The Fireman

Author: kurokuroninja

Disclaimer: Screenplays

Cast: ChanBaek / Park Chanyeol x Byun Baekhyun slight Vbaek/TaeBaek, VKook/TaeKook

Rated: M-for Mature

Genre: Drama, Romance,Fantasy, Angst (dikit doang)

Warning! Yaoi, Boys x Boys, BL, Miss Typo, alur acak-acakan, gaje, NC, Lemon, Frontal, No Sensor, Sexual Content, Dirty Language dan berbagai hal absurd lainnya. DLDR! Don't Like Don't Read! No Flame, No Judge, No Protest! Fanfic saya, suka-suka saya! Rawan Balita! Masih maksa baca? Author gatanggung jawab ;p

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

Chapter 2: Namanya Park Chanyeol

.

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

.

-Hwarang Senior High School, pukul 08.28 pagi-

.

Buruk.

Satu kata yang mampu mewakili keadaan seorang Byun Baekhyun.

Tugas-tugasnya sama sekali belum tersentuh. Kepalanya pusing tujuh keliling. Lingkaran hitam menghiasi daerah sekitar mata—ciri-ciri orang kurang tidur—ah—kalau diingat-ingat, bahkan Baekhyun tidak tidur sama sekali.

Great! Sekarang ia jadi terlihat seperti replika Tao—sang titisan kungfu panda.

Bayangkan! Baru memejamkan mata saja—dengan kurang ajarnya jam weker berbunyi nyaring tepat di telinga.

Sebernarnya, Baekhyun bisa saja tidak masuk dengan alasan sakit. Tapi—tidak. Entah kenapa perasaannya tidak mengizinkan. Lagi pula—tidak ada yang menyenangkan di dalam rumah kumuh kecil itu. Apalagi bersama alien gila menyebalkan. Yeah—lebih baik sekolah.

Alhasil, beginilah—terjebak dalam kondisi paling mengerikan sejagat.

Dan oh—fuck moment! Ini adalah kali pertama Baekhyun melewati ritual wajib—memakai eyeliner. Ia yakin wajahnya seribu kali lebih mengerikan dibanding zombie pemakan kubis.

Belum lagi—nyeri hebat di bokong. Membuatnya harus berjalan tertatih layaknya korban perkosaan.

Well—hampir benar. Taehyung memang menggagahinya semalam tapi dia menerimanya, tanpa unsur paksaan sama sekali. Jadi itu tidak masalah, bukan? Keduanya sama-sama menikma—okay stop!

Beruntung, adiknya yang kelewat brengsek masih memiliki hati nurani untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kejinya semalam.

Dengan sangat sabar, Taehyung membopong tubuh mungil Baekhyun sepanjang perjalanan. Dan—yang terpenting dari segala yang terpenting adalah—mereka tidak kesiangan.

Baekhyun berdoa, semoga setelah ini dewi fortuna ada dipihaknya. Ya. Semoga.

"Emmh—are you okay?"

"Masihkah kau bertanya seperti itu?—matamu buta, hah?"—tukas Baekhyun emosi. Kalau boleh, ia ingin sekali menelan alien nista di sampingnya hidup-hidup detik itu juga.

"Sssstt!" Taehyung menempatkan jari telunjuk di bibir sang kakak, menyuruhya untuk diam. Jujur saja, ia merasa risih saat kumpulan manusia berseragam sama melirik ke arah mereka dengan tanda tanya besar. "Kecilkan suaramu, hyung. Well—maaf, semalam aku kelepasan. Salahkan dirimu yang terlalu menggoda." Bisiknya sekecil mungkin.

Baekhyun menjawab dengan decihan sebal kemudian menolehkan kepala ke sembarang arah guna menyembunyikan gurat merah di wajah. Sial! Ini tidak bagus!

"Pagi, twins!" sapaan hangat itu muncul dari mulut terkutuk Amber Liu—si gadis jadi-jadian. Bitch please, kalau boleh jujur, ia tidak pantas di panggil 'gadis' sama sekali. Melihat dandanan yang tak ubahnya seperti preman pasar.

Rambut pendek sewarna blonde. Tiga tindikan di telinga. Seragam tak tertata rapi dengan kemeja di keluarkan plus terusan celana khas murid lelaki. Urakan dan 'tidak perempuan' sama sekali.

Kadang Baekhyun merasa heran, kenapa banyak orang-orang tidak waras mengelilingi hidup damainya? Adik, teman-teman—semuanya. All of them.

Amber seenak jidat mendaratkan sebelah tangan di pundak Taehyung. Merangkulnya sok akrab. "Kalian terlihat lucu sekali ketika sedang berjalan beriringan seperti in—Oh! Astaga!—" perkataannya berhenti ketika sepasang manik mata melihat keadaan super kacau Baekhyun. "—ada apa denganmu, Baek? Kenapa jalanmu seperti itu?"

"Aku—"

"Dia terjatuh di kamar mandi tadi pagi." Taehyung menyela cepat. Kakaknya terlalu 'pintar' untuk membuat alasan masuk akal.

Amber hanya mengangguk paham sebagai respon. Untung saja gadis jadi-jadian itu dikaruniai otak bodoh hingga tak menyadari semua kejanggalan ini. "Kalau begitu, cepat sembuh, kawan." Ucapnya menyemangati.

"Y—ya. Terimakasih."

"Pagi~" Datang satu lagi spesies aneh bin ajaib. Dia Xi Luhan—otaku cina yang mengaku lelaki sejati.

Dibalik sifat (sok) manly terdapat jiwa yang girly—sepertinya semboyan itu cocok bersanding dengannya. Tingkahnya saja yang terlihat manly tapi nyatanya—NOL BESAR.

Lagi pula dilihat dari manapun, Luhan tetaplah cantik. Mata yang indah. Senyum yang menawan. Hoo—jangan lupakan sifat manja, mulut berisik dan kecintaannya pada sosok hello kitty. Tidak ada bau lelaki sama sekali.

Amber—Luhan; sepertinya jiwa-raga kalian benar-benar tertukar.

"Pagi." Baekhyun membalas ala kadarnya. Sedetik kemudian ia mengernyit heran. Bukan—bukan pada si rusa maniak dan komik bodohnya. Melainkan pada sosok jangkung bertelinga aneh lengkap dengan senyum autis di sebelahnya.

Meski demikian, Baekhyun akui; pemuda itu terlihat keren dengan rambut sewarna abu-abu, tubuh tegap dan bahu lebar. Pembawaan dominannya pun sangat terasa. Ini baru namanya lelaki sejati.

"Siapa dia? Pacar barumu?" pertanyaan kurang ajar Taehyung langsung disambut pukulan keras di kepala. "Yak! Kau menyakiti kepalaku, dumbass!" tukasnya hiperbola. Seolah kepalanya terbuat dari serat kaca tipis yang mudah pecah.

Luhan membalas dengan dengusan sebal dan putaran bola mata, jengah. "Bodoh! Jangan sembarangan! Dia sepupu Kris—namanya Park Chanyeol. Si brengsek itu menyuruhku untuk mengantarnya ke ruang kepala sekolah."

Yang dimaksud menunduk hormat. "Annyeonghaseyo, Park Chanyeol imnida. Salam kenal." Katanya ramah.

Kedua mata Baekhyun memicing, memperhatikan penampilan Chanyeol dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kris memiliki sepupu?—ya, tidak heran sih. Mereka sama-sama tinggi. Cocoklah. "Oh, jadi kau sepupunya? Aku baru tahu kalau ketua osis super idiot, tonggos, sok tampan dan menyedihkan itu benar-benar memiliki sepupu. Kukira dia hanya membual."

Keempatnya terkikik geli—tak terkecuali Chanyeol. "Dia lucu." Tunjuk si jangkung riang.

Sebelah alis Baekhyun terangkat, heran. Apanya yang lucu? Dasar abnormal. Seperinya hidup damainya akan semakin terusik. Bersiaplah!

"Well—tentu saja—karena dia Byun Baekhyun; mood maker kelas kita." Kekeh Luhan sejenak sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada arloji merah muda di pergelangan tangan. Astaga—selera yang buruk.

Eh—tunggu dulu—mood maker katanya?—sejak kapan?

"Kajja! Sebaiknya kita bergegas, Park." Rusa Cina kembali bersuara. Tangan mungilnya meraih tangan besar Chanyeol dan menyeretnya secara tidak elit. "Kalian semua—sampai bertemu di kelas." Tambahnya lagi seraya pergi menjauh.

Enyahlah dan jangan pernah kembali lagi—batin Baekhyun jengah.

.

.

.

.

Puk—Jung Yunho menepuk pundak seorang murid baru. Yang tak lain dan tak bukan adalah Park Chanyeol, pemuda tampan namun idiot yang ditemui di koridor sekolah. Kini ia tengah berdiri di hadapan seluruh siswa kelas 2-3, termasuk Baekhyun dengan cengiran khas.

Sesekali si jangkung melayangkan pandangan, melirik sosok manis pecinta strawberry dengan senyum khas. Dan itu sukses membuat mpunya risih setengah mati.

Fuckin our classroom! Dari sekian banyak manusia, kenapa harus dirinya?

Sekarang Baekhyun yakin jika hari-harinya takkan seindah cerita dongeng bualan sebelum tidur.

Hei! Lagi pula Chanyeol hanya tersenyum. Lalu—apa salahnya tersenyum? Ia tidak melakukan hal menjengkelkan seperti—Amber yang seenaknya. Luhan yang selalu berisik dan heboh membicarakan komik keluaran terbaru. Atau adik kembarnya—Taehyung yang memiliki kelainan jiwa sejak dalam kandungan.

Entahlah—Baekhyun hanya merasa risih. Firasatnya mengatakan bahwa semuanya tidak akan baik. Asal kalian tahu; firasat seorang Byun Baekhyun kelewat kuat. Jika firasatnya mengatakan, 'ini tidak akan bagus' maka tidak akan bagus.

"Nah—karena Chanyeol sudah menjadi salah satu bagian dari kelas kita, kuharap kalian bisa berteman baik dengannya."

"Ne, seonsangnim."—seluruh penghuni kelas berkata serempak.

.

.

.

Tiiiiiing!—bel berbunyi nyaring, tanda bergantinya jam pelajaran. Memekikkan telinga siapapun yang mendengarnya. Tidak ada lagi Jung Yunho. Tidak ada lagi pelajaran bahasa.

Dan yang paling penting—doa Baekhyun terkabul.

Jam pelajaran kosong sebab hari ini Cho Kyuhyun absen mengajar. Kabarnya—kerabat dekat beliau mengalami kecelakaan di luar kota. Entah harus senang atau sedih. Yang pasti sekarang Baekhyun merasa lega. Lega karena terbebas dari hukuman tugas menyebalkan. Yeah; meski sementara tapi—terimakasih, Tuhan.

Bagi sebagian siswa, kantin dianggap sebagai tempat pengungsian terbaik. Dan sekarang disinilah ia. Duduk bersama keempat makhluk abnormal—Taehyung, Amber, Luhan dan si murid baru—Park Chanyeol. Makan, minum dan saling tukar obrolan. Mengingat jam pelajaran kosong, jadi tidak masalah, 'kan?

"Oh—jadi kalian kembar." Tunjuk Chanyeol sambil memakan kentang goreng yang sudah dipesan sebelumnya dengan santai.

Taehyung mengangguk antusias. Tangannya merayap, menggapai bahu sang kakak di sebelahnya untuk mendekat. Baekhyun sendiri lebih memilih meminum milk shakenya dalam damai ketimbang ikut bergabung dalam perbincangan tidak penting. Ingat! Moodnya masih jauh dari kata baik.

"Yap. Bukankah kami terlihat mirip?"

Kedua mata Chanyeol memicing, memperhatikan Byun bersaudara dengan seksama. "Sepertinya—tidak juga. Kakakmu terlihat lebih manis dan—" ujarnya dengan tangan menopang dagu. "—cantik."

Merasa tersinggung, Baekhyun menoleh cepat ke arah si pelaku. Entah kenapa, perkataan Chanyeol terdengar seperti 'hinaan' di telinganya. Manis? Cantik? Gah! Apa dia buta?! Bitch please, dia seorang lelaki—"Yak! Jangan asal bicara, Park Dobby!" ia membentak tidak terima. "Aku seorang lelaki dan aku tidak manis apalagi cantik."

Ya ampun, Baek. Akuilah—jangan munafik. Kau tidak jauh berbeda dengan Luhan. Sama-sama cantik dan enggan mengakui kecantikan kalian. Tsunedre sekali.

"Chanyeol benar. Kau—manis dan cantik, hyung." Si bodoh Taehyung menimpali. Hazelnya menelusuri sosok sang kakak dari atas sampai bawah. "Lihat mata jeli itu, bibir ranum, kulit putih mulus, jari lentik, bahu sempit, tubuh ramping. Bahkan tanpa eyeliner pun kau cant—Hgggh!"

Baekhyun menghentikan ocehan mulut sialan Taehyung dengan cubitan fabulous di perut. Membuat pemiliknya mengerang kaget. Rasakan itu, adik durhaka! Bukannya membela kakakmu, malah seenaknya menimpali.

BRAK!—Luhan melempar komik ke atas meja. Hancur sudah konsetrasi dan imanjinasinya. "Ya ampun, kalian berisik sekali." rutuknya, sebal. "Kalian tidak lihat? Aku sedang membaca. Bisakah kalian tutup mulut kalian—selamanya?"

Baekhyun mendelik galak. "Dan bisakah kau lenyap dari hadapanku—selamanya, shitty fucking freak?!" balasnya tak kalah sadis. Nyali si rusa cina ciut seketika.

"Ngomong-ngomong, Park. Ada apa dengan tangan kirimu?" Tanya Amber, mengalihkan suasana. Tidak memperdulikan situasi perang dingin antara Baekhyun—si macan asia dan Luhan—si rusa maniak. "Kenapa kau menutupinya dengan sarung tangan?"

Yang ditanya langsung menghentikan acara sedot-menyedot bubble tea sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Ah—ini—" onyxnya beralih pada tangan kiri terbalut sarung tangan hitam khas pembalap kemudian tersenyum. "—ini adalah hadiah dari orang yang kusayangi."

Sebelah alis Amber terangkat, heran. "Hanya sebelah?"

Anggukan Chanyeol cukup memuaskan rasa keingintahuan. "Dulu—aku pernah menyakiti seseorang dengan tangan ini." si jangkung menjeda kalimat sesaat. Bayang-bayang tentang orang yang dimaksud melintas begitu saja. "Dia menutupi tanganku dengan sarung tangannya agar aku tidak menyakiti siapapun lagi."

Terdengar gumaman 'Hoo' atau 'manisnya' dari mulut keempat pemuda penasaran yang ternyata menyimak ceritanya sejak tadi. Entah hanya kebetulan saja atau memang cerita Chanyeol cukup menggelikan untuk di dengar—sungguh. Baekhyun jadi ingin buang air mendadak.

"A—aku harus pergi ke kamar kecil." Ujarnya hendak beringsut pergi. Namun baru satu langkah saja lagi-lagi nyeri fantastis di bokong tidak bisa diajak kompromi. Demi Tuhan, kalau boleh—Baekhyun ingin sekali menyodok anus pelaku perkosaan menggunakan besi panas supaya tahu rasa. Kejam.

Mengerti kesusahan sang kakak plus tatapan mematikannya yang seolah berkata—'bertanggung jawablah, brengsek!'—membuat Taehyung mau tidak-mau ikut bangkit dan membopong tubuh si mungil.

"Emh—sepertinya aku juga harus pergi. Sampai jumpa."

Oh God—Taehyung merasa seperti suami yang akan mengantar isterinya melahirkan.

.

.

.

.

Tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk menuntaskan seluruh hasrat buang air. Lagi pula, ia benci berlama-lama di tempat bau itu. Bitch please! Kamar mandi sekolahnya adalah kamar mandi terburuk sejagat raya.

Membayangkan bagaimana tampilannya saja, sontak membuat lambungnya menjerit galau. Demi saus tartar, kalau bukan karena pesan mendiang sang ibu yang menyatakan—'tidak baik menahan buang air'—ia sama sekali tidak sudi menginjakkan kaki disana.

Apa gunanya pengurus sekolah?—membersihkan toilet saja tidak becus. Gah!

"Ayo pergi."

"Sudah selesai?" Adik semata wayang bertanya heran. Dengan kedua tangan terlipat di dada dan punggung yang menyender di ambang pintu toilet dengan santai. Dipandanginya sang kakak yang masih berjalan terseok. "Cepat sekali."

"Tentu saja. Untuk apa berlama-lama di tempat mengerikan ini?—menanak nasi?!" dengusnya yang langsung dibalas kekahan geli dari si lawan bicara.

Tak heran, Luhan menyebutnya—mood maker—meski dalam keadaan marah, Baekhyun tetap terlihat lucu dan menggemaskan.

"Baiklah. Ayo." Dengan sigap, Taehyung segera merangkul pundak sang kakak lantas membopongnya menjauh pergi.

.

Koridor nampak sepi. Ketukan antara sepatu dan lantai terdengar nyaring bersatu padu dengan rintihan kecil Baekhyun dalam dekapan. Ugh! Pasti sakit sekali.

Samar-samar, Taehyung bisa mendengar ocehan guru di balik ruang kelas yang tengah asik menggumamkan tentang—'bagaimana cara membuat anak yang baik dan benar'—kalian tahu?—Reproduksi.

Aish!—lupakan tentang reproduksi dan tetek bengeknya, okay? Sekarang kau hanya perlu fokus pada keadaan kakak manismu.

Dilihat dari manapun—Baekhyun—dia tidak baik-baik saja. Mungkin benar, ia terlalu keras menghantamnya semalam. Tapi—hei! Ini bukan sepenuhnya salah Taehyung, bukan? Si maniak eyeliner dan tubuh seksinya itulah yang salah karena telah membangkitkan libido.

"Hyung, sebaiknya kita pergi ke UKS." Usulnya yang langsung diterima anggukan lemah. Yeah—Baekhyun memang membutuhkan UKS. Segera! Semua ini sungguh membuatnya tidak nyaman.

.

.

Klek—pintu sewarna putih gading terbuka pelan. Tidak ada siapa-siapa disana? Kemana perginya suster Kim? Tidak biasanya wanita berbokong montok itu absen. Ah—seberapa pun montoknya; Taehyung pikir—milik Baekhyun jauh lebih montok dan kenyal meski sudah dipakai berkali-kali.

Dasar mesum.

"Ew—hentikan senyum itu, jerk! Kau membuatku semakin mual." Entah kekuatan dari mana—Baekhyun seolah tahu isi kepala pemuda oranye yang hampir seluruhnya diisi oleh yadong, yadong dan yadong.

Taehyung terkekeh tidak bersalah kemudian berdalih—"Senyum itu ibadah."—ya, ibadah.

Tapi sambil membayangkan bokong seksi kakakmu sendiri? Idiot sekali.

Bagaimana bisa Tuhan meninggalkannya bersama adik macam dia?

Baekhyun mendesah lelah sembari memijat pangkal hidung. Enggan membalas pernyataan absurd sang adik. Terlalu lelah.

Perlahan Taehyung mendudukkan tubuhnya pada sebuah kasur kecil. "Tunggu disini. Aku akan mencari krim untuk menyembuhkan nyeri di bokongmu." Tuturnya yang langsung dibalas anggukkan lemah dari lawan bicara.

Selagi si idiot pergi mengambil krim pereda nyeri, Baekhyun menyenderkan punggungnya ke tembok. Sekedar melepas penat atas segala kejadian sinting yang menimpa akhir-akhir ini.

Tanpa sadar kedua matanya terpejam. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bayang-bayang tentang kejadian dulu hinggap di kepala. Tentang hidup damai—dimana hanya ada ayah, ibu, Taehyung dan dirinya. Saat itulah, Baekhyun mulai merasa amat rindu pada sosok mereka. Betapa indahnya masa-masa itu.

Byun sulung ingat betul, bagaimana saat ibunya memeluk mereka dikala hujan yang melanda di balik jendela rumah. Atau sang ayah dengan kisah-kisah dongengnya yang menarik. Dari segala dongeng yang beliau ceritakan, Baekhyun paling menyukai Petterpan.

Seperti halnya Petterpan, ia tak ingin menjadi dewasa. Akan lebih menyenangkan bila kita terus bermain dan tidak mengetahui busuknya dunia.

"Hyung." sahutan Taehyung membuyarkan segalanya. Bocah itu sepertinya berniat memotong jantung kakaknya sendiri.

"Y—ya?"

"Kenapa diam saja? Ayo cepat buka celanamu."

Kalimat frontal Byun bungsu sontak mengundang tanda tanya besar. Baekhyun mengernyit. Antara bingung dan tidak percaya. "A—apa?! B—buka celana katamu?!" sarkasnya keberatan, "Kau gila! Kau baru saja menggagahiku semalam dan sekarang kau—"

"Hyung, please." Potong Taehyung disertai dengusan malas.

"Singkirkan pikiran negatif dari otakmu. Aku sedang tidak ingin mengggahi, memperkosa, bercinta atau apalah itu. Aku hanya ingin mengobatimu." Lanjutnya sembari menggoyang-goyangkan botol kecil berisi krim pereda nyeri. "Kau lihat ini, kan? Demi Tuhan, aku takkan memintamu membuka celana jika anusmu berada di dengkul."

Ah ya. Benar. Baekhyun hampir lupa jika tujuannya kemari adalah—untuk diobati. "B—baiklah." Perlahan tapi pasti, ia menuruti perintah sang adik. Jari-jari lentik mulai merayap. Menanggalkan celana beserta underwear sewarna merah muda. Ya Tuhan, feminim sekali.

Taehyung merasa ada sesuatu yang mencekik lehernya. Bernapas terasa sulit sekali tatkala sang kakak berbalik dan memposisikan dirinya menjadi menungging. Tak lupa dengan kedua tangan yang bergerak, membuka belahan pantatnya sendiri. Memperlihatkan lubang merah muda yang berkedut liar. Juga wajah memelas Baekhyun yang terlihat so—erotic?

Fuck! Bagaimana bisa kedua orang tuanya melahirkan makhluk seindah ini? Lord, cobaan apa lagi yang kau berikan padaku?

Kalau boleh jujur—Taehyung jadi ingin menggagahi lubang lezat kakaknya sekali la—

"Mau sampai kapan kau memandangi bokong seksiku? Hah?!" hazel Baekhyun memicing curiga. Alien tengik ini pasti sedang memikirkan hal yang tidak-tidak. Lihat saja wajah mesum itu. Menjijikan.

"Cepatlah. Jangan buang-buang waktu." Sambungnya lagi.

Gulp!—kuatkan imanmu, Byun Taehyung. Kau hanya perlu mengoleskan krim itu pada lubang kakakmu. Hanya mengoleskan saja, tidak lebih. Lalu semuanya akan selesai.

"O—okay." Berbekal keyakinan dan tekad, pemuda bersurai oranye itu mulai mencolek krim sebelum akhirnya mengoleskan pada lubang merah muda menggoda. Dengan perlahan dan—

"Angh~pelan-pelan—sssh!"

Owh—shit! Jangan mendesah, kumohon—batin Taehyung resah.

"O—okay. Okay. T—tenanglah." Sesuai permintaan Baekhyun. Ia mulai melakukannya lebih halus dan lembut. Mengelus permukaan kemudian memasukkan jarinya perlahan. Namun tetap saja—desahan, erangan, rintihan sang pemilik bokong masih terus melantun seperti musik dari band kesukaan.

Terlebih ketika rectum hangat itu mencengkram jari telunjuknya, lapar. Minta dipuaskan.

Taehyung harus dihadapkan pada situasi sulit. Pikirannya mulai berkecamuk oleh ocehan-ocehan bising malaikat dan iblis yang mengacaukan rasio.

Disatu sisi berkata—'Singkirkan napsumu sejenak. Singkirkan. Ini tidak benar.'

Sedangkan di sisi lain—'Ini kesempatanmu. Puaskan kakakmu atau kau akan menyesal.'

Arrgggt! Sial! Sial! Sial! Pilihan yang sulit. Rasanya Taehyung ingin menggorok lehernya sendiri sekarang ju—

"Ahh—T—Tae—uuh—pelan."

Tapi—sepertinya ia tahu mana yang harus dipilih.

Bocah alien menyeringai nakal. Hoo—cacing pita pun tahu apa arti seringai menjijikan itu.

Selamat iblis. Kaulah yang menang.

Dengan seenak jidat, Taehyung memasukkan jarinya lebih dalam. Sesekali menggodanya dengan menggaruk-garuk rectum sang kakak. Membuat pemiliknya sedikit mengerang. Terkejut dengan aksi tiba-tiba sang adik tercinta.

"W—what are you, d—doing—ah! Ah! T—tae! Ngggh—"

"M—maaf, hyung. Aku sudah tidak tahan. Kau terlalu menggoda." Seringai Taehyung semakin menjadi. Ia menambah dua jarinya sekaligus. Membobol lubang hangat Baekhyun membabi-buta. Cepat. Barbar. Dan bernapsu.

"Y—you ass—aaah—hhh—asshole! Nggaaaah!"

"Oh yeah—aku anggap itu sebagai pujian." jawab si oranye, sinting. Sepertinya akal sehatnya sudah tertimbun gumpalan napsu. Bedebah.

"Kkkkh—fuck! Hhaaah! Awas kau anak nakal! Aaaah~" Baekhyun dibuat semakin tidak berdaya. Sebab tangan lain Taehyung terjulur memainkan benda ereksi yang menggantung diantara kedua kaki. Memerasnya, seperti memeras susu sapi.

Ini tidak bagus. Kedua tangan yang semula bertugas membuka belahan bokong sintal kini beralih menahan berat tubuhnya. Sialan kau, Taetae!

Suatu saat aku benar-benar akan menyodok lubang anusmu yang terkutuk itu dengan besi panas!—Baekhyun menggeram dalam hati.

"Ah—"

BRAK!—sadar jika suara itu berasal dari pintu UKS yang terbuka. Si kembar, mau tak mau menghentikan aktivitas bejat mereka sejenak. Keduanya memutuskan untuk menoleh ke arah sumber suara dengan gerakan patah-patah dan tatapan horror. Perasaan tidak enak menyelimuti sanubari.

Dan benar saja. Di depan sana, berdiri seorang pemuda berwajah manis. Lengkap dengan kedua mata terbelalak tak kalah horor, mulut mengangah lebar plus tubuh yang mematung kaku.

.

Tiga..

.

Dua..

.

Satu..

.

W—WHAT THE HELL!

Tanpa ba-bi-bu; dengan cepat, Taehyung segera melepas ketiga jarinya tergesa-gesa. Begitu juga dengan Baekhyun. Ia segera menarik selimut terdekat dan menutupi daerah privacynya. Lupakan tentang rasa sakit yang mendera bokong.

Oh, man! Mimpi buruk macam apa ini?! Dipergoki sedang melakukan aktivitas tidak senonoh merupakan hal paling mengerikan. Bolehkan Baekhyun menceburkan diri ke dalam sungai yang dipenuhi piranha kelaparan dan tewas bahagia sekarang juga?!

Terkutuklah Taehyung yang lupa mengunci pintu UKS! Terkutuklah!

"S—s—sepertinya a—aku mengganggu 'acara' kalian. K—kalau begitu a—aku p—pergi dulu." pemuda manis itu tersenyum kikuk dan bersiap pergi.

Namun seorang pemuda lain datang, menghentikan langkah si manis. "Jungkookie kau sudah menemu—ow!" seperti halnya Jungkook. Pemuda berwajah sangar ini pun nampak terkejut melihat penampilan Byun bersaudara.

"U—ups! S—sorry. S—silahkan lanjutkan." Ia melanjutkan kalimat yang sempat terpotong seraya menarik keras tangan Jungkook. Menjauh dari tempat yang dirasa rawan ereksi. "Ayo kita pergi."

.

Hening.

Tidak ada satu pun yang mengangkat suara. Otak mereka seolah mati rasa. Terlalu Shock menghadapi kenyataan. Sampai akhirnya—

"BYUN TAE-HYUUUUUUUUUUUUUUUNG!"—Baekhyun mendesis murka. Dan Taehyung tahu jika semua ini bukanlah pertanda baik untuknya. Bersiaplah.

.

.

.

.

.

-Maid Cafe, pukul 08.00 malam-

.

Hufft!

Satu helaan napas kasar, lolos begitu saja dari bibir plum Baekhyun. Mengingat kejadian yang menimpa tiga hari lalu membuat kepalanya terasa pening bukan main. Oh shit, tidak ada yang lebih memalukan selain—ah sudahlah.

Sesungguhnya, Baekhyun sangat malas membicarakan topik sialan ini. Tapi apa daya. Ingatan tentang kejadian memalukan itu terus mondar-mandir dalam otak seperti strikaan butut.

Ya—semoga saja, bocah kelinci dan temannya—si muka sangar—tidak melaporkan insiden memalukkan mereka ke hadapan kepala sekolah. Jika itu terjadi—maka matilah sudah.

Demi ubur-ubur, semua ini gara-gara si brengsek Taehyung. Sekali lagi—jika Baekhyun tak ingat bahwa seorang Byun Taehyung adalah adiknya. Adik kandungnya sendiri. Sungguh, mungkin si alien mesum harus berkata 'selamat tinggal' pada penis kebangaannya. Karena Baekhyun takkan segan memotong benda pusaka itu menggunakan sekop tanaman.

Gila. Sadis.

Jangan salahkan dirinya, bila Taehyung harus menikmati mimpi indah dibawah alas kayu. Ditemani ribuan kecoa menjijikan. Rasakan!

"Kau baik-baik saja, Baek?" tanya Seulgi dengan nada khawatir yang sangat kentara. Bagaimana tidak? Lihat saja wajah si lawan bicara yang nampak seperti mayat hidup.

Rambut acak-acakan, kulit pucat dan lingkaran hitam di mata. Miris. "Wajahmu terlihat sangat pucat. Sebaiknya kau istirahat, ya? Serahkan semua pekerjaanmu padaku."—astaga, Baekhyun tidak selemah itu. Secantik apapun dia, dia tetaplah seorang lelaki.

Sayangnya, saran Kang Seulgi sama sekali tidak berpengaruh. Baekhyun menggeleng pelan sebagai respon lantas berkata, "Aku tidak apa-apa. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku."

"Kau yakin?"

Sebuah anggukan kecil menjadi balasan. "Aku tidak apa-apa." dan setelahnya, senyum simpul terangkat di sudut bibir pemuda bermarga Byun.

Ting—suara dentingan bel terdengar nyaring di ambang pintu. Pertanda datangnya tamu. Sontak membuyarkan pikiran keduanya. Dengan sigap, Baekhyun segera berlari menuju sumber suara. Menghindari pertanyaan Seulgi merupakan pilihan yang tepat.

Jujur saja, ia tidak suka bagaimana cara gadis itu mengkhawatirkannya. Terkesan sedikit err—berlebihan mungkin. Tapi ya sudahlah. Baginya, melayani tamunya saat ini jauh lebih penting.

"Selamat da—"

Ah—mungkin juga tidak.

"—tang." Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Bola mata Baekhyun nyaris keluar ketika menyaksikan kenyataan jika tamunya malam ini adalah dua orang yang sangat ia kenal. Sama-sama tinggi menjulang bak menara kembar. Sama-sama menyebalkan. Sama-sama memuakkan.

Siapa lagi kalau bukan naga terbang dan sepupunya—si yoda idiot.

Jauh di dalam lubuk hati yang terdalam, Baekhyun memblack list hari sabtu menjadi hari sialnya. Mulai sekarang ia akan sangat membenci hari sabtu. Ingat itu!

Dewi fortuna, bolehkah aku meminta sebuah permohonan?—tolong bunuh aku sekarang juga. Pertemukan aku dengan kedua orang tuaku di surga. Kumohon.

.

.

.

.

"Humm.." Chanyeol terlihat berpikir keras. Dahinya mengernyit. Bola matanya menjelajah halaman demi halaman. Sesekali mengusap dagunya.

Meja empat belas. Terletak di sudut ruangan, dekat jendela. Tempat yang sangat disukai oleh sebagian orang termasuk dua pemuda tinggi yang Baekhyun yakini sebagai pembawa sial. Pembawa bencana. Pembawa malapetaka.

Oh—apa ini? Sejak kapan kepala abu-abu berubah menjadi dark brown. Hoo—rupanya si Park merubah warna rambutnya, eh? humm—tidak buruk. Terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya.

What? Barusan Baekhyun menyebut Chanyeol apa? tam—okay, lupakan.

Sudah lima belas menit lamanya manusia idiot itu berkutat dengan buku menu. Tingkahnya entah kenapa membuat Baekhyun berkeinginan besar untuk menyiram otak si pelaku dengan asam sulfat. Benar-benar menjengkelkan.

Tenangkan dirimu, Baek. Rileks. Tetap tersenyum. Jadiah waitress yang baik atau kau tidak akan mendapatkan gaji bulananmu.

"Cepatlah, tolol! Aku sudah lapar." Kris—si maniak ayam—mengendus sebal. Seperti biasa, gaya pengucapannya masih terkesan sok cool namun menusuk. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Ciri-ciri orang bosan, kesal dan—lapar. Sudah pasti.

Well, naga sinting itu benar. Cepatlah atau aku akan menancapkan garpu di atas kepalamu—dalam angan, Baekhyun menimpali. Untuk pertama kalinya ia setuju dengan perkataan mengagumkan yang dilontarkan mulut terkutuk Kris.

"Sabar, dude." Chanyeol berkata santai, tanpa mengalihkan perhatian dari buku menu. Ia menganggap perkataan fabulous sepupunya hanya angin lalu. "Bukankah kau selalu berkata seperti itu padaku—kau tahu? sabar, hum?"

Skakmat! Kris hanya bisa mendecak kesal menerima 'ejekan' sepupunya. Ia tahu Park sialan sedang mempermainkannya.

"Ah, kalau begitu aku ingin taramasalata dan segelas lemon tea." Kata Chanyeol lagi. Sejujurnya, sedikit-banyak ia merasa prihatin melihat gelandangan kelaparan di hadapannya.

Astaga—benar-benar tidak tahu diri. Bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu pada sepupunya sendiri? Memangnya siapa yang membayar semua makanan ini selain seorang—Kris Wu?

Baekhyun mengendus pelan. Setelah sekian lama, akhirnya si otak udang Park menjatuhkan pilihan. "Baiklah—satu porsi taramasalata dan segelas lemon tea." Katanya seraya mencatat pesanan yang dilontarkan. "Kalau begitu saya per—"

"Tunggu." Cegah Chanyeol meremat pergelangan tangan Baekhyun. Mencegahnya pergi. Mau-tidak mau sang mpu pun menoleh dengan seribu satu keheranan. A—apa yang dilakukan si Park? Kurang ajar sekali.

Sebelah alis Baekhyun terangkat, "Y—ya?"

Sepasang onyx memicing. Memperhatikan setiap jengkal tubuh maid di hadapannya. Dari mulai sepasang hazel bening. Hidung mungil nan bangir. Bibir semerah cherry. Rambut caramel berombak yang dikuncir dua. Tubuh mungil terbalut pakaian khas maid di serial anime kesukaan. Kaki jenjang yang dibalut kaus kaki hitam selutut dan sepasang high hells.

Baekhyun sendiri merasa risih dipandangi seperti itu. Tatapan Chanyeol terlihat mirip seperti orang tua cabul, mengingatkannya akan sesuatu yang membuat perut bergejolak mual. Perlahan ia melepas tautan tangan si jangkung dari tangannya. "Maaf, tuan."

"Kau terlihat tidak asing." Chanyeol menopang dagunya. Ia menatap Baekhyun dengan seringai jahil. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Deg—oh tidak tidak. Ini buruk. Jangan sampai Chanyeol menyadari penyamarannya. Sudah cukup dengan insiden 'pemergokan' nan memalukan. Jika yoda idiot mengetahui pekerjaan 'nistanya'—mau ditaruh dimana wajah ini? Di ember? Kloset? Atau kotak pandora? Astaga! This is fuck moment!

"P—permisi." Ucap Baekhyun pada akhirnya. Ia mulai melenggang pergi, meninggalkan keduanya dengan langkah seribu.

Tanpa disadari, sepasang onyx terus memperhatikan langkah Byun sulung yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang di ambang pintu. Lagi-lagi seringai jahil menghiasi wajahnya yang tampan.

"Binggo. Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik disini."

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

.

.

.

Anyeong, Kuro balik lagi dengan chap 2 yang super duper gaje dan abal kuadrat huahahahaha XD

Pertama-tama tentu saja, Kuro mengucapkan terimakasih pada kalian semua. Yang udah riview, yang udah fav, yang udah follow ataupun silent reader. Semuanya terimakasih banyak udah nyempetin waktu senggang kalian buat baca epep-ku hihi ;) *kecup satu-satu*

Setelah aku baca riview kalian, ternyata responnya baik hihi XD Kuro jadi semangat ngerjainnya hihi sukurlaaaaah makasih ya ;)

Btw, kalo misalnya ada kekurangan dan sebagainya. Barangkali ceritanya makin gaje ato gimana, kuro mohon maap yak.. hihi kebetulan mood kuro masih dalam keadaan kurang baik -,-. Doain ya, guys—semoga feel, inspirasi mood dan hasrat menulis Kuro balik lagi muah muah ;* hihihi

Dan mungkin untuk chap depan kalo updatenya telat maap (lagi) ya hihi ;)

Segitu dulu deh cuap cuap dari owe.. sampai jumpa di chap depan, cyn hihi ;) *big hug* pye pyeeeee (^o^)/

Riview please..