Title : Life is a Promise

Genre : Brothership and Family

Rating : Fiction K+

Cast : Kyuhyun, Siwon, Ki Hoon, Mik Yeon, Kim Yuna

Disclaimer : All them belong to themselves and GOD. I own only the plot.

Warning : Not YAOI. It's pure brothership and complicated family relationship.

Summary : bisa kau jelaskan sesuatu padaku, eomma?/ Ponselnya tidak aktif, Otoekhe?/ Apa tidak sebaiknya kita melapor pada polisi, appa?/ Tolong kami.. hyungku terluka sangat parah../ Kau tetap selalu cantik di mataku, eomma../ Aku kembali, hyung../ Jangan sentuh aku!/ Tunangan itu akan tetap berlangsung../ Bogoshippo, appa.../ Siapa kau sebenarnya, kyuhyun-ssi?

CATATAN : Kim Yuna yang ada dalam FF ini adalah Yuna seorang figure skater dari Korea. Bukan artis K-POP ataupun pemain drama ya.

Di sini memang ada sedikit unsur romance, tapi tetap alur utamanya alah brothership dan family.

.

LIFE IS A PROMISE Chapter 5

.

Tatapan mata Siwon terus mengikuti arah langkah dari pemuda dengan hoodie berwarna abu – abu dan celana jeans itu. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti pemuda pucat itu. Siwon ingin menemukan jawaban dari pertanyaan yang membuatnya pusing akhir – akhir ini. Tentu saja, semua ini tentang Kyuhyun.

Pada akhirnya, Siwon memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena langkah kaki pemuda itu mengarah pada sebuah gang kecil. Karena harus memarkirkan mobil kesayangannya, ia tertinggal beberapa langkah dari Kyuhyun. Siwon memandang gang tersebut dan bingung memilih arah mana yang tadi dilewati oleh Kyuhyun.

'Ke mana anak itu?'

Siwon mencoba melangkahkan kakinya ke arah kiri, namun terhenti saat mendengar sebuah teriakan dari arah kanannya.

"Siapa kalian?! Lepas! LEPASKAN AKU!"

Siwon yang mendengar teriakan itu, langsung berlari menuju sumber suara dan melihat 5 lelaki berjas hitam mengelilingi pemuda pucat yang sedari tadi diikutinya. 5 pemuda kekar dengan jas hitamnya itu berusaha menahan Kyuhyun yang ingin melarikan diri.

"APA MAU KALIAN?! LEPASKAN AKU!" berontak Kyuhyun dengan sekuat tenaga.

"TENANGLAH! Kami tidak akan melukaimu, tapi kami mohon untuk masuk ke dalam mobil!" ucap salah satu pria berjas hitam itu.

"AKU MAU DIBAWA KE MANA?! LEPASKAN AKU! LE..PAS.. A..KU..mohon" ucap Kyuhyun dengan tenaga yang tersisa. Jangan lupa bahwa anak berkulit pucat ini belum dalam keadaan sehat.

"DIAMLAH!" bentak pria berjas lain sambil semakin mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Kyuhyun.

"Ja..ngan bu..nuh aku.." ucap Kyuhyun pelan dan perlahan semakin menutup matanya.

Bruk. Tubuh itu jatuh berlutut dengan kedua lengan yang masih terangkat ke atas akibat genggaman dari dua pria berjas hitam di sampingnya.

"A.. Apa yang sudah kalian lakukan?" Tanya pria lain di sudut jalan lain dengan wajah serius bercampur takut, yang sedari tadi menyaksikan apa yang sudah terjadi.

"SUDAH CEPAT BAWA DIA KE DALAM MOBIL!" Ucap salah satu pria berjas hitam yang terlihat sebagai ketua dari keempat pria lainnya, dengan mengabaikan pertanyaan dari Siwon.

"YAAK! Kalian tidak menjawab pertanyaanku?!" teriak Siwon sambil setengah berlari, saat melihat kelima pria berjas itu berlari masuk ke mobil sambil menggendong Kyuhyun yang sudah tak sadarkan diri dengan gaya bridalnya.

Tanpa pikir panjang Siwon segera berlari menuju mobil merahnya. Ia berlari sambil berusaha menghubungi seseorang yang tak kunjung mengangkat telponnya.

"Tolong angkat.. jebbal.." gumam Siwon dengan lirih, "Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Angkat telponku.. jebbal.." gumam Siwon sepanjang perjalanannya ke suatu tempat yang sudah ia tahu pasti sebagai tujuan dimana Kyuhyun akan berada.

.

Kim Yuna's Home

"Eomma.. aku pulang" ucap Yuna dengan sambil menjinjing sebuah tas besar yang berisi peralatan ice skating nya.

"Eoh.. Bagaimana latihanmu hari ini Yuna-ah?" tanya sang eomma penuh perhatian pada anak semata wayangnya itu.

"Seperti biasa.. Aku harus berlatih keras untuk menghadapi olympic 5 bulan mendatang" ucap Yuna sambil mendudukkan diri di sofa dan memejamkan matanya sejenak.

"Jangan terlalu lelah, sayang.. Kau juga harus tetap menjaga kesehatanmu.." lirih sang eomma dengan sayang sambil mengelus wajah anaknya, "Apakah kau sudah makan?" tanya sang eomma kembali.

"Belum.." jawab Yuna dengan singkat.

"Eomma sudah masakkan makanan kesukaanmu.. ayo kita makan!" ajak sang eomma sambil menarik tangan Yuna lembut.

"Appa eoddi?" tanya Yuna sambil melihat sekeliling rumahnya.

"Appamu belum pulang.. Ia menelpon dan mengatakan bahwa ada beberapa pekerjaan yang harus ia urus.." ungkap sang eomma, "lebih baik kita makan saja lebih dulu.. ayo.." ajak eomma.

"Kau masak apa eomma? Aku tidak boleh makan makanan berlemak... pelatih mengatakan bahwa berat badanku naik beberapa kilo.." ucap Yuna dengan wajah cemberut.

"Eomma masak cream soup daging ayam.. apakah tidak boleh?" tanya sang eomma cemas jika masakannya akan sia – sia.

"Baiklah, kali ini tidak apa – apa.." ucap Yuna dengan senyum cantiknya, "tapi kurasa untuk beberapa minggu ke depan, aku harus melewatkan waktu makan malamku" ungkap Yuna lesu.

"Kalau begitu, eomma akan belikan kau buah yang banyak sebagai pengganti makan malammu" usul sang eomma.

"Wah.. eomma adalah yang terbaik!" ungkap Yuna sambil mengacungkan kedua ibu jarinya dan tersenyum lebar.

.

Choi Siwon's Home

Nyonya rumah sedang duduk di ruang tengah, dengan kaku sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap kosong meja yang ada di hadapannya.

"Nyonya.. tuan muda sudah tiba" tatapan wanita itu seketika terangkat sambil menarik napas dalam – dalam, "baiklah, suruh dia kemari" ucap wanita tersebut.

Brak! Suara pintu terbuka dengan keras.

"Eoh? Siwon-ah?" tanya sang eomma saat melihat anak lelakinya masuk dengan tatapan tajam padanya.

"Sebenarnya ada apa, eomma?" tanya Siwon dengan penekanan pada kata – katanya.

"Apa maksudmu Siwon-ah?" tanya sang eomma tak mengerti.

Krek. Pintu masuk kembali terbuka.

Mik Yeon dan anaknya memfokuskan kedua matanya pada seseorang yang masuk dengan wajah tertunduk.

"A..apa yang sudah terjadi?" tanya Mik Yeon dengan wajah sedikit kaget.

"Maafkan kami, nyonya.." ungkap orang tersebut dengan takut, "Kami tidak melakukan kekerasan apapun, tapi.." ucapan lelaki berjas itu terhenti dengan sentakan dari Mik Yeon.

"Jika kau tidak melakukan apapun, bagaimana dia bisa pingsan seperti itu?" tanya Mik Yeon pelan namun dengan nada sinis, "baringkan dia di sofa.." perintah Mik Yeon.

Salah satu pria berjas hitam itu membaringkan Kyuhyun di atas sofa berwarna coklat muda dengan perlahan. Mik Yeon menatap dengan intens wajah lelaki muda yang sedang tak sadarkan diri di atas sofa yang beberapa menit lalu masih setia ia dudukki.

"Jadi.. Sekarang, bisa kau jelaskan sesuatu padaku, eomma?" tuntut Siwon yang masih berdiri tegak di belakang sang eomma untuk meminta penjelasan.

.

Kedai Jajangmyeon

"Kau sudah bisa menghubunginya?" tanya seorang pria paruh baya dengan wajah cemas.

"Ponselnya tidak aktif, appa.. Otoekhe?" jawab sang anak yang sedari tadi tak berhenti menghubungi seseorang. Ia terus menerus berusaha menghubungi ponsel dongsaengnya setelah berkunjung ke rumah sang adik, dan justru hanya menemukan sebuah sepeda yang sangat ia kenal berada di tengah jalan.

"Di mana kau, nak? Bagaimana bisa sepedamu tergeletak begitu saja di jalan depan rumahmu, tapi kau tak ada di rumah?" gumam pelan sang appa sambil mengusap – usap kedua tangannya yang sudah berkeringat karena khawatir, "Setidaknya angkat teleponmu, nak.. Appa khawatir.." gumaman pelan terus keluar dari mulutnya.

"Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kyuhyun-ie? Bagaimana ini..." gumam Zhoumi tak kalah cemas, "Apa tidak sebaiknya kita melapor pada polisi, appa?"

.

"Appa awaaaas!" teriak seorang anak lelaki berusia 14 tahun yang duduk di kursi depan sebelah sang pengemudi, yaitu ayahnya.

BRAK! Benturan keras terjadi antara sebuah mobil sedan Audi berwarna putih dengan truk box berukuran besar.

"Ap..pa Ap..pa, gwen..chanayo?" tanya anak lelaki itu sambil menggoyang – goyangkan lengan ayahnya.

"Hmm.. gwenchanayo.. lihatlah keadaan hyungmu" ungkap sang appa dengan lemah.

Anak lelaki 14 tahun itu pun berusaha menolehkan kepalanya ke kursi belakang untuk melihat keadaan kakaknya.

"Hyung.. hyung.. HYUNG!", anak itu berteriak saat melihat kakak lelakinya sudah tak sadarkan diri, "Hyung, kau kenapa? Kepalamu berdarah sangat banyak.. othoke?", anak itu menangis dengan perasaan takut.

Dengan tangan yang bergetar, anak itu mengambil ponsel di sakunya dan berusaha menghubungi 119. "Tolong kami.. hyungku terluka sangat parah.. appa ku juga memiliki luka di kepalanya.. tolong kami.. to.. long.. se..lamat..kan appa dan hyung ku, jeb..bal.." anak itu menangis tersedu – sedu.

SRET! Tiba – tiba sebuah tangan dengan ditutupi sarung tangan kulit berwarna hitam merebut handphone anak itu secara paksa dan melemparkan ke sembarang tempat. Tangan hitam itu lalu mencekik leher anak itu dengan kasar. "Jangan harap ada yang selamat, termasuk kau anak sialan.. Kau akan segera menyusul appa dan hyungmu" bisik pria itu dengan suara bass nya.

"uhuk.. uhuk.. to..long.. to..long.." ucap sang anak sebisa mungkin sambil terus berusaha melepaskan cengkraman tangan lelaki itu di lehernya.

"To..long.. to..long.. uhuk.. uhuk.. eungh.. ap..pa, hyung.. to..long"

"Haruskah aku membangunkannya?" tanya seorang lelaki.

"Jangan. Ambilkan saja minum di dapur" ungkap wanita yang lebih tua. Anak lelakinya itu pun beranjak ke dapur untuk mengambilkan segelas minuman.

"Ap..pa.. hyung.." anak lelaki yang paling muda masih terus mengigau dalam tidurnya, bahkan beberapa tetesan air mata sudah jatuh melewati telinganya.

Wanita paruh baya, nyonya Min Yeok, hanya duduk dengan wajah datar menatap anak lelaki yang masih terbaring di sofa yang berhadapan dengannya. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya saat melihat anak itu. Tanpa disadari kedua tangannya sedari tadi saling meremas satu sama lain. Entah apa arti dari perilakunya itu.

"APPA! HYUNG!" anak itu akhirnya terbangun dari tidurnya dengan keringat yang sudah membasahi tubuhnya, "hah..hah..hah..", ia menunduk sambil berusaha mengatur nafasnya yang saling berburu tak wajar.

"Kau sudah bangun?" tanya Siwon yang sudah kembali dengan membawa segelas air di tangannya, setelah itu ia berjalan mendekat dan menaruh gelas itu di meja, "minumlah".

Anak itu, Kyuhyun, terpaku diam di tempat duduknya sambil menatap perlahan seisi ruangan tempatnya berada. Tempat ini sangat ia kenal. Lukisan bunga lily itu, guci coklat muda itu, karpet permadani itu, lampu kristal itu, sofa coklat yang sedang diduduki ini, semuanya ia sangat kenal. Tempat ini...

"Kau kembali" ucap wanita di hadapannya dengan singkat.

Mata Kyuhyun yang menerawang ke setiap sisi ruangan, berpindah fokus pada wanita di hadapannya.

"Kenapa kau tak bilang akan kembali ke Korea?" tanya wanita itu kembali dengan wajah datar, sambil menyilangkan lengannya di dada.

"Aku.." Kyuhyun menghentikan ucapannya, dan terpaku menatap wajah wanita di hadapannya. Satu tetes air mata terjatuh dari mata kanannya yang sudah memerah.

'Wajah itu tetap cantik seperti 3 tahun yang lalu. Kau merubah sedikit tatanan rambutmu, tapi tetap cantik. Berat badanmu berkurang cukup banyak, tapi tetap cantik. Ada sedikit kerutan di kedua matamu, tapi tetap cantik. Tidak ada senyuman lagi di bibir merahmu, tapi tetap cantik. Kau tetap selalu cantik di mataku, eomma..' batin Kyuhyun di dalam hati sambil terus menatap kedua bola mata wanita di hadapannya.

"Aku.. Aku kembali, eom.. eomma.." ucap Kyuhyun sedikit takut.

"Mengapa kau kembali?" tanya wanita itu lagi dengan wajah dingin.

Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan ibunya dan menunduk, sambil sesekali mengusap pipinya yang basah karena air mata.

"Karena kau kembali, maka aku bisa menggunakanmu untuk mengatasi masalah hotel" ucap wanita itu dengan ketus, "Kau akan bertunangan dengan anak dari pemilik perusahaan SJ group, direktur Kim" ungkap Min Yeok tanpa meminta persetujuan Kyuhyun.

"Nde? Eom.. eomma.." ungkap Siwon dengan wajah terkejut, "Maksudmu Kyuhyun akan bertunangan dengan Kim Yuna?", tanya Siwon untuk mengkonfirmasi.

"Nde.." jawab sang eomma singkat.

"Ta.. tapi.." wajah Siwon berubah serius.

"Bukankah kau menolak dengan keras pertunangan ini? Lalu apa salahnya jika dongsaengmu yang akan bertunangan.." ucap Mik Yeon sambil terus menatap Kyuhyun.

"Baik, eomma.. akan aku lakukan semuanya yang kau katakan" ucap Kyuhyun dengan wajah datar sambil membalas tatapan dalam dari sang ibu.

Mik Yeon pun mengambil ponsel yang ada di sampingnya dan menghubungi seseorang. "Jongshin – shi, tolong beritakan bahwa anak bungsuku, Choi Kyuhyun, telah kembali dari Canada. Aku ingin melihat berita itu sudah tersebar besok pagi" tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Mik Yeon langsung memutus panggilannya.

"Kau harus mengemasi barang – barangmu dari kamar sewamu besok dan segera pindahkan kemari" ucap Mik Yeon tanpa senyuman, "Acara pertunangan akan dilakukan minggu depan", ucap wanita itu dengan dingin dan langsung berdiri meninggalkan ruang tengah.

"Eom.. eomma" panggil Kyuhyun dengan pelan, tapi sukses menghentikan langkah kaki Mik Yeon, "Mianhe.." ucap Kyuhyun dengan suara yang lebih pelan dan kepala menunduk, "Mianhe, eomma.."

Mik Yeon hanya menghela napasnya dan kembali melanjutkan langkah kakinya ke arah kamar. Dengan begitu, hanya tersisa dua orang di ruang tengah tersebut.

"Hyung.." Kyuhyun mencoba memanggil hyungnya yang sedari tadi terlihat melamun setelah mendengar berita pertunangannya dengan Kim Yuna.

"Aku belum sempat menyapamu secara formal, hmm... Aku kembali, hyung.." ungkap Kyuhyun dengan senyum tipis di wajah lelahnya, "Apa kabarmu, hyung?" tanya Kyuhyun masih dengan senyuman tipisnya.

Siwon tidak menjawab dan langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa membalas tatapan kyuhyun sedetik pun.

"Hyung, chakkaman!" Kyuhyun ikut beranjak dari duduknya, "Aku.. aku juga ingin mengatakan maaf padamu, hyung" ucap Kyuhyun lirih, "Mi.. mianhe, hyung" bisik Kyuhyun.

Sama seperti ibunya, Siwon mengabaikan permintaan maaf dongsaengnya dan kembali melangkahkan kakinya ke lantai dua.

Kyuhyun menghela napas beratnya yang sedari tadi tertahan. Setelah itu, ia berjalan pelan mengelilingi ruangan tengah dengan mata yang kembali memerah. Ia meraba dengan ragu lukisan bunga lily yang terpajang di dinding, sofa coklat tempatnya duduk, dan juga menatap lampu kristal yang tergantung tepat di atas kepalanya.

'Appa kurang tinggi.. aku tidak bisa memasangkan lampunya kalau hanya setinggi ini.. ayo angkat aku lebih lebih tinggi lagi appa!'

Kyuhyun tersenyum sambil terus menatap lampu gantung itu.

"Maaf, tuan.." panggil seorang pria, "Kami akan mengantarmu kembali ke kamar sewamu", ucap pria berjas hitam itu dengan sopan. Orang itu sama dengan orang yang memaksanya untuk masuk ke dalam mobil beberapa waktu yang lalu. Cara berbicaranya sangat berbeda.

"Tidak perlu. Aku akan pulang sendiri" Kyuhyun berkata dengan dingin dan berjalan menuju pintu keluar.

"Tapi, tuan muda.." ucap pria itu lagi sambil sedikit berlari menyusul Kyuhyun.

"Jangan sentuh aku!" Kyuhyun berbicara sedikit keras, "Aku akan pulang sendiri." Ucap Kyuhyun tegas.

Kyuhyun pun berjalan dengan mengikuti langkah kakinya menuju gerbang pintu keluar. Ia terus berjalan menjauhi rumah yang besarnya bak istana itu. Tanpa disadari ada seseorang dari jendela di lantai dua, yang terus menatap langkah kaki Kyuhyun menjauh keluar gerbang.

.

Kim Yuna's Home

"Appa kau sudah pulang?" sambut Kim Yuna pada ayahnya yang baru memasuki rumah.

"Nde.. Kau belum tidur?" tanya Tuan Kim.

"Aku menunggumu, appa" ucap Yuna dengan senyum manisnya.

"Kau tidak perlu menunggu appa.. Kau tahu bahwa appa selalu pulang larut malam.." ucang sang appa dengan wajah lelahnya.

"Karena itu.. Karena kau selalu pulang larut malam, maka aku harus menunggumu.. Jika tidak aku tidak akan pernah bisa melihat wajahmu, appa.." ungkap Yuna dengan wajah yang berubah serius.

"Jangan bicarakan itu lagi, Yuna-ah.. Appa lelah.." ungkap tuan Kim sambil beranjak ke kamarnya, meninggalkan anak perempuan semata wayangnya yang terlihat sedih. Namun, langkah itu terhenti, "Yuna-ah.." panggil sang appa lirih.

"Hmm?" jawab Yuna dengan gumaman.

"Tunangan itu akan tetap berlangsung.." ucap tuan Kim dengan suara beratnya dan kembali melanjutkan langkahnya ke kamar.

.

Kedai Jajangmyeon

"Kau belum juga bisa menghubunginya?" tanya seorang pria baruh baya.

"Ponselnya tidak aktif, appa..", Zhoumi menghela napas khawatir, "Di mana sebenarnya anak itu?" gumam Zhoumi dengan suara bergetar, "Aku tidak bisa diam di sini terus, aku akan coba mencarinya.." Zhoumi seketika beranjak dari tempat duduknya.

"Kau mau ke mana? Ke mana kau akan mencarinya?" sang appa bertanya sambil menahan tangan sang anak.

"Aku akan mencarinya ke manapun! Si bodoh itu mungkin belum berada jauh dari sini.." ucap Zhoumi dengan suara kerasnya.

"Aku di sini.." lirih anak lelaki yang menjadi fokus pembicaraan dari bapak dan anak itu sedari tadi. Kyuhyun perlahan berjalan dengan langkah gontai menuju meja tempat pria paruh baya dan anak lelakinya itu duduk. Ia duduk dengan perlahan menghadap Zhoumi dan appanya.

Zhoumi dan sang appa hanya diam dan menatap Kyuhyun dengan raut wajah khawatir. Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka bertiga. Kyuhyun hanya menunduk dengan wajah lelahnya, sedangkan Zhoumi dan sang appa hanya terus menatapnya dan menunggu hingga anak itu berbicara. Pada akhirnya, Kyuhyun mengangkat wajahnya dan menatap lurus kedua mata sang appa. Mata Kyuhyun kian lama memerah dan meneteskan air mata tanpa henti.

"Bogoshippo, appa..." bisik Kyuhyun pelan di tengan tangisannya.

"Oh Kyuhyun-ie.." sang appa segera berdiri dari duduknya, lalu mendekat ke arah Kyuhyun untuk mendekapnya dengan erat, "Gwenchana? Apa terjadi sesuatu?" tanya sang appa yang terlihat sangat khawatir.

"Appa.. appa.. appa.. appa.." Kyuhyun terus menangis sambil terus memanggil sang appa, "mianhe.." bisik Kyuhyun di akhir sambil mendekap ayahnya semakin erat.

"Appa di sini, Kyunie.. Appa di sini, nak.." ungkap sang appa sambil mengecup pelan rambut coklat sang anak.

Zhoumi yang melihat itu, hanya bisa mengusap punggung adiknya dengan lembut. Berharap usapannya dapat memberi ketenangan pada adiknya yang terlihat terguncang. Ia sangat tahu bahwa ada hal yang sudah terjadi pada adik lelakinya itu.

.

Keesokan harinya

Kyuhyun mengayuh sepedanya memasuki gerbang kampusnya. Tanpa dilihat, ia sudah bisa merasakan bahwa setiap orang yang ia lewati menatapnya sambil berbisik. Ia sangat tahu apa penyebab dari tatapan setiap orang yang menjadi berbeda padanya.

'Dia anak kedua dari Choi? Dia anak konglomerat! Daebak!'

'Dia salah satu penerus Choi yang kaya itu bukan? Bagaimana mungkin?'

'Kenapa dia selalu menggunakan sepeda tua jika ia adalah penerus Hotel Choi group?'

'Kalau dia adalah anak kedua dari Choi, maka bukankah dia adalah adik dari Choi Siwon?! Astaga!'

Kyuhyun dapat mendengar bisikan – bisikan itu di sekitarnya dengan sangat jelas. Tapi, ekspresi yang ditampilkannya selalu datar tanpa ekspresi, seakan tidak terjadi sesuatu yang besar. Bukankah orang – orang itu yang menertawakannya saat ia mengangkut meja nya saat tiba – tiba sudah berada di lapangan. Bukankah orang – orang ini juga yang menertawakannya saat Junho, Minwoo, dan Siwon membully nya di kantin. Hanya dengan satu berita di internet ataupun TV, tatapan menghina yang selalu didapatkannya bisa berubah seketika? Ckckck.. Kyuhyun menggeleng kepalanya pelan sambil memasangkan earphone pada telinganya.

Kyuhyun berjalan dengan langkah cepat agar bisa segera sampai di kelasnya. Namun, langkah cepat itu tak berlangsung lama karena di tengah perjalanan ada tiga orang yang selalu memberikan sapaan spesial padanya.

"Wow.. wow.. woow.. CHOI KYUHYUN!" teriak Junho sambil mengangkat salah satu tangannya untuk melakukan high five dengan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menatapnya datar tanpa membalas ajakan high five dari Junho. Junho pun hanya tertawa kecil menahan kesal.

"Ya! Choi Siwon, jadi dia benar adikmu?" tanya Minwoo pada Siwon.

"Adikku?" Siwon justru bertanya ulang sambil menatap wajah Kyuhyun dengan tatapan berpikir, "Entahlah..." ungkap Siwon sambil tertawa kecil, "Bagaimana menurutmu, Choi Kyuhyun?" Siwon justru bertanya balik pada Kyuhyun dengan tatapan dingin.

Kyuhyun kembali tidak memberi jawaban dan hanya menatap Siwon dengan wajah datar. Siwon pun akhirnya hanya tertawa kecil sambil menyeringai karena kesal.

"Mau berpura – pura tuli, huh?!" ungkap Siwon dengan suara meninggi sambil melepaskan earphone pada salah satu telinga Kyuhyun dengan kasar. "Jangan bermain – main denganku.." ucap Siwon dingin dan berjalan melewati Kyuhyun sambil menabrakkan salah satu pundaknya dengan pundak Kyuhyun dengan keras. Hal ini membuat Kyuhyun sedikit terhuyung ke belakang.

Tanpa mau ambil pusing, Kyuhyun kembali memasangkan earphone nya dan berjalan menuju kelas. Tentunya masih diiringi dengan tatapan penuh selidik dari orang – orang di sekitarnya.

.

Waktu Istirahat tiba

Kyuhyun berjalan seorang diri menuju kantin. Ia mengantri untuk mengambil makan dan memilih untuk duduk di kursi kosong dekat jendela. Lagi - lagi ia tertarik dengan kegiatan ekstrakurikuler melukis yang sedang berlangsung di taman dekat kantin. Ia memfokuskan pandangannya pada kegiatan tersebut sambil sesekali menyendokkan makanan ke mulutnya. Oh iya, jangan lupakan earphone yang masih setia di telinganya.

"Hei, kau Choi Kyuhyun?" tiba – tiba seorang wanita menghampiri tempat duduknya sambil menyilangkan tangannya di dada.

"Hmm.. Maja (benar)" ucap Kyuhyun singkat sambil kembali mengalihkan matanya pada pemandangan di luar jendela.

"Kalau begitu, kau yang akan menjadi tunanganku?" tanya wanita cantik itu kembali dengan suara rendah dan tatapan dinginnya pada Kyuhyun.

"Nde.. Maja" jawab Kyuhyun kembali sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.

"Maja?!" Yuna mengulang kembali ucapan Kyuhyun dengan tatapan tak percaya, "Hey, Mr. Maja! Aku tidak akan menerima pertunangan itu! Ingat itu.." ucap Yuna dengan penekanan di setiap ucapannya.

"Ikuti saja kemauan orang tua kita.. Bukankah itu jalan termudah? Kenapa kau harus mempersulit dirimu sendiri?" ungkap Kyuhyun tanpa ekspresi, "Lagi pula ini hanya tunangan.. Kau belum tentu akan menjadi istriku, benar kan?" tanya Kyuhyun sedikit tertawa kecil.

"Kau gila?!", Yuna berteriak sambil meremas cup jus jeruk yang ada di tangannya. Namun, sebelum jus jeruk itu mencuat keluar dari cupnya, sebuah tangan lain sudah mengambil alih cup tersebut dan menumpahkannya di atas makan siang Kyuhyun.

"Itu salam penyambutanku atas kedatanganmu kembali ke Korea, dongsaeng.." ucap Siwon sinis sambil merangkul pundak Yuna untuk duduk dan makan bersamanya. Sedangkan, Kyuhyun hanya diam dan menatap makan siangnya yang sudah bercampur aduk dengan jus jeruk milik Yuna.

"Setidaknya, terima kasih karena telah menyambut kedatanganku kembali kemari, hyung.." bisik Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Kring Kring.. Tiba – tiba handphone nya berbunyi.

"Nde?" ucap Kyuhyun dengan wajah serius.

"Seberapa serius masalah itu?" tanya Kyuhyun lagi dengan dahi mengernyit.

"Apakah aku harus mempercepat pertunangannya?" tanya Kyuhyun sambil kembali menatap mahasiswa yang sedang melukis di taman.

"Akan kubuka data yang sudah kau kirimkan.. Aku akan mengurusnya sebisa yang kumampu" ucap Kyuhyun sambil memijat dahinya, "Akan kukabari lagi nanti", Kyuhyun pun menutup panggilan tersebut dan segera beranjak keluar kantin dengan tatapan penuh selidik dari Siwon maupun Yuna, serta tatapan penasaran dari orang – orang di sekitarnya.

.

"Kenapa aku harus bertunangan dengan dia dan bukannya denganmu, oppa?" tanya Yuna dingin sambil memainkan makanan di hadapannya.

"Aku sedang tidak ingin membahasnya saat ini" ucap Siwon tegas.

"Kenapa dia tiba – tiba datang? Aku bahkan tidak tahu kau punya seorang adik.." ucap Yuna dengan wajah yang mulai melunak.

"Oh iya.. bahkan dia juga bekerja sebagai pelayan di caffe dekat sini, bukan?" ungkap Minwoo yang terlihat bingung, "Hmm.. Apakah dia benar - benar adikmu, Siwon-ah?" tanya Minwoo ragu – ragu.

"Bekerja? Sebagai pelayan? Di caffe?" tanya Yuna dengan mata yang melebar.

"Diamlah! Sudah kubilang aku sedang tidak ingin membahasnya!", Siwon berteriak cukup keras dan beranjak meninggalkan kantin dengan amarahnya.

"Kenapa kau bertanya seperti itu, Minwoo – ah!", ungkap Junho sambil menyikut lengan Minwoo.

"Caffe mana dia bekerja?" tanya Yuna dengan tatapan serius pada Minwoo.

.

Setelah berjam – jam ia berkutat dengan laptopnya, Kyuhyun akhirnya menyadari bahwa matahari di luar sudah terbenam. Pada akhirnya, ia menutup laptopnya dan keluar dari ruang perpustakaan menuju tempat parkir sepedanya.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir sepeda, ia menghubungi seseorang dengan ponselnya, "Aku sudah mengirimkan laporan hasil analisisku. Ada yang benar – benar tidak beres di sini. Aku butuh data lebih banyak. Usahakan untuk mendapatkan data sebanyak mungkin dan kirimkan padaku", setelah itu Kyuhyun segera menutup panggilannya.

.

Kona Bean's Caffe

"Kau sudah bekerja keras hari ini, Kyuhyun-ah!" ungkap ahjussi pemilik caffe sambil menepuk lembut punggung Kyuhyun.

"Kamsahamnida, ahjussi.. Kau pun juga begitu.." ungkap Kyuhyun sambil membungkukkan badannya untuk memberi hormat.

"Jika kau sudah selesai membersihkan semuanya, tolong kunci pintunya ya.. Aku ingin pulang lebih cepat karena anakku sedang berulang tahun", ungkap sang ahjussi.

"Oh tentu saja, ahjussi.. sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku untuk anakmu, ahjussi.." ucap Kyuhyun dengan senyum tipis.

"Nde.. gomawo..", ucap sang ahjussi sambil meninggalkan caffe.

Kyuhyun pun melanjutkan pekerjaannya untuk mengelap beberapa meja dan membuang beberapa kantong sampah ke tempat pembuangan di depan caffe.

Tanpa disadari, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sudah terparkir tepat di depan caffe selama beberapa jam.

"Aku tidak pernah tahu bahwa Choi Siwon memiliki seorang adik.. Jika memang dia adik dari Choi Siwon serta anak kedua dari Nyonya Choi Mik Yeon, lalu kenapa dia baru muncul sekarang?", wanita berparas cantik, Kim Yuna, bergumam sambil menatap intens lelaki yang akan menjadi tunangannya.

"Siapa kamu sebenarnya, Choi Kyuhyun? Ada apa denganmu sebenarnya?" tanya Yuna sambil memijat dahinya.

"Ahjussi.. tolong carikan informasi apapun mengenai Kyuhyun.. apapun itu" ucap Yuna tanpa melepas pandangannya dari Kyuhyun, "Siapa dia, ada apa dengannya, apapun itu terkait Choi Kyuhyun, berikan informasi itu padaku secepatnya", perintah Yuna pada sang supir sekaligus asisten pribadi sang appa.

Setelah itu, Yuna pun tanpa ragu melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan mendekati lelaki berusia 18 tahun yang sedang membawa beberapa kantong plastik sampah di kedua tangannya.

Keberadaan Yuna membuat Kyuhyun sedikit terkejut dan menjatuhkan dua kantong plastik hitam yang ada di kedua tangannya.

"Hey, Mr. Maja.. Apakah kau benar – benar tunanganku? Siapa kau sebenarnya, Kyuhyun-ssi?"

.

To Be Continued

Maafkan karena baru sempat update setelah sekian lama. Aku tahu bakal banyak yang kesal karena FF ini gak update2. Tapi, karena kesibukan penulis jadi update FF tidak bisa dilakukan secepat yang teman – teman inginkan. Aku selalu usahain untuk terus update sampai tamat. Jadi, aku harap kalian tetap setia nunggu FF ini dan baca hingga akhir. Jangan lupa juga review nya yaaaa Aku usahain update selanjutnya akan lebih cepat

Terima kasih