Us Against The World

.

Osaka, Kema Sakuranomiya Park

"Yuta-ah, kenapa kau mengajakku ke sini? Aku sudah bilang ingin ke Kastil Osaka, kan?" keluh Taeyong saat mendapati Yuta duduk di salah satu bangku di pinggir jalan setapak.

"Kau ingin berjalan di bawah pohon sakura, kan? Sudah pasti Taman Kema ini yang terbaik. Lagipula Kastil Osaka sore begini pasti ramai oleh orang piknik, kau mau berjalan sambil bilang 'permisi-permisi'?"

Taeyong menghela napas, mencoba menuruti saran sahabat Jepangnya itu. Pandangannya memutar ke segala penjuru di taman itu. Kema Sakuranomiya Park, sebuah taman dengan konsep riverside-view, greenery, dan sakura-view. Taman itu dibangun di sepanjang aliran sungai Okawa dan merupakan salah satu tempat terbaik di Osaka, bahkan di Jepang, untuk melihat bunga sakura bermekaran. Lebih dari 5000 pohon sakura berjajar rapi di sepanjang aliran sungai.

Pengunjung dapat berjalan di jalan setapak sambil menikmati suara gemericik air dari sungai serta indahnya bunga sakura yang ditanam di kedua sisi jalan setapak. Membuat jalan setapak itu bagaikan karpet merah alami. Berjalan di bawah pohon sakura yang mekar di Jepang adalah impian Taeyong sejak dulu. Ia selalu dibuat terpana bagaimana kelopak-kelopak kecil itu berterbangan dengan indahnya mengikuti kemanapun angin membawanya.

Seolah beban dan masalah yang mengendap dalam hatinya ikut terbang tanpa meninggalkan bekas apapun.

Taeyong memejamkan matanya. Menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas sungai, dan menikmati suara ombak kecil dari aliran sungai di depannya.

"Ini pertama kalinya aku melihat ekspresi wajahmu yang jujur."

"Maaf?" Taeyong membalikkan tubuhnya, menemukan Yuta yang merebahkan punggungnya dan sedang memandang pohon sakura ke atas.

"Kau dan Doyoung benar-benar pandai memasang poker face selama showcase kemarin dan hari ini. Sungguh, kalian harusnya bisa tembus nominasi Oscar," ujar Yuta ironis.

Taeyong memicingkan matanya, "Kenapa Doyoung dibawa-bawa?"

"Jangan pikir aku tidak tahu masalah antara kau, Jaehyun dan Doyoung. Aku tahu kalian berusaha profesional, tapi berharaplah cuma aku yang bisa melihat ketegangan antara kau dan Doyoung."

Taeyong menatap sahabatnya datar, meskipun hatinya bergemuruh meng-iyakan perkataan Yuta. "Kau mengingatkan aku pada hal yang tidak ingin aku bahas sekarang."

"Hhhh ... Taeyong," Yuta menghela napasnya jengah, "bisakah kau melakukan satu hal untukku? Kurangi tsundere-mu yang semakin menjadi-jadi itu dan cobalah mengerti Jaehyun!"

"Jangan mulai denganku, Yuta."

"Ayolah, Taeyong. Kau bahkan tidak memberikan sepatah katapun saat kita berangkat kemarin. Apa kau lihat bagaimana wajah Jaehyun yang sudah seperti zombie?"

"Jangan melebih-lebihkan."

"Kau bahkan tidak mau mendengar penjelasannya dan membiarkan dia menangis sendirian. Anak itu ...," Yuta mengusap wajahnya, "apa kau tidak merasa Jaehyun menjadi begitu lembek sekarang?"

Taeyong menghembuskan napasnya, "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"

"Aku tahu anak itu selalu bersikap baik dan manis, tapi akhir-akhir ini yang bisa aku lihat dari perilakunya hanya pasrah dan ... entahlah. Sepertinya dia terlalu menekan egonya sendiri untuk menunjukkan perasaannya yang sebenarnya."

"Dan itu terjadi sejak kalian berpacaran," lanjut Yuta tegas. Taeyong melebarkan matanya, mencerna kata demi kata.

"Apa Jaehyun pernah marah padamu? Sekalipun, apa dia pernah berteriak padamu?" Yuta menegakkan posisi duduknya, menginterogasi Taeyong yang sekarang berubah panik.

"K-kau tidak menuduhku kalau aku yang membuat Jaehyun begitu, kan?"

"Selamat, kau tersangka utamanya," tutur Yuta tajam. Taeyong mendelik, memilih diam. Mendengarkan suara angin berhembus di antara mereka bersamaan dengan kelopak-kelopak sakura yang berhamburan di depan wajah mereka. "Kau ini terlalu keras padanya. Sifatmu yang dingin itu menjadi patokan Jaehyun untuk tidak sembarangan menyulut emosimu."

"Dia itu ... Jaehyun itu terlalu menyayangimu. Dia terlalu takut untuk menyakitimu, hingga dia mengorbankan emosinya sendiri demi menjaga perasaanmu. Apa kau tidak sadar itu?!"

Taeyong menunduk, menatap kosong jalan setapak di depannya, "Aku melihatnya berciuman dengan Doyoung kemarin."

"Dan dia menjelaskan padamu bahwa itu tidak disengaja, kan? Dia sudah minta maaf, kan? Dia juga meyakinkanmu kalau kau satu-satunya orang dihatinya, kan?" kata Yuta setengah berteriak.

Dan keheningan kembali menyelimuti mereka.

"YA! Lee Taeyong! Jangan diam saja!"

"Hhhhh ... terus sekarang apa yang harus aku lakukan?!"

"MINTA MAAF! Sekarang!"

"HAH?!" mata Taeyong membulat sempurna karena Yuta melakukan sesuatu di luar dugaannya. Tanpa angin tanpa apa, Yuta mengambil ponselnya dan menempelkan ke telinganya kemudian. Jelas ia sedang memanggil seseorang. Dahi Taeyong mengerut.

"Ah, moshi-moshi, iya Jaehyunie. Apa kau sibuk? Oh, tidak, ini ada seseorang yang mau bicara denganmu. Ya, ini dia," Yuta menyodorkan ponselnya di wajah Taeyong. Taeyong seketika tergagap.

"Ba-bakamoto! Kau—,"

"Yoboseo?" dan Taeyong melaknat Yuta karena menekan tombol speaker di mana ia dapat mendengar jelas suara Jaehyun, membuat Taeyong tidak bisa mengelak. Ia memijat keningnya dan memberikan death-glare kepada Yuta yang tidak mau kalah dengan memberikan seringai evil-nya juga.

Taeyong membalikkan tubuhnya, menopang dagunya di pagar pembatas. Matanya tertuju pada pantulan bayangannya di air sungai, "Ini aku."

Ada beberapa detik kosong sebelum suara di seberang sana menyahut, "T-Taeyong-hyung?!"

"Eoh. Kau sibuk?"

"Ti-tidak, hyung. Aku di studio untuk latihan lagu kami, sekarang sedang istirahat, kok. Hyung sendiri sudah selesai showcase-nya?"

"Iya, siang tadi."

"O-oh, begitu. Baiklah, hyung."

Taeyong menggaruk tengkuknya. Ini pertama kalinya ia merasakan atmosfir kecanggungan ketika ia bertelepon dengan Jaehyun. Ia mungkin akan tetap diam jika deheman Yuta di belakangnya tidak mengingatkannya perihal tujuan utama dari pembicaraan jarak jauh ini. Taeyong menghela napasnya.

"Jaehyun-ah, dengar, aku banyak berpikir sejak kejadian kemarin."

"Apa ... yang hyung pikirkan?"

"Aku melihat bagaimana Doyoung menyentuhkan bibirnya ke bibirmu. Dan aku juga melihat bagaimana kau sempat larut dalam ciuman itu. Waktu itu aku ...," kalimat Taeyong tercekat, sedikit tersengal, "aku seperti tersambar petir tepat dikepalaku."

"Aku benar-benar melakukan hal bodoh setelah itu, melemparmu dengan makanan, marah-marah tidak jelas, semua itu hanya untuk menutupi ... kecemburuanku," lirih Taeyong pada kata terakhir.

"Aku tahu selama ini aku tidak pernah bersikap manis padamu. Dibandingkan aku, Doyoung selalu baik dan memanjakanmu. Memberikan ciuman seperti yang Doyoung berikan padamu, aku bisa menjamin itu tidak akan pernah terjadi bahkan jika aku bertapa seratus tahun sekalipun," Taeyong tertawa miris.

"Perasaanku tidak menentu setelah itu. Selain cemburu, ada satu lagi yang rasanya lebih menusuk ... takut. Ya, aku takut ... dan khawatir. Aku takut kalau ciuman Doyoung berhasil memikatmu dan membuatmu meninggalkanku."

Taeyong menghela napasnya, "Aku benar-benar khawatir, kalau kau akan memilih Doyoung. Tapi, pada akhirnya kau malah mengejarku. Bahkan setelah aku mengasarimu, kau tetap berusaha menjelaskan bahwa akulah yang ada dihatimu. Dan kebodohanku masih saja menguasaiku hingga membuatku membohongi diriku sendiri, kalau aku begitu senang saat kau mengatakan itu."

"Maafkan aku, Jaehyun-ah," seiring kata itu keluar dari mulutnya, ada perasaan lega yang menjalar di hati Taeyong. Ia melunakkan sendiri hatinya yang sekeras batu. Ia tidak pernah mengira bahwa menelan harga diri untuk orang yang ia kasihi tidak akan meninggalkan penyesalan apapun. Ia pun semakin mantap melanjutkan.

"Maafkan hyung sekaligus kekasihmu yang idiot ini. Padahal kau selalu bersikap manis padaku, tapi aku selalu saja ketus."

"Aku menyayangimu, Jae. Maafkan aku tidak pernah bisa mengatakannya padamu, tapi aku ... percayalah, aku juga mencintaimu," Taeyong kembali memandang bayangannya di pantulan air sungai. Terlihat jelas wajahnya yang menyirat penuh kesangsian. Ia merasa bodoh karena tidak terlalu jujur dengan perasaannya sendiri kepada Jaehyun. Harusnya ia mengatakan kalimat itu lebih sering.

Karena beberapa hal memang diharuskan untuk disampaikan melalui kata-kata, termasuk perasaan.

"Hyung, aku benar-benar ingin memelukmu sekarang," ucap Jaehyun setelah terdiam agak lama.

"Ya, aku tahu, bayangkan saja kau sedang memelukku saat ini," lirih Taeyong mendamaikan.

Dan mereka memejamkan kedua mata hampir bersamaan. Membiarkan diam mengucap semuanya akan kerinduan satu sama lain. Hembusan napas yang mereka dengar dari speaker ponsel mereka masing-masing semakin menghanyutkan hati mereka, untuk lebih merasakan pelukan tak kasat mata yang sedang mereka lakukan saat ini.

Tidak ada dendam dan salah paham lagi. Semua melebur dengan indah seiring mereka membuka kedua mata mereka dan sama-sama menyungging sebuah senyum kelegaan.

"Dan, Jae...," Taeyong melanjutkan, "cobalah untuk bersikap egois sedikit. Sungguh, aku tidak keberatan kalau kau sekali-kali marah pada dinginku, protes pada ketusku, cemburu padaku, atau mengomel pada tsundere-ku. Kau harus menunjukkan semua itu sekali-kali agar aku tidak kelewatan padamu. Oke?"

Taeyong mendengar tawa kecil di sana, "Aku tidak menyangka kalau hyung mengakui hyung itu tsundere. Ini benar-benar kemajuan."

"Jangan meledek, dasar bocah."

"Tapi, serius, hyung. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa tiba-tiba berkata seperti ini? Hyung bahkan tidak membalas puluhan pesan yang aku kirim sekalipun."

Taeyong tertawa kecil. Ia melirik di balik bahunya yang menemukan Yuta sedang berbaring di bangku taman, "Anggap saja ada orang konyol menasehatiku."

Jaehyun bernapas lega di sana, Taeyong juga membayangkan mungkin Jaehyun tersenyum setelah itu. Ada hening di antara mereka lagi sebelum Jaehyun menyahut, "Hyung, terima kasih." Taeyong yang mendengarnya refleks memejamkan matanya dan menggumam kecil sebagai jawaban.

"Dan aku ingin hyung tahu, bahwa duniaku akan selalu, dan akan terus berputar pada seorang Lee Taeyong. Tidak peduli berapa banyak orang yang menyatakan cinta padaku, berapa banyak fans yang mencintaiku, tapi hyung tahu, hatiku akan selalu jadi milikmu."

Senyum Taeyong semakin lebar. Ia mengaggukkan kepalanya berkali-kali tanda terima kasih. Riak air sungai yang sedari tadi bergelombang, entah kenapa sekarang menjadi tenang. Setenang hati Taeyong yang saat ini diselimuti kedamaian. Ia benar-benar ingin merengkuh Jaehyun sekarang juga, menghangatkan diri di tubuh jangkungnya.

"Hyung, aku juga mencin—,"

Huh? Taeyong mengerjap, suara Jaehyun tiba-tiba terputus. Ia membawa ponsel itu ke hadapannya dan mendapat pesan pemberitahun dari nomor tertentu.

"YA! BAKAMOTO! Pulsamu habis!"

"Naniii*? Kau habiskan semuanya?! Lee Taeyong AHO!"

Taeyong mendengus kesal, "Jangan panggil aku aho!"

"AHO! AHO! DO AHO!" serang Yuta.

Taeyong menggeram. Ia cukup tahu kosa kata aho apalagi do aho adalah kasta terbawah dari kata bodoh di Jepang. Itu artinya ia dikatai tidak hanya bodoh, tapi juga idiot, "Dasar. Makanya kau ini harus langganan prabayar. Kau sekarang sudah jadi artis yang berduit banyak, kan?"

"Maaf saja ya, aku tidak mau boros seperti dirimu."

"Sial. Mana ponselku batreinya habis. Aku tidak mendengar kalimat terakhir yang Jaehyun katakan tadi."

"Wah, yang sudah baikan. Dunia terasa milik berdua sampai-sampai eksistensiku cuma sebagai orang konyol," sindir Yuta.

"Kau menguping?!"

"Sampai kalimat terakhir."

"YA! Kau ini orang Jepang yang pandai bertata krama, kan? Dasar Bakamoto baka baka baka baka!" semprot Taeyong yang sudah menyerang kerah Yuta dan tidak henti-hentinya mengguncang badan sahabatnya itu. Yang diserang hanya cengar-cengir sambil sesekali menoyor wajah Taeyong sebagai balasan.

"Lee Taeyong aho aho aho aho aho!"

Layaknya anak kecil yang berkelahi dan mengejek, mereka hanya bisa tertawa dengan kelakuan mereka sendiri. Taeyong menghela napasnya dan duduk di samping Yuta. Angin berhembus menerbangkan poni yang menutupi dahi mereka. Kelopak-kelopak sakura berjatuhan di rambut dan tubuh mereka. Taeyong yang bergitu terkesima membuka telapak tangannya, berharap ada satu kelopak yang mendarat di sana.

Yuta yang memperhatikan menyuguhkan sebuah senyum kecil, "Taeyong ..."

"Hm?" tanpa pikir panjang Taeyong menoleh, dan mendapat ciuman di bibir dari Yuta. Tunggu! Ciuman?! Yuta menciumku?!

"YUTA?!"

"Aku menyukaimu."

"Hah?!"

"Aku menyayangimu."

"Hei! Hei!"

"Aku menci—," Yuta terpaksa berhenti karena mulutnya kini sudah dibekap oleh tangan Taeyong. Yuta menatap mata bulat lawan bicaranya yang penuh kilat marah tapi juga bingung luar biasa. Angin kembali berhembus, kali ini lebih kencang. Yuta hanya tersenyum dibalik bekapan Taeyong, matanya membentuk sabit sempurna yang membuat Taeyong semakin gusar.

"Yuta-ah, tadi itu apa?" Taeyong menarik tangannya, memindahkan ke wajahnya.

Yuta menghembuskan napas panjang, "Itulah adanya. Aku menyukaimu."

"Apa kelopak sakura ini sekeras batu hingga kepalamu terbentur karenanya? Kau baru saja mendamaikanku dengan Jaehyun—,"

"Whoa, kau tidak berpikir aku akan mengambil kesempatan di saat hatimu hancur, kan? Aku tidak mau jadi pelampiasan," cetus Yuta acuh tak acuh.

Taeyong kembali memijat keningnya. And just a few minutes ago I got through the storm, now this…?! "Kau pikir aku orang yang suka memanfaatkan orang lain?"

"Taeyong, semua orang diposisimu beberapa menit yang lalu sudah pasti kena kalau disentil sedikit saja. Itu kondisi yang rawan asal kau tahu."

Taeyong terkekeh kecil, "Yuta-ah, aku bukan orang kebanyakan. Kau adalah sahabat terdekatku dan kau tahu persis itu. Jujur aku sedikit kecewa kau menganggapku begitu."

"Yah, anggap saja aku sedang di posisi desperate dan mencari momen—,"

"Dan ini yang kau sebut momen?"

"Kau jauh dari pacarmu, kita di Osaka, di bawah pohon sakura, duduk berdampingan sambil tertawa-tawa. Sungguh, aku tidak bisa menemukan situasi yang sesempurna ini."

Taeyong merebahkan punggungnya di sandaran bangku. Ia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Perkataan Yuta yang ceplas-ceplos membuat Taeyong harus berpikir dua kali untuk menghadapinya. Tentu saja ini bukan pertama kali Taeyong meladeni tingkah Yuta yang serampangan. Tapi ini benar-benar di luar dugaannya. "Yuta-ah, tolong jangan lakukan ini padaku."

"Kau orang yang membuatku baikan dengan Jaehyun. Dan kalau kau memang benar mendengar obrolanku dengannya sampai akhir, kau ... sudah pasti tahu jawabanku, kan?"

Yuta menatap Taeyong sejenak, dan ikut merebahkan dirinya pada sandaran bangku. Bagi Yuta sendiri, menyukai Lee Taeyong tentu adalah sebuah kesalahan. Ia mungkin sedikit terlambat dibandingkan Jaehyun, tapi sebagai orang yang seumuran dengan Taeyong lalu menjadi dekat, merupakan hal yang lumrah jika benih-benih perasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Perasaan sukanya pada Taeyong tidak dapat ia kontrol sehingga ia akhirnya blak-blakan seperti ini.

Tentu saja Yuta berpikir apa akibatnya jika ia terus terang kepada Taeyong, mungkin ia bisa dicoret dari daftar sahabatnya dan membuat hubungan mereka menjadi canggung selamanya. Tapi—

"Sebenarnya aku tidak mengharapkan apa-apa," lanjut Yuta sendiri. Pandangannya beralih pada kapal feri yang melintas di depan mereka.

"Aku tahu, tadi itu benar-benar situasi retoris, yang tidak membutuhkan jawaban. Dan bodohnya aku masih saja nekat," Yuta tersenyum pahit. "Aku hanya ingin mengatakannya padamu. Ya, karena kau sahabatku, aku tidak ingin menyimpan apapun darimu. Aku cuma ingin ... membebaskannya saja. Sore dake**," wajahnya membingkai senyum tipis yang ditujukan kepada Taeyong.

"Aku menghargai itu, Yuta-ah. Terima kasih," Taeyong membalas senyumannya, "dan gomenasai***," Taeyong hanya mendapat anggukan kecil dari pria Osaka di depannya. Setelah itu mereka hanyut dalam diam masing-masing.

"Yuta-ah, aku tidak mau jadi aneh denganmu. Kita ... tetap sahabat, kan?" celetuk Taeyong memecah sunyi.

Yuta menatapnya sebentar, kemudian melengos jengkel, "Dasar rakus. Ini nih, yang namanya sahabat gagal jadi cinta tapi tetap tidak mau kehilangan. Tidak adil buatku tahu!"

Taeyong menggaruk kepalanya, antara bingung dan merasa bersalah. "Kau sih, pakai suka padaku segala. Sekarang kita jadi canggung begini, kan?!"

"Jangan kelewat percaya diri, dasar cleaning freak. Kalau aku tahu kau akan menolak sentilanku, ogah juga aku punya perasaan padamu," dongkol Yuta.

"Ya! Dari awal kau seharusnya juga tidak menyukaiku, karena aku sudah punya Jaehyun."

"Kau kan belum resmi jadi apa-apanya, baru pacar. Jadi, sah-sah saja dong orang lain suka padamu atau Jaehyun," Yuta masih ngotot.

"Ugh, lalu? Apa sekarang kita musuh?" tanya Taeyong dengan wajah was-was.

Yuta memutar bola matanya. Melihat ekspresi Taeyong yang cemas seperti itu membuatnya ingin tertawa. Sebenarnya Yuta dari awal, dari sebelum ia menyatakan perasaannya, ia memang sudah siap dengan penolakan. Ia sudah memasang benteng agar tidak patah hati karena ia sudah tahu jawaban Taeyong. Ia sendiri sebenarnya takut jika Taeyong setelah ini menjauh karena pernyataan cintanya.

Tetapi, di luar dugaan, Taeyonglah yang justru tidak ingin ada keretakan dalam persahabatan mereka.

Meskipun Yuta sempat mengacau, justru Taeyong yang ingin memperbaiki situasi mereka. Yuta tidak bisa berharap lebih dari ini. Taeyong benar-benar mengaggap dirinya sebagai sahabat terbaiknya. Dan Yuta lega bukan main.

"Hhhh ... entahlah. Aku perlu masa pendinginan. Nanti deh aku putuskan apa kita musuh atau masih sahabat," goda Yuta pada Taeyong sambil beranjak dan meninggalkannya.

"Hei, jangan kabur! Dasar tengil," kejar Taeyong dan berjalan dibelakang Yuta sambil mengomel.

Yuta hanya bisa tertawa cekikian. Ya, Yuta mengakui dirinya memang tengil, gila juga. Dari mana lagi kau akan menemukan sahabat yang peduli akan masalah cintamu, ternyata ia juga suka padamu, tapi ia merelakan perasaannya demi mempertahankan keharmonisan hubungan persahabatan itu sendiri.

Yuta merangkul sahabatnya. Omelan dan ejekan itu lambat laun menjadi candaan yang membuat keduanya tidak bisa menahan senyum, kemudian tertawa lepas. Mereka memilih menertawakannya. Melepas semua kecanggungan yang tidak berarti. Menyamankan hati menjadi diri mereka sendiri lagi. Dan menganggap itu semua sebagai bumbu dalam persahabatan mereka. Yang membuat mereka lebih mengerti satu sama lain.

Di bawah pohon sakura, kedua sahabat itu berjalan. Di bawah pohon sakura, semuanya dimulai kembali.


To Be Continued

Up next: Hubungan Jaehyun dan Taeyong diketahui oleh semua member NCT, bagaimana reaksi mereka?


Note: *Nani?: Apa?

**Sore dake: Itu saja

***Gomenasai: Maaf


A/N:

Mohon maaf sekali untuk update yang lama banget, mungkin kalian udah lupa sama cerita sebelumnya dan harus membuat kalian baca chap 6 lagi, maaaaffff sekaliii... maaf juga kalau chap ini kependekan dan gaje..wahahahaa apalagi keabsurdan hubungan Yuta dan Taeyong xD

Dan sepertinya ini sudah mau end, krn emang rencana dr awal tidak lebih dari 10 chap, jadi hold on bentar lagi yah sama FF ini...

Terima kasih untuk yang udah review, favs, fol, chap kemarin, bener2 terima kasiih dan terima kasih juga tetep lanjutin baca ff ini, saranghaaeee...

Last, kutunggu segala saran dan kritiknya yang membangun ya temans2 :* :* :*