***Disclaimer:
Absolutely JK Rowling (The real owner for the all of Harry Potter characters. I have nothing
but "Serafina" Haha yay) \(^_^)/
***Starring: George Weasley & Lucia Anderson (a.k.a Serafina)
***Genre: Romance
***Rate: T
*Author Notes:
Aku bener-bener minta maaf karena telat update, aku bener-bener sibuk akhir-akhir ini dan nggak ada waktu buat nulis :(
Tapi makasih banget kalian masih mau baca kelanjutan cerita ini, thanks for be patient, here you go chapter 7:
"Ini adalah kisah cinta George Weasley, dimana dia berusaha menemukan kembali
cerita cinta yang hampir dilupakannya."
Chapter 7. Sesuatu yang Ganjil
*Normal POV*
Serafina memeluk George dengan erat, George pun seperti tak ingin melepaskan Serafina dari pelukannya, betapa tidak, gadis yang di cintai George sedang menangis sesenggukan dan dia pun ikut merasakan sakitnya. Seperti ada sesuatu yang terkoneksi satu sama lain diantara mereka.
"Aku benar-benar kesepian George", mata Serafina berkaca-kaca, air mata terus menetes dari kedua matanya.
"Aku selalu bersamamu", George mengelap air mata yang mengalir dari pipi Serafina.
George memandang bibir Serafina, dia berusaha mendekatkan bibirnya pada bibir gadis mungil itu. George memejamkan matanya, begitupun Serafina. Perlahan, bibir keduanya semakin mendekat, George memegang dagu Serafina~
dan sedetik kemudian~
...
"Rooaaarrrr"
Terdengar suara binatang mengaum dari balik semak-semak. Serafina terkejut dan mendorong George agar menjauh darinya, mereka berdua tiba-tiba merasa canggung pada satu sama lain.
.
.
.
"George, apakah kau dengar itu?", tanya Serafina yang terlihat gugup, dia sedikit takut rupanya.
Memang hari sudah mulai gelap. Langit sudah berganti warna menjadi gelap pekat. Suasana di tempat mereka berkencan mulai mencekam, burung-burung telah berpamitan dan kembali ke sarangnya yang entah dimana, beberapa kali terdengar suara-suara aneh dari balik semak-semak. Entah itu hantu atau seseorang, namun George tetap berada di dekat Serafina.
"Lumos", George mengarahkan tongkatnya ke arah semak-semak, cahaya terang muncul dari tongkat George.
"Mungkin itu hanya suara angin, kadang mereka sedikit menakutkan jika malam hari begini, hehe",jawab George dengan sedikit berbisik.
"Pernahkah kau disini sampai hari gelap begini George?", tanya Serafina lagi
"Well, tidak pernah", jawaban George membuatnya mendapatkan pukulan di lengannya. Serafina tampaknya sedikit tercengang dengan jawaban George.
"Sera, kau jangan takut, asalkan kita punya tongkat sihir dan kita tetap bersama, aku yakin kita akan baik-baik saja", tambah George lagi untuk meyakinkan Serafina.
"Aku tak membawa tongkat sihir",kata Serafina
"Bagaimana mungkin? Tongkat sihir itu bagai nyawa bagi penyihir",George sedikit tercengang mendengar pernyataan Serafina.
"Mom mengambil tongkat sihirku karena dia bilang memintanya untuk pengecekan, bukankah semua siswa baru di Hogwarts punya ritual seperti itu? Itu yang dikatakan Mom padaku",Serafina berusaha menjelaskan
"Aku tidak pernah mendengar tentang hal itu sebelumnya",George menampakkan wajah curiga
"Benarkah? Jadi kau pikir Mom berbohong padaku?",Serafina mulai terlihat kecewa
"Mungkin saja, tapi aku pikir Prof. Mc. Gonagall punya alasan tersendiri yang tak bisa dia utarakan padamu",kata George menimpali
"Baiklah, lebih baik kita berjalan cepat, atau aku mungkin akan pingsan seketika disini ketika sesuatu muncul dengan tiba-tiba",Serafina tampak sangat ketakutan.
"Kalaupun kau pingsan, aku tak akan meninggalkanmu",George berusaha membuat Serafina tenang
"Maksudmu jika aku pingsan maka kau akan menggendongku dan membawaku pulang? Itu sangat manis", Serafina mulai tersipu malu
"Tentu... tidak, karena aku akan pingsan bersamamu, ahahaha", George tertawa, namun Serafina memukul lengan George dengan keras.
"Oouucchh", George pura-pura mengaduh kesakitan
"Oopps sorry", Serafina tersenyum tak bersalah
Mereka berdua berjalan dengan langkah yang cepat, George berusaha menyibakkan beberapa sulur yang mengganggu jalan mereka. Ketika mereka hampir sampai di danau terdengar suara binatang menggeram.
"Kau dengar itu? Bukankah itu mirip dengan suara yang barusan?", Serafina bertanya lagi
Suara itu kian mendekat. Serafina memeluk George dengan erat, mata George memicing ke arah pohon besar di sebelah kanannya, tiba-tiba muncullah sesuatu dari balik semak-semak. Tampak seperti binatang besar. Makhluk itu mendekati mereka dengan langkahnya yang cukup panjang, Serafina bersembunyi di balik punggung George, dia sangat ketakutan.
"Troll", George bergumam
Troll itu bertubuh besar, bahkan dua kali tinggi George. Rahangnya tajam berikut giginya. Dia mengeluarkan lendir dari sela-sela mulutnya. Troll itu tiba-tiba melompat dan berusaha menerkam mereka.
"Expeliarmus", George mengarahkan tongkatnya pada Troll yang mulai mengamuk namun dia terus menggeram dan berusaha menyerang mereka berdua.
Serafina jatuh tersungkur di tanah, kakinya terjerat sulur. Troll mencoba menyerang Serafina yang tampak tak berdaya. George berusaha membuat Troll itu berbalik dan menatapnya.
"Hey, jelek, kemari",George mengarahkan tongkatnya pada Troll yang sedang mengamuk itu.
Troll itu pun berbalik menyerang George. Tongkat George terjatuh di tanah, Troll itu mengambil kesempatan dan menindih George di tanah, dia berusaha mencekik George.
George berusaha menyingkirkan tangan Troll itu.
"Apugno" Serafina mengarahkan tongkatnya pada Troll itu, namun Troll itu terlampau kuat, mantra itu hanya mampu menggores lengannya, dia berbalik menatap Serafina dan berusaha menyerangnya. Serafina berjalan mundur perlahan.
"George, tangkap ini", Serafina melemparkan tongkat itu pada George
Bak seorang Chaser handal, George menangkap tongkat sihirnya ke arah Troll itu.
"Reducto", kilatan cahaya mengenai tubuh Troll itu dan dia terluka parah, Serafina berlari ke arah George, mereka melarikan diri dari Troll yang kini tangah tersungkur ditanah bersimbah darah.
Di ruang Rekreasi Griffindor,
"Ron, apa kau melihat George?", tanya Fred dengan cemas
"Aku tak tau Fred, bukankah dia selalu bersamamu?", jawab Ron terdengar enggan, dia yang sedang bermain catur dengan Hermione
"Terakhir kali aku meninggalkannya di kamar, kelihatannya dia sedang tidur, ku pikir dia lelah, lalu aku pergi bersama Angelina dan sekembalinya kami dari Three Broomstick aku tak melihatnya lagi", Fred berusaha menjelaskan kronologinya pada Ron
"Ah, aku baru ingat! Kau salah besar Fred, saat aku masuk ke kamar kalian, aku lihat dia sedang menyisir rambutnya, setelah itu dia kurasa pergi dengan Veela itu",jawab Ron lagi dengan tidak mengalihkan pandangannya pada papan catur
~Tuuuk
"Ouuuchh untuk apa itu sayang?",tiba-tiba Ron mengaduh kesakitan karena pukulan Hermione di kepala Ron
"Dengar Ron, kau memang pantas mendapatkannya, kau bermulut besar", Hermione mendelik pada Ron
"Apa kau mengatakan sesuatu tentang Veela pada George?", tanya Fred
"Mmmm... begitulah, aku hanya sedikit kelepasan kurasa", jawab Ron dengan mengangkat kedua bahunya
"Dasar bodoh", Fred membuat ancang-ancang untuk memukul Ron
"Bukankah kau bilang kalau George sudah tau kalau Serafina hilang ingatan? Bukankah George tidak suka kalau kita menyembunyikan sesuatu tentang Serafina darinya? Kau yang katakan itu pada kita beberapa waktu yang lalu, dan kurasa aku belum pikun",Ron mencebik, dia berusaha membela diri
"Berhenti beradu mulut, Fred kau sebaiknya segera mencari George karena hari sudah semakin petang, dan kau Ron, kau seharusnya membantu Fred mencari George, aku akan ikut bersama kalian juga",Hermione berusaha melerai kedua kakak beradik yang hampir beradu jotos itu.
Segera, Fred berjalan menuju lorong menuju portrait , dia berjalan paling depan, diikuti oleh Hermione yang menyeret Ron agar berjalan disampingnya. Beruntunglah kepala Ron tidak terantuk dinding lorong yang lumayan keras. Ternyata Hermione cukup sadis juga ketika sedang kesal.
Sementara itu, di lorong ruang bawah tanah Hogwarts, Serafina dan George masih terengah-engah karena berlari.
"Berhenti disini George",Serafina berusaha menghentikan George yang terus memegang tangannya dengan erat sambil berlari.
"Okay, kurasa kita sudah aman", George menghentikan langkahnya
Mereka berusaha mengambil nafas dan duduk di bangku kayu berukir pohon bersulur, mengingatkan pada tempat yang mereka kunjungi beberapa saat yang lalu.
"Mmm.. maaf George"
"Apa? Kau tidak perlu meminta maaf, akulah yang salah karena membawamu ke tempat itu"
"Maksudku, mmm tanganku, kau masih memegangnya sejak tadi", Serafina berusaha menjelaskan
"Oopss, sorry", George melepaskan tangan Serafina dari genggaman tangannya
"No problem", Serafina menatap George yang pipinya terlihat bersemu merah. George terlihat sangat salah tingkah
"Baiklah, kurasa mmm kau sudah dekat dengan Asramamu, sepertinya aku mmm sampai disini saja", kata George dengan sedikit terbata-bata.
"Thanks George", Serafina tersenyum pada George
"You are welcome", kata George dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal
"Mmmm... Mint?",tanya Serafina pada George
"Apa?"George masih belum paham apa yang di maksud Serafina dengan "Mint"
"Bukan apa-apa", kata Serafina lagi
"Okay, aku akan pergi sekarang", kata George lagi
"Pastikan kau berhati-hati"
"Tentu saja"
"Baguslah"
"Mmmm apa kau terluka?",tanya George pada Serafina
"Tidak, tapi kurasa bibirmu sedikit berdarah George", Serafina berusaha mengelap sedikit darah di bibir George
George memegang tangan Serafina
~Cup
George mencium pipi Serafina.
.
.
"Mmmm I'm Okay, Bye Serafina", George melambaikan tangannya pada Serafina dan dia berlari keluar dari lorong ruang bawah tanah Hogwarts tempat asrama Huflepuff berada.
Serafina hanya bisa tersipu malu, dia masih menyentuh pipi kirinya, tepat dimana George menciumnya, itu sangat manis.
.
.
*George POV
"Aku menciumnya!, Oh tidak, mungkin aku sudah gila, tapi aku benar-benar melakukannya, baiklah, awal yang bagus", aku bergumam sendiri dan melompat kegirangan.
.
"Woohoo, lihatlah siapa yang sedang kasmaran disini"
Aku mendengar suara dari balik kegelapan di ujung lorong. Suara yang tidak asing bagiku.
"Kurasa beberapa cupid telah keluar dari sarangnya dan menyebarkan panah cinta di Hogwarts", kata suara yang lain.
Kedua suara itu akhirnya menampakkan dirinya. Dan sudah ku duga mereka adalah orang-orang yang tidak asing bagiku, Fred dan Ron. Tapi sedang apa mereka disini?
"Hey, apa yang kalian lakukan disini? Ini adalah jalan menuju Huflepuff, Griffindor ke arah lain",tanyaku penasaran
"Bukankah kita yang seharusnya bertanya? Kau tiba-tiba menghilang sampai petang begini, Fred hampir memukulku karena dia hampir gila karena kau menghilang", kata Ron sambil mendelikkan matanya pada Fred
"Cukup", Hermione menyikut lengan Ron
Ron memutarkan bola matanya tanda bosan karena terus menerus kena pukul Hermione.
"Lihatlah kau George, kita sibuk mencarimu ternyata kau justru bersama gadis Huflepuff itu", kata Fred dengan sedikit menyindirku
"Siapa yang pergi dengan gadis Huflepuff?", tanyaku lagi dengan pura-pura
"Tentu saja kau bodoh, kau berhutang 5 galleons padaku atas kepura-puraanmu", Fred menarik tanganku. Kita berempat berjalan menuju ruang rekreasi Griffindor. Aku ingin segera minum sesuatu, rasanya aku begitu haus karena berlarian.
.
.
.
Hari sudah semakin gelap, orang-orang mulai tertidur, tapi aku tetap memikirkan tentang Serafina, aku mungkin merindukannya. Oke, aku akan mengirimkan surat padanya malam ini juga.
Dear Serafina,
Apa kau sudah tidur?
Berhenti berbohong padaku, ketika kau membaca surat ini aku yakin kau masih terjaga.
Apakah kau memikirkan tentang aku?
Biar kutebak, mmmm "iya?"
Haha, aku cuma bercanda, bagaimana mungkin kau akan merindukan seseorang yang sudah membawamu pada hal mengerikan seperti yang terjadi hari ini.
Kuharap kencan pertama kita tidak akan seburuk itu, tapi jujur aku memang tidak berpengalaman.
Btw, kau baik-baik saja kan?
George W.
Kukirim surat itu lewat erol, ku harap si burung hantu tua milik Ron itu tidak mati sebelum ia berhasil mengirimkan suratku pada Serafina.
.
.
Tik tok tik tok~
Aku mulai memainkan kuas dan tinta di atas meja, sudah 30 menit berlalu, kurasa Serafina mungkin sudah tidur, atau erol pingsan di jalan, entahlah, kurasa aku juga harus tidur.
~Buuk
Tiba-tiba erol mendarat di mejaku dan membuat beberapa perkamen terjatuh ke lantai.
Dia membawa surat di ujung kakinya. Ku ambil surat itu dan kubaca perlahan.
.
.
Dear George,
Jujur saja aku akan memejamkan mataku ketika ada seekor burung hantu mendarat dengan brutal di mejaku, itu membuatku kaget, ketika kulihat dia membawa surat untukku, aku mulai terjaga lagi.
Tapi tak masalah, aku senang ketika mengetahui kalau surat itu darimu.
Tunggu, kencan hari ini benar-benar luar biasa, aku tak akan melupakan hari ini George, aku benar-benar senang, Well dan tegang juga sebenarnya, tapi itu yang ajaib, aku suka!
Trims untuk hari ini, kau tidak seburuk itu koq, sungguh.
Aku pun sebenarnya merindukanmu.
Serafina
Apa aku salah baca? Tampaknya Serafina menulis kalau diapun merindukanku. Oh Merlin, akhirnya hari ini aku akan tidur nyenyak dan bermimpi indah, sungguh aku suka hari ini, selain troll, semua terasa bagus.
*Normal POV
Burung-burung mulai bercicit di pepohonan. Tanda hari sudah pagi. Beberapa siswa sudah bersiap untuk kelas mereka. Namun beberapa yang lain masih meringkuk di ranjang dan bahkan beberapa yang lain masih mendengkur. Ruang Asrama Huflepuff memanglah cukup hangat di bandingkan dengan Ruang Asrama yang lain, sehingga membuat beberapa siswa terkadang enggan untuk bangun pagi.
"Hey Sera, bagaimana kencanmu kemarin?", tanya Patricia sambil memakai kacamatanya.
"Mmm... sangat menyenangkan",jawab Serafina dengan malu-malu
"Okay, kurasa sudah terjadi sesuatu, mm...", Patricia memicingkan matanya ke arah Serafina
"Mm... ehh, apa yang kau maksud?"Serafina menyikut lengan Patricia pelan
"Sudahlah kita akan terlambat kalau terus mengobrol", muka Serafina terlihat sangat merah, dia mencoba menutupinya dengan pura-pura mengemas buku-bukunya.
Mereka berdua berjalan pelan keluar dari lorong ruang bawah tanah. Di dekat ruang kelas, mereka bertemu dengan Prof. Trelawney yang terlihat sedang sibuk mondar mandir di depan kelas.
"Pagi Prof", Patricia berusaha menyapa Prof Trelawney, sebagai Prefek Girl dia harus memberikan contoh yang baik meskipun sebenarnya dia agak jijik dengan Guru Ramalan itu.
"Pagi dear",jawab Prof Trelawney sambil meremas buku-buku jarinya, entah kenapa dia terlihat sangat cemas.
"Ada apa Prof?",tanya Serafina pada Prof. Trelawney
"Aku sedang mencemaskan suatu hal, dan itu ber~ hei aku sepertinya baru pernah melihatmu di Hogwarts", Prof Trelawney tiba-tiba memutus perkataannya ketika dia melihat Serafina lebih dekat.
"Mm iya Prof, saya murid baru di Hogwarts",kata Serafina pada Prof. Trelawney
"Dengar dear, aku lihat dimatamu, kau sedang dalam bahaya, kecantikanmu ini membawa petaka",Prof Trelawney berkata dengan logat bicara yang aneh seperti biasanya
Serafina terdiam sejenak, dia berusaha memahami perkataan Guru Ramalan itu, namun Patricia tiba-tiba menyela dan membuyarkan pikiran Serafina.
"Maaf Prof, kita sudah terlambat untuk kelas Transfigurasi, kita harus pergi sekarang", Patricia menyeret Serafina untuk menghindari Guru Ramalan yang terkenal aneh itu.
hanya bisa menatap Serafina di kejauhan dengan mata berkaca-kaca.
"Dengar Sera, jangan pernah kau pikirkan perkataan Guru Ramalan itu, dia memang aneh", kata Patricia sambil tersenyum
"Aku hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres", kata Serafina terlihat cemas
"Satu-satunya yang tidak beres adalah otaknya, kau tahu, orang bilang dia itu sedikit gila", Patricia berusaha mengalihkan Serafina dari pikiran anehnya.
Mereka berdua terus berjalan menuju ruang kelas Transfigurasi, di perjalanan, Serafina melihat George sedang berlatih bersama timnya di lapangan. Tampaknya mereka mendapat waktu khusus untuk berlatih sehingga mereka tidak harus mengikuti kelas.
Serafina melihat George terbang melewati beberapa kursi penonton, dia terlihat sangat keren bagi Serafina. Apapun itu, sepertinya dia sudah terbius.
"Hey Sera, apa yang begitu menarik disana?", tanya Patricia pada Serafina yang terus menatap tim Quidditch Griffindor sedang berlatih.
"Bukan apa-apa", Serafina tertunduk malu
"Okay, sepertinya ini semua karena si rambut merah itu", Patricia terkikik ketika mendapati George ada di lapangan.
"Hentikan itu, kita ada kelas", Serafina menarik tangan Patricia agar berjalan menghindari lapangan.
"Uhum, okay, satu kotak penuh coklat kodok untuk menjaga rahasia ini", kata Patricia sambil mengedipkan sebelah matanya pada Serafina.
Di Kelas Transfigurasi, Prof. Mc Gonagall merasa sangat senang karena dia dapat melihat Serafina duduk dengan aman di kelasnya. Dia kini bisa melihat gadis itu lebih lama, akhir-akhir ini dia sangat sibuk sehingga sangat jarang melihat anak angkatnya itu.
"Prof, bisakah kau ulangi mantra untuk merubah kuas ini menjadi burung?", tanya salah seorang murid dari kelas Slytherin. Hari ini Huflepuff dan Slytherin mendapat kesempatan menjadi satu kelas.
"Tentu saja Miss Bullstrode", Prof. Mc Gonagall menjawabnya dengan sopan
"Jika kau membuka telingamu lebar-lebar, maka kau tak perlu minta Profesor untuk mengulangi", kata Patricia sedikit meledek.
"Bisakah kau diam? lihat saja, kau akan mendapatkan karmamu setelah ini",siswi bernama "Miss Bullstrode" itu sambil mendelik ke arah Patricia
"Sudahlah Patricia", kata Serafina berbisik, dia berusaha melerai percekcokan antara kedua gadis itu.
"Dengar apa katanya, D.I.A.M, kau Prefek bermulut besar!", Miss Bullstrode membuat Patricia naik darah
"Kau yang diam bodoh!", Patricia mulai bangkit dari kursinya
Miss Bullstrode tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berlari ke arah Patricia untuk menghajarnya.
Sekejap saja, mereka berdua sudah menarik rambut satu sama lain. Itu membuat Serafina ngeri.
"Berhenti! Aku tidak suka ada keributan di kelasku, bukankah kalian sudah tahu peraturannya!", Gonagall mencoba melerai kedua siswinya yang hampir berakhir dengan cakar mencakar satu sama lain.
Mc. Gonagall mengucapkan mantra dan membuat keduanya terdiam mematung.
"Mereka akan terus mematung seperti itu sampai akhir pelajaran, itulah karma untuk si pembuat kesalahan, biarkan saja, sekarang buka halaman 49",Prof. Mc Gonagall terlihat sangat kesal.
*George POV
"Hey George, kau terlihat bersemangat sekali hari ini, aku sangat puas dengan permainanmu",kata Harry sambil menepuk bahuku pelan
"Ini bukan apa-apa, dipertandingan sesungguhnya aku akan berusaha lebih baik dari ini", kataku berusaha meyakinkan Harry
"Tentu saja, dia harus membuktikan pada Serafina bahwa dia itu cukup keren untuk bisa jadi pacarnya", kata Fred menyindirku
"Diam Fred, ini semua demi tim", kataku berusaha mengelak
"Whatever", kata Fred lagi dengan mengibaskan tangannya di depan muka ku, dia benar-benar sialan.
"Tampaknya ada hal yang sudah aku lewatkan", kata Harry sambil menatap kearahku dengan pandangan aneh
"Tentu saja Harry, kau sudah ketinggalan gosip", kata Fred lagi
"Lelaki tidak menggosip Fred", kataku sambil memutar bola mata
"Untuk sesekali tidak ada salahnya", Fred mengedipkan matanya pada Harry, Harry hanya tertawa geli melihat tingkah Fred yang sangat aneh.
"Apa yang salah?", Katie Bell tiba-tiba menyela dari arah belakang
Aku benar-benar tidak suka ketika gurita yang satu itu ikut campur. Lebih baik aku segera menghindar sebelum aku terperangkap oleh tangan-tangan liarnya.
"Waktu latihan sudah selesai, setelah ini kita ada kelas Ramuan Fred, kita harus cepat, aku tak ingin Snape membuat kita menyikat seluruh pantat kuali di kelas", kataku sambil berjalan meninggalkan Fred dan gerombolan tim Quidditch Gryffindor.
"Tunggu George", Fred berjalan cepat menuju ke arahku.
Aku dan Fred berjalan dengan cepat menuju arah Asrama Gryffindor, bermaksud untuk mandi dan ganti pakaian. Diperjalanan ku lihat Prof. Trelawney sedang berbisik kepada seorang siswa dari Ravenclaw, dia sepertinya si blonde yang pernah aku lihat waktu itu.
"Apa yang kau lihat George?",tanya Fred padaku
"Tidak, bukan apa-apa", jawabku sekenanya
"Oh, lihat Prof Trelawney, aku benar-benar tak mengira kalau dia keturunan dari seorang peramal handal, dari luar dia kelihatannya aneh, bahkan menurutku sedikit gila"
"Tutup mulutmu Fred, ini adalah rahasia, kita tak boleh membicarakannya lagi, kita sudah berjanji", kataku mengingatkan Fred untuk menjaga rahasia tentang nenek bongkok yang kami temui di pondok tua.
"Okay", Fred menyilangkan kedua jari telunjuknya pada mulutnya, tanda bahwa dia akan diam.
Baguslah. Ku harap itu bertahan lama.
Beberapa menit kemudian,
"Hey Neville, kemarin aku melihat kaos kakimu berjalan sendiri di dekat lorong, kurasa kau melupakan pasangannya di ruang laundry, kurasa dia kesepian", Fred berteriak sangat keras di koridor, membuat banyak siswa yang sedang berlalu lalang menjadi tertawa terbahak-bahak, dasar Fred, ku kira dia serius dengan praktek "diam"nya untuk beberapa saat, belum ada 10 menit dia sudah mengoceh lagi.
Aku melihat Neville terlihat sangat malu, dia berjalan tergopoh-gopoh menyusuri lorong, semua orang kini menatapnya.
"Hey Fred, kita harus bergegas", kataku menarik Fred menuju tangga
Didekat jendela kaca berwarna, ku lihat ada sekelibat bayangan dari arah danau, sepertinya ada sesuatu yang aneh.
"Kau lihat itu Fred?",tanyaku pada Fred
"Mmm aku tak melihat apapun disana, kenapa?", Fred balik bertanya
"Aku seperti melihat sesuatu di sekitar sana", kataku sambil menunjuk ke arah danau
"Kau mungkin sedang berhalusinasi, atau mungkin kau ingin berenang bersama duyung disana, eh? Haha brother", Fred menertawaiku
Aku berusaha mengejar Fred yang berlari menaiki tangga dengan cepat.
"Ooiii Fred, tunggu aku", kataku sambil berlari
*Author Notes:
-QueenMamba, makasih udah selalu sempetin baca dan review :)
-Luna, my guest, makasih ya kalau kamu suka sama ceritanya :)
-For all, makasih ya kalian masih mau baca kelanjutan dari cerita ini :) aku seneng banget. Keep reading ya :)
-Sekali lagi aku minta maaf karena terlalu lama update chapter 7 ini, lemme know what do you think about this chapter :)
*Big hug* \(^_^)/
