***Disclaimer:
Well, yeah, absolutely JK Rowling (The real owner for the all of Harry Potter characters. I have nothing but "Serafina" Haha yay) \(^_^)/

***Starring: George Weasley & Lucia Anderson (a.k.a Serafina)

***Genre: Romance

***Rate: T

"Ini adalah kisah cinta George Weasley, dimana dia berusaha menemukan kembali

cerita cinta yang hampir dilupakannya."

Chapter 3. The Burrow II

Menjelang fajar, George terbangun dan mendapati tangan Serafina memegang tangannya. Ada rasa canggung tapi juga bahagia. George membiarkan tanganya bersentuhan dengan kulit Serafina. George pura-pura tidur kembali ketika melihat Serafina mulai membuka matanya.

*George*

["Tidak ada satupun orang yang senang ketika sakit mendatanginya, tapi bagiku, kalau sakit ini bisa mendekatkan aku dan Serafina, aku akan sangat rela"]

Aku merasa Serafina mulai meloloskan tanganku dari genggaman tangannya, aku tidak rela ini cepat berakhir, dengan pura-pura tidur, aku menggenggam tangannya lagi. Serafina tampak merelakannya saja, bahkan sekarang dia mengecek dahiku dan mengelus rambutku. Oh betapa senangnya.

Tetapi tidak berapa lama setelahnya, aku dengar bunyi derit kayu tanda seseorang melangkah mendekat.

"Eh, apa yang kalian lakukan?",ternyata itu Fred, tampaknya dia melihatku bergenggaman tangan dengan Serafina.

"Umm…. Ini… ini…. Bukan apa-apa. George tiba-tiba menggenggam tanganku, mungkin dia tidak sadar, dia masih tertidur, lihatlah", Serafina berkata dengan gugup, bermaksud melepas tangannya dari genggamanku.

"Oh, mungkin George sedang memimpikan hal yang jorok, dia biasa seperti itu haha",Fred tertawa terbahak'

Aku tidak terima hal ini, aku pun membuka mataku segera.

"Aku tidak bermimpi hal yang jorok Fred, aku bukan orang yang mesum",kataku kesal.

"Well, kau baru saja mengakui kalau kau itu mesum, satu point untukku",Fred menyeringai.

Ku lihat Serafina sangat malu, ia tertunduk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Aku seperti kepiting rebus, Fred benar-benar membakarku dalam tungku kemarahan.

"Ummm, tampaknya George sudah membaik, jadi aku akan keluar sekarang", Serafina berjalan pergi keluar kamar dengan tergesa.

"Hey Bung, tidakkah kau kelihatan begitu kikuk semenjak gadis itu datang?",tanya Fred curiga.

"Tidak sama sekali, mungkin ini hanya karena efek racun serangga",kataku menimpali sekenanya dan membuang muka tanda kesal.

"Tidak apa-apa George, mengakulah, apa yang bisa kamu sembunyikan dariku?",ujar Fred menepuk bahuku. Dia meninggalkanku sendirian yang Cuma bisa"melongo" di atas ranjang. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, Fred sepertinya sudah membaca gerak-gerik anehku. Atau mungkinkah yang lain juga merasakan hal yang sama? Ah, semoga tidak! Akan jadi masalah besar jika semua orang tau kalau aku kikuk karena jatuh cinta. APAAA~ jatuh cinta? Tampaknya sakitku semakin parah saja. Well, bukankah sebelum ini aku bersedia untuk sakit lebih lama? dan nampaknya ini sudah terkabul. Otakku sudah mulai gila.

*Normal*

"Aku benar-benar malu saat Fred memergokiku sedang berpegangan tangan dengan George, betapa tidak! Berpegangan tangan dengan pria di kamar! Dia bukan pacar ataupun suamiku! Semoga aku tidak terlihat semurahan itu", Serafina mengetuk kepalanya berkali-kali berharap semua ini hanya mimpi.

Dia masuk ke kamar para gadis. Dia mulai menguap, kurasa dia memang kurang tidur.

"Hey Sera, darimana saja kau? Kami mencarimu sejak tadi, kau tidak ada di kamar", Hermione penasaran.

"Oh, semalaman George sakit lagi, jadi aku harus merawatnya",kata Serafina sambil menguap.

"Benarkah? Maafkan kami yang tidak tau akan hal ini, pasti kau tidak tidur semalaman kan?",ujar Hermione menebak.

"Sebenarnya aku sempat tertidur sebentar",kata Serafina menguap lagi.

"Apakah kau tidur di kamar George?",tanya Ginny sangat bersemangat.

~Deg, rasanya jantungku mau copot.

"Uuumm…. i… iy.. iya, tapi aku tidur terduduk di di… kursi, sementara Fred pun ada disana, tertidur di sofa, pintupun terbuka lebar, jadi, kamii…. ti tidak melakukan apa-apa… Umm… tidak ada hal yang perlu dicemaskan",jawab Serafina terbata-bata sambil memaksakan senyuman untuk pamer gigi.

"Eyy, apa kau ingin kalau terjadi sesuatu disana?",Hermione mulai memasang wajah aneh dan tertawa menyeringai.

"Ah… haha tentu saja tidak, bukan itu maksudku",muka Serafina merah padam dalam sekejap.

"Aku akan menghajar kakakku jika dia berani berbuat macam-macam padamu, tenang saja, aku cukup kuat untuk melempar benda yang berat sekalipun, Haha",Ginny menimpali.

"Tenang saja, George tidak akan berbuat macam-macam padaku, hehe"

Serafina sebenarnya tidak menjamin tentang ini, karena baru pertama kali bertemu, George sudah berani memegang tangannya. Apa yang akan terjadi seminggu ke depan? Ah dia tidak berani memikirkannya, yang jelas kamar para gadis penuh tawa di pagi buta ini.

Serafina tampak tidur di kamarnya, begitupun George yang masih enggan beranjak, dan tetap terbaring di ranjangnya. Mereka melewatkan sarapan pagi keluarga Weasley. Mrs Weasley memaklumi hal ini, dia sangat berterima kasih pada Serafina karena mau menjaga anaknya semalaman.

"Kau tau Ron, biasanya aku yang mengerjaimu sepanjang waktu, tapi kali ini aku punya ide bagus untuk mengerjai George",kata Fred sambil mengunyah makanan.

"Apa kau juga sakit Fred? Ini sangat tidak biasanya",ujar Ron sambil menggigit ayam dengan mantap.

"Tentu tidak, aku hanya merasa bahwa George cocok untuk menjadi sasaran empuk kali ini, aku mau lihat, seberapa lama dia bisa bertahan dari membohongiku",Fred menyeringai.

"Ah, kau cuma ingin balas dendam, aku tidak mau ikutan",Ron menolak.

"Tidak, ini bukan tentang balas dendam, tapi ada sebuah rahasia yang George sembunyikan dari kita, bukankah kau ingin tau juga apa itu?",kata Fred membujuk.

"Well, rahasia macam apa yang bisa George sembunyikan darimu Fred, bukankah kalian terkoneksi satu sama lain?",tanya Harry heran.

"That's right, sebenarnya aku hanya ingin memastikan apakah firasatku benar tentang itu",jawab Fred.

"Tentang apa?",tanya Ron balik. Dia tidak sekalipun melepas paha ayam yang ada di tangannya itu.

"Tentang wanita, haha",Fred membuat Mrs Weasley tersedak.

"Sudah, habiskan sarapan kalian, sejak kapan anak-anak lelakiku jadi doyan bergosip di depan meja makan"

"Sejak Fred berkencan dengan Angelina Mom",kata Ginny membuat Fred terdiam seketika.

Hermione dan Ginny melakukan "cheers" dengan secawan teh di tangan mereka, melirik Fred dan berkata pelan "Bung, kamu berhutang ice cream pada kami", mereka terkikik geli. Fred hanya bisa melayangkan "dearth glare" pada mereka.

"Ah, satu tanda lagi kalau anakku sudah besar. Well, kapan-kapan kau harus menceritakan tentang gadis itu Fred", ujar Mrs Weasley sambil menyelesaikan suapan terakhirnya.

"Selamat pagi semuanya" pintu berderit terbuka.

"Oh, selamat pagi Mr Weasley", kata Harry menyapa Arthur Weasley, kepala keluarga Weasley.

"Sarapan yang lezat, bisa kau bagikan aku satu potong roti Ginny?",tanya Mr Weasley.

"Tentu saja Dad", Ginny memberikan sepiring penuh isi roti pada Mr Weasley.

"Cuci tanganmu dulu Arthur, lihatlah kau mengajari anakmu hal yang buruk! Tidak cuci tangan sebelum makan", Mrs Weasley mengomentari.

"Tenanglah Molly, ini tidak akan membunuhku, lambungku cukup kuat untuk jenis kuman kecil macam ini",Mr Weasley menyantap rotinya dengan lahap, benar-benar terlihat sangat lapar. Harry dan Hermione terkikik geli melihat kelakuan Mr Weasley yang sangat mirip dengan Ron, sahabat mereka.

"Terserahlah",ujar Mrs Weasley kesal.

"Ah ya, dimana si kembar satunya?",tanya Mr Weasley.

"George sedang sakit Mr Weasley, dia terkena gigitan serangga beracun, sekarang dia ada di kamar untuk istirahat",kata Hermione menjelaskan.

"Benarkah? Mengapa tidak ada satupun yang memberitahuku?",Mr Weasley terlihat cemas dan berhenti mengunyah.

"Tenanglah Mr Weasley, George sudah ditangani oleh "ahlinya", bukan begitu Fred?", Harry memandang Fred penuh arti, sepertinya Harry dan Fred punya pikiran yang sama.

"Yooo… benar sekali Bung", Fred ber-toss dengan Harry, Ron hanya melongo tanpa ekspresi, dia tak ada ide tentang semua ini, sehingga pilihan terbaik adalah melanjutkan mengunyah paha ayam di mulutnya.

Tidur sebentar dirasa sudah cukup bagi Serafina, dia membersihkan dirinya dan bermaksud melihat keadaan George sebelum turun ke bawah untuk menemui keluarga Weasley yang lain.

"Mmm… tampaknya George sudah membaik, syukurlah",kata Serafina pelan di depan George yang tertidur pulas.

Mr Weasley menyelesaikan sarapan dengan cepat dan beranjak menaiki tangga untuk melihat keadaan George di kamarnya. Dia mendapati ada seorang gadis di kamar George.

"Siapa kau?", tanya Mr Weasley penasaran.

Gadis yang ditanya menoleh dengan senyuman di bibirnya.

"Saya Serafina Mr, putri dari Mrs Gonagall, saya menginap disini sejak tadi malam",jelas Serafina.

"Sejak kapan Mc Gonagall memiliki putri?",batin Mr Weasley.

"Salam kenal Serafina. Aku Arthur, ayah dari pria yang tergeletak di ranjang itu. Ah, baiklah, Apakah kau yang merawat George? Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Iya benar, George sudah mulai membaik Mr",jawab Serafina semari tersenyum manis.

"Syukurlah, aku sangat berterimakasih padamu, Serafina. Mmm… ah ya, nikmati waktumu di The Burrow, anggap saja ini rumahmu juga",kata Mr Weasley pergi keluar dari kamar si kembar dan kembali menuruni tangga.

"Well, Dad sekarang tau siapa "ahli" yang kalian maksud", ucap Mr Weasley kepada anak-anak yang sedang bersantai di sofa ruang keluarga.

Hahaha~ semuanya tertawa.

"Molly, aku butuh penjelasan darimu tentang beberapa berita yang tidak ku ketahui saat aku pergi bertugas kemarin", Mr Weasley terlihat berbincang dengan istrinya di dapur. Membicarakan tentang Serafina.

Serafina menuruni tangga, semua mata melihat Serafina dengan pandangan yang err "sedikit berbeda". Kali ini ia mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda.

"Hai, selamat pagi semuanya",Serafina menyapa mereka semua dengan senyuman paling manis yang dia bisa.

"Hai Serafina, selamat pagi",kata mereka kompak sekali seperti paduan suara.

Serafina mendekati mereka yang sedang bergerombol di sofa, mencoba memberanikan diri.

"Oh, kau sudah bangun?",tanya Ginny pada Serafina.

"Iya, bahkan aku sudah membersihkan diri, hehe",ujar Serafina agak canggung.

"Ya, itu terlihat sekali. Pagi ini kau terlihat lebih cantik", kata Hermione.

"Jadi, kemarin aku tidak terlihat cantik? hehe", Serafina menimpali ucapan Hermione.

"Mana ada keturunan Veela yang tidak cantik, haha, uuuppss",ucap Ron kelepasan.

"Veela? Apa itu Veela?",tanya Serafina penasaran.

"Sudah, lupakan, Ron memang sering membual", Hermione menyikut Ron, yang lain pun ikut menatap Ron tajam, Serafinalah satu-satunya yang tidak paham tatapan apa itu.

Pandangan Serafina tiba-tiba beralih pada suatu benda tua di pojok ruangan.

"Wah, kalian punya piano?", tanya Serafina tanpa mengalihkan pandangan dari benda yang cukup menarik penglihatannya itu.

"Iya, Charlie sering memainkannya ketika pulang, sudah lama tidak ada yang memainkannya semenjak dia pergi untuk mengurus naga di Rumania. Kita semua tak pandai berurusan dengan piano",ujar Fred menjelaskan.

"Apa kau bisa memainkan piano Sera?",tanya Harry.

"Entahlah, tiba-tiba aku merasa tertarik ketika melihat piano",jawab Serafina sekenanya.

"Aku bisa memainkannya sedikit, Dad pernah mengajariku beberapa lagu",kata Hermione.

"Baiklah, tunjukkan pada kami",Ginny sangat bersemangat.

"Sure, aku harap ada yang bersedia untuk berduet denganku, Ron, kemarilah",kata Hermione memicingkan matanya pada Ron.

"Aku? Aku tidak bisa main piano",kata Ron menolak.

"Ayolah Ron, kau bisa berlatih mulai sekarang",Harry mendorong Ron dan membuatnya terduduk di kursi dekat Hermione.

Hermione sedang berusaha memainkan Mozart, tapi beberapa terdengar meleset dari versi aslinya. Entah kenapa telingaku begitu peka dan seakan familiar betul dengan benda ini. Dan Ron? Dia merusak semua nada, membuat telinga pendengar menjadi sakit. Hermione memarahi Ron habis-habisan. Harry, Ginny dan Fred hanya terkikik geli melihat mereka berdua.

*George*

"Suara berisik apa ini? Mengganggu sekali"

Aku terbangun mendengar suara berisik dari bawah. Terdengar seperti suara piano, apa mungkin Charlie pulang? Tapi kenapa suara dari piano itu sangat jelek? Bukankah Charlie sangat ahli memainkan piano? Oh, aku penasaran. Sebaiknya aku cari tau.

Tampaknya badanku pun mulai terasa ringan, aku memang membaik. Aku akan menggosok gigi dan segera turun ke bawah, perutku tiba-tiba lapar. Cacing perut sudah bergenderang.

Aku menuruni tangga, dan ku dapati Ron sedang memainkan piano, pantas saja.

"Oh, Hey Bung, kau sudah merasa baikan?",tanya Fred ketika melihatku menuruni tangga dengan penampilan yang sudah rapi. Kali ini tidak seperti biasanya, aku mengenakan baju yang berbeda dengan Fred.

"Yah aku rasa begitu",jawabku singkat.

"Kau terlihat sangat rapi George, bahkan kau menyisir rambutmu",kata Harry menambahkan, berkedip pada Fred, sepertinya mereka punya pikiran aneh tentangku.

"George, makanlah dulu, kau sudah melewatkan sarapan tadi, ajak Serafina untuk makan juga, karena kau dia sangat kelelahan dan melewatkan sarapan juga",kata Mom mendekati kami.

Aku merasa bersalah membuat Serafina kelelahan karena merawatku sejak kemarin.

"Nikmati waktumu George",kata Fred melambaikan tangan sembari menyeringai dengan tatapan mencurigakan.

Aku makan bersama Serafina, dia hanya diam selama makan. Aku khawatir dia marah padaku karena tadi malam aku memegang tangannya. Aku mencoba memulai pembicaraan.

"Well, terimakasih untuk merawatku dengan sangat baik",kataku gugup.

"No problem, aku senang bisa merawat teman baru",jawabnya tersenyum sambil menyendok sup di depannya.

Teman? Iya teman, aku hampir lupa kalau bahkan kita baru kenal kemarin. Apa yang aku harapkan untuk gadis di depanku ini? Aku terlalu konyol untuk dia yang manis. Tiba-tiba aku merasa patah hati.

"Kau tau George, kau lihat badanku kecil kan?",tiba-tiba Serafina bertanya sambil terkikik lirih. Pertanyaannya membuatku berpikir sejenak dan menatapnya.

Iya juga, badannya kecil mungil, bahkan tingginya cuma mencapai batas dadaku, membuatku ingin memeluknya. Dia benar-benar tipeku. Oh, ngomong-ngomong soal dada, hari ini dia memakai simple dress selutut warna hitam dengan belahan leher yang rendah, cukup rendah untukku dapat melihat sekilas gunung kembar miliknya. Walau mungil, kukira ukuran dadanya cukup errr –aku tidak dapat katakan- untuk postur tubuhnya. Ah tidak, aku ingin menampar diriku sendiri, statement macam apa ini? Mengapa aku jadi berpikiran kotor? Apakah aku benar-benar mesum seperti yang Fred katakan? Aku mengacak-acak rambutku.

"Kenapa George?",Serafina bingung

"Ah… ti… tidak… tidak ada apa-apa, kepalaku cuma sedikit gatal, ngomong-ngomong iya benar juga, kau cukup mungil",kataku.

"Aku tau kalau aku ini kecil, tapi asal kau tau, aku suka sekali makan. Siapa yang tahan melihat roti isi almond dengan taburan keju diatasnya? mmm… nyummy", Serafina memperagakannya dengan baik, menjilat bibirnya dengan lidahnya. Sangat sexy menurutku.

Oh, mungkin aku akan pingsan lagi. TIDAK! Aku harus tetap tersadar, kembali ke topik semula tentang makanan, aku sangat terkejut mengetahui kita punya selera yang sama.

"Aku tau perasaan itu, karena itu juga makanan favoritku",kataku tersenyum lebar menampilkan gigiku yang berbaris rapi.

"Waw, benarkah? Ini menyenangkan, kapan-kapan kita bisa membuatnya bersama"

Serafina tiba-tiba mengajakku memasak? Oh, tiba-tiba aku membayangkan aku menikah dengannya, memasak bersamanya sebagai istriku. Aku bebas mengganggunya dengan kenakalanku.

"Aww, jangan sayang, kau membuatku geli, biarkan aku memasak, atau perutmu akan terus kosong tanpa makanan!",Serafina tertawa geli, dia memegang tanganku yang ada di pinggang kecilnya.

"Biarlah perutku kosong untuk saat ini, tapi sebaliknya aku akan membuat perutmu terisi penuh",kataku mencium pipinya.

"Dengan apa? Kau bahkan tidak bisa memasak sama sekali George",Serafina berusaha menghidari ciuman bertubi dariku.

"Dengan bayi",aku membisikkan kata itu di telinganya. Dia tertawa. Aku menggendongnya ala bridal style dan Oh tidak! Stop, stop, aku mulai membayangkan hal mesum lagi!

"Baiklah George, aku akan membantumu membersihkan piring kotor ini",kata Serafina mengembalikanku dari khayalan ke dunia nyata. Baru sadar kalau piringku sudah kosong.

"Ah ya, terimakasih",ujarku tersenyum dan beranjak dari meja makan.

Dari jendela dapur, kulihat Fred, Harry, Ron, Ginny dan Hermione sedang bermain Quidditch di halaman The Burrow. Aku menghampiri mereka.

"Hey, bolehkah aku ikut bermain?",tanyaku pada mereka.

"Kau masih belum pulih benar George, sebaiknya kau menonton saja",tiba-tiba Serafina muncul dibelakangku.

"Ohh, Demi Janggut Merlin, aku rindu menggunakan sapu terbangku, sudah lama sejak terakhir kali di sekolah",ucapku mendesah lesu.

"Kalau hanya sebentar dan untuk sekedar menaiki sapu terbang, boleh saja",jawaban Serafina membuatku tersenyum.

"Mau kau ikut denganku?",pertanyaanku tak membutuhkan jawaban, pada akhirnya aku menculik, -maksudku- membawa Serafina terbang bersama sapuku. Mungkin itu adalah momen terindah dalam sepanjang sejarahku mengendarai sapu terbang. Mungkin benar kalau aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalah itu, aku tidak peduli, yang jelas aku sangat bahagia. Dia memelukku erat karena takut pada ketinggian, jeritannya kali ini sangat manis di telingaku. Itu membuatku sengaja menggodanya dengan beberapa kali berpura-pura mendaratkan atau menghentikan sapu terbangku secara tiba-tiba. Haha~

*Normal*

"Lihatlah, mereka berdua terlihat sangat romantis bukan? Bisakah kita melakukan hal yang sama Harry?",tanya Ginny malu-malu.

"Kenapa tidak, ayo kemarilah",Harry menjawab cepat dan segera membawa Ginny terbang bersamanya dengan sapu terbang fireboltnya.

"Baiklah, aku jadi punya ide yang bagus, nah Ron, kau berpasanganlah dengan Hermione, kali ini kita akan mengadakan pertandingan",ujar Fred setengah berteriak agar semuanya mendengar.

"Aku dengan Ron? Oh, aku akan mentraktirnya sekotak penuh choco pie jika dia tidak menjatuhkanku ke tanah",kata Hermione melirik Ron yang berada di sebelahnya.

"Hey, jangan meremehkan aku Mrs Granger, siapkan saja choco pie-nya, aku mau sekotak penuh",kata Ron membela diri.

"Kalian semua menepi ke arahku, start line dimulai dari sini, berputarlah di pohon besar itu, dan yang kembali paling cepat dialah pemenangnya",Fred memberi perintah mirip Menteri Sihir saat melakukan pembukaan di Turnamen Quidditch beberapa bulan lalu.

"Apa kau sudah siap kalah Ron? Siapkan 5 galleons untukku, okay?",George mengejek Ron

"Nampaknya semua orang meremehkanku!",kata Ron kesal.

Fred mengaba-aba:

SATU…..

"Lihat saja George",kata Ron menyeringai

DUA…

"Well, penglihatanku masih cukup baik koq, aku belum membutuhkan kacamata seperti Harry, tenang saja",kata George setengah berbisik.

"Apa kau bilang, huh?",Harry tampaknya mendengar.

TIGA…

"Lupakan",kata George melaju kencang.

Sapu terbang melejit si angkasa. George dengan jahilnya menabrak Ron. Hermione sangat ketakutan karena sapu Ron sangat oleng dan itu hampir membuatnya jatuh ke tanah.

"Ini pembalasan untukmu atas kejadian kemarin, adikku sayang",George berkedip dan menyeringai. Rupanya dia ingin balas dendam.

"George!",sela Serafina memukul pundak George.

"Uuppss, maaf",George pura-pura tak bersalah.

Serafina mencubit pinggang George, "Ouucchhh", George akhirnya kembali mengejar Harry yang sudah melaju di depannya.

"Baiklah nona, pegangan yang erat",George mengingatkan Serafina.

Namun Serafina tidak siap, ia terlepas dari sapu terbang George.

"AAA….. tolong aku"Serafina menjerit ketakutan.

George bergegas menangkap Serafina, and "dapat". Memang agak salah posisi, sekarang Serafina berada di sisi depan George dengan duduk menyamping. Sungguh bagi Serafina itu sangat mengerikan. Spontan dia mengalungkan tangannya ke leher George. George merasa meletup-letup, ada rasa yang aneh di dalam dadanya. Dia merasa sulit berkonsentrasi. Jalannya mulai melambat dan tersusul oleh Ron.

"George, apa kau baik-baik saja?",Serafina khawatir karena George tiba-tiba melambat.

*George*

"Waw… dia sangat cantik, aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi"

"George",Serafina menatapku kebingungan

"Dan, lihatlah, hari ini gaya rambutnya cukup bagus"

"George, apa kau merasa tidak enak badan?",Serafina bertanya lagi.

"Hm… tidak, aku baik-baik saja",ucapku tersenyum tanpa mengalihkan pandanganku darinya.

"George, awas!",Serafina menjerit.

Sapu terbang menabrak pohon, dan kami berdua terlempar dan jatuh.

"Awww….. sakit… ouch", kami mengaduh.

"Hey, kalian tak apa-apa?",tanya Harry datang mendekat.

"Well, sedikit sakit, tapi tak masalah",kataku menahan sakit dan mencoba berdiri.

" Serafina, apa kau baik-baik saja? Tampaknya kau tidak bisa berdiri",ucap Hermione cemas

"Iya, sepertinya kaki kiriku terkilir, awww…",Serafina mengerang ketika Hermione mengeceknya.

Aku merasa sangat khawatir, aku benar-benar membuat Serafina celaka. Aku mendekati Serafina dan menggendongnya kembali ke The Burrow.

"Ada apa ini?", Mom cemas melihat aku menggendong Serafina yang tampak lemas.

"Kakinya terkilir Mom",jawabku singkat, aku tidak tau harus berbuat apa. Aku bingung sekali melihat Serafina kesakitan.

"Bagaimana ceritanya?", Mom bertanya lagi.

"George bertindak bodoh Mom, mereka jatuh dari sapu terbang",Fred menjawab dari arah pintu masuk.

"Dasar bodoh, apa yang harus aku katakan pada Minerva tentang menjaga anaknya dengan baik?",Mom mencoba mengecek kaki Serafina.

"Sorry Mom", kataku pelan dengan penuh perasaan bersalah.

"Tidak apa-apa Mrs Weasley, ini bukan kesalahan besar, aku tak akan bilang apa-apa ke Mrs Gonagall, jadi tenanglah", kata Serafina sambil mengedipkan sebelah matanya. Oh, Serafina membelaku.

"Biar aku yang urus, aku mengerti tentang beberapa persendian", ujar Percy tiba-tiba muncul dari belakang.

"Oh, kau sudah pulang ternyata",kata Fred kaget dengan kemunculan Percy yang tiba-tiba. Dia memang mirip hantu. Sangat aneh. Satu-satunya Weasley yang sangat kaku dan tidak pernah mengenal santai. Begitu ambisius bekerja di Kementrian Sihir.

Percy mulai mengurut kaki Serafina. Kaki mungil Serafina. Oh, mengapa Percy menyentuhnya! Kalau ini bukan bagian dari pengobatan, mungkin aku akan menghajarnya sekarang!

"Awwww", teriak Serafina kesakitan.

"Bisakah kau lakukan dengan benar?",aku mulai marah pada Percy.

"Bagaimana? Sudah lebih baik?",tanya Percy pada Serafina.

"Iya, ini lebih baik, terimakasih",ucap Serafina terlihat lega.

"Bukan masalah besar. Aku sudah cukup berpengalaman tentang hal-hal macam ini",kata Percy sombong.

"Dasar tukang pamer", aku dan Fred setengah berbisik, melirik sengit ke arah Percy.

"Sebaiknya kau istirahat di kamar sekarang, sayang",kata Mom tersenyum pada Serafina.

"Biar aku membantumu",kataku singkat dan segera menggendongnya ke lantai 2, iya kuakui dia cukup ringan untuk ukuranku yang tinggi besar.

*Normal*

"Oh, tampaknya Dad melewatkan sesuatu, ada yang bisa ceritakan? Mengapa satu dari si kembarku terlihat begitu "akrab" dengan gadis itu",kata Mr Weasley dengan wajah yang di buat-buat dan nada bercanda.

"Seperti yang kau tau sendiri Dad, letupan cinta anak remaja",Fred berusaha menjelaskan.

"Anak kita sudah besar Athur",kata Mrs Weasley menambahkan.

"Well done, tampaknya dia gadis yang baik, dan juga….. cantik, tolong garis bawahi itu",Mr Weasley tertawa senang.

Semuapun ikut tertawa ketika mendengar itu.

"Ron, tampaknya kau tak akan mendapat ciuman keduamu dari Veela",kata Fred menyindir Ron.

"Bloody hell, sepertinya kali ini George yang beruntung, haha",kata Ron tertawa.

"Kau bilang apa tadi Fred? Veela?",tanya Percy penasaran.

"Yoooo, kau selalu ketinggalan gosip, man.. haha",Fred menepuk bahu Percy.

"Pria sejati tidak menggosip Fred",kata Percy sebal.

Semuapun tertawa kecuali Percy tentunya yang menampilkan wajah geram.

*Author Notes:

-Chapter ini aku bikin manis, but ada waktunya bakal sedih juga lho, tapi nggak sekarang ya, jadi kalian santai aja dulu.

-Trims QueenMamba atas reviewnya, aku jadi semangat! Ini bakal aku lanjutin, tetep lanjut ya bacanya :D

-Thanks to my followers for this story, please keep reading my story and lemme know what do you think about this chapter :), I'm so thankful :D (big hug for you guys)~kalian adalah harapanku buat melanjutkan chapter selanjutnya, uhuk *sorry lebay, hehe