Naruto selamanya milik bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

6934soraoi : Kalo ngak kuat silakan lambaikan tangan ke kamera hehehe. Suamiku emang dicintai banyak wanita (Tmnmu cewe kan?) hehe, itulah salah satu cobaanku *diguyur* hahahah

8Eight : Hihihi iya keputusannya ngak bisa dirubah tp semoga dari pilihanmu tadi ada semua yah aha. Kamu ganti nama? Mana bubur merah putihnya hehehe… wah, makasih loh ^^ aku juga doain semoga nilai mid semester kamu jg memuaskan ^^

Ddaudolmayan : Sudah donk ^^

Berry Uchiha : Namanya jg antagonis jadi emang ngeselin haha, maaf ya aku telat apdet huhuhu

Nuniisurya26 : Ywd biar ngak baperan mending kamu makan wafer aja, jadinya waferan (garing bgt yak aku)

KuroNeko10 : Makasih semangatnya loh ^^ makasih jg ya udah menemani aku dari chap 1 smpe skrg.

Wowwoh geegee : Wah jadi I-itachi sm kamu? Sejak kapan? Hehe… duh, kamu bisa ja sih bikin aku seneng.

Hikaru Sora 14 : Hahaha, Hiashi jadi the most chara paling ngeselin di Fic SH ya, haha dan death charanya di chap ini terungkap kok ^^

Rina442 : Maaf ya aku apdetnya ngak kilat. Lagi ngak ada ujan, makanya kilatnya jg ngak ada heheh

Angsa Putih : Sasuke kan laki2 perkasa hahaha.. ditunggu aja chap depan. Kemungkinan besar chap depan adalah chap akhir ^^

Herocyn Akko : Huhu maaf ngaret bgt. Wkwkwkkwk jadi itu ambeyen versi akko yak, pake kejang2 segala haha. Duh, bisa bgt deh ngerayunya, tapi ini raket bakal tetep manteng bagi cewe yg berani cium suami aku hahhaa

Hanazono yuri : Kemungkinan besar chap depan udh end ^^

Guest : Ini udah dilanjut ^^

Hyemi761 : Hihi Sakura disini ngak bisa Shanaro jadinya ngak bs berbuat banyak hehe, makasih ya udah fav and Follow juga ^^ maaf jg apdetnya telat.

Poke Forehead : Terima kasih ^^ kita liat aja endingnya chap depan ^^

Kagaaika Uchiha : Hihihi jgn2 kamu keasikan kencan sm Toru makanya ketinggalan deh hahaha. Makasih masih inget cerita ini ^^

Ikalutfi97 : Hihi Sakura sm siapa ya? Hmmmmm…. Kasih tau ngak ya hahaha (Sok misterius gt haha)

Kiki kim : Hihihi, maap telat apdet.

Nikechaan : Aku ganti air matamu dgn apdet chap 20 (Padahal mah telat apdetnya jg) hehe

Nomi Uchiha : Saya berekspresi klo baca ripiu, klo pas ngetik sih biasa aja hehe. Hooh mending buat aku kan Sasukenya haha, crt lain sih ada cm gtw mana dulu yg mau dikerjain. Rasanya pengen menantang diri sendiri bikin romens hehe.

Arisahagiwara chan : Di chap ini muncul kok death charanya, tapi masih ada lagi.. kan death charanya banyak haha

Nurulita as lita san : Iya, kemungkinan chap depan ending. Makasih semangatnya ^^

Dinda Adr : Hehehe kita liat chap depan aja endingnya sad or happy ^^

Yoktf : Sip, makasih ya ^^

Ciheelight : Kayanya dia ngak mati di gigit Hiu deh, tapi … baca aja chap ini hahaha.

Yuuto Tamano : Terima kasih. Jadi dari beberapa artikel yang aku baca, dari zaman ke zaman shogun juga berubah fungsi dan memang yang paling terkenal adalah era keshogunan Tokugawa yang akhirnya menjadi pemimpin tertinggi saat itu. Aku bacanya aja smpe pusing :D bahkan smpe pengen nangis karena mumets sekali hahaha. Chap depan kemungkinan adalah chap akhir, semoga masih bikin penasaran hehe

Teeeneji : Jadi pas kematian Fugaku, Itachi masih berumur sekitarab 15-16 tahun. Dan sekarang Sasuke dan Sakura umurnya sama sekitaran 20-21, jadi umurnya Itachi tinggal ditambah aja sm umurnya Sasusaku yg skrg hehe.

Hotarubi chan : Hihih bener, aku jg ngerasa kok jadi Sasuke yg punya jurus bacot no jutsunya naruto yak haha,. Iya, aku juga sedih SH mau berakhir hhuhuuhu *nangis dipelukan Taka*

Istri Sasuke : Loh, loh, kamu bukannya Istri Sasuke *lirik nama kamu* kok jadi istri adiknya Taka sihm hayo kamu selingkuh ya hahaha. Terima kasih, aku seneng klo kamu suka alurnya hehehe

Fansanime : Kita liat aja chap depan ya ^^

Neko : Hihi, liat chap depan ya ^^

HD : Hehehe, ya diliat aja nanti siapa yang kebagian death chara ^^

Uchiha dewi : Terima kasih banyak. Nih aku poke lewat balesan ripiu aja ya hehe

The DeathStalker : Hihi, iya kmn aja? Sibuk bgt nih ^^ Hohoho drtd banyak yg bilang jadi istrinya Itachi loh, kira2 kamu istri yg keberapa? Heheh

Pinktomato : Sudah lanjut ^^

Druella wood : yg gregetan memang lebih enak hehe

Hinasasuheart : Ini udah lanjut. Maaf ngak bisa ngasih tau lewat FB ^^

Guest : Sip ^^

Lylia Kiryu : Mungkin di chap ini jg bgtu hahaa

Dianarndraha : Sipppp ^^

Kura cakun : Hehehehe, duh, aku bingung jawabnya, cm bisa bilang maaf, adegan romensnya di chap ini jg ngak ada. Maaf ya ^^

Darkcrowds : Iya Kushinanya disini kalem haha, aku jg nunggu video konsernya OOR hahaha

Eysha Cherryblossoms : Hahah biar greget kan jadinya klo di stop disitu haha. Begitulah kadang manusia klo sudah berambisi (Aku mulai sotoy)

Baekhyunsaranghaeheni : Hihi udah terlanjur pake kata bersambung dari zaman dulu kala haha, klo TBC kan cocoknya klo pake bhs inggris :p

KarinNU95 : Ditunggu aja chap depan ya ^^

Yuliita : salam kenal juga ^^ makasih ya buat ripiunya. Masa sih? Kayanya romensya di Fic ini ngak banyak deh hehe

Cherrysand1 : Makasih udah ripiu ^^

Makasih selalu buat ripiu kalian. Bersabar dikit lagi ya. ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Diam. Hanya itu yang Naruto lakukan ketika Hiashi masih tertawa penuh kemenangan. Bersuka-cita karena ayah dan anak yang sama sekali tidak bisa berkutik padanya. Namun bukan berarti mereka diam yang benar-benar diam. Tanpa Hiashi sadari, Minato dan Naruto yang masih saling berpandangan kini sedang berdiskusi mencari jalan keluar dari keadaan ini.

Jika menyerang salah satu prajurit tidak bisa mereka lakukan karena ancaman Hiashi. Maka yang bisa mereka lakukan bukankah menyerang Hiashi sendiri? Tidak ada bunyi ancaman mengenai penyerangan dirinya, yang ada hanya sebuah perintah bagi Minato untuk melindunginya.

"Naruto, kau paham?" tanya Minato.

"Tapi aku tidak mungkin bisa mendapatkan celah jika kau yang menjaganya," jawab Naruto tidak yakin, "Bukankah ini sama saja dengan mustahil?" tanyanya ragu.

Pria kuning itu sadar akan tingkat kekuatannya dengan Minato. Sangat jauh berbeda. Bahkan dalam sesi latihan, Naruto belum pernah satu kali pun menang melawan ayahnya. Jadi, bagaimana ia bisa mengikuti rencana ayahnya?

Minato tersenyum, "Lakukan saja. Pikirkan bagaimana caranya kau bisa membuat celah."

Minato pun menepuk pelan bahu putranya, "Bukankah kaubilang, seorang ayah juga harus percaya pada anaknya?" Lalu senyuman lembut itu tercipta kembali, "Aku pun sebaliknya. Jadi percayalah, karena aku percaya padamu."

Naruto mengerutkan alisnya. Mengapa ayahnya masih bisa tersenyum di tengah-tengah kondisi seperti ini? Namun karena perlakuan dan perkataan Minato barusan, ada perasaan tenang yang menghinggapinya. Sebegitu percayakah Minato padanya? Sebesar itukah kepercayaan Minato terhadap dirinya?

Lagi pula Minato benar. Cara ini patut untuk dicoba. Setidaknya lebih baik mencoba daripada hanya diam, benar kan?

Wajah Minato kini berubah serius setelah Naruto mengangguk—menyetujui idenya. Sekarang semuanya bergantung pada Naruto. Apakah dia bisa mendapatkan celah dari pertahanan kuat Minato?

Dengan segera Naruto melancarkan serangan pertamanya. Dentingan besi yang terdengar dekat membuat suara tawa Hiashi terhenti. Matanya menatap tak percaya bahwa Naruto baru saja kembali mencoba menyerangnya, meski Minato berhasil menangkisnya.

Namun Naruto tidak berhenti begitu saja. Ia terus melancarkan serangannya secepat yang ia bisa. Memanfaatkan segala ruang yang ada. Jika sebelumnya ia menyerang dari depan, maka serangan keduanya ia fokuskan ke sisi yang lain. Celah. Itu yang Naruto cari, meski ia belum bisa mendapatkannya.

Minato jelas bukan lawan yang mudah. Kecepatannya sudah pasti berada di atas Naruto. Di sela-sela serangannya Naruto terus menganalisis, menghitung kecepatan serta ketepatan serangannya.

Naruto melompat mundur. Pandangan dua pasang mata biru tidak juga terlepas dan anehnya, saat ini Minato menampilkan senyuman bangga. Begitupun tatapan matanya. Jujur saja, Naruto malah merasa kesal mendapat perlakuan itu. Apa ayahnya tidak tahu kesulitan apa yang sedang ia alami saat ini? Tidak tahukah ini terlalu sulit? Bagai ada sebuah beton hinggap di punggungnya. Terlalu berat, atau mungkin hampir mustahil untuk terus ia pikul.

Semula Hiashi tidak menyukai apa yang sedang Naruto lakukan sekarang. Namun karena Minato yang terus berhasil melindunginya, perlakuan atau serangan Naruto menjadi lelucon yang menyenangkan untuk ia tonton. Perasaan terancam yang sempat datang segera berganti menjadi kelucuan. Terlebih wajah serius Naruto yang hampir terlihat putus asa untuk menembus pertahanan Minato. Rasanya sangat sayang untuk ia lewatkan begitu saja. Karenanya, ia tidak mengeluarkan ancaman atau perintah pada para pasukannya.

Toh, Minato sendiri terlihat serius menjalankan perintahnya. Jadi sepertinya tidak ada yang perlu ia risaukan. Dan lagi, hal ini bisa menjadi satu keuntungan untuknya. Tenaga mereka akan terkuras dan jika sudah benar-benar dilanda kelelahan, bukankah itu menjadi saat yang tepat untuk melenyapkan keduanya?

Hinata melihatnya. Senyuman licik Hiashi yang tiba-tiba muncul, di mana kedua matanya terfokus menatap pertarungan ayah dan anak tersebut. Dan Hinata tahu arti senyuman itu. Ada rencana licik yang telah Hiashi persiapkan. Pria ini benar-benar mengerikan. Pria ini, yang ternyata adalah ayahnya.

"Aku tidak pernah menyangka kau orang yang seperti itu," ucap Hinata tajam.

Senyuman Hiashi lantas hilang diiringi kepala yang bergerak menoleh pada Hinata.

"Bagaimana kau bisa hidup dengan tenang selama ini?" Kali ini Hinata melempar pertanyaan. Menatap garang Hiashi.

"Diamlah. Kujelaskan pun kau tidak akan pernah mengerti."

"Apa kau tidak memiliki perasaan layaknya seorang manusia? Sebegitu pentingkah arti kekuasaan untukmu, Tou-san?!"

Hiashi pun berbalik. Berhadapan dengan putri yang baru saja meneriakinya. Pertanyaan yang terdengar seperti umpatan bagi Hiashi.

"Jangan mencoba untuk menasehatiku. Kau sendiri sudah merasakannya 'kan? Bagaimana rasanya semua orang menundukkan kepalanya ketika kau lewat. Bagaimana satu perintah yang terlontar dari mulutmu tidak bisa dibantah oleh mereka. Bagaimana sebuah permintaan yang kauajukan akan dengan segera mereka laksanakan. Kekuasaan itu, kau bahkan menikmatinya, bukan?"

Seperti ada bara api yang menyala di dalam tenggorokan Hinata. Panasnya menyebar, memacu pelupuk matanya untuk kembali menggenangkan air yang akhirnya terjatuh. Bedanya kali ini, bukan hanya kesedihan. Bukan hanya rasa sakit yang memacu air mata Hinata terjatuh. Namun ada rasa muak, ada rasa jijik dan besarnya rasa kesal atas ucapan ayahnya barusan.

"Memangnya karena siapa kau bisa mendapatkannya jika bukan karenaku."

Pria yang sepertinya sudah tidak memiliki hati. Ayah, yang selama ini sangat ia kagumi.

"Aku tidak pernah menginginkannya," ucap Hinata dengan suaranya yang telah berubah serak.

"Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu. Tapi, apa peduliku?"

"Cukup! Hentikan! Kau—" Dan akhirnya isakan pertama keluar dari mulut Hinata, "—kau bukan seperti Tou-san yang kukenal. Kau menakutkan. Berhenti, kumohon … kembalikan Tou-san-ku. Kembalikan!"

Kepala Hinata tertunduk lesu. Kedua matanya terpejam, di mana air mata itu semakin mengalir deras.

"Kembalikan Tou-san-ku! Tou-san yang aku banggakan. Tou-san yang aku sayangi. Kumohon. Kembalikan!"

Rahang Hiashi mengeras. Matanya masih menatap tajam pemandangan di hadapannya, rengekan putri tunggalnya. Ada keanehan, Hiashi menyadari itu. Namun hatinya terlanjur membatu. Tidak bisa mundur lagi, itulah kalimat yang terus berdengung di kepalanya.

"Berhentilah melakukan hal yang sia-sia," ucap Hiashi dingin.

Mendengar itu Hinata pun mengangkat kepalanya. Kedua mata yang akhirnya kembali saling menatap. Namun tatapan mata Hiashi kali ini jauh lebih dingin. Seolah benar-benar tidak pernah ada kehangatan di dalamnya. Tatapan yang baru kali ini Hinata temukan dari kedua mata ayahnya.

Sebegitu kejamkah ayahnya?

"Aku tidak akan pernah mundur."

Setelahnya Hiashi memutuskan kontak mata mereka. Mengalihkan pandangannya sejenak, sebelum akhirnya kembali menatap tajam sepasang mata Hinata yang masih menangis.

"Pria itu tidak pernah ada. Sosok pria yang kaubanggakan dan yang kaukagumi, hanya ada dalam mimpimu. Terimalah kenyataannya, seperti inilah Tou-san-mu," ucapnya tegas.

"Tou-san …." Panggil Hinata lirih ketika tubuh Hiashi berbalik, mengakhiri perbincangan itu.

Isakan tangis itu kembali terlantun. Hinata sadar, ucapannya tidak akan bisa membubarkan keinginan kuat Hiashi. Keputusan bulat itu tidak dapat diubah lagi. Kemudian terlintaslah satu pertanyaan di benaknya, apakah memang hanya "itu" satu-satunya cara untuk menghentikan Hiashi?

Jika iya, siapkah dirinya? Siapkah Hinata untuk kehilangan ayahnya?

[ Di tempat Sasuke ]

"Sepertinya tidak ada cara lain. Apa aku harus membunuhmu agar kau berhenti menghalangiku, Otouto?" tanya Itachi penuh keseriusan.

"Lakukan! Karena aku tidak akan berhenti …" jawab Sasuke yang terdengar seperti tantangan, "… sampai kau mengerti alasanku," sambung Sasuke yang semakin mencengkram erat pergelangan kaki Itachi.

Mendengar ucapan itu, entah mengapa tiba-tiba tangan Itachi membeku. Niat besarnya yang telah susah payah ia kumpulkan untuk menebas Sasuke seketika terlupa.

"Kau sendiri yang mengatakannya padaku, Itachi. Alasan mengapa Tou-san mengambil jalan itu? Mengapa ia mati-matian menolak keputusan Kaisar Haruno? Kau tahu 'kan?"

"—Keinginan kuat tou-san untuk melindungi bangsa ini dimanfaatkan penuh oleh pria itu, hingga akhirnya tou-san pun menyetujui ide itu."

Sebersit kalimat itu pun muncul di benak Itachi. Kalimat yang ia lontarkan ketika menceritakan rahasia kelam ayahnya pada Sasuke.

"Tujuan utamanya semata karena ia ingin melindungi apa yang ia cintai. Negara ini. Ia ingin melindunginya, Itachi. Namun sekarang lihat apa yang sudah kaulakukan?"

Bagai sebuah hipnotis. Itachi pun terseret menuruti ucapan Sasuke. Mata hitam itu kini menatap sekeliling.

Pertempuran. Pertumpahan darah. Kematian. Jeritan penuh kesakitan.

Dan tiba-tiba ia seakan tersedot ke masa lalu. Di mana pemandangan yang tersaji di depannya adalah pemandangan persis yang terjadi saat itu. Ketika tepat depannya, sosok ayahnya sedang mengayunkan pedangnya. Menebas setiap orang yang menghalangi langkahnya.

Pria yang ternoda oleh darah.

"Kau menghancurkannya. Dengan cara sama."

Napas Sasuke terdengar kacau. Butuh usaha besar untuk mengeluarkan suara dengan nada kencang dalam kondisinya yang seperti ini.

"Dan caramu adalah yang terburuk, Itachi," lanjutnya dengan penuh penekanan, "Karena kau dengan mudahnya menyerahkan kekuasaan pada orang itu, hanya karena dendammu bisa terbayarkan! Semudah itu, ketika Fugaku Uchiha saja mati-matian untuk melindunginya. Itulah mengapa aku mengatakan melakukan ini karena Tou-san. Aku ingin melindungi apa yang ia cintai. Aku tidak ingin kekuasaan itu jatuh ke tangan Hashirama."

Sasuke pun menyeringai, "Kita tidak berbeda. Aku pun merasakan dengan jelas perasaan benci dan dendam yang kaumiliki. Bukan hanya dirimu, aku pun memilikinya hingga detik ini. Itulah sebabnya aku juga tidak menginginkan Hyuuga berengsek itu memenangkan peperangan ini. Aku punya jalanku sendiri … aku melakukan ini untuk diriku sendiri, itulah alasannya, Itachi."

Pemandangan berikutnya yang tergambar di depan Itachi adalah sosok ayahnya dengan pedang menusuk punggungnya. Darah itu pun menetes dari ujung pedang yang keluar dari dadanya. Sebilah pedang yang baru saja dihunuskan oleh pria yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Hiashi Hyuuga, menunggu hingga Fugaku berhasil membunuh Kizashi Haruno. Lalu dengan mimik wajah penuh sandiwara, ia memainkan perannya dengan sangat baik. Memutar-balikkan semua kebenaran yang ada.

Kekejaman yang terjadi di depan matanya. Mimpi buruk yang tidak pernah bisa lenyap. Tidak pernah bisa ia lupakan, semudah itu. Kejadian yang telah mengubah hidup dan juga perasaannya.

"Tidak sama," sahut Itachi, "Kau tidak memiliki kebencian yang aku miliki."

Lalu kenangan itu berlanjut, gambaran api yang berkobar. Melenyapkan orang tersisa yang ia miliki. Sekali lagi, di hari yang sama. Ia telah kehilangan orang-orang yang ia cintai. Kenyataan yang menjadi mimpi panjang di seluruh sisa hidupnya.

Sekali hentakan, cengkraman Sasuke terlepas. Tubuh Itachi pun berbalik, wajahnya sedikit tertunduk, mempertemukan lagi kedua pasang mata hitam yang gelap dan dalam.

"Bagaimana kau begitu mudahnya melupakan kenyataan itu? Bagaimana bisa ketika tidak ada lagi yang tersisa?"

Sudut bibir Sasuke sedikit tertarik. Tidak menghasilkan sebuah senyuman, namun ada ekspresi senang yang coba ia tunjukkan. Meski ia sendiri sedikit ragu, "Kau melupakannya … yang tersisa … "

Kedua alis Itachi hampir bertemu, tampak ia berpikir tentang apa yang sebenarnya ia lupakan? Apakah ada yang terlewati?

"… adalah kita. Kau dan aku."

[ Di tempat Naruto]

Naruto melompat mundur. Serangannya kembali dihalau dengan mudah oleh Minato. Mata birunya kembali mengamati, berpikir keras agar serangan berikutnya berhasil mengenai targetnya. Peluh pun menetes dari pelipisnya.

Memang tidak ada luka yang didapat oleh Naruto. Namun rasa lelah yang mulai datang tidak bisa ia tutupi. Padahal Naruto sudah mati-matian memberikan serangan terbaiknya, tapi mendekati Kaisar pun tidak bisa ia lakukan. Ternyata ucapan orang-orang memang benar, bahwa ayahnya adalah orang yang kuat. Lihat saja, tidak ada raut kelelahan seperti yang terjadi pada Naruto.

"Sudah menyerah?" tanya Minato sembari tersenyum kecil.

Naruto mendegus kesal, "Kalau aku menyerah di sini kau pasti akan menghukumku."

"Mengapa rasanya aku terdengar seperti ayah yang kejam."

"Apa kau tidak sadar? Kau baru saja memberi tugas tersulit di dalam hidupku. Dan itu bisa dihitung kejam." Nada bicaranya sedikit meninggi. Mau bagaimana lagi? Naruto memang benar-benar kesal pada Minato.

"Seriuslah, Naruto. Kau belum mengeluarkan semua kemampuanmu. Tunjukkan padaku."

Dengusan itu terdengar lagi, yang kemudian disusul oleh langkah kaki Naruto. Bentrokan kedua benda tajam itu kembali tak terelakkan. Sepertinya kali ini Naruto berhasil mendesak Minato. Kecepatan serangan Naruto bertambah. Tebasan pertama berhasil dibuang oleh arah pedang Minato ke sisi kanan, membuat tubuh Naruto berpindah mengikuti arus.

Flashback.

"Naruto, aku memiliki rencana," ucap Minato tiba-tiba, "Seranglah lagi Hiashi."

"Tapi, barusan kau sendiri menghentikanku?" tanya Naruto kesal, "Lagi pula, jika aku melakukannya maka Kaa-san akan …."

"Dia tidak akan melukai Kushina jika aku menghentikanmu. Jadi seranglah dan temukan celah hingga kau bisa melukainya."

Naruto tidak mengubrisnya, hanya kerutan pada kedua alisnya yang menjadi respon atas ucapan, atau mungkin perintah yang baru saja diberikan oleh Minato.

"Kita akan membuatnya lengah hingga penjagaannya melemah. Terutama jauhkan orang-orang yang berada di sampingnya tanpa membuatnya curiga. Setidaknya kita bisa mengulur waktu hingga para divisi datang. Lalu kemudian kita putar balikkan keadaan. Sampai saat itu tiba seranglah seperti kau berniat untuk membunuhnya," tambah Minato penuh keyakinan.

Flashback End.

Keduanya terus berpindah. Bergerak tak menentu sehingga tanpa sadar mereka semakin mendekati Hiashi. Minato melangkah mundur karena dorongan kuat Naruto saat pedang mereka saling beradu. Punggung pria itu kini tak jauh berada di depan Hiashi.

Minato menahan, kemudian memberi perlawanan—mendorong kuat. Kedua pedang itu pun terpisah. Naruto kembali menyerang. Menebas kepala Minato. Pria itu mengelak. Serangan itu gagal, namun ujung pedang itu bergerak di depan mata Hiashi.

Embusan angin yang tercipta bahkan mampu menerpa wajahnya, dan menerbangkan beberapa helai rambutnya. Bayangkan bagaimana jika pedang itu bergerak di lehernya?

Tindakan Naruto barusan sukses membuat Hiashi ketakutan setengah mati.

Pertarungan itu masih berlanjut. Minato terus saja menghindar dengan melangkah mundur. Akibatnya Hiashi pun ikut berpindah menjauh. Pria itu tidak lagi berdiri di depan Hinata. Kakinya melangkah cepat berpindah ke sisi kiri hingga tercipta jarak yang cukup jauh dari posisi sebelumnya.

Efek serangan pertama berhasil menjauhkan beberapa pasukan yang tidak dapat mengikuti Hiashi karena terhalang oleh pertarungan sengit mereka. Kaki Naruto yang baru saja mundur beberapa langkah, segera kembali melesat maju. Membuat Minato terus mundur. Begitu juga dengan Hiashi.

Serangan yang terus dilancarkan oleh Naruto tanpa sadar membuat ketiganya bergerak. Keduanya—Minato dan Hiashi sama-sama saling menghindar. Bahkan salah satu serangan itu berhasil menggores tipis lengan kanan Minato. Membuat Hiashi semakin bergidik ketakutan.

Ketiganya kini tengah berada tepat di tengah ruangan. Dan sesuai dengan rencana Minato, tidak ada lagi orang-orang berpakaian hitam yang mengelilingi Hiashi. Semua orang yang berada di dalam ruangan terlalu terpaku oleh pertarungan antara ayah dan anak tersebut. Suasana mencekam yang menguar membuat semua pasukan tercengang.

Mereka berhasil melemahkan kesigapan para pesuruh Hiashi.

"Kenapa kau tidak menyerangnya, Minato?" tanya Hiashi yang kini berdiri di belakang Minato. Napasnya sedikit terengah. Rupanya sabetan pedang yang beberapa kali tertangkap dekat oleh kedua matanya, semakin menghantuinya. Memicu kuat rasa takutnya. Tentu saja, pria itu takut kematian datang padanya? Siapa yang tidak?

"Perintahmu hanya melindungimu," jawab Minato tenang.

Hiashi berdecak kesal. Minato memang pria yang kelewat pintar. Karenanya Hiashi tidak bisa membantah kebodohannya sendiri. Perintahnya memang harus segera ia ubah.

"Kali ini lindungi aku dan segera bunuh Naruto! Silakan kaupilih, bunuh Naruto atau Kushina yang aku bunuh?" ancam Hiashi dengan seringai licik yang tidak bisa Minato lihat.

Datangnya serangan Naruto mau tidak mau menghentikan perbincangan yang terjadi di antara Hiashi dan Minato. Dengan begitu, tidak juga ada jawaban atau sekadar tanggapan yang Minato berikan.

Baginya, ancaman Hiashi barusan adalah sebuah pertanda bahwa rencananya harus segera ia realisasikan. Itu adalah ujung pintu yang harus ia capai.

Minato tidak lagi hanya menghindar. Ia ubah alur gerakannya. Kali ini ia berikan juga serangan pada Naruto. Perubahan itu cukup mengejutkan Naruto pada awalnya. Namun sepertinya Naruto menyadari ayahnya tidak mungkin semata melakukan perubahan tanpa sebuah alasan. Dan Naruto meyakini bahwa alasannya adalah sebuah ancaman.

Kekuatan Minato dalam tahap serius cukup menciutkan nyali Naruto. Apa ada kata lain lagi selain mustahil yang bisa ia ungkapkan pada misinya sekarang? Kondisi ini benar-benar menyulitkannya. Tapi …

"—jadi percayalah, karena aku percaya padamu."

"Huh!" Naruto mengembuskan napasnya kuat. Benar. Apa yang harus ia ragukan? Bagaimana ia bisa menang jika ia meragukan dirinya sendiri? Sedangkan ayahnya sangat percaya padanya. Sial, kenapa ia bisa memiliki ayah sekeren itu?

Seakan mendapat sumbangan semangat. Tenaga maupun kecepatan Naruto pun bertambah. Tidak ada lagi keragu-raguan. Kedua pria itu sama-sama tidak berniat untuk mengalah, karenanya beberapa serangan tak bisa terelakkan. Namun hanya luka ringan yang mereka dapati.

Kini posisi mereka sangat dekat. Posisi yang pas untuk menyerang. Naruto pun menghunuskan pedangnya, yang ia tahu pasti dengan mudah akan dihalau oleh Minato. Benar. Seharusnya ini adalah serangan yang tidak sulit untuk dihindari, tapi mengapa?

Mengapa pedang Naruto kini menebus dada Minato?

Tidak hanya itu, Minato kini menarik pedang itu hingga ikut menembus dada Hiashi. Pria yang berdiri tepat di belakangnya. Pria yang tidak menyangka bahwa Minato akan menerima serangan Naruto. Mengorbankan dirinya sendiri. Berbuat nekat dengan memanfaatkan kelengahan Hiashi.

Namun sepertinya bukan hanya Hiashi, tapi semua yang berada di dalam ruangan itu pun tidak pernah membayangkan tindakan Minato. Termasuk Naruto, putranya sendiri. Jadi dari awal inikah rencana ayahnya?

Ujung katana Naruto keluar dari punggung Hiashi. Darah pun menetes dari sana, termasuk dari pangkal katana-nya. Cairan merah kental yang berasal dari tubuh Minato pun melumuri tangannya.

"To-tou-sa-n … " Sepasang mata biru itu melebar. Menatap tak percaya. Bukankah ia baru saja membunuh ayahnya sendiri?

Tenggorokannya serasa tercekik. Matanya panas. Dan akhirnya Naruto meneteskan air matanya tanpa sadar. Jatuh begitu saja. Seketika ia pun bergegas untuk mencabut pedangnya, namun tangan Minato menghalangi niatan tersebut.

Pria itu tersenyum dengan wajah menahan sakit, "Si-sanya ku-serahkan … padamu."

Lalu Minato menggerakkan pedang Naruto agar lukanya semakin melebar. Erangan penuh rasa sakit itu tidak hanya meluncur dari mulut Minato tapi juga dari mulut Hiashi. Tangan Naruto yang masih memegang handle katana-nya terasa kaku. Serasa lumpuh, tidak bisa bergerak. Tangan itu terdiam ketika Minato mengambil alih kendali katana-nya.

Tepat di depan matanya. Minato, ayahnya terus menjerit kesakitan.

"Be—bereng-sek," umpat Hiashi.

Kali ini, Hiashi-lah yang tidak bisa melihat seringai di wajah Minato, sebelum akhirnya kedua tubuh itu terjatuh.

Helaan napas panjang terdengar dari mulut Naruto. Pria yang kini menatap kedua tangannya yang telah berubah warna. Mata biru itu pun bergerak ragu. Mencoba menatap sosok Minato yang tergeletak tepat di bawah kakinya. Kedua matanya terpejam.

Kedua lutut Naruto membentur lantai dengan keras.

"To—" Ia menarik napasnya lagi sembari meletakkan kedua tangannya, ragu-ragu meraba luka di tubuh Minato. Lalu mengembuskan udara itu kuat-kuat diiringi air mata yang tidak bisa ia hentikan.

Ada kemarahan yang tidak bisa Naruto keluarkan. Dan perasaan itu semakin membuatnya sesak. Minato telah menipunya mentah-mentah. Percuma saja mengutarakan semua kekesalannya. Pria itu sudah tiada.

Semua mata yang ada di sana menatap seakan lupa untuk berkedip. Kushina bahkan perlu beberapa detik untuk menyadari, hingga akhirnya ia meronta meski tidak ada ucapan yang bisa keluar dari mulutnya. Namun isakan tangis itu tidak bisa disembunyikan. Menjadi melodi kesedihan di dalam ruangan itu.

Tidak berbeda dengan Kushina. Hinata pun telah meneteskan air matanya. Dan akhirnya jawaban pertanyaan itu pun telah ia dapatkan.

Siapkah Hinata untuk kehilangan ayahnya?

Jawabannya adalah tidak. Hatinya tetap merasakan sesak. Merasa sakit. Seburuk apapun. Seberengsek apapun. Pria itu, pria yang telah menutup mata selama-lamanya adalah ayah kandungnya. Tidak bisa berubah. Darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah pemberiannya. Hidupnya juga merupakan karenanya.

"Haah … To-tou-san …" panggil Hinata lirih. Perih di sudut bibirnya tidak lagi terasa. Meski air mata terus membasahi. Mengalir dan jatuh.

Lututnya lemas. Bahkan tidak lagi bisa menopang tubuhnya. Hinata jatuh terduduk setelah ia memerintahkan kedua pasukan Hiashi untuk melepaskan tangannya. Dengan penuh ketegasan ia pun memerintahkan seluruh pasukan untuk menurunkan senjata mereka.

Sudah berakhir, ancaman Kaisar sudah tidak berlaku lagi.

Hinata pun mencoba untuk melangkah. Berjalan mendekati sosok pria yang tergeletak tak berdaya. Isak tangisnya bagai pengiring langkahnya, dan itu pula yang membuat Naruto menoleh.

Kedua pasang mata yang sama-sama meneteskan air mata itu kini bertemu.

"Tidak mau! Aku tidak suka rambut panjang! Kalau begitu besok aku akan memotong rambutku karena laki-laki itu berambut pendek, dan mulai besok aku akan membuat Tou-san bangga padaku. Aku akan menjadi anak laki-laki yang diinginkannya. Kau pasti akan membantuku 'kan?"

Naruto mengangguk pelan, "Iya. Aku akan membantu, jadi jangan menangis lagi."

Kepala kuning itu lantas tertunduk, semakin tenggelam dalam lautan kesedihan.

Entah kata apa yang cocok untuk mengambarkan perasaan Naruto sekarang. Kedua tangan yang berada di atas tubuh Minato pun mengepal erat, membuat pakaian yang telah ternoda oleh darah itu menjadi kusut—tak beraturan, sama seperti perasaannya. Rahangnya pun ikut mengeras. Salah satu usahanya untuk menahan perih.

"Maaf … Hinata, maafkan aku," ucap Naruto saat Hinata duduk tepat di samping tubuh Hiashi.

Mereka kini saling berhadapan. Terpisah oleh dua tubuh ayah mereka yang sudah tidak lagi bernyawa.

Hinata menatap sekilas wajah Hiashi. Menatapnya dalam untuk terakhir kalinya. Tangannya mengelus tubuh Hiashi dari wajah terus turun sampai pada bagian di mana luka itu bersarang.

"Maaf." Dan kata yang masih terucap dari pria di hadapannya, membuat tangan Hinata berhenti. Terdiam sejenak, kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali berjalan. Meninggalkan jasad ayahnya. Menghampiri kemudian memeluk Naruto yang masih menunduk.

"Ini bukan salahmu, Naruto."

Melingkarkan tangannya di bahu Naruto yang bergetar karena menahan isak tangis. Perempuan yang kini duduk di sisi kiri Naruto. Menyandarkan kepalanya di balik leher pria kuning itu.

Pria yang memiliki luka paling besar.

"Bukan salahmu," ucap Hinata dengan suara seraknya.

Keduanya menangis. Tidak bisa Hinata pungkiri perasaannya kali ini seribu kali lebih sakit, menyadari benar bahwa pria dalam pelukannya juga menangis.

Pria itu … terluka. Naruto, pria yang selalu menjaganya, sedang menderita.

Tidak ada yang harus disalahkan atas semua yang terjadi. Semuanya, kejadian yang telah merenggut nyawa ayah mereka. Bukanlah kesalahan siapa-siapa.

"Maafkan aku, Naruto."

Bukankah seharusnya Hinata yang mengatakan kalimat ini?

[ Di tempat Sasuke ]

"Kitalah yang tersisa," lanjut Sasuke.

"Juga … kenyataan itu memang tidak bisa kita lupakan. Kau dan aku, masing-masing dari kita tidak mungkin bisa melupakan mimpi menakutkan itu … tapi kita bisa meninggalkannya, Itachi—" Sasuke menelan ludahnya. Membasahi tenggorokannya yang kering dengan kepala yang menggeleng cepat. Kepalanya kembali mendongak. Sasuke membiarkan beberapa detik berlalu hanya dengan bertatapan dengan Itachi. Setelah ia bisa mendapatkan keyakinan barulah Sasuke kembali berucap.

"—Lalu ikutlah denganku, dengan itu kita bisa membayar masa di mana kita telah hidup terpisah. Kita bisa hidup selayaknya kakak dan adik. Mencari, ah—bukan, kita bisa membuat kebahagian seperti apa yang Kaa-san inginkan. Jadi, hentikanlah semua ini … Nii-san."

"Ha .. HAHAHA … " Suara tawa Itachi semakin keras hingga orang-orang yang berada di sekelilingnya menghentikan kegiatan mereka dan menoleh padanya.

Bagaimana Itachi tidak tertawa? Adik kecilnya baru saja membuat lelucon terbaik selama hidupnya. Bahagia? Mengapa adik kecilnya ini bisa mengatakan hal mustahil dengan begitu mudah? Memangnya dia tidak mengerti apa yang menjadi kebahagiaan dari orang macam dirinya?

Yah, orang macam dirinya. Orang yang menjadi penyebab kematian ibunya. Apa bisa ia menciptakan kebahagiaan dengan kedua tangannya?

Tangan yang telah ternoda.

"Kau sudah selesai?" tanya Itachi, kembali serius, "Karena sekarang giliranku."

Itachi berjalan mendekat. Tangan kirinya mencabut pedang Sasuke yang tertancap. Hal itu membuat Hashirama merasa ketakutan. Apakah Itachi bermaksud untuk mengikuti rencana Sasuke?

Senjata yang awalnya terfokus pada gerbang utama istana, kini telah berpindah haluan. Sasarannya telah mengarah pada Itachi.

Namun apa yang dilakukan Itachi membuat semua tercengang. Terlebih Sakura yang akhirnya meloloskan nama Sasuke ke dalam jeritan.

Tanpa ragu Itachi menancapkan kembali pedang Sasuke pada telapak tangan yang semula digunakan untuk menahan langkah kakinya. Ujung pedang itu kembali menusuk tanah, dengan menembus telapak tangan Sasuke.

Teriakan keras penuh rasa sakit itu meluncur dari mulut Sasuke. Namun hal itu tidak dipedulikannya, Itachi kini berjongkok. Menatap wajah adik kecilnya datar. Seolah tidak ada yang salah dengan yang baru saja ia lakukan.

"Akan kubiarkan kau hidup sekarang, untuk melihat cara yang aku pilih. Jalanku, yang jauh berbeda denganmu."

Bersambung.

Curcul :

Hai ^^

Yap, benar… death chara pertama adalah Minato. Hayo, siapa yang tebakannya benar? Dan kalau ada yang pertama, maka ada yang berikutnya donk. Jadi chap depan juga kemungkinan besarnya adalah chap terakhir. Kira-kira siapa selanjutnya yang menyusul Minato? Kayanya udah pada bisa nebak deh siapa orangnya ^^

Dan maaf aku telat apdet. Ya, ya, ya, mohon dimengerti saja ^^ Oya, aku mau promo ah, aku dapet hadiah Fic dari Hana judulnya "When a devil becoming angel" fic genre supranatural, silakan dibaca kalo berminat. Sakuranya baru nongol nanti di chap 2 (Gtw jg sih jalan crtnya gmn hehe).

Sampai jumpa di chap selanjutnya.

30 – 09 – 15

.

[U W] — Istri sah Taka, One Ok Rock :* —