Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

Guest : Ini lanjutannya ^^

Guest :

Alin : Hmm kurang tau sih, tapi udah tinggal dikit lagi sih (Kayanya itu juga hehhee)

Moikomay : Iya, makasih ^^

Youghee lee : Siiippp ^^

Lea Shine : Salam kenal jg lea ^^ tapi maaf ngak bisa apdet kilat huhuhu, eh ada typo ya, makasih ya udh dikasih tau hehe

Kiki Kim : Hihihi, iya nih, sayangnya chap ini ngak bareng, abis seru sih klo bareng, sama2 menyemangati hari deadline jadi semangat ngetik biar bisa diupdate bareng2 ^^

Ikalutfi97 : Yeaaayyy ^^ ini loh inihh udah perangggg *cubitbalik* hooh, bener, mending mikirin Taka ya daripada mikirin war eeaaaaaa

KuroNeko10 : Hehehehe semoga suka sm chap ini, dan rasa penasaran setengah idupnya bisa teredam sm chap ini ya hehe

Herocyn Akko : Huaaaa *ngumpet di pelukan Taka* maaf ya telatnya kelamaan hehe, masa sih ribet? Enggak kok *siulsiul* kamu mah cium2 suami aku terus, taka ngak mungkin cium kamu duluan keles :p

Kura cakun : Ini ngak kelamaan kan apdetnya hehe pisss ^^ makasih ya

Virinda : Loh, kok moment narusasu sih ( jd berasa Fic yaoi nih, duh!) *tp aku paham kok maksd kamu* semoga chap ini jg bs bikin km tambah dagdigdugser hehe

Wowwoh geegee : Yeeeeessssssss! Hahaha

HikariHikari29 : Makasih, iya sedikit… soalnya doi mahal bgt sih, jd perannya diirit-iritin (Apaan sih) haha

Princess948 : Hmmm pilih benci atau balas dendam ya? Silakan baca chap ini *sokmisteriusgitu* hehehe

Nomi Uchiha : Hore *mandibunga* maaf masih ngaret apdetnya, tapi ngak lama-lama bgt kan *kedipkedipcantik*

Arisahagiwara-chan : Makasih *terharu* ini dilanjut ^^

Septemberstep : Hahaha gpp ko nyambung, lagi juga aku setuju sm kata2 kamu hehe, ya biar ngak beneran copot jantungnya makanya di bersambungin (?) haha saya ambilin deh jamurnya, lumayan biar dijual hahha

Yoktf : Akunya juga greget *dilempar*

Guest : Sorry, i'm late

PinkRamens : Maaf ya lama ^^*nyengircantik* dan saya masih ngaret hehe maaf ya

Darkcrowds : Hiks… pdhl saya ngak suka sinetron, ya tapi emang bener sih :D

Dinayasashii7 : Tau nih Hinata malumalumeong dia haha

SRH : Nah lo, nah lo…. Makasih semangatnya ya ^^

Guest : Hahaha, udah di scriptnya begitu, smoga ya saku ngak benci ^^

Annisa Alzedy : Wah, udah mahasiswi nih ^^ , ospeknya luar binasa menyebalkan yah aha, iya, ada deadchara lah, ngak seru klo ngak ada kan haha

Hanazono yuri : Siiiiiippppp ^^

Uchihasaku : Sipp, ini ngak lama banget kan? Cuma lama aja ya hehhe

Vanny chan : Haaaiii vanny ^^ hihihi, banyakan siapa ya? Yah, smoga aja deh yah aha

Berry uchiha : Terima kaish telah menunggu dgn sabar ^^

Ayuniejung : Duh, maaf ya maaf hahhaa udah tuntutan script soalnya ^^ skrg udah ketemu kok sasusakunya hahha

Guest : Sippp ^^

Neko : Hohoho ikutan pasang devilsmile :p

Queensha : Gpp, saya seneng kok kamu masih mau kasih ripiu :D hahaha kali ini apdet lebih cpt tapi sayang wordnya lebih sedikit hehe. Klo bisa sih saya usahain kok, biasanya yg ngak bisa saya kabulin itu minta jalan ceritanya dibegini dibegitu hehe… makasih doanya loh huhu aku terharu beneran *nangisdipelukanTaka* makasih banyak ya ^^

Dianandraha : Hihi smoga ketakutanmu tidak terjadi, sip ini dilanjut ^^

Savers295 : Hiks maaf ya sasu

Suket alang-alang : Iya, masa Sakura nari ;P hehehe sakua bakal…. Silakan dibaca ^^

FiaaAtiarizqi : Eh masa sih? Emang aku ya huhuhuhu pokoknya baca dulu deh chap ini hahhaa ^^

Pinktomato : Sip ini udah dilanjut kok ^^

Pink Cherry : Hmmm, untuk fic ini kayanya cm pake sasusaku sm naruhina aja ^^ klo mau yg semua pair itu ada di fic saya yg lain kok (Loh kok malah promosi *ditelen*) hahhaa

Guest : Huhu maf ya chapternya ngak panjang huhuhu

Hikaru Sora 14 : Iya aku jg mikir Hinata lucu bgt, wah kita satu pemikiran ^^ huhuhu iya aku jg ngerasa SAsuke kasian bgt disini (Ulah siapa!) hehe

Yuie : Hihihi benci ngak ya hohoho silakan dibaca, makasih udah menunggu ^^

Ciheelight : Smoga perangnya bisa menyamai ekspetasimu ya, klo pun enggak ya maaf deh hahaha. Saya lebih senang kalau ada yg merasa senang karena membaca crt saya huhu *peluk* makasih ya ^^

Win : Mohon maaf karena ngak bisa cepat, tapi ngaretnya ngak lama kan ya ^^

Nikechann : Hihi dikit lagi deh kata bersambungnya diganti :P dan ini udah perang kok ^^

Aitara Fuyuharu : Haha mending Cuma saling cakar, kadang smpe kebon binatang diangkutin semua haha.. silakan dinikmati chap ini ^^

Lhylia Kiryu : Hihihi klo timingnya tepat jadi kurang seru haha (Sotoy)

Kagaaika Uchiha : Hai juga ^^ gpp makasih akhirnya memilih ikut bergabung di kotak ripiu ^^ Hoho aku ngak ngaku2 kok, aku berbicara realita :p Nooooo, ini bukan Fic yuri bukannya klo tmnan emang gt yak haha

Hotarubi chan : Iya begitulah rencana sasu, Lah mereka kan emang udah pisah bukan, pisah tempat haha.. ihh kamu kmn aja baru nyadar hayooo.. iya aku salah nulis nama ya, makasih loh udah diingetin hehe ke depannya akan saya ganti deh hehe

Bluedark : adpetnya ngak bisa asap gpp ya hehehe dank lo bisa panggil kakak aja jgn senpai hihihi

SasusakuLovers : Iya, ada hurt comfortnya jg sih hehe.. makasih loh ^^

6934soraoi : Hmmmmm semua jawaban untuk pertanyaan itu ada di chap ini hehe. Wah terima kasih banyak ^^ hayoo kok lupa, haha Hinata lucu ya… makasih ya ^^

Gita Zahra : Dan itu kebiasaan yang bagus kan *kedipcantik* ngak lama kan chap ini ^^

Baekshyunsaranghaeni : Iya chap ini penjelasan hehe

Yuumi : Gimana tebakanmu pas ngak hehe ^^eh, gpp kok panjang, aku suka bacanya kok ^^ maaf aku malah bales ripiunya ngak panjang huhuhu

IstriSasuke : Hmmm silakan temukan jawabannya di chap ini, klo soal kekaisarannya bakal balik atau engga, aku nya blom bisa jawab :P nanti ketawan kok ^^

Uchiha Sarada : Sipppp ^^

Rifka IP : Jawabannya ada di chap ini, silakan dibaca, nah kamu sudah bisa tuh memperkirakannya tetang saku akan benci Hinata atau engga hehe.. makasih buat semangatnya, senang bacanya ^^

Makasih banyak buat semangat dan dukungannya *pelukatuatu* berbincang dengan kalian selalu menyenangkan ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Tubuh Sakura bergetar. Angin yang menerpa tubuhnya terasa bagaikan terpaan es yang dingin hingga mampu membekukan tubuhnya. Apakah ia sedang bermimpi? Tapi logikanya tidak bisa berbohong. Meski inginnya, bahwa apa yang Sakura dengar tadi hanyalah khayalan semata.

Mendengar ada langkah kaki yang mengikutinya. Sakura semakin mempercepat gerakan kedua kakinya. Menghindarkah? Memangnya apa yang ia hindari? Bukan. Sakura bukan menghindar, hanya ada perasaan takut. Entah, itu benar rasa takut atau bukan? Sakura sendiri tidak mengerti. Hanya saja, Sakura merasa tidak bisa melihat mata hitam itu lagi. Sakura belum bisa menatap pemilik mata hitam yang kini mengejarnya. Takutkah?

Lalu apa yang ia takutkan sebenarnya?

"SAKURA!"

Akhirnya Sakura menghentikan langkah kakinya. Ia tidak bisa terus berlari. Bukankah hal yang ia cari selama ini sudah ada di depan matanya? Mengenai siapa dirinya? Siapa kedua orangtuanya? Lalu untuk apa ia pergi menjauh?

Bukankah pada akhirnya ia memang harus menghadapi semua tentang masa lalunya? Entah itu baik untuknya atau tidak? Entah itu menyenangkan atau meyakitkan? Bukahkah ia harus siap?

Tapi ada sekelebat rasa takut yang Sakura sendiri tidak bisa pahami kenapa. Suara itu, suara Sasuke yang memanggil namanya semakin membuat tubuhnya mengigil ketakutan. Bagai sebuah benda tajam yang menyayat hatinya.

Mengapa? Dari berjuta-juta kemungkinan kejadian masa lalunya, ternyata melibatkan pria yang ia cintai? Kenapa masa lalunya dan Sasuke harus berkaitan? Hingga menimbulkan perasaan sakit seperti ini.

Sasuke pun juga ikut menghentikan langkah kakinya. Berdiri tak jauh di belakang Sakura. Memandang punggung yang bergerak naik turun. Mengatur napas, sama seperti yang ia lakukan sekarang.

Sakura menelan ludahnya. Membayangkan tatapan mata Sasuke yang terasa menusuk punggungnya. Mengawasi dengan tatapan tajamnya. Sakura semakin merasa kalut, dan tanpa sadar mencengkram kuat pakaiannya.

Rasa rindu yang Sakura miliki telah terkikis habis, terbawa ombak keterkejutan. Berganti dengan ribuan perasaan yang berkecamuk di dalam batinnya. Dan kini apa yang harus ia lakukan?

Sama seperti perempuan di depannya, Sasuke masih mengatur napasnya. Bukan karena ia lelah mengejar Sakura. Tapi masih memikirkan kata apa yang harus ia ucapkan? Apa yang harus ia katakan? Bagaimana ia harus memulainya?

Beberapa menit pun berlalu oleh kesunyian. Hanya punggung Sakura yang terlihat oleh mata Sasuke. Sedang Sakura hanya bisa mengeratkan kedua tangannya.

Menunggukah?

Tidak! Sakura tidak ingin menunggu lagi. Tidak ingin memberi waktu untuk rahasia ini. Untuk masa lalunya yang sudah berada tepat di depan matanya.

Sakura juga perlu mengetahuinya. Ia harus melenyapkan ribuan pertanyaan yang melandanya kini. Pertanyaan yang membuat hatinya terasa ingin meledak.

"Sakura—"

"Sejak kapan?" Sakura menahan sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. "Sejak kapan kau mengetahuinya?"

"Mengatakan rencana Itachi padamu."

"Dan kau tidak memberitahuku?"

"Hn."

"Kenapa?" Dan isakan kecil berhasil lolos dari mulut Sakura. Jadi selama itu, dan Sasuke memilih menyembunyikan darinya. Kenapa Sasuke harus merahasiakan ini darinya?

Tidak ada jawaban atau sekadar gumaman kecil dari mulut Sasuke. Menit dibiarkan berlalu oleh Sasuke dengan keheningan. Menambah deras air mata yang tidak bisa Sakura tahan lagi.

Membalikkan tubuhnya. Sakura berteriak, "Kenapa?"

Mata hijaunya melebar. Pria itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Sakura bahkan tidak menyadari kapan Sasuke melangkahkan kakinya. Dan kini pria itu menarik tubuh Sakura ke dalam dekapannya. Memeluknya penuh kehangatan. Mengaburkan embusan angin di antara mereka.

Bahkan tak membiarkan logika Sakura menyadarinya sehingga Sakura tidak sempat berkutik atas perlakuan Sasuke, karena kini pria itu memberi jawaban atas pertanyaan Sakura.

"Salah satunya karena aku tidak ingin melihatmu seperti ini." Dan Sasuke membenamkan wajahnya di lekukan leher Sakura. Semakin menarik tubuh itu ke dalam dekapannya.

"Alasan lainnya karena aku tidak ingin kehilanganmu."

Air mata itu kembali meleleh dan jatuh hingga membasahi pakaian Sasuke. Isakan tangis pun tidak lagi coba Sakura tahan. Ia hanya ingin menangis. Sakura ingin melakukannya meski tidak mengerti untuk apa air mata ini.

Sedih karena telah mengetahui semuanya? Sedih karena keluarga Sasuke penyebab di balik musnahnya Kekaisaran Haruno—secara tidak langsung menyeret Sasuke ke dalamnya? Atau karena pelukan hangat pemuda ini? Terlebih pada kata-kata Sasuke barusan?

Kata-kata yang menimbulkan perasaan bahagia hingga mampu mengimbangi rasa perih yang muncul di dalam benaknya. Dan membuat Sakura semakin tidak mengerti. Untuk apa air mata ini jatuh?

"Mungkin Naruto benar. Aku pengecut. Katakan saja aku terlalu egois. Tapi apa yang harus kukatakan padamu jika semua itu akan menyakitimu ...? Dan kemudian akan menyakitiku."

Ada luka yang sama besarnya, yang Sakura rasakan pada ucapan Sasuke. Kenyataan yang begitu terasa pada setiap katanya, bahwa hal ini juga menyakitkan untuk Sasuke. Hingga Sasuke memilih untuk menghindari itu, menyakiti Sakura yang akan berujung menyakiti dirinya sendiri.

Kata-kata perwujudan dari kelemahan sosok seorang Sasuke, yang kini ia tampakkan jelas pada Sakura. Tidak lagi ia sembunyikan. Tidak lagi tersamarkan. Kerapuhan itu sangat terasa, namun tidak dengan dekapan yang ia berikan untuk Sakura. Dekapan penuh kehangatan ini.

Pelukan yang terasa begitu nyaman. Membuat Sakura enggan terlepas. Sakura bagai menemukan sebuah kekuatan dari pelukan ini. Perasaan yang menguatkan. Mengatakan bahwa tidak ada yang perlu ia takutkan. Pelukan ini. Sakura merasa terlindungi sehingga mampu mengikis semua luka itu secara perlahan.

"Katakan." Dan Sakura merasa siap, "Aku ingin mendengar semuanya."

Hening sejenak sebelum helaan berat keluar dari mulut Sasuke. Belaian hangat yang menyapu leher Sakura. Sebuah kekuatan baru dari rasa kekhawatiran pria yang mendekapnya kini. Semakin menguatkan Sakura.

Sasuke tidak bisa lagi menolak, hanya bisa menurutinya. Menceritakan semua hal seperti yang diinginkan oleh perempuan yang berada dalam dekapannya. Tanpa mengurangi apapun, semua cerita yang ia dengar dari Itachi kini terlontar dari mulut Sasuke. Terucap dengan pelan dan tenang, meski dalam hatinya bergejolak panas.

Sakura mendengarnya dalam diam. Kenyataan itu memang menyakitkan tapi pelukan Sasuke mampu menenangkannya. Benar-benar bagai mantra penguatnya. Kini yang Sakura lakukan hanya memejamkan mata atau kadang mencengkram erat pakaian Sasuke pada beberapa bagian cerita yang tidak sanggup ia dengar, dan Sasuke pun menyadari itu.

Tubuh dalam dekapannya bergetar takut, dan kini membalas pelukan Sasuke erat. Seakan dari sana ia mendapatkan kekuatan untuk tidak lagi meneteskan air mata.

"Maaf," ucap Sasuke beberapa menit setelah ia menyelesaikan ceritanya. Sesaat setelah tubuh itu kembali tenang.

"Untuk?"

Tidak ada lagi isakan tangis. Sakura sudah bisa mengontrol emosinya.

"Semuanya. Aku tahu, maaf saja tidaklah cukup. Kata itu tidak bisa membawa kembali masa lalu. Membayar semua yang telah terjadi."

Sakura memutuskan untuk melepas pelukan Sasuke—meski dengan berat hati. Sasuke sendiri tidak berusaha untuk menahannya, ia membiarkan perempuan itu kini berdiri di hadapannya. Tidak ada ucapan yang terlontar, hanya berupa sepasang mata yang saling memandang dalam diam.

Sakura tahu bukan hanya dirinya yang terluka oleh kebenaran itu, tapi pria yang ada di hadapannya sekarang pun mengalami hal yang sama. Bahkan mungkin lebih darinya, karena Sakura dengan jelas menemukannya di dalam sepasang mata hitam itu.

Dan pancaran mata hitam itu membuat Sakura meragu. Sakura jadi tidak mengerti bagaimana dengan perasaannya sendiri? Ia belum bisa memberikan jawaban atas permintaan maaf Sasuke.

Marahkah ia? Jika ya, siapa yang pantas menerima kemarahannya? Sasuke-kah? Pria yang bahkan tidak mengerti apapun. Masa lalu yang terjadi juga bukanlah keinginannya.

Lalu apa yang ia kecewakan? Bukankah ia hanya tidak terima karena Sasuke merahasiakan ini darinya? Benarkah sebatas itu kemarahannya pada Sasuke? Tapi Sasuke sendiri telah memberitahukan padanya alasan mengapa ia melakukan itu. Lalu apa lagi?

Ah, Sakura ingat. Alasan yang membuat Sakura pergi meninggalkan Sasuke. Persetujuan Sasuke akan ide Itachi. Perang. Jika Sasuke sudah mengetahui kebenaran ini, lantas mengapa ia masih mengikuti keinginan Itachi? Apakah rasa dendam itu masih membakar jiwanya? Mengapa ia masih berdiri di sisi Itachi?

Katakan saja Sakura manusia munafik. Meski kenyataan ini menyakitinya tapi ia tidak memungkiri, bahwa ia tidak menginginkan perang ini terjadi meski telah mengetahui semuanya. Sakura tidak ingin sejarah pahit itu terulang kembali. Lalu, apakah Sasuke menginginkan hal yang sebaliknya? Apakah Sasuke menginginkan perang ini terjadi?

[Di tempat Naruto]

"Apa maksudnya itu?"

"Naruto, kebenaran apa yang Sasuke maksud?" sambung Hinata setelah sosok Sasuke pergi mengejar Sakura.

Namun pria di depannya memilih tak menjawab meski sudah dua kali pertanyaan terlontar dari bibir Hinata. Tak tahukah bahwa di dalam hatinya bergejolak hebat? Mendesak hingga terasa ingin meledak.

"KATAKAN!" teriak Hinata, dengan kedua mata yang kini terpejam. Lalu turunlah setetes air dari dua sudut matanya, yang semakin lama semakin deras. Reaksi dari perasaan yang tidak bisa ia tahan lagi. Meledak, sehingga menghasilkan butiran air mata.

Dan inilah harga yang Naruto harus terima. Air mata yang tidak berhenti mengalir di wajah Hinata. Setiap kata yang ia ucapkan akan mengores luka di hati Hinata, dan air mata yang menetes itu meremukkan perasaan Naruto.

Bagaimana Naruto bisa menanggungnya? Menatap wajah Hinata yang penuh dengan air mata seperti itu, sama seperti ia ditenggelamkan di lautan luas. Mencekiknya hingga membuatnya sulit bernapas.

Namun Naruto tidak bisa lagi menyembunyikan rahasia ini. Bukankah tadi ia sudah bertekad? Maka mulai detik ini, detik di mana ia membuka mulutnya dan menceritakan semua rahasia itu. Naruto bersumpah akan mengganti air mata Hinata. Meski ia harus memberikan dunia pada Hinata. Naruto pasti akan melakukannya.

Dan ketika Hinata menangkup kedua tangannya. Menutupi wajahnya ketika mendengar kata terakhir, bahwa dalang kejadian itu adalahnya ayahnya sendiri. Naruto langsung berjalan cepat, dan memeluk tubuh Hinata.

Naruto tidak tahu lagi harus berbuat apa? Harus melakukan apa agar air mata itu berhenti? Agar isakan pilu ini tidak lagi terlantun? Karena kata 'jangan menangis' atau 'tidak apa, semua akan baik-baik saja' hanya akan terdengar seperti sebuah lelucon.

Karena Naruto tahu, semua tidaklah lagi baik-baik saja untuk Hinata.

Satu tangannya kini membelai rambut Hinata, namun tiba-tiba tangan itu terhenti karena pertanyaan yang terlontar dari mulut Hinata.

"Naruto, aku harus bagaimana?"

Harus menjawab apa? Itu yang terlintas di benak Naruto. Ia sendiri tidak mengerti.

"Katakan aku harus bagaimana?" Suara itu terdengar lirih, begitu putus asa. Dan kini kedua tangan yang menutupi wajah Hinata telah berpindah mencengkram erat kain yang melekat di kedua lengan Naruto, "Tolong aku. Kumohon, Naruto."

Rahang Naruto mengeras. Tidak ada ucapan, Naruto sendiri tidak mengerti harus mengatakan apa, harus menjawab apa. Hanya dekapan yang semakin erat yang bisa Naruto berikan.

Beberapa letusan peluru terdengar diiringi oleh teriakan dan gemuruh serbuan orang yang berkumpul. Naruto langsung menarik tubuh Hinata—berdiri di belakang punggung Naruto dengan katana yang sudah terlepas dari sarungnya. Mengacung tinggi ke beberapa orang yang kini mengepungnya.

Kuso!

Apakah Itachi sudah menyerang? Bukankah rencana serangannya adalah esok hari?

Hinata menatap takut pada enam orang yang berada di depannya. Enam orang yang juga menenteng pedang di tangan kanan mereka. Kilatan besi tajam yang menghadap ke arah mereka.

Satu orang bergerak maju. Dentingan besi terdengar nyaring. Pedang saling beradu. Satu orang yang lain menyusul. Naruto segera menarik pedangnya. Secepat kilat pedang itu menebas dua orang langsung. Di kanan dan kirinya.

Degup jantung Hinata tak lagi damai. Wajahnya memucat, tak jarang ia juga berteriak histeris melihat tubuh lawan yang terkoyak oleh pedang Naruto. Kini Hinata melebarkan kedua matanya saat satu orang datang mendekat padanya. Kakinya mundur perlahan, dan barulah Hinata tersadar bahwa kini jarak antara dirinya dan Naruto melebar.

Naruto pun menyadarinya. Mata biru itu melirik sekilas dan kini menajam. Penuh amarah. Dua orang lagi yang mendekat padanya langsung mendapat sambutan dari pria kuning itu. Tusukan mendarat tepat di perut musuh. Namun tangan Naruto segera melepas genggam di katana guna menghindari tebasan pedang yang datang ke arahnya. Di sisi kanan lawan, Naruto kini berdiri. Menangkap cepat tangan yang memegang kendali pedang itu. Mengambil alih, kemudian mengarahkan sisi tajam pedang itu hingga menyayat nadi di leher lawan. Dan pria itu tewas seketika. Terjerembab.

Naruto langsung berlari sembari mencabut katana-nya yang masih menancap di tubuh lawan. Mengayunkannya sehingga pria yang mengejar Hinata kini menangkis serangan Naruto, yang akhirnya memilih mundur. Menjaga jarak serangan dengan pria kuning yang berdiri di depan Hinata. Mengancungkan pedangnya ke depan.

Belum sempat kedua katana itu bergerak kembali, muncul beberapa prajurit musuh menghadang Naruto.

CIh!

"Di sana. Putri Hyuuga berada di sana!"

Dan teriakan kencang itu semakin mengundang prajurit musuh mendekat. Menambah jumlah musuh yang harus Naruto lawan.

"Na- Naruto," gumam Hinata takut. Tubuhnya bergetar hebat.

Tiga orang kini berlari dan mengangkat katana mereka. Disusul oleh prajurit lainnya.

"Menjauh, Hinata!"

Naruto melangkah maju. Gerakan katana-nya semakin gesit. Tidak membiarkan mereka untuk mendekat pada Hinata. Namun lawan yang dihadapi tidaklah sedikit.

Dan kini beberapa orang berlari mendekati Hinata, sementara yang lainnya menyibukkan Jenderal Divisi 1.

Sial! Tidak ada celah bagi Naruto untuk menghabisi empat orang yang mengincar Hinata. Naruto sendiri terkepung dari semua arah, dengan serangan bertubi-tubi datang padanya. Kondisi ini tidak memungkinkan Naruto untuk bisa menyelamatkan Hinata tepat waktu.

"SAI!" Teriak Naruto pada akhirnya. Memanggil tangan kanannya.

Bagai mata pisau tak kasat mata. Empat oang yang mendekati Hinata langsung tumbang oleh pisau kecil yang menancap di tubuh mereka—bagian vital mereka. Sosok Sai pun kini tampak telah berdiri di depan Hinata.

"Kenapa kau baru muncul, berengsek! Kau ingin dia mati dulu, baru kau muncul?" tanya Naruto kesal di sela-sela pertarungannya.

"Kupikir kau ingin tampil seperti pahlawan di depannya." Sai menjawab santai. Tak lupa senyuman aneh pun muncul di wajahnya.

"Lain kali pelajari dulu situasinya!" Bentak Naruto yang kini menghampiri mereka, yang sebelumnya telah berhasil melumpuhkan semua lawannya.

Hanya sebuah senyuman yang terus Sai pertahankan. Pria itu menyadari maksud ucapan Naruto yang mendadak berubah kesal itu. Jika sudah menyangkut keselamatan Hinata, emosi Naruto tidak bisa diajak kompromi lagi. Dan diam adalah pilihan terbaik.

"Di mana Sasuke dan Sakura?" tanya Naruto setelah menatap Hinata sesaat. Memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja.

"Berada tak jauh dari sini."

"Kita jemput Sakura, lalu bawa mereka berdua pergi ke tempat persembunyian. Dengan selamat. Ingat itu, Sai!"

Sai mengangguk pelan. Rupanya kemarahan Naruto belum juga surut. Sai mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi membawa-bawa Hinata dalam leluconnya.

Suara langkah kaki yang datang membuat ketiga orang itu menatap ke asal suara bersamaan. Dengan satu anggukan kepala dari Naruto, Sai menggerakkan kakinya bersamaan dengannya.

Satu tangan Naruto kini menggenggam erat tangan Hinata. Menarik perempuan itu untuk berlari mengikutinya. Sedangkan Sai berlari paling akhir. Menjaga kedua orang itu dari belakang.

Hinata hanya diam mengikuti ke mana Naruto membawanya pergi. Tidak ada umpatan. Tidak ada omelan seperti yang biasa ia lakukan. Pasalnya kini jantung Hinata berdetak tak karuan. Terlalu kencang sehingga membuat kakinya terasa lemas. Jujur saja, ini adalah kali pertama ia berada di dalam peperangan. Ia tidak menyangka situasinya akan semengerikan ini.

Tapi, saat menatap punggung Naruto. Saat merasakan genggaman erat pada tangannya. Kelegaaan pun muncul. Kenyamanan dari sebuah perlindungan sehingga mampu melenyapkan sebagian rasa takut Hinata. Berganti dengan sebuah keyakinan dan menimbulkan keberanian.

Tanpa sadar Hinata tersenyum tipis, dan kemudian balas menggenggam erat telapak hangat Naruto. Sama kencangnya. Apapun yang terjadi, Hinata tidak akan mengabaikannya lagi. Tidak akan melepaskannya. Karena sampai kapanpun, memang hanya Naruto yang bisa Hinata percayai. Satu-satunya.

Apakah itu artinya Hinata juga bisa memercayakan hatinya pada Naruto?

Gerbang utama istana sudah berada di depan mata mereka. Ratusan orang yang berada di sana kini memandang ke arah yang sama. Memandang kedatangan ketua mereka dan juga Putri Hyugga.

"Naruto-sama!"

"Hinata-sama!" teriak mereka bersamaan. Beberapa orang datang menyambut kedatangan mereka dengan wajah panik.

"Kami baik-baik saja," ucap Naruto tenang, yang sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

"Bagaimana situasinya sekarang, Konohamaru?" tanya Naruto yang kini berjalan masuk melewati kerumunan prajurit yang tengah bersiap. Tangannya masih setia menuntun Hinata untuk ikut bersamanya. Meredam ketakutan yang Hinata rasakan sekarang, karena tangan itu masih bergetar takut.

"Divisi 3 dan Divisi 4 saat ini sedang terdesak. Menurut informasi, musuh tidak muncul dari titik-titik yang sudah diperkiraan. Ditambah dengan perhitungan serangan yang seharusnya terjadi esok hari dan ternyata meleset, menambah parah jumlah pasukan kita yang gugur. Hal ini dikarenakan sebagian divisi memang belum mempersiapkan semuanya dengan matang," jawab Konohamaru yang kini berjalan di samping Naruto.

Mereka pun masuk ke dalam markas Divisi 1. Divisi yang mendapat tugas menjaga pintu gerbang utama istana. Beberapa orang yang berada di dalam langsung menunduk hormat. Naruto terus saja melangkahkan kakinya, membawa Hinata menuju kursi kosong yang berada tepat di ujung markas.

"Lalu, apa sudah mendapat kabar dari para divisi yang lain?"

"Divisi 2 yang mendapat tugas untuk menyerang markas musuh sebenarnya sudah berada di area itu. Sayangnya saat mereka melancarkan serangan, markas itu kosong. Dan saat ini mereka mengubah rute mereka ke istana."

"Lainnya?" tanya Naruto setelah mendudukkan Hinata di kursi dengan Sai berdiri tepat di belakang Hinata.

"Jika sesuai dengan rencana sebelumnya, Divisi 7 dan 8 baru akan tiba 5 jam lagi. Sedangkan Divisi 9 sudah berada di lokasi barat titik serang musuh. Divisi 10 juga sedang berusaha menahan serangan dari titik belakang area istana."

"Musuh seakan sudah mengetahui semua rencana kita," tambah Konohamaru.

"Apa kabar ini sudah sampai ke Divisi 5?"

Divisi 5 yang diketuai oleh Maito Guy adalah divisi yang bertugas di dalam istana. Sekaligus Divisi yang akan menyampaikan langsung berita ini pada Minato, yang akan diteruskan ke Kaisar. Divisi yang juga bertugas mengamankan anggota keluarga istana.

"Belum," jawab Konohamaru cepat, "Saat terjadi penyerangan, Jenderal Divisi 5 lantas pergi untuk mempersiapkan pasukannya. Dia meminta salah satu Jenderal yang bertugas menjaga gerbang istana untuk mengantarkan Tuan Putri Hyuuga ke ruangan Kaisar."

Naruto mengangguk pelan diikuti pergerakan bola matanya yang kini menatap Hinata—yang juga sedang menatap ke arahnya. Jika bunyi pesan dari Jenderal Divisi 5 seperti itu, tandanya antara Naruto dan Jiraiya harus ada yang mengantarkan Hinata.

"Seberapa dekat mereka dengan istana?" tanya Naruto yang akhirnya kembali menatap Konohamaru.

Belum sempat Konohamaru memberikan jawabannya. Salah seorang prajurit istana datang dan memberi hormat pada Naruto dengan tergesa-gesa, "Musuh sudah terlihat, diperkirakan jumlah mereka mencapai ribuan. Dan menurut pengamatan Jenderal Divisi 6, jumlah mereka lebih banyak dibandingkan jumlah pasukan kita."

"Sudah berada di depan mata, Naruto-sama." Dan barulah Konohamaru memberikan jawabannya pada Naruto yang masih bergeming. Kedua tangannya terkepal, dan kini pandangan mata biru itu telah berubah.

"Persiapkan diri kalian. Jangan biarkan musuh berhasil memasuki istana!" Perintah Naruto yang kini sudah berdiri di depan markas Divisi 1. Meneriakkan dengan lantang pada seluruh pasukannya.

Setelah menjawab perintah Naruto dengan suara lantang mereka, para pasukan langsung bergegas menuju posisi masing-masing. Bersiaga, dan bersiap menghadang musuh. Hal yang sama juga terjadi pada Divisi 6. Kedua Divisi itu kini bersatu membentuk barisan pertahanan.

Jiraiya selaku jenderal yang juga memiliki tugas yang sama dengan Naruto tampak menghampiri pria kuning itu. Tidak ada candaan pada sapaannya kali ini, sebagaimana yang biasa ia lakukan. Matanya menatap penuh keseriusan sehingga terlihat jelas raut ketegangan di sana.

"Setidaknya kita harus bertahan hingga bantuan dari divisi lain datang," ucapnya sembari menepuk pundak Naruto kencang.

"Seharusnya kau mengatakan bahwa kita harus mengalahkan mereka sebelum bantuan datang."

Jiraiya terkekeh pelan, "Aku tahu kau akan mengatakan bagian itu." Dan kemudian menarik tangannya dari bahu Naruto, "Kau siap?"

Naruto pun menjawab dengan anggukan.

[ Di tempat Sasuke]

Belum sempat Sakura membuka mulut untuk mengeluarkan tanya tentang alasan Sasuke, tubuhnya lantas terhuyung—terbawa oleh tarikan tangan Sasuke, yang menarik tubuhnya menghindari lontaran peluru yang datang ke arah mereka.

Tubuh Sakura kembali masuk ke dalam dekapan Sasuke, yang kini bersembunyi di balik batang pohon. Punggungnya menyandar pada batang kayu dengan Sasuke berada di depannya. Satu tangan pria itu sudah bersiaga di handle katana-nya.

Samar Sakura mendengar Sasuke mengumpat kesal. Suara yang terpendam karena desingan peluru, yang kemudian disertai riuh suara kaki yang berlarian. Dan juga suara dentingan logam yang saling beradu. Apakah perang sudah dimulai?

Sasuke sedikit mengintip dari balik tempat persembunyiannya. Belasan bahkan mungkin puluhan orang saling beradu. Menjatuhkan. Menebas dan menembak. Melumpuhkan lawan. Beberapa pasukan berkuda bahkan sudah berhasil mendekati posisi istana. Menembus pertahanan prajurit istana yang tampak tidak siap akan serangan dadakan ini.

Bukankah serangan perang seharusnya diluncurkan esok hari? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Sasuke sama sekali tidak mengetahui perihal penyerangan yang tampaknya dimajukan oleh Itachi, kakaknya?

Mungkinkah Itachi melakukan ini karena mencium adanya kebocoran informasi miliknya?

Sial!

Pria itu sungguh tidak bisa diremehkan. Rencana yang telah Sasuke susun tanpa cela kini hancur berantakan. Bendera perang telah berkibar dan kematian tidak lagi bisa dihindari. Jika begini, kelompok Itachi memiliki kemungkinan untuk memenangkan peperangan ini.

Sasuke harus segera menghentikan Itachi. Satu-satunya penggerak utama dalam perang ini, yang mana itu artinya ada kemungkinan Sasuke harus berhadapan dengannya. Tapi sebelum itu, Sasuke harus membawa Sakura ke tempat yang aman. Sayangnya Sasuke tidak tahu letak di mana tempat persembunyian yang telah Naruto persiapkan. Terlebih kini mereka terpisah dan Sasuke tidak tahu di mana manusia kuning itu berada.

"Sakura, kita harus—"

"Apa ini yang kauinginkan?"

Kepala Sasuke lantas menunduk. Menatap asal suara yang yang telah memotong ucapannya. Helaian merah muda yang juga tertunduk menghindarinya.

"Peperangan ini. Inikah yang kau mau, Sasuke?" Sakura pun semakin menaikkan nada bicaranya.

"Sakura, dengarkan aku—"

Kepala Sakura menggeleng cepat. Mendengar teriakan kesakitan di belakangnya semakin membuatnya tidak kuasa menahan segala emosinya. Bayangan pembantaian desanya kembali muncul. Jeritan, teriakan, tangisan, darah yang berceceran, api yang berkobar, hingga tubuh-tubuh tidak bernyawa yang tewas mengenaskan tersebar di sekitarnya. Haruskah? Haruskah sebuah nyawa pergi dengan begitu mudahnya? Hanya karena keegoisan?

Dan tanpa sadar Sakura mencengkram erat lengan Sasuke. Rasa sesak di dadanya tidak bisa lagi ia tahan.

"Inikah yang membuatmu senang? Membuatmu bahagia?" Dan suara yang terlontar pun telah mencapai oktaf tertinggi, dengan kepala yang tidak lagi tertunduk. Mata hijau itu kini menatap marah Sasuke.

"Ini bukan saatnya untuk membahas hal itu, Sakura!"

Sepasang mata hitam itu pun tidak lagi memancarkan ketenangan. Sama seperti nada bicara yang barusan terlontar dari mulutnya. Sasuke tidak punya banyak waktu. Ia harus sesegera mungkin menemukan Itachi, sebelum laki-laki itu berhasil menumpaskan misi balas dendamnya.

"Kita harus segera menemui Naruto karena dia akan membawamu ke tempat yang aman. Yang kuinginkan hanya keselamatanmu, jadi jangan menjauh dariku. Jika hal buruk terjadi padamu, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri."

Sasuke pun melepaskan cengkraman tangan Sakura, "Kali ini dengarkan dan turuti apa kata-kataku," ucapnya penuh keseriusan.

Genggaman erat jemari Sasuke berhasil membuyarkan semua kata yang hampir terlontar dari mulut Sakura. Mata hijau itu bergulir menatap tangannya sesaat sebelum akhirnya menatap kembali mata hitam itu.

"Tetaplah bersamaku, Sakura."

Bukan pertama kalinya Sakura mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sasuke. Kata-kata sederhana yang kini terasa memiliki banyak makna bagi Sakura. Bukan sekadar meminta untuk bersama, tapi kali ini kata itu terdengar seakan Sasuke meminta Sakura untuk berada di sisinya. Berdiri di sisinya. Mendukungnya.

Dan tatapan mata hitam itu seolah juga menegaskan pada Sakura untuk memercayainya. Seperti sebuah pesan tersirat, tidak terbaca, namun Sakura dapat memahaminya dengan jelas.

Hingga tangan Sasuke menarik Sakura untuk berlari mengikutinya, tidak ada satupun kata yang terlontar. Sakura hanya diam, bagai terhipnotis oleh ucapan dan tatapan Sasuke. Sebenarnya semua pertanyaan itu belum lenyap. Desakan untuk meminta jawaban itu pun belum musnah. Sakura menyadari hal itu, tapi ada satu sudut di dalam hatinya yang meminta Sakura untuk memercayai Sasuke.

Dan kali ini Sakura memilih menuruti kata hatinya itu.

Kalau Sasuke tidak salah ingat, Divisi 1 mendapat tugas menjaga gerbang utama istana. Jadi, Naruto pasti berada tak jauh dari tempat ia berpijak sekarang. Namun jarak yang seharusnya tidak begitu jauh untuk ditempuh menjadi terasa sangat sulit untuk digapai, karena lawan yang harus dihadapi oleh Sasuke adalah dari kedua belah pihak. Baik prajurit istana maupun bawahan Itachi. Kedua kubu yang ia temui sama-sama menyerangnya.

Ditambah dengan keberadaan Sakura bersamanya semakin menambah sempit ruang gerak Sasuke. Memperlambat setiap gerak-geriknya. Baik serangan ataupun pertahanan.

Sasuke pun akhirnya berhasil melumpuhkan seorang prajurit yang menunggangi kuda. Segera menarik tubuh Sakura dan mendudukkannya di depan Sasuke. Tanpa perlu menunggu, ia segera menarik tali kekang kuda tersebut, membawa kuda itu berlari menerobos musuh. Menggiringnya mengarungi lautan manusia yang saling beradu. Satu tangannya tetap bergerak untuk menebas siapa saja yang menghalanginya.

Tak sedikit pula dari musuh yang berusaha mengejar dengan kuda, berlari menyamai laju kuda mereka. Membuat Sasuke cukup kewalahan. Segera ia memerintahkan Sakura untuk memegang tali kekang kuda sehingga Sasuke kini lebih leluasa mengayunkan pedangnya pada musuh yang mengapit mereka.

Salah satu musuh berhasil melukai Sasuke. Lengannya terkena irisan yang tajam sehingga merobek kulit dan dagingnya, darah segar merembes ke pakaiannya. Mengalir dan menetes lewat ujung jari-jarinya. Sakura memekik panik, tapi Sasuke mengatakan dirinya baik-baik saja. Luka itu tidak sedikitpun membuatnya lemah atau mengurangi serangannya. Justru serangan tebasan pedangnya semakin mengerikan ketika seorang musuh mencoba menyabetkan pedang ke leher Sakura.

Dengan gesit Sasuke menahan serangan itu, menangkis dengan pedangnya. Dan tanpa pertahanan berhasil memenggal lengan musuhnya hingga putus dengan sekali tebas. Darah muncrat, sedikit mengenai wajah Sakura, sementara mata gadis itu tak berkedip sedikitpun menyaksikan kengerian yang baru saja terjadi. Sungguh mengerikan, membuat tubuhnya menggigil. Tapi jika Sasuke tidak melakukannya, lehernyalah yang jadi sasaran.

Tidak tanggung-tanggung, kini Sasuke tidak lagi memandang ke mana arah serangannya. Jika memang bagian tajam katana-nya harus melepas kepala dari tubuhnya, maka Sasuke tidak ragu melakukannya asalkan langkahnya tidak terhenti.

Satu tangannya kini ikut memegang tali kekang, memberi perintah untuk memperlambat kecepatan kuda hitam itu. Pasalnya pemandangan di depan istana benar-benar telah merebut seluruh atensinya. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang berlarian menyerbu gerbang istana.

Di gerbang depan istana sendiri telah berdiri ratusan orang di belakang tameng buatan mereka. Puluhan orang juga telah berdiri di atas atap gerbang, mengacungkan busur panah mereka. Setelah terdengar teriakan kencang, anak-anak panah terlepas dan melesat. Menusuk dan berhasil menancap sehingga beberapa prajurit musuh yang berlarian menuju gerbang istana pun terjatuh.

Di balik tameng itu juga, para prajurit istana yang juga memegang senjata yumi telah bersiap. Benteng buatan mereka kini telah terbakar oleh api. Kobaran yang lumayan besar sehingga membuat para prajurit Itachi menghentikan langkah mereka. Hal itu menjadi keuntungan untuk pasukan Naruto. Setelah teriakan kembali terdengar, pasukan pemegang senjata yumi kembali melepas anak panah mereka, yang kali ini busur itu juga membawa api ikut serta.

Dan kemudian diikuti kembali oleh pasukan yang berdiri di atas atap gerbang. Bergantian memberikan serangan.

Namun kedudukan kembali bisa diambil oleh Itachi. Mendengar adanya teriakan keras, secara serempak barisan prajurit itu membelah menjadi dua bagian. Mempersilakan bagi senjata andalan mereka untuk memberi perlawanan. Berdiri di belakang gulting gun, Hashirama Senju yang memutuskan untuk turut serta pada peperangan ini. Dialah yang mengoperasikan senjata tersebut—tidak seperti rencana awal mereka.

Seketika ratusan peluru meluncur dan menumbangkan para prajurit istana. Sebagian prajurit Itachi pun terlihat berusaha memadamkan api, saat para prajurit istana terfokus untuk memberikan perlawanan dan melumpuhkan gulting gun.

Akhirnya mata hitam Sasuke berhenti pada satu titik. Dia berhasil menemukan sosok Itachi yang berdiri tak jauh dari tempat Hashirama. Terlihat bersiap untuk masuk ke dalam istana. Seketika Sasuke langsung menarik tali kekang kudanya, mempercepat laju kuda hitam itu untuk menuju ke lokasi Itachi, yang mana artinya Sasuke malah menjauh dari pintu gerbang istana.

Sasuke bukan melupakan tujuan awalnya untuk membawa Sakura ke tempat Naruto. Tapi melihat kedudukan dari penyerangan ini, terlihat jelas kubu Itachi hampir bisa melumpuhkan gerbang istana. Itu tandanya tidak ada lagi waktu. Karena jika Itachi sudah berhasil masuk istana dan menemukan Hiashi Hyuuga, maka tujuannya untuk menghentikan peperangan ini akan semakin sulit.

Lagi pula di awal perbincangannya dengan Naruto adalah menjadi tugas Sasuke untuk menghentikan Itachi. Sedangkan Naruto bertugas untuk mengawasi Kaisar Hyugga. Dan jika hal buruk terjadi, maka Naruto juga bertugas menghentikan Kaisar Hyuuga.

Hanya itu yang menjadi patokan Sasuke sekarang. Ia sepenuhnya hanya bisa memercayai Naruto yang juga akan melakukan tugasnya.

Sasuke mulai mendekati wilayah Itachi. Serbuan prajurit pun menjadi sarapan yang Sasuke dapat. Serangan berhasil dihalau oleh Sasuke, namun jumlah pasukan yang tidak sedikit berhasil melumpuhkan kuda hitam itu. Sebelum kuda itu benar-benar terjatuh, Sasuke sudah melemparkan diri dengan Sakura berada dalam dekapannya. Tubuh mereka berguling beberapa kali. Dan saat tubuh mereka terhenti, acungan ujung katana berada di dekat mereka. Mengelilingi mereka.

Tak lama muncul Itachi yang membelah kerumunan pasukan itu. Dialah yang meminta para pasukan untuk menghentikan serangan mereka. Sosok itu kini berdiri tepat di depan mereka. Dua pasang mata hitam itu saling menatap tajam.

Dengan bantuan katana-nya, Sasuke pun bangkit, dan satu tangannya yang menggenggam erat tangan Sakura juga menuntun perempuan merah muda itu berdiri di sampingnya.

"Sudah kuduga," ucap Itachi tenang, di mana kini mata hitam itu menatap langsung mata Sakura.

Tidak ada satu detik, Sakura langsung menunduk. Menghindari tatapan mata yang terasa menusuknya. Begitu mengerikan. Begitu membuatnya merasa ketakutan.

Dan jemari Sasuke mengepal semakin erat kala ia sadar bahwa tangan Sakura bergetar. Mendapati Itachi menatapnya dengan tatapan membunuh yang kuat. Pria itu tidak lagi main-main.

Itachi benar-benar ingin membunuh Haruno Sakura.

Bersambung.

Curcul :

Haiiii ^^

Akhirnya peraaangg yeeaaayyyy! Gregetan aku dari kmrn pgn bgt perang haha tapi yah, aku sedikit mengalami kesulitan buat menggambarkan settingnya huhuhu...

Dan itu juga pertanda kalau crt ini sudah masuk babak akhir T_T karena selesai perang maka berakhirlah juga cerita SH ini huhuhu sedih deh jadinya...

Maaf ngak bisa ngomong banyak... biasa, aku mau malmingnya sama Taka huehehehehe... so, sampai ketemu chap selanjutnya ya ^^

29-08-15

.

[U W] —Istri sah Taka, One Ok Rock :*—