"Victor…"
"Yuuri.."
"Ngghh.. Ja-Jangan. Ah!" Tangan Victor menyentuh, menelusup ke dalam celana milik Yuuri, menjilat telinga sang kekasih, mengulumnya, menggigitnya. Yuuri mendesah, tak tertahan. Lidahnya menjulur keluar, sepertinya sia-sia menahan suara di tenggorokannya. Matanya kabut, setitik air mata keluar dari ujungnya.
Setiap sentuhan, membuatnya gila, membuatnya lebih liar.
"La-Lady... Maafkan– Hnaaahhhngg..."
Tapi aku yang menyaksikannya, lebih gila.
"WAAAAAAAAAAAAA!" Aku terduduk, memegangi pelipisku yang berkeringat. Ya Tuhan, apa? Mimpi Cuma mimpi? Apaan mimpi rating 18 itu? NSFW banget! Kenapa? Aku ngapain semalem? Inikah efek karena dikasih fanservis terus-menerus? Aku menampar pipiku. Astaga, ini udah level bejad, level setan. Kenapa bisa aku bermimpi Victuuri bercinta di depan mataku? Aku menggigit bantalku kencang.
"Lady! Kamu kenapa?!" Pintu kamarku didobrak oleh seseorang bersurai abu-abu, tak lain dan tak bukan adalah Victor. Aku menggeleng.
"Cuma mimpi buruk." Kataku. Mimpi buruk? Menyaksikan otp-mu ena-ena di depanmu mimpi buruk?. Wow, aku bisa menang Oscar dengan kemampuan drama Queen-ku. "Ngomong-ngomong, ada bau gosong?"
"VICTOR!" Teriakan Yuuri membahana di seluruh rumah. Aku terkaget, demikian juga Victor yang terjengit. Aku segera melompat dari tempat tidur, berlari menuju dapur. Asap mengepul dari dapur. Aku panik, Victor panik, berlari-lari di dalam rumah tanpa tujuan. Victor seperti orang kesetanan, dan aku berusaha menenangkan diriku meskipun gagal dan memilih berdoa bersama Makkachin yang kebingungan. Full of chaos. Sepertinya cuma Yuuri yang masih bersisa akal sehatnya.
"Please kalian berdua! Apinya udah padam dari tadi! Ngapain lari sambil jejeritan kayak gitu!"
"Terakhir kali kau memasak, kau tahu apa yang kau perbuat?"
"Err. Memasak nasi, tapi masih mentah."
"Ya, itu juga. Aku bahkan melihat beras itu masih berfotosintesis. Sebelumnya?" Setelah insiden itu, Victor terpaksa 'diseret ke pengadilan' di atas meja makan. Ternyata dialah penyebab api di dapur tadi. Victor lupa mematikannnya saat mencoba untuk membuat pancake instan. Tadi niatnya mo bikin surprise buat Yuuri. Tapi nasib banget lu mz, yang instan pun harus berakhir tragis.
"Lupa." Victor meringis. Yuuri menghela nafas, sembari memasukkan sepotong telur ke dalam mulutnya. Ujungnya Yuuri juga yang bikin sarapan.
"Kau memasak telur… Bersama dengan kulitnya."
"Tapi kan, merebus telur dengan kulitnya."
"…kau memasaknya dengan minyak goreng! For God sake, berapa kali harus kubilang merebus dengan air, menggoreng dengan minyak! Dan sekarang kamu nyaris membakar apartemen ini!" Wih, ini sih udah parah banget namanya. Sebego-begonya gua masak, enggak gini juga kale.
"Iya, maaf."
"Aku heran bagaimana 20 tahun belakangan ini kau bisa bertahan hidup. " Yuuri memijat keningnya.
"Ya, ya sudahlah. Kan ada Yuuri. Selama ini aku makan makanan bergizi juga berkat Yuuri. Jadi tak masalah."
"Jadi kalau aku pergi?"
"Jangan!" Victor melepas garpu sendoknya, merangkul leher Yuuri manja. "Aku bisa mati tanpamu." Halah.
"Karena kekurangan Katsudon?" Yuuri memutar bola matanya, sudah tahu Victor bertujuan menggombal.
"Itu juga, tapi aku benar-benar tak bisa hidup tanpa kehadiran Yuuri." Yuuri merah merona, Victor berbisik di telinganya, tapi aku mampu mendengarnya. Sengaja? Aaaarghh, sadarlah Yuuri! Victor itu serigala! "Payah di dapur, hebat di ranjang" adalah mottonya!
"Yuuri." Ya, kelihatannya Yuuri sensitif di telinga. 'Yuuri~.. Oh my sunshine. Kau sudah melakukan kesalahan besar, menceritakan masakanku yang selalu gagal di depan orang lain eh – di depan calon anak kita. Bersiaplah, Kobuta-chan." Victor menyeringai, mengecup cuping Yuuri. Yuuri tidak merespon selain mengeratkan genggamannya pada lengan Victor. Yuuri mengigit bibir bawahnya.
Oi
Oi
Oiiiii apakah kalian sadar jika aku sedang susah payah mempertahankan ekspresi stoic-ku ini?!
Sepertinya Yuuri mulai menyadari aku yang menahan diri dari berteriak. "A-Ayo Victor! Ada rapat di Ice Palace hari ini!" Yuuri segera beranjak, melepaskan pelukan tunangannya. Victor cemberut. "Oh, lady. Maaf aku tak sempat membuat makan siang, jadi beli di luar saja ya? Ada shashlik enak di persimpangan." Aku mengangguk sembari mengangkat piring. Apa itu? Belum pernah coba.
"Little lady?" Victor memanggilku, ketika aku selesai membereskan meja. Segelas kopi susu disodorkan padaku saat aku tiba di balkon, tempat Victor berdiri menatap jalanan ramai Nevsky Prospect.
"Hm?"
"Kau sudah punya pacar?" Aku tersedak. Victor cuma tertawa sambil mengusap punggungku. "Hee~ Sudah ya?" Dibilang iya, kami bertengkar, aku tak tahu harus jawab apa.
"Mungkin, kira-kira ada. Kok tiba-tiba." kataku, mengelap susu yang tumpah di bajuku.
"Siapa orangnya?"
"Aku ingat wajahnya, tapi lupa namanya." Ya, aku lupa. Aku masih belum mendapatkan ingatanku. Nama sendiri lupa, apalagi nama dia?
"Aku tahu kamu bukan orang sini. Luar negeri? Apaka kamu ingat kamu berasal dari mana?"
"...Indonesia." Sesaat, kepalaku berdenyut kembali. Setiap kali aku mencoba mengingat 'rumahku', kepalaku selalu pusing.
"Oh!" Victor menjentikkan jari. "Bali?"
"Ya."
"Wow, itu jauh sekali. Aku dan Yuuri pernah liburan ke sana. Tempat yang bagus."
"Hehehe, ya… Tapi aku bukan dari daerah sana."
"Lady… Apakah kamu berpikir untuk kembali ke Indonesia?" Aku terdiam, tidak menjawab. Pelan, kupalingkan wajahku pada Victor. Dia tidak bergeming, masih menatap lurus ke depan dengan wajah serius. Pertanyaan kejutan. Kembali? Pulang maksudnya?
"Aku… tak tahu." Oh ya, benar juga. Aku masih belum memberitahu rencanaku ke konsulat. Mereka selalu sibuk, seperti orang tuaku. Pergi pagi, kemudian pulang sore. Dan, aku tak tahu.. jika aku memang harus memberitahu mereka…
Karena aku sudah terlanjur mencintai St. Petersburg. Tentu, tentu saja terkadang aku merasa homesick di sini. Tapi setelah mendengar pengakuan Victor, aku sedikit ragu. Haruskah aku tinggal di sini? Tapi bagaimana dengan segala yang kutinggalkan di Indonesia? Sekolah? Aku harus merubah arah percakapan. Entah kenapa, aku ingin lari saja dari masalah ini.
"Aku… mungkin… tapi…" Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di kepalaku. Victor. Dia mengusap kepalaku.
"Seorang lady itu tidak boleh sering cemas. Nanti cepat tua." Katanya, menampilkan sebuah senyuman besar berbentuk hati. "Aku tahu, ini berat untukmu. Kau kemari tanpa ingatan yang jelas. Bahkan nama sendiri juga tidak ingat. Aku mengerti jika kau tak ingin memikirkannya sekarang." Aku menengadah, mataku nanar menatap biru laut Victor. Ada kelembutan di sana.
"Victor… tidak suka aku di sini?" Wah, pertanyaan yang bodoh sekali, dasar jenius.
"Apa aku pernah bilang begitu? Atau Yuuri?"
"Ti-tidak! Kalian berdua sangat baik!"
"Hahaha, begitukah?" Victor menyentuh pipiku. "Aneh sekali. Aku tak bisa menganggapmu hanya sebagai 'orang asing yang lupa ingatan'.".
"…" Aku tak tahu harus menjawab apa.
"Pelan-pelan. Tenanglah, ingatanmu akan kembali. Sampai saat itu tiba, kamu bebas tinggal di sini. Ketika kau sudah mengingat semuanya, itu terserah padamu. Kau yang memutuskan." Katanya, mencubit pipiku. Aku meringis. "Hehe, manis. Lama-lama aku bakalan dianggap Yuuri selingkuh denganmu."
"Selingkuh sama siapa?" Mama Yuuri berkacak pinggang di belakang Victor. Victor tergagap. Nah loh, ketahuan sama mami ngerayu anak sendiri. "Sudah jam segini, dan kau masih pakai piyama? Dan kau menggombal dengan dia?" Yuuri menunjukku. Eh, enggak! Bukan gitu mamih! "Dasar pedo!"
Sebelum Yuuri menyelesaikan pidatonya, mulutnya sudah keburu dibungkam oleh bibir seksi milik Victor.
"Kamu cemburu sama anak remaja?"
"Bu-bukan!"
"Sepertinya iya." Victor menatapku yang nyaris pingsan. "Kamu suka vampir, little lady?" Aku belum berkata apa-apa, karena proses di otakku mendadak macet. Tidak menunggu jawabanku, gigi Victor mengarah pada leher putih Yuuri yang terekspos menggiurkan. Taringnya masuk, menusuk lehernya. Seakan Victor sengaja menunjukkan keposesifannya terhadap Yuuri padaku.
"Ngh! Vi-Victor!" Yuuri berusaha menarik baju Victor dari belakang, tapi Victor masih sibuk mengecup bite-mark di lehernya. Jilat, cium. Aku juga berusaha, berusaha mengalihkan pandanganku ke tempat lain, kau tahu! "Kenapa Yuuri? Takut dilihat tetangga? Gadis ini sudah melihatmu duluan. Keluarkan saja semua suaramu." Lelaki bersurai abu-abu itu gencar melakukan serangan di leher Yuuri. Aku ingin menghentikannya, tapi tak bisa! Aku hanya membeku di tempat. Dan Victor, ini sudah termasuk pemaksaan! Rape! Ada darah keluar dari lehernya, tidak cuma satu tapi di banyak tempat. Yuuri sudah terbiasa dengan semua ini?
"VICTOR!" PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Victor. "Keterlaluan! Dia masih anak-anak!"
Ah, benar kan. Baru pertama kali aku melihat lelaki bersurai hitam itu menangis. Tangannya memerah. Leher yang tadinya berwarna putih, menjadi ungu kemerahan di sana sini. Dia mengigit bibir bawahnya. Kemudian berlari masuk ke dalam, tanpa lagi berkata apa-apa. Victor menggaruk pipinya. Aku menghela nafas, memukul punggungnya.
"Minta maaf. Itu tadi berlebihan." Kataku sinis. Matanya menatap nanar padaku. Ini salahmu sendiri, dasar papa bego. Hayoloh ga dapet jatah lagi.
"Sekarang anakku yang memarahiku." Aku menepuk punggungnya sekali lagi, lebih keras, sampai dia terpental ke depan.
"Minta maaf sama Yuuri." desisku. "Kau tahu, aku jadi ikutan seperti tersangka di sini. Dengar ya Victor. Aku menyukai fanservis, tapi jangan menyakiti Yuuri. Dia masih malu kalau dibegitukan di depan orang lain." Yaps, Yuuri is cinnamon roll Victor. Seluruh fandom akan menyerangmu habis-habisan saat kau menyakitinya. Victor langsung patuh, menyusul kekasihnya ke kamar. Sedangkan aku bersiap-siap keluar, memakai sweatshirt berwarna abu-abu bertuliskan "Who's good girl". Mereka berdua di kamar, aku tentu saja tak bisa mengganggunya. Victor sedang sibuk memohon pengampunan, jadi kukirim saja SMS padanya.
"Victor, aku beli makan siang." Sent.
Sesaat sebelum aku keluar, Makkachin menghampiriku. "Woof!" Di mulutnya ada tali kekang.
"Makka mau jalan-jalan?" Dia mengitariku, melompat kesenangan. "Ok." Aku memasangkan tali itu di lehernya. Lagipula, ini bukan pertama kalinya aku mengajak Makkachin jalan-jalan.
Sebelum pergi, aku sempat medengar suara-suara gaib dari dalam kamar Victor dan Yuuri.
Sigh. Mungkin aku akan membelikan mereka makan siang juga.
Hari ini, Nevsky Prospect terlihat semakin ramai. Sepertinya mereka akan mengadakan festival di dekat sini? Makkachin mengibaskan ekornya ke kanan, ke kiri. Beberapa anak-anak lewat, menatapku seakan bertanya apakah aku boleh mengelusnya atau tidak. "Da." Kataku sambil tersenyum. Sang anak kecil berbinar, tangannya menoel-noel pipi tembem Makkachin, sampai orang tuanya memanggilnya. Anak itu melambai, mengucapkan selamat tinggal. Aku melanjutkan pencarian 'shaslik-katanya-enak' di sekitar persimpangan.
"Ok, dari sini, empat kafe… Dapat."
Restoran yang dimaksud Yuuri itu sebenarnya kafe semi outdoor bernuansa keluarga. Tempat duduk warna-warni berderet di luar. Pasangan, keluarga, teman, semuanya berkumpul di sini. Entah hanya sekedar ngopi atau makan nougat serta bersenda gurau.
"3 Shashlik, 3 tuna sandwich, take away." Kataku pada seorang pelayan. Sang pelayan mengiyakan, mempersilahkanku untuk duduk. Aku dan Makkachin menunggu di luar. Anjing ras pudel itu dengan patuh duduk tegak di sampingku. Aku mengelus kepalanya, lalu pandanganku beralih ke jalanan ramai Nevsky Prospect.
Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 2 minggu aku di sini. Semuanya menyenangkan, tak ada yang aneh. Tak ada tanda-tanda astral, emm kau tahu, seperti terbangun dari tidurmu yang sangat panjang (YES GUA MASIH BELUM BISA MOVE ON DARI KENYATAAN OTP GUA IDUP DAN MELANCARKAN SERANGAN 'CUMBU-CUMBU' DI DEPAN GUA DAN GUA GA AKAN PERNAH MUP ON) ataukah aku yang dicari sanak keluargaku di Indonesia.
Dialogku dengan Victor kembali tereka ulang.
"Kau sudah punya pacar?"
Oh ya, aku belum minta maaf padanya. Lho? Lho? Kenapa dari semua hal penting yang Victor tanyakan, yang pertama kali muncul adalah si dia?! Aku menampar pipiku, kenapa malah dia yang ada di pikiranku?! Bego! Dia sudah membuangmu! Dan yang lebih parahnya, mencela OTP-mu! Ayo sadarlah!
Sesuatu di kantung bajuku bergetar. Tanganku beralih ke smartphone, membuka lockscreen. Chat dari Yurio.
"Masih di apartemen Victor?"
"Lagi keluar, beli makan siang."
"Makan siang?" Aku memutar bola mataku. Orang Rusia biasanya ga makan lagi, karena sarapan di sini jam 9 sampai jam 12. Tapi syukurlah, Yuuri sepertinya menetapkan aturan makan 3 kali sehari di rumah Victor. Kalau tidak, perutku bisa kelaperan terus. Lha wong sehari-hari makan nasi, di sini cuman makan roti. Huft, orang Indonesia belum kena nasi, susah memang. Yuuri with his wonderful Katsudon and nasi di bawahnya made my life here.
"Tadi sarapan jam 8. Lagian, aku memang harus makan lagi."
"Oh. Btw, kamu tak terganggu dengan mereka?"
"Mereka? Victor dan Yuuri?"
"Ya. Maksudku, menjijikkan melihat mereka terus menempel satu sama lain." I'm not agree with you, angry midget kitten.
"Tidak. Yurio, kau harus tahu, mereka fluff couple banget." Sent.
"Yah, kupikir kalau kau tidak betah, kau bisa kemari." Apa? Yurio yang itu? Yurio yang judesnya minta ampun itu? Wow, pembicaraan tentang dunia kucing bisa mengubah segalanya. Tapi, aku ingin pergi sih. Flat-nya Yurio? Kata dia, Otabek numpang tinggal selama latihan di Rusia.
"Mungkin, kapan-kapan. Jika mereka mengajakku."
"Hm, ok. Oh, kemana Victor dan si babi itu? Aku tak melihatnya di Ice Palace." Mereka bercinta setelah bertengkar.
"Sakit. Yuuri kena flu, Victor ketularan."
"Haha. Nice. Hari ini mataku bersih dari percumbuan mereka di arena skating. Sudah ya, Otabek sudah menjemputku."
"Ok, hati-hati." Smartphone-ku kumasukkan ke dalam saku. Victuuri ya. Fluff couple, OTP yang berhasil melabrak semua pairing non canon di dunia perfujoshian.
Sebenarnya, bukan hanya fanservis. Apa alasanku menyukai Victuuri dibandingkan OTP-ku dari anime lain?
Aku menyayangi pairing ini lebih dari apapun. Aku melihat Victuuri sebagai sesuatu yang 'murni', yang 'indah'. Perpaduan skating dengan unsur shounen-ai. Mereka tidak menyiratkan pesan unsur BL yang seperti kebanyakan anime shounen ai tampilkan, 'Ketemuan, jatuh cinta, main di kasur'. Tunggu, kejadian pagi tadi beda cerita. Itu sih tak pernah ditayangkan di anime kan? Tapi, ditayangkan untuk mataku saja *kenapa malah bangga?*
Enggak, ada sesuatu yang lebih besar. Perasaaan yang benar-benar hanya dipahami antara dua insan. Dan semua itu dicurahkan tidak dalam frasa, tapi melalui tarian di atas es.
Dan aku menyukai itu, tidak, aku menghormatinya. Aku menghormati ciptaan Kubo-sensei dan grafis dari MAPPA. Sejujurnya saja, aku menyukai pernah berbagai anime tapi aku tak pernah sampai menantikannya hingga detik perilisan, dan anomali itu terjadi pada anime Yuri On Ice. Aku menunggu, berulang kali merefresh website penyedia anime bersub English favoritku, tidak menunggu subtitle Indonesianya keluar.
Ya, itu. Saking enggak sabaran sama kelanjutannya.
"Woof! Woof!"
"Makkachin?" Aku tersadar. Seseorang memanggil nama Makka dan aku menoleh. Siapa? Pakai kacamata hitam,dan topi. Kok kayak penguntit? Tapi di tangannya ada tongsis, eh tunggu.. jangan-jangan…
"Hai, namaku Phichit! Anjingmu mirip sama anjing temanku." Sebelum aku berteriak, dia sudah memperkenalkan dii duluan. Phichit, membuka kacamata dan topinya, menebar senyum sejuta peso.
"Phi-Phichit Chulanont?" KETEMU SAMA LEADER FANDOM VICTUURI! AAAAKKKKK! DIA LUMAYAN GANTENG! KULIT TAN-NYA TERNYATA EKSOTIS!
"Hei, itu kau tahu tentangku. Suka figur skating?" katanya mengulurkan tangannya. Laah, bukannya kebalik ya? Aku cepat-cepat menyambut jabatan tangannya.
"E, emm. Ya begitulah." Mana mungkin kan kubilang aku mengenalnya dari anime? "Dia memang Makkachin." Kataku sambil menunjukkan kalung di leher Makka.
"Oh, kau bertetangga dengan Victor? Kebetulan sekali! Aku tak mengerti jalanan Rusia, dan sepertinya tersesat. Bisakah kau menunjukkan apartemennya padaku?" Phichit menaruh barang-barangnya di meja. Ya ampun, ini sama rasanya ketika kamu bertemu 'teman seperjuangan, sedarah fujoshimu' di dunia nyata.
"O-Oh, bisa. "Sejujurnya, aku agak ragu. Victuuri sedang 'iya-iya' di sana, dan aku takut akan mengganggu privasi mereka. "Tapi aku sedang menunggu pesanan makan siang kami. Tunggu sebentar ya."
"Hm, tak apa! Haaah, syukurlah. Yuuri tak bisa dihubungi, begitu juga dengan Victor. Untung aku menemukanmu di sini." Dia mengelus kepala Makkachin. "Jadi, siapa namamu?"
"Eh?" Apakah tak apa-apa menceritakan ini? "Little lady."
"Hah?" Wajar saja dia tampak kebingungan
"Sebenarnya, Victor yang memberiku nama itu." Lalu kuceritakan semuanya tentangku pada dia. "Dan aku tinggal dengan Victor, untuk sementara."
"Kamu tinggal dengan Victor dan Yuuri?" Phichit nampak terkejut. Tentu saja, kehadiran seorang anak perempuan yang asalnya jauh dari Rusia serta tak jelas identitasnya di antara dua skater terkenal, pasti akan menimbulkan skandal. Apalagi ini di Rusia.
"Ya."
"Hooh."
Tunggu.
Ah, aku bego. Sumpah, dasar idiot!
Aku baru ingat satu fakta tentang Phichit.
Kau ingat Banquet saat Yuuri kalah di GPF? Kenapa foto-foto mabuk Yuuri tidak tersebar ke instagram?
Karena Phichit ga ada di sana.
Dan kalau dia ada, foto itu sudah pasti tersebar, secara Phichit itu Selebgram dengan meme iconic-nya ( ͡° ͜ʖ ͡°) Mata Phichit membulat ala Chibi Maruko-chan dan tangan setengah menutupi mulut, serta bibir membentuk lengkungan.
Ini gawat aku kelepasan. Bisa-bisa dia akan mengumumkan tentangku ke seluruh dunia, dari Instagram, Path, Facebook, LINE, bahkan Friendster sekalipun.
"Umm, bisakah kau rahasiakan ini dari publik?" Aku terserang rasa panik. Kehadiranku mungkin membuat gosip baru antara Victuuri, dan aku takut jika itu akan berpengaruh pada karir skater mereka. Tapi, apakah meminta Phichit dengan cara seperti ini cukup? Apakah aku harus… memukulnya…menyeretnya… memutilasinya TIDAK TIDAK TIDAK
"Tentu saja!" Phichit mengacungkan jempolnya, dan entah kenapa aku merasa dia tidak benar-benar menjaga rahasia ini. "Tapi, aku lumayan terkejut. Yuuri belum menikah karena belum mendapatkan medali emasnya. Tapi dia sudah punya anak? Ckckckck."
"Eh, bukan! Aku cuma tinggal sementara di sana."
"Hehe, bercanda." Sedetik kemudian, tatapan mata Phichit padaku berubah. Dari mimik lucu, menjadi serius. "Hei, menurutmu, kau mengganggu mereka?" Apa? Apa maksudnya?
"Emm, aku pernah bertanya. Mereka bilang aku boleh tinggal di sana semauku."
"Kau pernah melihat mereka bemesraan?"
"Ya." Hei, hei, apa-apaan? Kenapa aku merasa diinterogasi?
"Kau menyukainya?"
"Eh? Uhm.."
"Tidak merasa jijik?" Kenapa dia mulai mengintimidasiku? "Berarti kau memang menyukainya. Menurutku, itu hal yang tak pantas untuk seorang perempuan." Excuse me? "Kau sedikit aneh. Fetish yang aneh. Apa kau tahu konsekuensi apa yang kau dapat jika serumah dengan mereka?" Dari tatapan serius, berubah menjadi sedikit menjijikkan. Ugh, aku harus cari alasan apa untu keluar dari suasana ini? Seakan-akan menjadi penyelamatku, seorang pelayan datang mengantarkan pesananku. Aku berdiri, mulai mencoba celah untuk kabur.
"A-anu, kalau kau tetap ingin per –"
"Little lady… mungkin kurang sopan menanyakan ini. Tapi kamu fujoshi?" Phichit menatapku, tepat di bola mata. Aku tak bisa menghindar, pertanyaan itu sungguh menohokku. Kenapa? Apa yang terjadi? . Mendadak, aku merasa kesal, apakah dia membenci fujoshi? Kenapa dia memberondongiku dengan pertanyaan menyudut seperti itu? Aku tidak tahu, karena ini adalah dunia dimana semuanya, mungkin tentu saja tak bisa sejalan dengan pikiranmu.
Artinya, bisa jadi Phichit yang selama ini dikenal sebagai "Victuuri Leader" di fandom YOI, ternyata membenci fujoshi, meskipun dia sangat mendukung hubungan Victor dan Yuuri. Darimana aku tahu? Lihat saja interogasi tadi? Dan kenapa dia mencelaku sampai seperti itu? Dia tidak punya hak!
"Umm.. Ya." Aku memilih jujur. "Tapi, kenapa? Victor sendiri yang menyuruhku untuk tinggal! Lagipula kau juga merestui hubungan mereka kan? Berarti kau juga sama denganku!" Aku mulai marah, meski kutahan. "…." Phichit tak mengatakan apapun, selain diam sembari memainkan, menggeser layar pada smartphone miliknya. Tiba-tiba dia berdiri, mataku mengikutinya. Phichit, sekali lagi, menatap layar smartphonenya, lalu menatap mataku tajam. Ah, apa ini? Rasanya seluruh tubuhku bergetar. Apa aku baru merasa kesalahan? Tanganku menggenggam erat tali Makkachin. AKu harus pergi dari sini. Belum sempat aku kabur, tangannya menarik tanganku. Makkachin terpaksa mengikutiku dari belakang.
"He- Hei! Kita mau kemana?" Tanyaku, Phichit masih terus mengenggam pergelangan tanganku.
"Tinggalkan apartemen itu sekarang."
Yea, maaf telat update. Thor lagi ngerjain translate-an 'I Have You' dan bingung sendiri sama grammarnya.
Tentang "aku tak pernah sampai menantikannya hingga detik perilisan, dan anomali itu terjadi pada anime Yuri On Ice" itu murni pengalaman author. Jujur aja, hampir setiap minggu nungguin YOI rilis meskipun sub eng, dan enggak sabaran buat nonton padahal jam rilis dan pergi ke kampus itu berdekatan. -_- ya, tolong jangan ditiru.
Balasan review bagi Guest:
Victuri is Canon: Mz Beka jarang senyum, sekali senyum meltingnya tumpah-tumpah XD
Guest : Tenang, masih lanjut kok ;)
Setelah melihat jajak pendapat atas pertanyaan yang saya sajikan, saya langsung ngechat temen dan kira-kira begini reaksinya,
"Aku ngadain survei tentang fanfic yang semalem. Rata-rata mereka pada ga mau balik ke Indo."
"Ya iyalah, aku juga ga mau pulang kalo VKook live di depan mataku, dan mereka mau mengangkatku jadi anak adopsi. Masa bodo, yang penting bisa liat mereka ena-ena tiap hari."
Dasar durhaka sama tanah air sendiri.
Mungkin saja survei ini berpengaruh pada fic ini, karena ini fic tentang dirimu, dan kamulah pemeran utamanya ^^ but who knows? Doakan saja agar author tidak terkena penyakit 'Author's block.'
Cao~
