Setelah kemunculan Kaito KID dan Phantom Lady di Ginza, Elizabeth tidak langsung pulang bersama Kaito. Ia ingin melihat situasi setelah pencurian yang dilakukan olehnya dan Kaito. Pasti akan sangat menyenangkan melihat wajah Suzuki Jirokichi dan Nakamori-keibu yang kebingungan.

Membayangkannya saja sudah membuat Elizabeth tertawa.

Saat ia sampai di mansion milik Suzuki Jirokichi, Elizabeth langsung berdiri di balkon luar ruangan yang dipakai oleh Suzuki Jirokichi, Nakamori-keibu, Mouri-tantei, Ran, Sonoko dan Conan untuk membicarakan apa yang baru saja terjadi.

Wajah mereka kebingungan. Memikirkan bagaimana KID bisa berada di atap gedung dalam waktu kurang dari 20 detik. Lalu Conan yang mengutarakan pendapatnya, membuat Nakamori-keibu bisa menjelaskan bagaimana KID bisa sampai di atas gedung dengan cepat.

Lalu datanglah salah satu staff yang bertugas menjaga sepatu legendaris yang diambil oleh KID. Elizabeth tahu soal kostum KID yang terkena saus tomat. Tapi karena hanya saus, Elizabeth tidak khawatir untuk melindungi Kaito tadi.

Dan yang paling menyenangkan adalah melihat wajah Nakamori-keibu dan Mouri-tantei yang sangat terkejut karena melihat cap tangan di jubah milik KID. Ia harus menahan tawanya karena melihat reaksi mereka.

"Itu cap tangan dari penjaga?" Tanya Mouri-tantei kepada penjaga tadi.

"Itu berarti dia tidak memperkirakan cap tangan yang menempel di jubahnya. Dan itu berarti, orang yang berada di bawah dan Kaito KID yang ada di atap adalah 1 orang yang sama. Dia benar – benar menghilang dalam sekejap. Dalam waktu kurang dari 20 detik dan ketinggian lebih dari 30 meter." Jelas Suzuki Jirokichi.

Elizabeth yang sudah tidak bisa menahan tawanya langsung saja membiarkan suara tawanya terdengar oleh orang – orang di dalam ruangan tersebut. Membuat semua perhatian mereka tertuju pada Elizabeth yang berada di balkon dan masih mengenakan kostum Phantom Lady yang terakhir.

"Phantom Lady!" Teriak Nakamori-keibu dan Mouri-tantei bersamaan.

"Bagaimana dia bisa berada disana?!" Ujar Suzuki Jirokichi tidak percaya.

'Nee-chan…' Batin Conan sambil menepuk dahinya.

"Tidak perlu kaget begitu, Jiisan." Ujar Elizabeth yang entah bagaimana sudah berada di dalam ruangan, duduk dengan posisi bersila di samping kanan Conan.

"Ba-Bagaimana dia bisa di dalam?" Tanya Sonoko tidak percaya. Karena kurang dari 5 detik, Elizabeth sudah berada di dalam ruangan.

"Conan-kun!" Ujar Ran sambil berusaha mendekati Conan. Tapi, sebelum Ran mengambil langkah pertamanya, Elizabeth sudah menodongkan pistol kartu milik KID ke kepala Conan.

"Berhenti atau kutembak dia." Ujar Elizabeth sambil menyeringai.

"Ka-Kau tidak akan menembaknya 'kan?" Tanya Nakamori-keibu.

Semuanya tidak ada yang berani bergerak. Bahkan penjaga yang tadi berada di dalam ruangan tidak jadi memanggil penjaga yang lainnya.

"Nee-chan, yang benar saja…" Gumam Conan. Ia tidak bisa berkata apa – apa karena terlalu banyak kata – kata kutukan untuk Elizabeth.

"Suzuki-jiisan, aku kecewa sekali karena kau tidak membawa sepatunya dengan lengkap." Ujar Elizabeth dengan ekspresi wajah kecewanya, namun tangannya masih menodongkan pistolnya ke kepala Conan.

"Sebenarnya aku bisa saja mengambilnya dari brangkasmu. Tapi KID tidak memperbolehkanku. Menyebalkan sekali." Lanjut Elizabeth.

Semuanya tidak bisa menjawab karena terlalu ketakutan. Mereka takut membuat gerakan atau mengeluarkan kalimat yang bisa membuat kepala Conan tertembak. Tertembak oleh sebuah kartu? Yang benar saja. Elizabeth tidak akan melakukannya.

"Si-Simpan pistolmu itu maka aku akan menjawabnya." Ujar Suzuki Jirokichi.

"Benarkah? Kau tidak akan menangkapku, 'kan?" Tanya Elizabeth dengan wajah penasarannya. "Tapi itu tidak mungkin. Kalian tidak akan bisa menyentuhku." Lanjutnya sambil tersenyum lebar.

"Apakah kau akan membawa yang asli besok?" Tanya Elizabeth yang kini memasang wajah seriusnya.

"Tentu, aku akan membawanya." Jawab Suzuki Jirokichi.

"Janji?"

"Te-Tentu. Aku berjanji."

Dan kemudian Elizabeth lansung tersenyum dengan lebar. Senyuman lebar yang selalu dikeluarkan Kaito. Lalu Elizabeth menyimpan pistol milik KID.

"Baiklah, tapi aku akan membawa Conan-chan malam ini." Ujar Elizabeth.

"Apa?!" Teriak Mouri-tantei, Nakamori-keibu, Ran, Sonoko dan juga Suzuki Jirokichi.

"Untuk apa kau membawa anak itu?" Tanya Mouri-tantei.

"Jaminan, mungkin." Jawab Elizabeth.

"Tidak akan kubiarkan." Ujar Ran yang langsung mengambil kuda – kuda. Berusaha menyelamatkan Conan. Sebelum Elizabeth menembakkan pistolnya ke arah Ran. Yang untungnya tidak mengenai gadis itu.

"Mouri-san, aku bukanlah Kaito KID yang memegang etika 'Tidak ada yang boleh terluka saat pencurian terjadi'. Jadi diam di tempatmu." Ujar Elizabeth yang masih memegang pistol kartu KID.

"Ne, Conan-chan… Apa kau mau ikut nee-chan sebentar. Aku akan mengantarkanmu ke sekolah besok pagi. Jadi kau tidak perlu khawatir." Ujar Elizabeth pada Conan yang masih tidak bisa berkata apa – apa.

"Kau akan membawanya sepanjang malam?" Tanya Mouri-tantei.

"Tentu saja. Lagi pula, kau tidak peduli jika Conan-chan tidak pulang ke rumahmu 'kan, Mouri-meitantei-san?" Tanya Elizabeth balik. Yang membuat Mouri-tantei tidak bisa menjawab.

"Baiklah, hentikan omong kosong ini." Ujar Conan sambil mengambil pistol milik KID yang masih dipegang oleh Elizabeth. Membuat semua yang berada disana kaget.

"Conan-kun, jangan kau pegang pistol itu." Ujar Ran. Dia hanya khawatir pada Conan.

"Ran-nee-chan, pistol ini tidak berbahaya." Ujar Conan yang setelah itu menembakkan pistol tersebut ke atap ruangan. Tapi bukan kartu yang keluar. Melainkan pita panjang dan juga potongan – potongan kertas yang lumayan banyak. Membuat semua orang terdiam karena tidak tahu harus bicara apa. Sedangkan Elizabeth hanya tersenyum lebar.

"Baiklah Conan-chan, kita akan bersenang – senang malam ini." Ujar Elizabeth sambil menggendong Conan.

Dan secara tiba – tiba, jendela yang berada di ruangan tersebut terbuka. Dan saat orang – orang kembali terkejut, Elizabeth memanfaatkannya untuk berlari menuju balkon.

"Tunggu!" Teriak Nakamori-keibu.

"Phantom Lady, kembali kemari!" Teriak Mouri-tantei.

"Conan-kun!" Teriak Ran.

Semuanya berusaha mengejar Elizabeth. Tapi Elizabeth langsung melompat ke atas pembatas balkon dan kemudian melompat tinggi. Dan tak berapa lama, dari punggungnya keluar sepasang sayap hitam yang sangat besar. Seperti sayap malaikat yang ada di cerita – cerita karangan banyak orang. Tapi bedanya, sayap tersebut berwarna hitam kelam.

Suzuki Jirokichi, Nakamori-keibu, Mouri-tantei, Ran, Sonoko dan juga penjaga tadi hanya bisa mengejar sampai balkon. Karena mereka tidak mungkin mengikuti langkah Elizabeth.

"Sebenarnya, aku bertanya – tanya sejak pencurian tadi." Ujar penjaga yang masih menatap ke arah Elizabeth dan Conan yang semakin menghilang di telan langit malam. Membuat perhatian semua orang teralih padanya.

"Benarkah Phantom Lady seorang manusia?"


Secret

.

KaiShin Story (Kuroba Kaito x Kudou Shinichi [Kuroba Kaito x Edogawa Conan])

.

Author : Elizabeth Lee

.

Warning : typo, OOC, boyxboy, OC!Elizabeth Anne Michaelis, demon!Elizabeth Anne Michaelis

.

Based on Detective Conan & Magic Kaitou 1412 Anime & Manga

.

Detective Conan & Magic Kaitou 1412 © AOYAMA Gosho

.

If you don't like, just read, don't bash

.

Don't You dare to copy this fanfiction WITHOUT my permission


Elizabeth yang melihat kalau mereka sudah berada di daerah dekat kediaman Kuroba langsung turun dengan perlahan, dan kemudian sayapnya menghilang dengan cepat. Membuat beberapa bulu berwarna hitam terjatuh ke tanah.

Elizabeth kemudian menurunkan Conan dari gendongannya. Dan Conan langsung menggandeng tangan kanan Elizabeth.

"Nee-chan, harusnya kau tidak membuat kekacauan seperti tadi." Ujar Conan.

"Gomen… Membuat manusia terkejut itu merupakan sebuah kesenangan bagiku." Balas Elizabeth sambil tersenyum lebar.

Karena Elizabeth turun tidak jauh dari rumah Kaito, mereka hanya berjalan kurang dari 1 menit. Elizabeth langsung membuka gerbang dan membiarkan Conan masuk terlebih dulu.

"Masuklah. Aku harus mengunci gerbangnya." Ujar Elizabeth.

"Hai." Balas Conan.

Elizabeth langsung mengunci gerbangnya dengan cepat dan kemudian menyusul Conan yang sedang membuka pintu depan.

"Tadaima!" Ujar Elizabeth dan Conan bersamaan.

"Okaeri!" Balas Kaito yang sepertinya sedang berada di ruang keluarga. Menonton aksinya dan Elizabeth tadi.

Saat Kaito melihat Elizabeth datang bersama Conan, Kaito langsung mematikan televisi, bangun dari duduknya dan segera menghampiri Conan dan menggendongnya.

"Shinichi! Aku merindukanmu…" Ujar Kaito yang memeluknya dengan erat.

Conan hanya membalas pelukan Kaito dan tersenyum. "Aku juga."

"Baiklah, love birds. Aku akan merapikan peralatan KID dan Phantom Lady. Bersenang – senanglah." Ujar Elizabeth yang kemudian beranjak ke lantai atas. Menuju ke kamar Kaito dan ke ruangan rahasia Kaito KID.

Kaito langsung berjalan menuju ke sofa dan langsung mendudukkan dirinya. Membiarkan Conan berada di pangkuannya.

"Bagaimana penampilanku malam ini?" Tanya Kaito.

"Mengejutkan dan sangat hebat. Aku bahkan tidak bisa berpikir saat kau tiba – tiba berada di atas atap." Jawab Conan.

"Tapi kau pasti sudah menemukan jawabannya, 'kan?" Tanya Kaito lagi.

"Tentu saja. Jawabannya sangat mudah. Bahkan Nakamori-keibu bisa menjawabnya. Tapi berhati – hatilah besok. Kau juga harus menjaga Jii-san."

"Tentu saja. Jii-chan sangat berjasa bagi keluarga Kuroba. Mana mungkin aku membiarkannya dalam bahaya."

"Dan berhati – hatilah karena besok malam aku akan menemukan cara kau bisa berada di atas atap."

"Hahaha… Tentu saja tantei-kun. Aku akan sangat menantikannya."

Dan kemudian mereka terdiam. Menikmati ketenangan di antara mereka. Karena mereka jarang bertemu, mereka akan selalu merindukan satu sama lain.

Kaito yang sedari tadi terus menatap Conan langsung mengecup kepalanya dengan lembut.

"Aku mencintaimu." Ujar Kaito.

"Aku juga." Jawab Conan yang kemudian menatap Kaito sambil tersenyum lembut.

Conan langsung menyentuh pipi kiri Kaito dan mengusapnya dengan lembut. Kaito langsung mendekatkan wajah mereka dan kemudian mengecup bibir Conan dengan lembut.

Conan yang merasakannya hanya bisa mengalungkan tangannya ke leher Kaito dan merasakan sentuhan tangan Kaito yang lembut di punggungnya. Membalas kecupan – kecupan ringan dari Kaito.

Elizabeth yang memperhatikan mereka dari pintu yang menghubungkan lorong dengan ruang keluarga hanya bisa tersenyum. Dan kemudian meninggalkan mereka.

Elizabeth kemudian naik ke lantai atas dan berjalan menuju kamarnya. di dalam kamarnya, berdiri seorang pria tinggi dengan pakaian yang sangat rapi.

"Will-nii-chan. Apa yang kau dapatkan?" Tanya Elizabeth kepada pria tadi.

William Timoty Michaelis, kakak dari Elizabeth Anne Michaelis yang terkadang berkunjung jika mendapatkan info tentang Black Organization.

"Snake akan segera bergerak. Kau harus memperingatkan Kaito. Aku tidak tahu kapan Gin dan Vodka akan bergerak. Tapi yang pasti, kau harus melindungi Shinichi." Ujar William sambil membuka buku yang berukuran agak besar. Sepertinya membaca catatan – catatan yang sudah dia buat.

"Tentu saja aku harus menjaga mereka. Kontrakku dengan Master Touichi adalah aku harus melindungi Kaito dan Shinichi sampai Master Touichi sedang dengan semua yang kulakukan. Walaupun Master Touichi sudah tidak ada, tapi tanda kontrak masih ada di tanganku. Aku akan tetap melindungi Kaito dan Shinichi. Sampai mereka sudah benar – benar aman."

.

.

.

To Be Continue