Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
Fiochan51 : Hooh, tapi ngak ada yg tau sih. Ini udah next ^^
Nikechaaann : Apa firasatmu nak? Coba katakan sm mbah hohoho
Yoktf : Kapan ya? Silakan baca chap ini deh :p
Guest : Kenapa ya? Hmm mungkin jawabannya ada di chap ini, silakan dibaca ^^
Darkcrowds : Wah pertanyaan kalian sama nih? Jgn2 kalian sehati *Makcomblang mode : On* hehe silakan baca, mungkin bisa menemukan jawabannya.
FiaaAtiasrizqi : Klo mereka jadi tukang jualan lemon hoho. Siapa ya? Pokoknya ditunggu aja gmn endingnya nanti haha
Dinayasashii7 : Sip. Maaf ngak kilat nih huhuhu
Istrinya Soujiro : Ini udah panjang dari yg kmrn loh chapnya ^^ dan aku jg gtw smpe chap brp nih, pengennya sih juga cpt tamat haha sabar ditunggu aja ya ^^
BaekhyunSaranghaeHeni : Hihi awas nyasar ^^ amin. Biar bisa bikin crt baru lagi ya hehe
Berry uchiha : Sama2 ya ^^ Hihi ya smoga happy ending ya.. mksh bnyk semangatnya ya ^^
Septemberstep : Samaa.. aku jg fallin in lop bgt sm Naru disini. Eh masa sih? Aku terharu bgt bacanya.. maskasih ya semangatnya ^^
Pinkramens : Thanks ^^
Nomi Uchiha : Hai Nomi salam kenal juga ^^ wah selamat datang di SH, makasih buat ripiunya loh ^^
KuroNeko10 : Ya nih tp dichap ini blom mulai perangnya, Sakura ngambek ngak ya? Hoho liat nanti aja deh hihi. Mksh ya semangatnya ^^
Lhylia Kiryu : Engga juga, Sasusaku muncul sih, beda tmpt tapi wkwkw
Guest : Seru kan klo mereka todong2an (Todong2an cinta :P) makasih semangatnya ya ^^
Arisahagiwara chan : Blom tau nih smpe brp chap, diikutin trs aja ya hehe
Amaya No Katsumi : Iya dilanjut trs kok ^^ Hmmmm coba ditebak hayuuuu...
Herrocyn Akko : Iya fiuh akhirnya ^^ itu kamu serius? Trs bu gurunya ikutan baca crtnya nga? Sekalian suruh ikutan ripiu gt hahaha HUAAA aku ngaret (Ngumpet di pelukan Taka) Dan dan PLAK jgn berani2 cium2 suami aku :P
Aiko Asari : Smoga aja ya hihihi hmm kecurigaan itu bisa kmn saja kok.. sama2 dan acara BTC nya udah selesai sih hehe mksh buat partisipasinya ^^
Younghee lee : Sippp ^^
Eva 77 phone : Blom pernah nonton, malah baru denger hehe untung deh ngak mirip2 amat ya hihihi, hooh Sasusakunya kan lagi berpisah jauh gt.
Wowwoh geegee : Maaf klo mengecewakan ^^
Vanny chan : Udah kan sama Taka *ciumTaka* hahaha blom kok hehe
Dianarndraha : Maaf ya ngak kilat huhu
Kaoru-K216 : Haiii, tau nih mereka bikin gregetan *gigitgemesHinata* dan Gigit kesel kamu (Istri Taka hanya aku seorang :P)
Ha Ni : Iya ini udah diupdate ^^
Thasya Rafika Winata : Huhu ngak bisa, seminggu sekali aja skrg aga berat huhu
Ciheelight : Masa sih? Panjang loh chap kmrn dan chap ini lebih panjang lagi, sabar perang akan segera datang. Mksh semangatnya ^^
Hanazono yuri : Sipppp ^^
Ayuniejung : Hmmmmm ngak bisa bilaanggg pokoknya saya jamin ada deathchara hihi diliat nanti aja siapa yang kepilih hahaa
Gita Zahra : Mungkin jawaban dari kelakuan Sasu kmrn ada di chap ini. Silakan dibaca ya ^^
Ikalutfi97 : Wkwk knp gt rumit? Wah smua prtanyaanmu kayanya ada di chap ini deh jawabannya jadi silakan dibaca dan aku sndiri udh greget abis pgn bikin actionya, tapi emang harus sabar ikutin alur *gigitTAka*
Quensha : Hihihi aku senang baca ripiumu. Terima kasih banyak ya ^^ amin, mungkin emang cm sgini yang menyukai Fic ini tp gpp kok, saya senang ^^
Guest : Sipppp ^^
6934soraoi : Iya gpp kok ^^ Mungkin chap depan (Mungkin) Hehehe seneng klo km suka jg sm Hinatanya ^^ dan apa itu rencananya Sasuke ada dichap ini kok
Neko : Akunya jg manis kok *Disiram* Sasuke mihak aku eeaaa ada dichap ini kok ^^
Hikaru Sora 14 : iya gpp ^^ samaaa aku jg suka bgt sm Naru disini *pelukNaru* makasih udh suka Naruhinanya juga ^^
Luchaaai : Haiii lulu ^^ Iya gpp ^^ engga kok, ngak lama ah cm brp (?) chap doank haha *ketawajahat* dan semangat juga buat lulu mengalahkan tuga2 sialan itu hahaha
Eysha Cherryblossoms : Hihihihi *Nyengirpenuhmakna* gmn ya? Diliat chap ini dulu aja deh *Kabooorrr*
Istri Sasuke : Iya sabar trus ya untuk SS Moments ^^
Annisa Alzedy : Iya gpp kok ^^ wah udh jadi mahasiswi nih ^^ selamat ya
Imphyslonely sugar : Wordnya udah kupanjangin loh ^^
Raniaa485 : Dari tangan dingin MK (Tgnnya dingin ngak ya?) haha
PinkCherry : Terima kasih banyak loh ^^
Egha714 : Tau Sasu mah nangung bgt hehe gpp kok ^^ aku jg suka nerima ripiu jadi klo sempat saya usahakan untuk bales satu2 sekalian bs nyapa langsung kan ^^ iya panggil kaka jg gpp, aku suka kok ^^
Hotarubi chan : Iya gpp, makanya bsk2 laptopnya jgn disuruh berenang jd flu kan haha. Hmm yah bgtulah Sasuke, ngak ketebak eh tapi ketawan kok alasannya di chap ini ^^ silakan dibaca
Ambethefill : Hehe, masa sih? Samaaa aku jg benci bgt sm yaoi dan sejenisnya, geli aja liat Sasu dan Naru dibegitukan hehe hmmm yang itu masih rahasia, ditunggu aja ya ^^
Kura cakun : Iya gpp ^^ eh rahasia donk, kita liat aja endingnya nanti ya
Yuumi : Bener sekali ^^ ada dichap ini kok jawabannya jadi dibaca aja ya ^^ hmmm blom tau nih smpe chap brp, ditunggu aja ya ...Iya yuumi, makasih ya ^^
Uchihasaku : Diusahakan cepet klo ngak ya maaf ya hehe, blom tau smpe chap brp, ditunggu aja ya ^^
Aitara Fuyuharu : Hihi pegangan klo bingung biar ngak jatoh hhehe pisss ^^
Fahri Uchiha : Kayanya perang chap depan lagi hehe.. Hahaha Sasuke bukan udah gila, tapi tergila-gila sm Sakura eeaaaa..
Ulfia48 : Ini chap 16 nya. Maaf ya aku apdetnya telat huhuhu
Makasih banyak buat kalian semua ^^ tanpa kalian aku hanya seorang bidadari opss salah baca, maaf haha.. pokoknya ripiu kalian adalah hal yang menyenangkan untuk saya baca :P dan menjadi penyemangat. so makasih yah ^^
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
"Semua persiapan sudah mendekati tahap akhir. Jika tidak ada halangan kita bisa mempercepat penyerangan kita," ucap Hashirama yang berdiri di sisi kanan meja besar itu. Sedangkan Itachi berdiri tepat di depannya.
Sasuke lebih memilih berdiri di samping pintu masuk. Bersandar dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Tidak banyak bicara, hanya memperhatikan dengan seksama.
"Apa kau sudah memutuskan siapa orang yang akan menggunakan senjata itu?" tanya Itachi dengan mata yang sudah melirik ke arah senjata yang dimaksud, gatling gun.
"Aku belum memutuskan," jawab Hashirama yang juga ikut menatap arah pandang Itachi. Kemudian mata itu bergerak menatap pria di hadapannya, "Jadi apa kau sudah memikirkan strategi penyerangan nanti?"
Dan akhirnya kedua mata pria itu saling bertemu pandang.
"Karena kita melakukan serangan mendadak tanpa sepengetahuan mereka, maka kemungkinan besar penjagaan di sekitar area istana hanya akan dijaga oleh beberapa orang saja. Tentunya itu akan sangat memudahkan kita untuk melumpuhkannya. Lalu letak kedua ada pada Minato Namikaze beserta para pemimpin divisinya. Dari kabar yang kudengar beberapa pemimpin divisi sedang bertugas di luar Istana, untuk itu kekuatan prajurit akan kita fokuskan untuk melumpuhkan Ke-shogun-an Namikaze. Sasuke akan bertugas memimpin pasukan untuk menyibukkan para pemimpin divisi." Mata Itachi pun bergulir menatap Sasuke yang masih menundukkan kepalanya.
"Dan tentunya aku melakukan tugasku. Membunuh Kaisar Hyuuga dengan tanganku sendiri."
Barulah saat itu kepala Sasuke terangkat dan menatap mata Itachi. Mata hitam Itachi tidak berubah. Penuh kebencian. Apakah mata Sasuke juga sama? Apakah saat itu Sakura melihatnya seperti itu?
Hashirama hanya tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Membayangkan kemenangan yang akan ia raih di depan matanya. Rasa-rasanya dunia sudah berada di dalam genggamannya. Dan senyuman itu pun tak jua hilang dari wajahnya hingga ia pergi meninggalkan kakak-adik yang masih tidak beranjak dari tempatnya.
"Kau masih memikirkannya?" tanya Itachi yang kini ikut menyandarkan tubuhnya. Meja besar itu menjadi penengah di antara mereka.
Pertanyaan yang merajuk pada sosok merah muda itu, Sasuke memilih tidak menjawabnya. Memangnya sejak kapan ia bisa menghilangkan sosok itu dengan mudah dari kepalanya?
Tidak sedetik pun waktu yang berlalu tanpa memikirkan Sakura. Sosok yang sungguh ia rindukan. Itulah jawaban Sasuke. Jawaban yang ia biarkan tertelan di dalam tenggorokannya.
Itachi melirik, "Apa yang sebenarnya kaurencanakan?"
Jangan dikira bahwa selama ini Itachi tidak memikirkan alasan kuat Sasuke memilih berdiri di sisinya. Sasuke tidak punya alasan itu. Terlebih sejak Sakura memutuskan untuk meninggalkannya. Bukankah perempuan itu sangat penting untuk Sasuke? Jadi seharusnya ancaman Itachi tidak lagi berlaku untuknya, bukan? Begitulah penilaian Itachi.
Diam-diam Itachi terus mengamati gerak-gerik Sasuke. Pria yang sering kali diam-diam menghilang.
"Tidak ada." Mata Sasuke kini menatap tajam ke arah Itachi, "Apa itu jawaban yang ingin kaudengar?"
Dan Itachi menatap dengan pandangan yang sama. Mulutnya masih terkunci, menunggu jawaban yang masih tertahan di mulut Sasuke.
"Tou-san. Karena dia aku di sini," lanjut Sasuke, menjawab kecurigaan Itachi tentang alasan kenapa ia masih memilih berdiri di sisi Itachi. Sasuke tidak bodoh. Tanpa perlu Itachi tanyakan secara langsung, Sasuke dapat menangkap kecurigaan itu.
Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya. Kepalanya bergerak menatap keluar ruangan. Keheningan sempat menemani mereka beberapa saat. Mereka seakan tenggelam akan serangan pertanyaan yang mendera di dalam pikiran mereka.
Dan akhirnya Sasuke-lah yang memecah keheningan itu.
"Tou-san. Dia orang seperti apa?" Suara itu terlantun pelan. Gamang. Melayang. Seolah Sasuke sedang bertanya pada angin.
Sejujurnya Itachi cukup terkejut mendengar pertanyaan Sasuke. Adiknya ini memang tidak pernah sekalipun bertemu dengan Fugaku. Ayahnya. Bukankah wajar jika ia menanyakan hal itu pada Itachi? Tapi Itachi masih belum menangkap alasan Sasuke yang sebenarnya. Itachi yakin ada sesuatu yang membuat Sasuke melakukan ini.
"Yang pasti dia sangat menyayangimu."
Hanya jawaban itu yang bisa Itachi berikan. Ia tidak pandai menjelaskan. Apalagi ini tentang ayahnya. Pria yang tewas di depan matanya sendiri. Apa yang harus ia katakan pada Sasuke? Jika hanya ingatan itu yang tersisa di benak Itachi. Ingatan yang ia simpan kuat-kuat sebagai pemicu amarahnya.
Dan jawaban itu bukan juga suatu kebohongan karena di saat terakhirnya pun Fugaku meminta Itachi untuk menyelamatkan Sasuke. Menjaga dan merawatnya. Memberi kasih sayang yang tidak bisa Fugaku berikan.
Sasuke cukup terkejut mendengar Itachi menjawab pertanyaannya. Sebenarnya ia tidak meminta adanya sebuah jawaban. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Lantaran memang ia sedang memikirkan sosok ayahnya. Alasan ke dua yang membuat ia berada di tempat ini.
Karena entah apa Sasuke tiba-tiba menanyakan banyak hal pada dirinya sendiri. Jika mungkin ayahnya masih hidup, apa yang akan pria itu lakukan? Pria yang telah menyeretnya ke dalam masalah yang cukup pelik. Bukan hanya masalah amarah tapi juga menyeretnya pada kasus perasaan kasihnya.
Pria yang sebenarnya memiliki andil cukup besar untuk bertanggung jawab. Bukankah kerumitan ini, dialah yang memulainya? Bukankah pemicu dendam Itachi adalah karena ulahnya? Dan rahasia kelam yang harus ia simpan dari Sakura, dialah yang membuatnya? Pria itu. Fugaku Uchiha. Ayahnya. Penyelesaian macam apa yang akan ia lakukan jika ayahnya masih hidup? Jalan keluar seperti apa yang akan ia kerjakan?
Karena Sasuke sendiri tidak mengerti jalan mana yang harus ia lalui? Apakah nanti jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang benar?
Apakah pria itu akan melakukan hal yang sama? Apakah Fugaku Uchiha, tou-san-nya akan mendukung setiap langkah yang Sasuke pilih? Ataukah ia mendukung jalan yang Itachi tempuh?
Ayah. Kau orang yang seperti apa?
[Di tempat Naruto]
"Aku mengumpulkan kalian semua hari ini karena mengingat situasi yang cukup mendesak. Perang akan terjadi kurang dari dua hari. Untuk itu aku meminta kalian menyiapkan semua pasukan kalian. Terlebih pada persenjataan yang kita miliki."
Minato menatap tegas pada lima pria yang berdiri berjejeran di depannya. Ada Maito Guy selaku Jenderal Divisi 4. Di sebelahnya ada Akemichi Chouja selaku Jenderal Divisi 5. Dan berdiri di tengah ada Iruka selaku Jenderal Divisi 3. Kemudian sebelahnya berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, Jiraiya selaku Jenderal Divisi 6. Dan yang terakhir. Pria yang memiliki marga sama dengan pria di hadapannya, Namikaze Naruto, Jenderal Divisi 1.
"Informasi sementara yang berhasil kita peroleh adalah pihak lawan memiliki senjata api tercanggih saat ini. Untuk itu, pertemuan kali ini kita fokuskan untuk membentuk strategi penyerangan dan pertahanan. Terutama cara untuk melumpuhkan gulting gun." Mata Minato terus bergantian menatap lima pria di depannya. Tidak bisa dipungkiri ketegangan sangat terasa membekap mereka.
"Lalu yang paling utama, karena kita telah mengetahui di mana letak markas musuh. Aku memutuskan untuk memecah beberapa divisi agar mengepung di sekitar area ini tanpa mereka ketahui."
"Tiga divisi bertahan di area istana. Dua divisi akan melakukan penyerangan, yang akan dibantu oleh beberapa divisi yang saat ini masih dalam perjalanan. Sisanya akan fokus untuk melumpuhkan markas musuh." Tangan Minato menunjuk-nunjuk kertas putih yang tertempel di dinding ruangan itu. Kertas yang telah dibubuhi coretan tangan Minato.
Sedangkan kelima pria itu hanya diam dan fokus mendengarkan segala perkataan yang keluar dari mulut Minato tanpa adanya protes.
Minato juga menambahkan untuk memperbanyak jumlah pasukan yang menggunakan yumi. Jenis senjata yang berfungsi pada serangan jarak jauh. Setidaknya senjata ini akan digunakan untuk menyeimbangkan gatling gun. Minato juga menjelaskan lokasi-lokasi penempatan pasukan bagian penyerangan. Serta pemilihan tempat untuk bagian medis.
Informasi lokasi markas musuh tentunya juga Naruto dapatkan dari Sasuke. Pria yang kembali datang menemuinya. Dan juga memberitahukan di mana titik-titik yang akan diserbu oleh pasukan Itachi.
Flash back
"Jadi Hashirama Senju juga ambil bagian dari rencana perang ini?" tanya Naruto dengan tubuh yang menyandar pada salah satu batang potong yang berdiri kokoh tak jauh dari kediaman yang disinggahi Sakura.
"Dan jika perang ini berhasil dimenangkan oleh pihak Itachi maka kekuasaan akan jatuh ke tangannya. Benar begitu?" Kedua tangannya kini terlipat, "Lalu kenapa kau memberitahukan semua ini padaku, Sasuke?" lanjutnya.
Pria yang berdiri tak jauh dari pria kuning itu juga melakukan hal yang sama. Kini keduanya menyandar bersisian.
"Aku benci Hiashi Hyuuga. Aku tidak menginginkan Hiashi Hyuuga tetap menjabat sebagai Kaisar. Di sisi lain aku juga tidak menginginkan Hashirama Senju menduduki tahta itu. Dan kupikir, kau sependapat denganku."
"Sial. Aku benci mengakui ini, tapi kali ini kau benar." Kepala kuning itu menoleh dan menampilkan cengiran khasnya. Dari awal memang Naruto sudah merasa bahwa Sasuke cocok menjadi rekan satu timnya.
"Lalu?" tanya Naruto.
"Menghentikan peperangan ini."
Tubuh Naruto menengang. Tidak lagi menyandar dengan nyaman di batang pohon itu.
"Menghentikan perang tidak semudah mengeluarkan kata itu dari mulutmu, Sasuke!"
"Kalau itu mudah aku tidak perlu membuang tenaga untuk menemuimu!"
Naruto mendecih kesal, "Jangan kaukira aku tidak tahu tujuan utamamu kemari. Kau harusnya berterima kasih karena aku mengizinkannya."
Mata biru Naruto bergulir cepat menatap rumah yang berada beberapa meter di depan mereka. Rumah yang menjadi tempat perlindungan untuk Sakura. Pria licik itu tidak bisa mengelabuinya. Bahkan niatan busuk itu tergambar sangat jelas di wajah datarnya itu. Naruto tidak sebodoh itu untuk menyadarinya.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Sasuke. Namun seketika ia mendengus kesal setelah mengikuti arah padangan Naruto berikutnya. Menampilkan sosok Sai yang mengangkat telapak tangannya singkat—menyapa Sasuke, saat mata mereka bertemu pandang. Pria yang selama ini memberitahu Naruto, bahwa Sasuke sering datang melihat Sakura.
Naruto tertawa melihat raut wajah kesal Sasuke. Dan Sai sendiri hanya tersenyum. Jika bukan karena pria kuning ini yang sudah menjaga Sakura. Sasuke tidak akan pikir panjang lagi untuk menebas mereka berdua.
"Berikutnya kita perlu membahas mengenai rencana untuk menghentikannya. Atau setidaknya menyempurnakan rencana yang telah kususun."
Setelah mengucapkan itu, sosok Sasuke kembali pergi. Menghilang.
Flash Back Off
"Aku harap setelah pertemuan ini, setiap divisi sudah bersiap di posisi yang telah kusebutkan. Sekali lagi, kita tidak memiliki banyak waktu. Kita harus bisa memenangkan peperangan ini."
Semua kepala para Jenderal mengangguk serempak. Mengikuti perintah Minato, mereka semua bergegas pergi menuju tempat yang telah diputuskan. Berjalan paling terakhir, Naruto hanya memandang kosong kepergian para jendral, termasuk punggung ayahnya.
"—Kita harus bisa memenangkan peperangan ini."
Kita akan memenangkan peperangan ini! Dan selanjutnya, kami akan merebut tahta Kekaisaran Hyuuga.
Begitu 'kan rencanamu, Sasuke!
.
Kabar tentang perang ini pun tidak luput dari telinga Hinata. Akibat dari berita itu kondisi istana tidak lagi tenang seperti biasanya. Namun hal itu tidak begitu meresahkan Hinata. Ada hal lain, dan Hinata sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa seresah ini?
Efek pertama yang Hinata rasakan akibat kabar ancaman perang ini adalah kesulitan untuk menemui Naruto, teman terbaiknya. Eh, apa mereka masih berteman sekarang? Atau lebih baik disebut sahabat saja? Atau saudara seperti ia pada Sakura? Kenapa rasanya semua istilah itu jadi tidak cocok untuk Naruto?
Oke, abaikan istilah itu terlebih dahulu. Ada hal yang lebih penting dari itu sekarang. Seharian ini Hinata tidak melihat batang hidung pria kuning itu. Bahkan Hinata sudah menunggu lebih dari dua jam di kediaman Naruto tapi pria itu tak jua muncul. Menurut informasi dari Nenek Chiyo. Tolong dicatat, Nenek Chiyo bercerita sendiri tanpa Hinata minta.
Sedari pagi para jenderal sudah mengadakan rapat penting yang dipimpin oleh Ketua mereka yaitu Minato Namikaze. Hinata sudah bisa menebaknya, bahkan memaklumi hal itu. Tapi satu hal yang membuat Hinata kesal adalah tanggung jawab atas pengawalan dan penjagaan Hinata telah digantikan oleh Jenderal Divisi 5. Yah, itulah efek ke dua yang Hinata terima.
Efek yang mampu menarik semua emosi Hinata keluar. Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan!
Hinata tidak habis pikir mengapa semua urusan yang menyangkut dirinya kembali diputuskan tanpa adanya pembicaraan terlebih dahulu dengannya. Selalu seperti itu!
Kenapa? Pertanyaan itu yang ingin Hinata tanyakan pada Naruto. Pria yang saat ini keberadaannya seperti ditelan bumi.
Alasan yang Hinata dengar dari Nenek Chiyo adalah karena Kaisar yang memintanya. Naruto atau Divisi 1 akan difokuskan untuk penyerangan di area depan istana. Tapi alasan itu tidak memuaskan Hinata. Lebih tepatnya mengecewakan, mungkin? Pasalnya terakhir kali mereka sempat bertengkar dan yah, berakhir dengan Hinata mengabaikan Naruto.
Meski kemarin mereka sudah bisa berbicara normal kembali, tapi rasa-rasanya memang belum ada ungkapan maaf dan memaafkan dari masing-masing pihak, bukan? Apakah ini yang menjadi alasan Naruto tidak mau mengawalnya lagi? Apa karena itu Naruto menerima begitu saja keputusan ini?
Walau Kaisar yang meminta langsung padanya atau mungkin Minato juga yang menyuruh Naruto melakukan hal itu, setidaknya Naruto bisa mempertahankan posisi sebelumnya 'kan? Mempertahankan Hinata. Bukannya menerima keputusan itu begitu saja.
AARRGGHH!
Hinata menghentak-hentakkan kakinya. Membuat kegaduhan di dalam kamarnya yang sepi. Ini semua karena ia sangat kesal. Apa pria kuning bodoh dan menyebalkan itu tidak tahu kalau Hinata tidak ingin tanggung jawab itu digantikan oleh orang lain? Hinata hanya ingin Naruto yang menjaganya. Hinata tidak mau mengakui hal ini, tapi tak bisa ia pungkiri hanya bersama dengan Naruto-lah Hinata bisa merasa aman.
Hinata menghela napasnya kuat-kuat.
Apa Naruto masih marah padanya?
Sial! Hinata tidak bisa diam saja. Ia harus bertemu dengan Naruto. Sekarang!
Tanpa pikir panjang lagi Hinata bergegas keluar dari kediamannya. Namun saat pintu ruangan itu terbuka tiga orang pria sudah berdiri di depan ruangannya. Dan dari ketiga pria itu hanya satu yang Hinata kenali. Akemichi Chouja, Jenderal Divisi 5 yang bertugas mengawalnya sekarang.
"Maaf, Hinata-sama, mulai saat ini Anda tidak dibebaskan lagi untuk keluar dari ruangan ini," ucap pria bertubuh besar itu dengan sopan. Kepalanya tertunduk memberi hormat, diikuti oleh dua pria lainnya.
"Aku hanya ingin berkeliling wilayah istana."
Pria itu tersenyum sebelum menanggapi ucapan dingin Hinata.
"Kaisar meminta Anda untuk tetap berada di dalam ruangan," ucapnya sopan.
Cih! Pria tua sialan!
"Hanya sebentar saja! Lagi pula hanya di dalam wilayah istana, apa yang harus ditakutkan?"
"Karena Anda akan dipindahkan ke tempat yang aman. Saat ini, saya yang mendapat tanggung jawab untuk menjaga Anda sedang mempersiapkan tempat tersebut. Jadi saya harap Anda mengikuti perintah ini, Hinata-sama."
"Perintah?" Hinata mengeram, "Aku bahkan hanya ingin berkeliling istana. Apa kaupikir aku akan kabur?"
Pria itu menundukkan kepalanya, "Maaf, Hinata-sama."
Hinata menghela napasnya kesal, "Kalau begitu, aku ingin menemui Kaisar Hyuuga. Aku akan meminta izin langsung padanya. Jika memang ia masih tidak mengizinkanku maka aku akan menurutinya. Bagaimana?"
"Baiklah."
Hinata dengan wajah kesalnya berjalan mengikuti Jenderal Divisi 5 yang kini membawanya menuju ke ruangan kaisar. Bahkan berjalan di tempat yang bisa Hinata sebut sebagai rumahnya, ia harus dikawal oleh tiga orang. Benar-benar tidak masuk akal.
Dan kini Hiashi Hyuuga sudah tepat berada di depannya. Tentunya dengan cara menerobos masuk tanpa menghiraukan para penjaga yang berusaha menahan Hinata.
Semua pasang mata yang berada di dalam ruangan itu kini menatap Hinata. Beberapa pria yang berdiri di depan Hiashi pun sampai membalikkan tubuhnya karena mendengar suara pintu yang dibuka kasar.
Mereka sudah tidak heran lagi melihat kelakuan Hinata yang seperti ini. Harusnya HInata juga tidak merasa aneh lagi. Tapi barusan Hinata seperti mendengar suara Naruto yang membentaknya. Memarahinya jika ia bersikap tidak sopan pada Kaisar.
Mata Hinata sempat menjelajah untuk memastikan apakah pria kuning itu berada di sini. Sayangnya itu hanyalah halusinasinya. Ada apa dengannya?
"To—ah, Kaisar Hyuuga, aku datang menemuimu untuk meminta izin berkeliling istana."
"Tidakkah kaulihat situasi sekarang ini, Putri Hyuuga?"
Hinata mendesah frustasi, "Aku tahu. Apa ada yang salah hanya berkeliling istana dengan tenang daripada berdiam di dalam ruangan? Sendirian? Itu membosankan, Kaisar!"
Hiashi menggeser posisi duduknya, sedikit memajukan bahunya ke depan. "Tidak bisakah kau menuruti apa yang kuperintahkan?" tanyanya mengintimidasi.
"Baik, baik! Aku akan menurut dan tidak melawan, asalkan kau mengabulkan satu permintaanku." Hinata menghentikan ucapannya sejenak. Kepalanya tertunduk malu, bahkan ada semburat merah di wajahnya, "Aku hanya ingin bertemu Naruto."
Namun sedetik kemudian Hinata mengangkat kepalanya lagi. Memasang wajah angkuhnya meski rona merah itu masih setia berada di kedua pipinya, "A- aku ada urusan penting dengannya."
"Tapi kau tetap akan dikawal oleh Jenderal Divisi 5."
"Tou-san!"
Ekspresi Hiashi tidak berubah. Tatapan matanya seakan berkata, setuju atau tidak sama sekali. Menegaskan jika itu pilihan untuk Hinata. Dan Hinata dengan sangat terpaksa menerimanya. Tanpa memberi hormat, Hinata pergi begitu saja diikuti oleh Akemichi Chouja.
Sepanjang ia melangkahkan kakinya meninggalkan Kaisar Hyuuga—yang sialnya adalah ayahnya sendiri, Hinata terus mengumpat di dalam hati. Dan lagi, meski Hinata sekuat tenaga berjalan dengan kecepatan luar biasa. Pria berbadan besar itu dengan mudah menyusulnya. Perkiraan Hinata mengenai tubuh besar yang akan menghambat kecepatan pria itu ternyata salah besar. Memang benar jika kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja. Hinata percaya itu sekarang.
Dan sepertinya bumi telah memuntahkan kembali makhluk kuning itu. Sosok yang Hinata cari kini muncul di depan gerbang istana. Tengah sibuk berbicara pada salah satu bawahannya.
Langkah Hinata semakin cepat dan kini ia sudah berdiri tepat di hadapan Naruto. Mengabaikan keterkejutan yang tergambar di wajah semua orang yang berada di sana. Dan juga mengabaikan para pasukan yang kini memberi hormat padanya.
"Hinata. Kau masih di sini?" tanya Naruto yang sudah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.
Wajah Hinata memberengut. Apa-apaan itu tadi? Pertanyaan macam apa barusan? Itukah kata yang keluar dari mulut Naruto? Terdengar seakan Naruto tidak menyukai keberadaannya.
Dasar pria kuning busuk!
Dan melihat dari ucapannya juga sepertinya Naruto sudah tahu kalau Hinata akan dipindahkan ke tempat lain, dan pria itu masih bisa tenang?
Benar-benar pria busuk!
"Memangnya kau mengharapkan aku berada di mana, Naruto?" tanya Hinata kesal.
Naruto menatap Hinata bingung. Tiba-tiba Hinata datang dan terlihat begitu kesal padanya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
"Kau ini kenapa sih? Apa pertanyaanku salah?"
"Tentu saja salah, BAKA!"
Para pasukan yang sedari tadi sibuk melakukan kegiatan masing-masing seketika menatap ke arah Hinata dan Naruto. Bahkan Akemichi Chouja mengangkat satu alisnya tanpa sadar. Tuan Putrinya memang benar-benar luar biasa. Luar biasa mengerikan.
"Apa kau tidak tahu aku kesulitan untuk menemuimu? Aku bahkan harus menghadap pria tua itu untuk mendapatkan izin menemuimu, dan kau dengan tenangnya bertanya padaku, 'Kau masih di sini'? Apa menurutmu kau tidak keterlaluan, Naruto?"
"Kau ingin menemuiku?"
"Tentu saja! Kau tahu seharian ini aku mencarimu—" Dengan cepat Hinata menutup mulutnya. Sedangkan sebuah senyum sudah mengembang di wajah Naruto. Bola mata Hinata bergerak tak menentu. Menghindar lebih tepatnya.
Sial. Rasanya ia ingin mencakar wajah Naruto saja!
Dan kemudian Hinata berdehem pelan. Mengusir rasa malu atas ucapannya tadi. Sekaligus meredakan keinginan untuk mencakar wajah Naruto.
"Maksudku, aku mencarimu seharian ini karena ada hal yang ingin akubicarakan. Jangan berpikir aku mencarimu hanya karena ingin menemuimu. Aku tidak mungkin melakukan itu. Kau tahu sendiri, aku sudah tidak peduli padamu. Jadi jika bukan karena hal penting, aku tidak mungkin melakukan ini. Naruto, kau mengerti 'kan maksudku?"
Kuso! Kuso! Kuso! Kenapa ia jadi bicara panjang lebar begini? Dan apa itu barusan? Aku sudah tidak peduli padamu. Mati saja kau, Hinata! Mulai detik ini Naruto benar-benar akan meninggalkanmu!
"Tentu," jawab Naruto sembari menganggukkan kepalanya. Senyuman itu pun masih belum memudar di wajah Naruto. Bahkan ukurannya lebih lebar dari sebelumnya. Bukankah Hinata terlihat lucu?
"Jadi hal penting apa yang ingin kaubicarakan?" tanya Naruto, yang tetap terlihat tenang.
Benar. Apa yang ingin dia bicarakan? Jika ucapan maaf yang ingin ia katakan telah berubah menjadi kata-kata yang luar biasa menakjubkan.
"—Aku sudah tidak peduli padamu."
Bodoh. Bodoh. Dan kini Hinata tidak tahu hal penting apa yang ingin ia ungkapkan pada Naruto. Ayo, berpikirlah!
Perlahan Hinata berjalan mendekati Naruto, kemudian satu tangannya memegang pundak Naruto. Menariknya hingga membuat tubuh Naruto sedikit membungkuk. Seketika jantung Naruto bedetak hebat. Tunggu! Tunggu! Apa mungkin Hinata berniat menciumnya di depan umum begini?
Sayangnya perkiraan Naruto meleset jauh. Hinata hanya berniat membisikkan sesuatu padanya. Harusnya ia lega Hinata tidak melakukan itu, tapi mengapa Naruto merasa kecewa? Hei, yang benar saja. Memangnya siapa yang tidak mau mendapatkan sebuah ciuman dari orang yang disukai? Jadi wajar, bukan?
"Kau janji mempertemukan aku dengan Sakura. Aku ingin bertemu dengannya sekarang sebelum aku pergi," bisik Hinata. Akhirnya ia bisa menemukan hal penting itu. Terima kasih Sakura.
Hinata menatap Naruto dengan pandangan memohon. Naruto tidak begitu saja mengiyakan permintaan itu. Saat ini dua perempuan itu sama-sama tidak mengetahui rahasia kelam dari masa lalu orangtua mereka. Ada perasaan tidak mengenakkan karena hingga detik ini Naruto masih belum juga mengatakan kebenarannya.
Jika kebenaran itu sudah mereka ketahui, apakah hubungan mereka masih bisa sebaik ini?
"Baiklah, tapi aku tidak bisa memberimu banyak waktu."
Hinata sudah bersiap membantah ucapan Naruto. Mulutnya sempat terbuka, namun kata-kata itu batal keluar saat mendengar ucapan Naruto.
"Aku tidak ingin keberadaan Sakura terbongkar hanya karena keegoisanmu. Dan lagi, banyak hal yang harus kulakukan sekarang."
Dan tanpa menunggu persetujuan dari Hinata, Naruto berjalan menghampiri Jenderal Divisi 5, Meminta pria itu untuk menunggu di tempat ini sebentar. Pria itu menyanggupinya. Toh, seisi istana sudah mengetahui hubungan unik antara Hinata dan Naruto. Apalagi Jenderal Divisi 1 itu dulunya bertugas mengawal Putri Hyuuga hingga Chouja tak perlu lagi merasa khawatir.
Hinata kembali memasang wajah kesalnya saat berjalan mengikuti Naruto. Hinata tau ia harusnya merasa senang Naruto memenuhi permintaannya—meski hanya sebentar. Tapi yang menjadi permasalahannya adalah ucapan Naruto berikutnya. Sebelum ia pergi meminta izin pada Chouja.
"—banyak hal yang harus kulakukan sekarang."
Benar sekali. Di situlah letak kesalahan Naruto yang berhasil memancing kekesalan Hinata. Apa urusan itu lebih penting dibandingkan dengan dirinya? Oke, jawabannya memang lebih penting karena ini menyangkut perang. Tapi, bisakah Naruto tidak mengatakannya seakan ia terpaksa melakukan ini?
Apakah Naruto tidak senang dengan kehadiran Hinata? Atau mungkin saat ini Hinata sangat mengganggunya?
Ekspresi Hinata berubah sayu. Kepalanya tertunduk lesu. Kenapa rasanya sangat tidak menyenangkan?
"Naruto … Kau, apa kau senang mendapat tugas yang sekarang?" tanya Hinata pelan.
Naruto menoleh, yang kemudian memperlambat langkahnya agar bisa menyamai posisi Hinata.
"Hmm, apapun tugas yang diberikan padaku, aku tetap akan melakukannya. Senang atau tidak. Suka atau tidak. Aku akan melakukan sebaik-baiknya."
"Begitu," gumam Hinata. Jadi selama ini Naruto menjaganya karena sebuah tugas. Bukan karena hal lainnya. Bodoh! Memangnya hal lain apa yang harus mendasari perlakuan Naruto selama ini? Mereka hanya teman. Terlebih kedudukan mereka jelas jauh berbeda. Naruto pasti menuruti perintah yang diberikan padanya.
Memang sudah seharusnya Naruto menjaganya karena perintah dan tanggung jawab. Tapi apa hanya karena sebuah perintah? Tidak lebih. Kini terjawablah sudah semua keresahan Hinata. Pantas saja Naruto masih bisa bersikap tenang seakan pergantian tugas itu bukan suatu hal yang mengganggunya.
Jadi hanya Hinata-kah yang tidak bisa menerima keputusan itu? Hanya Hinata-kah yang berharap Naruto menolak keputusan itu? Sebenarnya, seberapa pentingkah Hinata untuk Naruto?
Hinata ingin menangis sekarang. Dasar pria kuning kurang ajar!
Jadi selama ini, apakah cuma Hinata yang merasa begini? Kenapa rasanya sakit sekali? Inikah rasanya diabaikan?
Selebihnya hanya keheningan yang mendampingi mereka. Hinata sendiri sudah tidak berminat lagi mengeluarkan suaranya. Untungnya, lokasi Sakura berada dekat dengan gerbang istana. Setidaknya ia tidak perlu lagi berlama-lama dengan pria kuning menyebalkan itu.
"Sakura," teriak Hinata yang segera memeluk Sakura erat. "Aku sungguh sangat rindu padamu."
"Kupikir aku tidak bisa lagi bertemu denganmu," ucap Hinata yang melepaskan pelukan itu dan kini memegang kedua bahu Sakura.
Sakura tersenyum, "Aku juga merindukanmu, Hinata."
Naruto menatap sendu dua perempuan yang kini saling melempar senyuman dan berbincang dengan binar mata penuh kebahagiaan. Apakah senyuman itu masih tetap ada jika mereka mengetahuinya? Apakah ikatan yang telah mereka buat tidak akan terlepas?
"Baiklah, sebaiknya aku tinggalkan kalian berdua," ucap Naruto yang bergegas pergi. Semakin lama ia berada di sana, maka semakin kuat desakan batinnya untuk segera memberitahukan kebenaran itu.
Ini terlalu sulit.
Hinata menjulurkan lidahnya ke arah punggung Naruto—yang kini sudah tidak tampak lagi. Menghilang di balik pintu yang ia tutup rapat. Mendapati hal itu, kedua alis Sakura berkerut bingung.
"Dia membuatku kesal." Hinata berujar, seakan menjawab pertanyaan yang belum sempat terlontar dari bibir Sakura.
"Apa ada sesuatu yang terlewat olehku?" tanya Sakura sembari tersenyum jahil.
Hinata segera memalingkan wajahnya, "Bukan hal penting," jawabnya ketus. Namun kepala merah muda Sakura bergerak mengikuti ke mana pandangan mata Hinata tertuju. Saat mata mereka kembali bertemu, Sakura kembali memasang senyum jahilnya.
"Hmm?" Kedua alis Sakura bergerak naik, seakan meminta penjelasan darinya.
Hinata menghela napasnya pasrah, "Kami—ah, maksudnya aku marah padanya dan … mengabaikannya."
"Lalu?"
"Dan sekarang dia bukan lagi pengawalku."
"Jadi, bagian mana yang 'dia membuatku kesal' tadi?"
"Sakura!"
Gadis pemilik nama itu kini tertawa lepas. Ekspresi Hinata barusan benar-benar lucu. Sedang Hinata semakin memberengut kesal.
"Jadi dia memutuskan untuk berhenti menjadi pengawalmu karena kalian sedang bertengkar?"
Hinata menggeleng, "Kaisar yang memutuskan untuk menggantikan tugas itu. Dan kami tidak bertengkar Sakura. Menurutku begitu—" Helaan napas itu meluncur kembali, "—tapi memang kami belum resmi berbaikan. Yah, sepertinya."
"Aku mengerti. Jadi kau kesal karena Naruto menerima begitu saja keputusan itu? Dia tidak berusaha menolaknya? Benar?"
Baru satu kali kepala Hinata bergerak menjawab Sakura dengan anggukan kepala. Lantas Sakura menepuk kedua tangannya keras-keras. Penuh semangat. Mata hijaunya berbinar dan senyuman di wajahnya semakin lebar.
"Itu tandanya kau jatuh cinta padanya!"
Hinata mendengus, "Aku? Jatuh cinta pada si kuning bodoh kurang ajar itu?"
Hinata memutar bola matanya bosan, "Tidak masuk akal," sambungnya.
Sakura mengangguk pelan dengan mata terpejam, satu tangannya menopang dagunya, "Cinta memang tidak masuk akal."
Mutiara hijau itu kembali tampak. Menatap Hinata penuh dengan kilatan keyakinan.
"Karena tanpa kausadari, kau sudah terjatuh padanya. Kekecewaan yang kaurasakan adalah salah satu reaksi dari perasaan cinta. Karena tanpa kausadari lagi Hinata, kau menginginkan Naruto untuk terus berada di sisimu. Kau menginginkannya, si pria kuning bodoh kurang ajar itu."
Sakura melanjutkan dengan tawa terlantun bersama ucapannya, "Kalian ini seperti pasangan bodoh saja."
"Katakan itu pada dirimu sendiri!"
Dan kini Sakura menatap Hinata heran.
"Jika cinta adalah karena kau menginginkan seseorang itu, lalu di mana Sasuke? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?"
Lenyap seketika binar di sepasang mata hijau itu. Pancarannya menghilang. Meredup. Satu nama yang mampu membalikkan dunia Sakura dalam sekejap. Mengubah perasaan Sakura seketika.
Melihat perubahan drastis yang terjadi pada Sakura, Hinata ikut terdiam.
"Apa Sasuke meninggalkanmu?" tanya Hinata yang kini memegang bahu Sakura. Menatap cemas perempuan merah muda itu.
Dan gelenggan kepala yang bergerak lemah adalah jawaban yang diberikan Sakura.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Sebenarnya kenapa kau datang menemui Naruto? Apa ada sesuatu?"
Namun tampaknya Sakura enggan untuk menjawabnya. Mulut itu masih tertutup rapat. Ia sudah berjanji untuk tidak menceritakan hal ini padanya. Naruto yang akan mengambil alih tugas itu.
"Baik. Jika kau tidak mau memberitahuku, akan kutanyakan hal ini pada Naruto."
Dan Sakura hanya bisa mengikuti Hinata yang kini berjalan menuju tempat di mana Naruto berada.
…
"Aku tahu kau di situ. Keluarlah."
Dan muncullah sosok Sasuke yang keluar dari persembunyiannya. Tempat yang juga sering mereka gunakan untuk berbagi informasi.
"Dia masih di sini?" tanya Sasuke datar. Dan tentunya, dia yang dimaksudkan oleh Sasuke adalah Sakura.
Naruto telah berjanji pada Sasuke untuk memindahkan Sakura ke tempat yang aman. Menghindarinya dari kekejaman perang. Tentunya janji itu terucap karena Sasuke yang memintanya. Kesepakatan samar yang mereka buat.
"Aku pasti akan menepati janjiku, Sasuke. Hinata meminta untuk bertemu dengannya, dan aku tidak bisa menolaknya," jawab Naruto.
Ketenangan yang sedang ia cari tampaknya tidak bisa ia dapatkan. Sekali lagi, bayangan kedua perempuan yang baru saja bertemu kembali muncul. Mengelupas keyakinan Naruto. Desakan yang ingin ia hindari malah kembali datang menghampiri.
Rahasia ini. Bukankah mereka harus mengetahuinya?
"Haruskah aku mengatakan semuanya sekarang?"
Akhirnya terlontarlah pertanyaan sebagai pertanda batas keyakinan Naruto untuk terus menyimpan rahasia itu. Dan Naruto tidak membutuhkan jawaban Sasuke atas pertanyaan itu, karena pada dasarnya pertanyaan itu tertuju untuk dirinya sendiri. Usaha terakhir untuk menguatkan keyakinannya.
Jika memang air mata adalah bayaran dari kenyataan pahit itu, Naruto sanggup menanggungnya. Harus! Karena melindungi tidak selamanya harus menghindarkan Hinata dari rasa sakit kebenaran itu.
Melindungi adalah di mana Naruto akan berusaha untuk mengobati rasa sakit itu. Benar, itulah yang seharusnya ia lakukan.
"Ini bukanlah saat yang tepat," ucap Sasuke datar.
"Menurutmu kapan saat yang tepat itu?" Dan keyakinan itu sudah terpancar di mata Naruto. Tidak bisa lagi digoyahkan.
"Besok? Lusa? Kapanpun itu kenyataan ini tetap akan menyakitkan untuk mereka. Dan aku tidak bisa menyimpannya lebih dari ini. Melihat mereka berdua, … aku tidak bisa lagi!"
Rahang Sasuke mengeras. Bola mata hitam itu pun membulat sempurna. Hal ini tidak termasuk di dalam perhitungannya. Tidak ada di dalam rencananya.
"Jika kau memang tidak bisa menyimpannya, maka katakan itu pada Hinata. Tapi tidak dengan Sakura!"
"Kenapa?"
"Urus saja urusanmu sendiri, Naruto!"
Naruto memilih diam. Tidak menanggapi ucapan Sasuke. Ada hal yang mengusiknya sedari tadi. Sebuah alasan. Ya, alasan di balik sikap Sasuke. Alasan yang membuatnya terus menyimpan rahasia ini. Dan kini Naruto mencarinya di dalam pancaran mata hitam itu.
"Kau ingin menyimpan kebenaran itu sendiri dan menguburnya bersama perang ini. Lalu kau akan membawa Sakura dan menghilang. Begitukah, Sasuke?"
Embusan angin seakan mewakilkan jawaban Sasuke. Dan berakhir dengan bola matanya yang bergerak memutuskan tatapan kedua pasang mata itu.
Naruto mengeram kesal. Jadi dari awal Sasuke benar-benar tidak berniat untuk memberitahu Sakura kebenarannya.
"Berengsek!" Cengkaram mendarat di pakaian Sasuke. Mempersempit jarak antara keduanya, "Apa yang kaupikirkan, Sasuke?"
"Aku hanya tidak ingin Sakura membenciku!"
"Kau pengecut!"
Tepisan keras dari tangan Sasuke mampu melepaskan cengkraman itu, "Jangan samakan diriku denganmu, Naruto. Kau tidak ada dalam lingkaran ini. Hinata tidak akan membencimu meski telah mengetahui semua kebenarannya."
Mata hitam itu berkilat marah. Namun luka sedang coba ia sembunyikan. Bahkan kini Sasuke tidak bisa lagi berucap datar. Tidak lagi menampilkan ketenangan seperti biasanya.
"Kaupikir dengan cara apa aku harus mengatakan hal ini padanya? Mengatakan bahwa Tou-san-kulah penyebab runtuhnya Kekaisaran Haruno. Pria bernama Fugaku Uchiha-lah yang membunuh Kizashi Haruno, tou-san-nya dan menghabisi seluruh keturunan Haruno. Kaupikir itu mudah?"
"Apa maksudnya itu?"
Pertanyaan itu tidak terlontar dari mulut Sasuke maupun Naruto. Tapi dari bibir yang Hinata yang bergetar. Matanya menatap tak percaya, sama seperti sepasang mata hijau yang berada di belakangnya.
Dan mata hijau itu menatap langsung mata hitam milik Sasuke—yang kini sama terkejutnya. Tidak menyangka bahwa sosok Sakura berada di sana? Sejak kapan? Sial!
"Sakura," panggil Sasuke lirih, yang justru membuat pemilik nama itu berbalik dan melangkahkan kakinya pergi.
Bersambung.
Curcul :
Haiiii ^^
Pertama, saya mau ucapin makasih banyak buat yg udah ngevote SILENCE di BTC ^^ *Cium atu2*
Kedua … Maap saya apdet telat hoho *berlindung di pelukan Taka* Maklum kmrn SH ikutan lomba 17-an hahaha *disemprot* .. Maaf bgt yg udah nunggu (Eh emang ada yg nunggu?) wkwk dan juga makasih bnyk ripiunya.
Dan yang ketiga, saya sendiri bingung mau ngomong apa lagi? Hahaha … Yah, chap ini masih dominan NH ( I Know ) saya harap masih bisa dinikmati. Kadang berpikir, pertemanan antara Sakura dan Hinata itu imut sekali (Seperti di the last) Sayangnya para haters malah saling menjelek2an kedua chara keren itu.
Tuh, kan.. jadi ngaco deh ngomongnya haha. Jadi,
Sampai ketemu di chap selanjutnya ^^ maaf klo ada kata-kata yang kurang berkenan.
21-08-15
.
[U W] — Istri sah Taka, One Ok Rock :* —
