Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.
*Semi Collab with Hanaruppi*
Ekstra Chapter.
—Naruhina—
Semilir angin yang berembus menerbangkan beberapa helai rambutnya yang tergerai. Sepasang mata perempuan itu menatap sungai kecil di depannya. Sungai yang tidak begitu besar, tidak juga begitu dalam karena dasarnya yang mampu tertangkap oleh matanya. Airnya yang jernih juga menjadi salah satu faktor dasar sungai itu terpampang begitu jelas.
Sebenarnya tidak ada yang spesial dari sungai yang terbentang di depannya, hanya saja sungai yang setiap hari ia kunjungi ini mengingatkan banyak kenangan masa lalunya. Sungai ini mirip dengan sungai tempat ia bertemu dengan seorang laki-laki kecil, di saat ia sedang menangis setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan para penghuni istana.
Status yang dimilikinya membuat dirinya tidak mudah untuk mendapatkan seseorang yang bisa disebut sebagai teman. Tapi bocah yang bernama Naruto itu, tanpa merasa takut apalagi merasa segan datang mendekatinya. Berbicara dengan santai bahkan mencoba menghiburnya. Di hari itu, tanpa sadar mereka telah membuat hubungan yang disebut dengan pertemanan.
Hinata tersenyum saat kenangan masa lalu itu muncul. Mengingat banyak kejadian yang ia lalui bersama Naruto. Satu-satunya teman yang ia miliki.
Teman.
Senyuman itu pun memudar disertai helaan napas ringan. Hinata sepenuhnya sadar bahwa perasaan yang ia miliki untuk Naruto bukan lagi sebatas perasaannya pada seorang teman. Jelas sekali lebih besar dan lebih dalam dari itu. Tapi, tidak ada yang bisa Hinata perbuat sekarang.
Sejarah yang telah terungkap membuat semuanya berubah. Sekarang dirinya bukan lagi seorang putri. Bukan lagi seorang yang dihormati di negeri ini. Ia hanya seorang gadis biasa yang menyandang marga Hyuuga pada namanya. Marga yang kini dijauhi dan dibenci oleh banyak orang. Semua mata kini menatap jijik padanya.
Hinata sepenuhnya menerima semua perlakuan tersebut. Mungkin ini adalah harga yang pantas ia terima beserta seluruh keturunan Hyuuga. Karenanya, tempat yang dulu begitu megah, begitu luas, begitu indah, tidak lagi bisa ia tempati.
Sebenarnya Hinata tidak keberatan menanggalkan statusnya serta meninggalkan rumah megah itu. Hanya ada satu hal yang berat untuk Hinata terima setelah peperangan itu berakhir, yaitu meninggalkan Naruto. Pria yang tidak bisa ia temui lagi.
Seusai rapat yang dilaksanakan secara darurat dan menghasilkan keputusan mengenai siapa pemegang tahta selanjutnya. Dimulailah tercipta jarak besar yang terbentang antara dirinya dan Naruto. Pria itu seakan menghilang. Seolah lenyap. Sudah banyak waktu yang Hinata habiskan untuk menunggu Naruto, namun pria itu tidak jua muncul. Sampai akhirnya, hari di mana Hinata harus meninggalkan tempat itu, Naruto tetap tidak bisa ia temui. Mau tak mau, dan dengan sangat terpaksa Hinata pergi tanpa mengucapkan apapun padanya, padahal banyak sekali hal yang ingin ia bicarakan.
Tanpa sadar air mata telah mengenang di pelupuk matanya, lalu ia biarkan jatuh menetes di pipinya. Setiap Hinata menghabiskan waktu di tempat ini, menangis adalah hal yang tidak bisa ia hindari. Jika pertama kali Hinata menyeka air matanya, maka seminggu terakhir ia biarkan saja mengering dengan sendirinya. Tidak perlu lagi ia menahannya karena satu-satunya cara agar perasaan sesak itu pergi adalah dengan menangis di setiap kenangan itu terputar di benaknya.
Tapi semakin lama, setiap bertambahnya hari, perasaan sesak itu semakin besar. Rindunya semakin tak tertahankan. Betapa Hinata merindukan sosok Naruto di sampingnya. Angin yang menerpa wajahnya seolah membantu Hinata untuk memejamkan kedua matanya, menambah deras air mata yang jatuh ke pipinya, lalu pecahlah isakan tangis itu.
Bibir yang semula ia gigit kuat-kuat akhirnya terlepas diikuti suara yang juga meluncur, bergumam rendah memanggil sebuah nama yang menyebabkan dirinya seperti ini.
"Naruto."
Suara itu terlantun dengan sangat lemah dan lenyap begitu saja, seakan angin membawanya pergi. Namun setelah meloloskan nama Naruto, perasaan sesak itu justru semakin mendesak Hinata seolah angin juga membawa pergi udara yang Hinata hirup. Tapi anehnya, Hinata ingin melakukannya lagi. Lagi dan lagi. Berharap bahwa angin akan menyampaikan kerinduannya. Meski ia tahu hal itu tidak akan pernah terjadi.
"Naruto," ucap Hinata lebih kuat diiringi helaan napas panjang. Pertanda ia mengakhiri untuk meloloskan nama itu lagi dari mulutnya. Namun mata yang sedari tadi terpejam lantas terbelalak saat ia mendengar seseorang menyahut panggilannya.
Meski samar, dan meski Hinata merasa seperti ia sedang berhalusinasi. Tubuhnya berbalik dengan sendirinya untuk memastikan kebenarannya. Hinata kenal suara itu. Hinata hapal siapa pemilik suara itu. Tapi mungkinkah?
Dia—orang yang sedari tadi Hinata panggil kini berdiri tegap di hadapannya. Pria itu tersenyum tipis. Mata Hinata bahkan berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa yang ia lihat sekarang bukanlah ilusi. Bukanlah halusinasinya. Tapi bagaimana bisa? Mungkinkah angin benar-benar mengantarkan panggilan lirihnya?
"Naruto?" ucap Hinata tak yakin.
"Ya."
Mata Hinata berkedip-kedip lagi. Pria di depannya benar-benar nyata. Meski penampilannya sangat berbeda, tapi pria itu benar-benar Naruto!
Refleks tangan Hinata menutup mulutnya yang kini terbuka lebar. Seketika itu juga air mata Hinata berhenti mengalir. Berganti dengan debaran jantungnya yang semakin lama semakin keras manakala Naruto berjalan mendekatinya.
"Memangnya ada apa dengan sungai ini hingga kau menangis begitu?" tanya Naruto saat matanya mendapati jejak-jejak air mata di wajah Hinata sebelum akhirnya menatap sungai dari balik bahu Hinata.
"Tidak ada apa-apa," jawab Hinata pelan.
"Apa kau baru membuang atributmu lagi di sana?" tanya Naruto lagi, kali ini menatap langsung mata Hinata.
Tidak ada satu detik mata Hinata langsung bergerak menghindar kemudian ia menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak."
Hinata merasa wajahnya memanas hanya karena mendapat tatapan mata dari Naruto, tapi Hinata suka dengan perasaan ini.
"Ataukah … kau ingin kembali menjadi laki-laki dan memotong rambutmu?"
"Tentu saja tidak!"
"Jadi, kenapa kau menangis?"
"Ada debu masuk ke mataku," jawab Hinata sembari mengucek kedua matanya sebentar.
Naruto mengangguk singkat, "Ah … Lalu, kenapa memanggil namaku?"
"I-itu … itu karena … " Hinata menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja mongering karena panik, dan Hinata yakin saat ini wajahnya pasti merona, "… karena sudah jelas kan?" lanjutnya dengan nada kesal.
"Apanya?" tanya Naruto tak mengerti.
"Kenapa kau bertanya terus sedari tadi?" Kali ini Hinata sedikit teriak karena kekesalannya bertambah mendapati ekspresi Naruto barusan. "Kau sendiri, memangnya apa yang sedang kaulakukan di sini?"
"Menjemputmu."
"Maksudmu kembali ke Istana? Harusnya kau mengerti, itu bukan lagi tempatku."
"Jadi itu alasanmu pergi tanpa mengucapkan apapun padaku?"
"Kaupikir aku tidak ingin melakukannya?" tanya Hinata geram. Tiba-iba saja ia merasa darahnya mendidih.
"Asal kau tahu, aku sudah mencarimu bahkan menunggumu, tapi kau tidak juga muncul! Kau seperti makhluk langka yang sulit untuk kutemukan, tapi aku tahu aku tidak mungkin menyalahkanmu, Kaisar Namikaze! Aku tahu kau harus mengurus banyak hal untuk memperbaiki semua masalah yang telah diperbuat oleh Tou-san-ku. Kau harus memprioritaskan hal yang lebih penting sampai-sampai kau tidak memiliki waktu untuk sekadar mengurusi masalah kecil. Aku tahu, semua itu kaulakukan demi semua orang di negeri ini termasuk diriku. Aku tahu dan karena itulah aku juga merasa sangat kesal!"
"Maafkan aku," ucap Naruto. Mata birunya menatap penuh penyesalan seperti pada nada bicaranya barusan.
"Dan kalimat itu semakin membuatku kesal, Kaisar." Hinata mendesah gusar, "Kurasa sudah cukup. Aku pikir kau sudah tahu apa jawabanku."
Hinata memutuskan untuk pergi, namun tepat saat ia melintas di samping Naruto. Pria itu mencengkram erat pergelangan tangan Hinata. Menahannya.
"Aku bukan memintamu untuk ikut bersamaku ke Istana. Ini adalah perintah Kaisar."
Hinata mendengus geli, "Kupikir kau bukan seperti itu, Naruto-sama," ucap Hinata tenang. "Tidakkah kau tahu, kini semua orang menatapku dengan penuh kebencian. Memandang jijik seolah aku adalah kotoran yang harus dienyahkan setelah mereka semua mengetahuinya. Namun aku menerimanya, marga Hyuuga yang ada padaku ini. Marga yang membuatku mendapatkan semua perlakuan itu. Dan kau, harusnya kau sadar siapa dirimu sekarang." Hinata menarik tangannya hingga cengkraman itu terlepas, "Aku sudah menerimanya … termasuk dengan meninggalkanmu, Naruto."
Namun belum sempat kaki Hinata melangkah, Naruto kembali menangkap pergelangan tangannya. Kali ini mencengkramnya dengan lebih kuat.
"Aku tidak!" ucapnya tegas kemudian Naruto mengubah posisinya menghadap tanpa melepaskan genggaman tangannya, "Aku tidak peduli dengan semua itu. Di depanku saat ini adalah Hinata yang sama sejak pertama aku mengenalmu, dan perasaanku padamu tidak pernah berubah hingga detik ini."
"Tidakkah kau sadar tentang perasaanku padamu … selama ini?" tanya Naruto dengan menatap dalam mata Hinata. Sontak wajah Hinata memerah dan ia tidak bisa menyembunyikannya. Naruto yang menyadari itu pun tersenyum bangga.
"Lagi pula jika kau memang tidak bisa ikut bersamaku karena pandangan mereka pada marga Hyuuga yang ada pada namamu, kita ubah saja menjadi Namikaze. Tidak sulit, bukan?" sambung Naruto dengan seringai di wajahnya. Membuat Hinata benar-benar tidak mampu berkutik.
Hinata buru-buru mengalihkan pandangannya. Dadanya bergemuruh hebat, darah seakan mengalir sangat cepat di tubuhnya. Susah payah ia menahan wajahnya agar tidak tersenyum bahagia, pasalnya saat ini Hinata merasa senang bukan main. Bukankah saat ini Naruto seperti melamarnya? Benarkan? Benar begitu 'kan?
"Bagaimana Nyonya Namikaze?" ledeknya sembari tersenyum, "Apa perlu kucium dulu baru menjawab?"
Hinata mendecak kesal, walau wajahnya tidak mengatakan begitu. Meski sekuat tenaga ia menahannya tetap saja kedua sudut bibirnya sedikit melengkung ke atas. Kebahagiaan itu tidak bisa ia tutupi dengan baik. Sepertinya angin tidak hanya menghadirkan Naruto, namun angin juga menerbangkan harapan yang ingin Hinata dengar dan membawanya tepat di hadapannya. Semua ucapan yang tidak perlu Hinata ragukan lagi.
Hinata mengedikkan bahunya sesaat sebelum menjawab dengan nada santai, "Yah, mau bagaimana lagi. Bukankah aku sebagai rakyat biasa tidak bisa membantah perintah Kaisar."
Naruto tertawa kecil lalu menurunkan tangannya untuk menggenggam tangan Hinata dan tanpa ragu Hinata juga balas menggenggamnya dengan senyum di wajahnya.
Berdua mereka berjalan meninggalkan sungai itu. Menuju hidup mereka yang baru, berjalan berdampingan sebagai teman hidup.
—Sasusaku—
Peluh membasahi wajahnya. Kedua alisnya mengerut, seolah menolak pada apa yang sedang dialaminya. Menolak mimpi yang sedang menyapa di sela-sela tidurnya. Bunga tidur yang meresahkannya. Menampilkan kenangan yang menyakitkan baginya. Tentang bagaimana ia ditinggalkan dan kemudian kehilangan.
Kedua matanya lantas terbuka saat puncak kejadian mengerikan itu akhirnya terputar. Napasnya terengah seakan ia habis berlari jauh, padahal sedari tadi ia hanya berbaring. Mengistirahatkan tubuhnya.
Ya, mimpi buruk itu muncul lagi. Entah sudah yang ke berapa kalinya bayangan dari masa lalunya muncul. Menampilkan kejadian pahit di mana ia harus kehilangan orang-orang yang berarti baginya meski kejadian itu telah lama berlalu. Dan hal yang paling ia benci setelah melihat kejadian itu adalah perasaan tak mengenakkan menggumpal di dadanya. Membuatnya sesak.
Ia menghela napas panjang. Kepalanya menoleh, mencari sosok yang seharusnya berada di sampingnya. Menemaninya di setiap ia menghabiskan hari. Segera ia tersenyum penuh kelegaan saat netra hitamnya berhasil menangkap punggung itu. Punggung yang bergerak naik turun dengan teratur, menandakan bahwa dia sedang tertidur lelap.
Perasaan tak mengenakkan itu perlahan-lahan mulai beranjak pergi. Dadanya tidak lagi terasa sesak hanya dengan menatap punggung itu. Punggung milik wanita yang telah menyandang marga klan-nya. Uchiha.
Satu tangannya lantas terulur tanpa sadar. Mengelus lembut punggung itu, pelan—teramat pelan seakan punggung itu terbuat dari kaca yang sangat rapuh. Tapi, hal itu tak memuaskannya. Wanita itu terasa bagai candu, membuatnya tak bisa menahan keinginan untuk melakukan lebih dari sekadar sentuhan pada punggungnya.
Ia tahu bagaimana cara mengusir perasaan tak mengenakkan itu dengan cepat, karena itu ia memutuskan untuk bergerak mendekat sepelan mungkin agar wanita itu tidak terbangun karena pelakuannya sekarang.
Dengan mudah kedua tangannya menyelinap masuk, menjadi sandaran leher wanita itu, sedangkan tangan satunya lagi telah melingkari bahunya. Membuat tubuh mereka melekat. Ujung hidungnya kini menyusup di sela helaian rambut merah mudanya hingga menyentuh lembut leher bagian belakang. Menyesap wangi yang sangat ia sukai.
Jantung mereka kini berdetak seirama, begitu pun dengan embusan napas keduanya. Sasuke menyembunyikan netra hitamnya. Meresapi ketenangan dan kehangatan yang tercipta dari pelukan ini. Inilah cara yang ia yakini agar perasaan yang timbul karena mimpi buruk itu lenyap tak bersisa.
Sakura Uchiha, dialah obat penawarnya.
"Mimpi buruk?" tanya Sakura pelan, suaranya masih terdengar serak. Satu tangannya kini bergerak menggenggam lengan yang melingkar di bahunya. Meski begitu, mata hijaunya masih tertutup rapat.
"Hn," gumam Sasuke tenang. Mengikuti Sakura yang masih memejamkan kedua matanya, namun Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Merekatkan tubuh mereka, menyalurkan hawa panas dari kulit mereka yang saling menempel, "Aku membangunkanmu?"
Sakura tersenyum simpul, "Hmm, tentu saja." kemudian disusul suara tawa ringan dari mulutnya karena embusan napas Sasuke yang terasa mengelitiknya. Tentunya Sakura tidak merasa keberatan karena waktu tidurnya terganggu. Malahan ia memerintahkan tangannya untuk mengelus lembut tangan Sasuke. Menyalurkan rasa nyaman padanya.
Ini bukan pertama kalinya terjadi. Kadang Sakura-lah yang menemukan Sasuke yang tengah mengalami mimpi buruk. Dan ia pun akan melakukan hal yang sama. Memeluk Sasuke erat sembari menyeka bulir-bulir keringat yang membasahi wajahnya, sampai mimpi itu lenyap darinya.
Selang beberapa lama, dilepaskan kedua tangan yang mengurung tubuhnya sehingga Sakura bisa berbalik dan menghadap Sasuke. Menatap mata hitam yang juga kini menatap padanya dalam jarak yang sangat dekat. Satu tangan Sasuke masih menjadi sandaran leher Sakura, sedangkan satunya telah berpindah memeluk pinggang mungil itu.
"Sudah merasa lebih baik?" tanyanya Sakura sembari tersenyum. Rona merah pada pipinya tidak mampu ia sembunyikan, meski mereka sudah sering melakukan lebih dari sekadar bertatapan mata. Bahkan jantungnya pun ikut bereaksi.
Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut pria di depannya, yang sudah setahun ini berstatus sebagai suaminya. Hanya belaian lembut pada rambutnya yang tergerai bebas menjadi jawaban Sasuke.
"Tidurlah lagi," perintah Sasuke lembut. Selembut tatapan matanya, yang makin menambah rona merah di wajah Sakura.
Untuk sesaat Sakura mengalihkan pandangannya. Mencoba mengurangi debaran pada jantungnya. Sekaligus memberi tanggapan pada perintah Sasuke barusan.
"Aku jadi tidak mengantuk," ucap Sakura dengan wajahnya yang tersipu malu.
Dan saat mata itu kembali menatap Sasuke. Pria itu menghadiahi Sakura dengan senyuman yang tak kalah lembut dari tatapan matanya. Rupanya usaha Sakura untuk menetralkan debaran jantungnya harus berakhir sia-sia, karena kini jantungnya berdetak semakin menggila. Wajahnya sudah memerah.
Tangan Sasuke yang semula mengelus rambut Sakura perlahan turun, berpindah mengelus lembut pipi Sakura. Kedua mata terus saling memandang dengan penuh kelembutan, dan tanpa sadar jarak pandang mereka semakin dekat. Tepat saat kedua ujung hidung itu bertemu, dua pasang mata itu perlahan menutup seiring dengan bibir mereka yang menyatu.
Bibir itu saling mengecup dengan lembut, saling merasakan dan kemudian berubah menjadi lumatan. Perlahan dua pasang itu kembali terbuka saat mereka melepas ciuman itu. Namun begitu ujung hidung mereka masih bertemu sehingga embusan napas keduanya saling menerpa wajah mereka.
Pandangan mereka masih terpaku. Ada hasrat yang terpancar dalam pandangan dua pasang mata berbeda warna itu, sama besarnya.
"Jadi … " Sasuke sengaja mengantungkan kalimatnya dan kali ini bukan hanya senyuman tipis yang muncul di wajahnya, melainkan seringai.
"Jadi?" tanya Sakura, wajahnya semakin merona tapi ia tidak memungkiri. Ia juga menginginkan hal yang sama.
Detik terbuang begitu saja kemudian berganti menjadi senyuman penuh arti yang mengembang dari bibir keduanya.
Bersamaan keduanya bergerak menghapus jarak di antara mereka. Kembali mempertemukan bibir yang kini mengecup perlahan, kemudian melumat penuh kelembutan. Ciuman yang semakin lama berubah semakin dalam, di mana kedua organ lunak mereka kini bertemu, saling membelit dan mengesap.
Bentuk dari ungkapan cinta mereka. Kebahagiaan yang akhirnya berhasil mereka rasakan.
Selesai
Curcul :
Hai ^^
Jangan timpuk aku ya hahaha….
Maaf untuk segala kekurangan dan juga semisal ada kata-kata yang kurang menyenangkan. Semoga ekstra chap ini bisa memuaskan, meski ngak lemon haha (Hayo siapa yang udah mikir yang iya-iya pas baca spoiler kmrn) wkwk
Aku nyerah klo suruh bikin adegan 'begituan' bisanya mah yang beginian aja. Itu aja udah bikin ketar-ketir wkwkwk. Butuh usaha keras loh nulis chap ini terutama bagian Sasusaku. Saya tahu tidak memuaskan kalian, tp ini bentuk terima kasih saya buat kalian ^^
Kalian sadar ngak sih, dari masing-masing pairing tidak pernah ada yang mengucapkan kata cinta. Hahaha... Oya, aku penasaran deh, aslinya ada penggemar Naruhina ngak sih yg baca Fic ini? Khusus penggemar Naruhina? Hai donk ke aku hehe…
Sekali lagi kami—Saya dan Hanaruupi— mengucapkan terima kasih banyak ya semuanya ^^
dan untuk terakhir kalinya, berkenankah meninggalkan jejak di Samurai Heart.
Ucul Note :
Pink Tomato : Semoga suka ekstra chapnya ^^
Nakazawa Yumi : Terima kasih banyak loh udah suka ^^
Virinda : Iya, udah selesai huhuhu sama-sama ya, makasih juga ^^ semoga suka ya ekstra chapnya.
Vanny-chan : Huhu iya udah tamat.
KuroNeko10 : Alhamdulilah akhirnya….iya sama-sama, mksh jg udah setia menemani hiks.
Angsa Putih : Saya ngak tega misahin mereka hiks, semoga suka ekstra chapnya ya ^^
Hanazono yuri : HIhihi klo Itachi ngak mati nanti saku yang mati pilih mana? Hehe, iya mksh ya ^^
Hyderyuki : Ini aku kasih adegan kissunya, mana dua kali lagi wkwk, semoga suka ya sm ektra chapnya, jgn sedih terus ^^ semangat!
Poetri chan : Gpp, mksh udah ripiu ^^
Shinkane Von Einzbern : Salam kenal juga ^^ iya udah tamat hehe, waduh makasih banyak ^^ dan dan apahhh Takakuuuuuu… aku istri sahnya loh XD
Berry Uchiha : Hihihi ini udah kupublish loh, semoga suka ya ^^
Nuniisurya26 : Iya tamat huhuhu, makasih y ^^
Kiki Kim : Apaan tuh menganu-kan *mikir* wkwkwk, Kim Woo Bin, gtw dia dinosaurus apa bukan :D terakhir aku liat sih masih manusia wkwk, eh mantanmu toh, gpp lah, dia Cuma selingkuhan aku aja kok haha, siapa itu Heechul? Aku ngak kenal (Maklum ngak banyak tau artis2 koera hehe)
Yoktf : Sama-sama loh, semoga suka sm ekstranya ya ^^
Nikechaaan : Iya aku jg sedih huhu *peluk* Semoga suka ya ^^
Ikalutfi97 : Maaf si eneng sarada ngak ada, sengaja biar sasusaku puas2in bedua dulu wkwkwk
Guest : Sama-sama ^^ mksh juga ya
Dauddolmayan : Huhu maaf ya buat kekurangan romensnya huhu…
Lhylia Khiryu : Jadi gitu deh haha… Maaf klo mengecewakan ya ^^
Wowwoh Geegee : Sama-sama.. mksh juga udh betah ngikutin SH ^^
Arisahagihawa chan : Hihihi, makasih dan semoga suka sm ekstranya ^^
Alin : Maaf ngak bisa sepanjang itu, ini memang Cuma cerita selingan singkat aja.. maaf ya TOT
Gita Zahra : Hihi yg menantang buat aku berarti cerita romens donk haha…
Annet : Aku publish bareng kok ^^
Dianarndraha : Untungnya ngak sad ya hehe,, makasih loh ^^
Herocyn Akko : Hehe gomen T-T kmrn itu aku dapet musibah, aku kecelakaan di jalan raya, sebenernya ngak etis sih mengungkapkan alasannya, tapi aku cm minta mohon dimengerti aja ^^ sama aku jg bakalan kangen akko juga hihi maaf aku ngak tahan kalo ngak bawa2 Taka haha, mkasih ya akko ^^
Ciheelight : Sama2 loh, aduh bisaan aja deh muji ada maunya hehe, makasih jg loh udah suka sm Fic ini…
Rina442 : Alhamdulilah, semoga juga suka sm ektranya ya ^^
BaekhyunsaranghaeHeni : Iya nih, semoga suka ekstranya ya hehe
Hyemi761 : Hahaha kan udah ada di summary nya *No Lemon* hehe maaf ya tapi smoga ttp suka sm ekstranya ^^
Apingkyonyxta : Ada ektrsa doank, semoga suka ya ^^
Cherry Philein : Hihihi maaf deh klo gt, Si Itachi ngak nolak kok waktu tanda tgn kontrak hehe, sama2 ya mksh jg udah suka Fic ini ^^
Dytantri : Hihi makasih udah tobat jadi silent reader hehe,, semoga ekstranya suka ^^
Teeneji : Sama nih, aku jg bakalan kangen dirimu deh ^^ mksh jg udah ninggalin jejak di Silence ^^ hayo yg disbelah kamu siapa itu hayoo :p semoga suka ektranya jg ya ^^
Rina Apple : Hehe makasih uda ninggalin jejaknya ^^
6934soraoi : Hihihi aku kasih sekaligus kok soalnya ini Cuma cerita singkat aja hehe… Dian itu nama asli saya hehe duh, jadi ketawan deh namanya pasaran hohoho
Istri Sasuke : Ngak lama kan apdet bonus chapnya ^^ semoga suka ya ^^
Leedidah : Hai hai, silakan aja dibaca ^^ semoga suka ceritanya.
Annisa Alzedy : Sama-sama, mksh juga udah suka crtnya ^^
Hotarubi chan : Ini kok chapter omake-nya hehe, eh masa? Aku sendiri lupa ending itu Film bagaimana hehe, ya semoga kalo bikin cerita masih bisa dinikmati sm Hota ya ^^
Muzsuke : Hihi biar mereka buat sendiri aja deh.. aku ngak kuat kalo ikutan haha
DivXI : Untung deh udh ngak penasaran lagi hehe Semoga suka ya sm eksta chapnya ^^
Yuliita : Wah, makasih banyak yaaa ^^
Hikaru Sora 14 : Semoga suka ekstra chapnya ya Hika ^^
17 – 10 – 15
.
[U W] — Istri sah Taka, ONE OK ROCK :* —
Views : 53.938.
