Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
I do the Story Line!
Pairing : SASUNARU
Warning : This fic contain Yaoi, Missed Typos (Don't hope so :'D), AU, Don't like? Never read Mine
This is a non profit fanfiction!
Why so serious? Like seriously why? This' just a fanfiction.
So enjoy this Chapter!
.
Disebuah kompleks perumahan sederhana, suasana damai di pagi hari tercipta. Ditemani sinar mentari yang perlahan menipiskan suhu dingin sisa dini hari tadi. Terdapat sebuah rumah dengan mobil Lamborgini di pekarangannya. Pemandangan yang cukup jarang bagi warga sekitar yang melintas.
Menilik kedalam rumah, yang ada hanya ruang tamu kosong. Tepat disamping kanannya, bersekat tembok putih yang kokoh terdapat sebuah dapur dengan satu set meja makan yang dapat diisi enam orang. Di salah satu kursi makan, seorang pemuda dengan seragam sekolahnya nampak sedang memainkan ponsel ditemani nasi hangat dan sup jangung yang masih mengepul di tengah meja. Rambutnya yang hitam ia biarkan menjuntai di bagian depan, dan ditata mencuat di bagian belakangnya. Matanya nampak fokus pada benda persegi yang berada di tangan.
Seorang pemuda lainnya, berambut kuning model spiky yang memasuki ruangan mengalihkan perhatian si pemuda berambut hitam dari ponselnya. Pemuda yang sama-sama memakai seragam itu membuka kulkas dan mengambil sekotak susu cair lalu meminumnya. Tanpa melihat si rambut hitam, ia berjalan melewatinya.
"Kau mau kemana, Naruto?" Pemuda yang disebutkan namanya itu berhenti. Menatap malas, ia kemudian berkata.
"Aku memakai seragam, bersepatu dan membawa tas. Apa aku masih harus menjawab pertanyaanmu?"
Si rambut hitam yang tak lain adalah Sasuke terdiam, menilik jam hitam yang melingkar ditangannya, menunjukkan angka 5.47 am. Masih terlalu awal untuk berangkat sekolah. Ia bertanya kembali.
"Kau tak sarapan dulu? Aku sudah membu-"
"Aku akan langsung berangkat. Ada PR yang belum ku kerjakan."
Bergeming cukup lama, Sasuke beralih menatap makanan yang belum tersentuh di depannya.
"Kalau tak ada yang kau tanyakan lagi," Naruto melangkahkan kakinya. "aku pergi."
"Kita berangkat bersama."
Langkah kaki terhenti dan helaan napas cepat Naruto lakukan. Dilihatnya Sasuke yang berdiri, menyampirkan tas punggung dan memasukkan ponsel ke saku. Mulutnya terbuka untuk mengatakan protesan yang sayangnya didahului oleh kalimat Sasuke.
"Kau tidak lupa dengan pesan Ayah, bukan?"
Naruto menatap kesal Sasuke yang berjalan mendahuluinya.
~oOo~
Dalam perjalan, baik Sasuke maupun Naruto tak ada yang ingin mengeluarkan suara. Mereka sama-sama hanya menatap lurus jalan didepannya. Namun, pikiran dan tindakan memang kadang bertolak belakang. Tak dipungkiri, perubahan Naruto yang kini menjadi sedikit 'jinak' itu memenuhi pikiran Sasuke. Ia masih ingat beberapa hari yang lalu saat ia pertama kali bertemu, pemuda seusianya itu nampak sangat membenci kehadirannya. Naruto seperti sangat bernapsu untuk menyingkirkannya. Bahkan kemarin mereka juga masih bertengkar, atau bisa dibilang Naruto seakan mempunyai refleks untuk beradu mulut dengannya tiap kali mereka bertatap muka. Tapi, apa yang terjadi di meja makan malam kemarin benar-benar menyita perhatian Sasuke.
Kenapa Naruto berubah secepat ini? Sasuke melihat Naruto sekilas lalu kembali ke jalan. Dilihatnya gerbang sekolah yang sudah tampak didepan. Ia pun melewati gerbang dan memarkirkan mobilnya. Sama seperti kemarin lusa, begitu mobilnya berhenti sang adik bergegas turun tanpa sepatah kata pun.
Saat Sasuke keluar dari mobil, sang adik sudah tak terlihat mata. Ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju kelas yang terletak lumayan jauh dari tempat parkir.
Kala ia melewati kantor kepala sekolah, ia tak sengaja melihat kedalam ruangan. Dilihatnya seseorang yang ia temui saat pertama kali datang ke sekolah ini, sang kepala sekolah, yang tengah berbincang dengan dua orang yang salah satunya Sasuke kenal sebagai Hyuuga Neji teman sekelasnya. Sedangkan satu orang lagi, perempuan berambut panjang yang menunduk dengan tangan yang bermain kaku seperti menyembunyikan kegugupan. Entah apa yang mereka bicarakan, Sasuke merasa itu semua diluar urusannya. Maka dengan langkah ringan, kaki-kakinya bergerak menjauhi kantor tersebut.
Mencapai kelas, hal yang diinginkan Sasuke hanyalah segera duduk tenang di bangkunya dan membaca buku pelajaran di bagian yang diperkirakannya akan diajarkan oleh gurunya hari ini. Ya, dengan begitu akan lebih mudah baginya dalam memahami pelajaran, jika hal yang dibaca membuatnya bingung akan bisa ia tanyakan langsung nanti. Tipikal anak pintar atau jenius? Tidak sepenuhnya benar, Sasuke tidak sepintar itu, ia bukan siswa yang terlahir dengan IQ selangit yang hanya dengan sekali membaca atau mendengar langsung dapat menyerap semua ilmu diotaknya. Tidak seperti itu. Sasuke hanya seseorang yang rajin dan tekun dalam melakukan sesuatu, dan itu pula yang membuat IQnya sedikit lebih tinggi diatas rata-rata teman sekelasnya.
Seperti Dewi Fortuna belum ingin berbaik hati pada Sasuke, keinginan sederhana siswa yang baru beberapa hari itu tak terkabul. Begitu sampai di kelas, Sasuke langsung dihampiri oleh gadis berambut merah jambu yang menawarkan bekal makanannya.
"Sudah kuduga Sasuke-kun akan datang pagi-pagi sekali. Ternyata perkiraanku tepat. Dan, biar kutebak, Sasuke-kun belum sarapan bukan? Makanya aku bawakan sekotak bekal untukmu Sasuke-kun."
Sejujurnya, Sasuke sedikit risih diperlakukan manis seperti ini. Seorang gadis yang memberi perhatian lebih pada lawan jenisnya tentu ada maksud lain. Dan Sasuke tidak begitu bodoh untuk tak tahu apa yang diinginkan gadis didepannya.
"Kau bisa simpan bekalmu untuk makan siang nanti."
"Apa kita akan makan berdua nanti siang?" Gadis bernama Sakura itu terlihat senang, terlihat dari binar matanya yang berkilau seperti menemukan harta karun. Sasuke berusaha untuk tidak menghela napas atas kesalah pahaman Sakura.
"Simpan untuk dirimu sendiri." Dengan kalimat pendek itu, Sasuke melenggang pergi menuju bangkunya tanpa melihat gurat kekecewaan yang muncul di raut wajah Sakura. Namun, sepertinya kegigihan gadis itu tak bisa di remehkan. Terbukti dengan Sakura yang kini berjalan tergesa ke arah Sasuke dengan senyuman yang diusahakan semanis mungkin. Mengabaikan dirinya yang mungkin terlihat bodoh oleh seorang teman kelasnya yang baru saja memasuki kelas.
"Aaah, kalau begitu Sasuke-kun, bisa aku menumpang di mobilmu lagi pulang sekolah nanti?"
"Bisa kau jangan bertingkah aneh seperti itu, Sakura?"
Suara lain yang baru saja terdengar itu mengalihkan perhatian baik Sakura maupun Sasuke. Tanpa sadar Sasuke menghela napas lega melihat kedatangan sang Nara muda.
"Kau mengganggu mood pagi ku, kau tahu?" Si rambut nanas yang dijuluki sebagai rusa pemalas tukang tidur itu bersender di daun pintu sembari menatap bosan Sakura dengan mata bak kuaci miliknya. Yang ditatap sedemikian rupa pun melotot tak suka. Perhatian gadis Haruno itu kemudian teralih pada Shikamaru.
"Tadi kau bilang apa? Aneh?" Dengan tangan yang bersidekap di dada, Sakura melancarkan tatapan sengit dari iris hijaunya. Ah teman satu kelasnya ini tidak bisa melihat orang senang rupanya, pikir Sakura.
"Hei, Namikaze, kau jangan mau didekati Sakura. Dia itu perempuan kasar. Percayalah." Menghiraukan Sakura yang kini menaruh tangan di pinggang, menunjukkan gestur kekesalannnya, Shikamaru malah berbicara dengan Sasuke yang nampak tak peduli dengan sekitar karena asik membaca buku yang sudah ia keluarkan.
"Apa kau bilang?" Sakura mulai berteriak pada si rusa pemalas yang kini malah menatap keluar kelas.
"Shika, kenapa kau bukannya mendukungku, kau itu teman kelas macam apa?"
Mengalihkan atensinya kembali, Shikamaru kini mendengus geli melihat Sakura dengan tatapan cemberutnya dengan tangan yang sudah kembali bersidekap dalam dada. Ia pun menimpali.
"Justru aku ini teman kelas yang baik, Sakura. Kau lihat, sepertinya Sasuke tidak tertarik denganmu. Dan kau mencoba menarik perhatiannya dengan sikap sok manismu. Jangan membuatku semakin mengantuk dengan drama gagalmu itu."
"Kalau mengantuk ya mengantuk saja, teman sekelas pun tahu kau itu tukang tidur. Kenapa harus bawa-bawa aku?" Masih cemberut, Sakura mencoba menyanggah pernyataan yang keluar dari mulut temannya tersebut. Kekehan pelan terdengar si wakil ketua kelas berambut nanas.
"Daripada itu, aku rasa lebih baik kau mencurahkan perhatianmu kepada penggemarmu yang satu ini." Goda Shikamaru yang ditanggapi cibiran Sakura yang sepertinya juga menduga-duga siapa yang dimaksud Shikamaru. Jangan salahkan ia yang terdengar seperti narsis, Sakura memang banyak penggemar di sekolah.
Jika sedari tadi Sasuke lebih memilih mengacuhkan, kini kepala bersurai hitam itu tegak. Tidak terlalu cepat, tak pula terlampau lambat. Ia hanya mengalihkan fokusnya dari buku yang ia baca karena Shikamaru menyinggung kata 'penggemar'. Dan sejauh ini, ia mengetahui kalau sang adik tiri merupakan 'penggemar' dari gadis berambut merah jambu itu. Jadi Sasuke menyempatkan diri melihat ke pintu yang terbuka sekedar untuk melihat. Bukan apa, tidak berarti apa-apa. Bukankah tiap seseorang menyinggung sesuatu yang berhubungan denganmu, kenalanmu, keluargamu, adikmu, kau akan menyempatkan diri untuk mengetahuinya? Hal itu pula yang mendasari perilaku Sasuke.
Namun, mata hitam yang memikat itu kembali menatap buku yang sempat ia acuhkan selama kurang dari semenit sesaat setelah suara lantang membahana dalam ruangan.
"Ohayo ghozaimasu, minna. Mana semangat mudamu, kawan?" Siswa berambut hitam berkilau layaknya iklan shampoo itu berdiri disamping Shikamaru. Merangkulkan tangan ke pundak layaknya teman akrab.
"Tak usah menanyakan diriku, Lee. Temui saja semangat mudamu disana."
Yang disebut namanya mengikuti arah pandang Shikamaru. Kemudian mata hitam yang cukup eksotis -kalau tidak mau dibilang aneh- berbinar-binar kala memantulkan seorang Sakura.
"Ah, Sakura-chan."
Sakura menatap horor Lee yang berlari kearahnya seakan ingin menerkam.
"Berhenti disana!" Telapak tangan mulus diarahkan kearah laki-laki nyentrik itu. Sontak Lee mengerem mendadak dengan aksi drama kurang elit, nyaris terjungkal.
"Kenapa, Sakura-chan?"
'Dia lebih parah dari Naruto.' batin Sakura saat melihat mata laki-laki itu berkaca-kaca seakan ingin menangis. Kelas yang mulai ramai membuat gadis itu semakin malu karena beberapa dari mereka menertawakannya. Ia mengepalkan tangan, menggeram kesal.
"Ketua, Yamato-sensei menyuruhmu untuk keruangannya." Suara yang berasal dari seorang siswa yang baru saja masuk kelas itu mengubah ekspresi Lee menjadi ceria.
"Ah, kuharap Yamato sensei memberi kita tugas, semangatku sungguh membara kali ini."
Seruan tidak setuju menggema seantero kelas. Yah, namanya juga ketua kelas teladan. Itulah kenapa ia dipilih menjadi pimpinan di kelas oleh wali kelasnya.
"Sakura-chan, aku pergi dulu ya. Bubye." Kiss bye yang menghasilkan simbol-simbol cinta merah muda imajiner di tangkap tangan oleh Sakura kemudian dihancurkannya. Matanya menatap tajam teman-teman kelasnya yang menertawakan adegan 'cinta' Lee padanya.
Mata onyx yang sedari tadi hanya memandang serius buku yang dipegangnya kini beralih pada jam yang melingkari pergelangan tangan.
DRITT...
Sasuke berdiri dari kursi dan melangkah meninggalkan bangkunya. Sakura yang melihatnya tanpa ragu langsung menyusul.
"Sasuke-kun mau kemana?" Tanggapan bisu Sakura terima. Tapi Sakura bukan orang yang gampang menyerah.
"Apa Sasuke-kun akan ke tempat Naruto?" Tetap melangkah dalam keheningan, Sakura tetap tak putus asa.
"Em, bila Sasuke-kun ingin ke kelas Naruto, aku bisa menemanimu."
Berhenti. Langkah panjang Sasuke serta merta berhenti. Bibirnya menutup membentuk sebuah garis tipis yang tak lama menampakkan celahnya.
"Jangan mengikutiku."
"Ah, aku hanya ingin menemani Sasuke-kun. Kebetulan juga aku ada perlu di kelas Naruto. Emh, Tenten, maksudku. Dia, satu kelas dengan Naruto. Ya, begitulah." Sakura menjawab dengan ragu pada akhir-akhir kalimatnya karena merasa tak nyaman dengan mimik muka Sasuke yang nampak kesal.
"Kau pikir aku mau kemana?" Dengusan terdengar dari mulut si rambut hitam. Sakura tersentak.
"Bu-bukankah, Sasuke-kun akan menemui Naruto?"
"Jika kau ingin kesana, pergilah. Dan-" Sasuke melirik lewat ekor matanya. "-menjauh dariku."
Berbalik arah, Sasuke berjalan menuju kelasnya kembali, niat hati ingin sarapan di kantin hilang sudah. Sakura yang ditinggalkan begitu saja kini bingung harus kemana. Ya, Tenten hanya sebuah alasan.
~oOo~
Mentari semakin naik, cuaca semakin cerah. Seharusnya memang begitu. Tapi nampaknya mendung ingin meraja seperti kemarin malam. Langit terlihat gelap dengan semburat cahaya tipis yang mampu menerobosnya tebalnya awan nimbostratus. Sudah hampir waktunya pulang, sekitar 30 menit lagi. Koridor sepi karena jam pelajaran masih berlangsung terlihat agak menyeramkan karena kurangnya cahaya, ditambah dinginnya udara yang menerpa membuat siapa saja yang penakut enggan melewatinya.
Namun, suasana terlihat berbeda di salah satu kelas di ujung koridor. Sayup-sayup dapat terdengar riuh suara siswa-siswa yang tengah bercanda dan mengobrol, atau mungkin bermain dengan sorakan-sorakan yang dihasilkan dari para siswa penghuninya. Dilihat mendekat, tepat ditengah-tengah deretan bangku yang di kelilingi siswa, Naruto tengah adu panco dengan teman 'besar'nya, Chouji. Dengan teriakan semangat para pendukung, keduanya nampak gigih ingin memenangkan permainan. Ah, jam kosong rupanya.
"Chouji! Chouji! Chouji!" Pemihak siswa berbadan gempal tersebut secara kompak menyerukan nama sang jagoan. Yah, dengan badan besar seperti itu kemungkinan untuk memenangkan adu panco ini juga jadi lebih besar. Namun demikian, tak menyurutkan semangat pemuda berambut jabrik yang kini tengah memasang senyum mengejeknya.
"Aku yakin aku akan menang." seru Naruto dalam hati.
Tangan tan itu semakin meremas tangan besar yang ada dalam genggamannya. Sejujurnya, Naruto sudah kuwalahan, namun ia tetap menunjukkan senyum remehnya untuk menutupi kegelisahan akan kapan si badan besar itu tumbang. Walau hanya permainan biasa, akan tetapi Naruto dengan reputasi 'anak punk'nya tidak mau dan tidak akan kalah.
"Ayo, Naruto! Cepat jatuhkan dia!" Teriakan Kiba memekakkan telinganya. Ia melebarkan senyum melihat lawannya nampak susah payah untuk sekedar bertahan.
"Tenang saja Kiba, sebentar lagi kita akan tahu siapa pemenangnya." Naruto mendesis senang.
"Aku tidak akan kalah darimu, Naruto" Seru Chouji.
"Ini saatnya."
Gigi bergemerutuk gemas, genggaman tangan menguat menampakkan untaian kabel otot kehijauan. Perlahan tapi pasti Naruto mulai menurunkan tangan Chouji. Penonton mulai menggila. Para supporter dari Naruto maupun Chouji semakin berteriak memberi dukungan semangat. Terlebih pendukung Chouji yang mengganas karena sang jagoan nampak akan tumbang.
"Sedikit lagi"
Keringat menetes turun dari pelipis, tangan pun sudah semakin licin. Bisa dilihat jika pungung tangan penuh daging itu hampir menyentuh permukaan meja.
"Kita akhiri sekarang juga, Chou-" Diantara gumaman batin Naruto, bel pulang sekolah berbunyi nyaring. "-eh? Sudah pulang?"
Brakk...
Pertandingan selesai. Pemenang sedah terlihat. Sorakan dari pendukung pemenang dan desahan kekecewaan mendominasi.
"Selamat Naruto-" Chouji tersenyum kepada sang lawan. "-atas kekalahanmu." lanjutnya dengan seringai menyebalkan.
Naruto melotot tak percaya. "Aku,,, kalah?"
"Tidak adil."
Teriakan tiba-tiba Naruto menghentikan langkah Chouji yang mulai beranjak dari duduknya.
"Apa lagi, Naruto?" Chouji membalas malas.
"Ini tidak adil. Pertandingan ini tidak sah. Harus ada tanding ulang." Putus Naruto. Chouji mendengus.
"Apanya yang tidak sah? Jelas-jelas kau kalah tadi. Aku juga tidak mau tanding ulang, kau tidak dengar belnya sudah bunyi?"
Naruto melihat sekeliling, para siswa satu demi satu mulai meninggalkan kelas, terlebih siswi perempuan yang sudah tidak nampak batang hidungnya.
"Aah, tidak bisa begitu! Konsentrasiku tadi terganggu oleh suara bel. Jadi kita harus tanding ulang."
"Itu karena kau lengah, bodoh." Kiba dengan seenak hati menggeplak kepala bersurai kuning itu.
"Jangan salahkan aku, salahkan belnya." Naruto mencibir sambil mengelus kepalanya.
"Sudahlah, aku mau pulang." Chouji mengambill tas dan mulai berjalan keluar, menghiraukan Naruto yang memanggilnya, bersikeras kalau ingin mengulang pertandingan.
"Haahhh, sekali-sekali kalah juga tidak apa-apa, Naruto. Lebih baik kita juga pulang." Kiba beranjak dari tempatnya, menuju meja dimana buku-buku miliknya masih berserakan. Sama halnya dengan Naruto, dengan wajah tertekuk penuh dendam, ia melangkah menghampiri Kiba, menghampiri mejanya lebih tepatnya yang memang satu tempat dengan sahabat bertaringnya satu itu.
Usai memasukkan buku dan alat tulisnya secara sembarangan ke dalam tas dan mengeluarkan ujung bajunya dari celana yang menurutnya kuno, Naruto mulai keluar kelas berdampingan dengan Kiba.
Seperti kemarin, Naruto melihat Sasuke yang sudah stand by di ujung kelasnya, menunggu dirinya. Dan, ada Sakura juga disana, berjarak sekitar satu meter dari Sasuke. Ah, gadis merah jambu itu menambah semangatnya yang sempat luntur karena kekalahannya tadi. Jadi, dengan segera ia berjalan cepat menghampiri pujaan hatinya, melupakan Kiba, lagi, yang nampak oke-oke saja dengan sikap Naruto. Sudah terlalu sering ia dicampakkan.
Selang beberapa langkah, Naruto menyadari bahwa Sakura tidak sendiri. Gadis itu terlihat bersama seseorang yang berseragam sama dengan para siswi perempuan lainnya di sekolah ini, tapi Naruto yang notabene hafal dengan seluruh murid se-angkatannya merasa tidak mengenal orang itu. Mengabaikan Sasuke yang menyadari keberadaannya, Naruto memilih menyapa Sakura.
"Hai, Sakura." Naruto memamerkan senyum menawannya. Anehnya, bukan Sakura yang tersipu, namun perempuan disampingnyalah yang kini menunduk malu setelah tertangkap mata kalau pipinya merona. Dirasakannnya Kiba menyusul.
"Biasa aja kali kalau ada Sakura, sampai-sampai kau meninggalkanku." Nampaknya kali ini Kiba cukup jengah menghadapi sahabatnya satu ini. Namun, ekspresi kecutnya hanya bertahan sesaat. Si pecinta anjing itu bersiul panjang kala melihat gadis disamping Sakura.
"Wiihh, dia siapa? Cantik juga." Terang-terangan menunjukkan ketertarikannya, Kiba tanpa malu melempar kedipan mata. Sakura mencibir melihatnya.
"Ternyata kalian berdua sama saja. Asal kalian tahu, kalau kalian berlaku seperti itu pada perempuan, justru mereka akan merasa kurang nyaman. Ilfeel."
"Begitukah Sakura? Kau suka yang tsundere ya? Aku akan bersikap seperti itu jika kau mau." Cengiran lima jari secerah matahari itu sama sekali diacuhkan.
"Tidak, tidak perlu. Jika kau bersikap tsundere pun, kau tetap memuakkan dimataku." Seakan menyadari sesuatu, segera setelah mengatakan hal tersebut Sakura membungkam mulutnya. Ia melirik takut akan keberadaan Sasuke lewat ekor matanya. Laki-laki itu tetap diam mengamati hingga saat ini. "Kenapa aku salah bicara di depan Sasuke-kun?" batinnya menyesal. Ia tak ingin usahanya mendekati Sasuke gagal hanya karena si bodoh berkepala kuning itu.
"Daripada itu, siapa namamu manis?" Kiba menyela tepat sebelum Naruto menanggapi makian Sakura. Cengengesan didepan gadis berambut indigo yang panjang lurus tersebut, membuat yang ditanyai semakin menundukkan kepala.
"Tipe pemalu, eh?" batin Kiba.
"Jangan ganggu dia, kau si anjing freak." Sakura menjauhkan Kiba dari Hinata.
"Apa hakmu melarangku, nenek lampir?"
"Kau membuatnya takut."
"A-aku tidak apa-apa Sakura." Pertengkaran kekanakan antara Sakura dan Kiba terhenti oleh suara yang terdengar bak seorang Dewi bagi telinga Kiba. Tanpa basa-basi ia langsung meraih tangan gadis itu dan ia kondisikan seperti saling menjabat tangan. Sakura melotot garang.
"Apa-apaan kau?"
"Heh, diamlah." Kiba mengibaskan tangannya yang bebas tepat didepan wajah Sakura lalu kembali memfokuskan diri. "Namamu siapa? Aku Kiba."
Mata bagai bulan untuk Kiba itu menatap ragu sebelum membuka mulutnya. "Hi-Hinata. Namaku Hinata." Disela-sela sesi perkenalannya, gadis bernama Hinata itu mencuri pandang kearah Naruto. Sadar sedang diamati, Naruto pun turut memperkenalkan dirinya dengan tangan kanan terangkat ke udara.
"Hai, Aku Naruto."
Perkenalan dari Naruto mendapat respon berupa ronaan yang semakin pekat dipipi Hinata. Kiba yang merasa perhatian gadis cantik itu hanya tertuju pada sahabatnya lantas meremas tangan yang masih berada dalam genggamannya untuk sekedar mengalihkan perhatian sang gadis. Kikuk, Hinata mencoba melepaskan tangannya yang terasa semakin erat digenggam oleh laki-laki berambut coklat ini.
"Bisa kau lepaskan tangannya, Inuzuka?"
Suara dari arah sampingnya itu terdengar tidak asing. Menengok pemilik suara, yang disebut namanya tersebut menatap tak suka. Namun, perlahan, ia mengendurkan genggaman tangannya juga, Hinata lekas menarik tangannya.
"Memang kenapa? Kalau aku mau, aku bisa saja langsung menariknya ke lapangan dan menciumnya didepan umum."
"Kau bilang apa?" Si pengganggu moment Kiba dan Hinata yang lain adalah Hyuuga Neji, mendelik tajam.
Aura permusuhan terlihat kental diantara Kiba dan Neji. Petir imajiner bak menghubungkan tatapan masing-masing. Naruto yang melihatnya menghela napas bosan. Dengan kedua tangannya ia memutuskan petir imajiner diantara keduanya dengan menutup mata baik Kiba maupun Neji.
"Sudahlah, hentikan sikap konyol kalian."
"Kalau tidak begini, bisa-bisa nanti Hinata direbut Neji. Kau tidak ingat Tenten dulu juga direbutnya dariku?"
"Apa? Aku tidak merebut siapapun darimu, Kiba. Dan, Tenten? Dia yang suka padaku." Ucap Neji membela diri.
"Jelas-jelas kau mendekatinya waktu annual motivation tahun kemarin." Kiba misuh-misuh sendiri. Matanya masih tak lepas dari laki-laki bermata tanpa pupil di sampingnya.
"Itu karena dia anggota OSIS di seksi yang sama dengan ku. Jadi bukannya aku mendekati dia, tapi memang kami harus bekerja sama, bodoh."
"Kau mengataiku apa?"
"Bodoh."
"Kau yang bodoh."
"Kapan aku bertindak bodoh?"
"Kau yang tidak setia kawan mengambil incaran temannya. Itu kan namanya bodoh."
"HEI KALIAN BERHENTILAH!" Muak dengan perdebatan Kiba dan Neji, Naruto pun mengeluarkan suaranya lagi. Semua memandangnya, termasuk Sasuke yang kini menghela napas karena terlalu lama menunggu. "Neji, lebih baik kau mengalah pada Kiba kali ini. Dan kau Kiba, jangan bersikap seolah tidak ada gadis lain di sekolah ini." Kata Naruto sok bijak yang langsung mendapat sikutan oleh Kiba yang merasa ucapan Naruto tak ada benarnya.
"Hei bung, kalau ngomong ngaca dulu deh. Siapa yang bersikap seolah tidak ada gadis lain disekolah ini? Kau yang selama ini terus mengejar Sakura disebut apa?" Kiba mencak-mencak sendiri dibuatnya.
"Itu namanya perjuangan." Naruto membela diri. Tak lama, Neji kembali buka suara.
"Kalian, dengar ya! Sejujurnya kau tak mengerti apa yang kita debatkan." Helaan napas terdengar, memberi jeda. "Ayo, Hinata. Kita pulang." Tangan kanan Neji ulurkan yang langsung disambut manis oleh gadis berambut indigo panjang tersebut. Baru akan melangkahkan kaki, sebuah protesan tidak suka menginterupsi keduanya.
"A-apa maksudnya ini? Kenapa kau membawanya pergi? Kenapa,,, kalian terlihat akrab sekali?" Kiba terlihat bingung.
"Dia sepupuku."
Hening menyapa. Ya, hanya menyapa karena selanjutnya suara tepukan keras di pundak terdengar.
"Oh, rupanya sepupumu? Kenapa tidak bilang dari tadi? Pantas saja Hinata cantik, ternyata dia sepupu Neji yang tampan. Hahaha" Kiba, si pelaku penepukan -lebih tepat disebut penggebukan- pundak Neji itu tertawa keras. "Jadi," Kiba mendekatkan diri dengan sebelah tangan merangkul akrab si pemuda Hyuuga. "-bolehkah aku mengantarnya pulang, kawan?"
"Sejak kapan kau punya sepupu? Aku tidak pernah ta-?" Naruto yang kala itu ingin berkomentar mendadak menghentikan cerocosanya saat melihat Sasuke yang berjalan cepat kearahnya lalu menariknya menjauh.
"Apa-apaan kau?" Naruto berhenti, membuat Sasuke terpaksa menghentikan langkahnya. Manik elangnya menatap saudara tirinya yang mendelik tak suka seraya melepaskan tangan dari genggamannya. Matanya kemudian beralih menengok jam yang berada di pergelangan.
"Kau tidak pulang?" Kata Sasuke tak menghiraukan gertakan Naruto.
"Kenapa? Kau tidak suka menungguku seperti tadi? Kalau tidak suka, kau pulang saja." Delikan sinis teracuhkan, Naruto pun tak ambil pusing karenanya. Maka dari itu ia berbalik dan melenggang pergi ke tempat teman-temannya yang kini nampak tengah asyik menonton dirinya dan Sasuke. Belum genap dua langkah, Sasuke kembali menarik tangannya.
"Apalagi?" Tanya Naruto kesal.
"Ayah tadi menghubungiku. Katanya dia dan Ibu pulang hari ini. Mereka akan sampai jam empat nanti." Sasuke mencoba menjelaskan meskipun ia cukup jengkel dengan sikap Naruto.
"Dan? Apa masalahnya? Masih ada dua jam lagi. Kenapa kau menyuruhku pulang cepat?" Tandas Naruto. Ia jengah, Naruto jengah dengan sikap Sasuke yang seolah mengaturnya ini dan itu, membatasi kebebasannya. "Memangnya siapa dia?" pikirnya tak terima. Cukup sudah kesabaran yang ia keluarkan. Tak peduli dengan kata-kata Ibunya yang menyuruhnya berdamai dengan si rambut hitam yang kini menghela napas gusar.
"Kau bisa membereskan rumah sebelum mereka pulang, Naruto." Melirik jam tangannya lagi, Sasuke yang nampak tak ingin beradu argumen kembali memilih menarik si rambut jabrik itu ke gerbang sekolah. Menulikan telinga dari segala makian dan umpatan yang berasal dari pemuda yang di bawanya dengan paksa. Sampai akhirnya mereka tiba didepan sebuah mobil BMW hitam mengkilat elegan, Sasuke baru menghentikan langkahnya yang disambut hempasan tangan oleh sang adik.
"Masuk."
Bukan Naruto namanya jika ia akan langsung tunduk jika diperintah seperti itu, "Terlebih oleh kau." batinnya merendahkankan.
"Kalau aku tidak mau?" Terang-terangan membangkang, Naruto mengulas seringai dari bibirnya. Menatap sang kakak yang tetap mempertahankan wajah datarnya, si adik memasang wajah menantang.
"Cepat masuk."
Dengusan tak percaya datang dari Naruto. Ia menatap mobil disampingnya, dan ia baru menyadari jika itu bukanlah mobil yang sama yang di naikinya tadi pagi. Menilik kedalam, ternyata terdapat seseorang di kursi kemudi.
"Siapa dia?"
Tak kunjung mendapat jawaban, Naruto kembali menarik seringaian dibibirnya. "Aaah~" Ucapnya dengan nada yang berayun, lalu ia mendekat dan membisikkan kata. "Jangan-jangan dia kekasih homo-mu?"
Dengan jarak sedekat itu, Naruto dapat melihat kedutan di kening Sasuke. Mata hitam milik sang kakak meliriknya lewat ekor mata.
"Apa aku benar-" Semakin meniadakan jarak, Naruto menyampirkan lengan kanannya ke pundak kiri Sasuke lalu kembali meneruskan kata-katanya. "-SasuGay?"
Naruto tersenyum menang mendapati kening mulus itu berkerut dalam dengan kelopak mata yang menyembunyikan iris hitamnya. Hanya, sedikit aneh ketika raut wajah itu nampak seperti menahan sakit. "Mungkin dia sedang konstipasi?!" Naruto tertawa dalam hati.
"Kakashi, bawa dia masuk." Setelah suara dari Sasuke terdengar, orang berambut putih silver berbadan tegap keluar dari dalam mobil lalu dengan cekatan memutari mobil, menuju bagian kursi penumpang di sebelah Naruto dan membukanya.
"Silakan masuk kedalam."
Naruto yang melihat orang itu berbicara dengannya langsung tergelak. Melepaskan tangannya dari Sasuke kemudian berhadapan dengan orang yang menutupi sebagian mukanya dengan masker itu.
"Dengar, aku tidak mengenalmu, dan aku tidak pergi dengan orang yang tidak ku kenal. Lagipula," Naruto melirik Sasuke sejenak. "kenapa tidak kau ajak saja dia pulang?"
"Sasuke ada urusan, dan saya harap anda bisa mengerti."
"Urusan apa? Urusan dengan kekasih homonya yang lain?"
Brukk...
Naruto meringis pelan ketika merasakan pening di kepalanya. Ia yang tiba-tiba didorong masuk ke mobil hingga terjerembab di kursi penumpang memandang murka si pelaku yang tak lain adalah Sasuke.
"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Orang bernama Kakashi bertanya ragu. Ia nampak cemas dengan Sasuke kini yang kini menopang tubuhnya yang berada diatas Naruto dengan kedua tangan yang berada diantara rambut kuning itu dan satu lutut kaki yang ia tumpukan di kursi penumpang, tepat diantara paha Naruto. Dari luar, posisi itu terlihat ambigu menurut Kakashi. Terbukti dengan mulai adanya bisik-bisik penasaran dari para siswa yang kebetulan ada di sekitar gerbang, tempat mereka berada.
"Mau apa kau?"
Kakashi mengamati kembali keadaan dalam mobil ketika telinganya menangkap suara seseorang yang berstatus sebagai saudara tiri Sasuke.
"Sasuke? Kau baik-baik saja?"
"Kenapa orang itu malah khawatir dengan Sasuke, jelas-jelas aku yang korban disini." Naruto menggerutu dalam hati, tangannya kini tengah mencoba menahan Sasuke yang dirasa semakin mendekat, menekan badannya. Posisi seperti ini mengingatkannya akan peristiwa kemarin dimana ia di jatuhkan di jatuhkan di sofa lalu di perangkap oleh kungkungan Sasuke. "Sial, kenapa dia selalu memojokkanku dengan cara seperti ini?"
"Sasuke-"
"Diam, Kakashi."
"Menyingkir dariku, Teme." Gerakan Sasuke yang semakin mendekat membuat geram Naruto. Matanya menatap benci pada seseorang diatasnya yang nampak menikmati raut kesusahan yang terpatri di wajah berkulit tan miliknya.
"Kubilang menja-" Serta merta perkataannya terhenti, matanya menutup rapat. Terkejut. Naruto terkejut sampai tanpa sadar memejamkan matanya saat Sasuke dengan tiba-tiba mendekatkan wajahnya seperti akan menghantamkan kedua kepala mereka satu sama lain. Namun, yang dirasakannya bukanlah kepala mereka yang saling beradu, melainkan bibirnya yang mendapatan lumatan kasar.
Bunyi decakan dua bibir yang beradu membangunkan alam sadarnya kemudian. Matanya yang biru membuka cepat dan langsung menatap mata sehitam arang yang juga tengah memandangnya dengan tajam. Tangan tan itu mulai bergerak, mendorong Sasuke menjauh. Si raven yang merasakan tekanan tersebut segera mencekal tangan kanan Naruto dengan tangan kirinya dengan tangan kanan masih sebagai tumpuan.
Naruto membelalak ngeri merasakan jilatan Sasuke di bibir bawahnya yang kemudian dengan tanpa kesulitan berarti berhasil menerobos masuk kedalam mulutnya. Ia menatap nyalang sepasang mata didepannya kala lidah itu bergerilnya, mengobrak abrik isi didalamnya, menyapu lidahnya.
"Eungh..." Naruto melenguh saat lidah Sasuke membelai langit-langit mulutnya. Rasanya geli, tak nyaman, bahkan ia dapat merasakan tekstur permukaan benda lunak tak bertulang itu.
Satu tangan yang masih mencoba menahan beban dari Sasuke mengepal. Semua ini menjijikkan bagi Naruto. Dirinya tak habis pikir, bagaimana mungkin dua orang laki-laki bisa saling membenturkan bibir -Naruto tak ingin menyebutnya berciuman- seperti ini? Sekuat tenaga, ia mendorong tubuh diatasnya, dan ia merasa bersyukur karena mendapat bantuan dari Kakashi yang saat itu juga tengah menarik Sasuke dari tubuhnya.
"Emmh.." Tautan terlepas, tangan terbebas. Bunyi Dukk cukup keras serta erangan menyusul setelahnya.
"Sasuke, kau?" Lelaki bernama Kakashi itu nampak memandang ragu Sasuke yang memegangi belakang kepalanya yang terbentur mobil.
"Apa yang-"
"Sakura!"
Teriakan Naruto mengalihkan atensi Sasuke. Matanya mengikuti arah pandang sang adik dan kemudian ia menemukan Sakura beserta gadis yang disebut sepupu Neji tengah memandangnya dengan raut terkejut dan menyesal. Bibir gadis berambut pink itu membuka dan menutup, matanya yang hijau menatapnya dan Naruto secara bergantian. Deru mesin mobil yang mendekat bahkan tak dapat mencairkan suasana yang kini tercipta, hingga sebuah suara yang memanggil sebuah nama mengalihkan salah satu orang disana.
"Hinata, ayo pulang."
Gadis itu menoleh perlahan. Dapat dilihatnya sang sepupu yang berada di dalam mobil jemputan mereka. Matanya beralih kearah pemuda yang masih terduduk di mobil dengan pintu terbuka sembari memandang teman disampingnya. Kelopak lembut matanya berkedip gugup sebelum mulai membuka mulutnya.
"A-aku,,, dasimu,," Mata biru itu sama sekali belum menatapnya, membuat Hinata tertunduk kikuk sebelum kembali mencoba mengambil perhatiannya orang yang diajaknya bicara dengan tangan yang meremas lemah seutas kain yang dipegangnya. "-aku ingin mengembalikan da-dasi ini, Naruto-kun."
Hinata memberanikan diri untuk maju, berjalan menuju seseorang yang kini mulai memperhatikannya. Pelan, tangannya mengulurkan dasi bermotif garis-garis dengan warna merah, biru dan putih kepada pemiliknya hingga dasi tersebut berpindah tangan.
"Hinata." Neji kembali memanggil. Yang disebut namanya hanya menoleh sebentar kemudian membungkukkan badannya sebagai tanda perpisahan untuk Naruto.
"Kita pulang, Sakura. Kau, jadi ikut denganku, kan?" Gadis lemah lembut itu menggandeng tangan teman merah jambunya yang mengangguk pelan masuk ke mobil.
"Aku pulang dulu ya, Naruto." Pamit Neji yang hanya dibalas kebisuan sang teman.
Mobil yang membawa Neji, Hinata serta Sakura melaju, meninggalkan debu berterbangan yang beradu lomba mengikutinya. Daun-daun kering yang telah teronggok jatuh ke tanah bergulung-gulung kecil terbawa angin melewati kaki. Setelah keramaian alam yang sejenak mengisi keheningan, kini yang terdengar hanyalah dengusan tak percaya dari seseorang yang sedari tak beranjak dari mobil yang terbuka.
"Gila, ini gila. Aku tidak pernah menyangka akan ada hari dimana aku-" Iris safir menatap random sekelilingnya, lidahnya mendadak kelu hanya untuk meneruskan kata yang sudah berada di ujung bibirnya, menanti terucap.
Ah, bibir.
Tangannya bergerak mengusap dagu dan daerah sekitar bibirnya dengan ragu, antara jijik dan ingin melenyapkan jejak saliva setengah kering yang tercipta akibat ulah Sasuke. Bicara tentang si rambut hitam itu, Naruto tahu bahwa pemuda itu tengah mengamatinya lewat ekor mata semenjak ia mula buka suara. Berbeda dengan Kakashi yang dengan mantap melihatnya.
Hembusan napas kasar dilakukannya sebelum berdiri tegak dan menatap Sasuke yang berdiri beberapa meter darinya.
"Kau, aku tidak akan membiarkan hal menjijikkan itu terjadi dua kali. Dan jangan pernah mendekatiku setelah ini." Lelaki bertanda kumis kucing di pipi itu lalu melenggang pergi setelah mengatakan ultimatumnya.
"Naruto-"
"Biarkan."
Pria berambut putih itu menatap Sasuke.
"Biarkan dia pergi."
Kakashi hanya bisa menghela napas dengan titah tersebut. Kemudian ia teringat alasan keberadaannya disana.
"Sasuke, kau sudah terlambat. Pergilah sekarang, aku akan mengawasi anak itu."
"Aku tahu, dan kau tidak perlu mengawasi dia. Kakashi-" Sasuke memandang kosong. "-apa yang telah kulakukan?"
~oOo~
Hari telah petang, cahaya mentari yang telah meredup terlihat dari balik jendela rumah. Tersisa pantulan dari rembulan yang nampak separuh. Hawa dingin masih terasa setelah hujan mengguyur beberapa waktu lalu. Hanya sebentar, tidak ada satu jam, namun jejaknya berdampak pada licinnya jalanan dan basahnya pohon serta tanaman yang dilaluinya.
Decitan ban mobil yang beradu dengan batu paving menyilet telinga. Seseorang keluar dari bagian kemudi. Setelah memastikan kendaraannya terparkir aman, ia mulai melangkah mendekati pintu rumah dan mengetuk tiga kali.
Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita berambut merah yang tersenyum menyambutnya sebelum mempersilahkan ia masuk. Langkahnya mengikuti wanita itu, berjalan menuju meja makan.
"Kau sudah pulang, Sasuke." Sang kepala keluarga menerbitkan senyum menawan khas seorang Ayah. Tanpa disuruh, ia mendudukkan diri di salah satu kursi. Matanya memandang kursi kosong didepannya. Wanita berambut merah yang merupakan Ibu tirinya seakan mengerti akan arti tatapannya.
"Naruto sudah makan dulu, tadi. Katanya ia kelaparan sehabis bermain di rumah temannya. Aku tak tega jika menyuruhnya menunggu."
"Begitu." Jawabnya pendek. Ia tak ingin bertanya lebih jauh, karena ia tahu alasan apa yang mendasari itu semua. Naruto tak ingin bertemu dengannya.
"Baiklah, lebih baik kita mulai makan malamnya." Ucapan riang sang Ibu hanya dibalas dengan anggukan darinya. Ia pun mengambil makanan yang tersaji dan mulai memakannya tanpa suara.
Beberapa menit berlalu, dentingan piring dan sendoklah yang terdengar, hingga ia mendengar Ibunya menyebut namanya.
"Bagaimana latihan bela dirimu tadi?"
Ah, percakapan keluarga di meja makan, betapa ia merindukannya. Sasuke mengulas senyum tipis.
"Semua berjalan lancar."
"Benarkah? Kau belajar apa saja disana?" Kushina, Ibunya, nampak antusias. Bahkan sumpitnya diletakkan dimeja, tangannya ia gunakan menopang dagu.
"Banyak hal, aku memperlajari teknik kuncian, berhadapan dengan musuh, juga beberapa jurus."
Mata Kushina nampak berbinar.
"Benarkah? Jurus apa? Apakah jurus seperti yang ada di film ninja, Sasuke?"
"Bukan, jurus yang kupelajari adalah serangkaian teknik menyerang dan menghindar."
"Ah, begitu. Aku jadi ingin ikut latihan bela diri."
"Kushina, apa yang kau bicarakan. Cepat habiskan makananmu." Minato menggelengkan kepala melihat istrinya bersemangat dengan topik yang dibahasnya dengan Sasuke.
"Kenapa? Bukankah akan terlihat hebat jika aku ikut bela diri?"
"Jika kau ikut bela diri, kau akan terlihat dua kali lebih menyeramkan." Minato menjawab dengan ringan sembari mengunyah makanannya. Namun, setelah itu ia melirik takut saat merasakan hawa mematikan dari sang istri.
"Ku-kushina, sayang..."
"Apa kau bilang tadi, Minato?"
"Aku, aku hanya bercanda." Minato tersenyum paksa. Ia meneguk ludahnya gugup saat dilihatnya Kushina mengatupkan bibirnya kesal.
Sasuke menonton drama picisan antara suami-istri itu dalam diam. Matanya menatap tanpa ekspresi pemandangan didepannya. Tapi dalam hatinya ia sangat senang, perasaan gembira meluap dihatinya. Ia benar-benar merasa menjadi manusia sempurna sekarang, ia memiliki keluarga, ia merasa benar-benar hidup.
"Biarkan aku menikmati ini."
~oOo~
Masa terus berlari. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Hari-hari terlewati dengan kebisuan Naruto terhadap Sasuke. Terkecuali jika bersama dengan orang tua mereka, sang adik tak pernah berujar sepatah kata pun kepada saudara tirinya.
Seminggu lebih berlalu semenjak kejadian dimana Naruto memintanya untuk menjauh. Dan itu dilakukannya. Ia hanya tak ingin sang adik lebih membencinya lebih dari ini.
Keseharian mereka masih sama. Berangkat dan pulang sekolah bersama dan makan bersama keluarga di meja makan kecil mereka. Hanya pada saat-saat itulah Sasuke bisa bertatap muka dengan Naruto. Selebihnya, Naruto akan menghindar jika tak sengaja berpapasan dengannya di kantin sekolah atau dimana pun itu.
Tapi hari ini berbeda. Seusai bel pulang berdering, seperti biasa, ia akan menunggu sang adik di tempat parkir. Jika biasanya mereka akan langsung pulang dengan keheningan, kali ini Naruto hanya berdiri didepannya, sebelum ia berbicara pada Sasuke setelah seminggu ini.
"Kau, pulanglah. Aku akan kerumah teman."
Setelah dua kalimat itu, Naruto berbalik dan berjalan menjauh.
"Aku antar." Tawarnya yang masih dapat di dengar.
"Tidak perlu. Itachi akan menjemputku." Kalimat datar itu berlalu secepat Naruto menghilang dari pandangannya. Namun tidak dengan satu kata. Satu kata yang merupakan sebuah nama.
Itachi. Nama itu terlalu sensitif untuk dirinya. Mengingatkannya akan masa lalu, tentang seseorang yang membuatnya 'begini'.
"Ita-chi." Bahkan lisannya bersusah payah untuk mengucapkan nama tersebut. Saat ini Sasuke berharap semoga yang dimaksud oleh Naruto bukanlah Itachi yang sama dengan yang di kenalnya. Ia mengernyit tak suka saat kepalanya mendadak sakit. Ia tidak boleh memikirkan orang itu. Kalau tidak, sesuatu dalam dirinya akan keluar. 'Tenang, Sasuke. Tenanglah." Mencoba mengatur napasnya, setelah dirasa cukup, Sasuke segera memasuki mobil dan mengemudikannya keluar dari halaman parkir.
Lamborgini itu lancar melewati halaman sekolah hingga melewati gerbang. Saat itu Sasuke yang dengan pelan mengendarai mobilnya karena masih dalam lingkungan sekitar sekolah tak sengaja melihat Naruto yang memasuki mobil hitam dengan corak merah sebagai hiasannya. Karena mobil itu berhenti tepat dibawah pohon yang rindang, membuatnya tak dapat melihat siapa yang berada didalamnya. Sasuke tanpa sadar menghentikan mobilnya. Matanya melihat mobil itu mulai bergerak maju, dan begitu terik matahari menembus kaca depan mobil, ia hanya bisa mematung. Wajah itu, sama seperti yang ada dalam ingatannya empat tahun silam. Terlebih dengan sepasang mata hitam yang balas menatapnya, ia yakin orang itu adalah Itachi yang dikenalnya. Dan keyakinan itu bertambah saat mobil itu melewatinya, memperlihatkan Naruto yang seakan tak menyadari keberadaannya, memperlihatkan sunggingan bibir licik yang di pertunjukkan kepadanya.
Seolah oksigen yang tersebar diudara tak dapat dihirupnya, ia mulai kesulitan bernapas. Kepala seakan pecah. Sakit, sesuatu dalam dirinya menggeram.
"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus melupakannya. Tapi bagaimana dengan Naruto?" Sasuke mencengkeram erat kemudi yang dipegangnya. "Itachi pasti merencanakan sesuatu. Aku harus menghentikannya. Aku hanya harus mengontrol emosi ku terlebih dahulu. Kalau tidak dia akan-"
"Argh." Sasuke memegang kepalanya yang bertambah sakit. Rasanya berdenyut-denyut dengan ribuan paku disetiap denyutannya. Sakit yang terlalu membuatnya terpaksa membungkukkan badan, dibiarkannya kepala yang terantuk setir. "Tidak bisa, aku harus menahannya. Semua gara-gara Itachi."
Bunyi klakson mobil yang mengangetkan bearsal dari belakang mobilnya. Kepala bersurai hitam itu perlahan mendongak. Menarik napas panjang sebelum menghembuskannya dengan tenang. Kaca mobil memantulkan seringaian yang terbit dibibir Sasuke.
"Itachi, aku tidak takut padamu."
~oOo~
"Aku pulang."
Pintu terbuka, sepi menyambut Naruto yang baru saja datang. Ruang tamunya temaram, hanya disinari cahaya senja yang menerobos jendela. Kepalanya mencari saklar lampu.
Ctik.
Terang lampu membuatnya melihat lebih baik. Ia kemudian berjalan menuju dapur sembari melonggarkan dasi di lehernya.
"Kenapa tidak ada orang?" Gumamnya. Dibukanya kulkas dan mengambil sekotak jus lalu meminumnya.
"Ahh.." Puas minum, ia mendudukkan diri di kursi makan. Dan baru ia ingat, saat ia memberitahu Ibunya lewat telpon bahwa ia akan pulang terlambat karena bermain ke rumah teman, sang Ibu juga bilang kalau hari ini Ibunya ikut Ayahnya yang mendapat tugas Dinas keluar kota sampai besok. Tidak heran kalau rumahnya sepi.
"Tapi dimana dia?" Pikir Naruto saat ia mengingat Sasuke. Namun tak dipikirnya lebih jauh, bukan urusannya jika Sasuke tak pulang atau bahkan menghilang.
Ia membuka almamater merah yang dipakainya, kaki tannya berjalan menuju ruang tamu. Sesampainya disana, ia lemparkan kain merah itu di atas sofa.
"Kau sudah pulang rupanya?"
Suara yang berada diujung tangga menghentikan langkahnya. Disana Sasuke terlihat masih mengenakan seragamnya lengkap.
Tap, tap, tap.
Kaki yang menuruni tangga kayu terdengar konstan. Memutuskan untuk mengacuhkan saudara tirinya, ia berniat untuk duduk di sofa panjang sebelum melihat wajah itu yang mulai jelas dilihatnya. Wajah itu tersenyum, namun senyuman itu nampak ganjil. Seperti seorang psikopat yang menemukan mainan untuk dirusaknya.
Keterdiaman Naruto membuatnya tak sadar jika Sasuke sudah berada di depannya.
"Bagaimana acaramu dengan-" Senyum itu semakin lebar. "-Itachi?"
"Bukan urusanmu."
"Benarkah?" Kilat jahil dapat ditangkap dari nada suara Sasuke.
"Minggir, kau menghalangi jalanku." Naruto yang kala itu hendak melewati Sasuke begitu saja terkejut dengan tarikan Sasuke yang dengan cepat menjatuhkannya di sofa panjang yang berada tak jauh darinya. Naruto yang setengah duduk setengah terbaring membelalakkan matanya saat dia dihimpit Sasuke yang menumpukan badan dengan kedua tangannya di sisian tubuh Naruto. Wajah mereka sangat dekat, Naruto yang hendak melayangkan protes didahului oleh Sasuke.
"Jika itu berhubungan dengan Itachi, maka itu menjadi urusanku." Sasuke mendesis marah, menatap lekat secara bergantian pada kedua safir didepannya.
.
.
To be Continued...
a/n : Halo, Yuu balik lg. ada yg kangen fic ini? Oh ya, sebelumnya, aku mau respect reviewer dulu nih...
Thanks to : Rei Kimi Na, gici love sasunaru, Aiko Vallery, , BlackCrows1001, broke lukas (b broke), Jun-Yo, sn. mf, Pensil Warna Biru Tua, onyx sky, Skydarkblue, bakteri ups maksudnya L casei shirota strain, shiraishi connan, choikim1310, RatuJudi, , Sharyn Li, fatan, mariaerisa, yutha, Mikichan, Reader, RyanryanforeverYaoi, Soyu567, Lee Yaa 714, SayuriDaiseijou, ryu sn25, uzumaki megami, Harukarara, GIRLSHEWOMEN, Habibah794, lia, himefujo729, naru, stellar, Za666, narti.c, Lhiae932, hunkailovers, Classical Violin, NoName, yassir2374, arifacandlelight, Novalia Airis, michhazz, .777, dewaagustasuryatno, ChulZzinPang, rahmachabikyu, InmaGination, Eun810, kuro SNL, versetta, Jasmine DaisynoYuki, quququ hahaha, kikisn, meo, YuRhachan, stlvyesung, uchiha sasunaru chan, hmntlzn, Guest(1), uzumaki 'namikaze' piiu-chan, meow, Guest(2), Guest(3), Guest(4), Guest(5), Guest(6), Huang Zhi Layla, fatahezafigopp, Akane-Rihime, Uchimi, ComeNLoveMe, Typeacety95, JustFans, finchleyxchan, Guest(7), Iyeth620, Icha, Guest(8), Kyutiesung, ppkarismac, KJhwang, Neko-Chan, arashilovesn, Guest(9).
ada yg belum disebut namanya? itu semua reviewer dr chapter 1 sampe chapter 4, buat yg komen di masing-masing chap, maaf, cuma disebut sekali, tangan hayati lelah, unamenya susah2 untuk dieja*dilemparpanci*. Dan juga, terima kasih alert Fav ama follownya.
Yeay, akhirnya bisa apdet juga. Gimana? Puas nggak? Chapter ini 2x lebih panjang dr chapter2 sebelumnya. Awalnya sih nggak ada niat buat bikin chap ini panjang, cuma kalo mau aku publish, rasanya kurang pas kalo bersambung, dan aku rasa di part ini pas deh bersambungnya. Dan, apa pertanyaan kalian terjawab di chapter ini? Yang tanya akan sikapnya Sasuke yang selalu berubah-ubah? Kuharap kalian bisa sedikit menyimpulkannya dr chap ini, karena aku sudah kasih clue T_T Enggg ada yang sadar nggak kalo adegan terakhir itu sama kayak yg di cover? aku niat buatnya sih gt, tapi gak tau juga sih kalau gagal *pundung*
Oh ya, Sins ini dr awal emang aku buat d rated M, dan waktu editing, mungkin aku gak sengaja ngeganti ratednya jd T. Dan yg pikirannya ngeres-ngeres (kek aku XD) yg pingin lemonnya di cepetin, sabar wae lah ya, bentar lg kok. hehe karena aku juga ingin fic ini gak terlalu panjang sampe 20an chapter.
Buat pembaca Maschera sama Cinta Dalam Hati, aku minta kalian untuk sabar menanti kelanjutannya, karena aku putuskan untuk fokus di fiksi ini dulu. Mungkin kalo lg pengen bgt, baru aku lanjutin yg fic 2 itu.
Terakhir, semoga jumat berkah membawa brkah juga untuk fic ini dengan review yang kalian berikan, yah, supaya aku tahu apa fic ini ada perkembangannya atau tidak, jg kelemahan fic ini yang bisa membantuku memperbaikinya.
Jadi, silakan mampir review, readers ^_^ See you ASAP!
Salam, Masta
23 Sept 2016
