Title : Life is a Promise
Genre : Brothership and Family
Rating : Fiction K+
Cast : Kyuhyun, Siwon, Ki Hoon, Mik Yeon, Kim Yuna
Disclaimer : All them belong to themselves and GOD. I own only the plot.
Warning : Not YAOI. It's pure brothership and complicated family relationship.
Summary : Ke mana perginya anak itu?/ Kenapa wajahmu serius sekali? Kau sedang memikirkan sesuatu untuk mengerjainya?/ Berjanjilah padaku.. Berjanjilah padaku, Kyunnie.. Jebbal../ Kenapa kau tega meninggalkanku?/ Hati – hati dengan barangmu../ Mi.. Mianhe.., hyung../ Apa yang sudah kalian lakukan padanya?/
.
LIFE IS A PROMISE Chapter 3
.
Handphone Kyuhyun berbunyi.
'Wae?'
'Mwo? Lagi?'
'Ini sudah terjadi empat kali.. Bagaimana bisa?'
'Ini tidak baik...' gumam Kyuhyun pada orang yang menghubunginya dengan wajah berpikir.
Tiba – tiba seseorang mengambil alih handphone Kyuhyun dari genggamannya.
"Rupanya ada yang sedang asyik menelpon di sini?" ucap Junho sambil bermain – main dengan handpone Kyuhyun.
"Kembalikan." Ucap Kyuhyun dingin dan tegas.
"Wohooo.." Junho melempar handphone itu pada Minwoo. Handphone berwarna biru itu pun saat ini berada di rangan minwoo.
"Kembalikan!" Kyuhyun sedikit berteriak sambil berusaha merebut handphonenya yang berada di tangan minwoo. Namun, saat Kyuhyun sudah hampir berhasil merebutnya, handpone tersebut kembali terbang dan mendarat di tangan Siwon.
Siwon menangkap handphone tersebut dengan senyum lebar. Namun, senyuman itu seketika menghilang. Ia menatap lekat handphone yang berada di tangannya dengan seksama. Belum lama Siwon menatap handphone tersebut, pemiliknya sudah merebutnya kembali.
Kyuhyun menatap Siwon sekilas dan segera mengalihkan pandangannya. Ia pun pergi meninggalkan kantin dan juga tiga seniornya tersebut.
"Aw.." Ketergesaan langkah Kyuhyun membuatnya menabrak seorang wanita.
Kyuhyun menatap mahasiswa wanita itu sekilas dan langsung kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kantin. Ia kembali melakukan panggilan pada nomor terakhir yang masuk dengan wajah serius.
'maaf karena tadi terputus.. cepat kirimkan padaku semuanya' ucap Kyuhyun pada orang yang ada di seberang teleponnya. Setelah itu, ia bergegas berlari menuju kelas.
.
"Waah... bukankah dia atlit terkenal itu?"
"Bagaimana bisa di ada di sini.. cantik sekali.."
"Aku tidak pernah menyangka bisa melihatnya sedekat itu.."
"Apa yang dilakukannya di sini? Dia bukan mahasiswa fakultas ini.."
"Astaga.. dia benar – benar Kim Yuna.. Dia benar – benar atlit ice skating yang sempat menjadi pembicaraan hangat media beberapa waktu lalu bukan? Kudengar dia mendapat medali emas pada pertandingan terakhirnya.."
Bisikan orang – orang kian mengeras seiring langkah mahasiswa cantik tersebut ke dalam kantin.
"Oppa!" teriak mahasiswa cantik tersebut, yang tidak salah lagi adalah Kim Yuna. Ia adalah seorang atlit nasional Korea dalam bidang ice skating. Kecantikannya membuat banyak orang memanggilnya Queen Yuna. Saat ini, ia adalah seorang mahasiswa baru di jurusan Physical Education.
"Yuna-ah!" Siwon tersenyum lebar dan membuka kedua lengannya untuk menerima pelukan dari wanita cantik tersebut, "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Siwon dengan wajah heran.
"Aku sengaja mengunjungimu oppa.." ucap Yuna dengan senyum manis di bibirnya.
"Hanya ingin bertemu dengan Siwon? Tidak ingin bertemu dengan kami?" sindir Junho pada Yuna.
"Tentu saja aku juga ingin bertemu dengan kalian.. Aish.." tanggap Yuna sambil meninju pelan lengan Junho.
Siwon, Yuna, Junho, dan Minwoo berteman akrab karena hubungan bisnis yang dimiliki oleh orang tua mereka. Tak jarang keempat keluarga itu saling berkumpul dan makan bersama untuk membicarakan hubungan bisnis. Walaupun begitu, Siwon, Yuna, Junho, dan Minwoo tidak pernah peduli dengan bisnis yang dijalankan keluarganya masing – masing. Mereka hanya cukup mengetahui bahwa orang tua mereka sedang membicarakan uang, keuntungan, ataupun proyek seharga ratusan juta won.
"Oppa.. aku tidak bisa lama – lama.. Setalah ini aku harus bertemu dengan pelatihku.." ucap Yuna dengan wajah sedikit kecewa, "Akhir pekan ini apakah kalian kosong?" tanya Yuna dengan antusias.
"Aku belum ada rencana apapun di akhir pekan ini.." ungkap Siwon.
"Kami pun tidak ada.. wae?" tanya Minwoo.
"Sudah lama kita tidak bersenang – senang bersama.. Bagaimana dengan klub biasa kita berkumpul? Akhir pekan ini pukul 9 malam.. call?" ucap Yuna dengan tawa lebarnya.
"call!" teriak ketiga namja tampan itu sepakat.
"Baiklah.. sampai ketemu akhir pekan, oppa.. aku pergi" ucap Yuna sambil melambaikan tangan dan berjalan keluar kantin dengan langkah cepat. Pembicaraan singkat itu cukup membuat heboh satu fakultas bisnis. Banyak mahasiswa mengambil gambar atau pun meminta tanda tangan dari wanita cantik itu.
.
Di Kelas
"Silahkan buka buku kalian halaman 103" ucap sang dosen dengan suara keras dari depan kelas.
"Ke mana perginya anak itu?" bisik Minwoo pada Siwon.
"Hmm.. Siapa maksudmu?" ucap Siwon dengan wajah bingung yang dibuat – buat. Tidak dipungkiri bahwa sejak tadi perhatian Siwon selalu terfokus pada kursi kosong di pojok ruangan dekat jendela. Bahkan buku yang dibukanya masih berada di halaman daftar isi.
"Ya tentu saja anak itu, Siwon-nie.. Memang siapa lagi kalau bukan dia.." Ungkap Minwoo dengan wajah sedikit kesal.
"Entahlah.." gumam Siwon pelan sambil terus menatap kursi kosong tersebut.
.
Sejong Hotel
Salah satu hotel bintang lima yang terkenal megah di Seoul. Berbagai fasilitas tersedia di dalam hotel megah tersebut. Apakah kau pernah membayangkan bahwa ada sebuah Hotel yang memiliki mall dengan brand ternama dan juga sarana ice skating di dalamnya? Itulah satu diantara banyak keunggulan yang dimiliki Hotel Sejong. Inilah Hotel yang dimiliki oleh keluarga Choi, yaitu Choi Mik yeon dan juga anaknya Choi Siwon.
"Tolong minta kepada semua bagian untuk mengirimkan laporannya padaku sekarang" Ucap Mik Yeon tegas.
"Baik, nyonya Ketua" ucap sekretarisnya dengan patuh.
"Bagaimana pendapatmu, manager utama?" tanya Mik Yeon pada tangan kanannya tersebut.
"Kita perlu lihat terlebih dahulu laporan dari setiap bagian, nyonya ketua.." ucap sang manager utama dengan patuh.
"Baiklah.." ungkap Mik Yeon sambil menghela napas dengan keras.
.
Seoul University
Terlihat 3 orang namja sedang berjalan keluar kelas menuju tempat parkir. 3 orang ini sudah memegang kunci mobil sport mereka masing – masing.
"Ah akhirnya kuliah Profesor Kim selesai juga.. Kenapa waktu berjalan sangat lambat saat Pak Tua itu mengajar?!" Ucap Minwoo kesal.
"Kau benar Minwoo-ah! Dia mengajar selama 2 jam tapi terasa seperti 4 jam.. Benar – benar membuatku mengantuk.." ucap Junho sambil mengacak – acak rambutnya sendiri.
"Dia memang mengajar selama empat jam, pabo-ya.." ucap Siwon dengan wajah datar.
"Ani.. Sekarang baru jam 3 sore, Siwon-ah.. Kau bahkan sudah terlalu mengantuk ya?" ucap Junho geli sambil mengusap bahu Siwon.
"Sekarang jam 5, pabo-ya.. Jam mu mati.." ucap Siwon sambil menggeleng – gelengkan kepalanya dengan wajah kasihan pada Junho. Setelah melihat mobil sport merah kesayangannya, ia pun segera melebarkan langkahnya menuju mobilnya tersebut.
"Hah? Benarkah ini jam 5? Jam ku benar – benar mati? Sekarang benar – benar jam 5, Minwoo – ah?" tanya Junho dengan wajah tak percaya.
"Hmm.." angguk Minwoo dengan pasti, "Aish.. kau ini!" Umpat Minwoo dengan wajah kesal.
"Minwoo-ah, Siwon-ah! Jebbal.. Jangan bilang siapapun kalau aku pernah menggunakan jam mati.. ini memalukan.. aarrrgh.." Ungkap Junho dengan suara yang dipelankan sambil berusaha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Jika ada yang tahu akan hal ini, maka image ku akan... Andweee!" wajah Junho sudah seperti akan menangis.
"Ya! Ya! Ya! Kau berlebihan sekali, Junho-ah!" teriak Siwon kesal melihat tingkah berlebihan sahabatnya itu, "Sudah cepat pulang sana!" ungkap Siwon sebal.
"Benar.. sebaiknya kau cepat pulang dan jangan lupa ganti baterai jam tangan mahalmu itu, tuan muda.." ungkap Minwoo dengan senyum terpaksa.
"Keure keure arasso.. ingat! Jangan katakan ini pada siapapun, arrachi?!" ucap Junho sambil mengacungkan telunjuknya pada Siwon dan juga Minwoo.
"Hmm.." gumam Siwon dan Minwoo tak niat.
"Oh! Chakkaman!" teriak Junho kembali.
"Wae?! Wae?! Wae?! Ada apa lagi?!" tanya Minwoo tak santai saat akan membuka pintu mobilnya.
"Bukankah itu.." ucap Junho sambil terus menatap ke arah tertentu.
"Oh.. si anak cupu itu.." gumam Minwoo setelah mengikuti tatapan mata Junho, "Bukankah dia sudah pulang sejak tadi?" tanya Minwoo dengan wajah heran.
Siwon menatap sosok Kyuhyun yang sedang mengangkat standar dari sepedanya untuk bersiap pulang. Ia memperhatikan Kyuhyun dengan wajah selidik seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Hey.. Kenapa wajahmu serius sekali? Kau sedang memikirkan sesuatu untuk mengerjainya? Hahaha" tanya Junho dengan senyum antusias.
"Sudahlah.. Pikirkan saja jam tangan mahalmu itu.. Aku pulang duluan!" ucap Siwon sambil mengangkat tangannya dan masuk ke dalam mobil sport merahnya.
"Ah! Benar! Jam tanganku.. Aku pulang, Minwoo – ah!" ucap Junho dengan wajah kembali sedih dan segera masuk ke dalam mobilnya.
"Terserah kau.." ucap Minwoo tak acuh dan juga segera masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.
.
Rumah Kyuhyun
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia baru saja selesai mandi setelah pulang dari kerja paruh waktunya di Kafe Kona Beans. Rambutnya yang basah masih meneteskan beberapa air sehingga membuat kaos panjang hijau tosca yang dikenakan sedikit basah.
Kyuhyun mengambil handphone yang ada di meja nakas samping tempat tidurnya. Ia menekan angka 1 untuk menghubungi seseorang.
"Aku sudah memeriksanya.. Ada sesuatu yang aneh.. Ini membuatku tak tenang.."
"Lalu apa rencana yang sudah dibuat untuk menyelesaikan masalah ini?"
"Nde?!"
"Arasso.. Pantau terus perkembangannya dan segera kirimkan padaku apapun yang kau milikki.."
"Gomawo.."
Kyuhyun mengakhiri teleponnya dan melemparkan handphonenya ke kasur dengan sedikit kesal. Ia mengacak – acak rambutnya yang basah untuk mengurangi kekesalannya.
"Lapar.." gumam Kyuhyun pada dirinya sendiri sambil memanyunkan bibirnya sedikit. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur. Ia membuka salah satu lemari di dapur dan mengeluarkan satu bungkus ramen. Hanya makanan itu yang ada di rumahnya dan hanya makanan itu pula yang bisa ia masak.
Setelah 10 menit berlalu, ramen yang dimasaknya pun siap untuk disantap. Ia meletakkan ramen yang masih panas di dalam panci berwarna keemasan ke atas sebuah meja kecil. Sambil menunggu ramennya sedikit dingin, Kyuhyun menyalakan laptopnya untuk memutar film kartun kesukaannya, Pororo. Ia memakan ramennya sambil menonton kartun kesayangannya dalam diam.
Setelah selesai memakan ramennya, Kyuhyun segera mencuci alat makannya dan segera merebahkan dirinya di kasur. Ia mengeraskan suara dari film kartun yang sedang diputarnya, lalu mencoba untuk memejamkan matanya.
.
Kediaman Choi
"Eomma.. Kau sudah kembali?" tanya Siwon dari ruang tengah yang sedang memainkan PSP di tangannya.
"Hmm.. Bagaimana kuliahmu hari ini nak?" tanya Mik Yeon sambil duduk di sebelah sang anak. Namun, tak ada jawaban dari Siwon. Anak lelaki itu tetap sibuk dengan PSP nya. Pada akhirnya, sang eomma mengangkat wajah sang anak agar bertatap muka dengannya.
"Bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Mik Yeon kembali.
"Tidak ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan.. Semua berjalan biasa – biasa saja" ucap Siwon acuh tak acuh.
"Hmm.. Wonie – ah, bisakah kau menghentikan permainanmu sebentar? Ada yang ingin eomma bicarakan denganmu.." ucap Mikyeon sambil mengelus lembut surai hitam anak lelakinya.
"Wae? Kenapa eomma begitu serius?" tanya Siwon sambil kembali melanjutkan permainannya.
"Wonnie – ah, hmm... Bagaimana eomma harus mengatakan hal ini padamu? Hmmm.." Mik Yeon terlihat bingung untuk mengungkapkan maksudnya pada sang anak. Melihat Siwon yang kembali melanjutkan permainannya, Mik Yeon akhirnya mengambil PSP dari tangan Siwon dengan lembut.
"Eomma... Permainanku hampir.." rengekan Siwon diputus oleh ucapan eomma.
"Hmm.. Bagaimana pendapatmu jika kau harus bertunangan dengan Yuna?" tanya Mikyeon hati – hati.
"Mwo?!" Siwon menatap wajah sang eomma dengan mata terbelalak.
.
.
Berjanjilah padaku.. Berjanjilah padaku, Kyunnie.. Jebbal..
Brakk!
Ouh.. Ada yang masih bisa menghirup udara dengan bebas rupanya di sini.. Jadi, bagaimana jika kita selesaikan segalanya dengan cepat, anak manis?
Aaaaaarrrrgh!
Hah hah hah hah..
Kyuhyun terbangun dari tidurnya yang baru berlangsung selama 3 jam. Tubuhnya basah karena keringat. Saat ini pun, ia masih berusaha untuk mengatur napasnya dengan memburu.
"Mianhe.." satu bisikan keluar dari mulut Kyuhyun sambil menundukkan kepala dan memejamkan matanya.
Tampak rasa penyesalan yang begitu mendalam pada dirinya. Kyuhyun perlahan membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya. Ia langkahkan kaki menuju pintu keluar yang pada kenyataannya cukup dekat dari tempat tidurnya.
Ia mendudukkan dirinya pada sebuah meja persegi dengan kaki rendah yang berada di dekat tali – tali tempat ia menjemur beberapa kemejanya. Ia menengadahkan wajahnya ke atas dan melihat paparan bintang di atas langit.
"Kau jahat..." ungkap Kyuhyun pelan dengan makna mendalam, "Kenapa kau tega meninggalkanku?" tanya Kyuhyun dengan suara bergetar. Satu tetes air mata meluncur di pipi putihnya.
Ia mengusap pipinya yang basah dengan tangan kanannnya. Ia baru menyadari bahwa sedari tadi tangan kanannya menggenggam erat teman kecil kesayangannya.
"Aku menggenggammu terlalu kencang ya? Appo? Mianhe.. Aku terlalu takut tadi.. Kau tahu itu kan?" Kyuhyun mengusap teman kesayangannya itu dengan lembut, "Mianhe, boo.."
Boo. Boneka tua berbentuk beruang berwana coklat muda dengan menggunakan baju berwarna biru dan pita di lehernya. Pita itu berwarna hitam putih dengan motif kotak – kotak layaknya papan catur. Boneka kecil itu juga mengenakan hiasan kaca mata bulat di sekitar matanya. Dia lah penghuni kedua yang Kyuhyun maksud. Teman kesayangan maupun sahabat sejati yang selalu ada untuk mendengarkan ceritanya dan juga menemaninya saat tidur.
Kyuhyun menghabiskan sisa malamnya dengan merentangkan tubuhnya di atas meja tersebut sambil terus memandang paparan bintang di langit. Seperti itulah dirinya, jika mimpi itu sudah menghampiri, maka dia tidak akan lagi bisa memejamkan matanya kembali.
"Kau lihat bintang yang paling terang itu, Boo? Itu pasti dia kan? Benar kan? Aku benar kan?" tanyanya pada boneka beruang yang juga ia hadapkan ke langit.
.
Seoul University
Selama pelajaran berlangsung, Kyuhyun terus menatap keluar jendela. Ia menatap beberapa mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan melukis di taman kampus. Kau tahu, di beberapa kampus ternama terdapat beberapa kegiatan non akademik yang dapat diikuti di waktu luang, salah satu kegiatan non akademik yang terdapat di Fakultas ini adalah seni melukis. Kegiatan tersebut sepertinya menarik perhatian lelaki tampan berkulit putih itu.
Pletak! Sebuah kapus mendarat di kepala Kyuhyun.
"Kau! Jika kau tidak tertarik dengan pelajaranku, sebaiknya kau keluar!" ucap sang dosen dengan ekspresi marahnya yang menakutkan.
"Maafkan aku, Seonsangnim.. Aku memperhatikanmu, hanya saja.. hmm.." Kyuhyun mencoba membela dirinya dengan mencari – cari alasan.
"Memperhatikanku? Kau bilang memperhatikanku?! Kulihat kau hanya menatap keluar jendela sejak tadi.." ungkap sang dosen dengan nada tinggi, "Baiklah, jika kau memang memperhatikanku.. Apa yang bisa kau lakukan untuk menganalisis pasar asing?" tanya sang dosen dengan wajah menguji.
"Kita bisa menilai pasar alternatif dengan mengevaluasi biaya masing – masing, manfaatnya, serta resiko yang mungkin muncul" jawab Kyuhyun dengan lancar.
"Hmm.. Baiklah" ungkap sang dosen kikuk, "Lain kali perhatikan ke depan.." ucapnya lagi dengan sedikit malu dan kembali melanjutkan kuliahnya.
Kyuhyun pun mengangguk hormat dan pura – pura membaca buku di hadapannya. Padahal, sesekali matanya terus melirik keluar jendela untuk melihat proses kegiatan yang dilakukan para mahasiswa yang sedang melukis itu.
.
Sudah waktunya untuk beristirahat. Semua mahasiswa berhamburan keluar kelas.
"Baru kali ini kulihat ia dimarahi oleh seorang dosen hahaha" ucap Minwoo puas.
"Kau lihat mukanya tadi? Dia terlihat tegang sekali sampai bingung untuk mencari alasan.. hahaha" ungkap Junho.
Siwon hanya mendengarkan kedua sahabatnya berbicara sambil memandang taman kampus yang sedari tadi menyita perhatian Kyuhyun.
"Tentu saja.." tiba – tiba saja Siwon berceletuk dengan senyum miringnya.
"Aiish! Kenapa tanggapanmu telat sekali, hah?.. Kau membuatku gemas tuan muda!" ucap Junho dengan wajah kesal yang dibuat – buat sambil mengacak – acak rambut Siwon.
"Yaak! Hentikan!" geram Siwon sambil mencoba menghindar. Tapi usahanya sia – sia karena lehernya sudah dikunci mati oleh rangkulan lengan Junho. Minwoo hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua sahabatnya yang kekanak – kanakkan.
"HENTIKAN!" teriak Siwon dengan wajah yang sudah benar – benar marah. Teriakan itu membuat kedua temannya kaget dan menghentikan aktivitasnya.
"Kenapa kau berteriak sekeras itu? Mian.." ucap Junho sedikit takut. Namun, ucapannya tidak ditanggapi Siwon.
"Kau mencari sesuatu? Apa ada sesuatu milikmu yang hilang?" tanya Minwoo sambil memperhatikan Siwon yang terus menyapu seluruh permukaan lantai dengan tatapannya yang serius.
"Pergilah duluan.. aku akan menyusul nanti" ucap Siwon tanpa menatap wajah kedua temannya.
"Mianhe Siwon-ah.." ucap Junho dengan wajah bersalah, "Barang apa yang hilang? Aku akan membantumu mencarinya.." ucap Junho kembali dengan hati – hati. Namun, Siwon tak lagi membalas dan terus mencari barang miliknya.
"Sudahlah Junho – ah.. Sebaiknya kita pergi duluan.. Kajja.." bisik Minwoo pada Junho, " Kami pergi ke kantin duluan ya Siwon – ah.. Kami tunggu kau di sana.." ucap Minwoo pada Siwon. Dan lagi – lagi hal ini tak ditanggapi oleh Siwon.
Siwon terus mencari barang miliknya dengan wajah khawatir. Seakan – akan benda yang hilang itu memiliki arti yang sangat penting untuknya. Ia terus menunduk dan menatap seluruh permukaan lantai, hingga ia dapat melihat bahwa ada sepasang sepatu yang berdiri di hadapannya.
Siwon menengadahkan wajahnya ke atas untuk melihat siapa pemilik sepatu itu. Sang pemilik sepatu itu pun akhirnya berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan Siwon. Perlahan – lahan sang pemilik sepatu itu menyentuh lengan Siwon dan menariknya. Ia meletakkan sebuah barang kecil pada telapak tangan Siwon.
Siwon menatap wajah pemilik sepatu itu dengan dingin, sedangkan pemilik sepatu itu membalas tatapannya dengan wajah yang penuh arti dan sulit untuk dideskripsikan.
"Hati – hati dengan barangmu" ungkap pemilik sepatu itu perlahan sambil terus menggenggam tangan Siwon.
Siwon menghentakkan tangannya dengan kasar dan membuat namja tampan di hadapannya terjatuh.
"Jangan sok peduli padaku, Kyuhyun.." geram Siwon dengan wajah dinginnya. Setelah itu ia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Kyuhyun. Langkah itu sempat terhenti saat Kyuhyun berusaha menahan lengan Siwon.
Siwon kembali menatap Kyuhyun dengan wajah dingin. Sedangkan Kyuhyun sedang berusaha untuk mengucapkan sesuatu pada orang di hadapannya. Namun, pada akhirnya Kyuhyun hanya menghela napasnya pelan dan menundukkan wajahnya sambil melepaskan genggaman tangannya dari lengan Siwon. Tanpa menunggu apapun lagi, Siwon segera bergegas meninggalkan Kyuhyun yang masih juga menundukkan wajahnya.
.
Sepulang sekolah
"Siwon-ah.. kau masih marah padaku?" tanya Junho dengan wajah memelas, "Sejak di kantin tadi, kau terus diam dan tidak berbicara pada kami.." ucap Junho takut.
"Sudah kubilang aku tidak suka ada orang yang mengacak – acak rambutku.. Kenapa kalian masih juga melakukannya?!" tanya Siwon dengan nada suara sedikit tinggi.
"Hmm.. aku hanya gemas padamu, jadi.." ucap Junho berusaha memberi penjelasan.
"Sudahlah.. tak apa.." ucap Siwon mulai meluluh melihat wajah Junho yang memprihatinkan, "Sebagai gantinya kau yang harus membayar minumku malam ini.." ucap Siwon dengan evil smirk nya.
"Call!" ucap Junho senang melihat Siwon mau memaafkannya.
"Oh iya.. malam ini kita berjanji akan bertemu dengan Yuna di klub biasa ya.. aku sampai lupa.." gumam Minwoo, "Ah.. malam ini pasti menyenangkan.." senyum Minwoo bahagia.
"Baiklah.. sampai bertemu di klub biasa malam ini jam 9!" ucap Siwon singkat dan segera meninggalkan kedua sahabatnya menuju mobil.
Junho dan Minwoo mengangguk antusias dan sambil berjalan menuju mobil Junho yang diparkir agak jauh. Hari ini Minwoo memang sengaja tidak membawa mobil karena dijemput oleh Junho pagi harinya.
"Hey.. si anak cupu itu juga mau pulang rupanya.." bisik Minwoo pelan pada Junho.
"Ah benar.." ungkap Junho dengan senyum nakalnya sambil berlari pelan mendekat ke arah Kyuhyun yang sedang akan menaiki sepedanya.
"Hey, Kyu.. kau akan bekerja hari ini?" tanya Junho pada Kyuhyun.
"Nde.." jawab Kyuhyun singkat.
"Di mana kau bekerja? Aku hanya ingin tahu.." ungkap Junho kembali.
"Dekat sini.. Kafe Kona Beans.." Jawab Kyuhyun kembali dengan singkat, "Aku sudah hampir terlambat, aku pergi.." ungkap Kyuhyun dengan wajah datar.
"Oh nde.." ungkap Junho dengan senyum nakalnya kembali, "Hey, Minwoo – ah.. kau ingin bersenang – senang kan malam ini?" tanya Junho pada Minwoo dengan wajah usilnya.
"Tentu saja.." angguk Minwoo mengiyakan, "Ada apa dengan wajahmu itu? Kau merencanakan sesuatu kan? Iya kan anak nakal?" selidik Minwoo.
"Sudah kau diam saja.. Ayo ikut aku!" ajak Junho menuju mobilnya.
.
H & D Club
"Oppa!" Pukulan lembut seorang wanita di punggung Siwon mengagetkannya, "Aku sudah memanggilmu dari tadi, tapi kau tidak dengar juga" ucap wanita cantik itu kesal.
"Terlalu berisik di sini, Yuna - ah.." ucap Siwon dengan senyum lembutnya. Memang benar, deguman musik disco yang diputar dalam klub ini begitu memekakkan telinga.
"Minwoo dan Junho oppa belum datang?" tanya Yuna heran.
"Belum.. Sepertinya mereka pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.. Ia mengirimkan pesan padaku untuk membawakan baju karena mereka masih mengenakan baju saat ke kampus tadi.. Mereka merasa baju itu kurang keren.." ucap Siwon sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
"Hahaha.. mereka ada – ada saja.." tawa Yuna geli.
"Terkahir kuhubungi mereka sudah dekat.." ucap Siwon sambil melihat handphonenya, "Oh! Mereka sudah ada di parkirang.. Aku harus segera keluar untuk memberikan bajuku yang ada di mobil.. Kau mau ikut?" ajak Siwon.
"Aku ikut saja, oppa.." ucap Yuna.
Mereka pun keluar dari klub menuju parkiran. Baru saja keluar dari pintu klub, mobil Junho sudah berada di hadapannya dan menghalangi langkah Siwon.
"Annyeong Siwon – ah!" ucap Minwoo dari pintu belakang, "Annyeong Yuna – ah.." ucap Minwoo dengan senyum yang lebih dibuat menawan.
"Annyeong Minwoo oppa hahaha" tawa Yuna geli melihat perilaku Minwoo.
"Siwon – ah! Aku membawa hadiah untukmu.." ucap Junho keluar dari kursi pengemudi.
"Mwo ga?" tanya Siwon sedikit penasaran.
Junho sedikit berlari ke pintu kanan depan. Ia membuka pintu itu dan menarik lengan seseorang keluar.
"Lihat apa yang kubawa! hahaha" ungkap Junho dengan tawa puas.
"Untuk apa kau membawanya kemari?" tanya Siwon dingin.
"Aku membawanya sebagai hiburan saja.. Aku ingin lihat bagaimana anak cupu sepertinya berada di klub seperti ini.." ungkap Junho sambil menarik tubuh Kyuhyun mendekat pada Siwon.
"Oh.. bukankah kau.." ucap Yuna saat melihat Kyuhyun. Ia merasa pernah bertemu di suatu tempat, namun lupa di mana dan kapan hal itu terjadi.
Siwon hanya terdiam memperhatikan wajah Kyuhyun yang terus menunduk dan kedua tangannya bergetar. Siwon juga melihat poni yang menutupi kening Kyuhyun sedikit basah. 'Ada apa dengan anak ini', Siwon membatin di dalam dirinya.
"Lebih baik kau bawa saja dia ke dalam dan berikan kunci mobilmu.. Biar aku dan Minwoo yang mengambil pakaian di mobilmu" Junho pun mendorong pelan tubuh Kyuhyun ke arah Siwon. Hanya dengan dorongan kecil sudah mampu membuat anak itu limbung dan jatuh ke tanah beraspal itu.
Semua menatap Kyuhyun dengan heran tanpa ada yang membantunya. Perlahan Kyuhyun bagun dari jatuhnya dengan berpegangan pada mobil Junho yang ada di sampingnya. Ia menatap keempat orang yang ada di hadapannya dengan mata sayu.
"Aku.. Aku sepertinya tidak bisa ikut bersama kalian malam ini.." ucap Kyuhyun dengan suara tak bertenaga dan segera berusaha melangkahkan kakinya menjauh dari keempat orang itu.
"Tunggu! Kau tidak bisa pergi seenaknya begitu! Ayo masuk!" Junho kembali menyeret tubuh Kyuhyun pada Siwon, dan segera pergi bersama Minwoo untuk mengambil pakaian. Hingga mau tidak mau Siwon harus memegang Kyuhyun yang limbung. Siwon memegang tangan Kyuhyun yang bergetar, basah, dan dingin. Siwon tampak berpikir dengan wajah dinginnya.
Kyuhyun yang sedari tadi menunduk, perlahan memberanikan diri menatap Siwon yang sedang menggenggam tangan kanannya. Kyuhyun menggerakkan tangan kirinya untuk turut menggenggam tangan Siwon yang sedang bersatu dengan tangan kanannya. Kyuhyun berbisik pelan pada Siwon, "Mi.. Mianhe.., hyung.."
Satu tetes air mata meluncur dari mata Kyuhyun yang memerah. Tetesan air mata itu jatuh pada tangan Siwon yang sedang menggenggam tangan Kyuhyun. Hal itu membuat Siwon menatap genggaman tangannya dengan lekat. Dengan tenaga yang tersisa, Kyuhyun melepaskan genggaman Siwon dan melangkahkan kakinya dengan gontai menjauh dari Klub malam.
"Oppa! Kenapa kau biarkan dia pergi.." Yuna yang berniat untuk menyusul Kyuhyun mendapat genggaman tangan dari Siwon, "Wae, oppa?" tanya Yuna heran. Namun, Siwon hanya diam dengan tatapan kosong.
"Oh? Dimana anak cupu itu?! Apakah dia sudah masuk lebih dulu?" tanya Junho yang sudah selesai mengganti bajunya bersama Minwoo.
"Apa yang sudah kalian lakukan padanya?" tanya Siwon pelan masih dengan tatapan kosong.
.
.
To Be Continued
Happy Read and Review teman – teman..
Kritik dan Saran selalu ditunggu yaa
Makasih juga dengan review yang sudah diberikan teman – teman di chapter sebelumnya
Ceritanya akan mulai menarik di Chapter ini.. hahaha
