***Disclaimer:
Absolutely JK Rowling (The real owner for the all of Harry Potter characters. I have nothing
but "Serafina" Haha yay) \(^_^)/
***Starring: George Weasley & Lucia Anderson (a.k.a Serafina)
***Genre: Romance
***Rate: T
*Author Notes: Lagi dan lagi, aku minta maaf kalau di chapter 5 aku melakukan banyak kesalahan ketik, setelah aku baca ulang ternyata banyak kata yang hilang pula, ya ampun aku menyesal karena lagi lagi nggak teliti, jujur aja ketika ngetik itu aku lagi bener-bener galau jadi nggak begitu konsen :( Tapi, tapi, tapi, kalian tetep mau baca kan lanjutan ceritanya, please I'm begging :) oke, langsung aja ya ke chapter 6, here you go:
"Ini adalah kisah cinta George Weasley, dimana dia berusaha menemukan kembali
cerita cinta yang hampir dilupakannya."
Chapter 6. "I feel thebutterflies on my stomach"
*George POV*
Setahuku hari ini adalah hari minggu, tetapi Asrama Gryffindor begitu ramai di pagi hari, entah apa yang di pikirkan orang-orang itu sehingga mereka rela bangun sepagi ini untuk hanya sekadar hari libur. Mereka biasanya berbaring lebih lama di ranjang ketika akhir pekan.
"Semalaman aku tak bisa memejamkan mataku sedetikpun, otakku terus memikirkan Serafina, tapi sekarang, saat ku pikir aku mulai mengantuk, orang-orang itulah yang mulai menggangu tidurku, aku lelah", aku menggumam sendiri di balik selimut tidurku.
dan Ouuchhhh tiba-tiba saja aku mendarat di lantai, siapa yang dengan beraninya menyeretku ke lantai! dan~
"Hey, brother, bangun", Fred berteriak dan ternyata dialah yang membuatku terjatuh dari ranjang.
"Ada apa Fred?",jawabku enggan
"Tidakkah kau penasaran?",tanya Fred
"Tentang apa?"aku bertanya pada Fred dengan nada bosan
"Tentang Ron!"
"Ron siapa?"
"Tampaknya otakmu belum 100% terkoneksi George, tentu saja Ronald Weasley, adik kita!", kata Fred mengetuk kepalaku
"Okay, Okay, apa yang terjadi dengan Ron?", aku mulai penasaran
"Dia sedang melakukan hal konyol di bawah sana, cepat kau turun ke Ruang Rekreasi",kata Fred sambil menarik tanganku. Aku berjalan terhuyung-huyung karena aku belum sepenuhnya sadar namun Fred menarikku dengan cepat.
Dari tangga tempatku berdiri, bisa kulihat kalau Seamus sedang bersorak untuk seseorang, dan sepertinya Harry pun sedang tertawa terbahak-bahak. Apa yang terjadi? Aku bahkan tak bisa melihat Ron karena saking ramainya gerombolan manusia di Ruang Rekreasi. Tampaknya mereka semua masih mengenakan piyama. Benar kan, ini memang seharusnya masih waktu untuk tidur. Well, tunggu dulu, semua memakai piyama kecuali Ron! Ya! Aku bisa melihat Ron kali ini.
dan~ ahahahaha!
"Apa yang Ron lakukan dengan pakaian konyol itu, Fred? Katakan padaku kalau ini nyata, ahahaha", aku tertawa setelah melihat Ron mengenakan pakaian aneh di pagi buta begini.
"Adik kita sedang berlagak seperti orang konyol dari dunia Muggle Bung! Ooiii Ron! Our Prince, ahaha",jelas Fred sambil berteriak, semua orang yang ada di Ruang Rekreasi tertawa.
Ku lemparkan arah pandanganku kepada seseorang yang tepat berdiri di depan Ron, yeah, Hermione, dia terlihat sangat kesal melihat Ron.
"Ron, kau membuatku malu!", pipi Hermione tampak memerah
"Aku tahu kalau ini mungkin sangat memalukan, tapi aku melakukan semua ini demi kau, Mione", kata Ron merasa bersalah.
"Kau bilang padaku kalau kau menyukai tokoh Pangeran dari buku Muggle yang sering kau baca, itulah kenapa aku berpikir sepertinya ini akan cocok, tapi maafkan aku, mungkin pakaian ini sedikit tidak cocok", jelas Ron lagi, dia terlihat sedih.
"Dasar bodoh, yang kau pakai itu pakaian badut, bukan pangeran! keduanya benar-benar berbeda!", Hermione berteriak kesal
Orang-orang mulai menertawai Ron lagi. Collin Creeveey pun memotret Ron dengan penuh semangat. Sekarang orang yang suka melakukan paparazzi pada Harry itu pun mulai menyukai topik Ron si Badut. Ini benar-benar sangat lucu, setelah tragedi tuxedo bau itu, sekarang Ron terjebak pada tragedi salah kostum. Dia kelewat parah!
"Tapi kata Dean, ini~ heeeeyyy Dean!", Ron mencari-cari sosok Dean dengan wajah memerah, dia terlihat sangat marah.
"Sudah ku bilang tidak ada info yang gratis, tapi kau terus memaksa, beginilah jadinya ahahaha", Dean tertawa terbahak-bahak, dia berlari melewatiku untuk menghindari Ron.
"Hey Dean, kerja bagus", kata Fred ber-high five dengan Dean Thomas.
"Aku membencimu Ron", kata Hermione sambil menangis terisak
"Dengarkan aku Hermione, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Sungguh aku tak berniat untuk membuatmu malu, hanya saja aku pikir kau akan suka, mana aku tau kalau Dean akan menipuku, belum lagi soalan mengapa semua orang sudah bangun di pagi buta ini, aku pikir Ruang Rekreasi masih sepi, sehingga aku mengajakmu kesini, tapi ternyata mereka sudah bersembunyi di balik pintu dan sofa kemudian mengejutkanku, entah siapa yang membocorkan rahasia ini, ku pikir itu Harry, tapi aku tak mungkin menuduhnya, karena dia pun tidak tahu kalau aku akan menyatakan cintanya padamu pagi ini, sungguh aku hanya menulis di buku diary ku, aku tidak tahu kalau kau akan menjadi semarah ini",Ron menjelaskan panjang lebar dengan satu nafas.
"Shhh aku yang memberitahu orang-orang kalau Ron akan menyatakan cintanya pada Hermione pagi ini", Fred berbisik dan mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku melotot padanya, dasar Fred.
"Maafkan aku Hermione, aku benar-benar mencintaimu, tolong jangan membenciku", Ron terlihat sedih. Tetapi orang-orang justru bersorak sorai. "Woooooo"
"Kau memang bodoh Ron, tidak bisakah kau bertingkah seperti orang normal? Aku benar-benar malu, tapi... sungguh aku bisa melihat ketulusanmu, kau hanya begitu unik, karena itulah sebenarnya aku pun mencintaimu", Hermione mengusap air matanya. Ron memeluk dan mencium Hermione tepat di bibirnya. Orang-orang mulai bersorak, Colin dengan sigap menangkap momen langka itu. Satu lagi pasangan dari Gryffindor.
Kuakui itu memang cara yang buruk untuk menyatakan cinta pada seorang gadis, tapi lihatlah, itu berakhir manis bukan? Jujur, ini sangat menginspirasiku untuk melakukan sesuatu. Thanks brother~
*Normal POV*
"Minerva, sudahkah kau pastikan bahwa ini adalah tongkat sihir milik Serafina?", tanya Prof. Dumbledore pada Mc Gonagall dengan nada serius.
"Tentu sudah, aku temukan itu bersama dengan Serafina yang terikat di pinggiran danau, aku pun sudah memastikannya di Kementrian Sihir untuk mengecek kembali kepemilikan dari tongkat sihir ini", Mc. Gonagall menjawab dengan pasti.
"Ketika kau pinjam tongkat sihir ini dari Serafina, apakah dia curiga atau menanyakan sesuatu padamu?", tanya Prof. Dumbledore lagi.
"Tentu saja, dia bertanya untuk apa aku meminjam tongkat sihirnya, lalu ku pastikan kalau aku memberikannya jawaban yang paling bagus yang bisa kudapat waktu itu", Mc Gonagall menjelaskan.
"Kuharap alasannya bukan karena aku",Prof. Dumbledore melirik curiga pada Mc Gonagall
"Cuma kaulah alasan yang paling tepat untukku bisa mengambil tongkat itu darinya Albus", jelas Mc Gonagall.
"Baiklah, untuk kali ini aku ijinkan", Prof. Dumbledore tersenyum sambil membenarkan kacamata berbentuk setengah bulan purnama miliknya itu.
"Masuklah Mr. Ollivander", kata Prof. Dumbledore lagi
Pintu ruangan kepala sekolah terbuka dengan sendirinya dan muncullah Mr. Ollivander, pria berjenggot putih tipis dan berjubah lusuh melintas masuk dari balik pintu yang berbentuk burung phoenix itu.
"Terimakasih Albus", kata Mr. Ollivander dengan suara parau
"Minerva, tolong berikan tongkat itu pada Ollivander, biarkan dia memeriksanya", Prof. Dumbledore memberi perintah pada Mc Gonagall
Mc Gonagall memberikan tongkat sihir milik Serafina pada Mr. Ollivander.
Mr. Ollivander memeriksa tongkat itu dengan tangannya yang sudah terlihat semakin keriput disana sini. Walaupun begitu, namun tangannya masih begitu peka dalam hal pendeteksian. Dia dapat merasakan dan mengetahui komponen dari sebuah tongkat sihir dengan baik.
"Tongkat ini terbuat dari beberapa helai rambut unicorn yang langka, tipikal tongkat sihir yang biasanya di miliki kaum Veela", kata Mr. Ollivander menjelaskan.
"Sudah aku duga, dia sepertinya memang keturunan Veela", Mc Gonagall menginterupsi
"Baiklah, sebenarnya tongkat siapa ini Albus? Beberapa bulan terakhir ini ada kasus penculikan Veela, mungkinkah tongkat ini milik salah satu Veela yang terlibat kasus penculikan itu?", tanya Mr. Ollivander yang terlihat penasaran
"Benar sekali Ollivander, si pemilik tongkat ini adalah korban dari kasus penculikan tersebut", Prof. Dumbledore menjelaskan
"Apakah si pemilik tongkat ini sudah mati?", tanya Mr. Ollivander lagi
"Belum, dia adalah satu-satunya korban yang selamat dari penyergapan yang di lakukan oleh Death Eater, entah bagaimana dia lolos, tapi setahuku dia dapat dijadikan saksi di persidangan, kita harus membuktikan pada Kementrian bahwa Voldemort lah dalang dari semua ini", Prof. Dumbledore menjelaskan dengan nada serius.
"Lalu dimana korban yang selamat itu?", tanya Mr. Ollivander
"Dia aman bersamaku", jawab Prof. Dumbledore
*George POV*
"George, ayo kita berlatih Quidditch, minggu depan kita ada pertandingan dengan Huflepuff", kata Fred sambil bersiap-siap.
"Aku lupa kita ada latihan hari ini Fred, aku begitu lelah, aku benar-benar tidak tidur semalaman, di tambah lagi tadi pagi Ron~ hooaamm", aku begitu mengantuk dan kembali meringkuk di ranjangku
"Ayolah George, tidak biasanya kau menolak untuk berlatih Quidditch", kata Fred menggoyang-goyangkan tubuhku agar aku beringsut dari ranjang
"Baiklah", aku turun dari ranjang dan bersiap-siap
Aku benar-benar mengantuk, mataku setengah terpejam, aku berjalan sekenanya, dan menyeret sapu terbangku dengan lemah. Aku berjalan melewati koridor dan ku dengar beberapa siswa mulai menggosip tentangku, beberapa mengomentari tentang rambutku yang acak-acakan dan yang lainnya membicarakan cara berjalanku yang seperti zombie.
"George, cepatlah, kita tak punya banyak waktu, hari ini jadwal latihan Quidditch untuk Gryffindor cuma 2 jam saja, setelah itu Slytherin akan mengambil alih lapangan, aku tidak suka beradu mulut dengan mereka, apalagi dengan Si mulut bau Marcus ", kata Fred panjang lebar
"Fine, aku mengerti Fred", jawabku dengan memutar bola mata
"Hey George, bersemangatlah, ku pikir kau akan suka berlatih Quidditch hari ini, akan ada kejutan", Fred melirik ku dengan tatapan mencurigakan.
Kulihat Angelina sudah menunggu di lapangan bersama dengan Harry dan Ron juga beberapa yang lain termasuk Katie Bell, oh aku tidak suka dia, tangannya kadang bergerak seperti gurita ketika di dekatku, itu membuatku risih. Ron terlihat sangat senang karena dia telah resmi berpacaran dengan Hermione, dia terlihat sangat bersemangat sekali sejak Hermione berkata kalau dia akan menyaksikan latihan Quidditch kali ini. Kejadian konyol tadi pagi ternyata sudah dia lupakan rupanya.
"Hey kalian terlambat",Angelina terlihat kesal
"Maafkan kami sayang, ini semua salah George, dia seperti melekat di ranjang",jawab Fred dengan melirikku
"Lihatlah kau George, kau terlihat sangat berantakan", kata Angelina mengejekku
"Hari ini kita akan berlatih Quidditch, bukan untuk pesta dansa", aku sangat kesal
Tiba-tiba aku mendengar suara tawa kecil dari seseorang di belakangku, berani-beraninya dia menertawakanku. Biar aku lihat siapa si pemberani ini~
Oopss, si pemberani itu ternyata ... Se... Serafina.
"Ahh, ahahaha Well, aku hanya lebih suka tampil apa adanya guys", aku berusaha mencari-cari alasan agar terlihat bagus di depan Serafina, aku harap aku cukup berhasil.
"Kau tetap terlihat tampan George", tiba-tiba Katie Bell berbicara dan menggandeng lenganku.
Gawat, Serafina melihat Katie Bell menggandeng lenganku. Aku segera menyingkirkan tangan guritanya dari lenganku. Tapi Serafina berbalik dan menggandeng tangan Hermione, dia berjalan ke kursi penonton bersama Hermione. Ku harap aku tak membuat Serafina bertambah kesal.
"Sudah kubilang kau akan menyukai latihan kali ini", Fred berbisik dan menyikut lenganku
"Kenapa kau tidak bilang kalau Serafina akan datang? Kalau kau bilang dia akan datang, setidaknya aku akan tampil sedikit lebih baik", akupun berbalik berbisik pada Fred dan memberikan death glare padanya.
"Aku sudah memperingatkanmu, kau ingat?", Fred berkedip padaku dan terbang meninggalkanku dengan sapu terbangnya.
Aku mengikuti Fred dan bersiap-siap. Harry memberikan aba-aba dan memulai latihan.
*Normal POV*
Di kursi penonton, Serafina dan Hermione duduk bersebelahan, Hermione tampak bahagia sekali pagi ini. Dia bahkan mengepang rambutnya, dan memakai lipstick tipis untuk bibirnya.
"Benarkah yang aku dengar pagi ini, Mione?", tanya Serafina penasaran
"Tentang apa?", mata Hermione masih terus memandang ke arah Ron terbang dengan sapunya.
"Tentu saja kau dan Ron, maksudku, kalian sudah resmi berpacaran? orang-orang di setiap koridor mulai membicarakan kalian sejak tadi pagi",Serafina bertanya lagi
"Berita cepat menyebar ya", tiba-tiba Ginny datang dan duduk disebelah mereka
"Mmmm begitulah", pipi Hermione mulai memerah, tanda bahwa itu adalah jawaban iya dari pertanyaan yang di ajukan Serafina.
"Itu sangat manis, andai saja Geo~", kata Serafina terputus, George terbang melewati kursi penonton untuk memukul bludger. Pukulannya terdengar sangat keras.
"Apa yang kau bilang tadi, Sera?", tanya Hermione ingin memastikan
"Ah tidak, aku tidak mengatakan apa-apa, hehe", Serafina tersenyum simpul
Ginny menatap Serafina dengan pandangan curiga.
.
.
.
Dari kejauhan, terlihat Mc Gonagall sedang memandang Serafina yang sedang duduk di kursi penonton, dia terlihat bahagia. Itu cukup membuat Mc Gonagall merasa tenang. Ada rasa lega mengetahui bahwa Serafina ada di Hogwarts dan dia bisa memastikan kalau Serafina baik-baik saja, tapi di lain sisi, Mc Gonagall merasa sedih karena Serafina masih kehilangan ingatannya.
*George POV*
"Hey Ron, jaga gawangmu dengan benar!", Harry mulai berteriak karena Ron sangat tidak berkonsentrasi.
"Hermione tidak akan kemana-mana adik kecil, dia masih terus memandangimu dari kursi penonton, kau tidak perlu takut dia akan melirik pria lain, setahuku dia cuma tertarik pada pria aneh, dan kaulah satu-satunya pria aneh disini, ahaha", aku mulai mengejek Ron
"Diam George, apa kau pikir kau bermain sebagus itu?", Ron mulai menggertakku
"Aku memang tidak bermain terlalu bagus hari ini, karena aku benar-benar kurang tidur brother",kataku berusaha mengatakan yang sebenarnya
"Kau terlalu banyak memikirkan gadis itu",Fred tiba-tiba menyela
"Siapa?",kataku sambil memandang Serafina dari kejauhan
"Aku tidak perlu bertanya, matamu sudah menjawabnya untukku", Fred menepuk pundakku dan terbang mendekati tanah.
"Baiklah, latihan untuk hari ini sudah selesai, trims untuk hari ini, good job guys", kata Harry menginstruksi, dia ber-toss dengan semua pemain.
.
.
.
"George, sore ini aku akan ke Three Broomstick bersama Angelina, apakah kau ingin ikut?, tanya Fred padaku
"Kalian akan berkencan, kenapa kau harus mengajakku?", aku merasa konyol dengan pertanyaan Fred
"Ahaha, baiklah, aku cuma ingin menggodamu brother", kata Fred sambil menepuk pundakku, aku hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkahnya.
.
.
Kulihat Serafina sedang berbincang bersama Hermione dan Ginny, mereka terlihat sangat akrab, seperti saat pertama kali aku melihat dia di The Burrow waktu itu. Ah iya, sore ini Fred akan pergi berkencan, aku pasti akan punya waktu sendiri, mungkin lebih baik aku mengajak Serafina jalan-jalan sore ini. Ide yang bagus. Aku ingin mengenalnya lebih dekat.
"Mmmm Hey Sera, mmm... apa kau suka permainanku tadi?", tanyaku hanya untuk sekedar basa-basi saja
"Mmmm... Yeah, tentu... tentu saja, kau pemukul yang handal, itu sangat mmmm... sangat keren menurutku", kata Serafina malu-malu, pipinya mulai memerah.
"Baiklah, take ur time brother, ayo kita pergi ke perpustakaan Mione, sampai jumpa Sera", kata Ginny sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Hermione dan Ginny meninggalkan kami berdua, aku semakin gelisah. Mungkin aku terlihat begitu kikuk sekarang, tapi aku benar-benar ingin mengajaknya jalan-jalan sore. Iya, cuma jalan-jalan koq, berdua, Well apapun itu, kenapa rencana ini terdengar seperti kencan? Aku tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.
"Mm... Sera, apakah sore ini kau ada rencana?", tanyaku pelan
"Mmmm... tidak, kenapa?"
"Bukankah bosan kalau kau harus menghabiskan sore ini sendiri? Aku rasa mmmm...jalan-jalan sore mungkin akan jadi hal yang cukup mmmm... menyenangkan", tanyaku lagi, aku yakin mukaku sekarang semerah rambutku.
"Berdua denganmu?",pertanyaan Serafina membuat pipiku semakin memerah karena malu
"Mmm... kalau kau tak keberatan",jawabku pelan
Tiba-tiba Serafina menjinjitkan kedua kakinya dan mencium pipiku, lagi!
"Tentu saja", dia tersenyum sangat manis dan meninggalkan aku yang sedang mematung seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padaku.
Demi Janggut Merlin, akhirnya aku akan berkencan juga!
Hari sudah menjelang sore, Fred tampaknya sudah siap untuk acara kencannya di Three Broomstick. Aku berpura-pura tidur sampai aku mendengar pintu kamar tertutup kembali. Tanda bahwa Fred sudah pergi.
"Baiklah, Three Broomstick, itu adalah tempat yang harus aku hindari sore ini, aku tak ingin bertemu dengan Fred dan Angelina disana", gumamku sambil memakai sweater biru kesukaanku. Mom bilang aku terlihat tampan memakai itu.
"Kau mau kemana George?", tanya Ron yang tiba-tiba memasuki kamarku
"Bukan urusanmu",kataku sambil menyisir rambutku
"Kau pasti akan pergi berkencan, tidak biasanya kau serapi ini dan bahkan waw kau menyisir rambutmu! Kapan kau terakhir kali melakukan itu? Bahkan aku sudah lupa!", Ron menyindirku rupanya
"Berhenti menyindirku, apa maumu?"
"Aku cuma ingin beberapa bola-bola letup yang kau jual beberapa waktu lalu, tolonglah, ini demi pacarku, please",Ron berpura-pura memelas
"Tidak, itu sudah habis", kataku mengelak
"Tidak mungkin, kemarin aku melihat kau masih memiliki satu kantung penuh",Ron ternyata tau itu.
"Well, itu sudah dipesan",kataku sambil mengedipkan mata
"Demi adikmu George", Ron masih memohon
"Untuk kali ini tidak, bye adikku, aku ada urusan penting sekarang",kataku sambil melambaikan tangan dan keluar dari kamarku
"Oooii George, Si gadis Veela itu sedang menunggumu di dekat ruang utama",Ron tertawa terbahak-bahak
"Velaa?",kataku menggumam
"Ooouuucchhh", tiba-tiba kudengar Ron mengaduh, entah apa yang di maksud Ron. Tapi ketika aku menengok ke arah Ron, aku melihat Hermione memukul kepala Ron, sangat keras. Hm, mencurigakan.
*Normal POV*
George berjalan secepat mungkin di sekitar koridor, segera ia mencari-cari sosok Serafina di antara kerumunan para siswa. Akhirnya ia menemukan sosok gadis mungil yang ia cari di dekat ruang utama. Tepat seperti apa yang dikatakan Ron, George berpikir sejenak, Ron menyebut tentang Veela, apakah Serafina itu seorang Veela? Entahlah, apapun itu George melihat Serafina membawa keranjang makanan. Dia terlihat seperti akan piknik. Jujur Serafina mulai terlihat seperti Molly Weasley, tapi terus terang saja itu bukan ide yang buruk bagi George.
"Itu dia", kata George dalam hati. George berjalan melambat dan berhenti tepat di depan Serafina berdiri.
"Hai George", Serafina menyapa George
"Hai Sera, maaf aku terlambat, ada eerrr sedikit urusan yang harus aku selesaikan dulu", kata George sedikit terengah-engah.
"No problem", Serafina tersenyum manis pada George, itu sukses membuat pipi George memerah.
"Okay, omong-omong kau mau mengajakku kemana sore ini?", tanya Serafina penasaran
"Mmmm... mari kita ke suatu tempat, aku ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu",jawab George. George mengeluarkan gulungan perkamen berisi peta.
"Kau akan membawaku kemana George?",tanya Serafina lagi
"Kau pasti akan suka, aku sudah pergi kesana beberapa kali bersama Fred, jadi kau tenang saja, kita tak mungkin tersesat",George mencoba meyakinkan Serafina bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Baiklah, aku percaya padamu", Serafina tersenyum tanda dia setuju.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai pada tempat yang ada di peta. Hanya sekitar 30 menit setelah mereka melewati danau, yeah di situlah tempatnya. Ada sebuah padang rumput kecil di dekat Hutan, memang terlihat sedikit tak terawat karena tempat itu jarang di kunjungi oleh manusia, beberapa sulur panjang juga menutupi tempat yang indah itu sehingga orang-orang tak begitu memperhatikan dengan teliti.
"Baiklah, kita sudah sampai, Ini adalah tempat rahasia yang ku maksud",kata George menyibakkan sulur yang melintang di pepohonan.
"Waw, ini sungguh tempat yang indah George", mata Serafina mengelilingi pemandangan disekitarnya, dia benar-benar takjub dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Seperti yang kau bilang, mmmm bahkan ini tempat yang sangat tepat untuk berpiknik Madam", kata George mengedipkan matanya pada Serafina.
"Iisshh apa kau mengejekku karena ini terlihat seperti kencan yang norak, eh? aku tahu ide berpiknik ini konyol", Serafina pura-pura cemberut
"Aku pikir itu bukan ide yang buruk, lagi pula sekarang aku mulai lapar karena kita berjalan cukup jauh tadi", kata George sambil mengusap perutnya, membuat Serafina tertawa.
George dan Serafina duduk didekat pohon besar, beberapa bunga tumbuh dengan liar, namun mereka tetap cantik.
"Baiklah apa yang kau punya?",kata George tak sabar melihat isi di dalam keranjang piknik milik Serafina
Serafina mengeluarkan roti almond tabur keju, kesukaannya dan George.
"Kau yang membuatnya?", tanya George
"Iya, aku menyusup ke dapur dan membuat ini, beruntunglah para peri tidak melaporkanku pada kepala sekolah", kata Serafina malu-malu
"Ini sangat lezat, kau beruntung, para peri biasanya sangat menjengkelkan, terakhir kali aku menyusup ke dapur, mereka melempariku dengan kuali besi",kata George dengan memperagakan bagaimana para peri itu melemparinya dengan kuali.
"Apa yang kau lakukan di dapur?",tanya Serafina
"Aku hanya lapar dan ingin mengambil sedikit makanan, tapi mereka terlalu pelit",jawaban George membuat Serafina tertawa.
George makan dengan lahap dan menyisakan beberapa remah roti di pakaiannya.
"Lihatlah, kau mulai terlihat seperti bayi besar", Serafina terkikik geli melihat tingkah George.
"Hey Sera, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu", kata George sambil mengeluarkan sesuatu dari kantungnya.
"Apa itu?", tanya Serafina
"Kau lihat saja", jawab George sambil tersenyum
.
.
George mengeluarkan sesuatu mirip bola-bola kecil dari kantung beludrunya. George mengucapkan mantra dan bola-bola itu meletup di langit yang mulai terlihat temaram. Kerlipan cahaya dari bola-bola itu membentuk kumparan berbagai bentuk yang sangat cantik.
"Waw, itu sangat cantik George", Serafina terlihat sangat takjub untuk kedua kalinya setelah dia sampai di tempat itu.
"Yeah, itu salah satu benda yang berhasil aku buat dan Fred, kami hanya membuat sedikit, kau beruntung bisa melihatnya",kata George menjelaskan
"Kau yang membuat itu? Kau benar-benar genius George", Serafina menepuk lengan George tanda bangga
"Begitulah", jawab George dengan sedikit bangga hati
but~
"Ooouuchhh"
Tiba-tiba bola-bola letup itu jatuh dan menyerang George dan Serafina, bola-bola itu mengenai kulit George dan Serafina, itu terasa sangat geli, George dan Serafina bergulingan di rerumputan.
Akhirnya bola-bola letup itu berhenti menggelitiki mereka setelah George mengucapkan sebuah mantra.
"Baiklah, aku akui aku tidak sebagus itu, ahaha"
"Tidak, kau masih cukup bagus koq", kata Serafina memuji
"Ahaha, thanks", George memasang wajah bangga
Mereka berbincang sembari berbaring di rerumputan.
"George"
"Hm?"
"Terimakasih untuk membawaku kesini, terimakasih untuk memperlihatkanku benda yang sebagus itu, ku pikir awalnya aku sudah membuat kencan ini terlihat kuno dengan mengajakmu berpiknik, kuakui ideku memang benar-benar kuno, tapi kau membuat ini lebih menarik dan manis, terimakasih George", Serafina memegang tangan George dengan lembut.
"Kau tau, ini adalah kencan pertamaku, dan aku sungguh sangat menyukainya",George menggenggam tangan Serafina erat.
"Benarkah?", tanya Serafina heran
"Iya, aku selalu menghabiskan waktuku dengan Fred, aku bahkan tak pernah punya pacar sekalipun", pipi George terlihat memerah
"Mmm, kau masih beruntung, aku tidak tau kalau ini kencan pertamaku atau bukan, aku bahkan tidak pernah ingat siapa diriku yang sebenarnya",roman muka Serafina terlihat muram seketika
"Bisakah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?",tanya George sambil memandang Serafina yang mulai menitikkan air mata.
"Aku kehilangan ingatanku, Mc Gonagall menemukanku di dekat danau dengan keadaan terikat dan bersimbah darah, aku tak ingat kejadian apapun sebelum itu, termasuk namaku yang sebenarnya, kemudian Mc Gonagall memberiku nama Serafina dan merawatku, begitulah caranya aku ada disini, sungguh dalam hati kecilku aku selalu ingin tau apa yang terjadi padaku, andai waktu bisa berputar kembali, ku harap aku punya kesempatan kedua",jawab Serafina, dia menangis sesenggukan.
"Kau tau, aku tidak peduli darimana asalmu, bagaimana kau di masa lalu, atau siapapun kau... yang ku tau, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku", George memeluk Serafina dengan erat.
Kata-kata itu terlepas begitu saja dari mulut George dengan mudahnya, entah sejak kapan, namun hanya dengan gadis itu ia mampu mengutarakan semua isi hatinya dengan jujur semudah itu.
.
.
.
.
*Author Notes:
- QueenMamba, makasih ya masih terus baca ceritaku, thanks juga buat reviewnya, aku akan terus lanjutin cerita ini :)
- Buat semua, maaf ya kalau chapter 6 ini mungkin agak telat update nya dari chapter-chapter sebelumnya, bukan maksud hati, tapi minggu ini aku bener-bener sibuk :(
- I'm open minded, so lemme know what do you think about this chapter :)
- For all; followers, silent readers, my guests, thanks for keep reading this story, I hope you guys be happy with this chapter, kalian adalah harapanku untuk menyelesaikan cerita ini, hiks *big hug* satu-satu.
