Jadi…
Aku sebenarnya ngapain? Aku mulai mempertanyakan keberadaanku, eksistensiku sebagi fujoshi bahagia yang punya mimpi kesampean.
Ok, aku tahu. Aku tahu keadaanku. Ini di mini bar apartemen Victor. Yuuri tengah menatapku, minta penjelasan. Makkachin mengibaskan ekornya, tampaknya tak peduli setelah selesai melibas sandwich milikku. Hening, tak ada suara. Seakan ada jarum kecil-kecil yang menusuk seluruh tubuhku. dari mana? jangan tanya.
"Apa ini?" Tangan Yuuri menggenggam sebuah box ukuran sedang berwarna biru dongker. Satu tangannya lagi berkacak pinggang. Sedangkan aku terduduk diam, mencengkram erat lututku dan memalingkan muka. Aku harus pandai-pandai menjawab.
"Kotak?" Ya, pintar sekali.
"Bukan saatnya melucu, little lady. Just say, what is this?" Mom, please mom, ampuni saya. Mam uda ga bisa diajak bercanda lagi, artinya uda marah banget.
"…It's Phichit's." Nah sekarang gue nyalahin orang. "Yu-Yuuri, aku tak tahu apa isinya. Sungguh! Dia hanya bilang kalau aku hanya harus menyerahkan ini." Ya, nyalahin orang karena ini salahku juga, tapi aku jujur. Aku hanya diberitahu oleh Phichit kalau benda di dalam kotak itu 'sesuatu yang bahagia' (well duh ane mana tahu!) dan aku cuma disuruh meletakkannya di depan pintu kamar Victor dan Yuuri.
Iya, ini semua salah si kampret Leader Victuuri yang sudah menyeretku dalam lembah tak berdasar. Berlebihan? Ya, itu cukup menggambarkan kemarahan Yuuri sebagai emak paling rese tapi paling peduli sama anaknya. Sedikit fanservis R17 nampak di bola mataku saja, dia akan langsung menindaklanjutinya.
Cobalah kita tilik kembali ke belakang, ketika aku tengah berdialog dengan Phichit Chulanont, skater selebgram yang hobi ngemut hamster. Ya, setelah membeli makan siang, aku diinterogasi olehnya, mengatakan aku tak boleh begini tak boleh begitu, lalu tanganku ditarik. Ingin berteriak, tapi tak bisa. Lagipula untuk apa? Setidaknya aku mengenal orang ini, meskipun saat itu dimensinya berbeda. Tanpa sadar, aku mengikuti lelaki berkebangsaan Thailand itu ke tempat –hotel sepertinya – lumayan jauh dari apartemen dan bertemu seseorang lagi di sana.
"Seung Gil!" panggilnya jumawa. "Aku menemukan agen baru!" Hah? Agen? Agen apa? Buat nambahin followers dia?
Seung-Gil, aku sudah tahu tentunya, berwajah stoic seperti biasa. Jaket hitam membungkusnya, kontras dengan kulit yang putih. He looks so damn hot! Oplas bukan? Eh enggak deh! Itu muka emang sempurna dari sononyo! "Sudah ketemu rumahnya?" tanyanya pada Phichit.
"Sudah, dan aku mendapatkan orang baru." Seung menghela nafas, namun Phichit sama sekali tak menggubris. "Dan lagi dia anak Victor dan Yuuri! Kau tahu, A-N-A-K" ejanya, plus penekanan. Mas, saya belum resmi menjadi anak adopsi mereka, ini masih wacana. Saya juga masih pengin balik ke kampung, uda mulai lupa sama makanan Indonesia.
Lelaki berdarah Korea itu kemudian beralih kepadaku, mengamati dari ujung kepala sampai kaki. "Phichit, dilihat dari segi manapun, dia masih remaja muda. Hentikan saja ide gilamu itu."
"Oh gitu?" Phichit masang muka mewek. "Terakhir kali aku minta pelihara hamster di rumahmu, kau bilang kita sudah punya anjing dan engga perlu hewan lagi. Dan sekarang kamu menentangku lagi? Kalau ma –"
"Iya, iya. Terserahmu saja." Seung sepertinya lemah dengan puppy eyes, dan berlalu ke dalam hotel. Phichit yang berbinar, kemudian menarik tanganku, lagi.
"Nona, selamat! Kamu sudah diiterima menjadi agenku!" katanya terlihat bahagia.
"Phichit, aku tak tahu maksudmu –"
"Makkachin dititipkan saja ya."
"Woof!" Makkachin 'dititip', dalam artian cukup mengingatkan tali kekangnya di luar lobi hotel. Ya, gitu aja. Njir, ntar kalo dia ilang, apartemen bakalan banjir air mata Victor.
"Tenanglah, aku tak akan memerkosamu kok." Kata Phichit ketika kami berada di dalam lift. SIAPA JUGA YANG PUNYA PIKIRAN SEPERTI ITU? Eh, pengecualian deh sama bang Seung-Gil "Dan aku perlu mengatakan ini karena kamu sekarang agenku." Pertama-tama, agen? Agen apa? Phichit menarik nafas. "Nona, aku mau kau melakukan hal yang terhormat sebagai anggota pelayaran canon ship Victuuri. Maaf aku bertanya atau mengatakan hal yang tidak-tidak padamu tadi."
"Uhm… Oke?" Intinya dia menginterogasi untuk memastikan jika aku ini fujo tulen atau tidak. Semua tadi hanyalah tes belaka. Kepercayaanku terhadap Phichit sedikit naik 37%. Tapi, pelayaran? Ngeship maksudnya? Agen? Seperti mata-mata?
Ketika tiba di depan kamar, Phichit belum mengatakan apapun lagi selain sibuk merogoh kantungnya, mencari kunci hotel. Seung diam, namun bola mata hitamnya tertuju pada Phichit yang sedikit panik.
"Itu." Tunjuknya. "Kunci hotel."
"Mana? Manaaa?" Phichit masih meraba-raba seluruh kantung yang ada di tubuh, putar sana sini. Seung menghela nafas, kemudian memutar badan Phichit, membuatnya dalam posisi memunggungi.
"?! Hei, kau cukup bilang kalau kuncinya ada di kantung belakang celanaku! Jangan sekalian meremas pantatku juga!"
"Lama." Seung memasukkan kartu itu pada slotnya, berbalik dan tersenyum menyeringai. "Itu bonus, berterimakasihlah karena aku telah menemukan kuncinya. Oh, lebih kenyal dari yang biasanya." Senyumnya penuh kemenangan.
Phichit merona ria, sementara aku di belakang mereka, hanya cengo.
OMG INI THIRD PAIRING GUA DI FANDOM YOI AAAAAAA!
"E-eh, ayo masuk." Phichit segera tersadar dan mendorongku masuk ke kamar hotelnya. "Maaf ya. Mungkin terlihat sedikit aneh mengundang seorang perempuan, tapi tolong dengarkan." Wajahnya berubah serius. Terduduk di kursi sofa, aku mendengarkan dia dengan seksama.
"Aku ingin kau… memasang kamera di kamar Victor."
What?
Whaaat?
Lah, jadi aku harus langsung bilang, "SIAP, NDAN!" gitu?
"Kau pasti sudah mengerti apa tujuanku." Katanya menyeringai. Aku meneguk air liurku sendiri. Kamera? Di dalam kamar diletakkan kamera? Apalagi jika bukan untuk mengintai? Apalagi jika bukan untuk menyaksikan adegan ranjang mereka? "Nah, tenang saja. Aku akan mengajakmu kok." Bukan itu masalahnya! Jeritku dalam hati. Aku baru mengenalmu kurang lebih 20 menit lalu! Ngebet banget pengen liat Victuuri ena-ena? Jadi kamu nyariiin apartemen Yuuri buat nyungsepin itu kamera di kamar mereka? Segitunya?
Ayo berpikir little lady! Haruskah kau menerima tawaran ini? Jujur saja, itu… adegan.. pasti.. secara live… Memikirkannya saja sudah membuat pembuluh darah hidungku nyaris pecah.
Tapi, tunggu.
"Phichit, aku tak ingin mengganggu privasi mereka." Tolakku lembut. Ya, ini jawabanku. TIDAK. "Aku mengerti jika kita sebagai Victuuri shipper menginginkan fanservis lebih, tapi jika itu sampai mengganggu 'daerah' mereka, kurasa itu berlebihan. Aku tak mau melakukan sampai sejauh itu. Maksudku, biarkanlah apa adanya." Mungkin aku terlihat keren, tapi sebenarnya akulah yang paling ingin memasangkan semua kamera itu di kamar Victor. Yes, sadar batasan. Kamu masihlah orang cerdas yang sadar kalau overdosis asupan, bisa kena rabies. Gejalanya adalah dengan mulai menggigit orang-orang yang bukan Victuuri shipper.
"Hm, begitu?" Phichit menaruh dagunya di atas tangan. "Yah aku baru mengenalmu. Mungkin kau masih tak –"
"Kan sudah kubilang, jangan aneh-aneh. Gadis itu terlihat ketakutan." Seung menimpali, menjitak kepala Phichit pelan. Yang dijitak hanya cengengesan, sebuah ciuman di bibir dilayangkan dengan cepat.
"Dua kali." Seung meninggalkan Phichit yang memerah begitu saja. Seme kadang suka seenaknya saja, membuat kokoromu berdebar karena kejutan kemudian membiarkannya.
"E-Ehem!" Percuma saja Phichit, kau mendehem seperti itu. Sekarang aku melihatmu tak lebih sebagai seorang uke, bukan seorang Leader. "Baiklah. Aku tak akan memaksamu." Katanya kalem, menyeruput kopi dengan elegannya. " Tapi aku punya tugas sederhana. Ini permintaanku, terakhir." Phichit meraih box berukuran sedang berwarna biru dongker dari dalam plastik, dengan pita emas di atasnya. "Aku ingin kau menaruh ini di depan pintu kamar mereka."
"Apa ini?" Phichit tersenyum bak malaikat.
"Agen yang melindungi privasi, orang sepertimu seharusnya bisa jadi panutan fujoshi lainnya." Aku mengernyit. "Aku yakin, mereka akan sangat senang menerima hadiahmu ini." Kotak itu tak mencurigakan, tapi pernyataan Phichit? Seems legit
"Tapi aku –"
"Sekali ini saja. Pergilah, antarkan kebahagiaan pada mereka yang membutuhkan."Titahnya. Chit, lama-lama rada lebay?
Tapi, emang dasar anak ingusan yang mau aja disuruh, dengan polosnya aku mengangguk. Kalau hanya menaruh tak apa kan? Kupeluk kotak itu.
Ke luar hotel, mengambil Makka (tentu saja aku tak lupa padanya.)
Orang-orang menatapku, sesekali ke arah Makkachin.
Melewati jalanan ramai, seakan berjalan di atas red carpet.
Menanggung tugas mulia, kata dia. Waw… isi kotak ini sangat penting sampai-sampai itu mengukur kebahagiaan Victuuri.
Padahal, tanpa sadar aku sudah menunjukkan interprestasi diriku yang salah kepada mereka, kepada seluruh sudut jalanan Nevsky Prospect.
"Anak muda itu memegang kotak berwarna biru dongker yang tak ada seorang Russian pun yang tak tahu jika isinya adalah alat-alat BDSM dari sex toy shop."
Kampret.
Jadi dari tadi gua diliatin orang-orang karena gua megang box terlaknat ini? Sialnya, aku baru tahu setelah Yuuri membuka box itu di depan kamarnya karena dia diam-diam melihatku meletakkannya di sana.
Sekarang kita kembali ke masa sekarang, dimana saya dihakimi oleh ratu skating asal Jepang, Katsuki Yuuri.
"Sejak kapan kamu tahu yang seperti ini?" Dan di telingaku, dia mengatakan, "Mama nyesel ngelahirin kamu."
"Sumpah Yuuri! Aku tak tahu! Aku hanya disuruh meletakkan ini di depan kamar kalian oleh Phichit!" Aku membela diriku habis-habisan. Tidak terima dijadikan tumbal. Yuuri menghela nafas.
"Kamu bertemu dengannya?"
"Iya!"
"Kalau begitu, tidak heran." Yuuri menggaruk pipinya. "Kenapa kamu tidak mengecek isinya dulu?"
"Aku tidak tahu... Dia hanya bilang kalau isi kotak itu membuat kalian bahagia..." Yuuri mendekatiku, mengelus kepalaku.
"Lain kali, meskipun kamu tahu orang itu dari TV, jangan menuruti dia dulu." Here we go again, protective mom. Rasanya ada halo malaikat di atas kepala Yuuri. He really looks like my mom.
"Kenapa Yuuri?" Victor datang, baru pulang dari Ice Palace. Dia menanggalkan blue navy coat miliknya, matanya menuju Yuuri. Seakan-akan dia ingin memeluk, menenangkan tunangannya hanya dengan sentuhan mata.
"Phichit." Kata Yuuri, memijit keningnya. Tak terpengaruh oleh 'Lirikan matamu menarik hati~' nya Victor. "Dia menitipkan ini pada Lady."
"Titip apa?" Wajah Yuuri mendadak merah.
"Kotak…. Biru.."
"Lho kan cuma kotak?" Victor memiringkan kepala.
"Isinya Victor! Isinya!" He's sexually frustrated, pikirku. "Ini… yang dijual di sex toy shop!" kata-kata sex toy terceplos begitu saja. Dia berteriak begitu sambil menahan malu dan air mata. Wajahnya rasanya mau meledak saking merahnya.
"Oooh!" Mulut Victor membentuk hati, mendadak sumringah. Aku dan Yuuri saling melempar pandangan. "Itu!" dia langsung lari, merebut si kotak jahanam dari Yuuri.
"Tahu?"
"Iya, soalnya aku yang pesan."
…
Kzl bats gua.
Jadi, selama ini gue diinterogasi dan nyaris dibakar Yuuri...? Lagian kenapa Phichit ga bilang kalo itu titipan... Sekarang aku tak tahu mana yang harus kutampol duluan, Phichit atau Victor. Hmm, dua duanya sajalah.
"Yuuri kelihatannya suka sekali hal yang seperti itu. Sewaktu kita *BEEP* tanganmu selalu *NEETNOOOT* jadinya aku menitipkan itu padanya. Ulu, ulu, unch, unch. Jangan nangis, Yuuri. Lady tidak salah kok. Tadinya aku mau membuat kejutan." Tangannya merangkul leher Yuuri, menggesekkan pipinya ke pipi Yuuri.
"Victor."
"Ya?"
"Tidur di sofa. Malam ini."
Sebait dua bait prosedur fluff Victuuri, by me, Little Lady.
Victor ngambek pagi-pagi
Gara-gara enggak dikelonin.
Victor kesusahan membuka baju, kepalanya tersangkut, begitu juga dengan tangannya.
Dirinya menggelepar, goyang kepala kanan kiri.
Victor nangis.
Yuuri membantunya.
Yuuri tahu caranya.
Pertama, masukkan juga kepala Yuuri ke dalam baju Victor.
Kedua, beri dia morning kiss yang lembut.
Ketiga, pandangi matanya di dalam kegelapan rongga kaus.
Kemudian berbisik lembut.
"Handcuffs, lingerie, chocolate, tonight."
Saat Victor sibuk berimajinasi, dan berhenti menangis pelan-pelan tarik kaus dari kepalanya.
Tada! Victor yang tersangkut berhasil diselamatkan.
A/N:
Okee, pengumuman!
Chapter depan ratingnya berubah jadi M! Kenapa? Kenapa? Hm… kenapa ya…. *winks intensively*
Sedikit sup iler for next chapter: Camera kinks, food kinks, light BDSM, voyeurism.
Jadi sekedar peringatan, bagi yang hatinya masih suci selembut sutra dan semanis gula, disarankan skip chappy depan.
Ya, meskipun saya ragu jika ada orang yang benar-benar melakukannya. Saya akan berusaha membuatnya se-smutty mungkin
Cao~ nyao~
