Us Against The World

.

Chapter 2: NCT DASH

Tidak ada yang lebih membanggakan ketika Taeyong terpilih kembali untuk memimpin unit NCT yang akan memulai debut bulan depan. Jaehyun bahkan hampir menjatuhkan nampan dengan ramyun hangat di atasnya ketika Ten menyebarkan berita ke seluruh kamar dorm dengan mata berbinar-binar. Jaehyun tersenyum spontan kala member lain menyambutnya dengan meriah.

Di sisi lain, yang menjadi pusat perhatian hanya terduduk tenang di sudut sofa ruang rekreasi sambil mengistirahatkan dagu di tangannya. Telapak tangannya hampir memenuhi separuh bagian bawah wajahnya yang rupawan. Jaehyun melirik posenya yang demikian. Jaehyun tahu bahwa kekasihnya memang tidak suka menunjukkan ekspresinya, tetapi ia tahu betul jika ia juga turut senang atas antusias para adik-adik dan sahabatnya.

"Kau berhasil melakukannya lagi, Yongie!" Johnny melemparkan dirinya ke sofa sembari merangkul Taeyong dari sisi kanannya dan membuatnya hampir terjatuh.

"Ya, iyalah! Ini Taeyong yang kita bicarakan!" Hansol bergabung dengan mengacak-acak rambutnya dengan kasar dari sisi kirinya. Sukses. Mereka berdua berhasil membuat Taeyong ngambek.

"Ugh...Jhonny-ssi dan Hansol-hyung yang terhormat, bisa tolong singkirkan diri kalian masing-masing?" Taeyong berkata datar. Dingin? Sudah pasti.

"Aih, Taeyongie makin lucu deh kalau cemberut begitu...," Jhonny semakin menjadi-jadi menggoda sahabat kesayangannya itu.

"Betul, betul! Taeyongie tsundere explode! Sudah pasti Yuta yang mengatakan itu. Demi apapun ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk ikut mem-bully sahabatnya yang sedang 'disiksa' begitu.

"Hei, kalian ini! Mau aku lempar dari jendela satu-persatu?!." Erangan kesal Taeyong tampaknya membuat member lain tidak segan-segan untuk menepuk bahu atau punggungnya, mengusap-usap rambutnya, bahkan Jaemin mencolek pipinya dengan senyum jahil di wajahnya.

"Sudah jangan sentuh-sentuh!"

Taeyong menjadi bulan-bulanan para member, Jaehyun hanya tersenyum melihat semua itu. Tentu saja ia ingin segera merengkuhnya, mengecupnya atau sekedar mengucapkan selamat kepadanya. Namun, ia urungkan niatnya karena hubungan mereka masih menjadi rahasia diantara para member. Hanya Taeil dan Yuta yang duduk di meja makan menemaninya sambil terbahak-bahak yang tahu soal hubungan keduanya.

Jaehyun menikmati 'Bully Lee Taeyong Show' itu sambil menyeruput ramyun-nya dengan lahap. Sesaat Jaehyun mengarahkan pandangannya kembali ke arahnya, mata mereka tidak sengaja bertemu dari kejauhan. Jaehyun bisa melihat raut wajah kesal Taeyong yang semakin menjadi-jadi.

"Ya! Jung Jaehyun! Berani-beraninya kau makan sambil melihatku seperti acara reality show! Buatkan aku ramyun juga!" Jaehyun hampir menyemburkan ramyun-nya mendengar namanya diteriakkan dengan lantang.

"Ahaha...baik, baik, akan aku buatkan." Ia mengangkat diri dari meja makan dan segera melakukan permintaan sang kekasih. Taeyong terkadang tanpa sadar menunjukkan sikap manjanya di hadapan para member dan membuat Jaehyun sedikit tertegun. Ia memang tidak pernah berhenti memberiku kejutan.

...

Suasana dorm sudah sunyi di malam yang hampir mencapai dini hari. Para member kembali ke kamar mereka masing-masing bersiap terlelap sejenak sebagai bekal untuk memulai aktivitas di esok hari. Jaehyun menyandarkan tubuhnya di jendela kamar sambil membaca buku dan menikmati angin sepoi yang menyapu lembut wajahnya. Selang beberapa saat pintu kamar terbuka dan Taeyong masuk dengan handuk di kepalanya yang basah.

"Jae, jangan duduk di jendela begitu. Bahaya." Ia berujar pelan tapi tegas. Jaehyun hanya meringis mendengar tegurannya. Ia menakupkan buku yang ia baca, tetapi tidak memindahkan tubuhnya dari bibir jendela.

"Hyung, sub-unit yang hyung pimpin apa namanya?"

"Hm...NCT Dash." Ia membalasnya dengan gumaman sembari mengecek ponselnya.

"Dash?" Dahi Jaehyun mengernyit penuh tanda tanya.

"Ya, Dash...kau tahulah, english untuk lari kencang. Aku dengar title track-nya berjudul The Great Escape. Sesuai namanya, grup akan dipenuhi irama lagu up beat."

"Tunggu, tunggu...jangan bilang konsep music video-nya nanti lari-larian gak jelas?"

"Tidak tahu. Mungkin." Taeyong bisa mendengar cengingisan dari pria jendela. Walaupun ingin kesal, Taeyong terlalu fokus ponselnya hingga menghiraukan Jaehyun. Giliran Jaehyun yang kesal karena diacuhkan.

"Kapan hyung akan shooting music video?" Jaehyun tidak tahan dihiraukan.

"Entahlah. Belum screening dengan manajer-hyung." Taeyong lagi-lagi hanya menjawab datar. Jaehyun sudah mencapai batasnya. Si pria jendela akhirnya turun dan berjalan cepat menuju tempat tidur Taeyong di mana ia duduk. Taeyong tersentak mendapati kekasihnya sudah berada di sampingnya, meraih dagunya dengan cepat dan mengecup bibirnya.

Tentu saja Taeyong marah. "Kau mau aku tonjok pakai tangan atau...," sebelum Taeyong sempat melanjutkan, Jaehyun sudah melancarkan serangannya yang kedua. Ia mendaratkan bibirnya cepat di atas bibir Taeyong. Taeyong lagi-lagi mengelak. Ia menoyor wajah Jaehyun dengan telapak tangannya.

"Cukup! Akhir-akhir ini kau jadi semakin kurang ajar, Jae!" Taeyong mendengus kesal, meninggalkan helaan nafas panjang dari mulut Jaehyun. Jaehyun ingin mengutarakan "Kalau begitu jangan mengacuhkanku, Hyung." Namun, ia urungkan kalimat itu karena ia terlalu sayang kepada Taeyong dan tidak ingin membuatnya lebih marah. Ia memang selalu mengalah pada kekasih yang dua tahun lebih tua darinya itu.

Jaehyun merebahkan tubuhnya di kasur Taeyong dan memandangi langit-langit kamar. Tiba-tiba Jaehyun mendengar helaan nafas panjang. Seketika ia menegakkan badannya dan membenarkan posisinya duduk di samping Taeyong. Ekspresi kekasihnya berubah menjadi serius seketika. Apa aku berlebihan?

"Taeyong-hyung, ada apa?" Nadanya gusar melihat Taeyong yang menerawang ruangan dengan tatapan yang hampir kosong. Taeyong menghela nafas kembali, lebih parau dari sebelumnya.

"Unit ini...mungkin unit ini bisa meraih trofi untuk pertama kalinya. Tapi, apa aku bisa?" Kalimatnya lirih seperti bisikan, jelas ia sedang gelisah. Mata Jaehyun sedikit terbelalak karena ternyata Taeyong memikirkan hal lain. Jaehyun ikut menerawang.

Memang, tanggung jawab sebagai leader tidak mudah. Ia mengemban tugas bersama para membernya untuk tampil di setiap acara panggung dan music program sebaik mungkin. Ia juga yang menjadi perantara antara grup dan artis senior ketika ingin meminta saran atau nasihat. Ia pula yang menjadi pembicara utama ketika mendapat kesempatan diundang ke acara reality show. Jaehyun sudah hafal dengan itu semua mengingat Taeyong yang telah dua kali memimpinnya dalam sub-unit NCT.

Jaehyun beranjak dari posisinya duduk dan berdiri di hadapan kekasihnya. Kedua tangannya mendarat di kepalanya di mana handuk yang ia kenakan masih bersandar. Ia biarkan tangannya bergerak untuk mengusap lembut mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah. Taeyong sempat mengelak, tetapi tangan Jaehyun enggan melepaskan diri dari kepala kecilnya. Sempat ada jeda sepi setelah itu, wajahnya masih tertunduk. Jaehyun menghela nafas sejenak.

... Jaehyun POV ...

"Taeyong-hyung akan baik-baik saja," ujarku lembut,"jika hyung ingin menang, utarakan sejujurnya pada member." Aku memendekkan tubuhku untuk berlutut di hadapannya, mata kami beradu sejajar. "Para member pasti akan menampilkan yang terbaik dengan segenap kemampuan mereka."

Salah satu tanganku meraih tangannya, sementara tangan yang lain masih tidak beranjak dari kepalanya. Ibu jariku mengelus lembut punggung tangannya sementara mataku mencari sinar yang biasa Taeyong-hyung pancarkan. Namun, mata hitamnya seolah berawan menutupi sinar di bola matanya.

Aku bawa dahinya untuk menyentuh dahiku. Bibirku membentuk senyum lebar di depannya.

"Omong-omong, selamat untuk debut unit-nya, hyung." Bibirku mengucap di depan bibirnya. Tidak lama kemudian sebuah garis terbentuk di bibirnya. Akhirnya ia tersenyum juga, meski tipis saja. Ragu-ragu aku meraih dagunya, ia tidak mengelak. Aku menyapu lembut ujung bibirnya sebelum membawanya lebih dekat dengan bibirku. Aku mengecupnya perlahan, dan lama. Kuraih tengkuknya dan ciuman kami semakin—

"Achu!" Sebelum ciuman kami semakin dalam, Taeyong-hyung sudah mendahului dengan bersin yang tidak bisa ia tahan.

"JUNG JAEHYUN BODOH! CEPAT TUTUP JENDELA SIALMU ITU!" Ia melempar bantal tepat di wajahku. Dan mengusirku dari tempat tidurnya. Malam berakhir dengan kemarahan Taeyong-hyung padaku.

To be Continued

Up next: Berhasilkah NCT Dash meraih trofinya? Bagaimana reaksi Jaehyun yang terpilih untuk menjadi leader di grup NCT yang baru? Ikuti terus ya!

A/N: Selamat pagiii...berkat review dan traffic view yang tinggi gak sabar pengen cepet2 upload hihihi :3 sebenarnya chapter ini udah aku buat tempo hari, tp jujur ga confident krn kalimatnya yang terlalu baku, aku baca ulang ternyata sumpah asli boring hahaha... btw, maaf kalau di chapter 1 terlalu baku atau bahasanya terlalu formal, gara2 baca bukunya Dee Lestari ditambah karakter Jaehyun yang aku buat melankolis, manis dan sejenisnya jadi kebawa deh...semoga di chapter ini ada perubahan sedikit dgn bahasa yg easy going agar para pembaca terhormat menikmatinya...special thanks to, shintalang, nabillasella, restiana, Hime Taeyong, SJMK95, peachpetals, tidak terkecuali untuk yang sudah nge-favs dan follow untuk semangatnya tetep lanjutin fic ini...benar-benar terimaa kasih sekaliii...big hugs and kisses: * :* :* mwah mwah xD PS. tolong reviewnya yaa :* :*