All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 4 : Ferret tiba-tiba menjadi baik

4.

Seseorang menekan bel apartement Hermione terus menerus. Ia menutup saluran floo-nya. Dan siapapun itu, pasti ia sudah mencoba lewat perapian tapi tidak bisa.

Hermione sungguh-sungguh, benar-benar tidak ingin menemui siapapun yang ada di depan pintunya. Ia menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak sekencang-kencangnya.

Tapi akhirnya Hermione bangun dari kasurnya dan menuju pintu.

"Hermione! Aku tahu kau di dalam!" Ginny berteriak. "Buka cepat!" Ginny terus berteriak, menggedor pintu dan menekan bel terus menerus.

"I'm coming Gin." Kata Hermione berjalan menuju pintunya, lalu membukanya.

Ginny berdiri dengan sekotak pizza dan beberapa kaleng soda di tangannya.

"Aku tahu ini akan terjadi." Kata Ginny melihat Hermione. Ia segera masuk dan menuju ruang tengah apartement sahabatnya. Hermione menutup pintu kemudian mengikuti Ginny masuk.

Ginny meletakkan pizza dan sodanya, lalu melihat Hermione. Ia menggunakan kaos kebesaran dan sweatpants, rambutnya dipilin keatas dengan tongkatnya.

"You look like shit Hermione." Kata Ginny.

"Yeah I know. Kurasa kau bukan satu-satunya orang yang merasa seperti itu. Malfoy bahkan menawari untuk mengantarku pulang. Aku pasti benar-benar terlihat menyedihkan."

"Malfoy ingin mengantarmu pulang?" tanya Ginny tidak percaya. "Kurasa apa kata Harry benar. Malfoy menyukaimu" kata Ginny tersenyum.

"Jangan bercanda." Kata Hermione.

"Duduklah." Kata Ginny pada Hermione. Hermione duduk disamping Ginny dan terlihat akan segera menangis.

"Baiklah, tarik nafas yang panjang!" Kata Ginny memberi Hermione instruksi. "Apa kau bertemu dengan Cedric hari ini?" tanya Ginny.

Hermione mengangguk.

"Apa dia memintamu untuk kembali padanya?" tanya Ginny lagi.

Hermione mengangguk lagi.

"Shit." Kata Ginny.

Hermione langsung menangis.

"Aku tidak tahu Gin, aku tidak tahu." Kata Hermione menangis. Ginny memeluk sahabatnya dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Setelah beberapa waktu akhirnya tangisnya berhenti.

"Okay, let's do this right!" kata Ginny sambil mengunyah Pizzanya. "Apa kau masih mencintainya?" tanya Ginny.

Hermione diam. "Aku tidak tahu Gin." Kata Hermione, ia tidak yakin tentang perasaanya.

"Well, told Cedric that! Beritahu Cedric kalau kau tidak tahu, kau tidak yakin apa kau masih mencintainya atau tidak. Kalau ia memang masih mencintaimu maka ia akan menunggumu Mione." Kata Ginny.

Hermione melihat Ginny dan memikirkan perkataan temannya.

Akhirnya mereka menghabiskan sekotak pizza berukuran jumbo itu sambil merencanakan langkah apa yang harus dilakukan Hermione untuk menghadapi Cedric.

Langkah Pertama : Katakan pada Cedric kalau Hermione tidak yakin apa ia masih mencintai Cedric atau tidak. Dan jika Cedric menginginkan kesempatan kedua, maka ia harus mengulang tahap awal hubungan mereka. A Proper Courting.

.

Hari ini Sabtu, dan Hermione berencana mengunjungi kedua orangtuanya, kemudian membeli beberapa buku, dan kemudian cuddling dengan kucingnya. Ia keluar dari rumahnya sekitar pukul sembilan pagi dan memutuskan untuk berjalan menuju Diagon Alley.

Banyak orang memperhatikannya, Hermione membalas semua orang yang tersenyum padanya. Ia kemudian dikagetkan oleh seorang anak yang menjual majalah.

"Ms. Granger." Kata anak itu pelan.

"Ada yang bisa kubantu? " tanya Hermione pelan.

"Apa kau mau membeli majalah?" tanya anak itu menunjukkan edisi terbaru Witch Weekly yang dipegangnya. Di covernya terdapat foto Hermione dan Cedric kemarin saat makan siang. Foto yang menunjukkan bahwa Cedric mencium kening Hermione kemudian Hermione pergi.

"Well, sure." Hermione benar-benar penasaran apa isi majalah itu. Tertulis : Hermione Granger & Cedric Diggory, a Long Lost Love. Sebagai Headline besar di covernya.

Hermione berjalan menuju perbatasan dunia sihir dan muggle, majalah yang dibelinya tadi dimasukkan ke dalam tas, ia akan membacanya nanti di rumah orangtuanya.

Hermione berjalan menuju rumah orang tuanya, setelah menaikki bis, ia turun dan berjalan sedikit, memperhatikan lingkungan ia tumbuh sebelum surat Hogwartsnya tiba. Hermione tersenyum melihat beberapa anak bermain di taman kecil tidak jauh dari rumah orangtuanya.

Hermione menekan bel rumah orangtuanya. Helena Granger membuka pintu rumahnya.

"Hermione, you're here." Kata Helena memeluk anak perempuannya.

"Tentu saja Mom." Kata Hermione lalu masuk ke dalam.

"Ayahmu ada di garasi, dan sebentar lagi makanan siap." Kata Helena.

Hermione duduk di pantry dapur, memperhatikan ibunya memasak. Dari kecil Hermione selalu merasa bahwa memperhatikan ibunya memasak adalah salah satu hal paling menyenangkan.

Dulu Hermione akan menggambar atau menulis atau bermain puzzle sementara ibunya memasak.

Hermione mengeluarkan majalah yang tadi dibelinya, melewati beberapa halaman pertama lalu membaca artikel utamanya.

Hermione Granger & Cedric Diggory

A Long Lost Love?

Hermione Granger tertangkap paparazzi sedang makan siang dengan Cedric Diggory, mantan kekasihnya yang baru saja kembali dari liburan panjang di luar Inggris. Mereka tertangkap sedang makan siang bersama di restoran tidak jauh dari Kementrian Sihir tempat Hermione Granger bekerja.

Untuk anda yang sudah lupa tentang hubungan mereka, izinkan saya, Parvati Patil, kolumnis gossip utama Witch Weekly menyegarkan ingatan anda. Hermione Granger, seperti yang kita tahu, member dari The Golden Trio adalah kekasih Cedric Diggory atau kemungkinan besar bisa kita sebut mantan. Dua tahun yang lalu, sebelum Mr. Diggory pergi meninggalkan Inggris, mereka berdua menjalin hubungan yang bahkan tingkat popularitasnya melebihi Hubungan Harry Potter dan Ginny Potter nee Weasley.

Tapi kemudian Mr. Diggory menghilang dari Inggris, pihak keluarga mengatakan bahwa ingin melakukan perjalan sekaligus liburan panjang, ia ingin melihat dunia yang lain, dan mencari pengalaman di luar Inggris.

Semenjak kepergian Mr. Diggory seluruh dunia sihir London tentu berasumsi bahwa hubungan keduanya sudah berakhir.

Tapi, Jumat siang, camera-person kami menemukan Hermione Granger dan Cedric Diggory yang sepertinya sedang berusaha memperbaiki hubungan mereka. Jelas di foto-foto eksklusif kami bahwa keduanya terlibat pembicaraan serius, dan pertemuan itu diakhiri dengan ciuman lembut di kening Ms. Granger.

Anda pasti bertanya-tanya, apa Mr. Diggory kembali untuk seterusnya? Apa mereka akan kembali bersama? Apa terdengar lonceng pernikahan tidak lama lagi?

Well, mari kita tunggu saja kelanjutan hubungan keduanya.

Yang jelas, kembalinya Mr. Diggory bukan hanya menjadi kabar gembira untuk Ms. Granger, tapi juga kabar gembira untuk seluruh wanita single di dunia sihir.

Akhirnya Mr. Diggory kembali ke deretan papan atas Wizarding World Most Eligible Bachelor .

…Lihat juga 10 Besar Wizarding World Most Eligible Bachelor di halaman 19.

…Lihat juga 10 Besar Wizarding World Most Eligible Bachelorette di halaman 22.

…Lihat juga 5 Besar The Most Hot Couple untuk semester pertama tahun ini di halaman 25.

Hermione menghela nafasnya lalu menutup majalah itu dan mendorongnya menjauh.

Helena mematikan kompor lalu mengambil majalah bergerak itu dan duduk di depan anak perempuannya. Sampai sekarang Helena masih takjub dengan bagaimana cara dunia sihir bekerja. Dan foto bergerak adalah salah satu yang paling ia sukai.

"Cedric sudah kembali?" tanya Helena berusaha terdengar normal meskipun ia kaget melihat foto anaknya dan mantan pacarnya itu.

"Iya."

"Lalu apa kau kembali menjalin hubungan dengannya?" tanya Helena lagi

"Tidak." Kata Hermione. "Belum. Oh,entahlah Mom." Kata Hermione.

"Siapa yang sudah kembali?" Richard Granger muncul dari pintu samping rumah mereka yang terhubung dengan garasi, tangannya tertutup hitam oli dan di wajahnya juga bajunya terdapat noda oli. Helena langsung menyembunyikan majalah yang dipegangnya.

"Hai Dad." Kata Hermione. Richard membersihkan wajah dan tangannya di wastafel lalu memeluk Hermione.

"Siapa yang sudah kembali?" tanya Richard lagi. Helena dan Hermione diam, keduanya saling melirik.

"Helen berikan apapun yang ada dipunggungmu padaku." kata Richard tahu. Helena menghela nafasnya lalu memberikan majalah itu.

"Oh, Tuan Diggory sudah kembali rupanya." Kata Richard sinis. "Hermione, Dad tidak mau kau kembali berhubungan dengannya!"

Hermione diam saja.

"Kalau Cedric membuat Hermione bahagia kenapa tidak?" Helena Protes.

"Kalau aku bilang tidak, maka tidak." Kata Richard tegas.

"Tenanglah Dad, aku juga tidak berencana kembali pada Cedric." Kata Hermione.

"Hermione? Kau yakin? Kau sudah tidak mencintainya lagi?" tanya Helena khawatir.

"Sebenarnya aku juga tidak yakin Mom, tapi aku memang tidak berencana kembali padanya, tidak dalam jangka waktu dekat setidaknya." Kata Hermione jujur.

"Sudahlah, jangan membicarakan pria itu lagi. Aku akan mandi sebentar lalu kita akan makan." Kata Richard kemudian pergi ke kamar untuk mandi.

Helena dan Hermione menghela nafas mereka bersamaan. Richard Granger adalah sosok ayah dan suami yang baik, nyaris sempurna, hanya saja Ia kadang terlalu galak.

Awalnya Richard menyukai Cedric Diggory, tentu saja, siapa yang tidak? Pria itu tampan, baik, ramah, dan bahkan dari cara bicara dan cara berpakaiannya Richard tahu Diggory punya banyak uang. Bukannya Richard mata duitan atau semacamnya, sebagai ayah Ia hanya tidak ingin Hermione mengalami kesulitan finansial nantinya, dan begitu Ia tahu bahwa memang Cedric Diggory punya banyak uang, Ia tentu tidak perlu khawatir akan kehidupan Hermione nantinya.

Tapi kemudian anak kurang ajar itu pergi meninggalkan anak perempuannya satu-satunya. Ingin pergi melihat dunia my arse.

Richard tidak akan pernah lupa bagaimana sedihnya Hermione saat pertama ditinggal Cedric, susah makan, susah keluar kamar, matanya bengkak terlalu banyak menangis, rambutnya berantakan jarang keramas, Hermione benar-benar berantakan, dua minggu pertama setidaknya.

Sampai akhirnya Ginny Weasley menyeretnya keluar rumah. Richard dan Helena akan selamanya akan berterimakasih pada Mrs. Potter yang membantu Hermione melewati fase galau akut anak perempuannya itu.

Dan sekarang, jika Cedric Diggory kembali dan ingin berhubungan lagi dengan anaknya, maka Richard tidak akan menyetujuinya dengan mudah, paling tidak akan memberi anak itu pelajaran dulu. Pelajaran yang tidak akan dilupakannya seumur hidup, dan sebagai peringatan, bahwa tidak ada yang boleh membuat masalah dengan keluarga Granger.

.

Hermione dan kedua orangtuanya makan bersama, membicarakan apa yang terjadi beberapa minggu belakangan ini.

Richard bercerita seorang anak berumur 10 tahun yang mengompol di ruang tunggu klinik giginya karena ketakutan akan periksa gigi, tapi setelah selesai periksa gigi, anak kecil itu malah menjabat tangan Richard senang dan berjanji akan datang rutin setiap enam bulan. Mereka bertiga tertawa.

Profesi kedua orang tua Hermione sebagai Dokter Gigi memang sering membawa cerita lucu dan unik untuk dibicarakan saat santai.

Setelah makan dan membersihkan sisa makanan, dan setelah acara sikat gigi bersama –seperti biasa- Hermione dan kedua orangtuanya duduk di ruang tamu di dekat perapian, musim dingin sebentar lagi datang dan cuaca sudah mulai dingin. Mereka mengobrol lama sekali sampai lupa waktu.

Helena sedang membolak-balik halaman majalah Witch Weekly yang tadi di bacanya. Hermione dan ayahnya sedang bermain catur.

Begitu Harry tahu bahwa ayah Hermione senang bermain catur, ia memberikan paket catur sihir yang bisa bergerak sendiri. Tentu saja Richard Granger senang sekali, apalagi ia memang menyukai Harry dan sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.

"Hermione." Kata Helena saat sesuatu menarik perhatiannya di majalah itu.

"Ada apa Mom?" tanya Hermione masih fokus pada caturnya.

"Kenapa nama Draco Malfoy tidak terdengar asing di telinga Mom? Dia siapa?" tanya Helena.

"Oh, dia rekan kerjaku yang kuceritakan dua minggu yang lalu, dia seangkatan denganku di Hogwarts." Kata Hermione menjelaskan singkat.

"Dia tampan sekali, astaga, kau harusnya senang punya rekan kerja setampan ini." kata Helena.

Hermione merasa ada yang aneh.

Malfoy?

Draco Malfoy?

Draco Bloody Malfoy!

"Boody Hell." Kata Hermione melihat jam tangannya. Sudah jam empat sore. "Oh My God." Hermione berdiri dan panik sendiri.

"Mom, Dad, aku lupa ada janji." Kata Hermione kemudian mengambil tasnya di meja pantry.

"Kau akan pergi sekarang?" tanya Richard.

"Hermione, kau mau membungkus beberapa makanan?" Helena bertanya.

"Tidak Mom, aku terburu-buru." Kata Hermione, ia lalu mencium kedua orang tuanya lalu berlari keluar.

"Dia ada janji dengan siapa?" tanya Helena bingung pada suaminya.

"Entahlah, kuharap bukan dengan Diggory." Kata Richard lalu membereskan papan caturnya.

.

Hermione lupa kalau ia punya janji dengan Draco Malfoy. Dasar bodoh, umpatnya dalam hati.

Hermione tidak mungkin ber-apparating ke Starbucks ia pasti terlihat oleh Muggle, dasar bodoh, umpatnya lagi, pakai segala mengajak bertemu di dunia muggle. Meskipun Starbucks yang dimaksudnya bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 20 menit, ia sudah terlalu terlambat.

Hermione setengah berlari menuju tempat Ia seharusnya bertemu dengan Malfoy. Semoga Malfoy masih menunggunya disana.

Hermione memasukki Starbucks yang dimaksudnya dan melihat Draco duduk di meja paling pojok, sambil membaca sesuatu.

Hermione yang sudah kehabisan nafas semakin kehabisan nafas.

Diluar dugaannya, Draco menggunakan pakaian muggle. Ia menggunakan celana jeans biru yang agak ketat dan kemeja putih dengan sweater rajut berwarna biru gelap, rambutnya digel agak kesamping kiri, dan hampir semua perempuan di situ memperhatikannya seperti siap menerkamnya kapan saja.

Hermione berjalan mendekat.

"Maaf aku terlambat." Kata Hermione masih kehabisan nafas. Draco mendongak dari majalahnya, Witch Weekly yang disihirnya agak tidak bergerak sehingga muggle tidak akan curiga.

Draco terseyum. Kaki Hermione lemas melihat senyuman itu, jantungnya berdebar.

"Duduklah." Kata Draco masih tersenyum. Hermione duduk, ia masih mengejar nafasnya.

"Aku kira kau tidak akan datang." Kata Draco tersenyum. Ia tidak tahu apa yang terjadi, kenapa ia tidak bisa berhenti tersenyum begitu melihat Hermione Granger. Seandainya Hermione tidak juga datang saat ini, Draco pasti akan tetap menunggunya sampai kedai kopi muggle ini tutup.

"Maaf, aku lupa, sungguh. Jika bukan karena ibuku pasti kau akan menunggu lama sekali." Kata Hermione sudah mulai tenang.

"Kau baru bertemu orangtuamu?" tanya Draco.

Hermione mengangguk. "Hampir setiap sabtu aku mengunjungi orangtuaku. Aku sedang bermain catur dengan ayahku saat ibuku tiba-tiba bertanya ' Kenapa nama Draco Malfoy tidak terdengar asing di telinga Mom'" Hermione menirukan nada suara ibunya. "Lalu aku teringat kalau aku punya janji denganmu."

Draco tertawa. "Kenapa ibumu tiba-tiba mendengar namaku?" tanya Draco.

"Kurasa Ia sedang membaca Witch Weekly, apa ada artikel tentangmu disana?" tanya Hermione lagi.

"As the matter of fact." Kata Draco menyodorkan majalah yang dipegangnya. "Well, kau tahu, Diggory nyaris mengambil posisiku." Kata Malfoy tersenyum.

"Posisi apa?" tanya Hermione tidak mengerti.

Hermione mengerti apa maksudnya kemudian tertawa, ia memindai isi halaman majalah itu dan tertawa lagi.

Top 10 Wizarding World Most Eligible Bachelor.

Begitu judul halaman yang ada di depan Hermione. Draco Malfoy berada di peringkat satu diikuti Blaise Zabini dan Cedric Diggory.

"Jadi kau takut Cedric mengambil posisimu sebagai The Most Eligible Bachelor?" tanya Hermione tidak percaya, ia kemudian tertawa.

"Tidak juga, aku tidak takut, hanya tidak mau." Kata Draco mengangkat bahunya.

Hermione can't help but think. Keluarga Diggory memang satu dari sedikit keluarga yang harta kekayaannya nyaris menyaingi Malfoy. Akhir tahun lalu, keluarga Malfoy masih berada di peringkat satu, diikuti Harry, dan Diggory.

Selain karena kekayaannya, Cedric juga menjadi pesaing yang berat karena tidak kalah tampan dari Malfoy, Iya betul, Hermione mengakui kalau Malfoy memang tampan. Badannya yang tinggi dan berotot (bukan tipe otot yang besar seperti Ron atau Viktor Krum, tapi langsing dan berotot, seperti model pakaian dalam pria.) Astaga Hermione, apa yang kau pikirkan?

Tinggi keduanya hampir sama, tapi sepertinya Malfoy sedikit lebih tinggi. Mata malfoy berwarna abu-abu silver, sementara Cedric berwarna hijau, rambut Malfoy berwara pirang platina, sementara Cedric berwarna cokelat gelap. Kulit Malfoy putih dan pucat sekali, sementara Cedric, setelah kembali dari perjalanannya menjadi sedikit lebih cokelat.

Keduanya sama-sama indah dengan cara yang berbeda. Beberapa waktu yang lalu Cedric berada di peringkat ke 6, posisinya terus turun karena tidak pernah terlihat, namun seiring kemunculannya yang tiba-tiba ia langsung melompati Theodore Nott, Cormac Mc Laggen, dan Oliver Wood.

"Granger." Kata Draco menyadarkannya dari lamunannya.

"Sorry." Kata Hermione.

"Kau ingin minum apa?" tanya Draco. "Aku akan memesan."

"Aku ingin Americano." Kata Hermione.

"Tunggulah sebentar." Draco berjalan menuju counter. Hermione memperhatikan punggungnya yang bidang, kemudian pandangannya jatuh ke bokong pria itu yang terlihat bagus sekali, Jeans yang digunakannya membuat bokong pria Malfoy terlihat sempurna.

'Shit, Hermione apa yang kau pikirkan?' Hermione memarahi dirinya sendiri, kenapa ia berpikiran seperti itu, Ia pasti sudah gila.

Hampir semua perempuan memperhatikan Draco yang berdiri di counter. Beberapa berbisik satu sama lain.

Hermione ingin tertawa melihat bagaimana seorang Draco Malfoy sampai sekarang masih menjadi tipe pria yang akan membuat siapapun yang melihatnya menahan nafas.

Hermione mengeluarkan kaca dari tasnya dan menyadari bahwa rambutnya berantakan sekali karena tertiup angin saat ia berlari tadi, ia menguncir rambutnya dan tidak lama Draco kembali dengan beberapa roti dan muffin.

"Kau terlihat bagus menggunakan pakaian Muggle." Kata Hermione memuji.

"Aku akan terlihat bagus dengan semua pakaian Granger. Bahkan tanpa pakaian." Kata Draco sombong sekaligus bercanda.

Wajah Hermione memerah, Draco benar, ia akan terlihat bagus bahkan dengan karung goni, dan Hermione bahkan tidak ingin mulai membayangkan Draco tanpa busana.

"Kenapa kau sering sekali melamun?" Draco bertanya saat menyadari bahwa pikiran Hermione lagi-lagi melayang entah kemana.

"Well, entahlah, mungkin karena udara semakin dingin." Kata Hermione menjawab.

"Karena udara dingin atau karena kau gugup berhadapan denganku?" tanya Draco menggoda. Wajah Hermione langsung memerah.

Draco tertawa. "Apa kau tahu kalau wajahmu memerah dengan cepat sekali?" tanya Draco.

Barista mengumumkan bahwa minuman mereka sudah selesai. "Atas nama Draco dan Granger." Kata Barista itu setengah berteriak.

"Biar aku yang ambil." Kata Hermione langsung berdiri menuju ke counter dan kembali membawa baki berisi Americano dan Espresso.

"Hebat sekali Malfoy, kau memesan kopimu atas nama depanmu dan memesan kopiku atas nama belakangku." Kata Hermione kesal.

"It's not a big problem Granger." Kata Draco menyesap kopinya sambil tersenyum, Ia menganggap Granger sebagai semacam panggilan sayang rahasia-nya untuk Hermione.

Hermione tidak bisa tidak tersenyum melihat senyuman Draco.

"Jadi, kenapa kau tiba-tiba mengajakku minum kopi?" tanya Hermione.

"Entahlah, tidak ada alasan khusus." Kata Draco mengangkat bahunya. "Kurasa aku hanya ingin minum kopi dengan teman kerjaku, apa itu salah?"

"Well, tidak ada yang salah, hanya saja aku bingung, kenapa kau tiba-tiba menjadi baik?" tanya Hermione jujur.

Draco menghela nafasnya. Langkah Pertama, minta maaf atas semua kesalahanmu selama ini. Pikirnya dalam hati.

"Granger." Kata Draco memulai. "Aku ingin minta maaf." Kata Draco pelan namun terdengar yakin. "Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku selama ini, dari kita di Hogwarts, dan beberapa minggu ini di kantor." Kata Draco melihat langsung ke mata berwarna Hazel di depannya.

Hermione baru akan bicara saat Draco memotongnya lagi. "Dan, kejadian dengan Bellatrix, di rumahku waktu itu…" kata Draco, ia tidak tahu harus mengatakan apa.

"Tidak apa-apa Malfoy." Kata Hermione, ia tersenyum tulus pada Malfoy. "Aku sudah memaafkanmu atas semuanya, termasuk kejadian di rumahmu waktu itu, aku tahu kau takut, mungkin aku atau Ron atau Harry juga akan melakukan hal yang sama jika kami jadi kau." Kata Hermione melihat ke mata abu-abu Draco.

"Dan aku juga ingin berterima kasih, waktu kau menolak mengenali kami saat kami tertangkap, mengatakan bahwa kau tidak yakin apa itu kami. Aku akan selamanya berterimakasih atas hal itu." Kata Hermione bersungguh-sungguh.

Mereka berdua kemudian diam. Sampai tiba-tiba,

Seorang perempuan cantik, dengan rambut pirang yang panjang dan lurus, berjalan dan berhenti di samping meja mereka. Ia tersenyum lebar sekali pada Draco.

"Um, Hallo." Kata perempuan itu menggoda ia menguntai-untai rambut panjangnya dengan jarinya. "Aku, Lizzy." Kata Perempuan itu. Ia kemudian menyodorkan kertas bertuliskan sesuatu pada Draco. "Itu nomorku." Katanya mengedipkan sebelah mata lalu berjalan pergi dengan menngoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.

Hermione tertawa terbahak-bahak. Draco melihatnya aneh. Hermione bahkan sampai mengeluarkan air mata karena menurutnya kejadian barusan sangat lucu.

"Apa kau sering mengalami hal seperti tadi?" tanya Hermione saat tawanya reda, tapi ia terlihat siap tertawa lagi setiap detiknya. Hermione mengambil kertas yang sudah di remukkan oleh Draco lalu membacanya.

"Call Me, Lizzy.. 588-88-1234, oh astaga Malfoy, ia bahkan memberi tanda bibirnya disini." Kata Hermione kemudian tertawa lagi sambil menunjuk-nunjuk bekas lipstick di bagian bawah kertas di depan mereka.

Draco yang tadinya ingin kesal, melihat Hermione tertawa begitu bahagia langsung tersenyum.

"Tell me, apa kau sering mengalami hal seperti itu?" tanya Hermione lagi.

"Seperti itu apa?" tanya Malfoy pura-pura tidak mengerti maksud Hermione.

"Oh, ayolah, jangan berpura-pura tidak mengerti, perempuan asing, datang dan memberi contact mereka padamu." Kata Hermione.

"Well…" Draco berpikir sebentar. "Yah, kurasa cukup sering, entahlah, aku tidak begitu sering berada di tempat umum, dan jika aku berada di tempat umum di dunia sihir, mereka semua mengenaliku dan kebanyakan tidak melakukan hal seperti tadi." Kata Draco jujur.

"Seberapa sering kau pergi ke Muggle London, dari cara berpakaianmu pasti kau sudah melakukan ini lebih dari sekali atau dua kali kan?" tanya Hermione.

Draco berpikir, mungkin ia bisa membuat Hermione terkesan. "Well, aku memang cukup sering mengunjungi Muggle London." Kata Draco jujur.

"Benarkah?" Hermione langsung bersemangat. "Apa yang biasanya kau lakukan?" tanya Hermione.

"Um, biasanya aku membeli sesuatu, berbelanja buku untuk ibuku atau untukku, atau sekedar menonton konser." Kata Draco.

"Wow, Malfoy aku tidak tahu kau suka buku dan musik muggle, apa yang kau suka?" tanya Hermione.

"Well, aku tidak punya pengarang favorit atau semacamnya, hanya membaca buku yang sedang hangat diperbincangkan saja." Kata Draco jujur. "Dan untuk musik, aku sebenarnya cukup menyukai The Beatles, dan sudah beberapa kali melihat sir Paul McCartney bermain, tapi aku juga lumayan sering melihat pertunjukkan Coldplay." Kata Draco.

Mata Hermione membelalak. Apa yang di dengarnya barusan tidak salah?

"Malfoy, aku sangat menyukai Coldplay!" kata Hermione setengah berteriak. "Kapan terakhir kau melihat konser mereka?" tanyanya penuh semangat. "Dan, pertunjukkan solo Sir Paul, apa kau tahu kalau begitu susah mendapatkan tiketnya? Ayahku bahkan belum pernah bisa mendapatkannya satu kalipun." Kata Hermione.

Hermione berencana memberikan tiket pertunjukkan solo Sir Paul McCartney untuk ulang tahun ayahnya bulan depan, tapi sampai sekarang ia masih kesulitan mendapatkannya.

Akhirnya Draco dan Hermione mengobrol panjang lebar sampai langit gelap. Hermione melihat jam tangannya, mereka sudah hampir empat jam duduk mengobrol, Draco sudah dua kali memesan Espresso lagi, dan Hermione memesan Manggo Tea.

"Kurasa ini sudah terlalu malam." Kata Hermione.

Draco melihat jam tangannya, sebentar lagi jam sembilan, sebenarnya tidak terlalu malam. Tapi Draco mengerti kalau jam delapan saja sudah terasa cukup malam jika dihabiskan dengan orang asing.

"Kau akan langsung pulang?" tanya Draco saat mereka berjalan keluar.

"Yah, tadinya aku akan mampir ke toko buku, tapi sepertinya sudah terlalu malam. Wow Malfoy, aku tidak menyangka ternyata kau orang yang menyenangkan untuk diajak bicara, aku sampai lupa waktu."

"Well, aku anggap itu sebagai pujian Granger." Draco tertawa pelan.

Mereka berjalan sampai ke pintu masuk Diagon Alley, keduanya diam sepanjang perjalanan, tapi diam ini terasa begitu nyaman.

"Well, aku akan be-apparating dari sini." Kata Hermione saat mereka sudah berada di tempat yang aman untuk menggunakan sihir.

"Yeah, kalau begitu hati-hati." Kata Draco.

"Sampai bertemu hari senin." Kata Hermione pelan.

Draco mengangguk. "Terimakasih Granger."

"Oh, dan aku berencana membeli tiket pertunjukkan konser Sir Paul bulan depan, jika kau mau, aku mungkin bisa membeli beberapa tiket untuk ayahmu?" Katanya menawarkan.

Hermione tidak bisa menahan semangatnya. "Oh, Malfoy kau baik sekali, apa kau bisa membelikan tiga tiket? Untuk ayahku, aku dan ibuku?" tanya Hermione benar-benar senang.

"Ya tentu." Kata Draco tersenyum.

"Terimakasih Malfoy, oh terimakasih banyak, ayahku akan senang sekali, dan jika kau sudah mendapatkan tiketnya, katakan saja padaku, aku akan menggantinya. Terimakasih sekali lagi Malfoy."

"Sama-sama." Kata Malfoy. "Kau tidak perlu menggantinya." Kata Draco pelan tepat sebelum Hermione menghilang.

-To Be Continued-

Read and Review

-dramioneyoja.

.

.

Edited : 11/6/2015