Sebuah ruangan sederhana, dengan satu set kursi kayu yang dikombinasikan dengan busa sebagai alas duduknya dan sebuah meja yang berada ditengah-tengah. Sepasang kaki bertengger secara asal di meja tersebut yang sesekali bergerak dengan tiba-tiba.

"Ayo, penggal sekalian kepalanya, Heichou!" Seruan itu terdengar membahana mengisi ruangan.

Naruto, si pemilik suara memainkan dengan ganas stick PS yang berada digenggaman kedua tangan. Matanya fokus melihat ke sebuah televisi berukuran 21 inch yang terletak di sebuah buffet kayu mahogani yang berpelitur apik tak jauh dari tempatnya duduk serampangan kini. Benda LED tersebut menampilkan seseorang bertubuh agak pendek yang mengejar makhluk montok telanjang yang berlari dengan gaya seperti gadis remaja dimabuk asmara.

Karakter Heichou yang dimainkan Naruto nampak meluncurkan sepasang tali yang menyerupai kawat dari mesin gear yang berada di pinggangnya yang kemudian menancap kuat di dinding. Dua bilah pedang berkilat tajam digerakkan dengan lincah.

Bats..

Makhluk telanjang bernama Titan itu tumbang dengan tengkuk yang menganga akibat sabetan pedang sang Heichou yang mendapat gelar Humanity Strongest didalam komiknya.

Klik-klik-klik-klik-klik.

"Haaah, bosan." Rambut pirang itu diacak-acak oleh pemiliknya. Stick PS ia lemparkan di meja. Matanya kemudian melirik kearah jam di dinding.

05.17 pm

Itu berarti sudah 3 jam ia menghabiskan waktu untuk bermain PS sejak sepulang sekolah tadi. Mengedarkan pandangan ke segala arah, kemudian ia beranjak dari kursi dengan seringaian di bibir.

Srak..

Tangan berkulit tan itu menyibak gorden jendelanya. Matanya menatap satu objek di pekarangan rumah. Dilihatnya sebuah Lamborgini masih bergeming ditempat terakhir ia ingat.

Apa dia masih disana?

Naruto mempertajam penglihatan mata biru jernih miliknya, mencoba melihat isi dalam mobil. Decakan terdengar beberapa detik kemudian karena ia tak bisa menemukan apa yang dicari. Pandangannya terhalang oleh kaca jendela dan kaca mobil itu sendiri yang berwarna gelap. Dan juga, langit nampak mendung.

"Semoga saja dia cepat pergi dan tak pernah kembali." Ia bergumam pelan lalu bergerak menuju kamar mandi.

Tepat didepan pintu ruangan yang ia tuju, langkah kaki Naruto terhenti. Ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Seingatnya ia tak menyalakan keran air.

Tangannya perlahan terarah ke gagang pintu. Belum sempat tersentuh, kilatan cahaya dari jendela rumahnya yang disusul suara petir yang menggelegar membuat Naruto secara refleks menarik kembali tangannya yang semula terulur.

"Sepertinya akan turun hujan."

Fokus perhatian Naruto kembali kepada pintu didepannya. Kini, suara gemericik itu sudah tak didengarnya. Rasa penasaran kembali menyergap. Pikirannya mulai berspekulasi hingga sampai kepada sesuatu yang disebut makhluk astral. Alisnya mengernyit seketika, tak menyetujui pemikiran tersebut.

Menghembuskan napas secara cepat, ia memantapkan tangannya untuk membuka pintu yang tanpa diduga akan tiba-tiba terbuka. Sontak Naruto melangkah mundur dengan mata yang menatap tak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang.

"SASUKE!"

"Hn."

Teriakan spontanitas yang dibalas gumaman oleh sang pemilik nama mengawali rintik hujan yang mengguyur distrik Konoha. Naruto ternganga begitu saja.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, Read this Sasuke!

I do the story line

Warning : SasuNaru, BoyxBoy, AU, Bahasa tidak baku, Missed Typos. Don't Like? So Never Read Mine!

Masta Yuu Presents "Sins (Brother of Mine) Chapter 4"

Why so serious? Like seriously why? This' just a fanfic.

So Enjoy

.

.

"Bagaimana..." Naruto melihat Sasuke dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas, tepat di wajah.

"Bagaimana kau bisa masuk? Aku yakin pintunya masih terkunci." Lanjutnya.

"Memang."

"Lalu, kau..." Mengernyit, Naruto diam-diam memasukkan tangan ke saku celana dimana ia menyimpan kunci rumahnya.

Masih ada. Jadi bagaimana Sasuke bisa masuk ke rumah? Bahkan aku sampai tidak menyadarinya.

"Aku punya cara sendiri, adik."

Adik.

Adik.

Adik?

Persetan dengan cara Sasuke memasuki rumah, Naruto lebih tidak suka panggilan yang baru saja ditujukan untuknya.

Tarik..

Kerah kaos sang kakak tiri dicengkeram sebuah tangan. Mendekatkan wajah, Naruto melayangkan tatapan bengis ke wajah datar Sasuke.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan konyol itu. Kau bukan siapa-siapaku."

Seperti bongkahan berlian yang indah namun tajam, mata biru Naruto menghujam telak sepasang onix yang tetap tenang menatapnya.

"Singkirkan tanganmu."

Naruto terkekeh pelan.

"Kenapa? Tidak suka? Kalau tidak suka, kenapa kau tidak pergi saja dari sini, you bitch?"

"Jaga mulutmu, Naruto."

"Kenapa, hm?" Sebelah tangan tan itu menepuk-nepuk pipi Sasuke. "Kau tersinggung, eh?"

"Singkirkan tanganmu." Sasuke mengulang kalimatnya dengan penekanan.

Kekehan Naruto semakin keras.

"Memang kalau tidak, kau mau apa?" Nada yang diucapkan memanglah terdengar santai. Tapi gestur Naruto tetaplah menantang.

"Kau yang memaksa."

Grep...

Pergelangan tangan kanan Naruto yang menarik kerah kaos Sasuke di pegang kedua tangan si rambut hitam kemudian diputar kekiri olehnya.

Naruto mengeryit sambil mengatupkan bibirnya rapat. Sakit. Itulah yang dirasakannya. Hingga tanpa disadari, tangannya terlepas dari kerah kaos itu namun tidak untuk tangan Sasuke.

Pemuda bermata hitam itu melepaskan tangan kirinya dan menggunakan tangan kanan untuk menyeret si pemuda berambut pirang menuju ruang tamu lalu menjatuhkannya di kursi panjang.

Naruto meringis pelan kala kepala dan sikutnya beradu dengan bagian kayu kursi. Baru saja ingin mengumpat, ia terkesiap ketika Sasuke mengambil posisi diatas tubuhnya. Tangannya juga ditahan di kedua sisi tubuhnya

Hell, apa yang akan dia dilakukan?

"Mau apa kau?" Matanya menatap waspada. Posisi ini terlalu ambigu bagi Naruto. Pikirannya mulai berkelana tak tentu arah. Hingga sebuah tinju mendarat di pipi membuatnya tersadar. Naruto melotot.

"Itu untuk aku yang menjadi supirmu saat kau dengan gadis berisik itu." Naruto sedikit linglung dengan perkataan Sasuke yang diluar ekspektasinya.

Bugh..

"Argh." Satu lagi pukulan Naruto terima.

"Itu untuk kau yang mengunciku dari dalam rumah."

"Brengsek." Naruto memaki.

"Jaga mulutmu. Aku tidak suka punya adik bermulut sampah."

"Kau pikir siapa yang mau jadi adik dari anak selingkuhan 'ayahmu sendiri'?" Naruto tertawa miring, meremehkan.

"Dengar, Naruto..." Sasuke menunduk, menumpukan puncak kepalanya di dada pemuda dibawahnya. Tak begitu lama, kepala hitam itu mendongak kembali, menatap mata sang adik penuh. "Aku tahu apa yang telah Ibuku lakukan itu sebuah kesalahan. Aku tahu sebagai anak sah Ayah Minato, kau sangat kecewa dengan fakta ini. Tapi diluar semua itu, aku tetaplah darah daging Ayahmu. Didalam tubuh kita mengalir darah yang sama, aku tetaplah kakak kandungmu meskipun kita beda Ibu. Mau tidak mau kau harus menerima kenyataannya."

Suasana menjadi hening beberapa waktu. Baik Sasuke maupun Naruto hanya saling menatap, mencoba menerka apa yang tengah dipikirkan lawannya, Naruto akhirnya memutus kontak mata mereka.

"Kau sudah selesai bicara? Sekarang giliranku." Kembali ditatapnya sang Kakak dengan ekspresi yang sulit diartikan bagi Sasuke.

"Kau sudah tahu apa yang dilakukan Ibumu adalah suatu kesalahan yang membuat keluargaku hampir saja hancur karenanya, lalu kenapa kau,,, dengan beraninya muncul di hadapanku? Kenapa kau seakan tak punya malu untuk hadir dihadapan kami bahkan mencoba menjadi bagian dari keluarga ini?" Tak ada jawaban, Naruto melanjutkan. "Kau pikir kau siapa? Apa kau tidak memikirkan perasaan Ibuku saat dia tahu suaminya punya anak dari perempuan lain? Meskipun Ibuku yang entah bagaimana bisa menerimamu disini, tapi tetap saja ia sakit hati, setiap kali ia melihatmu pasti ia akan ingat dengan perselingkuhan Ayah. Dan, apa kau juga tidak memikirkan perasaanku? Aku seorang anak tunggal selama ini, hingga kehadiranmu mengubah segalanya. Keluargaku tidak sama lagi. Semua gara-gara kau!" Naruto mendekatkan wajahnya saat menekankan akhir kalimatnya. Melayangkan tatapan membunuh, ia meluncurkan kata lagi. "Kenapa kau diam saja, hah? Apa kau mulai bisu?"

Mengedipkan mata beberapa kali untuk mengurangi ketegangan, Sasuke mulai bersuara.

"Aku..." Mata hitam itu menatap dalam mata biru dihadapannya kemudian menoleh kesamping sejenak sebelum kembali menatap dengan tatapan pasti.

"Aku minta maaf. Atas segala yang diakibatkan oleh Ibuku, aku minta maaf."

"Che." Naruto tertawa sinis sembari menggelengkan kepalanya. "Persetan dengan maafmu. Sekarang menyingkir dariku!"

Untuk beberapa saat, Sasuke diam. Hingga akhirnya secara perlahan ia melepaskan tangan Naruto yang dengan segera membuatnya terdorong kebelakang dengan kasar. Matanya mengikuti pergerakan Naruto yang menaiki tangga. Adiknya benar-benar marah rupanya.

oxoxoxoxoxoxoxo

07.48 pm

Ceklek..

Sebuah kepala dengan surai kuning mengintip keluar. Memastikan tak ada siapapun, si empunya, Naruto, keluar. Menoleh kesamping, dimana terdapat sebuah pintu coklat yang merupakan pintu kamar seseorang yang tak disukainya tinggal, ia mendekat. Telinganya ia condongkan ke pintu, berharap mendengar sesuatu dari dalamnya. Sunyi. Tak satu suara pun ia tangkap di telinganya.

Kemana dia?

Menghembuskan napas, ia melangkah menuruni tangga kayu rumahnya, menuju dapur. Uh, aku lapar. pikirnya sambil memegang perut. Samar-samar ia mendengar suara khas dari sesuatu yang digoreng. Bukankah Ibu belum pulang? Penasaran, Naruto pun mempercepat langkahnya.

Setibanya di dapur, Naruto menemukan Sasuke yang berkutat didepan kompor. Pemuda yang membelakanginya itu sepertinya sedang memasak sesuatu. Antara lapar dan gengsi, Naruto akhirnya memilih mempertahankan gengsinya dan pergi, berniat membeli makanan diluar. Namun, belum genap dua langkah ia berjalan suara Sasuke menghentikannya.

"Duduklah."

Bergeming ditempatnya, suara itu kembali terdengar.

"Duduklah. Aku tahu kau belum makan sejak tadi siang."

Mengesampingkan egonya, Naruto pun berbalik dan berjalan (yang dibuat) santai menuju meja makan lalu menduduki salah satu kursi disana.

Bermenit-menit Naruto duduk, selama itulah ia harus menunggu Sasuke menyelesaikan masakannya. Perasaan tak nyaman mulai menghinggapinya, jangan-jangan ia hanya dikerjai oleh si berengsek Sasuke. Pasalnya semenjak pantatnya mendarat dikursi makan, tak ada yang ia lakukan kecuali melihat pemuda berambut hitam itu memasak. Menyaksikan bagaimana tangan itu seperti ayunan yang dengan mudahnya berpindah dari bahan makanan satu ke bahan makanan lainnya, dan juga betapa piawainya sang 'kakak' memainkan pisau ditangannya. Dalam hatinya Naruto bertanya "Bukankah dia orang kaya yang setiap harinya selalu disediakan apa yang dia butuhkan? Kenapa dia bisa melakukan pekerjaan rumahan seperti memasak? Well, aku memang tidak tahu betul apa dia orang kaya atau bukan, tapi melihat penampilannya waktu pertama kali kemari sudah cukup membuktikan kalau dia orang kaya."

Saat Sasuke berbalik dengan tangan yang membawa piring, Naruto yang tak menyangkanya pun terkejut. Aku ketahuan memperhatikannya!. Ia membelalakkan mata, pupil birunya melebar, dan dengan gelagapan tangannya bergerilya di meja mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian, yang sialnya, tak ada apapun disana. Shit. Kemudian ia segera menundukkan kepalanya kala ia mendengar suara tawa Sasuke. Bukan tawa merendahkan, hanya sebuah tawa jika kau mengetahui sesuatu yang lucu. Kenapa aku bertingkah konyol begini?

Perlahan, ia mendongakkan kepalanya, (sebisa mungkin) mencoba untuk terlihat biasa. Melegakan tenggorokannya, Naruto berdeham.

"E'hm. Cepatlah, kalau aku tahu kau lama memasaknya, aku pasti sudah pergi membeli makanan diluar tadi." Naruto menatap Sasuke dengan (sok) tajam. Yang ditatap membalas dengan tatapan teduh, membuat si pemilik tanda kumis kucing itu sedikit mengerutkan keningnya.

"Maaf, aku lama tadi karena membuat Gyoza."

"Kau membuat Gyoza?" Naruto sedikit memajukan kepalanya mendekati piring yang baru saja diletakkan Sasuke, ia jelas tertarik. Menyadari tindakannya, buru-buru ia menarik kepalanya. Untung kali ini Sasuke tidak melihat karena ia entah sedang menyiapkan apalagi.

"Iya, dan juga omelet jagung keju." Kali ini tak hanya satu piring, Sasuke menyodorkan sepiring omelet buatannya kepada Naruto yang diambil secara ogah-ogahan dan meletakkan sepiring omelet lagi di hadapannya dan mulai duduk.

"Kau tidak menaruh apa-apa dalam omeletku, bukan?" Si mata biru menatap curiga.

"Kalau yang kau maksud adalah garam, merica, dan lada, maka iya, aku memasukkannya."

"Pintar sekali." Naruto mencibir. Tangannya mulai menyumpit sebagian omelet dan agak ragu ia arahkan kemulutnya. Namun, sebuah tangan menggenggam tangannya dan mengarahkan sumpitnya berlawanan arah. Omeletnya berakhir di mulut Sasuke yang tengah asik mengunyah sembali melihat datar kearahnya.

"Kau lihat? Aku tidak mati."

Naruto mendengus. Kemudian sekali lagi ia menyumpit makanan di piringnya dan melahapnya. Cukup enak. Lalu ia menyumpit sebuah Gyoza, mencelupkannya ke saus kecap asin yang di beri sedikit wasabi dan memakannya. Kemudian tanpa ragu lagi ia mengambil beberapa Gyoza didepannya lalu mengumpulkannya di piringnya sendiri.

Sasuke memperhatikan adiknya yang tengah mengambil separuh dari jumlah Gyoza yang dibuatnya. Ia melihat bagaimana pipi yang berhias kumis kucing itu menggembung saat pemiliknya memasukkan Gyoza utuh kedalam mulutnya. Sasuke menyukai pemandangan ini. Ia senang sang adik dengan lahap memakan masakannya. Merasa diperhatikan, Naruto si korban pengintaian Sasuke menghentikan acara makannya dan menatap lurus si pelaku.

"Apa lihat-lihat? Kau tidak suka aku mengambil Gyozamu terlalu banyak? Omeletku sudah habis, dan aku masih lapar." Kata Naruto dengan sedikit nada bentakan, lalu dengan seringaian ia menghabiskan semua Gyoza di piringnya dan mengambil beberapa lagi milik Sasuke.

Brakk...

Naruto menggebrak meja lalu berdiri dan berucap "Aku kenyang."

Kaki-kaki tan-nya melangkah mendekati kulkas dan mengambil jus jeruk lalu membawanya ke kamar, meninggalkan Sasuke sendiri.

Menghilangnya Naruto di pintu dapur, Sasuke memulai acara makannya. Seperti kemarin, ia makan sendirian. Tetapi kali ini suasana tenang merasuki hatinya.

oxoxoxoxoxoxoxo

Gluk Gluk Gluk...

"Ah"

Cairan berwarna oranye kandas separuh olehnya. Di letakkannya botol jus di meja. Di dongakkannya kepala, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.

Tep.. Tep.. Tep..

Suara langkah kaki itu mengalihkan perhatiannya, pandangannya berpindah ke pintu kamarnya yang tertutup. Dibawahnya, terlihat siluet seseorang yang berdiri didepan pintunya. Siluet itu diam, hingga tak lama siluet itu bergerak menjauhi pintunya.

Ceklek. Blam.

Bunyi pintu yang tertutup menghinggapi pendengarannya. Ia tahu, siluet yang berada didepan pintunya tadi adalah Sasuke, ia juga tahu, pintu yang tertutup tadi juga pintu kamar Sasuke yang berada tepat di sebelah kamar miliknya.

Hah, Sasuke, Sasuke, Sasuke.

Sejujurnya, Naruto tak benar-benar membenci pemuda itu, hanya saja, ia tidak suka. Semua perubahan yang terjadi di keluarganya, Naruto tidak suka. Dan itu semua karena kehadiran Sasuke. Sampai kapan pun ia takkan bisa menganggapnya sebagai kakak. Namun, ia teringat dengan isi pesan sang Ibu yang ia terima setelah adegan perkelahian di ruang tamu petang tadi.

"Naruto, apa kau sudah pulang, sayang? Apa kau sudah makan? Tetaplah makan yang banyak selagi Ibu tidak di rumah. Jangan pakai kalung-gelangmu terlalu berlebihan, nanti kalau kau masuk BP, siapa yang akan datang ke sekolah, huh? Dan, berbaik-baiklah dengan Sasuke. Ibu tahu, kau masih marah dan kecewa dengan Ayahmu, tapi Sasuke bukan orang yang patut kau salahkan. Sasuke sebenarnya adalah anak yang baik, dia penurut dan tidak banyak bicara. Dia bisa menjadi Kakak yang baik untukmu. Kali ini, Ibu mohon padamu, bersikaplah dewasa Naruto. Cobalah untuk menerima Sasuke. Ibu yakin dengan sifatmu yang sekarang, kau pasti bingung dengan apa yang Ibu minta, tapi percayalah Ibu tahu apa yang Ibu lakukan."

"Haaahhh..." Naruto menghela napas lelah.

.

.

.

.

a/n : hey yo wuzzaappppp!

oke aku tau aku udah ngilang luamaaa buanget, dan comeback pun dengan chapter yang ngebosenin. banyak bgt yang minta lemonnya dicepetin. plis deh, aku aja masih blom bljar nulis lemon (dicekik) aku ingin lebih nge feel dulu ini fic. intinya sih gt, aku lebih mentingin feel, biar lemonnya ntar berasa bgt. untuk chapter selanjutnya aku gak bisa janjiin kapan, tp ku usahakan lbih cepet dr ini. oke? udah paham? lanjut.

aku lama ngilang soalnya lg kena WB (alasan basi) hmmmm, oke, aku baru beli laptop baru, daaaannn Office nya gak bisa di buka, jd gak bisa lanjutin fic, kzl bgt tau gak. Mesti masukin product key dulu klo buka, syangnya aku gak tau, pake software buat nemuin product key juga gak ngaruh di Office 2013. ada yg bisa bantu disini? Nah, selama laptop belom bisa ku pake, aku lanjut fic di pc tempat kerja, nyolong2 waktu gt. huft, dan itu uneasy bgt.

terakhir, aku minta maaf klo gak sempet bls review, i'm a busy girl wkwkwk

oke, dah

Salam, Masta