***Disclaimer:
Absolutely JK Rowling (The real owner for the all of Harry Potter characters. I have nothing but "Serafina" dan beberapa yang lain sih, Haha yay tetep aja) \(^_^)/
***Starring: George Weasley & Lucia Anderson (a.k.a Serafina)
***Genre: Romance
***Rate: T
*Author Notes:
Sebelum kalian baca chapter selanjutnya, aku mau curhat sesuatu, begini, seperti yang aku bilang di chapter 1, dulu aku pernah posting cerita ini di laman web lain, tapi cuma sampai chapter 3 atau 4 kalau nggak salah, aku lupa karena itu udah lama sih, sekitar setahun yang lalu. Tapi karena suatu hal, akhirnya aku hapus cerita ini disana dan lebih tertarik melanjutkannya disini, habis di laman web yang lama koq kebanyakan ceritanya pake English jadi banyak yang nggak tertarik ma ceritaku (lalu ku dengar ini yang lebih ramah karena ada berbagai macam author dan reader dari berbagai bahasa) dan kayak salah kostum gitu, aku akhirnya mundur teratur dari web yang lama dan pindah kesini. Oh iya, aku nggak akan sebut nama laman web itu karena takut promosi atau apalah, dulu akunku disana itu "Brownie3AM" (Tetep nggak jauh ya dari Brownie karena mungkin aku suka brownies dan kulitku coklat kayak brownies, hehe apaan!), aku sebutkan tentang akun lamaku soalnya takutnya akun itu masih muncul, dan membuat orang berpikir kalau aku ini plagiat, padahal nggak koq, aku semua yang tulis ini. Aku suka pokoknya, banyak Author yang bagus-bagus dan banyak pula Reader yang ramah-ramah. Aku suka baca fanfic orang lain juga, dan ff mereka bagus-bagus lho, aku salut. Disini aku berniat untuk belajar sungguh-sungguh, aku masih pemula dalam hal tulis menulis ff, jadi please take a look after me :)
-Here you go chapter 8:
"Ini adalah kisah cinta George Weasley, dimana dia berusaha menemukan kembali
cerita cinta yang hampir dilupakannya."
Chapter 8. Keingintahuan
*Normal POV*
"Albus, apakah menurutmu ini keputusan yang benar?", Prof. Mc Gonagall meremas buku-buku jarinya tanda cemas
"Tidak ada jalan lain Minerva",jawab Prof. Dumbledore
"Aku masih ragu", kata Prof. Mc Gonagall lagi
"Dengar Minerva, mengenai hal tersebut, kurasa lebih bijak jika kaulah yang mengatakan itu padanya"
"Baiklah, aku akan berusaha", Prof. Mc Gonagall menjawab dengan sedikit terpaksa
"Aku tau kalau kau bisa, kau urus hal ini dan aku akan mengurus sisanya yang berhubungan dengan Kementrian Sihir dan Media, ah iya, dalam waktu dekat ini kurasa akan ada seseorang lain yang membutuhkan bantuanmu, ku harap kau bersedia menolongnya", kata Prof. Dumbledore sambil membenarkan kacamata setengah bulan purnama miliknya, kemudian dia ber-apparate meninggalkan Prof. Mc Gonagall yang terlihat bingung.
Prof. Mc Gonagall berjalan menuju lorong di sekitar ruang bawah tanah, dia membawa sebuah perkamen dan 2 buah tongkat sihir, satu adalah miliknya dan yang lain adalah milik seseorang.
Sementara itu di Kementrian Sihir, Prof. Dumbledore berjalan menuju ruangan seseorang yang bernama Eugene Carl. Dia seorang Menteri di Bagian Penyidikan. Prof. Dumbledore membuka gagang pintu kayu yang juga berukirkan nama Eugene.
"Silakan masuk Albus", kata Eugene dari balik kursinya
"Apa kabar Eugene!" Prof. Dumbledore menyapa Eugene dengan logatnya yang santai seperti biasa
"Tidak pernah lebih baik dari sekarang Albus, aku dengar dari Arthur Weasley bahwa kau sedang mencari tau tentang kaum Veela, apakah itu benar?"
"Kau benar, aku ingin meminta bantuanmu untuk mengecek asal usul seseorang dari kaum Veela yang beberapa bulan terakhir menjadi korban penculikan", kata Prof. Dumbledore menjelaskan maksud kedatangannya
"Kasus itu sudah tidak begitu menarik perhatian publik akhir-akhir ini Albus, kau tau? kenapa kau masih terus bersikeras mengungkapnya? Orang-orang tampaknya juga tidak begitu khawatir karena yang di serang adalah kaum Veela, dan seperti yang kau tau mereka adalah kaum yang langka. Kau sendiri juga bukan dari kaum itu, kurasa sebaiknya kau berhenti, untuk suatu alasan pihak Kementrian sebentar lagi akan menutup kasus itu", kata Eugene sambil mengetukkan tongkat sihirnya pada meja bundar berukuran besar di depan Prof. Dumbledore. Eugene tampak sangat kesal.
"Aku adalah Kepala Sekolah Hogwarts, dan salah satu siswiku adalah seseorang dari kaum Veela, dan asal kau tau, aku sedang membuat perjanjian dengan Kepala Sekolah lain yang memiliki siswa dari kaum Veela untuk berkontribusi dalam mengungkap kebenaran tentang mereka. Mereka butuh KEADILAN. Setahuku sewaktu kita remaja dulu kau pun pernah tergila-gila pada seorang Veela, bahkan kau pun punya anak darinya, aku rasa aku tidak pernah bisa lupa itu",kata Prof. Dumbledore dengan nada sedikit menyindir.
"Jangan pernah ungkit masalah itu, aku tak pernah menganggap pria konyol itu sebagai anakku", Eugene menjadi sangat marah
"Setidaknya kau sudah bersedia merawatnya sampai sekarang, Frederic tumbuh menjadi pria yang menyenangkan, dia tidak sepertimu yang selalu terlihat kaku, dan oh ya, dia bahkan memberimu seorang cucu. Carl Junior terlihat manis dan cerdas. Dia bersekolah di Hogwarts kalau kau lupa" ,kata Prof. Dumbledore lagi
"Apa kau berusaha menyudutkanku Albus?",tanya Eugene dengan nada marah
"Aku tidak bermaksud menyudutkanmu, aku hanya ingin kau jujur dengan perasaanmu bahwa dengan adanya kasus penculikan kaum Veela itu, kau pun sebenarnya merasa terusik, belum lagi seorang korban adalah ibu dari anakmu", jawab Prof. Dumbledore
"Aku tidak ingin mendengar tentang itu lagi Albus, aku sudah melupakan tentang Rossane, itu adalah masa lalu", kata Eugene dengan mata berkaca-kaca
"Aku akan percaya kata-katamu jika kau tidak memakai liontin pemberiannya sampai sekarang, kau tau Eugene, Frederic memang tidak menggeluti dunia yang sama sepertimu, dia seorang wartawan, tapi apa yang dia lakukan untuk mengungkap kasus itu lebih berpengaruh dari tindakanmu di Kementrian Sihir yang pasif seperti ini",kata Prof. Dumbledore yang menyiratkan kekecewaan pada Eugene, sahabatnya di waktu sekolah dulu.
Eugene menggenggam liontin yang ada di lehernya.
"Baiklah Albus, aku memang tidak pernah melupakannya, sebenarnya aku serba salah, aku sungguh ingin mengungkap kasus penculikan Veela itu, tapi Kementrian Sihir terus memojokkanku dan menutup-nutupi kasus ini dari publik, mereka mengancam akan melenyapkan anak dan cucuku jika sedikit saja mulutku membocorkan satu saja informasi, walaupun aku tidak terlihat peduli pada anak dan cucuku, tapi hanya merekalah yang aku punya, mata Frederic mengingatkanku pada Rossane, aku benar-benar terpukul ketika mendengar dia terbunuh tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa", Eugene tertunduk lesu.
"Dengar Eugene, aku tau bahwa kau mencintai anak dan cucumu, itulah kenapa kau tidak memaksa Frederic untuk bekerja di Kementrian, dia lebih menyukai dunia media, bukan berarti kau tidak peduli padanya, kau hanya berusaha membahagiakannya dengan memberinya kesempatan melakukan hal yang dia suka. Dan tentang Carl Junior, dia begitu mirip dengan Rossane dengan rambut blondenya. Kau tau dia memang memiliki rasa ingin tau yang sangat kuat, kau takut ini akan membahayakannya, sehingga kau menyekolahkannya di Hogwarts, tepat berada di sisi sahabat yang kau percayai, aku. Kau bisa melakukan sesuatu tentang kasus ini Eugene", Prof. Dumbledore menepuk pundak Eugene dengan rasa iba.
"Well, Aku akan membantumu untuk mencari informasi yang kau butuhkan, tapi kau berjanjilah padaku untuk menjaga anak dan cucuku, berjanjilah",Eugene akhirnya mengangkat dagunya
"Ini adalah janji diantara penyihir"
Prof. Dumbledore dan Eugene Carl bersalaman dan menyatukan tongkat sihir mereka. Janji antara penyihir adalah janji sampai mati.
"Eugene, bisakah kita mendapat bantuan dari Arthur Weasley?", tanya Prof. Dumbledore sebelum meninggalkan ruangan itu
"Untuk apa? Kurasa dia tidak berkompeten untuk kasus ini",tanya Eugene lagi
"Aku hanya merasa keluarga Weasley mungkin bisa membantu memecahkan masalah ini",jawab Prof. Dumbledore sambil mengangkat kedua alisnya.
"Kau tidak pernah berubah Albus, kurasa kadang aku berpikir kau ini Peramal, Cih dasar kau Si Tua Menyebalkan",kata Eugene dengan tertawa renyah
"Kau lebih menyebalkan dariku Eugene, semua orang tau itu, Bye", Prof. Dumbledore melangkah meninggalkan ruangan Eugene dengan senyum mengembang di wajahnya.
Di luar ruangan dia menyapa Arthur yang akan memasuki ruangan Eugene
"Hey Arthur!", sapa Prof. Dumbledore
"Hey, Professor, apa yang kau lakukan disini?", Arthur Weasley terlihat kaget
"Hanya menemui teman lama", kata Prof. Dumbledore
"Si Tua Menyebalkan itu?"tanya Arthur Weasley dengan ragu
"Kau dengar itu Eugene? Sudah ku bilang kalau kau memang lebih menyebalkan dariku dan semua orang tau itu!", Prof. Dumbledore berteriak dari balik pintu, semua orang di sekitar lorong tertawa terbahak-bahak
Dari dalam ruangan Eugene hanya tertawa. Dia masih Albus Dumbledore yang dia kenal sejak lama.
*George POV
"Fred, aku benar-benar heran, mengapa Snape terus menerus menyiksa kita dengan semua tugas ini", kataku pada Fred yang terus memaikan kuasnya pada sebuah perkamen tua
"Dia hanya senang ketika dia tau kalau kita menderita", kata Fred tanpa mengalihkan pandangannya dari perkamen yang terlihat lusuh itu.
"Hey, kulihat kau begitu rajin mengerjakan tugas darinya Fred, lihat, dengan hanya sekejap kau berhasil menulis sepanjang 1 meter, bisakah aku mencontekmu sedikit? hanya sedikit, please", aku lumayan takjub dengan Fred yang terlihat begitu rajin hanya untuk Snape. Aku mengendap untuk melihat pekerjaan Fred.
"Tidak!", Fred berusaha menutupi perkamen tua itu dengan menggulungnya.
"Jangan pelit, aku tidak ingin ada Hermione kedua", kataku berusaha menarik perkamen itu dari Fred.
Aku menggelitiki Fred dan merebut perkamen tua itu dari tangannya.
"Well, mari kita lihat hasil pekerjaanmu"
Aku membuka gulungan perkamen tua milik Fred. Namun aku hanya menemukan coretan tangan Fred yang begitu jelek, dia menulis puisi cinta rupanya. Aku tertawa terbahak-bahak ketika membacanya.
"Ahaha, Fred, kau benar-benar konyol, yang kau lakukan ini benar-benar sangat norak" Perutku terasa kram karena begitu lama tertawa.
"Dengar George, Angelina memaksaku untuk bersikap seromantis mungkin ketika Anniversary kita minggu depan, ku pikir ide tentang puisi cinta bermeter-meter ini cukup bagus, tetapi setelah kau bilang ini adalah ide yang norak, aku benar-benar bingung", Fred terlihat sangat muram.
"Fred, carilah ide yang lain, kau akan nampak bodoh seperti Ron beberapa hari yang lalu jika kau tetap melaksanakan ide norak ini", kataku sambil menepuk pundak Fred, aku sedikit terkikik geli.
"Apa kau ada ide?",tanya Fred padaku
"Entahlah, tapi gadis lebih suka sesuatu yang nyata di banding dengan kata-kata palsu macam ini", aku melempar perkamen tua itu ke muka Fred
"Okay Master, kau pikir kau sangat ahli dalam percintaan, huh? kau bahkan belum pernah punya pacar atau berciuman, dasar pembual, aku ragu kalau kau ini normal, mungkin kau ini sebenarnya seorang guy, kulihat beberapa kali kau memperhatikan Si Blonde Carl dengan pandangan yang berbeda, ahaha setelah ku pikir-pikir dia cukup manis juga ahahaha", Fred menertawaiku
"Aku pernah mencium seorang gadis! Well meskipun hanya mencium pipinya tapi setidaknya itu adalah bukti bahwa aku masih normal!", kataku mengelak
"Wooooo, siapakah gadis itu?", Fred bertanya dengan nada mencurigakan, dia melempar kuas padaku.
"Kau tidak perlu tau", kataku dengan kesal, aku berhasil menangkap kuas yang di lempar Fred, dia tidak berhasil mencoreng mukaku dengan kuas itu, aku memang chaser yang handal, haha. Aku kembali menulis beberapa kata pada perkamenku
"Aku akan bilang pada Serafina kalau kau sekarang sudah pindah ke lain hati, akan ku bilang padanya kalau kau sudah mencium seorang gadis", Fred terus menggodaku
"Jangan pernah kau katakan itu!"kataku sambil berteriak.
Fred menertawaiku sampai terguling-guling di lantai. Aku merasa sangat bodoh. Ketika kulihat perkamenku dan kulihat aku menulis sesuatu di sana, aku semakin merasa bodoh, bisa-bisanya aku salah tingkah begini. Aku menuliskan kalimat "Aku mencium pipi Serafina dan itu adalah awal yang bagus" pada perkamenku, sungguh memalukan tulisan itu ternyata bergerak-gerak seakan-akan menertawaiku, aku meulis dengan kuas yang salah, itu adalah kuas milik Fred. Dia menjebakku dengan kuas kejujuran miliknya itu. Fred selalu bisa membalas dendam padaku.
"Buang benda rombeng ini!" kataku sambil melemparkan kuas itu pada Fred dan berjalan keluar kamar menuju ruang rekreasi.
Kulihat Ron dan beberapa gerombolan anak yang lain sedang asyik mendengarkan seseorang membacakan sesuatu. Mereka berkeliling di dekat perapian.
"Woooo, Ayo lanjutkan Mr. 13",kata Ron dengan sangat bersemangat
"Baiklah, selanjutnya aku ingin mendengar berita tentang seseorang dari Gryffindor! Setuju?",Seamus berteriak
"Wooo", semua orang di depan perapian terlihat sangat antusias
Ada suara gemerisik dari api perapian, aku mendekat ke arah gerombolan anak-anak itu dengan penasaran.
"Okay, karena kalian sudah tak sabar, bagaimana kalau kita mendengar berita terbaru dari Selebriti kita Mr. Potter",api di perapian itu sepertinya bisa berkata-kata.
"Ku harap kalian siap mendengarkan, kirimkan aku dua kotak penuh coklat kodok jika kalian terhibur dengar berita ini", kata seseorang dari perapian yang terus mereka panggil Mr. 13 itu.
"Minggu kemarin Harry berciuman dengan Ginny di Menara Astronomi!"
Semua orang bersorak kecuali Ron, dia terlihat kesal, entah kenapa dia merasa aneh ketika dia mendengar hal-hal seperti itu tentang adiknya
Aku duduk di samping Dean untuk bertanya padanya apa yang sebenarnya mereka lakukan.
"Hey Dean, kalian sedang apa?", tanyaku berbisik, orang-orang kembali berteriak ketika mendengar berita tentang Snape yang rambutnya menjadi lengket dan kaku karena salah memakai krim perekat.
"Apa kau belum tau George? Ini sedang trend minggu ini, Mr. 13, dia mirip seperti informan di Hogwarts, setiap 3 hari sekali dia akan menyiarkan berita-berita seputar Hogwarts, dia benar-benar populer, awalnya setiap orang di 4 asrama terkejut ketika mendengar perapian bisa berbicara, tapi lama kelamaan ini sangat menarik, tapi dia hanya melakukan siaran selama 13 menit.", kata Dean menjelaskan
"Seseorang di balik nama Mr.13 pastilah bermulut besar", kataku heran
"Benar sekali, tapi ini benar-benar menghibur, berita yang dia sampaikan, hampir 100 % benar, itu yang orang-orang katakan",kata Dean lagi
"Ini cukup menarik, bisakah kita meminta dia untuk mencari tau sesuatu?", tanyaku lagi
"Tentu saja bisa, cukup tulis pertanyaanmu di sebuah perkamen dan letakkan itu di sarang burung hantu di dekat jendela, lalu tinggalkan beberapa galleon disana, beritahukan yang nama burung hantumu di surat yang kau kirim, dia akan membalas suratmu dan langsung mengirimnya lewat burung hantu milikmu, jika kau ingin infomu di publikasikan, kau harus tambahkan sekotak penuh coklat kodok",jawab Dean
"Mengapa kau tau begitu detail?", tanyaku dengan heran
"Karena aku sudah pernah mencobanya", Dean mengedipkan matanya padaku, sangat menggelikan
Aku melenggang pergi dan menuju ke kamarku lagi.
"Hei Brother, kau tau apa yang terjadi di bawah sana?", tanyaku pada Fred
"Oh, aku sedang tidak mood untuk mendengarkan gosip dari perapian",jawab Fred dengan tidak mengalihkan pandangannya dari perkamen yang sekarang sudah mencapai 2 meter itu.
"Aku rasa itu cukup menarik, kau bisa mencoba bertanya padanya apa yang Angelina inginkan saat ini",kataku pada Fred
"Aku sedang tidak punya uang George, Mr. 13 tidak menjual info dengan gratis, praktisnya sekarang aku sedang mencari cara untuk membuat Angelina senang tanpa harus mengeluarkan banyak uang", kata Fred sambil memutarkan bola matanya.
"Well, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau begitu... atau mungkin kau bisa mengajaknya ke suatu tempat yang bagus", kataku mencoba menghibur Fred
"Ah iya Fred, omong-omong beberapa hari yang lalu aku pergi ke tempat rahasia yang kita temukan, aku~"
Tiba-tiba Seamus menjeblak pintu dan menerobos masuk
"Apa-apan ini!", teriak Fred pada Seamus
"Biarkan aku bersembunyi disini sebentar, Harry dan Ron sedang mengejarku, mereka akan menghajarku", Seamus terdengar ketakutan
"Itu salahmu, karena kau mengusik mereka lebih dulu", kataku pada Seamus
"George, apakah kau memikirkan hal yang sama dengan yang aku pikirkan?", Fred menatapku dengan pandangan jahil yang aku mengerti
"Tentu saja", kataku setuju
Aku dan Fred mengangkat Seamus dan melemparkannya keluar dari Kamar, dia terus berteriak tapi kami tidak peduli. Seamus begitu berisik. Aku dan Fred ber-high five.
"Sekarang kamar sudah tenang kembali, aku sedang butuh konsentrasi, dan aha sepertinya aku menemukan ide yang bagus", kata Fred
"Apa itu Fred?",tanyaku
"Itu rahasia", kata Fred padaku, dia berbaring di ranjang dan memejamkan matanya.
*Normal POV
Tidak hanya di Asrama Gryffindor, namun juga di Asrama lain, siaran 13 menit dari Mr. 13 di perapian sungguh menarik perhatian para siswa. Di Asrama Huflepuff bahkan tak kalah seru. Beberapa bahkan menyiapkan benda milik Muggle yang dapat merekam suara agar mereka dapat memutarnya kembali sebagai bukti, beberapa yang lain terlihat tak sabar dan bersorak ketika siaran sudah di mulai. Mereka duduk berkeliling di depan perapian.
"Ed, apa kau melihat Serafina?", tanya Patricia pada Ed yang sedang duduk di depan perapian bersama gerombolannya.
"Ku lihat tadi dia keluar ketika Prof. Mc Gonagall memanggilnya, dan sepulang dari itu dia terlihat muram", kata Ed pada Patricia
"Apakah kau mengganggunya lagi?", tanya Patricia dengan sinis
"Tidak! Untuk apa? Aku tak pernah mengganggunya, kau sendiri yang merasa terusik, apapun yang aku lakukan selalu mengganggumu, mungkin kau hanya belum bisa melupakan masa lalu", jawab Ed tak kalah menyindir
"Lupakan!" Patricia berjalan menghindari Ed dan gerombolannya yang sedang berkumpul di depan perapian. Dia menuju kamar para gadis untuk mengecek apakah sahabatnya ada disana, dan ternyata benar saja, Serafina terlihat sedang menyendiri di kamar.
"Sera, aku mencarimu kemana-mana, apa yang kau lakukan sendiri disini? kenapa kau terlihat murung?", tanya Patricia pada Serafina yang sedang duduk dan tertunduk lesu di dekat jendela
"Ada hal yang benar-benar serius dan itu membuatku semakin cemas", Serafina mulai menitikkan air mata
"Setiap kali kau bertemu dengan Prof. Mc Gonagall berdua saja, kau selalu berakhir begini, apa yang sebenarnya terjadi?", tanya Patricia dengan cemas
"Bagaimana kau tau kalau aku baru saja bertemu dengan Prof. Mc Gonagall?", tanya Serafina
"Dari si Brengsek Ed",jawab Patricia terlihat kesal
"Apakah itu benar kata-kata itu keluar dari hatimu?", Serafina mengelap air mata yang menetes dari pipinya.
"Lupakan itu Sera, sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi, aku ini sahabatmu"
"Aku tidak tau ini benar atau tidak, tapi yah kau benar tentang satu hal, kau sahabatku dan tidak ada rahasia diantara sahabat," Serafina menarik nafas sejenak, dan kemudian berkata "Sebenarnya aku hilang ingatan, aku tidak tau siapa diriku yang sebenarnya, Prof. Mc Gonagall yang merawatku dan memberiku nama Serafina, dia menemukanku terbaring lemah dan bersimbah darah waktu itu, aku benar-benar tak ingat apapun yang terjadi di masa laluku"
"Dengar Sera, aku tidak tau kalau kau begini menderita, aku benar-benar minta maaf", kata Patricia, dia terlihat cukup kaget mendengar penjelasan sahabatnya itu.
"Mom mmm maksudku Prof. Mc Gonagall tadi bilang padaku bahwa aku ini sebenarnya seorang Veela. Tongkatku ini adalah tipe tongkat yang dimiliki kaum Veela. Dan yang tragis adalah, (Serafina mengelap air mata yang menetes di pipinya lagi) kau ingat beberapa waktu yang lalu ada banyak kasus tentang penculikan para Veela dan pada akhirnya mereka mati?"
"Iya, aku masih ingat, kejadian itu sangat mengerikan. Dan Waw kau ini Veela? Demi Janggut Merlin aku sungguh terkejut Sera. Tapi itu cukup logis juga, lihatlah dirimu, kau begitu cantik, itu adalah salah satu tipikal kaum Veela, mereka berwajah menawan. Dan jika benar yang dikatakan Prof. Mc Gonagall bahwa kau salah satu dari korban penculikan sadis itu kau benar-benar beruntung", kata Patricia menjelaskan
"Aku tak ingat apapun, ceritakan padaku tentang kaum Veela", Serafina memandang Patricia seakan memohon, dia sangat ingin tau tentang dirinya yang sebenarnya.
"Tentu saja, bahkan aku pernah melihat beberapa buku tentang Veela dan keturunannya di perpustakaan, mungkin kita bisa mencarinya besok, sekarang kau beristirahatlah", Patricia menuntun tangan Serafina menuju ranjang
"Bisakah kau menjaga rahasia ini Patty?", kata Serafina memelas
"Tentu saja, aku bukan si mulut besar seperti Mr. 13, kau tau?", Patricia terkikik geli, dia mendapat pukulan ringan dari Serafina di lengannya.
"Baiklah, aku percaya padamu", kata Serafina lagi. Sekarang dia tersenyum.
"Begitu baru bagus, aku suka melihatmu tersenyum, kau terlihat lebih cantik sekarang", kata Patricia
"Apakah aku pernah telihat jelek?", kata Serafina dengan nada bercanda
"Ha ha, sangat lucu, baiklah, tidak pernah, tapi mungkin suatu saat bisa jadi kan?", Patricia menjulurkan lidahnya pada Serafina
Serafina terkikik geli, Patricia berhasil menghibur sahabatnya yang sedang sedih. Thanks God.
.
.
.
Hari berikutnya. Serafina dan Patricia berencana untuk mencari beberapa buku di perpustakaan. Selasa itu setelah jam makan siang, Serafina dan Patricia bergegas menuju perpustakaan. Mereka sepakat untuk berkonsentrasi untuk hanya mencari buku tentang Veela.
"Lihat Sera, ada Miss Granger disini, kurasa dia bisa membantu kita mencarikan beberapa buku, kau tau, dia mungkin sudah melahap habis semua buku disini, aku akan mencari beberapa buku yang aku tau di sisi timur, okay?", Patricia mengedipkan matanya pada Serafina
"Well, kau benar, itu ide yang bagus, biarkan aku yang bertanya padanya", kata Serafina dengan sangat bersemangat, dia berjalan mendekati Hermione yang sedang sibuk membaca buku tebal tentang Aritmanchy.
"Hey Mione", Serafina menyapa Hermione dengan pelan
"Oh, Hai Sera, kau disini juga? sendirian?", tanya Hermione
"Tidak, aku bersama Patricia, kau tau, Prefek Girl dari Huflepuff?", jawab Serafina sambil menempatkan dirinya duduk di sebelah Hermione
"Oh iya, aku tau, gadis malang itu, dia sudah ditipu habis-habisan oleh Si Playboy Ed", Hermione memandang ke arah Patricia yang sedang sibuk mencari buku di rak atas.
"Aku bisa merasakannya, dia memang playboy, kau tau? setiap kali aku memergokinya menatapku, dia melihatku seakan dia akan melahapku, menjijikan", Serafina menunjukkan raut muka jijik.
"Hey, perlu aku bilang pada George tentang Ed yang mengganggumu?", Hermione menatap Serafina dengan tatapan yang aneh
"Tii.. tidak perlu, dia bukan pacarku, kita pun belum jadian koq", pipi Serafina memerah seketika.
"Oh! Belum? Tapi itu bukan berarti tidak akan mungkin terjadi kan?", Hermione masih terus menggoda Serafina sehingga pipinya sekarang semerah apel.
"Aku tidak tau, aku belum menjawab pertanyaannya tentang apakah aku mau~ oooppss lupakan itu", Serafina berpura-pura membaca buku yang ada di dekatnya.
"Hey, dia sudah mengatakan perasaannya padamu? Waw! Ini berita bagus, kau harus segera menjawabnya kau tau, kesempatan terkadang tidak muncul dua kali", Hermione menyikut lengan Serafina
"Dengar Mione, mari kita bicarakan itu lain kali, sekarang yang aku inginkan adalah buku", kata Serafina sambil menggembungkan pipinya.
"Okay, disini ada banyak buku, kau dapatkan yang kau mau", Hermione berkata sambil memandang keseluruhan rak di depan mereka.
"Aku ingin buku yang spesifik Mione, tapi aku butuh bantuanmu", Serafina memelas
"Okay, Okay, katakan"
"Aku sedang mencari buku tentang kaum Veela",kata Serafina dengan nada serius
Hermione tiba-tiba terkejut dan menutup buku yang sedang dia baca.
"Bisakah kau ceritakan padaku kenapa kau mencari buku tentang itu?", tanya Hermione
"Aku... mmmm hanya saja ada mmm tugas, iya, tugas Sejarah Penyihir tentang kaum Veela, kita harus menulis paper sepanjang 6 meter, itu sangat mengerikan, kita butuh banyak referensi", Serafina berpura-pura
"Baiklah, akan ku bantu, mereka ada disisi sebelah selatan, tepatnya di rak atas bagian kedua setelah buku tentang Sejarah Troll", kata Hermione
"Uummm... mungkin akan lebih baik jika kau yang ambilkan, aku akan berada di belakangmu", Serafina tersenyum sangat manis, memastikan agar Hermione mau menolongnya.
"Baiklah, kau berhutang satu hal padaku, aku harus jadi orang pertama yang tau kalau kau jadian dengan George, okay?", Hermione menggoda Serafina lagi
Pipi Serafina memerah lagi setiap kali dia mendengar nama George disebut.
.
Beberapa menit kemudian,
"Okay, ini buku yang kau mau, sekarang aku ada kelas, jika kau butuh bantuanku, katakan saja"
"Thanks Mione, kau sudah sangat membantu", kata Serafina pada Hermione yang sudah berjalan meninggalkan perpustakaan. Sepertinya dia sangat terburu-buru.
"Hey Sera, kau dapatkan bukunya?", tanya Patricia yang baru mau mendekat setelah Hermione pergi.
"Tentu saja, aku sedang membaca beberapa tentangnya, mungkin kau bisa membantuku, ada beberapa buku lain yang menarik perhatianku", kata Serafina sambil membuka buku dengan sampul bertuliskan Veela dan Legenda Darah Murni.
.
.
.
*Author Notes [lagi boleh kan ya? Hehe] :
-Big Hug buat semua yang udah baca chapter kali ini, moga kalian suka, bilang aja kalau ada yang kurang pas, mungkin aku kurang nambahin garam, ahaha just kidding :P
-Omo, QueenMamba sama Luna setia banget baca ceritaku dan review juga, kalian adalah semangatku, walaupun cuma kalian berdua yang rajin review tapi nggak papa, aku masih tetap semangat! Thanks ya :D
-Buat para silent readers makasih banget juga buat kalian, melihat angka di tombol "view" termasuk secercah harapan buatku... hiks #terharu
