Us Against The World

.

Chapter 5: Mischievous Hand

Jaehyun berjalan menyusuri sepanjang trotoar di salah satu sudut jalan kota Bangkok. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 5 pagi. Ia hendak kembali ke hotel. Pikirannya melayang mencoba mengais memori apa yang terjadi sehingga ia harus meninggalkan kasur hotel yang empuk, dan tidur di atas lantai semen yang kasar dan dingin bukan main.

Namun, ia hanya bisa tersenyum kecil, sesekali ia terkekeh mengingat momen yang ia lewatkan bersama kekasihnya tadi malam. Apa yang ia alami semalam dengan Taeyong, merupakan sebuah kepingan kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Mungkin seumur hidupnya.

Sesekali Jaehyun menoleh ke belakang, memastikan Taeyong masih tertidur lelap di punggungnya. Ya, ia terpaksa menggendong hyung kesayangannya itu karena apapun yang Jaehyun lakukan untuk membangunkannya, impuls Taeyong menolaknya mentah-mentah. Anehnya, Jaehyun sama sekali tidak keberatan. Kapan lagi ia bisa mendengar dengkuran napas kekasihnya di tengkuknya. Memanjakannya seperti anak kecil kebanyakan yang merengek meminta gendong ke tempat tidur mereka.

Hati Jaehyun secemerlang mentari pagi yang masih di ufuk. Ia tidak peduli jika orang-orang mempermalukannya lagi ketika melihat dua orang lelaki asing gendong-gendongan menyusuri jalan mereka.

Yang ia pedulikan hanya Taeyong. Taeyong-nya yang baik. Yang selalu bisa membuat hatinya terbebas dari segala macam sengatan emosi negatif. Taeyong yang selalu menolongnya, bahkan tepat ketika pertama kali mereka bertatap muka.

Extras: The Past

Hari itu seperti hari biasa lainnya. Di suatu ruang latihan, para trainee menjalani latihan dance dipandu coach coreographer mereka. Semua berkonsentrasi mengikuti arahan coach, berusaha tidak membuat kesalahan sekecil mungkin. Namun, sejak satu jam yang lalu, irama gerakan mereka menjadi sedikit terganggu. Meskipun mereka berusaha memaklumi, tapi Jaehyun sudah ketujuh kalinya melakukan error di sana-sini. Tidak pada hari ini saja. Jauh di hari sebelumnya Jaehyun sudah mulai kehilangan sense-nya dan tidak pernah absen untuk berbuat salah.

"JUNG JAEHYUN! FOKUS!" Kalimat itu juga telah diucapkan berkali-kali oleh sang coach setiap kali Jaehyun melakukan kesalahan. Intonasinya sudah mencapai taraf sumpah serapah jika Jaehyun sekali lagi berulah.

Bagi Jaehyun sendiri, hari ini merupakan hari keempat belas—sejak diterima di SM- ia 'diseret' untuk mengikuti latihan ini. Omong kosong. Ya, kata-kata itu terus menghantui benak Jaehyun beberapa hari terakhir. Ia tidak menyangka bahwa menjalani sesuatu yang di luar kehendaknya akan sememuakkan ini.

Tujuan Jaehyun datang ke rumah agensi ini tidak lain adalah mewujudkan mimpinya menjadi pemusik dan musisi. Dirinya akan merasa sangat diuntungkan jika ia hanya melakukan musik saja, bukan dance seperti yang ia lakukan sekarang ini.

Namun, melihat wajah dari rumah agensi terbesar di Korea itu, seharusnya Jaehyun tahu bahwa asetnya tidak akan dibiarkan berkembang di satu bidang saja. Seharusnya Jaehyun tahu, bahwa rumah agensi naungannya merupakan jebolan dari boygroup dan girlgroup yang kiprahnya sudah mendunia. Seharusnya Jaehyun tahu, dance akan menjadi makanan sehari-harinya setelah ia di-casting beberapa bulan lalu.

Jaehyun hanya bisa tersenyum pahit. Ia mengutuk otak pintarnya untuk melakukan hal bodoh seperti sekarang ini.

BUG!

Pikiran Jaehyun tidak bisa jernih lagi. Tubuhnya dibuat oleng dan segera saja ia jatuh. Dan ia tidak jatuh sendiri. Ia menyebabkan trainee di sampingnya ikut meringis karena tubuhnya tersandung kaki Jaehyun.

"JAEHYUN KAU BENAR-BENAR SIALAN! SUDAH CUKUP! KELUAR DARI FORMASI! KELUAR DARI RUANGAN INI SEKARANG JUGA!" Teriakan yang begitu nyaring dari sang coach membuat Jaehyun hanya bisa menundukkan kepalanya.

Bodoh! Bodoh! Semuanya omong kosong!

"Um...kami rasa kami juga perlu istirahat, coach. Tolong berikan kami waktu untuk sekedar minum air." Suara itu menarik perhatian Jaehyun dari kekeruhannya. Ia mengenali suara itu dan juga pemiliknya. Lee Taeyong. Korban yang ia buat terjatuh karena jegalan kakinya.

Jaehyun tahu cukup baik siapa sosok Lee Taeyong. Salah satu trainee dengan bakat dance yang luar biasa. Keberadaannya adalah magnet bagi trainee lain karena ia tidak segan membantu siapa saja yang kesulitan selama latihan. Seseorang yang nyaman untuk diajak konsultasi, meski Jaehyun belum pernah bicara sendiri dengannya.

"Baiklah. Kalian punya satu jam. Dan Jaehyun! Gunakan waktu itu baik-baik untuk berintrospeksi diri mengenai kekacauan yang tadi kau buat!"

Introspeksi, huh? Aku bahkan tidak menyesali perbuatanku. Bagaimana Anda berharap aku belajar dari kesalahanku, coach terhormat?

Di ruang latihan yang tadinya ramai itu, sekarang menjadi sunyi ditambah ketegangan yang menyelimuti mereka. Mereka ragu harus berbuat apa. Menyemangati Jaehyun? Sebenarnya mereka enggan karena Jaehyun dari awal seperti membangun tembok China di antara mereka. Membiarkannya? Siapa saja pasti tidak tega mendapati Jaehyun yang sedang kalut seperti itu. Walaupun yang dilakukan Jaehyun hanya diam di tempat tanpa mengeluarkan satu kata pun.

"Jung Jaehyun, aku perlu bicara denganmu." Sebuah suara memecah keheningan di ruang itu. Semua mata tertuju pada sumber suara. Tidak terkecuali Jaehyun. Ia mendapati Lee Taeyong sudah berdiri di hadapannya. Melihat wajah serius itu hanya membuat Jaehyun melengos.

"Bicara apa?" Jaehyun menjawab datar.

"Tidak di sini. Ikut aku."

Jaehyun sedang ingin sendiri. Jika ia disuruh keluar, itu bukan karena ia dipaksa mengikuti orang lain. "Tolong jangan membuatku repot. Bicara saja di sini."

Garis-garis di wajah Taeyong menunjukkan kemarahan yang ia tahan. Taeyong sudah mengepalkan tangannya. Ia kapan saja bisa melayangkan tinjunya di wajah trainee kurang ajar yang notabene usianya lebih muda darinya. Taeyong ingin melemparkan tata krama dan sopan santun tepat di wajahnya.

"Baiklah. Kalau kau mau cari mati."

Atmosfir di ruang latihan kini beku serasa dijatuhi hujan es. Mereka baru pertama kali melihat sosok Lee Taeyong yang begitu dingin. Ketegasan dari seorang Lee Taeyong mampu membuat bulu kuduk siapa saja yang di ruang itu berdiri. Tatapan matanya mampu membunuh siapa saja yang ingin melawannya. Gesturnya mampu membuat siapa saja yang berdiri didekatnya menjadi lemas tidak berdaya. Lee Taeyong sedang marah.

Siapapun tidak berani beranjak dari posisinya. Mereka sebenarnya gelisah luar biasa akan apa yang terjadi. Namun, nyali mereka terlalu ciut untuk menghentikan Taeyong. Mereka tidak berani mengganggu singa yang akan mencabik mangsanya.

"Jung Jaehyun, apa yang kau lakukan di sini?" Kalimat pertama dari Taeyong mengawali perang mental yang akan terjadi.

"...Bisa lebih spesifik lagi pertanyaanmu?" Jawab Jaehyun acuh.

"Aku tanya, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di sini?" Taeyong menahan intonasinya.

"Aku masih tidak mengerti apa maksudmu."

"Pasang kupingmu baik-baik dan LIHAT LAWAN BICARAMU!" Seisi ruangan hanya bisa menelan ludah. Amarah Taeyong resmi keluar. Tapi, ini belum apa-apa. Masih terlalu awal bagi Taeyong untuk meraung.

Jaehyun menghembuskan napasnya keras. Ia sungguh tidak ingin terlibat adu mulut sekarang. Apalagi di depan banyak orang. Ia akan mengabaikan Taeyong selama mungkin hingga Taeyong menyerah sendiri. Namun, sepertinya beberapa hal memang tidak harus berjalan sesuai rencananya. Sesaat kemudian, ia merasakan sebuah tangan mencengkeram kasar rambut hitamnya, membuatnya mendongak ke atas dengan paksa.

"Sepertinya aku harus menjambak kepalamu supaya mata konyolmu itu berani menatapku, ya?!"

Jaehyun terbelalak. Seumur hidupnya ia tidak pernah di-bully. Seumur hidupnya ia tidak pernah dikasari. Ekspresinya kini menggeram bukan main. Ia menepis keras tangan Taeyong di kepalanya sehingga menimbulkan bunyi 'PLAK' yang cukup nyaring.

"SEBENARNYA APA MAUMU, HAH?" Tanya Jaehyun yang sudah naik pitam.

"LIHAT DIRIMU! APA CERMIN DI KAMARMU PECAH?! Tampangmu bagus, suaramu oke, kau juga bisa dance! Kau sadar kalau semua yang punya itu cukup untuk membuat iri trainee lain?!" Bentak Taeyong kesal.

"Seumur hidup aku tidak pernah menemukan idiot yang dengan gampangnya menyia-nyiakan bakatnya! KALAU KAU TAHU ITU, JADI JAWAB SAJA PERTANYAANKU TADI, BRENGSEK! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DI SINI DENGAN TEKAD LEMBEK SEPERTI ITU?" Lanjut Taeyong marah.

"TEKAD LEMBEK?! KAU BILANG AKU—"

"YA! SIAPA LAGI, BODOH?! Pertama aku melihatmu di sini dengan mata berapi-api, mata yang mempunyai ambisi! Tapi sejak beberapa hari yang lalu, KAU BERULAH DAN MENYUSAHKAN KAMI YANG ADA DI SINI! APALAGI NAMANYA KALAU BUKAN LEMBEK?!"

"BERHENTI BICARA SEOLAH KAU TAHU AKU!"

"Oh aku akan terus bicara, KARENA PERCAYA ATAU TIDAK AKU TAHU ORANG MACAM APA KAU INI, JUNG JAEHYUN!" Taeyong menyeringai sangar.

"KAU HANYA PENAKUT YANG TIDAK MAU MENERIMA KEBERADAANMU DI SINI! KAU HANYA ORANG LEMAH YANG INGIN LARI DARI SITUASI INI! DAN KAU MENYEBUT DIRIMU LAKI-LAKI?! HAH! JANGAN BERCANDA! BAGIKU KAU HANYA PECUNDANG DENGAN SATU BOLA DI SELANGKANGANMU!"

BUG!

Jaehyun menyengkeram kerah Taeyong. Mendorongnya sampai membentur dinding di belakangnya. Jaehyun mengeratkan giginya. Wajahnya merah disulut murka. Nafsunya terpacu untuk mengacungkan tangannya, bersiap meninju Taeyong.

"Berani bicara satu kata lagi, aku akan—"

"Apa?! Ayo pukul saja, Jaehyun! Pukul aku dan tunjukkan pada semua orang betapa rendahnya dirimu!" Potong Taeyong cepat. Suara dingin itu menusuk-nusuk setiap sel di seluruh tubuh Jaehyun. Jaehyun tidak menyangka orang dihadapannya ini akan setenang ini ketika sebuah cengkraman dan pukulan siap menyerangnya kapan saja.

Mata Jaehyun mengilatkan petir yang belum pernah dilihat Taeyong sebelumnya. Mata yang tidak bisa dibaca bahkan untuk Taeyong yang peka. Jaehyun melepaskan cengkramannya. Didorongnya tubuh Taeyong dengan keras.

"Baiklah, mari kita dengar." Ujar Jaehyun menahan emosinya. "Kau bilang kau tahu segalanya tentangku, kan? Coba ceritakan pada semua orang di sini. Dan lihat apa kau memang benar." Jaehyun melipat tangannya. Menantang Taeyong.

Taeyong yang sedari tadi diam, tidak disangka ia akan melipat tangannya juga. Menerima tantangan Jaehyun. Ia menghela napas pendek sebelum memulai.

"Tampangmu yang menjual menjadi obsesi orang tuamu untuk mempromosikannya." Serangan Taeyong melesat tepat ke kepala Jaehyun. Ia benar.

"Aku dengar kau anak tunggal. Karena kau cuma satu-satunya harapan orang tuamu, mau tidak mau kau harus menuruti mereka. Meskipun itu melawan keinginanmu sendiri." Jaehyun terkena headshot. Lagi-lagi Taeyong benar.

"Hmph, sepertinya aku benar semua, huh? Lalu apa salahnya dengan semua itu?"

Jaehyun mengangkat wajahnya dengan tatapan melotot. "Apanya yang salah? APANYA YANG SALAH KATAMU?! TENTU SAJA SEMUANYA! KAU PIKIR GAMPANG MELAKUKAN SEMUA INI, HAH?!" Protes Jaehyun kesal.

"APA KAU PERNAH MELAKUKAN SUATU HAL KARENA TERPAKSA?! APA KAU PERNAH MELAKUKAN SUATU HAL KARENA TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN?! Kau ingin memberontak tapi kau tidak bisa. Kau berteriak tapi tidak ada yang mendengarmu. TIDAK DIDENGAR ORANG TUAMU!" Lanjut Jaehyun.

"YA. ORANG TUAKULAH PENYEBAB AKU DI SINI. ORANG TUAKULAH YANG MENYERETKU KE SINI. DAN AKU BENCI. BENCI SEMUA YANG SEENAKNYA MENGATUR HIDUPKU!" Napas Jaehyun memburu. Ia berteriak putus asa.

"DASAR IDIOT! INILAH MENGAPA AKU MENYEBUTMU PECUNDANG!" Sergah Taeyong. "Dengar aku baik-baik! Kau hanya punya satu ayah dan satu ibu. Dan mereka hanya punya kau! Berhentilah bersikap egois dan sadarlah! Ayah dan ibumu hanya ingin membantumu!"

"Membantu?" Jaehyun mendecih. "Lihatlah diriku, Lee Taeyong. Dan jelaskan bagaimana orang tuaku membantuku menari?!"

"Kau menyedihkan, Jung Jaehyun. Bagiku kau adalah anak tidak tahu diri yang beruntung. Beruntung karena orang tuamu menyadari bakatmu. Beruntung karena orang tuamu mendukung bakatmu. Kau bahkan tidak tahu kalau bukan karena orang tuamu, aku ragu kau akan sampai sejauh ini." Ujar Taeyong tenang.

Perkataan Taeyong membuat Jaehyun tertegun. Berusaha mencerna apa yang masuk ke dalam otaknya. Orang tuanya membantu dirinya? Orang tuanya menyadari bakatnya? Omong kosong apa lagi ini?

"Jaehyun-ah, suaramu indah sekali, Nak. Mau Ibu daftarkan ke les vokal?"

"Wah, hebat! Ayah dengar kau di-casting di jalan oleh SM? Anak Ayah memang luar biasa!"

Jaehyun menutup matanya. Sekelebat memori masa lalu tiba-tiba terlintas begitu saja di pikirannya. Jaehyun berusaha kuat-kuat menepisnya. Ia merasa dirinya semakin dipojokkan dengan semua kalimat Taeyong. Jaehyun bersumpah mentah-mentah tidak akan mengakui kebenaran dari kalimat Taeyong!

Tapi bukan Lee Taeyong namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia terus memaksa Jaehyun mengakui kekalahannya.

"Kau pikir orang tuamu mengirimmu kesini bukan tanpa alasan? Mereka rela mengorbankan waktu untuk tidak bersamamu, anak semata wayangnya, hanya untuk melihatmu meraih mimpimu." Nada bicara Taeyong masih tenang, tapi tidak lepas dari ketegasan.

"Kau berpikir bahwa orang tuamu egois, tapi mereka rela menukar kebahagiaan mengawasimu tumbuh di rumah mereka sendiri, dengan melihatmu berusaha di sini. Jika ini soal cita-citamu, mereka bersedia melakukan apa saja. Jika ini soal kau meraih kebahagiaanmu melalui musik, mereka tidak keberatan melepasmu berjuang."

"Jadi sebutkan padaku, satu momen saja di mana orang tuamu egois. Orang tuamu tidak memikirkan kebahagiaanmu. Apa kau bisa, Jaehyun?"

Kata-kata Taeyong kembali menusuk hati Jaehyun. Ia berkali-kali menggelengkan kepala. Menggigit-gigit bibirnya. Mengepalkan tangannya resah. Jaehyun tertunduk lemas.

"Jaehyun-ah, apa kabar, Sayang? Maaf Ibu menelepon malam-malam... Kau baik-baik saja, Jaehyun-ah?... Akhir-akhir ini Ibu mendengar nada bicaramu yang kelihatan gelisah..."

"Jaehyun-ah, apa kau senang di sana?... Jaehyun-ah, kau tidak perlu memaksakan dirimu kalau kau tidak suka di sana... Kau tahu bahwa Ibu dan Ayah akan selalu mendukung keputusanmu..."

"Kalau kau tidak bahagia di sana, kau bisa pulang, Nak..."

"Kau bisa pulang..."

SIAL! SIAL! SIAAAL! Jaehyun memukulkan tangannya ke lantai berkali-kali. APA MEMANG BENAR MEREKA HANYA MEMIKIRKANKU?! APA MEMANG BENAR ORANG TUAKU HANYA INGIN AKU BAHAGIA?! APA ARTINYA INI MEREKA SUNGGUH MENYAYANGIKU?!

Napas Jaehyun begitu memburu membuatnya terengah-engah. Ia masih tidak berhenti memukul tangannya. Sesekali ia pukulkan kepalanya ke lantai. Mengutuki kebodohannya. Menyumpahi kesombongannya. Ia kemudian berteriak. Berteriak sejadi-jadinya. Berteriak sekeras-kerasnya. Teriakan yang begitu getir dan sepi.

Semua mata yang melihat pasti iba melihat Jaehyun yang dirundung kesedihan. Semua tangan ingin menepuk bahunya, membelai punggungnya menenangkan. Tapi, mereka tahu. Bahwa ini di luar kehendak mereka untuk ikut andil. Momen ini masih tentang Taeyong dan Jaehyun.

Taeyong maju untuk mendekati Jaehyun. Ia menatapi sosok yang desperate itu dan menghembuskan napas lembut. Ia sudah keluar dari ritme amarahnya.

"Tidak apa-apa. Kami semua juga takut. Takut melakukan kesalahan saat latihan. Takut dengan kemampuan trainee lain yang jauh di atas kita. Takut bila nantinya di sini hanya akan menjadi kalahan. Takut kalau di sini kita tidak bisa berbuat apa-apa."

Jaehyun mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap mata Taeyong. Begitu juga dengan Taeyong. Taeyong tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari mata Jaehyun. Jika Jaehyun ingin mencari jawaban di matanya, maka Taeyong harus terus menatapnya. Jika itu membantu Jaehyun melawan demons yang berkecamuk di dadanya, maka Taeyong harus terus menatapnya.

Jaehyun akhirnya hanya bisa tertunduk lagi. Ia menghirup napas panjang sekali dan mengeluarkannya pelan-pelan. Semua orang tahu, dari suara napasnya Jaehyun sudah terlihat tenang. Ekspresi wajahnya lambat laun melunak, dan berubah menjadi raut wajah yang mendamaikan. Walaupun ia masih pahit mengingat keegoisan dan kekanakannya.

"Sedikit-sedikit..." Jaehyun berbisik pelan, membuat semua telinga yang ada di ruang itu siaga, "...sedikit-sedikit, aku akan berusaha...menerima semuanya."

"Tolong...," Jaehyun menelan ludahnya, menelan harga dirinya,"...tolong bantu aku."

Bibir Taeyong membentuk sebuah senyuman tipis. Diulurkan tangannya tepat dihadapan Jaehyun yang masih terduduk. Jaehyun hanya bisa melihatnya dengan takjub. Tangan kecil itu, yang begitu misterius bagi Jaehyun. Tangan yang tidak disangkanya akan muncul di depan wajahnya, membantunya untuk bangun.

"Lain kali tidak akan aku ulurkan." Ujar Taeyong datar. Jaehyun hanya bisa terkekeh konyol. Begitu mudah dirinya diperdaya oleh seorang Lee Taeyong. Begitu mudah dirinya dipengaruhi oleh semua perkataan seorang Lee Taeyong. Jaehyun sudah kalah. Dan ia mengakui semua itu dengan lapang dada.

Jaehyun meraih tangan Taeyong dengan percaya diri. Sentuhan pertama yang terjadi diantara keduanya. Jaehyun dan Taeyong sama-sama bisa merasakan sensasi kilatan listrik yang menggelitik telapak tangan mereka. Pertanda bahwa kehidupan mereka selanjutnya tidak akan lagi sama. Semua akan berubah melalui uluran tangan itu. Uluran tangan yang akan selalu Jaehyun syukuri. Uluran tangan yang mengubah jalan hidup dan jalan pikiran Jaehyun.

Uluran tangan yang telah menyelamatkannya.

Extras: The Past – End

Jaehyun mendapati Jhonny yang baru keluar dari kamar hotelnya. Jhonny yang menemukannya hanya bisa mengernyit, menanyakan gundukan di punggung Jaehyun.

"Oh, Taeyong-hyung payah, nih. Baru 5 kilometer jogging sudah pingsan begini, hahaha..." Jaehyun tersenyum konyol, berharap Jhonny tidak menangkapnya berbohong.

"Kasihan sekali. Tidurkan saja lagi dia, Jaehyun-ah." Jhonny yang sepertinya acuh tak acuh, ternyata ikut bermain dengan kebohongan Jaehyun. Jaehyun hanya mengangguk kecil. Sedangkan Jhonny berniat menuju ke lift, mungkin ia ingin jogging juga. Jaehyun seketika membulatkan hatinya, mengepalkan tangannya, karena ada urusan yang harus ia selesaikan dengan Jhonny.

"Jhonny-hyung!" Panggil Jaehyun setengah berteriak. Jhonny sedikit terkejut dengan teriakan Jaehyun dan menoleh dengan wajah agak canggung.

"Jhonny-hyung...maafkan aku. Aku tahu akhir-akhir ini sudah bersikap menyebalkan, khususnya pada member NCT J." Jhonny yang mendengarnya hanya diam.

"Aku berjanji...aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memimpin sub-unit ini..." kalimat Jaehyun tercekat, tapi ia melanjutkan kembali,"...dan aku...meskipun aku sudah dua kali debut, aku tetap membutuhkan bantuan Jhonny-hyung...aku mohon bantuan Jhonny-hyung, Jaemin, dan Jeno memimpin sub-unit ini." Jaehyun membungkukkan badannya.

Jhonny yang melihatnya hanya bisa menghela napas lega, sebuah senyum menghiasi wajahnya. Ia kemudian mendekati Jaehyun dan mengusak pelan kepalanya. "Syukurlah, Jaehyun yang penuh semangat sudah kembali. Kalau sudah begini, aku akan melakukan apa saja supaya sub-unit kita bisa lebih sukses dari sub-unit lain."

Perkataan Jhonny seperti matahari musim semi yang mencairkan salju di musim dingin. Membuat hati Jaehyun begitu hangat, ia tidak bisa menahan senyumannya. Tidak bisa menahan kebahagiaannya karena Jhonny yang begitu sabar dan bijaksana. Ia benar-benar berutang budi kepadanya. "Terima kasih, Jhonny-hyung."

Satu kata dari Jaehyun dan disambut oleh senyum lebar dari Jhonny. Hanya satu simpul senyuman itu cukuplah membuat mereka menata masa depan yang matang dengan sub-unit mereka. Satu simpul senyum yang menjadi gong untuk mereka mencuri start, menuju kesuksesan.

...

Jaehyun membaringkan Taeyong dengan hati-hati di kasurnya. Ia lepas sepatu yang masih menempel di kaki Taeyong dan menyelimutinya agar Taeyong tidak kedinginan. Ia berusaha tidak membuat suara agar member lain tidak bangun. Ia berharap member lain tidak bangun, sehingga ia bisa memandang lama wajah manis Taeyong yang sedang tertidur. Jaehyun membelai lembut rambutnya, dahinya, wajahnya. Ia kemudian mengecup keningnya. Jaehyun tersenyum. Damai sekali.

Hidupku sudah di ujung tanduk... Aku berlari dari semuanya... Tapi kau mengajariku untuk tidak menyerah... Melawan demons dalam diriku dengan berani... Ketika aku menemukan diriku dalam kesendirian, aku berteriak sekuat tenaga... Berharap ada yang membawaku kembali ke jalan pulang... Kau pun berdiri di sana... Aku bertanya-tanya... Maukah kau menjadi penyelamatku?... Karena seumur hidupku aku telah mencari seseorang SEPERTIMU... Terima kasih, Lee Taeyong...

To Be Continued

Up next: Jaehyun x Doyoung VS Taeyong x Yuta

Penasaran? Tunggu chapter berikutnya!

A/N: haduuuh mianhee...aku buat jaehyun n taeyong jadi berantem gitu T.T maafkan maafkan *bow 90derajat semoga tidak membingungkan ya pembagian dialognya ^^ tp kalo masih ada yang bingung, silakan review untuk saya perbaiki :) terima kasih sudah yg review/fav/follow ch kemarin, saranghaae :* :*