Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
Ucul Note :
Guest : Maaf ngak cepet nih apdetnya huhuhu
Yoktf : Kayanya sama aja deh ;P Hooh lah, masa ngak udahan2 pegel donk hahahaha
Quenshaa : Sini-sini aku satuin lagi kepingan hatimu eeeeaaaaa, duh, pendek juga diatas 4000 words loh :p eh, eh akunya juga keren loh haha Fiuh, untung deh mudah dimengerti deskrip perangnya, takut pada bingung bacanya XD Ammmiiiinnnnnnn ^^ makasih ya
Kiki Kim : Wkwkwk coba dicek dulu, jgn2 itu laki nyangkut dmn tau haha..
Pinktomato : Ini apdetnya hari jumat lagi loh, jadi ngak telat kan? *kabooorrr*
SrH : Yeaaaa, untung deh bisa dibayangin hohoho, aihhh bisaan ah dirimu mah, nih *nyodorinSaga*
Ayuniejung : Siapa? Siapa yang gila? Bukan aku kan XD Sayangnya saat casting udah dipilih deathcharanya, jd udh ngak bisa ganti cerita hihihi..
Septemberstep : Emang ada rencana bikin crt baru, tp gtw yg mana dulu yang bakal direalisasiin hohoho, sebenernya saya punya kok crt yang mirip2 deskrip kamu barusan (Gtw tapi misterinya dapet apa engga?) tergantung mood aja sih nanti haha
Herocyn Akko : Haii akko. Duh, temennya akko jgn mau dipinjemin hapenya :p Emang konfliknya bikin kamu mumets ya? Hmmm jgn ada pujian kamu adalah modus terselubung nih, hayo ngakuuuu :P tenang ngak bakal bosen baca ripiu akko, Cuma nyiapin raket nyamuk buat pukul akko klo berani cium Taka hahhaa
Guest : Hihi, gpp baper asal jgn laper (Apaan!) Iya, udah mau tamat, huhu sedih jadinya T0T
Virinda : Wkwk, malah ngak bisa malmingan si Hana sm Itachi, soalnya si Itachi kudu syuting next chap SH Hahahaha *MaapHan*
Princess948 : Udah aku masukin penjelasan Yumi di chap ini, maap yak bikin kamu bingung huhuhu.. I LOVE ACTION hahha
Hikaru Sora 14 : Seneng dengernya deh klo bisa dibayangin scene perangnya ^^ Ya, smoga aja Itachi mendengarkan permintaan Hika *SenggolItachiygkataHikaBaikHati*
PinkRamens : Masa T-T tapi klo diitung dari chap awal banyakan SS kok, yakin deh hehehe, iya gpp kok ^^ makasih selalu setia meski NH sering muncul, makasih banyak dukunganmu *terharu*
Hanazono Yuri : Siiiippppp ^^
DarkCrowds : Ngak ada sekuel2an haha, makasih udh nunggu trs ya ^^
Guest : Maap apdetnya ngak cepet huhuhu sama2 loh, makasih juga untuk ripiu ini dear :*
Wowwoh Geegee : Akhirnya SS ketemu lagi hohohoho, smoga chap ini jg menegangkan haha
Rina442 : Syukur deh klo bisa terbayangkan hehe, Soalnya aku mau malmingan sama Taka makanya di TBC-in haha, sama2 ya ^^
Ferrish0407 : Semangat! Makasih dorongan semangatnya ^^
Suket Alang-alang : Karena Sasuke lebih pilih Sakura jad Itachi sebel haha, Rencanain ngak yaa *PLAK* sip udah lanjut ^^
Win : Makasih jg untuk ripiunya ^^
Misa Safitri3 : Maap blom bisa bocorin bakal Sad apa Happyending… pokoknya dibaca trs aja ya, makasih udah nyempetin ripiu ^^
Arisahagiwara chan : Hmm blom tau ada epilog apa engga, tp saranmu aku tampung ^^
Guest : Siiiippp ^^
Nomi Uchiha : Seneng kalo kamu suka ^^ Hihihi kamu nyolong kuda Sasuke yak, makanya Sasusaku jadi jatoh haha *ngawur*
KuroNeko10 : Hahahaha, makasih klo kamu suka adegan perangnya, tapi kali ini jgn gigit Itachi lagi yak hahha
Vannychan : Pagiii ^^ Wah, makasih banyak sarannya ya *pelukVanny* Makasih udah nunggu loh :D
BaekhyunSaranghaeHeni : Blom bisa bilang haha, pokoknya ada deathchara deh hahaha
Ciheelight : Wah, makasih banyak hehe sama2 loh, makasih jg buat ripiu kamu :D
Yuumi : Yg paling sedih, dia dihajar sm kakaknya sendiri T-T Iya, selesai perang crt ini juga selesai, tar klo dipanjang2in malah jd kaya sinet Indo haha
Hotarubi-chan : Kan dr chap sebelumnya Itachi udah curiga sm Sasu, makanya dia nanya sm sasuke, "Apa tujuanmu," gt ^^ Yah, aku apdetnya ngaret nih huhuhu, maap yak
Ikalutfi97 : Nasib mereka ada ditangan saya (Apaan dah) makasih semangatnya ^^
Neko : Blom tau brp chapter-nya yang pasti dikit lagi hahaha, Makasih ^^
Sarada chan : Makasih, senang tau ada yg nunggu crt ini huhuhu, kayanya chap ini lebih panjang sih dry g kmrn hahahah
Gita Zahra : Hehe :P eh, jempol siapa itu yg kamua acungin hayooo ^^
Dianandraha : Makasih, ini udah dilanjut ^^
Rifka IP : Iya, ada deathchara ^^ dan Hooh, ini bagian awal menuju akhir crt huhu sedih jadinya T-T
Esyha Cherryblossoms : Duh, Itachi kamu jadi disebelin, tapi klo ngak ada Itachi, Sakura ngak ada yg nolongin waktu masih bayi haha
Annisa Alzedy : Pokoknya ada deathchara lah, maap ngak bisa kasih tau :p Gpp, kamu masi mampir dan ninggalin jejak aja aku seneng kok ^^
Nikechaan : Huhu Itachi kamu dibilang kejam tuh…
IstriSasuke : Sakura aslinya masih belum terima Sasuke yg milih di Sisi Itachi dan dukung perang secara Sakura ngak tau diem2 Sasuke kan membuat rencana sm NAruto, tapi klo untuk masa lalu mereka Sakura udh maafin Sasuke kok.
Ika : Hehe, setegas apapun Hinata dia ttp cewe, sm kaya Sakura, jadi klo ada rada2 cenggeng yak harap dimaklumi hehe
Angels0410 : ^^
East Robo : Saya sendiri juga pengen jadi Sakura haha Hey, aku yg peluk Taka *pukul pake raket nyamuk*
Fansanime : Makasih, iya dikit lagi tamat ^^
Hyemi761 : Terima kasih banyak udah suka ^^ Wah, lagi perang masa bikin skinship tar keburu ketebas haha, ya makasih udah di fav juga ^^
Kireina : Ini kelanjutannya, maap apdet telat hehe
Makasih banyak, cm itu yang bisa kami bilang sm kalian yg terus dukung Fic ini meskipun bosan, meskipun adegan SSnya dikit hehehe *pelukatuatu* sedih juga ya, perpisahan sudah mendekat T-T
*Semi collab with Hanaruppi*
.
.
"Jadi inikah yang kaulakukan untuk Tou-san-mu? Dengan memilih berada di pihak orang yang telah menghabisinya? Pria yang telah membunuhnya?" tanya Itachi yang kini mengeluarkan katana-nya. Mengacungkan pedang itu pada Sasuke, yang kemudian diikuti oleh kerumunan prajurit yang mengelilingi Sasuke dan Sakura.
Hal itu pun dilakukan pula oleh Sasuke, satu tangannya telah bersiap memegang erat katana-nya, sedang tangan satu lagi masih setia menggenggam erat tangan Sakura. Dilihat dari segi manapun kedudukan Sasuke saat ini sangat tidak menguntungkan.
"Apa aku pernah mengatakan untuk berada di pihaknya?" tanya Sasuke mencoba untuk tetap terlihat tenang.
Itachi memasang seringai remeh di wajahnya, diikuti dengusan kecil sebelum akhirnya ia melesat maju, mengangkat katana-nya, menebas cepat, yang untungnya berhasil ditangkis oleh Sasuke. Besi tajam itu tertahan tepat di atas kepala Sasuke.
Itachi masih terus memberi tekanan pada serangannya, di mana kedua mata mereka kini saling memandang dalam jarak yang dekat.
"Kau tidak mengatakannya lewat mulutmu. Kau mengatakannya dari perbuatanmu, berengsek!"
Tidak ada lagi ketenangan seperti yang biasa Itachi perlihatkan. Pria itu tidak lagi mengendalikan kekesalannya. Ia luapkan semua bersama dengan serangannya barusan. Serangan yang memiliki niat untuk menghabisi bahkan pada adiknya sendiri.
Genggaman erat jemari Sasuke pun terlepas. Tangan itu kini berpindah menahan serangan kuat Itachi. Namun Sakura tetap berusaha untuk berdiri tak jauh dari Sasuke. Untungnya saat ini para pasukan Itachi masih terdiam walau pedang itu tetap mengacung tinggi. Mereka masih menuruti perintah Itachi untuk tidak menyerang.
Meski begitu, serangan untuk menembus gerbang istana masih terus berlanjut. Hashirama masih terus menembakkan pelurunya untuk menumbangkan para prajurit istana. Karena itu juga, pasukan yang awalnya mengelilingi Sasuke dan Sakura pun mulai berkurang, berlarian menyerbu untuk menerobos masuk wilayah musuh. Menyisakan belasan pasukan yang masih setia mengelilingi adik-kakak itu, dan menyaksikan pertarungan itu.
Sasuke pun tidak tinggal diam. Kaki yang semula berfungsi untuk bertahan kini bergerak menyerang. Membuat Itachi melangkah mundur, menghindari tendangan Sasuke yang kemudian disusul sabetan katana sehingga membuat Itachi melompat jauh ke belakang.
Beberapa helai rambutnya yang terkena ujung pedang Sasuke pun terbawa oleh angin. Ternyata serangan Sasuke pun memiliki niat yang sama. Keinginan untuk melenyapkan. Dan hal itu membuat Itachi merasa semakin kesal.
"Aku sadar kau membocorkan strategi penyerangan ini, karena itulah aku mengubahnya tanpa sepengetahuanmu. Aku mencoba untuk memercayaimu. Percaya bahwa kau berdiri di pihakku, setelah apa yang dialami oleh keluarga hingga kita mampu membuatmu merasakan hal yang sama denganku. Memiliki kebencian yang sama denganku. Dan karena kau juga adalah adikku."
Suara bising yang dihasilkan oleh gulting gun sama sekali tidak berpengaruh untuk mereka. Sasuke sangat jelas bisa mendengar semua ucapan Itachi, berikut dengan nada amarah yang semakin membara. Meski jarak mereka sedikit menjauh akibat serangan Sasuke tadi.
"Tapi nyatanya kau terus membocorkan strategi yang telah kita buat!" Pertama kalinya Itachi membentak dengan suara lantang. Meluapkan kemarahannya hingga titik tertinggi. Meski begitu, Sasuke tetap memilih diam hingga akhirnya Itachi memutuskan mengalihkan pandangan mata hitamnya.
"Apakah ini karena perempuan itu?" tanya Itachi diikuti oleh katana yang menunjuk pada sosok Sakura.
"Tidak," jawab Sasuke yang kini melangkahkan kakinya. Bergerak menuju ke tempat di mana pedang Itachi mengarah, yang artinya Sasuke kini berdiri di depan Sakura.
"Aku melakukan ini untuk diriku sendiri."
[ Di tempat Naruto ]
Naruto dan Jiraiya segera bergegas berdiri di depan kerumunan pasukan mereka yang berdiri persis di depan gerbang istana. Tak jauh di depan mereka kini berdiri beberapa baris pasukan yang dipersenjatai busur panah panjang atau disebut juga yumi. Jenis senjata yang berfungsi baik pada serangan jarak jauh. Senjata yang juga dipilih untuk mengimbangi serangan gulting gun.
Begitupun di atas kepala mereka, telah berdiri puluhan prajurit yang dipersenjatai senjata yang sama. Bersembunyi di balik tembok atap istana. Bersiap untuk memberikan serangan dari atas.
Kedua jenderal itu pun telah melepas senjata mereka dari sarungnya. Bersiap untuk menghadang musuh yang mencoba menerobos masuk ke dalam istana. Kedua pasang mata jenderal itu menatap tajam ke depan. Serbuan pasukan musuh yang berlari mendekati pintu gerbang istana.
Setelah memperhitungkan jarak serangan, Naruto berteriak lantang sehingga para pasukannya yang berada di atas segera melepas anak panah mereka. Berhasil menumbangkan beberapa puluhan musuh. Dan teriakan itu juga berarti perintah untuk membakar tameng buatan mereka. Mengobarkan api yang cukup dahsyat dan juga mampu menghentikan langkah pasukan musuh.
Teriakan kedua milik Jiraiya juga merupakan pertanda bagi pasukannya yang berjejer di belakang tameng untuk melepaskan anak panah mereka, yang kemudian disusul kembali oleh serangan dari pasukan Naruto.
Strategi itu cukup efektif. Jumlah pasukan musuh yang tumbang akibat serangan mereka pun tidaklah sedikit, namun jumlah itu tidak juga mendekati jumlah pasukan kedua jenderal itu. Mereka masih kalah dalam jumlah pasukan.
Sayangnya, kesenangan itu tidak bertahan cukup lama. Kubu Itachi pun segera mengeluarkan senjata andalan mereka. Dalam sekali tarikan, ratusan peluru telah melesat cepat dan berhasil menumbangkan pertahanan pasukan depan Naruto. Bahkan kini para pasukan Itachi mulai berusaha memadamkan api yang berkobar dari tameng buatan mereka.
Posisi pasukan yang tumbang pun segera diisi, berusaha menutup celah yang dapat membahayakan mereka, yang kemudian segera melesatkan anak panah mereka. Serangan itu diikuti oleh beberapa pasukan yang memegang senjata api. Senjata yang memiliki kekuatan serangan yang jauh sekali dari milik Hashirama Senju.
Senjata api pasukan istana hanya mampu menembakkan peluru sebanyak enam buah. Dan dalam sekali tarikan pelatuk, hanya mampu menembakkan satu buah peluru saja. Benar-benar tidak ada tandingannya dengan senjata milik Hashirama.
"Kita harus segera menghancurkan senjata itu," teriak Jiraiya sehingga membuat Naruto kini menoleh padanya.
Pria kuning itu mengangguk mengerti dan segera memerintahkan anak buahnya untuk maju. Tidak lagi bertahan di balik tameng yang pada beberapa bagian telah berhasil dihancurkan. Para pasukan Itachi yang mulai berdatangan kini dihalau cepat sesuai dengan perintah ketua mereka. Kedua kubu itu mulai bertemu. Saling beradu. Menyerang dan menjatuhkan lawan demi tujuan mereka masing-masing.
Di sela-sela keributan yang terjadi. Sepasang mata biru itu berhasil menangkap sosok yang dikenalinya. Sosok Sasuke yang kini sedang berhadapan dengan Itachi. Namun yang paling mengejutkan untuknya adalah sosok Sakura yang juga berada di sana.
Kondisi itu jelas sangat membahayakan bagi Sakura. Terlebih Naruto telah mengucap janji untuk menyembunyikan keberadaan Sakura. Mengasingkan perempuan itu dari peperangan ini.
Teriakan kencang dari pria di sampingnya membuat tatapan Naruto berpindah. Jiraiya kembali melontarkan perintah pada pasukannya.
"Sepertinya sudah saatnya. Pasukan garis depan kita tidak akan bertahan lama," ucap Jiraiya tanpa menoleh pada Naruto. Pandangan matanya masih setia mengamati apa yang ada di depannya.
"Pergilah. Bawa Tuan Putri Hyuuga ke dalam istana. Biar aku yang akan menghadang mereka."
Naruto yang tadinya berniat untuk membantah ucapan Jiraiya lantas membatalkan niatan tersebut. Memang awalnya dialah yang harusnya menghadang musuh pada garis pertahanan depan, dan Jiraiya bertugas pada lapisan kedua. Tapi setelah mendengar kata Putri Hyuuga, Naruto pun enggan membantah ucapan Jiraiya.
Melihat pria kuning itu belum juga beranjak, Jiraiya pun kini menatap ke arahnya. Menepuk bahu Naruto dengan kencang.
"Serahkan saja padaku," ucapnya yakin. Meski begitu Naruto tidak bisa menuruti perintah Jenderal Divisi 6 begitu saja.
"Konohamaru!" panggil Naruto dengan lantang sehingga pria yang tadi berdiri tepat di belakang Naruto segera berlari menghampirinya.
"Kupercayakan tugas ini padamu."
Konohamaru mengangguk mantap, "Baik, Naruto-sama!"
Sekarang terlihat beberapa pasukan berhasil masuk, yang langsung mendapat sambutan hangat dari Konohamaru. Pria yang mengemban tugas berat di pundaknya. Tugas yang menggantikan posisi pemimpinnya. Meski begitu Konohamaru merasa sangat senang. Teramat senang karena mendapat kepercayaan dari orang yang begitu ia kagumi. Tugas ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuknya, jika pun hari ini adalah hari terakhir ia bisa menatap matahari, sedikit pun tidak akan ada penyesalan dalam hatinya.
Karena Naruto sendiri bagaikan matahari di hidupnya.
Sabetan katana-nya berhasil menjatuhkan empat orang sekaligus. Jumlah pasukan awal yang berhasil menembus pertahanan depan. Konohamaru lantas mengangkat katana-nya yang telah ternoda oleh darah setinggi mungkin. Menunjuk pada langit, seakan menantang pemiliknya.
Kemudian teriakan lantang pun keluar dari mulutnya. Bagai sebuah pemicu adrenalin. Membakar sumbu ketegangan, hingga mampu membangkitkan semangat para pasukan yang berdiri di belakangnya. Mereka pun ikut mengeluarkan suara mereka. Meneriakkan kobaran semangat juang mereka. Berjuang hingga titik darah penghabisan.
Dengan pedang yang telah terangkat, mereka pun kini berlari ke garis depan. Menerjang dan menghalangi pada musuh yang mencoba masuk ke dalam istana. Membela mati-matian tempat yang mereka anggap agung.
"Sai, Sakura berada di depan Istana. Kau tahu apa tugasmu 'kan? Setelah kau berhasil membawanya, segera kautemui aku untuk juga membawa Hinata pergi dari sini," perintah Naruto tepat saat ia masuk ke dalam markas Divisi 1.
Sai mengangguk mantap, lalu segera menghilang di tengah kerumunan para pasukan. Sedangkan Hinata masih terdiam dengan kedua tangan saling mengerat di pangkuannya. Wajahnya kini memucat, di mana butir-butir keringat menghiasi wajahnya. Namun bukan itu yang mengkhawatirkan bagi Naruto, tapi lebih pada ekspresi yang tercetak di wajah cantik Hinata.
Ia ketakutan. Terpancar jelas rasa takut itu di wajahnya. Juga pada kedua matanya yang terlihat kosong, bagai tidak menatap apapun. Seakan jiwa Hinata sedang tidak berada di sana. Bahkan Hinata sendiri mungkin tidak menyadari jika Naruto tepat berdiri di hadapannya.
Naruto pun berjongkok. Satu tangannya kini membungkus kedua tangan Hinata yang saling menggenggam. Tangan mungil itu terasa sangat dingin, dan gemetaran.
"Hei." Satu tangan Naruto yang lain kini mengelus lembut pipi Hinata hingga membuat kedua bola mata itu akhirnya bergulir pelan menatap Naruto.
Menyadari bahwa pria kuning itu ada di dekatnya, Hinata pun akhirnya melontarkan apa yang dirasa olehnya saat ini.
"Na-Naruto, Aku ... Aku—" Hinata memejamkan kedua matanya, dan mencoba untuk mengatur napasnya. Jeritan dan teriakan penuh rasa sakit itu terdengar semakin jelas. Suara letusan peluru dan riuh kaki yang berlarian, semua yang Hinata dengar memunculkan kengerian di benak Hinata. Seperti sebuah siksaan tak kasat mata yang menyerangnya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa medan peperangan begitu mengerikan. Orang mungkin mudah mengatakan perang. Tapi nyatanya berada di tengah-tengah situasi itu sama sekali tidak sama seperti melihat sebuah gambar, atau mendengarkan kisah dari mulut seseorang. Semua begitu menakutkan. Itulah yang Hinata rasakan sekarang.
"Apa kita akan mati?" tanya Hinata, yang kini menggenggam erat telapak tangan Naruto. Kedua tangan yang memeluk erat tangan Naruto itu semakin bergetar hebat, sama seperti yang dialami oleh jantungnya. Napasnya pun ikut memburu ketika bayangan akan nasibnya berada diambang kematian. Apa lagi sebelumnya Hinata mendengar sendiri bahwa pasukan mereka kalah jumlah dengan pasukan musuh. Itu artinya kesempatan mereka untuk menang sangat kecil, benar 'kan?
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jawab Naruto sembari tersenyum. Berusaha untuk terlihat tenang.
"Aku takut."
"Tidak apa-apa."
Masih dengan senyumannya yang belum hilang, Naruto pun mengelus dan memainkan kedua tangan Hinata sampai hawa dingin itu lenyap. Menyalurkan rasa hangat serta ketenangan pada perempuan itu.
"Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Jadi, bisakah kau menggerakkan kedua kakimu untuk berlari?"
"Hmm," jawab Hinata sambil mengangguk pelan, yang kemudian mengikuti ke mana jemari Naruto membawanya pergi.
[ Di tempat Sasuke ]
Itachi kembali menyerang, namun kali ini serangannya tidak ia tujukan pada Sasuke. Jawaban yang ia dengar dari mulut adiknya tidak juga mengikis kekesalannya pada Sakura. Perempuan yang ia anggap telah merusak semuanya. Dan juga, karena perempuan itu adalah kelemahan Sasuke. Jadi jika perempuan itu terluka, maka akan mempermudah untuk menghentikan langkah Sasuke. Itachi tidak akan pernah menerima Sasuke yang membela mati-matian Kaisar Hyuuga. Baginya itu tampak seperti sebuah pengkhianatan besar.
Sasuke kini menyadari ke mana tujuan serangan Itachi. Serangan awal yang Itachi berikan hanyalah sebagai pengalih agar jarak antara dirinya dan Sakura melebar. Secepat yang Sasuke bisa, ia menggerakkan kakinya untuk berlari saat Itachi pun kini berlari ke arah yang sama. Menuju pada Sakura yang tampak terkejut karena acungan katana milik Itachi berada tepat di hadapannya.
Refleks Sakura melangkah mundur, namun kecepatan Itachi tidak bisa dikalahkannya. Pedang itu terayun turun, mengarah pada kepala Sakura dengan cepat. Dan bunyi nyaring pun terdengar. Besi panjang itu berhasil menahan pedang Itachi tepat waktu. Sasuke langsung menekan pedangnya, menolak serangan Itachi, memaksa pria itu mundur karena Sasuke kembali melancarkan serangan fisik.
Tak berhenti begitu saja. Kedua kaki itu kembali melangkah disertai dengan ayunan katana oleh kedua pemuda tersebut. Satunya memberi serangan, yang lainnya bertahan. Menangkis semua serangan tersebut.
Bertarung sembari melindungi seseorang yang menjadi incaran adalah hal yang sulit Sasuke lakukan. Pikirannya terfokus untuk menahan serangan Itachi agar tidak berhasil melukai Sakura. Sehingga tidak ada waktu baginya untuk memikirkan serangan balasan.
Sedangkan yang bisa Sakura lakukan hanya menghindar. Itu pun selalu kalah langkah oleh Itachi. Meski Sakura berusaha untuk berada di dekat Sasuke, namun dengan serangannya, Itachi mampu membuat jarak antara dirinya dengan Sasuke. Lalu mengambil kesempatan itu untuk kembali menghunuskan pedangnya pada Sakura.
Sakura bagaikan sebuah mangsa yang empuk untuk Itachi. Dan Sasuke terlihat bagaikan sebuah boneka oleh Itachi yang terus saja ia mainkan. Sialnya tidak ada tempat bagi Sakura untuk bersembunyi atau melarikan diri sejauh mungkin. Mereka telah terperangkap oleh lingkaran setan para prajurit Itachi, yang tidak membiarkan Sakura lepas.
Sakura tidak ingin begini. Ia tidak ingin mempersulit Sasuke. Tapi apa yang bisa ia lakukan selain menghindar?
Bukankah satu-satunya cara hanya menyerang balik? Tapi masalahnya adalah bagaimana cara ia untuk menyerang Itachi? Pria yang memiliki kemampuan bertarung yang jauh di atas Sakura. Bukankah kata menyerang jadi kelihatan mustahil?
Tapi tidak melakukan apapun sama saja seperti menunggu serangan Itachi mendarat di tubuhnya. Jadi pilihan mana yang terdengar baik? Karena keduanya memiliki resiko yang sama, sama-sama akan mendapatkan luka. Tapi setidaknya jika penyerangan balik itu berhasil, bukankah ceritanya akan menjadi berbeda? Jadi, menyerang balik—meski mustahil terlihat lebih baik Sakura lakukan.
Diam-diam Sakura pun mengambil belati miliknya. Posisinya saat ini tepat berada di belakang Sasuke, yang kembali berhasil menangkis serangan Itachi. Kedua tangan mereka sama-sama saling mempertahankan keinginan. Satu ingin melukai hingga menekan semakin kuat. Sedangkan Sasuke bertahan agar pedang Itachi tidak berhasil melukainya.
Inilah waktunya.
Sakura pun keluar dari persembunyian. Dengan cepat ia menangkap tangan Itachi yang bertugas memegang pedang. Mencengkram sekuat yang ia bisa, sedang satu tangannya lagi kini mengayunkan belati pemberian Sasuke. Ia arahkan cepat untuk menancap di tangan tersebut dengan tujuan agar pedang itu terlepas.
Namun semua yang sudah Sakura rencanakan masak-masak nyatanya tidak sebagus harapannya. Itachi memanfaatkan kekuatan cengkraman Sakura. Ia dengan mudahnya menggerakkan tangannya hingga tubuh Sakura ikut terbawa. Terayun bagai selembar kertas yang terbawa angin.
Sasuke dengan rahangnya yang tengah mengeras, segera bergegas melingkarkan satu tangannya pada pinggang Sakura. Menangkap tubuh kecil itu, di mana kini satu tangannya telah mengubah arah pedangnya menjadi seperti pelindung tangan saat Itachi yang juga dengan cepat telah mengarahkan serangannya pedangnya pada leher Sakura.
Dorongan kuat pada serangan Itachi tidak mampu ditahan oleh Sasuke. Desingan bunyi gesekan besi tajam itu terdengar nyaring hingga kedua tubuh itu terlempar. Mendarat kasar dengan tubuh Sasuke sebagai landasan tubuh Sakura.
Erangan meluncur dari mulut Sasuke begitu tubuhnya berhenti setelah terseret beberapa meter ke belakang. Terlebih ada luka yang menganga cukup besar pada tangannya akibat tidak kuat menahan serangan Itachi. Katana-nya pun mengalami nasib yang sama. Terlepas dan terlempar dari tangannya, yang kini tergeletak beberapa senti dengan posisinya sekarang.
"Sa- Sasuke," ucap Sakura yang langsung mendudukkan tubuhnya, sedang Sasuke masih tergeletak dengan kedua mata yang terpejam menahan nyeri pada lukanya.
Mata hijau Sakura langsung tertuju pada lengan Sasuke yang berlumuran darah. Luka yang dihasilkan oleh serangan Itachi ternyata cukup besar. Sakura sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana sakit dan perihnya luka itu, sehingga tanpa sadar air pun menggenang dengan cepat di pelupuk matanya.
"Maaf. Maaf," gumam Sakura, yang segera merobek ujung lengan pakaiannya dan melilitkannya untuk menutup luka Sasuke.
Namun belum selesai Sakura mengikat kuat kain tersebut, Itachi kembali menyerang, kakinya melangkah cepat, dengan pedang yang juga telah siap menebas perempuan merah muda itu.
Dengan cepat Sasuke pun bangkit. Diraihnya tubuh Sakura ke dalam dekapannya, hingga kini punggung Sasuke berubah menjadi tameng untuk Sakura. Bahkan Sakura tidak sempat menyadari perlakuan Sasuke, semua terjadi begitu cepat. Tidak memberi waktu Sakura untuk menolak. Tidak memberi kesempatan Sakura untuk membantah tindakan nekat Sasuke.
Walau kedua mata Sakura melebar, namun ia tidak bisa melihat apa yang selanjutnya terjadi. Apakah benda tajam itu benar-benar akan mendarat di tubuh Sasuke? Apakah Itachi setega itu untuk melukai adiknya?
Dentingan logam yang terdengar nyaring menjadi jawaban bagi Sakura. Sasuke yang tampak terkejut pun langsung melepas pelukannya, mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Membalikkan tubuhnya untuk melihat ke asal suara, yang ternyata dihasilkan oleh bentrokan senjata milik Itachi dan Sai.
Kini Sakura dan Sasuke memiliki pertanyaan yang sama di dalam benak mereka. Bagaimana Sai bisa berada di sini? Di waktu yang sangat tepat pula.
Namun sepertinya Sasuke sendiri tidak membutuhkan jawabannya, karena kini pria itu memilih memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengambil katana-nya. Meraihnya dengan cepat dan kembali memberikan serangan pada Itachi.
Sayangnya Itachi masih bisa menghalau serangan Sasuke. Sai pun tidak tinggal diam, ia juga ikut melemparkan serangannya. Itachi kembali melompat mundur. Menghindari serangan yang bertubi-tubi datang padanya.
Posisi mereka kini bagaikan sebuah segitiga sama kaki, dengan posisi Itachi berada di puncaknya.
"Terima kasih," ucap Sasuke sembari mengatur napasnya.
"Kau tahu tugasku bukan?" Sasuke pun mengangguk, namun kedua matanya tidak lepas menatap Itachi.
"Maaf tidak bisa membantumu," sambung Sai yang kini menarik tangan Sakura hingga perempuan itu berdiri tegak.
"Tunggu, Sai!" teriak Sakura saat tangan Sai kembali menarik tubuh Sakura untuk menjauh dari Sasuke, "Seharusnya kau membantu Sasuke. Dia membutuhkan bantuanmu."
Namun bukan dari mulut Sai sebuah suara terlontar, yang nyatanya sungguh mengejutkan untuk Sakura hingga ia segera menatap Sasuke.
"Jangan ikut campur," ucap Sasuke tegas kemudian memutus pandangan kedua mata mereka, beralih menatap pada Itachi. "Pergi!"
Seringai muncul di wajah Itachi, "Kau pikir semudah itu?"
Sai yang menyadarinya lantas melepaskan tangan Sakura, dan segera menarik senjata yang tergantung di belakang punggungnya. Kini kedua tangannya telah dipersenjatai oleh pedang berukuran tidak lebih panjang dari katana. Senjata yang digunakan oleh Sai adalah wakizashi, atau pedang yang memiliki panjang antara 30-60 cm. Biasanya pedang ini menjadi pasangan dari katana, yang digunakan sebagai secondary weapon.
Namun tidak bagi Sai. Ia lebih memilih wakizashi sebagai senjatanya. Dua pedang yang kini berada di dalam genggaman kedua tangan Sai. Karena tidak terlalu panjang itulah yang Sai manfaatkan untuk pertahanan dan serangan. Jika yang satu menangkis, maka yang satu lagi menebas, kedua tangannya bergerak seirama.
Belasan prajurit itu kini menyerbu Sai dan juga Sakura. Sasuke yang berniat membantu membuka jalan untuk mereka terpaksa harus menelan mentah-mentah keinginan tersebut. Itachi tidak memberikan kesempatan itu sedikit pun. Ia sudah bergegas menyibukkan adiknya, dengan kembali menyeringai saat pedang mereka beradu.
"Pengkhianat harus menerima bayarannya," ucap Itachi.
[ Di tempat Naruto ]
Pintu gerbang kediaman Kaisar Hyuuga berada tak jauh di depan mata mereka. Terlihat pula barisan pasukan Divisi 5 yang telah bersiap. Di depan barisan, Akimichi chouza selaku Jenderal Divisi 5 tengah memberikan instruksi kepada bawahannya. Mengatur formasi yang telah ia siapkan untuk menghadapi musuh. Namun melihat sosok yang datang mendekat lantas membuat kegiatan pria itu terhenti.
"Hinata-sama!" sahutnya sembari memberi hormat, yang diikuti oleh semua pasukannya.
Hinata membalas dengan anggukan singkat. Ketakutan masih menetap di wajahnya. Namun sekali lagi, genggaman tangan Naruto terasa bagai obat penenangnya. Pria yang kini tengah melaporkan kondisi pertahanan depan istana.
Derap langkah kaki terdengar. Membuat kedua pria itu menoleh bersamaan dan mendapati enam orang pasukan Itachi bersiap untuk menyerang.
Apakah itu tandanya pertahanan mereka berhasil dikalahkan?
Buru-buru Naruto menarik Hinata dan berlari masuk menembus barisan prajurit. Sesuai perintah Jenderal Divisi 5, Naruto akan membawa Hinata ke dalam ruangan kaisar, tempat di mana kedua ayah mereka berada. Sedangkan Akimichi chouza tanpa perlu berpikir panjang lagi segera memerintahkan seluruh anak buahnya menghadang serangan pasukan Itachi, yang jumlahnya kini semakin bertambah.
Tanpa perlu perintah, kedua penjaga ruangan kaisar segera membukakan pintu untuk Jenderal Divisi 1 yang membawa Tuan Putri Hyuuga. Kedua orang itu bahkan mengabaikan sapaan dari kedua prajurit itu.
Ada keterkejutan yang tampak dari wajah Hiashi saat melihat sosok Hinata masuk ke dalam ruangannya. Sedikit tidak percaya bahwa putrinya masih berada di dalam lingkungan istana. Jika menurut rencana yang telah diatur oleh Minato, seharusnya Hinata sudah aman di tempat persembunyian mereka.
Namun setelah mendengar ucapan Naruto yang melaporkan kondisi mereka, amarah Hiashi pun beralih untuk hal lain.
"Mereka telah berhasil menembus pertahanan depan istana," ucap Naruto di akhir laporannya pada Minato.
"Lalu bagaimana dengan para divisi lainnya?" tanya Minato.
"Mereka belum juga tiba."
Ada keheningan sejenak menyapa keempat orang itu. Jika ketiga pria di sana sibuk memikirkan strategi untuk mengalahkan musuh, maka Hinata-lah satu-satunya yang tidak memikirkan hal itu.
Hinata masih setia berdiri di dekat Naruto. Diam, menunduk dan sesekali mencuri pandang pada pria yang menjabat sebagai kaisar—ayahnya. Ada perasaan tidak menyenangkan yang timbul kala menatap wajah Hiashi. Sebagian besar berisi rasa tidak percaya jika ayahnya adalah dalang di balik runtuhnya Kekaisaran Haruno. Pria pembunuh. Pria keji yang tega mengkhianati kepercayaan pria bernama Fugaku Uchiha.
Benarkah pria itu adalah ayahnya? Seperti itukah ayahnya? Sekejam itukah ayahnya? Tapi mengapa? Kenapa?!
Tanpa sadar Hinata menggamit lengan pakaian Naruto. Wajahnya menunduk dalam, berusaha menahan kegetiran. Digigitnya kuat-kuat bibirnya agar air mata yang mulai mengenang tidak jatuh, mengalir di pipinya.
Menyadari ada tarikan kuat pada pakaiannya, Naruto pun menoleh. Mendapati Hinata yang mencoba sekuat tenaga menahan tangis, dan Naruto tahu apa yang menjadi penyebabnya.
Minato yang berdiri tak jauh dari kedua orang itu pun menyadari perubahan sikap Hinata. Mata birunya melirik tepat setelah Naruto menggenggam erat tangan perempuan itu, hingga akhirnya dua pasang mata biru itu bertemu.
Tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun, Minato bisa mengetahuinya. Bahwa Hinata telah mengetahui semua kebenaran itu. Jadi sepertinya tidak perlu lagi menyembunyikan apapun karena semua orang yang berada di dalam ruangan ini sudah mengetahui rahasia kelam milik Hiashi, Kaisar Hyuuga.
[ Di tempat Sasuke ]
Bertubi-tubi Sai menangkis serangan yang datang padanya, berikut bertubi-tubi pula Sai memberikan perlawanan hingga mampu mengurangi jumlah musuh yang menghadang langkahnya. Di sela-sela pertarungannya, kedua pria itu sama-sama berusaha untuk menjatuhkan musuh yang mendekati Sakura, meskipun Sai-lah yang lebih banyak melakukannya.
Luka pun sudah menjadi corak di tubuh mereka. Penghias warna merah penimbul nyeri, namun itu tidak pula menyurutkan semangat keduanya. Sakura kini berdiri diapit oleh Sasuke dan Sai, yang tengah memberi perlawan pada prajurit yang kembali menyerang atas perintah Itachi.
Pria yang kini menikmati pemandangan yang tersaji di depannya. Adik tercintanya yang terlihat kewalahan serta pertahanan gerbang depan istana yang berhasil ditembusnya. Hashirama tertawa kencang, yang beberapa saat lalu menghentikan serangannya untuk melihat kesibukan yang dilakukan oleh rekannya.
"Hidangan utama sudah menantimu, Itachi," ucapnya lantang. Tanda bahwa sudah saatnya bagi Itachi untuk melaksanakan tujuan utamanya. Balas dendam.
"Jadi, cepat selesaikan hidangan pembukamu itu atau perlukah aku yang melakukannya?"
Delikan tak suka yang dilayangkan Itachi seketika membungkam gelak tawa bahagia Hashirama. Terlalu bahagia membuat Hashirama lupa siapa sosok yang kini sedang Itachi hadapi. Uchiha Sasuke, satu-satunya sanak keluarga yang masih tersisa yang ironisnya ternyata menolak untuk mengambil jalan yang sama dengan itachi.
Sangat bodoh. Begitulah menurut Hashirama. Bagaimana mungkin adik kecil Itachi memilih untuk berada di kubu Hiashi? Membela pria yang jelas-jelas telah menghabisi seluruh keluarganya? Hashirama sendiri tidak habis pikir dengan jalan pilihan Sasuke. Tapi, itu bukanlah urusannya. Keinginannya hanya satu, mendapatkan tahta kekaisaran. Mimpi yang sudah berada di depan matanya.
Namun sepertinya ia harus bersabar sedikit lagi.
"Sasuke!" Teriak Sakura panik ketika mendapati tubuh pria itu terjatuh karena mendapat tendangan telak di perutnya.
"Jangan mendekat!" perintah Sasuke cepat. Napasnya tersengal. Jelas sekali ia mulai merasa kelelahan.
Sakura yang berdiri di balik punggung Sai lantas terdiam menuruti perintah Sasuke. Walau ingin tapi Sakura sadar, tak ada yang dapat ia lakukan. Saat ini dirinya hanyalah beban untuk kedua pria itu.
Dengan satu gerakan tangan Itachi, semua prajurit berhenti menyerang, namun tetap tidak membiarkan Sai dan Sakura pergi.
"Menyerahlah, Sasuke. Aku masih memberikan kesempatan untukmu."
"Kesempatan macam apa?"
Itachi menatap tak mengerti, "Macam apa katamu? Bukankah itu sudah jelas? Kesempatan untuk membalaskan dendam semua keturunan Uchiha, terutama untuk kedua orangtuamu, anak tolol!"
Sasuke terkekeh pelan. Suara remeh yang keluar dari mulutnya membuat semua orang menatap heran padanya, terutama Itachi. Bahkan Hashirama sendiri sampai mengerutkan kedua alisnya.
"Balas dendam ... terdengar menyenangkan," ucapnya yang sudah kembali tenang.
"Itukah caramu, Itachi? Itukah cara agar kau bisa merasakan kebahagiaan?"
Rahang Itachi mengeras. Kedua tangannya terkepal kuat, hingga seketika ia berlari dan mengayunkan katana-nya pada Sasuke. Menyerang adik kecilnya itu tanpa ampun. Lontaran pertanyaan Sasuke sukses besar menyulutkan kemarahannya.
Bahagia katanya? Tahu apa adik kecilnya itu tentang kebahagiaan, setelah semua yang menimpa Itachi? Semua kematian tragis yang tersedia di depan matanya, lalu kini satu-satunya keluarga yang ia miliki mengatakan ia melakukan semua ini untuk kebahagiaannya?
"Apa kematian kaa-san belum cukup menyadarkanmu tentang apa yang sedang aku lakukan saat ini? Alasan yang membuatmu bertahun-tahun mencariku, bukankah kau memahaminya, Sasuke?"
Dua tebasan cepat Itachi tidak mampu ditahan oleh Sasuke. Kekuatan dan tenaga mereka tidak lagi dalam level yang sama. Luka adalah salah satu penyebabnya. Sehingga akhirnya tubuh Sasuke terlempar dan terseret beberapa meter, dengan satu pipinya merasakan tekstur tanah yang semula menjadi pijakan kakinya.
"Apa kau lupa? Mungkinkah aku harus membuat kau mengingat kembali bagaimana rasanya, Sasuke?"
Kedua mata Sasuke sontak melebar, telinganya dengan jelas mendengar gesekan langkah kaki Itachi yang bergerak cepat. Langkah yang terdengar menjauh menuju di mana perempuan merah muda itu berada.
Sasuke bahkan belum sempat mengangkat tubuhnya, tapi Itachi sudah berada pada jarak serangnya. Kecepatannya sungguh sangat luar biasa, seperti satu kali kedipan mata bagi Sakura dan sosok itu sudah mengayunkan pedangnya di depan kedua matanya.
Lalu...
Detingan besi terdengar. Sai, dengan pedang di tangan kirinya menangkis serangan Itachi kemudian disusul sabetan diagonal oleh pedang di tangan kanannya. Itachi pun cepat mengubah arah pedangnya menangkis serangan Sai—menahan di sisi kepalanya. Diputarnya pedang di tangan kiri Sai yang kini berganti menyerang leher Itachi. Sayangnya serangan itu masih bisa dihindari oleh Itachi.
Pria itu melompat mundur, membuat Sai meluncurkan serangan bertubi-tubi dengan kedua tangannya. Menebas bergantian, kanan-kiri, atas-bawah, terus memojokkan Itachi yang kini hanya bisa menangkisnya. Namun Itachi tidak kehabisan akal, diambilnya sarung pedang yang bertengger di pinggangnya.
Dan efeknya, Itachi berhasil mengimbangi serangan bahkan ternyata Itachi pun mampu membalikkan kedudukan. Kini giliran Sai yang melangkah mundur, terdesak hingga akhirnya sabetan pedang Itachi berhasil mengiris bahu kiri Sai. Merobek pakaian Sai sekaligus kulit dan daging yang meliputi area bahu hingga dada kiri Sai.
Serangan berikutnya yang berasal dari sarung pedang Itachi telak mengenai perut Sai. Sodokan keras itu memaksa Sai memundurkan langkahnya, terdorong jauh hingga jatuh menabrak kasar tanah.
Menyisakan sosok Sakura yang kini tanpa sebuah perlindungan. Celah yang tidak Itachi diamkan begitu saja. Tidak ada lagi yang menghalanginya, tidak ada lagi yang menyelamatkannya. Dengan satu serangan mematikan ini, berakhirlah sudah acara Itachi yang menyantap hidangan pembukanya.
Ujung katana-nya menghunus mengarah jelas pada Sakura. Cepat, tanpa keraguan.
Hingga...
Cairan merah itu menetes, mengucur deras, membasahi pakaian, dan juga katana Itachi sampai akhirnya jatuh ke tanah. Menguarkan bau karat yang semakin menyengat.
Bersambung.
Curcul :
Haiiii ^^
Maap apdet telat *ditimpuk* Aku lagi galau berat ini (Mulai Ngalay) Aku sedih bgt Taka ngak konser di Indonesia, udah aku tunggu dari zaman Sasuke masih chibi smpe udah jadi bapak skrg (Ngalay lagi) Eh, dia Cuma mampir smpe Singapur (Hati ini sakidhhhhh huaaaaaaa)
Udah gitu ngak dapet izin juga buat nyusulin bebepku tercincah huhuhu (Gmnpun izin orangtua ttp yg utama, biar selamet :'D) Jadi, apa daya Cuma bisa uring-uringan T-T dan ternyata ngaruh berat tiap mau ngetik, karena aku klo ngetik kan denger lagu doi terus.
Sampe skrg pun masih kecewa huhuhu…
Kayanya aku beneran ngalay banget yak! Yasudah, abaikan edisi curcul kali ini.
Oiya, aku kasih tau lagi bahwa bakal ada DEATHCHARA ya, jadi siap2 aja (Secara pasti emang ada yang bakal mati lah XD)
Sampai ketemu chap depan ^^
.
11 September 2015 ( Aku suka tanggal ini :3 )
.
[U W] — Istri sah Taka, One OK Rock—yang lagi ngambek sama suaminya. T-T —
