Us Against The World
.
Chapter 8: The Truth
"Hyung, aku ingin jujur pada semua member."
Taeyong bahkan baru menutup pintu kamar, koper masih ia tenteng dan ransel masih bersender di punggungnya. Bukan sambutan selamat datang, tapi permintaan menantang yang justru ia dapat.
"Aku bahkan baru sampai, Jae-ah."
Lawan bicaranya hanya diam. Namun, kedua mata jernihnya menatap lekat-lekat segala gerak-gerik Taeyong, berharap Taeyong akan mempertimbangkan perkataannya. Taeyong tentu saja tidak mengharapkan ini. Sepulangnya dari Osaka, Taeyong hanya ingin istirahat, membuang segala penatnya di pelukan Jaehyun sembari melepas rindu. Ia menghela napasnya dalam-dalam sebelum membaringkan tubuh kecilnya di ranjang tidurnya.
"Lebih baik mereka mendengarnya langsung dari kita, kan?"
Sungguh, bukan itu yang dicemaskan Taeyong. Ada kalanya ketika sebuah hubungan harus dirahasiakan. Dalam kasus Jaehyun dan Taeyong yang merupakan public figure, adalah hal yang wajib dimana mereka harus menekan hasrat untuk sekedar memberi tahu orang sekitar bahwa hati mereka sudah menjadi milik orang lain.
Terlebih-lebih bagi Jaehyun dan Taeyong. Yang keduanya sama-sama lelaki. Dan mereka sama-sama tahu sejak awal, bahwa perasaan tidak biasa yang tumbuh di hati mereka dapat menjadi bumerang bagi karir dan kehidupan sosial mereka di masa mendatang. Namun, dibanding mencemaskan diri mereka sendiri, Jaehyun dan Taeyong lebih mementingkan karir para sahabat yang keberadaannya begitu berharga bagi keduanya.
"Aku tidak ingin menyakiti mereka lebih dari ini. Sudah cukup skandalku dimasa lalu yang ...," Taeyong bahkan tidak yakin dengan dirinya sendiri.
Jaehyun yang bersandar pada daun jendela segera turun begitu mendengar suara parau dari kekasihnya yang saat ini sedang tengkurap membelakanginya. Jaehyun mengelus pelan rambut hitam itu. "Kita bukan akan mengaku pada dunia, ini hanya member, hyung."
"Apakah harus?" Taeyong menyahut singkat, suaranya memantul pada tembok di hadapannya.
"Aku benci membohongi mereka."
Taeyong juga benci tidak jujur pada sahabat-sahabat dan adik-adiknya. Mereka mampu menerima masa lalu Taeyong, bisakah Taeyong berharap mereka akan menerima hubungannya dengan Jaehyun? Apakah ia terlalu egois untuk yang satu ini? Apakah ini terlalu berlebihan untuk sebuah permintaan? Pada gesturnya yang tenang, dada Taeyong membuncah tidak karuan. Dan untuk sepersekian detik, perasaan bersalah mengintainya.
"Jae-ah, katakan padaku, apa yang kita lakukan ini benar?"
Dan tidak butuh waktu lama bagi Jaehyun untuk mengerti maksud ucapan Taeyong. Bahwa Taeyong ragu. Dan hanya meyakinkannya yang Jaehyun tahu. "Yang aku tahu, bukankah perasaan kita ini yang benar? Dan tidak ada salahnya untuk diperjuangkan sedikit?"
Suara berat yang tenang itu membuat Taeyong berbalik kemudian duduk. Mencoba menatap kedua mata Jaehyun yang menyirat teduh, mencari perlindungan di sana. Senyum indah dari Jaehyun kemudian menular pada Taeyong untuk membentuk sebuah senyum walau tipis di wajahnya. Taeyong kemudian menjatuhkan kepalanya di dada Jaehyun, menenggelamkan segala risaunya di sana. Berharap bahwa dentuman jantung Jaehyun yang mengalun teratur menjadi lullaby pengantar tidurnya, dan tangan besar Jaehyun yang mengelus kepala dan punggungnya menjadi kekuatan baginya untuk bersiap menghadapi para sahabat dan adiknya esok hari.
Namun, bukanlah perkara mudah untuk mengumpulkan 17 member duduk di satu ruang pada saat yang bersamaan. Terlebih dengan jadwal NCT J yang semakin sibuk karena persiapan pembuatan MV, menyebabkan Jaehyun dan Taeyong kesulitan untuk menemukan quality time bersama para member. Tapi, Jaehyun sudah bertekad. Ia tidak ingin keinginannya hanya menjadi buah bibir. Maka dari itu, selepas latihan dance pada malam minggu, Jaehyun sengaja mengajak Johnny, Jaemin dan Jeno untuk segera pulang ke dorm.
Taeyong memberi tahu Jaehyun lewat pesan bahwa para member lain sedang berkumpul di ruang tengah. Kesempatan yang mereka tunggu akhirnya datang. Keduanya sama-sama gugup, sama-sama gelisah, dan tidak tahu harus mulai dari mana. Apalagi mood para member sedang asyik-asyiknya, tidak mungkin mereka berceletuk begitu saja dan merusak suasana.
"Aigoo... EXO D.O-sunbaenim dan Lee Kwangsoo-sunbaenim benar-benar lucu, aku tidak sabar nonton Running Man minggu depan," seru Donghyuck pelan.
"Huh? Bromance?" Mark yang ikut menonton televisi, mengernyitkan dahi begitu ia melihat tema preview Running Man di akhir acara.
"Bromance itu apa, hyung?" pertanyaan polos dari Jisung cukup bisa membungkam para hyung-nya beberapa detik sebelum Johnny menawarkan diri untuk menjawab.
"Bromance itu adikku, Jisung, adalah hubungan kakak adik laki-laki yang dekaaat sekali."
"Tapi, hyung, bukankah kakak adik itu memang dekat?" –Renjun.
Yuta mencondongkan badannya dengan wajah berseri-seri, "Lebih dari sekedar dekat, Renjunie. Jalinan skinship mereka itu tidak main-main, seperti sepasang kekasih, deh. Dan kakak adik itu tidak harus berhubungan darah."
"Lho? Seperti aku dan Jaehyun-hyung?" mata Jeno berbinar sambil menoleh ke arah Jaehyun yang sekarang tersedak cola.
"Jangan ngawur, Lee Jeno," tangan Jaemin refleks menjitak kepala pemuda bermata sipit itu, "hyung ini dari dulu ngaku-ngaku bromance sama Jaehyun-hyung."
"Benar. Jaehyun-hyung itu bromance-nya cuma sama Taeyong-hyung," Chenle berceletuk tiba-tiba. Jaehyun semakin tersedak cola-nya, sedangkan Taeyong—
"Chenle-ah! Kau ini bicara apa?" –sudah melayangkan protesnya.
"Hohoho... aku setuju denganmu Chenle sayang, mungkin diantara semua member, mereka itu yang paling kentara bromance-nya!" –Winwin.
Kun manggut-manggut, "Ah~ aku masih ingat waktu shooting NCT LIFE Season 2, yang Taeyong-hyung tiba-tiba datang lalu menghukum Jaehyun sebelum tidur, aku tidak bisa berhenti tertawa."
"Bukan hanya itu saja, Kun temanku," Doyoung merangkul pundak Kun dari belakang, "tebak siapa yang pertama kali menangkap keanehan Taeyong-hyung di awal game?"
Jaehyun sempat menangkap mata Doyoung dengan tatapan: Doyoung-hyung kau juga...? Jaehyun sungguh tidak mengira dengan sikap Doyoung yang sudah melunak padanya. Bagi Doyoung sendiri, butuh waktu beberapa hari agar dirinya bisa bersikap normal dan bercanda di depan Jaehyun. Walaupun itu belum termasuk menutup penuh lubang di hatinya. Tapi, bagaimanapun juga, Jaehyun adalah salah satu dongsaeng yang ia sayangi, ia sama sekali tidak ingin mengubah yang satu ini.
"O-ho! Waktu Taeyong-hyung yang pertama kali tahu amplop pertama itu? Tapi dengan malangnya direbut oleh Jaehyun-hyung?!"
"Tepat sekali, Mark Lee! Aku tahu Jaehyun memang peka, tapi aku yang sahabat dekat Taeyong pun tidak sadar sama sekali kalau waktu itu Taeyong sedang merencanakan sesuatu dibalik pertanyaan 'kapan dimulai' yang terus ia ulang, hahaha," sembur Yuta sambil terbahak-bahak.
Tunggu tunggu tunggu sebentar! Jaehyun dan Taeyong saling berpandangan. Niat awal mereka dari perkumpulan ini kan untuk mengaku pada member, tapi kenapa situasinya berubah menjadi 180 derajat begini?!
"Ehem! Hansol-ah, bisa kau ganti channel-nya? Aku ingin nonton music show." –Taeil.
"Remote-nya kan ditanganmu. Babo."
"Tapi Taeyong-hyung juga pernah bromance denganku, kalian tidak melupakan love game di bandara, kan?"
"Hahaha, ya, kau dan Taeyong waktu itu memang serasi, Ten, tapi coba lihat, foto skinship Jaehyun dan Taeyong bertebaran di mana-mana!"
Johnny baru saja melakukan hal tidak berfaedah dimana keisengannya membawanya untuk menjelajahi google dengan kata kunci jaehyun taeyong. Ia menunjukkan ponselnya yang penuh dengan gambar Jaehyun dan Taeyong yang sedang melakukan skinship, meme, crop picture, dan segudang jenis gambar lainnya.
Membuat para member berdesakan agar bisa menatap layar 5.5 inch sambil bersorak, bersiul, ber-wow-wah nakal. Membuat Ten cemberut karena merasa diabaikan. Membuat Taeil yang sedang memucat karena alihan perhatiannya ke channel TV tidak cukup untuk membuat para member teralihkan. Salahkan dua tersangka utama yang tidak memberi tahu sesepuh NCT tentang rencana pengakuan mereka.
Lalu, apa kabar Jaehyun dan Taeyong? Jaehyun hanya menghela napas sambil menatap teman-temannya, ini semua benar-benar situasi yang tidak ia bayangkan. Belum juga ia melaksanakan rencana A, tapi ia sudah membutuhkan rencana B. Sedangkan Taeyong yang biasanya marah kali ini memilih diam di balik tangannya, menyembunyikan pipinya yang memerah karena olokan adik-adiknya. Belum lagi duo sial dengan mulut embernya yang tanpa dosa menyiram bensin ke dalam api, Johnny dan Yuta. Mereka semakin memperpanas atmosfir dengan segala komen barbar dan ambigu pada setiap foto yang mereka temukan.
"Wah, lihat! Yang ini Taeyong menggandeng Jaehyun waktu di bandara! Bodyguard, eh?"
"Ini! Mereka berpegangan tangan lagi!"
"Oh my gosh, yang ini kaki Taeyong di atas kaki Jaehyun, mereka sedang ngapain, sih?
"Oh, oh, yang ini Jaehyun merangkul Taeyong! Kenapa mesra sekali?!"
"Ya ampun! Mereka sedang apa dibalik kipas? Ciuman?!"
"YA!" Taeyong akhirnya meledak. Ia melempar bantal tepat sasaran mengenai kepala Johnny dan Yuta yang berdekatan. "Kau jangan ikut tertawa, Jae-ah! Katakan sesuatu pada mereka juga!"
"Ahaha, apa yang harus aku katakan kalau memang semua itu benar, hyung?"
"Hah?"
"Eh?"
"What?"
Jaehyun tersenyum pelan saat semua mata di ruangan itu tertuju padanya, menyisakan tanda tanya besar dan kebingungan di wajah mereka. Bahkan Taeil, Yuta dan Doyoung yang mengetahui hubungan mereka pun, tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang tertera jelas. Mereka bahkan tidak siap dengan pengakuan mendadak dari Jaehyun dan Taeyong.
Namun, Jaehyun terlihat begitu yakin ketika ia menautkan jemarinya di jemari Taeyong, mengangkatnya pelan, dan mengecup punggung tangan kurus itu lembut.
Apa yang bisa dilakukan oleh penonton selain berteriak dan membelalakkan mata.
"Tung-tunggu! Jaehyun-hyung! Apa yang baru saja kau lakukan?!" –Donghyuck.
"Bromance secara live?" –Jaemin.
"Fanservice? Di depan kita?!" –Mark.
"Aaaaaaaaaakh—," –Ten.
"Taeyong-hyung kenapa merona?!" –Kun.
"Kalian … benar-benar pacaran?"
Satu tembakan dari Hansol menuntaskan pernyataan dan pertanyaan dari adik-adiknya. Membuat hadirin di ruangan itu menatap Hansol sejenak kemudian beralih cepat ke Jaehyun dan Taeyong, menuntut jawaban.
Jaehyun bergeming, tapi tatapan dari mata hitamnya menyorot sebuah keyakinan yang mampu membuat ruang itu hampa udara sepersekian detik. Ia kemudian mengangkat tangannya yang bertaut dengan tangan Taeyong, menunjuk sebuah gelang metalik silver dengan ban elastis hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kalian masih ingat gelang ini?"
"Eoh, kami membelikannya di ulang tahunmu yang ke 18, setelah shooting MV Bassbot," Hansol menjawab yakin, diikuti anggukan dari member Bassbot lainnya.
"...Tapi, Taeyong-hyung yang memilih gelang itu...," Ten menyentuh dagu dengan jemarinya, mencoba mengingat.
"Benar," sahut Jaehyun pelan, kemudian ia menunjuk pergelangan tangan Taeyong dengan wajahnya, "dan kalian tahu Taeyong-hyung juga punya gelang yang sama?"
Anggukan serempak lagi.
Jaehyun melepas gelang miliknya dan milik Taeyong, kemudian memberikannya kepada Hansol karena ia yang paling dekat dengan jangkauan tangannya. "Coba tebak apa yang Taeyong-hyung buat di balik gelang itu."
Semua kepala kembali berkumpul, kali ini mengerubungi Hansol.
"Huh? I.L.Y?" Donghyuck mengerutkan dahi.
"Meaning ... I Love You ...," Mark bertemu pandang dengan Jaehyun, menemukan Jaehyun yang sedang tersenyum di sofa tempatnya duduk.
"Tunggu! Taeyong-ah! Sejak kapan huruf ini ada di balik gelang ini?!" Mata Johnny melotot melihat huruf itu terukir cantik dibalik gelang. Karena Johnny ingat betul, bahwa gelang itu tersegel rapi dalam boks kecil bahkan sejak dari tokonya.
"Eeeh?! Di gelang Taeyong-hyung ada hurufnya juga, I.L.Y.T?"
"I Love You Too …," kata Renjun pelan.
Hanya ada keheningan setelah itu. Semuanya tidak yakin harus bagaimana, harus menanggapi seperti apa, dan apakah kebenaran ini terlalu berlebihan sehingga justru kegelisahanlah yang mereka rasakan.
"Tunggu … bukankah ini—,"
"—terlalu riskan, Jaehyun-hyung? Taeyong-hyung? Kalau sampai publik tahu...," kalimat Mark terputus di tengah jalan dan hanya bisa membuatnya menggigit bibir.
Dan sekarang semua mata tertuju pada Jaehyun dan Taeyong yang masih terduduk di sofa. Sorot mata yang sama dari semua para member yang meminta penjelasan sekali lagi. Taeyong kemudian bangkit, melepaskan tangannya yang digenggam Jaehyun dan menempatkannya di atas pahanya, lalu ia membungkuk dalam.
"Maafkan kami telah membohongi kalian. Aku dan Jaehyun... kami... sepasang kekasih."
Masih tidak ada yang menyahut. Meskipun semua orang di ruangan itu mendapat mindblowing yang sama, semuanya masih enggan untuk menanggapi.
"Kami juga tahu kalau ini berbahaya bagi kalian semua, tapi—,"
"—sejak kapan?" dengan tatapan kosongnya, Donghyuck memotong perkataan Taeyong.
"...Mungkin sekitar delapan bulan—,"
"—sudah selama itu?"
Jaehyun menggigit bibir bawahnya, ia tahu udara di ruangan itu kian menipis, menyisakan ketegangan yang sekarang menyelimuti mereka semua. Ia lalu bangkit dan berdiri di samping Taeyong, membungkuk dalam dan mengatakan hal yang sama.
"Aku dan Taeyong-hyung... kami saling menyukai. Kami memutuskan untuk menjalin hubungan dan merahasiakannya dari kalian. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk terus terang," lagi-lagi tatapan yang menyorot keyakinan hanya dibalas oleh kesenduan dari para member, terutama para maknae.
"Lalu, sekarang apa? Hyungdeul tahu resikonya kalau hubungan ini sampai didengar publik kan? Kenapa memilih keputusan yang sifatnya menggali kuburan sendiri begitu?"
"Benar apa yang dikatakan Mark-hyung. Tidak hanya Jaehyun-hyung dan Taeyong-hyung yang kena, tapi kami juga—,"
"Jaemin-ah, tenanglah," Yuta berkata lirih ke arah Jaemin, berusaha menekan kegusaran yang Jaemin rasakan.
"Tenang bagaimana?! Ini sudah termasuk skandal kan? Kenapa hyungdeul semua hanya diam saja?! Taeil-hyung tolong katakan sesuatu!" Jaemin meninggikan suaranya, mencari jawaban bijak yang mungkin hanya dipunyai oleh member paling dewasa di antara mereka.
Terdengar hembusan napas dari Doyoung, "Yedeura, jangan begitu, kalian tahu kalau Jaehyun dan Taeyong-hyung membutuhkan keberanian yang besar untuk mengaku pada kalian, kan? Coba bayangkan berapa lama mereka menunggu saat ini."
"Tapi—,"
"Lagipula," Doyoung mencoba menengahi kembali, memberikan seutas senyum di sela-sela kalimatnya, "ketika semua orang bebas untuk mencintai, maka tidak menutup kemungkinan dua pemuda untuk saling memiliki, kan?"
Kalimat yang terlihat sederhana itu mampu membuat semua pandangan terfokus pada yang mengatakannya. Semua menatap Doyoung dengan mata yang sedikit melebar, menandakan mereka mengakui bahwa yang dikatakan Doyoung tidak sepenuhnya salah.
"Kalian tahu perasaan suka itu bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Jangan salahkan Jaehyun dan Taeyong apabila mereka pada akhirnya juga merasakan itu semua," suara Yuta yang lirih tapi bernada meyakinkan itu, sekali lagi membuat ruangan itu hening. Beberapa yang lebih tua diantaranya mengangguk pelan, dalam hati membenarkan kalimat Yuta.
"Jaehyun dan Taeyong hanya meminta pengertian kalian, dan juga pengakuan kalian. Mereka tentu saja tidak ingin membahayakan nama NCT, untuk itulah mereka menekan perasaan mereka selama delapan bulan ini," ujar Taeil dengan senyum tipis di wajahnya.
"Taeil-hyung... kau tahu hubungan mereka?" tanya Johnny ragu-ragu yang direspon oleh anggukan dari Taeil.
"Mereka bilang padaku sebulan setelah mereka pacaran. Tentu saja aku kaget. Tapi, entah kenapa aku percaya pada mereka berdua. Percaya kalau mereka bisa menjaga rahasia hubungan mereka agar tidak bocor ke publik."
"Kenapa?" tanya si bungsu Jisung yang sebelumnya masih bingung, namun lambat laun mengerti dengan situasi ini. Taeil hanya tersenyum.
"Kalian pasti tahu Taeyong sudah mengalami banyak hal di masa lalunya yang efeknya masih dia rasakan sampai sekarang, kan? Di saat kita tidak mengetahui Taeyong yang sedang menangis sendirian di pojokan, Jaehyun yang pertama kali datang menemuinya. Taeyong merasa nyaman di dekat Jaehyun, begitu juga dengan Jaehyun yang merasa senang dengan Taeyong yang tersenyum. Sesederhana itu untuk menumbuhkan perasaan sayang dan keinginan untuk saling melindungi di antara mereka."
"Hubungan mereka dibangun atas dasar saling menghargai yang membuat mereka tidak segan untuk melepasnya demi kalian."
"Maksud hyung ... mereka rela putus demi kami?" tanya Jeno.
"Ya. Jangan kira kalau mereka tidak awas dengan pemberitaan media. Kalau sudah dirasa terlalu bahaya, mereka siap untuk berpisah agar kalian juga tidak ikut terbawa," penjelasan Taeil membuat air muka semua orang di ruang itu mengendur. Sedikit demi sedikit mereka mencoba menerima dan mengerti.
"Yah... tapi kalian sudah lihat sendiri. Para fans justru senang dengan kedekatan dan skinship mereka. Bahkan mereka menyebutnya JaeYong dan mendukung bromance yang terjadi di antara mereka, yare-yare," Yuta berujar santai sambil merebahkan dirinya ke pinggir sofa.
"Hahaha, kau benar, Yuta-hyung. Bukan hanya JaeYong saja, TaeTen, JeMin, MarkMin, Winkun, dan masih banyak yang lain. Oh ya, aku juga punya lho dengan Jaehyun, namanya JaeDo, " Doyoung menambahkan sambil tertawa.
Jaehyun dan Taeyong pun tidak bisa menyembunyikan senyum lega mereka. Keduanya sungguh tidak mengira bahwa kata-kata itu terlontar dari Doyoung dan Yuta, yang notabene mereka sempat berseteru karena cinta segiempat di antara mereka. Namun, siapa sangka bahwa mereka berdualah yang justru meyakinkan para member. Berusaha memberi pengertian dengan cara yang tidak terlalu memaksa. Berusaha membuat para member tetap nyaman agar apa yang dikatakan Taeil juga dapat tersampaikan dengan baik.
Doyoung dan Yuta, yang tadinya mengibarkan bendera perang justru menjadi pihak yang sekarang mendamaikan. Jaehyun dan Taeyong tidak bisa lebih senang daripada ini. Mereka merapal kalimat terima kasih berkali-kali pada Doyoung dan Yuta, dan hanya disahut oleh anggukan dan senyum kecil dari keduanya.
Tidak ada dendam dan persaingan. Doyoung dan Yuta sudah melepas semuanya. Membiarkan perasaan mereka tersapu demi kebahagiaan orang yang mereka cintai. Mementingkan persahabatan yang tidak ingin mereka nodai. Dan merelakan pelan-pelan agar hubungan mereka kembali membaik dan jauh dari kecanggungan. Karena hal itu yang terpenting. Yang utama di atas semuanya.
"Hhhhh... kalau sudah begini kami bisa apa? Dasar menyusahkan. Awas saja kalau kalian sampai berlebihan di depan kamera, aku tidak segan menjadi setan," sembur Johnny yang sedikit mengancam, tapi tidak lepas dari candaan.
"Dan jangan berbuat yang aneh-aneh di dorm. Mulai sekarang kalian pisah kamar, siapa tahu ada kamera pengintai saat kalian sedang ciuman atau apa," ujar Hansol ketus yang justru disambut tawa pelan dari beberapa member.
"Aku setuju. Jaehyun-ah, kita belum pernah jadi roommate, kan? Keberatan tidur denganku?"
"Ya! Ten! Ajakanmu itu ambigu!" sergah Kun sambil melotot. Dan suara tawa yang pelan itu lambat laun menggema memenuhi ruangan.
"Jaehyun-hyung...," panggilan Jeno seketika membungkam ruang itu lagi, ia bangkit dan berjalan ke arah Jaehyun, menatap mata hyung yang paling ia sayangi itu lekat sebelum merangkulnya, "hyung tahu aku akan selalu mendukung keputusan hyung. Satu hal yang aku mohon, tolong jangan pergi dari kami."
Semuanya hanyut dalam pernyataan Jeno dengan suara dalamnya, menciptakan keterkejutan, tapi mengirim kehangatan yang sedari tadi hilang untuk sesaat. Bahkan Jaehyun yang dipeluk pun tidak bisa menyembunyikan kenyamananan yang tertera jelas di wajahnya, membuat Jaehyun merangkul balik pemuda yang tingginya sekarang hampir sama dengannya itu.
"Jaehyun-hyung dan Taeyong-hyung adalah member penting di NCT. Tidak akan aku biarkan kalian pergi. Tenang saja, aku akan membantu menjaga hubungan kalian."
"Jeno-ah...," Jaehyun semakin mengeratkan pelukannya.
Taeyong pun ikut mengelus pundak Jeno dan berujar lirih, "Gomawo, Jeno-ah."
"Maafkan kami yang tadi sempat marah, hyung. Kami hanya perlu... penjelasan lebih banyak dari hyungdeul," Mark berkata malu-malu.
Taeyong hanya tertawa mendengarnya, "Kemarilah, adikku," dan tidak kuasa untuk tidak memeluknya, mengacak rambutnya gemas. Jaehyun yang belum lepas dari pelukan Jeno juga ikut mengacak rambut Mark dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Terima kasih, Mark."
"Hyung, aku juga minta maaf," Donghyuck menghampiri Jaehyun dan Taeyong, dan tidak butuh waktu lama untuk Donghyuck jatuh ke dalam pelukan mereka juga.
"Akh, hyung, Jisung juga mau dipeluk!"
"Aku juga!" –Renjun.
"Aku juga!" –Chenle.
"Aish, Chinese member sini berkumpul! Aku yang akan memeluk kalian~," Kun menghambur dalam pelukan mereka, diikuti Winwin. Kemudian Ten, Hansol, Johnny, dan Taeil. Doyoung dan Yuta saling berpandangan sebelum memutuskan untuk ikut dalam parade peluk-pelukkan itu pula. Bahkan mereka sengaja menubruk manusia-manusia yang sedang berpelukan itu, mencari celah agar kebagian hangatnya juga.
"Jaemin-ah?" Jaehyun yang menyadari satu member tengah berdiri sendiri, memberikan senyum dan membuat gestur ajakan untuk bergabung. Jaemin hanya menggaruk kepalanya, tidak yakin harus berbuat apa.
"Aigoo, lama! Cepat sini!" Yuta yang gemas akhirnya menarik lengan Jaemin, membawanya ke pusat lingkaran dan menjadikan Jaemin objek baru sebagai pelukan.
Semuanya tidak ada yang tidak tersenyum. Ruangan itu kini penuh dengan suara tawa, melepas semua beban yang tadinya memberat di pundak mereka. Ruangan itu juga lebih hangat dari senyum yang terpatri di wajah semua member, menghapuskan segala keraguan yang mengukung mereka sebelumnya. Dalam pelukan itu mereka benar-benar merasakan kedamaian yang mengalir dari satu member ke member lain.
Inilah skinship yang sebenarnya. Yang penuh kejujuran dan kebahagiaan. Yang dilakukan dengan orang tersayang dan berharga. Yang akan berlangsung selamanya.
Hope NCT will be together forever.
.
.
Epilogue
Last but not least...
Jaehyun menatap kekasihnya sendu. Wajahnya ia tekuk sedalam mungkin saat melihat Taeyong melepas sprei miliknya dan mengganti yang baru milik Ten. Bibirnya manyun dan tingkahnya sama sekali tidak bersemangat ketika Taeyong sudah bersiap dengan piyamanya, hendak meninggalkan kamar.
"Jangan menatapku seolah aku mau pergi jauh. Aku hanya pindah kamar, Jae-ah."
"Aku benci Hansol-hyung."
"Hei, kalau dia dengar bagaimana?"
"Biar saja. Gara-gara Hansol-hyung, siapa nanti yang akan membereskan tempat tidurku waktu pagi? Siapa yang akan membereskan meja belajarku yang berantakan? Siapa yang akan membereskan kamar ini?"
"Astaga Jung Jaehyun, sejak kapan kau jadi manja berlebihan begitu?!"
"Sejak hyung tidak akan sekamar denganku," entah sejak kapan Jaehyun sudah muncul di belakang Taeyong, memutar tubuh Taeyong pelan untuk mencuri satu ciuman di bibirnya.
"Pokoknya hyung tidak boleh jauh dariku," Jaehyun mengecup dagunya.
"Taeyong-hyung harus sering kesini menengokku," Jaehyun mengecup kedua pipinya.
"Dan hyung tidak boleh macam-macam dengan Donghyuck," Jaehyun mengecup keningnya.
Taeyong hanya bisa tertawa pelan mendengar tutur menuntut yang terkesan kekanakan itu. "Kau itu seharusnya mengkhawatirkanku yang sekamar dengan Donghyuck. Kau tahu anak itu nakalnya minta ampun,"
"Makanya aku bilang hyung harus sering kesini menengokku, kan? Aku akan melindungimu dari Donghyuck."
"Ya! Hidupku itu tidak hanya fokus padamu saja, bocah. Kau saja yang ke kamarku."
"Dan melakukan hal ini itu?" Jaehyun menyeringai, membuat Taeyong mengernyitkan dahinya.
"Kau dan otak mesummu itu perlu dikendalikan!" Taeyong menepuk ringan kening Jaehyun, dan Jaehyun hanya tersenyum manis.
"Tidak aku sangka akan semudah ini, hyung. Kita harus berterima kasih memiliki member sebaik mereka," suara Jaehyun yang jernih mengalir lembut pada telinga Taeyong. Tatapan mata beningnya mampu membuat Taeyong terlena sesaat sebelum ia mengangguk pelan dan menyimpul senyuman tulus.
"Mm. Aku benar-benar bersyukur mempunyai sahabat seperti mereka," kalimat Taeyong yang seolah sepele namun sarat akan kejujuran itu membuat Jaehyun refleks memeluknya. Menghirup aroma Taeyong dalam-dalam. Merasakan kehangatan yang dimiliki Taeyong seutuhnya.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku mencintaimu, hyung."
Kalimat itu meski teredam rambut Taeyong karena Jaehyun membenamkan wajahnya di sana, tapi kalimat itu menusuk pelan jantung Taeyong sampai ke relung-relungnya. Membuat tubuhnya merinding sedikit, membuat lidahnya kelu kehilangan kata-kata. Jaehyun sekali lagi berhasil membuat Taeyong merasa bahwa eksistensinya di dunia ini begitu berharga dengan kalimat sederhana yang diucapkannya. Taeyong hanya bisa bersandar pada pundak Jaehyun yang bidang, mengangguk berkali-kali, dan membalas pelukan Jaehyun seerat mungkin.
Sayup-sayup suara gaduh mulai terdengar di luar. Andai saja waktu berhenti, mereka sungguh tidak ingin saling melepaskan.
"Yakin ingin pindah kamar?" bisik Jaehyun.
"Sebenarnya tidak, tapi mereka sudah terlalu baik pada kita, Jae-ah."
"Baiklah kalau begitu," Jaehyun mengendurkan pelukannya pelan, dengan tangannya yang masih melingkar di pinggang Taeyong. Mata mereka saling meneduhkan satu sama lain, memberikan senyum yang keduanya merasa bahwa itu adalah senyum paling indah yang pernah mereka tatap. Jaehyun memainkan ujung hidungnya dengan hidung bangir Taeyong, menggeseknya pelan. "Sial, aku sudah rindu padamu, hyung."
"Gombal murahan," kikik Taeyong pelan, Jaehyun membalasnya dengan menjulurkan lidahnya nakal.
"Jae...,"
"Hm? Ada apa, hyung manis?"
Taeyong tersenyum kecut, kemudian menghembuskan napasnya pelan, "Menurutmu, apa dunia akan sebaik member? Apa mereka mau mengakui kita juga?"
Jaehyun mengelus pelipis Taeyong pelan, lalu mengarah ke belakang kepalanya. Jaehyun menatap dalam kedua mata Taeyong, "Hyung masih ingat cara hyung menghadapi masa lalu hyung?"
"Mm...dengan minta maaf?"
"Tepat," Jaehyun mengusap lembut pipi Taeyong, "situasi kita mungkin memang terlihat melawan dunia, dan berdamai adalah satu-satunya jalan agar mereka mengerti."
Taeyong sekali lagi terhenyuh. Bibir tipisnya tanpa sadar membentuk sebuah senyum lebar yang penuh akan kebahagiaan. Ia bahagia memiliki Jaehyun. Ia bahagia memiliki member yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Ia bahagia terlahir di dunia ini.
"Perjuangan kita meyakinkan dunia sama sekali belum selesai, Jae-ah," Taeyong menjabat tangan Jaehyun kuat, tanda kerja sama mereka yang masih panjang.
"Sama sekali belum," dan Jaehyun membalas jabatan tangan Taeyong sama kuatnya pula.
.
.
Us Against The World
.
.
FIN
a/n: saya mohon maaf lagi karena update yang lama T.T karena saya mempersulit diri saya sendiri akan plot ceritanya apakah harus saya buat mereka berantem dulu dengan member atau manjangin lagi konfliknya, belum lagi masalah norma yang saya sangkut pautkan disini, intinya saya galau mau buat ini chap berakhir bagaimana, dan akhirnya berakhirlah seperti ini. Apakah ini terlalu cepat alurnya? Terlalu mudah? Terlalu dibuat2 bahasanya? Hehe maaf emang author amatiran ya begini xD
BUT, akhirnya ff pertama saya, ff debut saya ini rampung end finsihed T^T jujur ini adalah ff tersulit dari ff saya yg lain, non!au itu susah2 gampang karena ya itu kadang menyangkut masalah norma yg cukup sensitif, padahal ini murni fiktif T^T
Dan aku bener-bener berterima kasih dengan para readers semua yang udah favs, fols, dan meninggalkan jejak di kotak review. Dulu waktu mau post ff debut ini sempet ragu, tanggapannya bagus ga ya, banyak yg suka ga ya, dan segudang alasan lain yg buat ga PD. Tapi ya ampun kalian benar-benar luar biasa! Apresiasi kalian sungguh saya hargai dan kecintaan kalian sama Jaeyong juga ga main2, saya jadi semangat buat lanjutin ini sampai akhir ^^ dan entah kenapa kalo ff ini ga update2, ff lainnya juga ikut macet, karena bagaimanapun juga ini ff pertama yg membuat author dikenal oleh para pembaca, kaya ada tanggung jawab yg lebih gede ke ff ini hehehee...
Sekali lagi aku bener-bener terima kasih. Kalian para fans Jaeyong emang yang terbaik! Aku sayaaaaaaaang kalian semuaaa ^^ Jangan bosen-bosen baca ff saya yg lainnya, ya, hehee
