A/N:
Sebagai starter, saya menyarankan beberapa keywords untuk kamu cari di gugel (karena di sini ga bisa narok link) agar kamu bisa berimajinasi lebih baik. Atau kalau kamu males nyari di gugel, fic ini juga hadir kok di Archive Of Our Own dengan username saya MalconetteTara96, dimana link bisa langsung diakses.
Ilust Victuuri's Apartment: Romantic loft near Nevsky Prospekt with B & B serv St Petersburg Northwestern
Baju yang kamu pakai dalam fic ini: hollistersco button ront sherpa lined hoodie
Setting: St. Petersburg, Spring Season.
Enjoy~
Kopi Starbucks di kanan, credit card di kiri. Mataku terpejam, kuhirup udara segar. Orang lalu lalang. Suasana yang sangat ramai. Sepasang kekasih jalan bersama, orang yang terburu-buru. Jadi ini, St. Petersburg? Inikah hidup?
Setelah siuman (untuk yang kedua kalinya), Victor menyuruhku untuk berjalan-jalan di sekitar apartemen. Aku baru tersadar jika pakaian yang kukenakan sekarang masih pakaian yang lama, saat aku terjatuh dari jurang. Hanya saja ada jaket besar berwarna dongker yang melapisi. Tentu saja, Victor dan Yuuri masih punya rasa segan untuk tidak mengganti pakaian seorang perempuan yang bahkan lupa namanya sendiri.
Jadi Victor membuka laptopnya, mengetikkan sesuatu yang kutahu itu adalah bahasa Rusia. Kemudian memutar laptopnya dan berkata, "Silahkan pilih, yah aku buruk jika memilih fashion wanita. Jadi, ini terserahmu, pilih saja. " katanya sambil membentuk senyum hati. Aku melihatnya, mulai menelusuri.
Dan terperanjat.
"A-anu Tuan Victor."
"Panggil Victor saja."
"Ah, ya. Ini bukannya… terlalu?"
"Pilih saja, sesukamu, sebanyak apapun. Seorang lady pantas memakai pakaian yang lebih baik."
Oke, lady. Ya, lady. Tapi, Victor…Aku ini cuma seorang gadis biasa. Dan, ini semua bermerek! Kualitas branded nomor satu! Ya ampun lihat semua ini. H&M, Gucci, Louis Vitton, Urban Outfitters! Apaan?!
Aku meneguk air liurku sendiri, dan scrolling, mencoba menentukan pilihan. Oke, first bajuku itu harus hoodie, ya hoodie atau sweatshirt. Maaf Victor, tapi selera yang kau sebut aku sebagai lady ini adalah pakaian sederhana yaitu baju kaus yang ada penutup kepalanya. Yhaaa, banyak ahmed. Bagus-bagus lagi. Mulai puyeng, bukan karena ngeliat aestetiknya baju itu, tapi liat harganya.
"Bagaimana kalau kau memilih satu, dan sisanya beli di luar?" Yuuri tiba-tiba muncul di belakangku. "Kau bisa melihat-lihat sekitar sini, ya mungkin menemukan petunjuk tentang bagaimana kau bisa sampai kemari? Di sini banyak kompleks perbelanjaan. Jadi bisa lebih bebas kan?" Yeah, akhirnya momma Yuuri menemukan solusinya. Aku mengangguk cepat, lalu mulai scroll lagi. Pilihanku jatuh pada Button-Front Sherpa Lined Hoodie dari Hollister, dengan celana jeans panjang.
"Ok." Kata Victor. "Tunggu ya. Dalam beberapa jam juga bajunya sampai kok. Maaf kalau jaketku kebesaran." Dia tertawa. "Biasanya itu Yuuri yang pakai."
"Victor!" Yuuri merona semerah tomat. Aih, imut sekali. Pikiranku entah melayang kemana, membayangkan jika Yuuri memakai 'boyfriend jacket' dengan unyunya. Dan jaket itu adalah jaket yang kupakai sekarang. Iiih, tau tadi gitu ga usah beli lagi! Pake jaket bekas aja senengnya uda tumpah-tumpah.
"Hm, ada kamar kosong, jadi kau bisa memakainya." Yuuri menunjuk ke arah sebuah ruangan. Aku berdiri dan melongok ke dalam.
Interiornya menggunakan perpaduan warna hitam putih. Ada 'tempat tidur' yang langsung menyambung dengan jendela besar di sebelah kirinya. Dan aku membayangkan malam hari akan sangat indah saat kau akan tidur di situ. Ada TV di sudut sebelah kiri. Dan juga sofa.
"Sampai kita menemukan identitasmu lagi, tinggallah di sini." Aku berbinar, mengucap beribu terima kasih. Yuuri tertawa kecil, lalu mengusap kepalaku. Aku tertegun
"Kau manis sekali."katanya.
AHAAAAKHHHH
"Astaga, bertahanlah! Kamu kenapa?! Victor, dia mimisan!"
"Hm, bukan kesan pertama yang baik bagi seorang fans." Yah, yang lalu biarlah berlalu.
Aku menyesap café latte milikku, mencari informasi-informasi tentang tempat ini di smartphoneku. Bukan smartphoneku sih, punyaku hilang saat aku terguling waktu itu dengan tidak elitnya. Lebih tepatnya bekas punya Victor. Iphone 7 plus warna gold, bekas katanya, HAHAHAH. Warnanya enggak matching sama punya Yuuri, jadi beli baru katanya, HAHAHAH. Padahal tu hape juga dibungkus sama phone case kan?! Ga ngerti pikiran horang kayah.
Berdasarkan info dari Yuuri, nama jalan ini adalah Nevsky Prospect, jalan utama di St. Petersburg. Di sini jugalah mereka tinggal. Posisiku sekarang dekat Sungai Fotanka, tak terlalu jauh dari apartemennya. Yuuri menyarankanku untuk berkeliling dengan ditemani olehnya setelah mereka pulang latihan ice skating. Tapi, aku menolak dengan halus. Aku ingin mencari tahu sendiri, aku siapa, dan bagaimana ini bisa terjadi. Aku senang sekali jika ditemani mereka, seneng, bahagia banget malah. Berasa punya ortu Victuuri. Tapi aku tidak ingin menyusahkan mereka. Fangirl yang baik adalah menghormati privasi OTP-nya.
Jadi sebaiknya, aku berkeliling dulu.
Berbelanja seperti tak ada beban.
Dengan saldo kartu yang banyak nolnya.
Membeli borscht, makanan yang sudah lama ingin sekali kucicipi sejak menonton YOI.
Heheheh. Anggap aja liburan gratis, ini aji mumpung banget.
Urusan aku lupa siapa diriku, itu belakangan.
Uhuy.
Selesai berbelanja, aku berdiri di atas jembatan, menikmati aktivitas yang ada di sekitarku. Yaa, berasa jadi orang yang gadak dosa. Tapi tak lupa tujuanku berkeliling. Aku mulai menganalisis keadaanku layaknya para researcher di fandom YOI.
Pertama, aku secara ajaib mampu berbahasa Inggris dengan sangat lancar, walau kuakui tes IELTS dan TOEFL ku memang bagus. Tetap saja, yang namanya non-native speaker, rasanya aneh saja. Kedua, aku mencoba membuka akun media sosialku. Tapi, yak jenius sekali kamu nak. Nama sendiri lupa apalagi username dan passwordnya? Ketiga, aku masih memastikan diriku benar-benar hidup atau tidak. IYA AKU MASIH MERAGUKAN ITU. Rasanya ini benar-benar mimpi yang kelewat indah dan aku tak pernah merasa jika surga seperti ini. Tidak, tidak aku belum mati. Tapi kalau aku belum mati dan ini bukan surga, jadi aku dimana? Dan lagi kedua karakter fiksi itu hidup? Apakah ada kejadian astral menimpaku waktu itu? Seperti pergi ke parallel world? Apa yang terjadi saat aku pingsan?
Kepalaku mulai berat. Kulempar karton gelasku ke tempat sampah, memutuskan untuk kembali.
Tenanglah pelan-pelan saja, pikirku. Mulai sekarang, aku harus memikirkan diriku. Tidak mungkin aku terus bergantung kepada Victuuri kan? Aku harus tahu siapa aku dulu. Tapi tak ada petunjuk, yang kuingat hanyalah aku bertengkar dengan pacarku dan jatuh di jurang. Hanya itu.
"Selamat sore, nona." Seorang resepsionis menyapaku. Dengan kikuk aku menyapanya kembali. "Bisa anda tunjukkan kunci apartemen anda?" Aku menyerahkan sebuah kartu yang diberikan Victor padanya. "Nomor 1004, atas nama Victor Nikiforov." Aku mengangguk. Dia tersenyum. "Selamat menikmati sisa hari anda."
Aku mengambil kunci itu, dan berlalu pergi ke lift.
"Lantai 10." gumamku, menekan nomor yang ada di lift.
Suara orkestra lembut dari monitor kecil menyapa pendengaranku yang hanya sendiri di dalam. Oh ayolah, apa yang harus kuperbuat. Haruskah aku mencari orang yang berkebangsaan Indonesia? Kalau begitu, mulai cari darimana? Menyerah, mataku terpaku tanpa arti ke arah monitor.
"….The representations include an embassy in Jakarta.."
Apa? Jakarta dia bilang?
"…The Indonesian consulate is one of 357 foreign representations in Russia and one of 51 foreign representations in St. Petersburg…."
Itu dia! Kedutaan Besar Republik Indonesia!
Dengan tak sabaran aku berlari keluar ketika pintu lift terbuka. Tak sengaja menabrak seseorang dengan jaket berwarna biru, aku berteriak maaf. Oke, terlihat tak sopan tapi persetan. Akan kuberitahu Victor dan Yuuri untuk mengantarkanku ke konsulat, mungkin mereka bisa membuat pengumuman anak hilang di Indonesia? Terlihat konyol tapi ini satu-satunya jalan yang bisa kupikirkan setelah aku lupa dengan nama sendiri.
Ayo susun rencana, ini masih sore dan mereka baru akan pulang sekitar jam 6 . Aku akan menuliskan rencanaku di kertas supaya aku tak lupa, oh jangan lupa menaruh barang-barangku di kamar yang sudah disediakan Victor.
Aku memasukkan kartu pada slotnya, membuka knopnya tak sabaran. Lebih tepatnya mendobrak.
"Nnngaahh.."
Desahan?
Aku membuat suara mencicit tak karuan, ohmegad. Kuatkan jantung hambaMu.
Aku tertawa bego. Tas belanjaku jatuh dari tanganku. Ok, aku bisa merasakan diriku tersedak liur sendiri. Aku ingin melihat perubahan ekspresi di raut wajah yang terjadi sangat cepat.
Fanservis yang luar biasa, 9/10 spasiba, rasanya pipiku panas, error 404 Victuuri found.
"KYAAAAAAAAAAA EH MAAFKAN AKU AKU MENGANGGU KALIAN PERMISI SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA"
Aku langsung menutup pintunya, dadaku tak berhenti bergemuruh, nafasku tak beraturan.
Apah... ituh tadih? Aku menangkup wajahku, berteriak tanpa suara, gregetan sendiri.
KATANYA PULANG JAM 6 KO MALAH ENA ENA
Sempat error, otakku mulai mereka ulang. Victor mengangkat satu kaki Yuuri ke bahunya, bibirnya menyentuh dada Yuuri, sedangkan Yuuri, telihat kesusahan duduk di atas meja konseling, mulutnya menggigit ujung bajunya dengan wajah merah padam. Celana? Ohoh, sepertinya mereka berdua hampir menanggalkannya.
Uh, yea don't forget those bite-marks, everywhere, all along his body.
Aku terduduk di atas karpet beludru, memeluk lutut menyembunyikan wajahku. Aku tak tahan lagi kalau dihadiahi fanservis kayak gini! Bukannya aku tak senang tapi ini ga bagus buat kesehatan jantung tauk! Ini overstimulate namanya!
Beberapa menit kemudian, kudengar suara dari dalam kamar, samar-samar. Tak tahu apa itu, yang jelas tak terlalu kudengarkan karena sekarang aku masih belum bisa menyingkirkan pemandangan indah tadi dari kepalaku.
"Oi." Kali ini asal suara ada di luar kamar, aku mulai berhenti berkhayal. Kuangkat kepalaku menoleh ke asal suara.
Tepat di depanku.
Ya Tuhan cobaan apalagi ini?
"Kau yang menabrak tadi kan? Minta maaf macam apa itu?"
Aku menutup mulut, tanpa sadar memojokkan badan ke dinding.
"Oi, apa yang kau lakukan di depan pintu apartemen Victor."
Kepalaku, berat. Seperti ada yang mengambil alih.
Searching for keywords.
Found 1 match(es) program.
Russian Fairy
"OH MY GAD PRECIOUS BBY CINNAMON ROLL YURI PLISETSKY RUSSIAN FAIRY BEBEBNYA MZ BEKA THE SON OF VICTUURI –HMMPH!"
"Berisik! Kenapa kau teriak?! Aku tak tahu bahasa apa itu?! Aku jadi terlihat akan memerkosamu tahu?!" Mulutku langsung dibekap dengan telapak tangannya. Matanya tajam menatap mataku, rasanya sampai menembus jiwa.
Iya mz, diperkosa pun rela, asal sama elu.
"Bisa tenang tidak?!" Aku mengangguk cepat. Yuri Plisetsky, perlahan melepaskan tangannya. Aku terkulai lemah (ah elah, kayak baru diapain aja). Dia melihat ke kanan kiri, tak ada orang.
"Jadi, nona gelandangan tak jelas. Kenapa kau ada di sini?"
"APA KAU BILANG? GELAND –"
"HAAAAAH?!" Siyalan, suara dia lebih kuat.
"Aku…anak ilang… jadi nginep di sini… bentar…" Mencicit tak karuan, aku tak punya nyali untuk membalas dia. Aaaahh, setelah bertemu Victuuri aku bertemu Yurio? Apaan nih?!
"Ngomong apa? Yang jelas!"
Sebelum aku menjawab, pintu di belakangku terbuka. Surai keabuan Victor muncul.
"Yurio?"
"Hey." Posisinya tetap berjongkok ke arahku, mata Yuri beralih ke arah Victor. "Aku mengantarkan file-mu."
"File?" Victor mengernyitkan dahi. "Kan bisa dikirim dari –"
"Sekalian, mau ambil jaket yang ketinggalan. Kau lupa membawanya karena sibuk bercumbu dengan Kastudon."
"Oh."
Hening.
"Jadi kau akan membiarkan tamumu menjadi fosil di sini?"
"Oh? Maaf, silahkan masuk." Yuri mendecak, berdiri lalu masuk melewati Victor. Aku tak bergeming dari tempatku, jadi Victor meraih tanganku. "Little lady, sedang apa? Ayo. Oh kau sudah berkenalan dengan Yurio? Namanya Yuri Plisetsky, dia juga skater seperti kami." Aku mengangguk, tentu saja aku tahu siapa dia. Masa' fans sepertiku melupakan main character yang lainnya? Yang pairingnya telah disahkan yaitu Otabek Altin?
Aku mengikuti Victor dari belakang, aku tak melihat barang-barang yang kujatuhkan di sini. Mungkin sudah dipindahkan.
"Dan..." Victor menarik lenganku. "Tolong jangan lupakan kejadian tadi, tapi jangan disinggung di depan Yuuri, ya." Bisiknya di telingaku.
Duh mz, denger suaramu kayaknya bisa bikin hamil.
"Ya." Jawabku seadanya, mencoba mengabaikan rasa berdebar, seperti ada listrik cepat menjalar di tulang belakangku. Bulu kudukku berdiri. Yhaaa, ini persis kayak apps Situation Boyfriend di Play Store, dimana kau bisa mendengarkan seiyuu kece merayumu.
Tapi ini versi live-nya.
Dengan fave karaktermu.
Duh, dikasih nyawa 9 kayak meong kayaknya ga bakalan cukup juga untuk menanggung rasa "Kyuun" di jiwa.
Aku 'diseret' duduk di ruang tamu, padahal sudah kutolak. Sebenarnya segan, karena ini mungkin masalah antar mereka bertiga. Dan aku tak berani menatap siapapun dengan wajahku yang memerah ini. Tapi senyum berbentuk hati itu selalu berhasil membuatku luluh. Yurio sudah duduk di sana duluan dengan posisi seenak udelnya.
Aku duduk dengan tegang, Yurio sama sekali tak melihatku selain bermain dengan smartphone miliknya. Yuuri keluar dari dapur, menghidangkan teh, aku mengucapkan terima kasih.
Dan sekilas aku mencoba menatap matanya, tapi Yuuri menghindari kontak mataku, tanpa ekspresi. Bukan, bukan tanpa ekspresi.
Itu death-glare.
Eh?
Eeeh?
Mampus.
Mampus gue.
Kayaknya uda bikin salah nih.
Apa dia marah karena yang tadi?
Mamah, helep.
Aduh, atmosfernya berat amat.
Kenapa jadi gini?!
A/N: READ PLEASE!
hai,hai~ terima kasih bagi kalian yang telah membaca fic ini sampai ke chapter 2!^^
Dan saya belum sempet ngebalasin review kalian, tapi akan saya balas kok! pasti!
saia mikir "duh fic ini trash banget sih. Mana kata-katanya ancur lagi."
tapi, SEJUJURNYA SAYA ENGGAK NYANGKA BAKAL DAPET REAKSI SEPERTI ITU! KALIAN WARBIASYAH!
Dan saya ingin bertanya kepada kalian, SELAIN VICTUURI DAN OTARIO, CHAR YOI MANA YANG INGIN KAMU TEMUI?
Tolong ketik di kolom review ya~
Cao~
