Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

*Not own anything of Naruto.

*This story is originally made by me.

Future Depends On You

Written by Shady (DeShadyLady)

Chapter 2: Have we met before?

(Pernahkah kita bertemu sebelumnya?)

"Eh..! Dok..Dokter!" Sakura berteriak kaget. Ia melihat sekeliling. "Bagaimana bisa aku disini? Ini mobil dokter?"

"Ya, apa kau tak ingat kejadian tadi?" balasku bertanya lagi. Aku melihat sakura terdiam sesaat.

"Oh! Aduh, maafkan aku dokter! Seharusnya aku tidak bertengkar disana dan merepotkanmu seperti ini." jawab Sakura.

"Ah, tidak apa-apa. Aku yang memutuskan untuk ikut campur." jawabku ringkas. "Siapa pria itu?" aku lanjut bertanya.

"Dia….masa laluku" ucap Sakura dengan kepala tertunduk.

POV: Sasuke

Mendengar pernyataan Sakura, aku sedikit terkejut.

Kemudian aku diam dan mengendarai mobilku. Masa lalu, lagi-lagi masa lalu, selalu masa lalu…

Aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa bayang-bayang masa lalu selalu muncul dalam hidup seseorang? Seandainya manusia dapat hidup dengan selalu berpikiran ke depan, tanpa mengingat kejadian yang lalu. Namun kenyataannya tidak, setiap manusia memiliki memori dan daya ingat. Bahkan semakin sakit masa lalu itu, maka akan semakin melekat pada ingatan seseorang. Masa lalu yang kelam bahkan dapat membuat mental seseorang terganggu selama orang tersebut hidup.

"Dok.. Dokter?"

Suara Sakura memecah keheningan dan mengembalikan pikiranku ke kondisi saat ini lagi.

"Ah iya, maaf. Ada apa?" tanyaku.

"Ti.. tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya heran dokter terdiam tiba-tiba."

Dia menjawabku dengan terbata-bata dan senyum pada akhir ucapannya. Dan aku? Aku hanya diam dan fokus menyetir seolah-olah tidak ada orang yang duduk di kursi penumpang. Aku bisa dibilang seseorang yang tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitarku, dan hal itu tidak begitu baik. Contohnya saja saat ini, aku bahkan tidak bertanya apa-apa lagi kepada Sakura setelah mengetahui orang tersebut merupakan bagian masa lalunya. Tapi, mungkin inilah yang terbaik untuk sementara waktu ini. Aku belum mengenal Sakura lebih dalam dan aku sendiri sudah mendapat cukup banyak urusan dengan masa laluku. Terutama dengan kecelakaan penyebab hilangnya salah satu lenganku.

Aku juga sudah cukup handal menyetir sebelah tangan, aku sudah terbiasa dengan keadaan. Sebenarnya, saat kehilangan tangan ini aku sudah bersiap untuk mengundurkan diri dari pekerjaan pagi hariku, seorang dokter. Karena bagiku dokter haruslah sempurna, sehat jasmani dan rohani. Tapi apa daya, pihak rumah sakit memintaku untuk tetap menjadi dokter umum dan tetap praktek seperti biasa. Aku tidak menolak permintaan mereka karena hal ini juga menguntungkanku untuk menutupi pekerjaan sebenarnya yang aku lakukan pada malam hari.

Aku tidak memikirkan apa-apa lagi dan terus mengendarai mobil hingga ke tempat makan siang yang ingin ku tuju, restoran Italia favoritku.

POV: Sakura

Aku merasa bersalah, sangat bersalah. Entah mengapa, apakah karena aku meninggalkan mantan kekasihku dan pergi dengan pria lain? Atau karena aku sudah memberi pria disampingku ini, seorang dokter yang akan menjadi pembimbingku, mendapat masalah karena masalahku tadi? Oh, andai saja mantan kekasihku tidak muncul, mungkin sekarang aku sudah di rumah menikmati makan siangku.

Setelah aku memberitahunya bahwa orang di parkiran tadi adalah mantan kekasihku, dokter ini tidak berbicara sepatah kata pun. Aku semakin penasaran, sebenarnya apa yang ada di pikirannya. Seseorang yang normal pasti akan bertanya mengenai perasaan atau keadaan seseorang, tapi pria ini tidak. Aku semakin heran, mengapa ia bisa menjadi dokter? Dokter harusnya sangat peduli dan bersikap penyayang terhadap seluruh orang yang ia jumpai. Tapi sekali lagi, pria ini tidak. Ia terlihat tidak peduli pada sekelililingnya.

Tiba-tiba aku merasa kasihan padanya.

Eh, tunggu.. kasihan? Ah, jangan bodoh, Sakura. Harusnya kamu mengasihani dirimu sendiri yang masih dikejar-kejar oleh mantan kekasihmu yang brengsek itu.

Mobil yang kududuki berhenti, tiba di sebuah restoran Italia yang cukup terkenal di daerah ini.

"Ayo, kita makan disini." ucap dokter Uchiha.

"Ah, ba.. baiklah." jawabku gugup. Entah mengapa aku merasa gugup saat akan menjawab pertanyaannya atau saat berbicara dengannya.

Kami berjalan masuk dan disambut oleh seorang pelayan paruh baya.

"Selamat datang, Sasuke. Duduk di tempat biasa ya?" tanya pelayan itu.

"Iya, baa-san." balas Sasuke.

Kami berdua pun duduk di tempat yang mungkin 'biasa' ditempati oleh dokter Uchiha bila ia berkunjung ke restoran ini. Melihat interaksi dokter Uchiha dengan pelayan itu, aku membuat kesimpulan bahwa dokter Uchiha sering berkunjung ke restoran ini.

"Pilihlah yang kau suka, jangan malu-malu." ucap dokter Uchiha kepadaku.

"I.. iya, Uchiha-sama." Jawabku

"Ah, panggil saja Sasuke. Aku rasa umur kita juga tidak berbeda jauh."

"Oh, baiklah, Sa.. Sasuke-sama."

"Tidak perlu terlalu formal, Sakura. Panggil saja Sasuke..-kun, jika kau mau."

"Tentu saja, ma.. mau. Sasuke-kun."

Percakapan yang amat sangat tidak disangka olehku. Wajahku memerah saat memanggilnya 'Sasuke-kun', tapi dia terlihat sangat tenang. Siapa orang ini sebenarnya? Mengapa ia sangat tenang dalam situasi canggung? Oh, Ia seorang dokter yang dingin. Aku mulai berpikir, ia manusia apa bukan. Ah, otakku memang terlalu bodoh. Tentu saja dia seorang manusia, fisiknya normal seperti manusia. Mungkin aku saja yang terlalu terbiasa berpikiran yang tidak-tidak karena perlakuan mantan kekasihku yang memang sering membohongiku dulu.

Tiba-tiba dokter Uchi.. eh, Sasuke, memanggil pelayan paruh baya tadi.

"Baa-san, aku mau Spaghetti Bolognaise ekstra tomat dan jus tomat susu." ucap Sasuke.

"Bagaimana Sakura? Sudah menemukan yang ingin dimakan?" lanjut Sasuke bertanya padaku.

"Ah iya, aku pesan Fusili Seafood dan jus jeruk." ucapku dengan cepat sambil tersenyum ke pelayan.

Tidak lama kemudian, makanan datang. Kami makan sambil sedikit berbincang mengenai makanan yang kami sukai dan tidak sukai. Makan siang hari ini terasa berbeda, aku sangat senang dapat berada dalam situasi seperti ini.

POV: Normal

Setelah selesai makan di restoran tersebut, Sasuke dan Sakura kembali ke rumah sakit. Sasuke meminta Sakura mengikutinya, dan entah mengapa Sakura hanya mengiyakan permintaannya.

Karin, asisten Sasuke, melihat Sasuke berjalan bersama Sakura menuju ruangan Sasuke, ia kemudian berlari menuju arah mereka sambil membawa kertas yang berisi rincian jadwal untuk Sasuke.

"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Karin sambil memandang tajam pada Sakura.

"Eh, ee.. Maaf, aku tidak.,. " ucap Sakura berusaha menjelaskan.

"Memangnya kamu pikir kamu siapa? Waktu berbicaramu dengan dokter Uchiha sudah habis tadi. Kemudian sekarang kamu menemui dokter Uchiha tanpa memberitahuku? Aku yang mengurus semua jadwalnya di sini!" sela Karin tanpa memberi kesempatan Sakura berbicara.

"Apakah aku harus meminta izinmu untuk membawa seseorang ke dalam ruanganku, Karin?" ucap Sasuke ketus.

Karin terkejut mendengar pernyataan Sasuke. Matanya terbuka lebar.

"Apa.. apa maksudmu, Sasuke? Aku yang mengatur jadwalmu, kau ada pertemuan setelah ini. Dan.. kau tidak biasanya membawa seseorang ke dalam ruanganmu?" tanya Karin menekan suaranya.

Sasuke hanya menatap tajam Karin.

"Batalkan seluruh jadwalku hari ini." jawab Sasuke ketus.

"Ikut aku, Sakura." ucap Sasuke sambil menarik tangan Sakura.

Setelah masuk ke dalam ruangan Sasuke, Sasuke mempersilahkan Sakura untuk duduk dan mengunci pintu ruangan tersebut.

"Dokter.. eh, maaf. Sasuke-kun, apa tidak apa-apa? Anda seorang dokter, pasti sangat sibuk, aku tidak ingin mengganggu. Lagipula Karin terlihat punya catatan jadwalmu sekarang." ucap Sakura sambil menundukkan kepalanya.

"Tidak, tidak apa-apa. Aku .. aku minta maaf karena tidak menghiraukanmu tadi di mobil setelah kamu berkata bahwa laki-laki itu adalah masa lalumu, aku berhutang maaf padamu." balas Sasuke.

"Apakah tidak apa-apa membatalkan seluruh jadwalmu hanya untuk minta maaf padaku, Sasuke-kun? Kita.. kita juga baru saja mengenal satu sama lain."

"Tidak. Aku juga tahu jadwal itu tidak begitu penting, hari ini aku sebenarnya tidak harus praktek. Hanya saja ada beberapa pasienku meminta untuk bertemu denganku tadi pagi. Tapi aku senang aku bisa bertemu denganmu."

Sasuke memberi senyum tipis pada Sakura.

Sakura langsung mengalihkan pandangannya, pipinya merona. Meski baru mengenal, ia merasa ia sangat dekat dengan Sasuke. Perasaan apa ini? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

"Sasuke-kun, terima kasih tadi telah membantuku mengusir baijngan itu." kata Sakura sambil memberi penekanan saat mengucapkan kata 'bajingan'.

"Hahaha, ba…bajingan? Tak ku sangka, Sakura, kau.. hahaha."

Sasuke tertawa terbahak-bahak. Sakura yang tidak senang langsung membelakangi dia dan mengerutkan dahinya. Sakura tidak terima dengan tingkah Sasuke, apa yang ada dipikiran Sakuke? Sakura adalah perempuan baik-baik. Tidak lama kemudian, Sakura berbalik.

"Memangnya apa yang lucu? Dia seorang pembohong, seorang pengkhianat, dan juga laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab!" balas Sakura sedikit berteriak.

Sasuke terkejut, matanya terbelalak, mulutnya langsung tertutup rapat.

"Lalu dengan mengatakan bahwa ia adalah seorang bajingan, kau langsung menilai aku sebagai seorang perempuan tidak benar dan sering berkata kasar mengenai seseorang? Begitu, hah?" lanjut Sakura.

Sasuke semakin terkejut. Sejauh ini, selama hidupnya, tidak ada yang berani berteriak memarahinya. Dia adalah Uchiha Sasuke, klan Uchiha adalah klan terhormat di desa, desa Konoha tempat ia tinggal selama ini. Sasuke mendinginkan kepalanya sejenak.

"Sakura, aku minta maaf jika aku menyinggungmu, aku tidak tahu kau sesensitif itu." ucap Sasuke.

"Kau jangan seenaknya saja menilai seseorang jika tidak tahu apa yang sedang dihadapinya! Aku sendiri bahkan belum tahu kau ini sebenarnya orang baik atau bukan? Kita baru saja mengenal tadi siang tapi kau sudah menilaiku seenaknya dan bahkan sekarang kau menilaiku sensitif, padahal ini salahmu, Sasuke Uchiha!" ucap Sakura tanpa berhenti.

Sasuke semakin terkejut. Ia terpaku pada ucap 'orang baik atau bukan?' Ah, ia memang bukan orang jahat. Tapi hal ini mengganggu pikirannya karena berkaitan dengan pekerjaannya di malam hari.

"Tenang, Sakura. Aku bukan orang jahat atau orang tidak bertanggung jawab. Aku minta maaf." jawab Sasuke.

Tanpa ia sadari, seorang Sasuke Uchiha baru saja membuang jauh-jauh gengsinya dan mengakui kesalahannya.

"Huf, iya. Tidak apa-apa. Aku rasa hal ini juga terjadi karena kita belum benar-benar saling mengenal satu sama lain. Aku juga minta maaf telah berteriak tadi." ucap Sakura.

Mereka berdua kemudian duduk dalam keheningan. Tidak lama kemudian, Sasuke menawarkan segelas air putih kepada Sakura. Sakura menerimanya dan mereka kembali berbicara.

"Sakura, aku merasa mengenalmu.." ucap Sasuke tiba-tiba.

"Eh?" jawab Sakura terkejut

"Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja."

"Tidak, Sasuke-kun. Aku.. juga merasa dekat denganmu, seperti sudah kenal lama."

"Hah? Benarkah?" tanya Sasuke penasaran.

"I..iya, makanya aku sampai berani mengikutimu ke mana saja hari ini, hehehe." jawab Sakura sambil tersipu malu.

Sasuke hanya membalasnya dengan senyum tipis. Keduanya saling memandang dengan ekspresi senang.

"Oh ya, laki-laki tadi.. kalau bole tahu.. siapa namanya?" tanya Sasuke penasaran.

Sakura terkejut mendengar pertanyaan Sasuke. Ia menatap Sasuke, kemudian menundukkan kepalanya.

"Eeh, maaf Sakura. Jika tidak ingin memberita.."

"Namanya Sasori.."

Sasuke terdiam dan melihat ke arah Sakura.

"Dulu aku mencintainya, amat sa..ngat mencintainya. Namun, dia meng…khianatiku. Ia ber..mesraan dengan pe..rempuan lain dibe..lakangku. Aku mengetahui ia ber…selingkuh saat aku men..datangi suatu super…market tanpa mem…beri…tahunya. Aku melihat…nya sedang bergan…dengan ta..ngan dan se..sekali ber..pelu..kan de..ngan perem..puan itu." jelas Sakura terbata-bata sambil menangis.

"Sakura, tidak usah dilanjutkan jika tidak ingin." balas Sasuke sambil memegang pundak Sakura.

Sakura mengusap air matanya, dan menepuk pelan wajahnya dengan kedua tangannya.

"Ah, tidak apa-apa. Itu sudah masa laluku. Lagipula, aku memang sedang dalam proses melupakan hal-hal tersebut. Dia juga bukan seorang lelaki yang baik saat kami berpacaran. Jadi mungkin akan lebih mudah untuk melupakannya.. hehe" ucap Sakura sambil tersenyum ke Sasuke.

"Benarkah? Memangnya masa lalu bisa dilupakan semudah itu? Semua manusia punya memori." tanya Sasuke yang tidak percaya melihat Sakura tersenyum setelah mengetahui sakit hati yang dialaminya.

"Iya, buktinya sekarang aku sedang menjalankan kuliahku dengan magang sebagai dokter, kan? Dan aku menjadikan masa laluku sebagai pelajaran." balas Sakura sambil tersenyum lagi.

Sasuke benar-benar tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini. Mungkin perempuan ini lebih kuat dari dirinya yang selalu tenggelam di masa lalu.

Tidak lama kemudian, Sasuke melirik jam dinding, sudah jam 4 sore rupanya. Tidak ia sangka, hari yang melelahkan ini malah menjadi hari yang menyenangkan baginya. Senang rasanya ada yang dapat diajak bicara. Namun, ia tidak lupa akan tanggung jawab pekerjaan yang satunya lagi. Ia harus segera pulang untuk tidur 1 hingga 2 jam kemudian berangkat bekerja lagi.

POV: Sasuke

"Sakura, maaf. Sudah pukul 4 sore. Apakah tidak apa jika aku menyuruhmu pulang karena aku juga masih ada urusan?" tanya Sasuke.

"Ah, tidak apa-apa, Sasuke-kun. Aku yang tidak sadar sampai berbicara denganmu hingga sore begini, hehe" balas Sakura.

"Tidak tidak, aku senang ada yang menemaniku berbicara."

"Benarkah?"

"Hn."

"Baiklah, kalau begitu, aku pulang dulu ya Sasuke-kun. Aku akan datang lagi sesuai jadwal yang kita sepakati tadi siang."

"Ya, hati-hati, Sakura."

Sakura meninggalkan ruanganku, diam-diam aku mengikutinya dari belakang. Aku memasang wajah datarku kembali, Karin menatapku heran namun aku tidak mempedulikannya. Aku melihat Sakura berjalan pulang sendirian, aku mengikutinya, tentu saja dengan berjalan juga. Tidak lama kemudian, Sakura sampai di sebuah rumah minimalis dan rapi, membuka pintu dengan kunci, kemudian masuk ke dalam. Ternyata rumah Sakura tidak jauh dari rumah sakit. Aku yang melihat Sakura masuk rumah dengan aman dan mengetahui rumahnya dekat rumah sakit merasa lega, dan berputar balik.

Aku akhirnya mengetahui apa yang sedang dialami oleh Sakura. Patah hati. Menurutku dikhianati oleh sesorang merupakan suatu kejadian yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Tapi, Sakura berbeda, ia kuat. Ia bahkan tersenyum setelah sempat menangis. Aku juga merasa sangat mengenalnya dan pernah bertemu dengannya, tapi dimana? Dan kapan? Aku bahkan nyaman berbicara dengannya. Dan aku mengikutinya sampai ke sini hanya untuk menjamin ia sampai di rumah dengan selamat.

Perasaan apa ini? Kenapa aku khawatir pada orang yang baru saja kutemui? Ah, lebih baik aku pulang dan tidur. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam nanti. Aku berjalan kembali ke rumah sakit, mengendarai mobilku dan pulang ke tempat tinggalku.

To be Continue


Terima kasih untuk semua yang sudah review :D