Title : Life is a Promise
Genre : Brothership and Family
Rating : Fiction K+
Cast : Kyuhyun, Siwon, Ki Hoon, Mik Yeon, Kim Yuna
Disclaimer : All them belong to themselves and GOD. I own only the plot.
Warning : Not YAOI. It's pure brothership and complicated family relationship.
Summary : Kita kembali, boo/ Seharusnya kau tidak kembali sebelum aku menyuruhmu kembali../ Aku tidak bisa melukis lagi../ Saya merasa ada sesuatu yang aneh dengan kecelakaan tersebut/ tolong jaga eomma untukku/ Tetaplah menjadi tunanganku sampai hotel eomma kembali membaik../ Sampai saat itu tiba tetaplah memakai cincin itu dan menjadi tunanganku/ Apakah kau sudah mengunjungi makam ayahmu?
.
LIFE IS A PROMISE Chapter 6
.
"Siapa kamu sebenarnya, Choi Kyuhyun? Ada apa denganmu sebenarnya?" tanya Yuna sambil memijat dahinya.
"Ahjussi.. tolong carikan informasi apapun mengenai Kyuhyun.. apapun itu" ucap Yuna tanpa melepas pandangannya dari Kyuhyun, "Siapa dia, ada apa dengannya, apapun itu terkait Choi Kyuhyun, berikan informasi itu padaku secepatnya", perintah Yuna pada sang supir sekaligus asisten pribadi sang appa.
Setelah itu, Yuna pun tanpa ragu melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan mendekati lelaki berusia 18 tahun yang sedang membawa beberapa kantong plastik sampah di kedua tangannya.
Keberadaan Yuna membuat Kyuhyun sedikit terkejut dan menjatuhkan dua kantong plastik hitam yang ada di kedua tangannya.
"Hey, Mr. Maja.. Apakah kau benar – benar tunanganku? Siapa kau sebenarnya?" tanya Yuna dengan tatapan intens.
"Apa kau benar – benar ice skater yang terkenal itu, hingga bisa menyempatkan waktumu datang kemari hanya untuk bertanya seperti ini? Pabbo.." ucap Kyuhyun datar sambil kembali meneruskan kegiatannya untuk membuang sampah.
"Mwo? Pa.. Pabbo?!" ucap Yuna kesal.
"Sudah terlalu malam, sebaiknya kau pulang.." ucap Kyuhyun dingin dan kembali masuk ke dalam caffe meninggalkan Yuna sendiri.
Yuna menatap punggung calon tunangannya dengan tatapan dingin.
.
Keesokan harinya
Hari ini adalah hari Sabtu. Bagi kebanyakan orang, hari ini adalah waktunya untuk merehatkan diri. Namun, tidak bagi Kyuhyun. Ini adalah hari dimana ia harus pindah kembali ke rumah.
"Selamat datang kembali, tuan muda Kyuhyun" sapa seorang asisten rumah tangga wanita yang sudah bekerja hampir 20 tahun di rumah tersebut.
"Bagaimana kabarmu, ahjumma Lee?" ungkap Kyuhyun dengan senyum tipis, lalu bergerak memeluk ahjummanya dengan hangat, "Aku merindukanmu.." bisik Kyuhyun pelan.
Sang ahjumma hanya tersenyum dengan mata memerah. Ia mengelus lengan tuan mudanya dengan sayang. "Saya sudah membersihkan kamar anda, tuan muda.. Saya juga akan membantumu merapikan pakaian – pakaian itu.." ucap ahjumma Lee sambil mengambil alih koper yang Kyuhyun bawa.
"Tidak perlu, ahjumma.." ucap Kyuhyun dengan senyuman, "Aku bisa melakukannya sendiri.." ungkap Kyuhyun dengan sopan.
"Apakah tidak apa – apa? Saya bisa membantumu, jika anda merasa lelah.." ungkap ahjumma Lee kembali.
"Tidak perlu... Sebaiknya ahjumma yang beristirahat" ucap Kyuhyun sambil mengelus bahu sang ahjumma yang lebih pendek darinya.
"Tak terasa waktu berlalu dengan cepat.. Anda sudah semakin tinggi dan juga semakin dewasa, tuan.. Saya benar – benar bersyukur anda tumbuh dengan sangat baik.." ungkap ahjumma Lee dengan mata yang kembali memerah.
"Tentu aku harus tumbuh dengan baik, ahjumma.. Iya kan?" ucap Kyuhyun penuh dengan arti lain.
"Tentu saja.. tentu saja, tuan" jawab ahjumma Lee seakan – akan mengerti maksud dari tuan mudanya.
.
Kyuhyun memasuki kamarnya. Semuanya masih seperti dulu. Semua barang – barang miliknya masih berada di tempat yang sama. Warna tirai, bed cover, bahkan karpet di samping tempat tidurnya masih sama. Semua masih bernuansa putih, coklat, dan hijau tosca muda.
Kyuhyun perlahan duduk di atas tempat tidurnya dan mengeluarkan benda kecil dari dalam kopernya.
"Kita kembali, boo" bisik Kyuhyun pada teman kecilnya. Setelah itu, ia meletakkan boneka beruang kecil kesayangannya di atas tempat tidur dan menyelimutinya. Tak lupa ia memberikan senyuman sayangnya pada teman kecilnya itu.
Kyuhyun beranjak menuju jendela besar di kamarnya, yang mengarah langsung ke arah taman. Ia membuka jendela tersebut dan melihat seorang lelaki tampan yang lebih tua 3 tahun darinya sedang memasuki gerbang dengan pakaian jogging. Kyuhyun menatap setiap langkah kakak lelakinya dengan lekat. Seketika, Siwon membalas tatapan Kyuhyun dengan tatapan dingin. Mereka saling menatap satu sama lain selama 5 detik, hingga ahirnya Siwon melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Hyung..." gumam Kyuhyun pelan sambil terus menatap taman yang sudah kosong.
.
Tempat Latihan Kim Yuna
"Kau menunjukkan penampilan yang bagus hari ini, Yuna-ah.." ucap sang pelatih sambil menepuk pelan punggung Yuna, "Kuharap kau bisa mempertahankan penampilanmu di kejuaraan mendatang" ungkap sang pelatih lagi dengan senyuman.
"Pasti, coach.." ungkap Yuna optimis. Setelah itu, Yuna memberi bungkukkan hormat pada sang pelatih yang beranjak meninggalkan lapangan es tempat mereka berlatih.
Kim Yuna pun duduk di pinggir lapangan untuk melepaskan sepatu ice skating nya.
"Nona.." panggil sang supir dengan sopan.
"Ada apa?" tanya Yuna singkat.
"Ini beberapa informasi yang sudah saya dapatkan mengenai Choi Kyuhyun" ucap sang supir sambil memberikan sebuah amplop coklat.
Yuna menerima dan membuka amplop coklat tersebut. Ia membaca setiap informasi yang tertera pada kertas – kertas tersebut dengan seksama.
"Jadi dia benar – benar adik dari Choi Siwon.. Usia mereka berbeda 3 tahun.. Tapi, kenapa aku baru melihatnya sekarang?" gumam Yuna pelan, "Ahh.. dia pindah ke Canada setelah lulus SMP dan melanjutkan pendidikan senior high school di sana.. pantas saja aku baru melihatnya.." ucap Yuna sambil mengangguk – anggukkan kepalanya.
Setelah itu, Yuna kembali membaca lembar kertas lainnya. Dahinya sedikit mengernyit saat melihat bahwa lembar tersebut berupa sebuah potongan artikel koran.
"Oh? Apa ini?" Wajah Yuna terlihat semakin serius, "Kecelakaan? 2011?"
Yuna membaca dengan perlahan setiap kata dari artikel tersebut, "Carikan informasi lebih lanjut mengenai kecelakaan ini" titah Yuna pada sang supir.
.
Kediaman keluarga Choi
Setelah berjam – jam merapikan bajunya ke dalam lemari, tak terasa bahwa saat ini sudah waktunya makan malam. Kyuhyun perlahan berjalan keluar kamar dan turun melewati tangga menuju ruang makan.
Saat memasuki ruang makan, terlihat bahwa Siwon sudah makan terlebih dahulu sambil memainkan ponselnya.
"Hyung, kau sedang makan? Kenapa tidak memanggilku, jadi kita bisa.." ucapan Kyuhyun terputus karena Siwon bergegas bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan makanannya yang terlihat masih banyak.
"Hyung.." panggil Kyuhyun sambil menahan lengan Siwon.
"Lepaskan!" ucap Siwon dingin dengan nada rendahnya.
"Habiskan makan malammu dulu, hyung.." ucap Kyuhyun lembut.
"Aku tidak tahan berada satu ruangan denganmu" ucap Siwon sambil menghentakkan lengannya dan beranjak pergi.
"Baiklah!" teriak Kyuhyun untuk menghentikan langkah Siwon, "Biar aku saja yang pergi, tapi hyung harus menghabiskan makananmu.." ungkap Kyuhyun sambil terus melangkah melewati Siwon.
Namun, langkah Kyuhyun kembali terhenti. Tiba – tiba, Kyuhyun sedikit limbung dan membuatnya harus berpegangan erat pada punggung kursi di sampingnya. Kedua tangan Kyuhyun terlihat gemetar. Hal itu sangat kentara, sehingga Siwon pun bisa melihatnya. Kyuhyun terlihat mengatur napasnya beberapa kali sambil membalas tatapan Siwon padanya. Sesekali, Kyuhyun memberikan senyuman tipis pada hyungnya yang terlihat sedikit terkejut.
"Nan gwenchana.." ucap Kyuhyun pelan.
"Kalian berdua sedang berada di sini rupanya.." tiba – tiba sang eomma memasuki ruang makan bersama seorang pria paruh baya yang terlihat sudah dikenalnya sangat lama. Mereka bahkan beberapa kali tertawa bersama.
"Jinwoo-ssi, dia adalah Kyuhyun, putra bungsuku.." ucap eomma dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Nde.. Anyeonghaseo.." ucap Kyuhyun dengan senyum ramahnya dan memberi sedikit bungkukkan hormat. Kyuhyun berhasil menyembunyikan rasa sakit yang menyerangnya beberapa waktu lalu.
"Oh.. Kau sudah besar dan sangat tampan.." ucap Jinwoo sambil tertawa penuh canda.
"Nde.. gomawo ahjusii" Kyuhyun membalas senyuman Jinwoo, "Kalau begitu, aku akan ke kamarku.. permisi.." ucap Kyuhyun sopan.
.
Di kamar Kyuhyun
Kyuhyun mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur. Ia menundukkan kepalanya sambil melingkarkan kedua telapak tangan di tengkuk lehernya yang dingin.
"Permisi tuan muda.." ucap ahjumma Lee.
"Oh.. nde ahjumma.." jawab Kyuhyun dengan senyuman yang dipaksakan.
"Kulihat anda belum makan malam, apa perlu saya bawakan makan malammu ke kamar, tuan?" tanya sang ahjumma penuh perhatian.
"Tidak usah ahjumma.. aku tidak lapar.." ungkap Kyuhyun dengan suara parau.
"Anda baik – baik saja, tuan muda?" tanya ahjumma kembali.
"Nan gwenchana, ahjumma.. kau tidak perlu khawatir.." ungkap Kyuhyun dengan senyuman tipis.
.
Keesokan harinya
Kyuhyun menuruni tangga menuju ruang makan dengan pakaian rapi dan tas ransel kulit berwarna coklat tua di punggungnya. Kyuhyun menghentikan langkahnya di depan ruang makan. Ia menatap Siwon dan eommanya yang sedang sarapan dalam diam. Tak ada sepatah kata pun yang menghiasi ruang makan tersebut.
Kyuhyun melangkahkan kembali kakinya memasuki ruang makan. Ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang kosong. Baru saja Kyuhyun mengambil sebuah roti dari sebuah piring, Siwon sudah berdiri dan membawa ranselnya meninggalkan ruang makan. Kyuhyun hanya menatap datar roti di piring Siwon yang masih bersisa setengah potong.
"Kenapa kau kembali ke Korea?" lagi – lagi pertanyaan ini menyisiri gendang telingan Kyuhyun.
Kyuhyun tidak bergeming. Ia terus menatap kosong potongan roti di piring hyungnya. Setelah beberapa detik, akhirnya anak dengan kulit putih pucat itu berbisik, "Aku merindukanmu, eomma.."
"Seharusnya kau tidak kembali sebelum aku menyuruhmu kembali.." ucap wanita paruh baya di samping Kyuhyun dengan dingin. Setelah itu, ia segera berdiri dan meninggalkan Kyuhyun sendiri.
.
Di Sekolah
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Semua mahasiswa saling berburu makanan di kantin. Tapi tidak dengan lelaki tampan berambut coklat ini. Kyuhyun duduk di bangku panjang yang kosong di taman kampus. Ia memperhatikan beberapa mahasiswa yang sedang melukis pada sebuah kanvas. Dibandingkan mendapat cibiran serta sambutan tak menyenangkan dari tiga senior istimewanya, lebih baik ia menikmati dunianya sendiri dengan sepoi angin di taman tersebut. Tak lupa dengan iringan musik yang mengalun dari earphone yang bertengger di telinganya.
Perlu kalian ketahui, ada rasa cinta tersendiri bagi Kyuhyun pada sebuah lukisan. Ia suka melukis. Ia memiliki rasa kepuasan tersendiri saat berhasil menemukan warna baru dari campuran warna – warna cat air miliknya. Sejak kecil, ia bercita – cita menjadi pelukis dengan berbagai karya yang indah. Tapi, itu hanya berlangsung sampai dengan 3 tahun yang lalu. Sebelum, sebuah kejadian menuntutnya untuk mengucapkan sebuah janji. Janji yang tidak mudah dilakukan oleh seorang anak berusia 17 tahun.
"Kau berminat bergabung dengan kami?" tiba – tiba sebuah pertanyaan memecah lamunan Kyuhyun.
Kyuhyun hanya menatap datar pria di sampingnya dengan bingung. Ia tak menangkap kata – kata yang diungkapkan oleh pria asing di sebelahnya. Pada akhirnya, Kyuhyun melepaskan earphone yang bertengger di telinganya dan bertanya singkat, "Mwo?"
"Kulihat beberapa kali bahwa kau selalu memperhatikan kami.. Apa kau berminat untuk bergabung dengan kelompok kegiatan melukis?" tanya lelaki itu kembali.
"Aku tidak bisa melukis lagi.." ucap Kyuhyun sendu.
"Tidak bisa melukis lagi? Haha.." ungkap pria itu dengan tawa kecil, "Kau tidak perlu khawatir.. kelompok kami tidak menuntut kau harus bisa melukis.. kami hanya melakukannya untuk bersenang – senang" ungkap lelaki itu kembali dengan senyuman.
"Bersenang – senang?" tanya Kyuhyun dengan wajah datar.
"Tentu saja! Datanglah kembali minggu depan, hmm.. siapa namamu?" tanya lelaki itu penasaran.
"Kyuhyun.." jawab Kyuhyun datar.
"Okay.. datanglah kembali minggu depan kemari Kyuhyun-ssi.." ucap lelaki itu sumringah, "Dan.. kenalkan namaku jumyeon.. Senang berkenalan denganmu" ungkap Jumyeon dengan senyuman dan beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun.
Kriing Kriing (ponsel Kyuhyun berbunyi)
Kyuhyun merogoh ponsel dari saku celananya dan melihat kata 'eomma' di layar.
"Yoboseo, eomma.." jawab Kyuhyun dengan senyum senang di bibirnya.
"Pulang lebih cepat? Apa terjadi sesuatu?" tanya Kyuhyun dengan wajah mulai khawatir.
"Persiapan? Persiapan apa?" tanya Kyuhyun dengan wajah serius.
"Aah.. mengenai pertunangan itu? Baiklah.." jawab Kyuhyun tak bersemangat
Setelah itu, Kyuhyun kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan memasang earphone nya kembali ke telinganya. Ia pun beranjak untuk kembali masuk ke kelas.
.
Kim Yuna's Home
"Apa aku benar – benar harus melakukan pertunangan ini, appa?" ungkap Yuna pada sang appa dengan wajah tertekan.
"Nde.. kau cepatlah bersiap – siap.. Kita akan berangkat setelah makan siang ke kediaman nyonya Choi" ucap direktur Kim pada anak semata wayangnya.
"arraseo.." jawab Kim Yuna malas. Ia pun berjalan dengan langkah lesu menuju kamarnya.
Saat Yuna akan melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga menuju lantai 2 tempat kamarnya berada, ia menyadari bahwa sang supir sedang berjalan menuju ruang kerja ayahnya.
"Oh.. ahjussi.." panggil Yuna pelan.
"Nde, nona.. ada yang bisa saya bantu?" ucap sang supir sekaligus sekretaris pribadi ayahnya dengan sopan.
"Hmm.. bagaimana tentang kecelakaan itu? Apakah kau sudah menemukan informasi lebih banyak tentang itu?" bisik Yuna sambil menatap waspada keadaan di sekelilingnya, taku – takut ada yang mendengar pembicaraannya dengan sang supir.
"Ah.. mengenai kecelakaan itu.. saya sudah mencoba mencari tahu tentang kecelakaan tersebut, hanya saja.. saya merasa ada sesuatu yang aneh dengan kecelakaan tersebut nona.." ucap sang supir sambil mengerutkan dahinya.
"Wae? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Yuna kembali dengan wajah penasaran.
"Seluruh majalah ataupun koran yang memuat artikel mengenai kecelakaan tersebut seperti sudah sengaja dihilangkan.. Saya cukup sulit mencari artikel mengenai kecelakaan tersebut.. Saat saya mencoba menghubungi salah satu teman yang bekerja dalam suatu majalah, ia mengatakan bahwa majalah pada edisi yang memuat kecelakaan tersebut sudah tidak diproduksi dan bahkan dilarang untuk diproduksi kembali" sang supir memberikan penjelasan panjang lebar.
"Sengaja dihilangkan? Sudah tidak diproduksi kembali? Wae?" tanya Yuna dengan wajah bingung dan juga penasaran.
"Saya belum tahu mengenai hal itu, nona.. tapi saya akan terus berusaha mencari informasi mengenai kecelakaan tersebut" ungkap sang supir.
"Nde.. Aku mohon bantuanmu, ahjussi.." ucap Yuna dengan senyum tipisnya.
.
Kyuhyun memakirkan sepeda tuanya di garasi rumah mewahnya. Ia melangkahkan kakinya memasuki rumah dan disambut oleh pemandangan dimana semua asisten rumah tangga sedang sibuk menata rumahnya. Ada beberapa orang yang sedang menata makanan di ruang makan, ada beberapa orang yang sedang menata karpet merah dan taplak meja berwarna putih di ruang tengah, ada pula yang sedang menata bunga di beberapa vas sudut ruangan. Kyuhyun menatap sekelilingnya dengan tatapan datar.
"Tuan muda, kau sudah pulang?" tanya seorang asisten rumah tangga yang sudah sangan dekat dengannya.
"Nde, ahjumma Lee" jawab Kyuhyun singkat tanpa ekspresi.
"Saya sudah menyiapkan pakaian yang harus anda kenakan nanti malam.. Pakaian itu sudah saya letakkan di atas tempat tidurmu, tuan muda.." ungkap sang ahjumma.
"Nde, ahjumma.. kamsa hamnida.." ucap Kyuhyun sambil kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
Saat Kyuhyun menaiki anak tangga, ia berpapasan dengan ibunya yang sedang turun dari lantai 2. Kyuhyun menatap ibunya dengan senyuman tipis, namun sang ibu hanya berjalan lurus tanpa menatapnya sambil berkata dingin "Cepat bersiap – siap".
"Nde.. eomma.." ungkap Kyuhyun pelan.
.
Kyuhyun menatap dirinya sendiri pada sebuah cermin besar yang berdiri kokoh di kamarnya di samping jendela. Jas berwarna biru navy yang menutupi kemeja putih tanpa kerah, dengan dipadu padankan bersama celana bahan yang juga berwarna biru navy dengan panjang semata kaki. Rambut hitamnya sengaja disisir ke belakang, sehingga poni yang biasa menutup alisnya tertata rapi ke belakang dan membuat dahi putihnya terpampang menawan.
Kyuhyun menghela napas dengan keras sambil menundukkan wajahnya. Setelah itu, ia mengambil ponsel dari saku celananya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Yoboseo.. Bagaimana perkembangan hotel?" tanya Kyuhyun pada lawan bicara di ponselnya.
"Semakin buruk? Seburuk apa itu?" tanya Kyuhyun dengan wajah khawatir.
"Eomma sudah mengetahuinya?" tanya Kyuhyun kembali.
"Jangan sampai eomma tahu.. aku akan berusaha memperbaiki keadaan hotel dari belakang.. Kau hanya harus terus mengirimkan data – data mengenai perusahaan padaku" ungkap Kyuhyun sambil menatap dirinya di cermin dan membenarkan posisi jas yang dikenakannya.
"Seperti yang sudah kita duga, eomma menyuruhku untuk bertunangan dengan keluarga Kim.. Aku akan bertunangan malam ini.." jelas Kyuhyun dengan wajah tak bertenaga.
"Kurasa pertunangan ini memang satu – satunya cara tercepat untuk memperbaiki keadaan hotel.." gumam Kyuhyun dengan tatapan mata kosong.
"Araseo.. kabari apapun padaku mengenai perkembangan hotel.. dan tolong jaga eomma untukku" ungkap Kyuhyun sungguh – sungguh.
'Tok Tok' suara pintu diketuk
"Masuklah.." jawab Kyuhyun.
"Semua orang sudah menunggu di bawah, tuan muda" ucap ahjumma Lee.
"Ah.. baiklah.. aku akan segera ke bawah" jawab Kyuhyun.
Kyuhyun pun berbisik pelan pada ponselnya 'Aku akan menghubungimu lagi nanti' dan mengakhiri sambungan telponnya.
.
Kyuhyun melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Suara langkah kaki Kyuhyun membuat semua orang menatap ke atas dan melihat Kyuhyun menuruni anak tangga satu per satu. Sebenarnya, Kyuhyun merasa tak nyaman dengan tatapan tersebut, namun ia memaksakan dirinya untuk membalas tatapan setiap orang padanya. Tidak begitu banyak tamu yang datang, hanya sekitar 10 – 15 orang. Namun, terdapat beberapa wajah sudah tak asing di mata Kyuhyun. Beberapa tahun lalu, ayahnya sering membawa Kyuhyun ke hotel dan berkenalan dengan beberapa rekan kerja ayahnya.
Ia juga melihat Yuna yang sedang duduk di dekat tuan Kim, eommanya, dan juga Siwon. Kyuhyun mendekati eommanya dan membungkuk hormat pada tuan Kim.
"Kau semakin tampan, Kyuhyun – ah.." ucap Direktur Kim sungguh – sungguh, "Dulu kau masih sangat kecil, tapi sekarang kau sudah tumbuh besar dengan sangat baik" ungkap Direktur Kim kembali sambil merangkul pundak Kyuhyun, "Yuna-ah.. lihatlah, kau memiliki tunangan yang sangat menawan" ucap tuan Kim pada anak perempuannya.
"Anio, tuan Kim.. Kau terlalu berlebihan" jawab Kyuhyun dengan senyum tipis.
"Baiklah, kalau begitu bisa kita mulai saja acaranya?" tanya Mik Yeon pada tuan Kim.
"Tentu.. tentu saja" jawab tuan Kim antusias.
Iringan biola dan juga piano mengiringi berlangsungnya acara pertunangan Kyuhyun dan Yuna. Mereka saling memasangkan cincin perak pada masing – masing jari manis di tangan kiri pasangannya. Para tamu bertepuk tangan bahagia sesaat cincin perak terpaut di jari manis Kyuhyun dan Yuna. Setelah itu, semua orang dipersilahkan menikmati makanan sambil saling membicarakan bisnis masing – masing yang tak ada habisnya.
Kyuhyun dan Yuna pun ditinggal berdua oleh tuan Kim maupun Mik Yeon. Pada akhirnya, mereka berdua memilih untuk duduk di bangku taman di halaman rumah Kyuhyun. Selama 15 – 20 menit tidak ada perbincangan yang terjadi di antara mereka berdua. Yuna hanya menatap dingin lampu taman di hadapannya, sedangkan Kyuhyun fokus menatap satu bintang yang terlihat paling terang di atas langit.
"Kecelakaan 2011.. jelaskan padaku tentang itu" ucap Yuna dingin.
Kyuhyun yang mendengar pernyataan Yuna, langsung menatap wajah Yuna ragu tanpa memberikan jawaban.
"Siapa kau sebenarnya? Ada apa denganmu? Kenapa kau baru muncul saat ini? Apa yang terjadi pada kecelakaan 2011?" tanya Yuna bertubi – tubi sambil menatap Kyuhyun dalam.
"Kurasa kau tidak perlu mengetahui sejauh itu.." ucap Kyuhyun dingin.
"Tentu aku perlu tahu! Aku perlu mengetahui apakah tunanganku adalah orang baik – baik atau tidak!" bentak Yuna dengan tegas.
"Bagaimana jika ternyata aku bukan orang yang baik? Bagaimana jika ternyata aku orang jahat?" tanya Kyuhyun tanpa ekspresi.
"Nde?.." Yuna kaget dengan jawaban Kyuhyun. Ia terlihat berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyuhyun. Pada akhirnya, ia menjawab pertanyaan tersebut dengan menggeser duduknya sedikit menjauh dari Kyuhyun.
"Kau tenang saja.." ungkap Kyuhyun tanpa menatap Yuna, "Kita akan segera mengakhir pertunangan ini. Aku janji.." ucap Kyuhyun dengan nada sungguh – sungguh, "Kau boleh berhubungan dengan lelaki manapun yang kau suka, kau juga boleh pergi ke manapun bersama siapapun.. Aku tidak akan melarangnya" ucap Kyuhyun kembali.
"Kau menyukai hyungku, bukan?" tanya Kyuhyun tiba – tiba.
"Eh?" Yuna tak menyangka bahwa Kyuhyun akan melontarkan pertanyaan itu padanya.
"Kau boleh terus mendekatinya dan berpacaran dengan Siwon hyung jika kau mau.. Aku tidak akan melarangnya.." Kyuhyun berkata sambil menatap Yuna dengan wajah datar.
"Tentu saja aku bisa melakukan apapun yang kusuka.. Kau tidak berhak melarangku.." ucap Yuna dengan keras namun terlihat ragu.
"Keunde.. bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Kyuhyun sambil terus menatap Yuna.
"Hmm?" Yuna membalas tatapan mata Kyuhyun dengan ragu.
"Bantu aku memenuhi janjiku.. Tetaplah menjadi tunanganku sampai hotel eomma kembali membaik.. Aku akan berusaha agar hal itu terjadi secepat mungkin.. Tapi, sampai saat itu tiba tetaplah memakai cincin itu dan menjadi tunanganku.. Bisakah kau melakukannya?" ucap Kyuhyun dengan tatapan mata 'lelahnya'.
Yuna menatap tatapan mata Kyuhyun cukup lama. Ia merasa pernah melihat mata itu. Ia merasa pernah melihat tatapan mata yang sama seperti itu sebelumnya. Ada suatu perasaan yang aneh pada dirinya. Perasaan itu perlahan membuat matanya memerah dan sedikit berair karena air mata.
"Udara sudah mulai dingin, matamu juga memerah karena kedinginan, lebih baik kita masuk.." ucap Kyuhyun lembut dan mulai beranjak dari duduknya.
Sedangkan Yuna masih terdiam pada posisi duduknya dan perlahan memegang dadanya yang sedikit berdegup kencang. Air mata yang awalnya tertahan, sedikit menetes melewati pipi putihnya. 'Tidak mungkin.. Mata itu.. Mata itu tidak mungkin mata yang sama.. Apakah dia.. Apakah Kyuhyun adalah dia?' gumam Kim Yuna dengan mata merahnya.
.
"Senangnya pada akhirnya Yuna dan Kyuhyun bisa bertunangan.." ungkap Mik Yeon pada direktur Kim.
"Ya aku juga senang.. Andai Tuan Choi juga bisa berada di sini dan melihat pertunangan ini" ungkap direktur Kim.
"Ya.. aku juga sangat berharap bisa seperti itu" ungkap Mik Yeon dengan tatapan sedih.
"Semua akan baik – baik saja, Mik Yeon – ah.." ungkap direktur Kim menenangkan, "Eh, tapi dimana Kyuhyun dan Yuna?" mata tuan Kim mengitari ruangan.
"Ah.. dimana mereka?" Mik Yeon juga ikut menyisiri ruangan dengan matanya, "Oh itu Kyuhyun baru saja datang dari taman.. lalu di mana Yuna?" tanya Mik Yeon pada dirinya sendiri dengan penasaran.
.
Kyuhyun memasuki ruang tengah dengan sebelumnya mengambil segelas orange jus dari nampan yang dibawa oleh asisten rumah tangganya. Saat ia akan berjalan untuk mencari eommanya, seseorang memanggilnya.
"Kyuhyun-ah.." panggil seseorang.
Kyuhyun membalikkan wajahnya dan menatap pria tersebut.
"Selamat atas pertunanganmu, nak" ucap pria tersebut sambil meninju pelan lengan Kyuhyun.
"Terima kasih, ahjussi" ucap Kyuhyun singkat dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Lalu, apakah kau sudah mengunjungi makam ayahmu?"
'PRANK' gelas yang sedari tadi dipegang Kyuhyun jatuh tiba – tiba.
"Kyuhyun – ah!"
.
To Be Continued
Maafkan karena baru sempat update setelah sekian lama. Aku tahu bakal banyak yang kesal karena FF ini gak update2. Tapi, karena kesibukan penulis jadi update FF tidak bisa dilakukan secepat yang teman – teman inginkan. Aku selalu usahain untuk terus update sampai tamat. Jadi, aku harap kalian tetap setia nunggu FF ini dan baca hingga akhir. Jangan lupa juga review nya yaaaa Aku usahain update selanjutnya akan lebih cepat
Terima kasih
