Disclaimer :
Naruto belongs to Sasuke, uhuk Masashi Kishimoto I meant
Story Line © Masta Yuu
Warning : AU, SasuNaru, May Typos, This Fiction Contain Yaoi. DLDR!
Masta Yuu Presents "Sins (Brother of Mine) Chapter 3"
Enjoy this chapter!
.
.
.
Bel tanda pulang telah berbunyi sejak semenit yang lalu. Satu persatu siswa Konoha High School keluar dari kelas masing-masing. Tak terkecuali Naruto. Ia melangkah tergesa-gesa dengan ransel yang ia sampirkan asal. Ada dua alasan yang membuatnya ingin segera keluar dari lingkungan sekolahnya sekarang. Pertama, ia muak dengan bisik-bisik siswa-siswa lain yang membicarakan hubungannya dengan Sasuke sebagai saudara tiri.
"Naruto adikku."
"Ja-jadi, dia Kakak tirimu itu, Naruto?"
Yah, bersyukurlah Naruto karena si brengsek Sasuke telah membongkar aibnya, dan juga Kiba yang dengan kerasnya mengatakan bahwa Sasuke adalah Kakak tirinya hingga tak sedikit siswa di kantin itu yang mendengar.
"Shit!" Naruto mengumpat kesal karena mengingat peristiwa yang terjadi di kantin tadi. Apalagi sang punjaan hati, Sakura, sepertinya menyukai si rambut pantat ayam itu.
Hal kedua yang membuatnya semakin ingin cepat meninggalkan sekolahnya adalah Sasuke. Ia tahu jika saudara yang tak ingin diakuinya itu akan menyeretnya masuk ke mobil dan memaksanya untuk pulang bersama.
"Hell no, itu tidak akan terjadi lagi." Pikiran Naruto berbicara. Jadi setelah bel pulang terdengar, ia langsung membereskan buku-bukunya dan meninggalkan kelas. Untungnya sampai sejauh ini Naruto belum melihat tanda-tanda kemunculan Sasuke.
Sesampainya di gerbang, Naruto menengok ke kanan dan kiri, mencari-cari dimana kiranya Pein yang berjanji akan menjemput dan mengajaknya ke rumah pemuda berpiercing itu berada.
"Ah, itu dia!"
Rupanya Pein berada di dekat halte di seberang jalan. Duduk diatas motor Harley Davidsonnya sambil menunduk menatap ponsel yang berada di tangan. Segera saja ia berlari menuju temannya itu.
"Yo! Pein!" Naruto menepuk pundak Pein, membuat pemuda berambut jingga itu mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ia genggam.
"Oh, kau, Naruto. Kita pergi sekarang?" Pein mencoba berbasa-basi yang di jawab dengan nada malas oleh Naruto.
"Ya, kurasa. Aku harus segera pergi dari sini sebelum si brengsek itu menemukanku."
Pein melayangkan tatapan bertanya. Naruto yang menangkap hal itu lantas menjawab.
"Laki-laki yang tadi pagi itu."
Mengerti akan maksud teman pirangnya, Pein kemudian mengangguk.
"Baiklah, ayo naik."
"Bolehkah aku yang mengendarainya?" Naruto nyengir ke arah Pein, yang sayangnya hanya dibalas dengusan.
"Tidak. Motor ini berbeda dengan motor maticmu itu."
"Kau kan bisa mengajariku."
"Tidak untuk saat ini, Naruto." Pein tetap menolak.
"Ayolah, ajari aku. Tidak biasanya kau pelit padaku."
"Kau itu ceroboh, perlu bebera-"
Bunyi nada dering menginterupsi Pein. Ia merogoh ponselnya yang sebelumnya ia masukkan ke saku celana. Melihat sekilas ID penelpon, ia lalu segera menyentuh tombol hijau di layar.
"Ya Itachi?"
"..."
"Oh, kau sudah sampai? Langsung masuk saja kalau begitu. Kodenya sama dengan yang di New York."
"..."
"Aku akan segera kesana."
"..."
"Okay."
PIP
"Siapa?" Rasa penasaran menguasai Naruto. Setelah Pein menutup telponnya ia segera bertanya.
"Temanku, dia juga murid akselerasi. Namanya Itachi."
"Orang Jepang juga?"
"Dari namanya kau juga sudah tahu." Jeda sejenak. "Naiklah, ia sudah menunggu di tempatku."
Tanpa berucap apapun, Naruto menurut. Pein dengan luwes menyalakan mesin dan memutar gas, melaju menjauhi lingkungan sekolah.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Pein memarkirkan motornya di basement gedung yang Naruto ketahui sebagai apartemen. Dan sekarang mereka memasuki gedung itu lalu naik lift menuju lantai 7. Itu jelas membuat Naruto bingung.
"Kau bilang kita akan ke rumahmu." Pernyataan sekaligus pertanyaan Naruto lontarkan.
"Apartemen adalah rumah bagiku, Naruto."
"Terserah."
Begitu lift terbuka, Pein keluar mendahuluinya dengan ia mengekor dibelakang. Mereka lalu berhenti di depan sebuah pintu bernomor 1313. Pein kemudian memencet beberapa angka di panel yang berada di sebelah kanan pintu. Bunyi klik terdengar halus sebelum pintu terbuka.
"Masuklah." Ajak Pein.
Melangkah memasuki apartemen, Naruto lalu melepas sepatunya, mengikuti apa yang dilakukan Pein dan menggantinya dengan sandal rumahan yang entah kenapa tersedia juga disana, kemudian ia disambut lorong pendek yang menghubungkan ke ruang depan yang diperuntukkan untuk ruang tamu dan menonton televisi.
"Duduklah disana. Aku akan mengganti baju dulu. Kalau butuh minum atau camilan, ambil sendiri di kulkas yang berada di dapur." Ucap Pein dengan tangannya yang menunjukkan letak dapurnya berada.
"Tenang saja, aku tidak akan segan untuk merampok makananmu." Naruto menjawab titah Pein dengan candaannya.
Seperginya Pein, Naruto lantas meraih remot tv di meja dan menyalakan benda LED berukuran 40 inch itu. Memilah-milah channel yang sekiranya menarik, hingga akhirnya pilihannya jatuh pada acara tv yang menampilkan koleksi mobil modifikasi milik salah satu anak konglomerat Jepang.
"Andai aku punya satu, pasti sudah kupakai jalan-jalan dengan Sakura." Naruto mengutarakan pikiran dengan senang.
Tak lama kemudian ia meletakkan remot tv di samping tubuhnya. Lalu ia beranjak dari sofa dan berjalan mencari dapur yang di tunjukkan Pein tadi.
"Disana rupanya." Naruto membatin. Ia lihat sebuah ruangan dengan satu set meja makan 4 kursi. Ia pun memasukinya namun segera berhenti ketika ia menemukan bahwa ia tidak sendiri disana. Ada seseorang yang membelakanginya, dan yang pasti bukan Pein. Seseorang dengan rambut hitam panjang yang di ikat rendah. Naruto tahu orang itu bukan perempuan, terlihat dari postur tubuhnya yang memperlihatkan bahwa dia laki-laki.
Naruto memperhatikan laki-laki itu yang terlihat sibuk sendiri dengan dunianya. Bukan melamun, melainkan memasak. Entah mencari sesuatu atau apa, laki-laki berbaju biru gelap itu berbalik. Matanya bertemu sapphire milik Naruto. Sejenak, keduanya tersentak. Lalu tak lama laki-laki berambut hitam panjang itu tersenyum.
"Kau temannya Pein?" Orang itu bertanya.
"Ya, kau siapa?" Naruto balik bertanya.
"Sama sepertimu. Temannya juga."
Jika diperhatikan, orang itu memiliki garis di masing-masing sisian wajahnya, seperti kerutan. Tapi melihat badannya, Naruto rasa orang itu belum terlalu tua.
"Oh, disini kau rupanya, Itachi. Kupikir kau kemana karena aku tak melihatmu di kamarku maupun di kamar tamu." Pein tiba-tiba masuk dan menghampiri laki-laki itu.
"Jadi dia Itachi?"
"Iya Naruto, ini yang kuceritakan tadi, Itachi. Nah, Itachi, dia Naruto." Pein memperkenalkan keduanya.
Itachi kembali memasang senyumnya.
"Aku Itachi. Uchiha Itachi." Ucapnya memperkenalkan diri.
Dengan agak canggung, Naruto mencoba untuk tersenyum, lebih tepatnya nyengir dan ikut memperkenalkan dirinya.
"Aah, iya, aku Namikaze Naruto. Kau bisa memanggilku Naruto."
"Kau masih sekolah ya? Berarti kau lebih muda dariku." Itachi memperhatikan seragam yang ia kenakan.
"Yah, begitulah."
"Karena kau temannya Pein, panggil aku Itachi." Pria bernama Itachi itu tetap memasang senyumnya.
"Baiklah kalau begitu, Itachi. Hehe."
"Oh, kau masak apa Itachi?" Kali ini Pein yang berbicara.
"Karena kau tidak punya cukup bahan untuk dimasak, jadi aku hanya membuat nasi goreng ikan sarden. Dan karena itu, aku memakai semua nasi di rice cookermu." Itachi menjawab sambil memindahkan hasil masakannya ke mangkuk kaca besar kemudian menaruhnya di meja makan.
"It's OK. No problem, Itachi. Setidaknya aku tidak perlu menyiapkan makanan." Canda Pein.
"Kalau begitu ayo kita makan. Kau juga Naruto. Kau pasti lapar sepulang sekolah." Ajakan Itachi tak membuatnya berpikir dua kali, ia dengan sigap menduduki kursi yang tak jauh darinya. Sedangkan Itachi duduk berhadapan dengan Pein. Ia melihat Itachi kembali berdiri dan berjalan menuju rak piring lalu mengambil 3 buah piring dan 3 pasang sendok garpu.
Ah, benar juga. Dengan apa mereka akan makan tanpa peralatan makan?
Itachi langsung membagikan piring, garpu dan sendok. Kemudian mereka mengambil nasi goreng buatan Itachi secara bergantian. Tanpa seruan Itadakimasu, mereka memulai acara makan masing-masing.
"Kau sepulang sekolah langsung kesini tanpa pulang ke rumah?"
Naruto tahu Itachi bertanya kepadanya. Tanpa menghentikan aktivitas makannya, ia menjawab dengan anggukan kepala sambil bergumam mengiyakan.
"Orang tuamu sudah biasa dengan kau yang tidak langsung pulang dari sekolah?" Itachi bertanya lagi.
"Orang tuaku sedang tidak ada di rumah. Mereka di Shibuya karena tugas Ayahku."
"Jadi kau sendirian di rumah?"
Mendengar pertanyaan itu, Naruto menghentikan kunyahannya sebentar.
"Aku sendirian di rumah, karena aku menganggap seseorang tidak ada." Naruto menjawab sekenanya. Itachi mengerutkan kening tanda tak mengerti.
"Naruto memiliki saudara tiri. Dan ia tidak menganggapnya sebagai keluarga karena saudara tirinya berasal dari selingkuhan Ayahnya." Pein menjawab. Naruto hanya menganggukkan kepalanya.
"Pasti sangat sulit menerima kenyataan kau memiliki saudara tiri ya, Naruto." Itachi kembali bertanya.
"Yah, fakta yang lebih mengerikan adalah saudara tirimu bahkan lebih tua beberapa bulan darimu." Naruto berkata sarkas, kemudian ia melanjutkan.
"Lebih baik kita tidak usah membahas hal itu, tidak penting juga."
Pein mengangguk paham, sedangkan Itachi nampak memandang Naruto sejenak sebelum mengalihkan perhatiannya pada makanan didepannya sepenuhnya.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Jam digital menunjukkan waktu 17.20 pm. Pein dan Naruto sedang berkumpul di kamar sang pemilik apartemen, dengan Naruto yang tengah memilah-milah berbagai macam gelang dan kalung yang Pein tunjukkan padanya.
"Boleh aku bawa semuanya? Ini terlalu sayang untuk tidak kubawa pulang semua."
"Terserah kau saja, Naruto."
Dengan izin dari pemuda berambut jingga, Naruto meraup beraneka macam gelang kalung warna warni bertema punk milik Pein. Cengiran lima jari Naruto sudah cukup menandakan betapa senangnya bocah yang berstatus siswa itu.
"Sudah hampir jam enam, kau tidak pulang, Naruto?" Itachi yang sedari tadi tidak menampakkan diri pun kini berada di ambang pintu kamar. Punggungnya ia senderkan di daun pintu dengan tangan yang bersendekap.
"Sebenarnya aku tidak ada niat untuk pulang. Bagaimana kalau aku menginap saja malam ini?" Naruto dengan idenya, mengangkat alisnya secara bergantian untuk mendapat persetujuan.
"Tidak masalah kalau kau mau tidur sofa."
"Apa?" Seruan itu meluncur dari mulut Naruto tepat setelah Pein selesai mengeluarkan ucapannya.
"Ya. Kau tidur di sofa, Naruto."
"Tapi kenapa? Kamar disini tidak hanya satu kan?" Memperlihatkan wajah bingung sekaligus tak terima, Naruto mencoba untuk protes.
"Kau benar. Satu kamarku, dan satu lagi kamar tamu,"
"Nah aku bisa pakai kamar tamu."
"yang digunakan oleh Itachi." Kalimat lanjutan Pein membuat wajah Naruto nampak sebal.
"Ya, baiklah. Aku tidur sofa. Dan jangan salahkan aku kalau tv mu menyala semalaman." Ucap Naruto penuh arti.
"Terserah. Sekarang cepat bereskan ini, aku ingin tidur."
"Kau tidak lihat jam? Baru jam enam dan kau sudah ingin pergi tidur?"
"Apa urusanmu? Sekarang cepat bereskan barang-barangmu, bawa semua."
Pein menunjuki ranjangnya yang berserakan gelang kalung juga tas Naruto. Si pemilik tas pun membereskan semuanya dengan gerutuan pelan. Diikuti Pein yang menaiki ranjangnya lalu tidur tengkurap.
Selesai membereskan barangnya, Naruto menatap Itachi yang sedari tadi diam.
"Kau kenapa?" Tanya Naruto. Itachi hanya menggelengkan kepalanya.
Naruto tahu itu hanya sangkalan belaka, atau memang tidak ada apa-apa? Entahlah, lelaki Uchiha itu sulit diterka. Riak wajahnya memanglah terlihat ramah, tapi seakan ada sesuatu yang lain yang Naruto tidak tahu. Untuk bertanya pun ia merasa, sulit. Terlalu canggung rasanya mengingat mereka baru kenal beberapa jam lalu.
"Aku mau ke kamar, menata barang-barangku. Kalau kau lapar, kau bisa makan nasi goreng tadi siang, aku menaruhnya di oven."
Diam, tak membalas. Naruto hanya mengikuti Itachi yang pergi setelah mengatakan kalimat tadi dengan ekor matanya.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?"
Menatap sekeliling, pandangannya berakhir pada si pemilik kamar yang sudah terlelap sembari mengingau tidak jelas. Merasa sudah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi disini, ia pun beranjak ke ruang tamu, dimana sofa empuk yang menjadi kasur tidurnya malam ini berada.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Duduk di meja makan sendirian, menatap nasi di wadah berukuran medium yang sudah mendingin. Lelaki berambut hitam itu menghela napas. Raut wajahnya datar tak menampilkan celah emosi apapun. Namun dipikirannya terbayangi satu nama yang sesungguhnya sejak tadi siang ia tunggu kepulangannya.
Saat bel pulang sekolah berbunyi kala itu, ia tak lantas keluar dari kelas. Seorang perempuan berambut merah jambu menghampiri mejanya.
"Etto, Sasuke-kun, aku Sakura."
Kalau ia tidak salah, perempuan itu satu kelas dengannya. Dengan senyum kikuk siswi itu melontarkan pertanyaan.
"Sasuke-kun, apa benar yang kau katakan tadi di kantin kalau,,,, Naruto adalah adikmu?
Tanpa pikir panjang, siswa yang dipanggil Sasuke itu menjawab dengan gumaman yang membenarkan kalimat yang baru saja ditanyakan kepadanya. Dan pertanyaan kedua yang keluar dari gadis didepannya ini membuatnya menaikkan alis kanan.
"Lalu margamu apa, Sasuke-kun?"
Marga, adalah sesuatu yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Dilihatnya, Sakura gelisah karena ia tak kunjung menjawab. Dan si rambut merah jambu itu buru-buru menambahkan kalimat pendukung.
"Kau tak menyebutkan margamu saat perkenalan tadi pagi. Kau hanya bilang namamu adalah Sasuke."
Masih tak menjawab, Sakura semakin dibuat gelisah. Bukan karena ia acuh, meskipun ia memang demikian, tapi kali ini ia berpikir. Selama ini ia memang tak mempunyai marga. Atau memang ia punya? Tapi itu marga dari ibunya, bukankah marga itu berasal dari Ayah?
"Ayah, ya?"
"Namikaze." Ya, marganya adalah Namikaze, karena ayahnya adalah Namikaze Minato.
"Maksudku, marga aslimu, Sasuke-kun. Yah, kau tahu, kau dan Naruto hanyalah saudara tiri, itu berarti tidak mungkin jika margamu sama dengan Naruto, 'kan?"
Suara yang mengecil diakhir kalimat. Sakura merasa takut dengan tatapan tidak suka dari Sasuke.
"Sa-sasuke-kun, aku tidak-"
"Namaku Namikaze Sasuke."
Perempuan itu nampak membuka tutup mulutnya dengan mata yang bergerak liar tak menentu. Sakura ingin mengatakan suatu hal lagi, ia ingin memberikan negasi atas jawaban Sasuke. Tapi mendengar laki-laki yang ditaksirnya berkata dengan tegas diikuti tatapan mata yang seolah tak ingin dibantah, ia pun memendam opininya yang berkata bahwa marga Sasuke bukanlah Namikaze, karena Sasuke bukanlah anak kandung di keluarga Namikaze, ia hanya seorang anak yang mungkin diadopsi oleh keluarga itu. Ya, pasti benar seperti itu, yang Sakura bingungkan ialah kenapa keluarga laki-laki berambut pirang yang mengejar cintanya itu mengadopsi Sasuke diusianya yang sekarang. Sakura merasa janggal disitu, karena umumnya orang akan mengadopsi seorang anak diusia yang masih anak-anak.
"Jika tidak ada hal yang kau tanyakan lagi, aku pergi."
Lamunan Sakura terhenti, kembali terfokus pada Sasuke. Tanpa gadis itu sanggup membalas perkataannya, Sasuke pergi begitu saja meninggalkan siswi itu di kelas yang sudah sepi.
Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah mencari adiknya untuk mengajaknya pulang. Dan ia merasa bodoh karena ia tak tahu dimana kelas si pirang. Akhirnya ia memutuskan untuk ke gerbang, berniat mencegat sang adik yang pasti berencana kabur darinya.
Berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, ia menghiraukan tatapan dan bisikan yang di tujukan padanya. Kabar mengenai ia dan Naruto sebagai saudara tiri menjadi gosip diantara siswa, bahkan para guru. Bedanya, para pengajar lebih menggosipkan alasan ia sampai berada ditengah-tengah keluarga Namikaze, hingga fakta mengenai ia datang dari selingkuhan salah satu orang tuanya yang sekarang merebak namun masih menjadi tanda tanya.
Biarlah, Sasuke tak peduli. Yang ia pikirkan hanya satu, Naruto. Pemuda itu pasti mempunyai seribu cara agar bisa kabur darinya. Entah apa yang dipikirkan Naruto terhadapnya, padahal ia hanya berusaha bersikap baik layaknya seorang kakak. Menjadi kakak yang menyayangi adiknya, kakak yang perhatian kepada adiknya.
"Bukankah itu teman Naruto?"
Sejenak ia menghentikan langkahnya. Melihat seorang pemuda berambut coklat yang ditarik Naruto dari kantin tadi setelah ia mengungkap fakta bahwa Naruto adalah adiknya.
Meneruskan langkah, ia mencoba menjejeri pemuda itu. Tepukan di bahu ia lancarkan membuat sasarannya menoleh.
"Kau teman Naruto."
Bukan pertanyaan, pernyataan yang Sasuke ucap membuat siswa bertanda nama Inuzuka Kiba mengangguk kaku.
"Dimana Naruto?"
"Aku tidak tahu." Ah, Sasuke tidak suka jawaban itu.
"Jika Naruto menyuruhmu untuk tutup mulut maka-" Belum lagi ia selesai bicara, si Inuzuka menyela.
"Aku benar-benar tidak tahu. Dia pergi begitu saja setelah bel pulang tadi." Inuzuka itu nampak kesal.
"Kau dan Naruto sama saja, sama-sama pemaksa." Si rambut coklat menggerutu lalu meninggalkannya.
Setelah itu ia kembali melangkah menuju gerbang. Menit-menit berlalu, hingga tak terasa sudah satu jam ia menunggu, tapi Naruto tak juga muncul. Ia berspekulasi bahwa Naruto sudah pulang mendahuluinya. Maka dari itu, ia memutuskan berjalan ke tempat parkir, memasuki mobil, kemudian mengendarainya pulang.
Dan disinilah Sasuke sekarang. Setelah memasak makan malam ia hanya duduk diam di meja makan. Tak berniat memakannya meskipun sejak tadi siang perutnya belum terisi makanan karena memikirkan sang adik yang tak di temukannya di rumah.
"Dimana kau, Naruto?" Kalimat itu selalu ia gumamkan dalam hati.
Suara ponsel miliknya berteriak ingin diperhatikan. Sasuke melirik, terlihat nama sang ibu tiri di layar. Apa yang harus ia ucapkan jika ibunya bertanya dimana Naruto? Haruskah ia mengatakan jika Naruto masih belum pulang dari rumah temannya karena kerja kelompoknya belum juga selesai seperti saat ia di hubungi ibunya tadi siang? Apakah ia harus berbohong lagi?
Apapun yang akan ia katakan nanti, bukankah tidak baik membuat seorang ibu menunggu lama?
"Halo ibu." Sasuke memutuskan untuk menjawab panggilan ibunya.
/"Ah, Sasuke. Ini sudah malam, apa kalian sudah makan?"/ Kata kalian dalam ucapan ibunya jelas di tujukan untuknya sekaligus Naruto.
"Belum." Ia menjawab untuk dirinya sendiri. Sasuke tak bisa berbohong, seorang ibu tak pantas di bohongi.
/"Kau belum memasak? Atau Naruto merepotkanmu hingga kau tak bisa memasak?"/
"Aku sudah memasak, dan Naruto sama sekali tidak merepotkanku." Ya, adiknya tidak merepotkannya karena memang tak berada di rumah.
/"Oh, begitu ya. Jangan-jangan ibu menggangu kalian yang akan makan ya? Hehe maafkan ibu kalau begitu."/
"Tidak apa-apa."
/"Oh ya, Sasuke, bisakah ibu bicara dengan Naruto? Dari tadi ibu menghubunginya tapi tidak diangkat."/
Tidak mungkin dijawab, karena ponselnya tertinggal di kamar. Ingin sekali Sasuke mengatakannya.
"Naruto sudah tidur." Kebohongan yang terpaksa ia ucapkan.
/"Benarkah? Tidak biasanya, apalagi katamu kalian belum makan."/
"Mungkin ia lelah sehabis kerja kelompok tadi." Alasan klise namun berhasil mengelabui sang ibu.
/"Mungkin saja, kalau begitu kau cepat makan ya, Sasuke."/
"Hn."
/"Baiklah, selamat malam, Sasuke."/
Setelah membalas ucapan selamat malam sang ibu, telepon terputus. Meletakkan ponsel di sampingnya, ia menghela napas. Sasuke memulai ritual makannya sesuai titah Kushina.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Pagi hari di Konoha High School. Semua berjalan seperti biasa. Mulai dari gerbang sekolah yang di buka oleh sang penjaga keamanan subuh tadi, para pekerja kebersihan yang menyapu dedaunan kering di halaman lingkup sekolah dan siswa yang datang secara bergiliran.
Sama halnya dengan Sasuke, setibanya di sekolah ia langsung memakirkan mobilnya di tempat parkir. Bedanya, setelah mobilnya terparkir apik ia langsung bergegas ke gerbang. Menanti sang adik yang tak pulang semalaman.
Benar saja, setelah ia sampai di gerbang, selang beberapa menit kemudian ia melihat Naruto turun dari motor berbody besar bersama seseorang berambut jingga yang ia lihat kemarin. Nampaknya Naruto belum menyadari keberadaan Sasuke, hingga setibanya di gerbang, si rambut pirang sedikit kaget akan eksistensi Sasuke yang tengah menatapnya datar. Namun, ekspresi Naruto selanjutnya menjadi rileks seakan tidak terjadi apapun dan ia berjalan begitu saja melewati Sasuke.
"Pengecut."
Langkah kaki Naruto terhenti sesaat setelah ia mendengar kalimat yang merendahkan harga dirinya. Menengok kearah belakang, dimana Sasuke yang tak menatapnya berdiri bersender pada tembok dengan kaki kanan sebagai tumpuannya. Tanpa bertanya pun ia tahu kata itu ditujukan kepadanya dan ia yakin itu adalah kata yang keluar dari mulut pemuda yang di tatapnya tajam sekarang. Membalikkan badan, menempatkan posisi persis didepan Sasuke, ia meluncurkan kalimat.
"Maksudmu apa, brengsek?"
Sasuke menatap sekeliling. Beberapa siswa tengah mengamati mereka. Yah, siapa tahu setelah ini akan terjadi keributan melihat posisi mereka ditambah kata-kata Naruto tadi yang seakan menantang dirinya. Ia pun kembali memfokuskan pandangan kepada pemuda dihadapannya.
"Seseorang yang tak berani pulang hanya karena berdua dengan saudara tirinya adalah pengecut." Kalimat itu membuat Naruto mendidih.
"Aku bukan pengecut." Ia mendesis kearah Sasuke.
"Aku tidak menyebutkan namamu."
Sifat dasar Naruto adalah mudah tersulut amarah. Dan ia sedang mengalaminya sekarang. Dengan bogem mentah yang dilayangkan ke pipi kiri Sasuke, Naruto memulai pertengkaran. Namun, bukan Sasuke namanya jika membiarkan wajahnya terkena pukulan lebih dari sekali. Maka dengan teknik kuncian yang ia kuasai, Sasuke segera menangkap kepalan tangan yang di arahkan ke wajahnya, melakukan gerakan seperti sayatan pisau menggunakan ibu jari di lengan atas Naruto kemudian menghimpitnya di ketiak, lalu memutar badan kekiri diiringi kaki kanan yang mengikuti dan kaki kiri sebagai tumpuan poros untuk menjatuhkan Naruto.
Brukk.. Sang adik berhasil dijatuhkan.
"Argh" Teriakan Naruto terdengar kala Sasuke memutar pergelangan tangannya. Persendiannya seakan mau patah dan terasa linu.
"Lepas-kan." Naruto meringis mengekspresikan sakitnya.
"Apa kau baru saja memohon pada kakakmu, Naruto?" Seringai menawan menghiasi wajah Sasuke. Para siswa yang melihat segera bergerombol mengerumuni Namikaze bersaudara itu. Tak ada guru yang mengetahui karena gerbang masuk untuk para pengajar ada di samping bangunan sekolah yang mengarah lurus pada parkiran tersendiri yang terletak di samping ruang guru. Satpam pun terbiasa berkeliaran entah kemana dan akan kembali pada tugasnya sebelum bel masuk berbunyi untuk mengecek siswa yang datang terlambat.
"Lepaskan aku, Teme." Naruto kembali berontak, namun itu akan semakin menambah penderitaannya karena Sasuke semakin memutar pergelangannya. Kini si pemegang kendali mencondongkan tubuhnya pada si korban yang terus menatap nyalang kepadanya sekaligus meringis kesakitan.
"Memohonlah dengan baik, Naruto."
"Jangan harap."
"Jadi kau ingin dipermalukan seperti ini lebih lama?" Seringai Sasuke semakin merekah kala ia berhasil memojokkan Naruto.
"Apa maumu?" Got you!
"Seperti yang kukatakan tadi, Naruto."
"Berhenti berbelit-belit, Teme. Cepat katakan apa maumu?"
"Memohonlah dengan baik, dan panggil aku Onii-san."
Permintaan yang mudah, dan jawaban yang juga sangat mudah bagi Naruto.
"Jangan bermimpi. Sampai kapanpun kau bukan kakakku. Argh." Teriakan yang kembali terdengar dari Naruto. Tangannya benar-benar sakit.
"Semua terserah padamu."
Tangan yang seakan ingin lepas dari pergelangan, rasa sakit yang menjalar, napas terengah-engah, dilihat banyak pasang mata. Naruto sering berada dalam situasi seperti ini, namun bukan ia sebagai yang tertindas, melaikan sebaliknya.
Mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, putaran pada pergelangannya semakin menjadi.
"Tanganku bisa putus, brengsek!"
Apa memang tak ada pilihan lain? Sial.
"Lepaskan aku,"
Naruto membuang muka, menggantung kalimat. Sasuke menunggu.
"Onii-san" Pelan, namun masih terdengar oleh Sasuke. Satu detik, senyum tulus terukir di dibibir si rambut hitam. Setelah itu ia lepaskan pergelangan tangan Naruto lalu bangkit dari posisi membungkuk yang sesungguhnya melelahkan dan pergi.
Naruto pun segera berdiri, mengibaskan tangannya yang masih terasa ngilu. Merasa masih menjadi objek perhatian. Ia menatap garang sekelilingnya.
"Apa lihat-lihat?" Teriakan Naruto membubarkan kerumunan siswa.
"Sasuke brengsek. Awas saja kau."
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Melangkah memasuki kelas, Naruto di sambut tatapan bertanya Kiba.
"Seragammu kenapa? Kau habis berguling-guling dijalan?" Kata Kiba jahil.
"Enak saja."
Melewati si rambut coklat jabrik, Naruto kemudian duduk dibangku belakangnya.
"Terus kenapa?" Kiba tertawa melihat wajah Naruto yang masam. Merasa si pirang tak akan menjawab, siswa dengan tanda segitiga terbalik di masing-masing pipinya itu mengganti topik pembicaraan.
"Oh ya, kemarin kakakmu, emmm siapa namanya, Sasuke ya, dia mencarimu."
Mendengar nama itu, membuat Naruto muak.
"Peduli setan."
"Memangnya kau kemarin kemana sampai dia mencarimu? Kalian tidak pulang bersama?" Kiba memutar tubuh sepenuhnya menghadap Naruto.
"Terserah dia mau mencariku atau apa. Aku menginap di rumah Pein kemarin kalau kau mau tau."
"Kau tidak pulang ke rumah?"
"Sudah jelas 'kan?" Naruto memutar bola matanya. Temannya yang satu ini bodoh atau apa?
Suara pintu terbuka membuat Kiba kembali ke posisi duduknya semula. Kurenai-sensei terlihat memasuki kelas untuk memulai pelajaran.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Selama pelajaran berlangsung, Naruto sama sekali tidak mampu memfokuskan otaknya hanya untuk menyerap apa yang tertulis di papan putih di muka kelas. Sejak jam pertama pelajaran hingga tiba waktunya istirahat, ia hanya menggumamkan sebuah nama secara terus menerus. Gerutuan berisikan berbagai umpatan tidak absen ia selipkan. Sasuke, Sasuke, Sasuke. Nama itu meluncur secara dinamis dari mulutnya seiring tangannya yang semakin lama terkepal kuat. Kejadian tadi pagi benar-benar membuatnya kesal. Ia tidak akan pernah lupa akan penghinaan Sasuke pada dirinya.
Pemikiran satu arahnya terhenti tatkala sebuah tangan menepuk pundaknya secara kasar. Ia hampir menyangka bahwa tangan itu milik Sasuke jika saja orang yang menepuknya tidak mengeluarkan suara.
"Oi, kau tidak sedang merencanakan pembunuhan 'kan?"
Ah, Kiba dengan suara keras dan tertawa mengejeknya. Naruto menahan diri untuk memutar bola matanya.
"Serius Naruto, setiap kutengok ke belakang, raut wajahmu sama sekali tidak berubah. Wajahmu seperti orang konstipasi, kau tahu?"
Kiba kembali tertawa, mengabaikan wajahnya yang kini berubah masam.
"Hei, hei."
Naruto merasa badannya bergoyang karena sentakan dari tangan siswa disampingnya. Ia merasa risih, tapi tetap tidak menanggapinya.
"Oi!"
Kali ini Naruto menutup telinganya, menatap marah pada sahabat berisiknya.
"Jangan ganggu aku, Kiba."
Bukannya takut, Kiba malah tertawa keras atas bentakan Naruto.
"Biar kutebak, pasti ada hubungannya dengan saudara tirimu kan?"
Seringai Kiba mengejeknya.
"Diamlah."
Hari ini adalah pertama kalinya Naruto benci waktu istirahat. Ditemani ejekan candaan Kiba bukanlah sesuatu yang membuatmu merasa tidak kesal.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Jam demi jam berlalu. Tinggal menunggu beberapa menit lagi bel pulang akan disuarakan. Itu adalah hal yang membuat Naruto senang. Ya, tapi tidak sekarang. Ia bahkan lebih memilih untuk tinggal di sekolah kalau bisa. Ingin menginap di rumah Yahiko yang sekarang dipanggil Pein pun tidak bisa, ponselnya tidak bersamanya sejak kemarin. Tapi ia tidak mau dianggap pengecut lagi. Tidak, ia tidak sudi.
"Hanya tinggal menganggapnya tidak ada dan semua beres, Naruto." Pemuda berambut pirang jabrik itu memantapkan pikirannya.
Tapi setelah bel pulang sudah menyapa telinga, Naruto bergeming. Ragu kembali menyergap. Ia terlalu sulit membayangkan bisa menghirup udara yang sama dengan Sasuke. Ia terlalu membencinya. Seseorang yang membuat keluarganya tidak lagi seperti dulu, dimana hanya ada Ayah, Ibu serta dirinya.
"Kau tidak pulang?"
Ia mendongak. Dilihatnya Kiba sudah siap pulang dengan ransel dipunggung.
"Jangan katakan kau mau kabur lagi?"
Tawa mengejek itu lagi. Naruto berdecak keras.
"Siapa yang kabur? Kemarin aku hanya menginap. Ingat ya, menginap."
"Hahaha. Kalau begitu ayo cepat keluar. Aku ingin segera melihat wajah konstipasimu saat bertemu Sasuke." Kali ini Naruto tidak menahan bola matanya untuk berputar.
Membereskan beberapa buku dan sebuah pulpen, ia segera memanggul ransel hitam-oranye miliknya.
Keluar dari kelas, berjarak beberapa meter dari tempatnya berpijak, ia melihatnya, Sasuke, sedang bersandar di dinding. Dalam hati ia bertanya dari mana pemuda itu tahu dimana kelasnya. Senggolan di lengannya membuat perhatian Naruto teralih pada Kiba yang tengan menaik-turunkan alisnya. Ia menghela napas kasar dengan raut muka bosan.
Yah, sudah sampai disini dan ia takkan mundur. Ia akan membuktikan pada orang di depan sana bahwa ia bukanlah seorang pengecut. Baru sekali melangkah, Naruto melihat Sakura berjalan cepat mendahuluinya. Senyumnya seketika mengembang. Nama Sakura yang ia teriakkan adalah suatu yang refleks terjadi. Namun, gadis itu tampak tak mendengarnya, atau malah tak menghiraukannya? Entahlah, yang pasti ia melihat gadis itu berhenti di dekat Sasuke, mengatakan sesuatu yang ia tidak tahu apa dan Sasuke terlihat tak peduli.
Langkah kaki segera menggiringnya mendekat, meninggalkan Kiba sendiri. Menampakkan senyuman terbaiknya untuk menarik gadis berambut merah jambu tersebut.
"Hai, Sakura. Aku memanggilmu tadi, apa kau tidak dengar?"
Naruto masih setia dengan senyum bodohnya. Dilihatnya Sakura membuka mulutnya kemudian menutupnya kembali. Namun, tak lama ia mendengar suara Sakura.
"A-ah, aku tidak mendengarnya tadi, Naruto."
"Oh, jadi benar kau tidak dengar. Tidak apa-apa kok. Mungkin aku kurang keras memanggilmu tadi."
Bibir gadis itu tampak mengatup rapat lalu senyum yang terlihat dipaksakan menghiasi wajah Sakura.
"Tunggu apa lagi, Naruto? Ayo pulang." Suara datar yang dibencinya menyapa gendang telinga. Namun jawaban yang bukan darinya yang terdengar.
"Sasuke-kun pulang bersama Naruto? Tapi bukankah dia punya motor sendiri?"
Sakura menatap tidak suka kearahnya, namun tak di indahkannya. Ia sudah terbiasa dengan tatapan itu, dan mendengar Sakura menjawab pertanyaannya tadi tanpa cemoohan ia sudah sangat senang.
"Wah, ternyata kau memperhatikanku juga, Sakura. Iya, aku punya motor. Apa besok kau mau aku jemput?" Naruto bertanya dengan antusias. Tapi tidak ada tanggapan dari Sakura. Ia juga tak mengacuhkan tatapan Sasuke yang di layangkan kepadanya.
"Naruto, ayo." Ajak Sasuke.
Bisakah dia tidak mengganggu momenku dengan Sakura?
Naruto menatap Sasuke kesal.
"Bagaimana Sasuke-kun, apa aku boleh menumpang dimobilmu? Tidak perlu sampai depan rumahku, aku akan turun di persimpangan."
Suara Sakura kembali terdengar. Apa katanya? Apa Sakura bilang menumpang di mobil Sasuke?
"Tentu saja boleh Sakura, aku bisa menjamin itu. Iya kan Sasuke?"
Mengabaikan picingan mata Sasuke, Naruto segera menggandeng tangan Sakura dan menggiringnya menuju gerbang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Naruto melihat Sasuke yang tengah berada di kursi kemudi mobilnya dan berhenti tepat di depannya dan Sakura.
Dengan segera ia membukakan pintu penumpang, mempersilakan Sakura untuk masuk disusul dengan dirinya sendiri.
"Duduk didepan, Naruto." Sasuke menyuruhnya.
"Memang kenapa kalau aku duduk disini? Aku kan ingin menemani Sakura-chan." Diliriknya Sakura yang membuang muka.
"Aku tidak mau terlihat seperti supir kalian berdua." Kata itu, kata itulah yang ditunggunya, membuat Naruto mengeluarkan seringaian. Ya, memang itulah tujuannya. Ia ingin mempermalukan Sasuke.
"Aku duduk disini atau tidak sama sekali."
Dan mobil perlahan melaju, dengan Sasuke yang mencengkeram kemudi meskipun tatapannya tak menginterpretasikan apapun.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Perjalanan pulang terasa hening. Sakura sudah turun di persimpangan jalan tadi, menyisakan Naruto dan Sasuke. Tak ada pembicaraan sama sekali. Sasuke fokus dengan menyetirnya, Naruto sibuk memandangi jalan.
Mobil yang ditumpanginya berbelok ke kiri, dan Naruto tanpa ditanya pun tahu mereka sudah tiba di kediaman keluarga Namikaze.
"Mana kuncinya?" Naruto mengeluarkan suara. Ditatapnya Sasuke yang bergeming ditempatnya.
"Berikan aku kunci rumahnya, brengsek. Apa selain brengsek kau juga tuli?"
Tanpa suara, Sasuke melemparkan sebuah kunci dengan gantungan rubah berekor sembilan. Sedikit mengernyit heran karena Naruto segera keluar dari mobil dan berlari kearah rumah. Ia bisa lihat Naruto tengah membuka pintu dengan kunci yang ia berikan. Ia juga bisa lihat bagaimana pemuda bermata biru itu terlihat tergesa-gesa memasuki rumah dan -oh, sepertinya ia tahu apa yang direncanakan Naruto ketika melihat pemuda urakan itu menutup pintunya dengan keras. Hal selanjutnya yang ia lihat adalah sang adik membuka gorden jendela didekat pintu dan membuat gerakan bibir yang ia jelas tahu artinya. *fvck you*
Sepertinya Sasuke tak akan bisa 'pulang ke rumah' hari ini.
.
.
.
To be continued
A/N : Emm yah, aku baru apdet. Aku orangnya moody bgt wkwkwk. Banyak bgt hal yg menghalangiku buat lanjutin fict ini. Mulai dr sakit, mood yg tiba2 pengen gambar, kepengen baca fict ItaNaru, dan aku akhir2 ini nemuin author favoritku yang udah lama ilang ternyata ganti ID, jadinya aku baca karyanya yg bejibun itu sampe larut malem. Dan yg pasti, kerjaan yg membuatku sulit menuangkan apa yg ada dipikiranku tentang klanjutan fict ini. Heeemmmh
Btw, masih ada yg ingat fict ini kan? Baru hampir dua bulan loh hehehe (sejujurnya ini nekat posting tanpa sunting dulu) Makasih ya buat semua yg mendukung baik yang review, fave, follow, maaf gak bisa sebut satu2. Tapi aku sangat berterima kasih. Dan ada satu guest (ryu sn25) yg nanya berapa umurku. Well, ini pertanyaan yg cukup menarik, aku baru 18 kok :D Buat yg review tp blum aku jawab, maaf ya. Dan ada yg tertarik add fb aku? Unamenya Masta Yuu (promosi)
Oke, ketemu di chap selanjutnya.
2016, March 13th
.
Salam Masta.
