang? Kenapa ia harus kesal?
Apakah alasannya masih sama?
Kenapa Hinata jadi meragu sendiri?
Naruto tetap temannya 'kan? Dan Hinata tidak ingin kehilangannya.
Tapi bukankah Hinata telah memperlakukan Naruto dengan buruk kemarin? Mengabaikannya?
Jadi, apakah Naruto sudah melupakannya secepat ini? Hanya sebegitukah nilai pertemanan mereka? Apakah Hinata tidak penting untuk Naruto?
Diam-diam Nenek Chiyo tersenyum kecil. Nona mudanya itu sekali-sekali memang harus diberi pelajaran agar mengerti. Bukan berarti Nenek Chiyo membenci Hinata. Justru karena ia sangat menyayangi Hinata ia melakukan hal ini.
"Aku sudah selesai," ucap Hinata ketus. Kesal. Sungguh sangat kesal!
Nenek Chiyo lantas mengangguk dan merapikan meja Hinata. Semua alat makan sudah berada di atas nampan kembali dan siap dibawa pergi oleh Nenek Chiyo. Hinata melirik punggung wanita tua itu—yang kini berjalan pergi menuju pintu.
Hinata ingin bertanya lebih banyak lagi, tapi mulutnya tidak juga mau terbuka. Pertanyaan itu seakan tersangkut di tenggorokannya dan tidak bisa keluar. Bahkan Hinata hanya mengangguk ketika Nenek Chiyo berpamitan padanya. Padahal itu kesempatan besar untuknya menanyakan perihal Naruto. Ah, sial! Dan buruknya perasaan resahnya semakin menjadi-jadi kala sosok Nenek Chiyo sudah menghilang dari pandangannya.
Kenapa ia bisa seresah dan sekesal ini? Naruto baik-baik saja 'kan? Tanpa sadar Hinata sudah berjalan mendekat ke pintu.
Ah, tapi Naruto sudah dirawat oleh Ayame. Jadi setidaknya sudah ada yang mengurusnya. Lantas Hinata kembali mundur. Wajahnya merengut kesal. Untuk apa ia peduli lagi?
Tapi tadi Nenek Chiyo mengatakan ia bahkan tidak bisa berjalan. Itu artinya lukanya teramat parah 'kan? Atau jangan-jangan ia sudah tidak memiliki kaki?
Tanpa berpikir lagi Hinata melangkah cepat dan langsung membuka pintu itu kasar. Ia bahkan berlari kecil menuju kediaman Naruto. Mengabaikan sapaan para pekerja yang ia temui. Hinata terlampau panik. Membayangkan Naruto yang kehilangan kedua kakinya karena ayahnya, tidak bisa membuatnya tenang sama sekali. Lantas ia pun melupakan semua kemarahannya pada Naruto. Seakan menguap begitu saja.
Yang ada hanya Naruto. Naruto. Dan Naruto.
Tangannya dengan kasar menggeser pintu kamar Naruto. Seketika matanya melebar kala melihat pemandangan di depannya. Di detik itu juga tanpa sadar ia bersuara lantang.
"NARUTO!" teriaknya saat melihat perempuan sial—Ayame dan pria kurang ajar—Naruto terlihat seperti akan berciuman. Dada Hinata bergerak cepat, memburu udara sebanyak-banyaknya. Tubuhnya panas. Rasanya dadanya dipukul-pukul kencang.
Mendengar suara pintu terbuka keras dan disusul suara teriakan kencang seorang perempuan, membuat kedua orang itu menoleh bersamaan ke asal suara. Terlebih Ayame yang harus sedikit memutar tubuhnya karena Hinata berada di belakangnya.
"Hinata," panggil Naruto pelan. Setengah bingung melihat sosok perempuan itu berada di sini.
Ayame langsung berdiri tegak, "Hinata-sama." Kepalanya menunduk dengan kedua tangannya berada di depan.
Mata Hinata masih terbuka lebar. Dengan tergesa ia mendekati kedua orang itu. Tepatnya berjalan ke tempat tidur Naruto. Matanya menatap tak suka pada Ayame. Namun sedetik kemudian pandangannya bergerak turun melihat ada sebuah salep luka di tangan Ayame.
"Hinata," panggil Naruto lagi. Hinata menoleh dan mendapati ada luka goresan di atas pelipis kanan Naruto. Oh, sepertinya ia telah salah mengerti.
"Kau bisa pergi sekarang. Biar aku yang melakukan sisanya," perintah Hinata tegas, dan langsung merebut salep luka itu dari Ayame.
Ayame lantas memberi hormat dan pergi meninggalkan dua orang itu.
"Ada apa?" sambung Naruto yang segera membuat Hinata tersadar.
Benar juga. Ada apa?
Hinata diam sejenak. Berpikir lebih tepatnya.
"Aku, aku hanya ingin melihat keadaanmu. Jangan salah sangka, aku melakukan ini karena merasa harus sedikit bertanggung jawab saja," jawab Hinata yang kini duduk di tempat Ayame duduk sebelumnya—di atas kasur Naruto.
"Tanggung jawab?" tanya Naruto tak mengerti.
"Lukamu ini karena Tou-san 'kan? Tou-san pasti menghukummu 'kan?" Tanya Hinata sesantai mungkin. Padahal ada perasaan senang karena kini ia yang duduk di dekat Naruto, bukan si Ayame itu.
Naruto lantas tertawa pelan membuat kedua alis Hinata berkerut. Apa ada kata-katanya yang lucu?
"Kaisar Hyuuga tidak menghukumku sama sekali. Aku terluka karena kesalahanku sendiri. Aku kurang konsentrasi saat berlatih tadi pagi," jawab Naruto di sela-sela tawanya.
Muka Hinata memerah tanpa bisa ia kendalikan lagi. Rasa-rasanya Hinata ingin tenggelam di laut dan terbawa arus saja sekarang.
Nenek Chiyo kurang ajar!
"Bukan karena Tou-san?" Tanya Hinata pelan, meyakinkan dirinya sekali lagi. Naruto menggeleng dan kemudian tersenyum kembali.
Hinata terkekeh malu, "Te- tentu saja. Tou-san bukan orang seperti itu. Ia tidak mungkin menghukum orang yang tidak bersalah 'kan?"
Raut wajah Naruto seketika berubah sendu. Senyumannya memudar. Melihat itu Hinata terdiam, tidak lagi tertawa kikuk. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang rasa-rasanya membuat Hinata ingin melihat senyum Naruto lagi. Bukan raut wajah seperti ini.
"Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Hinata yang kemudian menatap seluruh tubuh Naruto terutama bagian kaki kanannya yang dibelit perban.
"Hinata," panggil Naruto lirih membuat Hinata kini kembali menatapnya. Menatap kedua mata birunya.
"Hm?"
Hanya helaan napas yang keluar dari mulut Naruto. Apakah Naruto harus mengatakan semuanya? Apakah ia harus memberitahukan Hinata yang sebenarnya sekarang? Bagaimana jika Hinata menangis? Sial. Naruto tidak bisa melakukan ini. Tapi … apakah dengan menyimpannya dan menyembunyikan dari Hinata merupakan jalan terbaik? Bagaimanapun Hinata juga pantas mengetahuinya.
"Hinata … " Naruto lantas berhenti. Mulutnya terasa sulit ia gerakkan. Kaku. Mata mereka pun masih berpandangan. Meski tidak bisa dipungkiri, tidak hanya Naruto yang merasakan debaran pada dadanya. Hinata sendiri merasa aneh. Perasaannya berdesir kala menatap mata biru milik Naruto. Sungguh indah. Mata itu. Hinata baru menyadarinya.
Baru saja Naruto mulai menggerakkan mulutnya, sosok Sai sudah bersimpuh—satu lututnya menyentuh tanah di depan kamar Naruto, dan memberi hormat pada Naruto.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."
Mulut Naruto kembali tertutup. Jika Sai sudah datang di saat yang seperti ini, berarti urusannya benar-benar penting. Sangat penting. Apalagi terakhir kali ia menugaskan Sai untuk mengawasi pergerakan Itachi.
"Siapa?" tanya Naruto, yang membuat Sai kini menatap Naruto. Sai lantas tidak langsung menjawabnya. Matanya sempat melirik Hinata yang kini juga menatapnya.
Naruto yang mengerti maksud dari tatapan Sai, menganggukkan kepalanya sebagai tanda untuk Sai menjawab pertanyaannya meskipun ada Hinata di sini. Lagi pula sepertinya Naruto sudah bisa menebak siapa orang itu. Dan ia pun tidak ingin merahasiakannya dari Hinata.
"Dia adalah Nona Sakura."
Dan jawaban Sai membuat Hinata melebarkan kedua matanya. Terkejut.
[Di tempat Sasuke]
Adik kakak itu telah sampai di tempat perjanjian dengan Hashirama Senju. Tempat yang dibelinya untuk dijadikan markas baru mereka. Sebuah rumah yang letaknya tidak begitu jauh dari istana.
Hashirama menyambut kedatangan Itachi dengan senyuman bangga. Meski Itachi tidak berhasil melenyapkan Putri Hyuuga, tetap tidak akan mengubah rencana yang telah mereka susun sejak lama. Menghancurkan Kekaisaran Hyuuga. Yang mana kemudian Hashirama bisa menduduki tahta itu. Dan Itachi berhasil membalaskan rasa dendamnya. Itulah perjanjian mereka.
Mata Hashirama bergulir menatap pria yang berdiri di belakang Itachi. Sasuke Uchiha. Pria yang menguarkan aura begitu dingin. Tatapan kedua matanya hampir sama mengerikannya dengan tatapan Itachi.
Mengerti situasinya, Itachi langsung berbicara dengan suara datarnya, "Sasuke Uchiha. Adikku. Dia berada di sisi kita juga."
Hashirama mengangguk, "Reuni keluarga yang tepat sekali. Menambah besar kemungkinan kita untuk menang."
Hashirama lantas memberi kode gerakan tangan yang mempersilakan mereka untuk masuk. Berjalan mengikutinya.
"Berapa banyak pasukan yang kita miliki?" Tanya Itachi yang kini berdiri sejajar dengan Hashirama. Sedangkan Sasuke masih diam mengikuti dua pria itu.
"Tidak sebanyak pasukan yang dimiliki Kaisar, namun bantuan yang kita terima dari pihak asing sangat menguntungkan kita," jawab Hashirama dengan senyum bangga.
Satu orang bawahan Hashirama menggeser pintu, dan kemudian menundukkan kepalanya—memberi hormat pada tiga pria yang kini melangkah masuk ke ruangan itu. Ruangan dengan sebuah meja besar berada tepat di tengahnya. Di atasnya terdapat selembar kertas besar yang sudah diberi tanda.
"Mereka bersedia memasok senjata api untuk kita. Dan juga—"
Mata hitam Sasuke yang semula menatap kertas itu lekat-lekat kini menoleh cepat saat mendengar suara Hashirama berteriak kencang. Satu tangannya menarik kain putih hingga tampaklah sebuah benda yang terlihat asing untuk mereka.
"—satu buah senjata api terbaru," ucap Hashirama sembari mengelus benda berwarna hitam itu.
"Gatling gun, senjata api tercanggih saat ini. Dapat menembakkan peluru lebih banyak dari senjata api yang dimiliki para prajurit Kaisar. Dalam satu kali tembakan gatling gun bisa melepas 200 peluru per menitnya."
Kini mata Sasuke memperhatikan senjata itu dengan seksama. Senjata hitam berukuran cukup besar. Dan memang benar, ini adalah kali pertama ia melihat senjata api jenis itu. Senjata api yang biasa dipakai oleh prajurit kekaisaran berupa senjata laras panjang di mana hanya bisa terisi enam buah peluru. Perbedaan yang jelas jauh sekali.
[Di tempat Naruto]
Naruto segera memerintahkan Sai untuk membawa Sakura ke tempat rahasia milik Naruto. Sebuah rumah kecil yang terletak persis di luar wilayah istana. Tempat yang dulu ia gunakan untuk latihan secara sembunyi-sembunyi dari ayahnya. Dan tempat itu juga yang dulu ia gunakan untuk merawat Sai.
"Sakura. Itu benar Sakura?" tanya Hinata antusias. Matanya berbinar senang.
Naruto hanya mengangguk pelan. Ia pun berniat bangkit dari tempat tidurnya, namun tangan Hinata menahan lengan Naruto.
"Mengapa Sakura tidak dibiarkan masuk? Kenapa kau membawanya ke luar istana?" tanya Hinata lagi, masih tidak melepaskan tangan Naruto.
"Di sini bukanlah tempat yang aman untuknya."
Hinata memiringkan kepalanya. Kedua alisnya mengerut—tanda ia tidak mengerti apa maksud ucapan Naruto barusan. Bukankah penjagaan istana sangat ketat? Lalu kenapa Sakura tidak aman berada di istana?
Mengerti maksud Hinata itu, Naruto menghela napasnya. Tangan satunya yang terbebas kini bergerak melepaskan tangan Hinata. Kemudian menggenggam tangan itu erat.
"Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Tidak sekarang. Nanti jika waktunya sudah tepat, aku akan mengatakan semuanya padamu," ucap Naruto dalam. Sama seperti tatapan matanya kini.
Hinata terdiam. Matanya tidak bisa lepas dari tatapan mata biru di depannya. Seolah terkunci. Seolah terpaku. Begitu pun dengan genggaman tangan itu. Mengapa ia baru sadar? Tangan Naruto terasa begitu hangat.
Dan saat tangan itu terlepas. Rasanya Hinata tidak ingin kehangatan itu menghilang. Ia masih terdiam dengan kedua matanya setia menatap Naruto. Menatap setiap gerak-gerik Naruto. Pria yang kini mengambil katana—yang terletak di sisi kiri tempat tidurnya.
Dengan bantuan katana-nya, Naruto pun berdiri. Meski sedikit kesulitan karena kaki kanannya terluka. Seketika kecemasan merajai benak Hinata.
"Apa kakimu baik-baik saja? Sepertinya kau kesulitan untuk berjalan?" tanya Hinata yang kini berdiri di samping Naruto.
"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Naruto, yang terdengar seperti ejekan di telinga Hinata. Ditambah dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Aku? Mengkhawatirkanmu?" Hinata mendengus, "Sudah kubilang aku ke sini demi sebuah tanggung jawab saja."
Naruto tidak menanggapinya. Hanya senyuman yang masih setia mengembang di wajahnya. Sebegini saja sudah cukup membuatnya senang. Hinata-nya telah kembali. Terlebih perasaan rindunya pun bisa terbayar. Ia tidak menyangka Hinata akan datang ke tempatnya karena mengetahui ia terluka. Gawat. Naruto terlalu senang sekarang.
Satu tangan Naruto kini bergerak mempersilakan Hinata untuk berjalan lebih dahulu.
"Apa kau akan menggunakan katana-mu untuk berjalan?" tanya Hinata lagi. Sepertinya perempuan itu memilih menunggu jawaban Naruto daripada menuruti perintah tangan Naruto.
"Tidak. Aku akan meminta bantuan orang lain, mungkin?"
"Ayame?"
Naruto mengedikkan bahunya. "Siapa saja, tidak masalah," jawabnya asal, walau sebenarnya di dalam kepala Naruto terpikir untuk meminta bantuan Sai—itupun jika diperlukan.
Ucapan tadi keluar hanya karena ia tidak ingin membuat Hinata cemas. Tidak ada kesungguhan yang berarti, yang sayangnya dianggap keseriusan oleh Hinata.
"Aku bisa!" ucap Hinata tanpa sadar. Bahkan sedikit berteriak. Naruto menatap Hinata bingung.
"Aku bisa mengantarmu keluar. Kebetulan sekali kita satu arah 'kan?"
Naruto tidak langsung mengiyakan. Pria itu hanya tersenyum kecil. Ada apa dengan perempuan ini? Tapi tidak ada salahnya memanfaatkan kesempatan yang datang, bukan?
"Kalau kau tidak keberatan meminjamkan bahumu."
Hinata menggeser tubuhnya mendekat. Entah mengapa wajahnya merona kala satu tangan Naruto sudah merangkul tubuhnya. Dan rona merah itu menjalar cepat ke wajah Naruto. Dan secara serempak mereka memilih untuk tidak saling menatap.
"Asal kau tahu. Tubuhku ini berat."
Kepala Hinata menunduk. Susah payah ia mengumpulkan keberaniannya untuk memegang tangan Naruto yang berada di bahunya. Hinata sendiri tidak mengerti mengapa ia harus segugup ini? Pria ini hanyalah Naruto. Teman kecilnya. Seharusnya bukan masalah yang besar. Tapi kenapa ada perasaan canggung melakukan hal ini.
Satu langkah sudah berhasil mereka lalui.
"Harusnya kau sudah tahu kalau aku ini kuat," ucap Hinata berusaha terdengar sebiasa mungkin. Seangkuh biasanya. Toh, kini mereka sudah keluar dari kamar Naruto tanpa mengalami kesulitan.
"Hmm benar," gumam Naruto pelan. Mata biru itu meredup. Kata kuat yang baru saja ia dengar terasa memiliki makna yang berbeda. Kuat yang merajuk pada kenyataan yang akan ia ceritakan pada Hinata nantinya.
Tanpa sadar Naruto menyandarkan kepalanya pada kepala Hinata, "Aku yakin kau pasti kuat, Hinata," ucapnya lembut.
Hinata semakin merona. Bahkan jantungnya ikut berdebar. Tapi Hinata menangkap nada bicara Naruto yang terkesan menahan sesuatu. Antara sedih dan mencoba menguatkan. Entahlah mungkin itu hanya perasaan Hinata, pikirnya.
Setelah keheningan menemani mereka, Naruto pun menghentikan langkahnya di dekat gerbang keluar-masuk istana.
"Sepertinya kita berbeda arah sekarang," ucap Naruto yang menarik tangannya, meningggalkan bahu Hinata. Pria kuning itu pun menepuk pelan punggung Hinata agar Hinata pergi terlebih dahulu ke kediamannya.
Sekali lagi Hinata tidak memedulikan isyarat tangan Naruto.
"Naruto. Apa boleh aku bertemu dengan Sakura?" Tanya Hinata pelan. Setengah memohon.
Naruto mengangguk, "Tapi tidak sekarang," jawabnya tegas.
Dan sepertinya Hinata tidak bisa membantah ataupun memaksa keinginannya itu. Ia hanya balas mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Naruto. Setelah punggung Hinata benar-benar menghilang, barulah Naruto berjalan pelan menuju tempat di mana Sakura berada.
Dan sebenarnya tidak perlu bantuan pun ia bisa melangkahkan kakinya. Yah, anggap saja tadi adalah bonus untuknya.
Tidak perlu berjalan cukup jauh untuk sampai di tempat itu. Rumah rahasianya. Karena memang letaknya sangat dekat dengan istana. Naruto lantas menggeser pintu kayu yang masih terbilang kokoh itu. Maklum saja, rumah itu sudah lama tidak ia gunakan. Meski begitu, tempat itu tetap ia jadikan markas rahasia antara ia dan Sai.
Mendengar suara pintu terbuka, Sakura pun menoleh sehingga kedua pasang mata itu kini bertemu.
"Sakura. Kau sendirian?" tanya Naruto, yang kini tepat berada di depan Sakura.
Sakura mengangguk cepat. Mata hijaunya lantas berpindah, menghindari tatapan Naruto, "Sasuke memutuskan untuk mengikuti rencana Itachi, dan aku tidak bisa menerimanya."
"Mereka memutuskan untuk berperang menghancurkan Kekaisaran Hyuuga," sambungnya sendu.
"Perang?" Tanya Naruto setengah tak percaya.
Sakura mengangguk lagi, "Dan mereka akan melakukannya rencana penyerangan dalam hitungan hari."
"Aku sungguh berterima kasih padamu atas informasi yang sangat berharga ini. Apa kau sudah tahu semuanya?"
"Semua? Maksudmu alasan di balik misi balas dendam Itachi? Alasan yang menjadikan perang ini? Karena Kaisar Hyuuga membunuh Fugaku Uchiha."
Naruto tidak menanggapi. Jadi, apa itu artinya Sasuke belum mengetahui tentang kebenarannya? Atau sebenarnya ia telah mengetahuinya hanya saja ia masih merahasiakannya dari Sakura?
Dan Naruto menyakini opsinya yang kedua. Sangat tidak mungkin Itachi tidak menceritakan semuanya pada Sasuke.
Tidak mendapat respon dari pria di depannya, Sakura kembali bertanya, "Apa ada hal lainnya?"
"Ah, tidak," jawab Naruto cepat. Sial. Dia memilih berbohong.
"Sepertinya kau tidak terkejut. Apa kau sudah mengetahuinya?"
Kali ini Naruto mengangguk, "Aku sudah tahu orang macam apa Kaisar Hyuuga itu."
Sakura tidak bisa menebak pancaran mata biru itu. Ada luka. Kekecewaan. Kesedihan dan juga kemarahan. Sepertinya itu yang tertangkap oleh Sakura. Entah benar atau tidak?
Jelasnya tatapan dan raut wajah Naruto kali ini mengingatkan Sakura pada sosok Sasuke. Sejujurnya Sakura sangat ingin mengganti kesedihan dan kekecewaan Sasuke. Menghapusnya, atau setidaknya bisa memikul rasa itu dari pundak Sasuke. Ingin sekali Sakura melakukannya.
Bukan karena Sakura tidak mencintai Sasuke. Bukan karena Sakura tidak ingin membahagiakan Sasuke. Semua yang ia lakukan saat ini tidak bisa disangkutpautkan dengan rasa cinta untuk pemuda itu. Tidak sama. Kali ini yang ia lakukan murni karena keinginan hatinya agar tidak ada lagi Sasuke lainnya. Seseorang yang akan terluka dan kemudian memelihara dendam di hatinya.
Biarlah kali ini saja Sakura menyingkirkan sejenak perasaan yang ia miliki untuk Sasuke. Keinginan untuk membahagiakan pria itu. Setelahnya, ia akan mengegoiskan dirinya untuk Sasuke. Berharap Sasuke masih memiliki rasa yang sama seperti yang ia miliki untuknya.
Dan kini mata biru itu menatap Sakura, "Sakura, bisakah aku meminta bantuanmu kali ini?"
Sakura diam menunggu kalimat lanjutan dari Naruto untuk mempertimbangkan apakah ia bisa menyanggupinya atau tidak.
"Aku ingin kau tidak menceritakan hal ini pada Hinata. Aku bukan bermaksud untuk menyembunyikannya. Aku sendiri yang akan menceritakan hal ini pada Hinata. Bisakah?"
"Tentu saja," jawab Sakura tanpa perlu memikirkannya lagi.
.
.
Tidak butuh waktu lama bagi Naruto untuk menyampaikan informasi penting yang baru saja ia dapatkan dari Sakura. Informasi yang sangat berharga. Sayangnya ia tidak bisa menyampaikan informasi ini pada sembarangan orang, terutama Kaisar. Bukan kapasitasnya untuk berurusan langsung dengan Kaisar.
Ia hanyalah Jendral Divisi 1 Ke-shogun-an Namikaze, jadi tentu saja informasi yang ia terima akan ia sampaikan pada ayahnya.
"Perang? Dalam beberapa hari ini?" tanya Kaisar Hyuuga yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya lagi.
"Benar," jawab Minato yang masih bersimpuh di depan Kaisar.
Selayaknya Naruto, Minato pun tidak ingin berdiri di pihak Kaisar, tapi perang ini bukan hanya melibatkan Kaisar Hyuuga. Terlebih alasan tahta yang tidak ingin jatuh ke tangan Itachi menjadi alasan kuat mereka—Naruto dan Minato, memilih untuk melawan perang ini.
"Tidak ada jalan lain selain bersiap menghadapi serangan mereka. Siapkan pasukan yang kita punya. Jangan biarkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Minato hanya memejamkan matanya sekilas, kemudian mengangguk pelan. Minato pun bangkit dan bersiap untuk pergi, namun suara Hiashi menghentikan langkahnya.
"Dari mana kau mendapatkan informasi ini? Siapa infroman itu?" tanya Hiashi penuh penekanan.
Minato berbalik, kepalanya menunduk "Sesuai dengan perjanjian dari pertukaran informasi berharga ini. Kami harus merahasiakan identitasnya demi keselamatan dirinya. Jadi saya mohon maaf, meskipun itu adalah Anda Kaisar Hyuuga. Saya tidak bisa mengatakannya."
Mata Hiashi memicing, "Apa ini ada hubungannya dengan kegagalan misi Naruto?"
Hiashi tidak bodoh. Ia mengurutkan potongan-potongan kejadian yang terjadi belakang ini. Terlebih kejadian mengenai Itachi Uchiha. Hiashi ingin memastikan bahwa rahasia itu masih tetap tersimpan rapat.
"Apa ada hal lainnya yang belum kausampaikan padaku, Minato?"
Minato lantas mengangkat kepalanya. Mempertemukan mata birunya dengan milik Hiashi.
"Tidak ada," jawabnya penuh keyakinan.
Sepasang mata itu masih terus menatap. Hiashi masih mencari celah sekecil pun yang menyatakan bahwa ucapan Minato tadi berisi kebohongan, yang sayangnya tidak bisa ia temukan.
Hiashi tahu Minato adalah orang yang cerdas. Tidak mungkin pria itu tidak menemukan kecurigaan sedikit pun dari rentetan kejadian ini. Apalagi Naruto sendiri telah bertemu dengan Itachi, yang bisa saja sudah mengetahui sesuatu atau setidaknya mencurigai sesuatu.
"Baiklah. Kau boleh pergi."
Minato kembali memberi hormat dan melangkah kembali meninggalkan Hiashi yang masih terus menatap kepergian Minato dengan tatapan penuh kecurigaan. Ia harus mencari tahu semuanya, terlebih mencari cara agar tidak ada satu pun bawahannya yang bisa memberontak padanya.
Dan seringai pun tercetak di wajahnya kala ia menemukan caranya.
.
.
Malam telah datang. Seharian penuh Naruto disibukkan oleh berbagai hal. Salah satunya adalah penjagaan mengenai Sakura yang telah ia limpahkan tugas itu pada Sai. Dan Naruto sendiri telah memberitahukan perihal Sakura pada ayahnya. Keturunan Haruno yang berhasil selamat.
Kini setelah mengumpulkan dan mengadakan pertemuan dengan semua anggota yang bernaung di bawah pimpinan Jenderal Divisi 1, Naruto berniat untuk kembali ke kediamannya. Kakinya yang masih terluka tidak menjadi halangan. Naruto terus melangkah meski nyeri menderanya.
Tiba-tiba saja Naruto menghentikan langkahnya.
"Tak perlu bersembunyi. Keluarlah," ucap Naruto pelan.
Tak lama sosok yang dimaksud itu pun muncul di balik gelapnya malam. Melangkah maju mendekati Naruto yang berada di depannya.
"Tak kusangka kau mampu menyadarinya?"
"Itu karena kau sengaja menunjukkan keberadaanmu—" Naruto lantas memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan. "—Sasuke."
Angin menerpa tubuh mereka. "Aku tidak menyangka kau datang menemuik," sambung Naruto.
"Apa ini tentang balas dendammu itu?" Naruto menghentikan ucapannya sejenak, "Atau tentang Sakura?"
Sepertinya Naruto tidak perlu repot-repot untuk menyembunyikan keberadaan gadis merah muda itu. Naruto sangat yakin Sasuke tahu bahwa Sakura ada bersamanya sekarang.
Tidak ada respon, Naruto kembali melanjutkan, "Kau tahu sendiri aku tidak memaksanya untuk berpihak padaku."
"Hn."
Sasuke melipat kedua tangannya di depan dadanya, "Kami akan melancarkan serangan kurang lebih dua hari dari sekarang."
"Ini sebuah peringatan atau—"
"Pemberitahuan. Anggap saja begitu," potong Sasuke datar.
"Dan mereka telah menyiapkan sebuah senjata api terbaru yang mereka dapat dari pihak asing. Galting gun, senjata api yang mampu mengelurkan 200 peluru per menit dalam sekali tembak," sambungnya.
Naruto menyeringai. Dua tangannya kini berada dalam posisi sama dengan Sasuke, "Menarik. Jadi sekarang kau berpihak pada Hyuuga? Orang yang membunuh tou-san-mu?"
"Apa aku berkata begitu?" Mata Sasuke menatap tajam. Setajam ucapannya, "Untuk sementara hanya ini yang bisa aku beritahu padamu."
Kini hanya punggung Sasuke yang tertangkap oleh kedua mata Naruto.
"Sasuke."
Tak menoleh. Sasuke hanya menghentikan langkahnya.
"Kau belum memberitahu Sakura kebenarannya?"
"Kau sendiri? Apa sudah pada gadis Hyuuga itu?"
Mata Naruto kini tidak lagi terfokus pada punggung di depannya, "Belum. Tapi aku akan memberitahunya."
"Itu artinya mereka sama-sama belum mengetahuinya, berarti kita masih melakukan hal yang sama. Untuk itu jangan coba-coba menasihatiku."
Dan seketika sosok Sasuke menghilang bagaikan tertelan oleh gelapnya malam. Hanya tersisa embusan angin. Dan rahasia yang terlalu berat untuk mereka utarakan.
Bersambung.
Curcul :
Hai ^^
Fiuh... maaf jika chap ini mengecewakan T_T ya, saya tahu isinya dominan Naruhina tapi kan saya udah bilang chap kmrn hehe. Sasusaku masih keluar kok walau beda tempat haha…
Dan maaf balesan ripiu saya juga singkat sekali, pertama karena saya ngetik ini sudah jam setengah 2 pagi haha… waktu luang saya emang lagi ngak banyak (Sok keliatan sibuk ya) haha… Aslinya saya ngak mau update hari ini. Jujur aja nih, abis pulang kerja dalam seminggu ini saya langsung latihan, ada acara penting di hari sabtu nanti.
Tapi, berhubung saya sayang kalian (PLAK! tapi tetep lebih sayang sama Taka :P) saya mencoba mengusahakan sekuat tenaga saya untuk bisa update sesuai jadwal (Lebay ngak sih ni orang) tapi maaf malah Sasusaku momentsnya ngak ada. Meski begitu saya harap chap masih bisa membuat kalian senang ^^ dan sekuat tenaga juga chap ini sudah jauh lebih panjang dari chap kmrn (Meski sekali lagi ngak ada SS moments T_T)
Dan aku sungguh-sungguh terima kasih juga buat Hana. Dia membeta chapter ini smpai jam 11 malam loh (Ini semua karena kami sayang kalian ^^ dan karena untuk kesenangan kami juga sih :P ) maklum saya ngetiknya ngebut lagi untuk chap ini haha, trus kita juga update bareng lagi loh, bagi kalian para pecinta Time After Time milik Hanaruppi silakan menikmati chap 3 nya…
Oh satu lagi. Bisakah saya meminta kesediaan kawan2 untuk memvote Fic saya yang berjudul SILENCE di kontes BTC, kebetulan hari ini adalah hari terakhir memvote.. untuk link http-:/-bit.-ly-/-pollffbtc (hapus tanda '-') dan kalian bisa memvote lebih dari satu Fic loh… untuk bantuannya saya ucapkan terima kasih banyak ya ^^
Wah kayanya saya udah curhat terlalu banyak ya hehe… mata saya udah protes dari tadi nih (Maklum saya jarang begadang) jadi smpai ketemu chap depan ya ^^
07-08-15
.
[U W] —Istri sah Taka, One Ok Rock :*—
