Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

*Not own anything of Naruto.

*This story is originally made by me.

Future Depends On You

Written by Shady (DeShadyLady)

Chapter 3: Emptiness (Kekosongan)

POV: Sasuke

Huft, akhirnya aku sampai di tempat tinggalku. Aku tidak ingin menyebutnya rumah, karena aku hanya mampir ke tempat ini untuk sekedar mandi dan tidur. Dapur dengan peralatan yang cukup lengkap tidak pernah kugunakan karena aku tidak bisa memasak. Televisi tidak pernah kunyalakan karena kesibukanku memiliki pekerjaan ganda. Mesin cuci juga tidak pernah kugunakan, aku menggunakan jasa laundry di dekat rumahku. Bahkan terdapat banyak debu pada foto-foto yang tergantung pada dinding. Foto-foto itulah yang menyemangati keseharianku, foto keluargaku.

Keluarga adalah segalanya untukku. Aku bahkan belum bisa melupakan hari dimana kami kecelakaan. Dalam kecelakaan itu, hanya aku yang selamat.

Aku menghilangkan lamunanku. Melihat jam tanganku sejenak, pukul 17.00, berarti aku masih punya waktu untuk tidur sejenak. Kemudian aku berjalan menuju kamar tidur dan berbaring di tempat tidurku, memejamkan mata.

Namun, kenangan masa lalu kembali menghantuiku. Saat itu, aku berusia 10 tahun. Aku dan keluargaku akan piknik ke pantai. Kami akan menikmati liburan bersama-sama. Ayah mengemudi mobil, ibu duduk disampingnya, aku dan kakak Itachi duduk di belakang. Ketika tiba di jalan yang sepi, tiba-tiba muncul truk besar yang menghantam mobil kami. Kakak langsung memelukku, ibu berpegangan pada ayah. Pandanganku kabur, seketika aku kehilangan kesadaran.

Saat aku bangun, aku sudah terbaring lemah di rumah sakit. Aku terkejut mendapati baju yang kukenakan berlumuran darah yang sudah mengering, kepalaku diperban dan tanganku diinfus. Tubuhku sakit dan tidak dapat bergerak dengan bebas. Seorang perawat berjalan memasuki ruangan, aku bertanya padanya mengenai keluargaku. Betapa terkejutnya aku ketika mendengar perawat itu dengan sedih memberitahukan seluruh keluargaku telah meninggal dunia dalam kecelakaan dan mulai saat ini aku akan hidup sendirian.

Lalu aku juga mendengar suara sayup-sayup yang mengatakan bahwa kecelakaan ini mungkin berupa kesengajaan dari anak buah penjahat yang ingin membalas dendam kepada ayahku yang bekerja sebagai polisi dan ia pernah menangkap ketua dari penjahat tersebut. Namun aku tidak tahu siapa penjahat itu dan sepertinya penjahat itu juga pandai menutupi diri mereka. Terdapat banyak rumor mengenai kecelakaan yang keluargaku alami. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jasad kakakku bukanlah jasad Itachi yang asli. Aku tidak tahu mana yang benar atau mana yang salah, yang aku tahu sebagai anak umur 10 tahun adalah aku kehilangan segalanya, aku kehilangan keluarga bahagiaku. Aku bersyukur fisikku masih lengkap dan dapat beraktivitas seperti biasa.

Keluargaku, Uchiha, merupakan salah satu keluarga yang terhormat di desa Konoha. Tidak sedikit orang yang mengucapkan belasungkawa dengan mengirimkanku uang. Uang yang Ayah dan Ibu tinggalkan juga tidak sedikit. Dengan semua uang inilah aku dapat melanjutkan sekolahku hingga menjadi dokter saat ini. Namun, sejak saat itu, hidupku kosong, tidak ada rasa apa-apa lagi yang terdapat dalam hatiku.

Aku terlelap tidak lama setelah mengingat semua masa laluku yang tidak menyenangkan itu.

POV: Normal

Sasuke terbangun dari tidurnya. Kemudian ia bergegas mandi, lalu berpakaian setelan jas dengan rapi. Jam menunjukkan pukul 22.00. Ia mengendarai mobil sport-nya dengan kencang dan pergi menuju tempatnya bekerja. Tentu saja bukan rumah sakit.

Tidak lama kemudian, sampailah ia di tempatnya bekerja. Sebuah gedung dengan desain yang megah, kira-kira mempunyai 10 lantai, namun gedung itu terkesan misterius dan hanya diterangi oleh lampu-lampu kecil. Sasuke berjalan masuk ke gedung tersebut. Karena sudah terbiasa dengan pencahayaan yang minim, ia dapat berjalan tanpa menyentuh perangkap apapun yang sengaja ditaruh di lantai pertama gedung tersebut. Kemudian ia memasuki lift yang dipasang lampu yang redup kemudian menekan angka 5.

Sesampainya lift di lantai 5, dia langsung disambut oleh seorang wanita.

"Selamat datang, Sasuke-sama." ucap wanita itu.

"Hn." Sasuke membalasnya dengan dingin.

Sasuke dan wanita itu berjalan lurus ke depan, kemudian ia berhenti di depan suatu ruangan yang bertuliskan "Uchiha" dengan lambang kipas merah putih pada pintu tersebut. Ia membuka ruangan tersebut dengan sidik jarinya dan masuk ke dalam.

"Kau kembali saja." ucap Sasuke kepada wanita itu.

"Baiklah. Jangan lupa perintah dari kapten." balas wanita itu mengingatkan Sasuke akan tugasnya.

Sasuke menutup pintu dengan keras. Sasuke menyalakan lampu dalam ruangan itu, ternyata itu adalah ruangannya untuk bekerja. Ya, memang pekerjaannya bukan dilaksanakannya di ruangan itu, namun itu adalah ruangan untuknya mengumpulkan data dan berkas.

Sasuke merebahkan badannya di kursi yang biasa ia duduki. Ia menutup mata sejenak.

'Kring.. Kring..' telepon yang tidak diharapkan berbunyi.

"Ya, kapten?" ucap Sasuke setelah mengangkat telepon tersebut.

"Aku yakin kau tahu tugasmu yang sudah kita bicarakan kemarin." ucap suara dalam telepon.

"Ya, aku kerjakan secepat mungkin, kapten."

"Baik, aku tunggu laporanmu."

'Klep' Sasuke menutup gagang telepon itu.

Ia kemudian menghidupkan komputer, mulai mencari data mengenai seseorang. Dan di komputernya tampak gambar seseorang, serta nama dan data diri orang tersebut. Dan tertulis perintah dengan huruf berwarna merah, "KILL".

Ya, tidak salah lagi, kill yang artinya 'bunuh'. Ini berarti Sasuke harus membunuh targetnya itu. Sasuke menghela nafas panjang. Ia mengambil sesuatu dari salah satu loker yang diberi pengaman retina scanner. Benda tersebut adalah kusanagi, pedang yang pernah ia gunakan untuk menyelesaikan misinya.

"Heh, sudah lama sekali ya, akhirnya aku harus menggunakan ini lagi." gumam Sasuke.

Sasuke melirik jam tangannya lagi, pukul 00.00, ia masih punya waktu untuk menutup mata selama satu jam. Waktu itu tidak disia-siakannya, ia tidur di kursi.

Karena tadi ia memasang alarm pada jam tangannya, jam tangannya bergertar tepat pada pukul 01.00 untuk membangunkannya.

Ia melepaskan dasinya, mengganti jasnya dengan jubah tebal hitam pekat. Kemudian ia berjalan keluar ruangan lalu mengunci ruangan tersebut.

POV: Sasuke

Aku diberi misi lagi oleh kapten. Setelah sekian lama, misi ini berupa misi untuk membunuh. Padahal aku sudah lama tidak melakukan itu, entah apa yang ada dipikiran kapten. Beberapa bulan ini kapten hanya memberiku misi menjadi pengawas untuk mengawasi pembunuhan yang dilakukan anak buah lainnya dan mengecek apakah mereka menyelesaikan misi tepat waktu atau tidak.

Ya, pekerjaan malamku adalah seorang pembunuh bayaran. Aku cukup handal dalam membunuh. Lagipula aku tidak merasakan apa-apa jika membunuh apapun atau siapapun, meski aku seorang dokter. Bahkan aku semakin terbiasa melihat darah. Mungkin semua karena kekosongan yang aku rasakan selama ini.

Aku menjadi 'kosong' setelah keluargaku meninggal, tidak berperasaan, dingin, dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarku.

Selama ini kapten yang menemaniku, membesarkanku dan menyemangatiku untuk menjadi dokter. Ia juga melatihku untuk bertarung saat itu. Ia memberitahuku untuk belajar melindungi diriku sendiri. Sekarang aku hanya melakukan pekerjaan malam ini untuk membalas budinya. Aku tidak keberatan membunuh karena aku sudah biasa melakukannya dari 4 tahun yang lalu.

Aku keluar dari gedung membosankan itu, kemudian segera menuju ke tempat targetku berada. Organisasi yang didirikan kapten memang hebat. Seluruh basis data di semua negara dapat diakses, sehingga aku dapat dengan mudah mengetahui kebiasaan dari targetku. Dari data yang kuperoleh, saat ini pukul 01.30 pagi, target sedang berada di rumah. Aku melaju kencang menuju tujuan dengan mobilku.

Aku sampai di rumah besar yang dipenuhi oleh pengamanan ketat. Aku memarkirkan mobilku dibelakang rumah itu, pada bagian yang tidak tertangkap oleh CCTV. Hampir setiap sudut rumah itu terdapat bodyguard yang berjaga-jaga. Ada juga CCTV yang mengawasi selama 24 jam. Aku sudah biasa melakukan misi seperti ini sejak dulu, tentu saja aku sudah merencanakan sesuatu. Aku akan masuk rumah itu dari tempat yang memiliki pengawasan yang paling minim. Aku segera melaksanakan tugasku, melumpuhkan seluruh penjaga satu per satu dan memasuki rumah itu diam-diam.

Aku menelusuri rumah itu, mencari kamar si target. Karena target mempunyai anak dan istri, aku harus lebih berhati-hati. Tidak lama setelah aku menelusuri, aku mendapati target sedang tidur di atas sofa ruang tengah dan aku dapat mencium bau alhokol yang tajam dari badannya. Tanpa basa basi, aku membunuh target itu dalam diam. Aku membungkam mulutnya dengan tanganku, kemudian aku menusuk tepat di jantungnya dengan pedangku. Targetku berhenti bernafas, ia sudah tewas.

Aku langsung bergegas pergi dari rumah itu sebelum ada penjaga, istri atau anaknya yang terbangun. Aku kembali ke gedung kapten. Naik ke lantai 5, memasuki ruanganku. Lalu aku mengelap darah yang melumuri pedangku dengan kain khusus yang sudah kusiapkan.

'Kring.. kring.. ' telepon berbunyi. Aku segera mengangkatnya.

"Selesai, kapten. Sesuai perintahmu." ucapku langsung ke inti pembicaraan.

"Bagus, Sasuke. Aku memang tidak pernah salah menilaimu."

"Ah, bukan apa-apa. Aku senang bisa membantu kapten."

"Panggil saja tou-san, seperti biasa kau memanggilku selama ini."

"Iya, tou-san. Aku senang bisa membantumu."

"Hahaha, kau selalu sama Sasuke. Tidak pernah mengecewakanku. Kuberi kau libur selama 1 minggu, bersenang-senanglah."

"Hn. Arigatou, tou-san."

"Nikmatilah hidupmu Sasuke, kau masih muda."

'Tut..tut..' kapten menutup telepon.

Aku senang, sangat senang. Akhirnya, aku dapat benar-benar menjadi dokter dalam 1 minggu ke depan. Yang lebih membuatku senang adalah kapten menyuruhku memanggilnya tou-san saat berbicara di telepon. Telepon ini direkam dan dapat di dengar oleh seluruh anggota organisasi. Itu berarti kapten benar-benar mengakuiku sebagai anaknya.

Saat mengangkat telepon itu, aku tahu yang menelponku hanya kapten. Karena di organisasi ini tidak ada yang berani mendekatiku atau berbicara denganku, tidak satupun, kecuali mereka disuruh oleh kapten. Entah mereka takut, segan, atau benci, aku tidak mempedulikan hal itu. Yang jelas aku senang memiliki seorang Ayah 'lagi'.

Aku memang tidak keberatan untuk melakukan pekerjaan ini, namun semua orang yang bergabung ke dalam organisasi ini harus mematuhi persyaratan. Salah satunya adalah tidak boleh menikah. Kapten mempunyai banyak wanita di sampingnya, ia bahkan menawariku salah satu wanitanya. Tapi aku tidak tertarik dengan hal seperti itu. Aku lebih suka melihat pemandangan pasienku yang datang ditemani oleh istrinya atau anaknya. Meski sedang sakit, mereka terlihat bahagia dengan keluarga mereka.

Aku membuka tirai dan melihat pemandangan malam di luar jendela, malam ini bulan purnama. Seketika pikiranku melayang ke Sakura.

Siapa dia? Mengapa aku merasa pernah bertemu dengannya? Mengapa aku merasa sangat dekat dengannya? Aku bahkan melakukan hal yang sudah lama tidak kulakukan, minta maaf. Berada didekatnya membuatku merasa lebih menjadi manusia. Aku rasa aku sudah tidak sabar lagi untuk menemuinya besok.

Aku pulang ke tempat tinggalku, beristirahat untuk memulai esok hari yang lebih baik.

POV: Sakura

Aku terbangun dari tidurku setelah mendengar jam alarm ku berbunyi. Aku mematikannya dan melirik jam, pukul 06.00 pagi. Kemudian aku mandi dan berpakaian rapi.

Aku berangkat ke pasar hari ini, membeli persediaan untuk memasak. Aku merasa lebih baik membawa bekal ke tempat magangku dan aku juga tidak keberatan membuatkan lebih satu bento untuk Sasuke. Mengingat jadwal yang kami sepakati sangat padat, mungkin tidak akan sempat untuk makan siang diluar maupun di kantin.

Setelah pulang dari pasar, aku segera memasak di dapurku. Mengingat apa yang Sasuke katakan mengenai makanan kesukaannya, aku tidak lupa untuk menambahkan irisan tomat lebih pada bento yang kubuatkan untuknya. Aku harap ia suka masakanku, aku akan berusaha sebaik mungkin. Selesai memasak, aku membungkus kedua bento tersebut bersamaan.

Jam sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi, aku segera mengganti pakaianku dengan pakaian baru dan memakai jas putih ala dokter lengkap dengan name tag. Setelah semua telah kuperiksa dan kubawa, aku mengunci pintu dan keluar dari rumahku. Aku berjalan ke rumah sakit seperti kemarin siang, aku harus tiba disana sebelum pukul 10.00.

Setelah berjalan kaki selama 5 menit, tiba-tiba terdengar suara rem ban mobil. Aku sedikit terkejut karena mobil tersebut berhenti di dekatku.

Heh? Mobil? Mobil sport?

Tunggu.. Mobil ini.. Ini mobil Sasuke!

Aku terus berjalan, pura-pura tidak tahu ada mobil yang sudah berhenti di sampingku.

"Sakura, baru semalam kamu sudah lupa ini mobil siapa?" ucap Sasuke sedikit berteriak.

Aku menoleh ke belakang. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.

Sasuke Uchiha, keluar dari mobilnya dan memanggilku.

"EH? Sa.. Sasuke-kun? Kenapa bisa ada disini?"

"Tentu saja menjemputmu." ucapnya cepat sambil memalingkan muka.

Apa? Menjemputku? Yang benar saja? Dokter dingin ini menjemputku? Apa ini mimpi?

"Sakura, sampai kapan mau berdiam disitu?" Sasuke memanggilku lagi.

"Eh, ma.. maaf Sasuke-kun." balasku cepat dan berjalan ke arah mobilnya.

Aku tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahku. Aku memasuki mobilnya dengan pelan dan ragu-ragu.

Sasuke hanya diam, kembali ke mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.

"Sakura, aku tidak akan memakanmu." ucap Sasuke memecah keheningan.

"Ma.. maaf. Aku tidak bermaksud begitu, Sasuke-kun . Aku hanya tidak biasa."

"Anggaplah biasa mulai sekarang."

"A.. Apa? Jadi Sasuke-kun akan menjemputku setiap hari?"

"Hn. Dan mengantarmu."

"Apa tidak merepotkan?"

"Tidak."

Aku hanya diam, tidak dapat berkata apa-apa lagi. Pipiku merah padam. Tidak pernah ada pria yang begitu baik kepadaku dalam hidupku selama ini, kecuali ayahku dulu.

"Sudah sampai, jangan melamun." ucap Sasuke sambil menggelengkan kepalanya.

"Ah, iya. Terima kasih tumpangannya." balasku sambil menundukkan kepala.

"Tidak usah berterima kasih. Aku akan melakukan ini setiap hari. Jadi seperti yang aku katakan tadi, biasakanlah dirimu."

"Iya, terima kasih."

"Sudah ku bil-"

"Tidak apa-apa, Sasuke-kun. Aku tetap berterima kasih karena sudah bersedia menjemputku."

"Hn, sama-sama."

Aku dan Sasuke keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah sakit bersama.

Beberapa perawat, dokter, dan petugas kebersihan menyapa Sasuke. Dia juga membalas sapaan mereka dengan menambah senyum tipis, ternyata dia ramah juga.

Seperti kemarin, ia selalu di sambut oleh sekretaris berambut merahnya sebelum masuk ke ruangannya.

"Selamat pagi, dokter Uchiha." ucap Karin dengan senyumnya.

"Hn." balas Sasuke dingin. Ia tidak tersenyum sama sekali kepada Karin. Aku sedikit heran melihat hal ini.

"Hei, mau apa kau? Kenapa mengikuti dokter Uchiha? Ruangan magang bukan disini 'kan?" tanya Karin padaku sambil menunjukku dengan jari telunjuknya.

"Aku sudah membuat perjanji-" balasku yang kemudian di sela oleh Sasuke.

"Cukup, Karin. Aku yang memanggil Sakura untuk ikut denganku. Banyak yang harus ia pelajari. Puas?" ucap Sasuke ketus kepada Karin.

"Tapi, dokter Uchiha, Anda punya jadwal un-" ucap Karin berusaha menjelaskan.

"Aku tahu jadwalku, enyahlah!" teriak Sasuke pada Karin.

Karin yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam dan tertunduk.

Aku hanya membeku melihat drama di depanku ini. Sasuke aneh, terkadang terlihat hangat namun terkadang amat sangat dingin. Dari situasi ini, aku menyimpulkan bahwa ia tidak begitu menyukai Karin. Tapi kenapa ia menerimanya sebagai sekretaris? Aku terdiam dan termenung memikirkan hal ini.

"Sakura, jangan melamun!" teriak Sasuke padaku.

"Maaf, Sas-, dokter Uchiha." Balasku tersadar dari lamunan.

Aku segera berjalan mengikuti Sasuke dan masuk ke dalam ruangan prakteknya.

Sasuke duduk di kursinya dan menghela nafas. Memasang muka datarnya.

"Duduk, Sakura. Jangan menambah emosiku." ucap Sasuke padaku dengan ketus.

"Iya, dokter Uchiha." balasku. Aku segera duduk di kursi yang tepat di depannya.

Sasuke hanya diam, menundukkan kepala, menopang kepalanya dengan tangannya yang tinggal sebelah.

Melihatnya seperti ini, rasa kasihanku kepadanya kembali. Aku baru ingat tanganku masih memegang bento yang kubuatkan untuk kami berdua.

"Dokter Uchiha, sudah saparan belum? Aku membuatkan bento yang dapat dimakan sekarang atau nanti saat jam makan siang." ucapku sambil meletakkan bento di mejanya.

Sasuke mengangkat kepalanya, melirik bentoku, kemudian melirikku.

Aku tersenyum padanya.

"Jika lapar, makanlah dahulu sebelum mulai praktek." ucapku lagi sambil tersenyum padanya.

Sasuke hanya diam.

Aku kehabisan kata-kata, aku memutuskan untuk mengambil minum yang berada di sudut ruangan ini.

"Enak." ucap Sasuke tiba-tiba.

Aku terkejut dan memutar kepalaku. Ternyata ia sedang memakan bento yang kutawarkan tadi.

"Benarkah? Terima kasih. Itu hanya bento sederhana, dokter Uchiha." ucapku sambil memberinya segelas air putih.

"Aku sudah lama tidak makan makanan seenak ini. Dan, jangan melupakan apa yang kukatakan soal memanggilku."

"Hah? Bukankah lebih enak spaghetti tomat kemarin, Sasuke-kun?"

"Tidak, ini jauh lebih enak. Bisa buatkan aku setiap hari?" tanya Sasuke sambil menundukkan kepala ke arah bento.

"Baiklah. Aku tidak keberatan, aku hobi memasak. Hehe.." balasku sambil tersenyum padanya.

Aku melihat ke meja, Sasuke menghabiskan kedua bento yang kubawa. Dua bento.

"Sasuke-kun, kamu menghabiskan kedua bento yang ku bawa?" tanyaku.

"Hn, iya. Kenapa?" jawab Sasuke dengan polos.

"Ku kira kamu tahu satunya lagi kubuat untukku sendiri."

"Eh, maaf. Aku sangat lapar, Sakura. Sebagai gantinya aku akan mentraktirmu nanti." ucap Sasuke dan secara tidak sadar ia minta maaf 'lagi' kepada Sakura.

"Ah sudahlah tidak apa-apa. Aku akan makan di kantin nanti."

"Jangan. Aku akan memesan makanan nanti siang dan aku yang akan bayar. Aku tidak terima penolakan."

"Ya, ya, baiklah." jawabku mengalah padanya.

Sasuke melirik jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Sudah waktunya memulai praktek. Jam makan siang Sasuke diundur ke jam 13.30. Jika aku tidak membawakannya bento, mungkin ia akan praktek sambil kelaparan. Aku dapat membayangkan, jika ia sedang praktek di depan pasien dan tiba-tiba perutnya sakit atau bahkan berbunyi karena lapar. Pasti akan sangat lucu dan wibawanya sebagai seorang dokter akan hilang. Aku melamun lagi. Kali ini aku tertawa sendiri.

"Apa yang lucu, Sakura?" tanya Sasuke melihatku tertawa sendiri.

"Eh, tidak tidak, tidak ada, maaf." balasku.

"Dasar aneh. Aku akan memulai praktekku sebentar lagi, duduklah dibelakangku dan perhatikan caraku berbicara dengan pasien." ucap Sasuke serius.

"Siap, dokter Uchiha Sasuke. Hahaha." jawabku sambil tertawa menggodanya.

"Aku tidak bercanda, gadis manis." ucapnya sambil menyegir kepadaku.

Saat ini ia terlihat jauh lebih tampan dari sebelum-sebelumnya. Wajahku langsung memerah dan aku hanya bisa duduk diam di kursi yang ada di belakangnya tanpa bersuara sedikit pun.

Ia terlihat senang dengan ekspresi diriku yang seperti ini.

'Tok tok' suara ketukan dari pintu

"Masuk." ucap Sasuke.

"Bisa dimulai prakteknya dokter?" tanya Karin dari balik pintu.

"Hn." jawab Sasuke.

"Pasien nomor 1, Naruto Uzumaki."

Mendengar nama itu, wajah Sasuke berubah menjadi datar kembali.

Pasien tersebut berjalan memasuki ruangan. Seorang pria, tingginya hampir sama dengan Sasuke, rambutnya berwarna kuning dan pakaiannya sedikit berantakan.

"Temeeeee, aku sakiiiiitt." teriaknya pada Sasuke sambil memegang perutnya.

"Mau apa kau kesini, dobe? Menggangguku lagi?" tanya Sasuke padanya dengan wajah datar.

"Aku sakit, teme. Mencret dan sakit perut dari semalam. Aku masih mempunyai pekerjaan yang lebih penting dibanding mengganggumu." jawab pasien itu.

Pasien ini kemudian melirikku heran dan menaikkan alisnya sebelah. Aku menanggapi lirikannya dengan senyuman.

Sebenarnya aku bahkan lebih heran darinya, Sasuke terkesan sangat akrab dengan orang sepertinya.

"Teme, siapa dia?"

To be Continue


Sorry for the late update, sibuk di dunia nyata.

Saran dan kritik sangat diharapkan karena masih newbie dalam membuat fanfic dan berniat menuntaskan fic ini. Hehe.

Yang membaca jangan lupa review ya

Terima Kasih sudah membaca :D

Sincerely,

Shady.