Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
*Not own anything of Naruto.
*This story is originally made by me.
Future Depends On You
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 5: Brothers (Kakak Beradik)
POV: Normal
"Aku.. orang ini.. sangat berarti untukku." ucap Sakura
"Hah? Apa maksudmu, Sakura?" tanya Sasuke dengan sedikit berteriak, tidak percaya apa yang didengarnya.
"Dia.. dia yang menyelamatkanku tahun lalu saat aku dikejar preman pada malam itu."
"Apa? Kamu bicara apa Sakura? Aniki ku sudah meninggal sejak ia berumur 15 tahun."
"Apa? Dia kakakmu Sasuke-kun? Aku.. Aku tidak mungkin salah melihat. Aku tidak mempunyai kemampuan untuk melihat hantu, Sasuke-kun. Dan aku tidak sedang bercanda."
"Sakura.. benarkah? Benarkah, Sakura? Benarkah Aniki ku masih hidup?"
"Aku tidak dapat melihat hantu, Sasuke-kun. Ia nyata pada malam itu, ia hidup. Ia yang memukul preman-preman itu. Ia sedikit menakutkan karena tatapannya dingin dan tidak tersenyum sama sekali, tapi kenyataannya ia yang menyelamatkanku. Ia juga yang menemaniku makan pada malam itu, kemudian tiba-tiba ia tersenyum lalu menghilang bersama burung gagak. Tapi sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi, padahal aku belum sempat berterima kasih padanya."
"Apa? Hilang? Gagak?"
"Kamu tidak percaya, Sasuke-kun?"
"Ceritamu sulit dipercaya, Sakura."
"Aku berkata sejujurnya, buat apa aku berbohong padamu? Aku bahkan tidak tahu dia adalah kakakmu. Aku bahkan tidak tahu ia bermarga Uchiha atau semacamnya. Aku bahkan tidak tahu namanya, Sasuke-kun!"
Perkataan Sakura ada benarnya juga. Sasuke terdiam, ia duduk di atas ranjangnya. Kepalanya tertunduk. Bahunya gemetar. Perlahan cairan putih mengalir dari matanya, membasahi wajahnya. Setitik demi setitik, cairan putih itu jatuh ke lantai. Sakura memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Sasuke-kun.." ucap Sakura sambil memegang bahu pria itu.
"Sakura, sakura.. Nii-san.. nii-san.. nii-san.. dia masih hidup.. hiks" ucap Sasuke sambil menangis.
Ya, menangis. Ia tidak pernah begitu sedih sekaligus gembira mendengar kakak kesanyangannya masih hidup. Ia menangis dan terus menangis. Perasaannya benar-benar kacau. Tanpa sadar ia memeluk Sakura dan menenggelamkan wajahnya dalam leher gadis itu.
"Hiks.. Nii-san.." Sasuke tidak berhenti menangis.
"Sa..Sasuke-kun. Te-tenanglah.." ucap Sakura sambil membalas pelukannya dan mengelus kepala pria itu.
POV: Sakura
Laki-laki ini terus menangis daritadi. Aku terkejut ia memelukku. Tapi ia terlihat begitu rapuh, sangat rapuh. Aku balas memeluknya dan mengelus kepalanya dengan lembut. Harus kuakui, ia pria teraneh yang pernah kujumpai. Tak kusangka, pria yang dingin ini dapat menangis juga. Tiba-tiba, tangisannya berhenti.
"Sakura.." ucapnya memanggil namaku dan menatapku. Aku dapat melihat wajah rapuhnya. Ia begitu sedih dan mungkin masih belum dapat menerima kenyataan.
"Ya? Ada apa?" tanyaku.
"Menginaplah, temani aku." ucap Sasuke semakin mengencangkan pelukannya padaku. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Hm, baiklah." aku menyetujuinya dan membalas pelukannya. Sedikit malu melakukan hal ini, mungkin saat ini wajahku merona lagi. Aku belum pernah memeluk seorang pria sebelumnya.
"Maafkan aku, merepotkanmu." ucap Sasuke, ia kembali meneggelamkan wajahnya pada leherku.
"Ti-tidak apa-apa. Aku sahabatmu, ingat itu." balasku dengan cepat.
"Hn." jawab Sasuke.
Ia tetap memelukku dengan erat. Kali ini ia berpindah ke arah dadaku, kepalanya semakin lama semakin menurun. Pipiku langsung merona, aku tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Aku menundukkan kepalaku untuk melihat wajah Sasuke. Sungguh terkejutnya aku, ia.. ia tertidur.
Astaga, aku tidak akan tega membangunkannya. Ia begitu rapuh sekarang. Baiklah, aku kembali mengeratkan pelukanku padanya. Dan tampaknya, ia sangat nyaman tidur dalam pelukanku. Aku sungguh sangat malu dengan situasi seperti ini. Tapi aku juga tidak ingin meninggalkannya saat ia sedang rapuh seperti ini. Lama kelamaan, aku mengantuk juga. Aku menguap dan akhirnya tertidur.
POV: Sasuke
Aku merasakan kehangatan membungkus tubuhku. Ah, hangat sekali. Aku membuka mataku sedikit demi sedikit. I-ini, aku.. aku sedang.. memeluk.. tubuh ini, Sakura. Aku mengangkat wajahku ke atas, Sakura tertidur. Jujur saja, aku malu, sangat malu. Tapi, aku tidak tega membangunkannya. Dan aku juga rasanya tidak ingin terlepas dari pelukan hangat ini. Aku bergeser sedikit ke atas dan kembali memeluknya, kemudian aku menenggelamkan wajahku di lehernya. Tiba-tiba, ia bergerak.
"Ng? Sasuke-kun?" ucap Sakura sambil membuka matanya perlahan.
"Sudah bangun?" tanyaku sambil melonggarkan pelukanku.
"Eh, i-iya. Sasuke-kun sejak kapan terbangun?"
"Baru saja."
"Oh. Eh, sudah jam berapa ini?"
Kami melirik jam di dinding bersama-sama.
"Apa? Sudah pukul 9 malam? Kamu pasti lapar Sasuke-kun. Maaf aku ketiduran."
"Hm? Tidak apa-apa, Sakura. Jangan merasa bersalah seperti itu."
"Aku akan memasak, mau membantu?"
"Dapur ya, aku rasa harus dibersihkan sebelum menggunakannya."
"Apa? Dapur pun tidak pernah kamu gunakan?"
"Sudah kukatakan Sakura, aku SIBUK." jawabku menekankan kata 'sibuk'.
"Sibuk apanya? Jam praktekmu hanya hingga siang, sorenya hanya memeriksa beberapa dokumen. Lalu sekedar membersihkan ruanganmu."
"Itu tadi, Sakura. Tidak setiap hari aku dapat kelonggaran seperti tadi."
"Benarkah? Rasanya sulit dipercaya, mengingat kamu memiliki rumah sakit itu 10%."
"Tidak ada kaitannya, aku dokter, aku juga punya tanggung jawab."
"Ya,ya, ayo cepat ke dapur. Aku sudah mau mati kelaparan, Sasuke-kun. Aku heran kamu masih ada energi untuk berdebat denganku."
Aku tidak menjawabnya, aku membiarkannya berjalan terlebih dulu. Kami mengangkat kembali sapu dan pel yang tadi kami bawa. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, sekarang aku tidak dapat menyembunyikan senyumku, senyum bahagiaku. Syukurlah aku berjalan dibelakangnya, sehingga Sakura tidak melihatku dengan ekspresi seperti ini. Aku benar-benar merasa lebih hidup dengan adanya Sakura. Aku merasa kekosonganku terisi. Aku memiliki perasaan lagi. Kami menuruni tangga bersama dan berjalan sampai dapur rumahku. Ya, rumah. Dengan adanya Sakura, ini rumah bagiku. Sakura berjalan mendahuluiku ke arah dapur.
"Astagaaaaaa!" teriak Sakura.
"Ada apa?" tanyaku menyusulnya ke dapur.
"Kau gila, Sasuke? Dapur sebagus ini tidak pernah kamu gunakan?"
"Aku tidak bisa memasak."
"Apa? Nasi goreng, telur, makanan instan? Apa sama sekali tidak bisa?"
"Baiklah, aku tidak mau memasak. Merepotkan."
"Hah? Merepotkan katamu? Sungguh dokter tak tau kesehatan. Kau kira dengan makan makanan diluar itu aman? Apakah kau tidak pernah baca berita? Saat ini banyak restoran yang memakai bahan makanan yang tidak baik, banyak menggunakan zat kimia, sekalipun itu restoran mewah. Kau tahu itu, Sasuke?" omel Sakura panjang lebar dan sedikit berteriak padaku.
"Kau tahu, Sakura? Kau terdengar seperti istri yang mengkhawatirkan suaminya."
"Eh-eh, a-aku, tidak!"
"Kalau begitu, diamlah. Aku lapar."
"Bantu aku, bersihkan ini! Ambil lap disitu, dan basahi." ucap Sakura menunjuk bagian samping wastafel yang berdebu tebal.
"Iya, nyonya."
"Heh, aku belum menikah."
"Menikahlah denganku." ucap Sasuke asal.
"Hah? Jangan bercanda, Sasuke Uchiha."
"Aku serius, memangnya terlihat bercanda?"
"A-aku, a.. i-itu.."ucap Sakura terbata-bata, wajahnya merona lagi. Oh, sungguh menggemaskan.
"Hahaha, aku serius mengerjaimu, Sakura."
"Haaaaah, dasar kau, rasakan ini." Sakura mencubit pipiku dengan kuat. Sakit, itu yang kurasakan.
"Au! Hei, berani sekali kau mencubitku? Ibuku bahkan tidak pernah memarahiku!"
"Biar saja, itu hukuman kau sudah mengerjaiku terus."
"Bersiaplah, Sakura."
"A-apa maksudmu?"
Aku mendekatkan tubuhku padanya. Aku menatapnya sedalam mungkin.
"Me-me-menjauhlah!" ucap Sakura sambil mendorongku dengan tangannya.
"Hm? Jangan berpikir macam-macam." Ucapku cepat.
Aku menangkis kedua tangannya yang menghalangiku dan langsung memeluknya. Wajahnya merah lagi, seperti tomat yang sangat ku sukai.
"Sa-sasu-" ucap Sakura terbata-bata.
"Terima kasih, Sakura." ucapku cepat.
"Un-untuk apa?"
"Semuanya."
"Mak-maksudnya?"
"Sudah, bilang saja sama-sama."
"Ba-baiklah, sama-sama."
Aku melepas pelukanku. Terima kasih, Sakura. Terima kasih untuk segala perhatianmu yang telah mengisi kekosonganku. Aku akan menyimpan rasa ini dalam hati, setidaknya aku tidak dapat memberitahu Sakura untuk saat ini. Rasa lapar kembali datang menghantuiku.
"Aku lapar, Sakura." ucapku.
"Duduklah di ruang tamu, nonton televisimu atau apalah. Aku akan memasak sebentar." iawab Sakura.
"Hn. Aku akan pergi setelah mengelap ini." balasku.
Aku mengambil lap yang tadi ditunjuk Sakura, aku membasahinya dan mulai mengelap.
POV: Normal
Entah mengapa Sasuke selalu mendengarkan perkataan Sakura. Gadis itu seperti punya kekuatan sihir yang dapat menyihir hati Sasuke menjadi hangat. Sasuke sudah selesai mengelap bagian samping wastafel, ia mengelap seluruh bagian samping wastafel yang dapat digunakan sebagai alas untuk menyiapkan bahan masakan. Dapur yang tak pernah ia gunakan tampak lebih bersih sekarang. Sasuke melirik Sakura, gadis itu sedang membersihkan wastafel
"Sasuke-kun, boleh minta tolong untuk bawakan kantung plastik yang berisi bahan makanan tadi kesini?" tanya Sakura.
"Hn." jawab Sasuke dengan gumaman tidak jelas itu.
Sakura heran, kenapa pria itu suka sekali 'hn', 'hn', 'hn' begitu. Sok keren 'kah? Entahlah, mungkin bawaan sifat dari lahir. Dingin dan sulit ditebak. Sakura menghentikan lamunannya dan lanjut membersihkan beberapa lemari di dapur itu. Ia menemukan beberapa botol minuman beralkohol di salah satu lemari. Beberapa diantaranya sudah pernah diminum. Hm, mungkin Sasuke minum saat ia sedang stress? batin Sakura. Semua minuman itu berkadar alkohol tinggi, sungguh dokter yang tak tau menjaga kesehatan, batin Sakura lagi.
"Sakura, aku letakkan disini ya."
Suara baritone itu memecahkan lamunan Sakura yang sedang memegan botol minuman beralkohol.
"Dokter Uchiha, kau tahu kan ini dapat merusak hati?" tanya Sakura sedikit berteriak.
"Hn." gumam Sasuke menatap Sakura dengan malas.
"Terus, kenapa diminum?"
"Wanita tidak akan mengerti. Pria punya pikiran beratnya tersendiri."
"Jadi benar dugaanku, kau minum saat stress. Jangan minum ini, Sasuke. Alkoholnya terlalu tinggi."
"Itu wine dan whisky mahal, Sakura. Jangan berani kau membuangnya."
"Tidak, bagus untuk pajangan di dapur." ucap Sakura.
"Aku buang isinya saja." sambung Sakura sambil membuka tutup botol itu satu per satu.
"Sakura." panggil Sasuke, berusaha menghentikan apa yang akan dilakukan gadis itu.
"Diam." ucap Sakura sambil menatap tajam Sasuke.
Entah mengapa Sasuke hanya bisa diam melihat perbuatan Sakura. Sakura menuang seluruh botol alkoholnya ke dalam wastafel. Habis sudah semua minuman beralkohol mahal yang Sasuke beli selama ini.
"Kau jadi patung, Sasuke?" tanya Sakura, heran melihat sikap pria itu yang terdiam seperti patung.
"Kemana –kun ku? Sasuke-kun." ucap Sasuke, menatap Sakura dengan tatapan sebal.
"Baiklah, Sasuke-kun. Maaf kasar padamu, tapi itu harus. Besok setelah dari showroom mobil, pilihlah beberapa minuman yang alkoholnya tidak lebih dari 30%, aku tidak akan melarang kesukaan atau hobimu."
"Hn, 40%. Tidak lebih dari itu."
"Tidak, 30."
"40."
"30!"
"EM-PAT PU-LUH!"
"TIDAK ya TIDAK, Sasuke! Kau mau mati hah?" teriak Sakura.
"Hah, sudahlah, cepat masak, aku lapar!" ucap Sasuke mengalah pada Sakura.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Sasuke pergi dari dapur. Senyum terukir diwajahnya, ia merasa seperti bertengkar dengan istrinya karena masalah sepele. Memang lucu, pikirnya. Awalnya Sasuke tidak percaya Sakura begitu memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia peka juga. Dan kini ia menyadari dirinya juga sangat perhatian pada gadis itu, bisa dibilang protektif kepadanya. Entahlah, sekarang pikiran Sasuke melayang ke keluarganya. Ayah, ibu, kakak masih hidup. Sakura melihatnya, benarkah kakak masih hidup? Aku akan mencarinya jika itu benar, batin Sasuke.
Sasuke memutuskan untuk berjalan ke ruang tamu. Menyalakan televisi yang selama ini tidak pernah ia nyalakan. Ia mengganti-ganti siaran, sampai ada yang menjadi perhatiannya.
Berita hari ini, sekelompok penjahat yang telah menjadi buronan akhirnya berhasil ditangkap. Tidak diketahui siapa yang dapat menangkap komplotan penjahat ini, tapi polisi menemukan adanya bulu burung gagak yang tertinggal di lokasi komplotan penjahat itu dilumpuhkan dan diikat.
Mata Sasuke terbelalak. Gagak? Mungkinkah? Jika cerita Sakura benar adanya, mungkinkah yang menangkap komplotan penjahat itu…, kak Itachi?
"Sasuke, makanan sudah siap. Makanlah di meja makan, aku sudah membersihkan meja makanmu yang super kotor ini." teriak Sakura dari arah dapur.
Sasuke mematikan televisi itu dan langsung menuju ke arah meja makan yang letaknya di dalam dapur yang luas itu. Ia pun segera duduk di meja makan tersebut.
"Sasuke-kun, ada apa? Wajahmu terlihat cemas." tanya Sakura khawatir.
"Berita. Tadi ada berita mengenai komplotan penjahat, polisi menemukan bulu burung gagak berserakan di tempat komplotan penjahat itu dilumpuhkan." jawab Sasuke.
"Burung gagak? Jangan-jangan.."
"Jika apa yang kamu katakan benar, maka dapat ku pastikan itu Itachi."
"Itachi? Oh jadi itu namanya ya. Aku bersumpah tidak berbohong satu kata pun kepadamu, Sasuke-kun."
"Baiklah. Besok setelah selesai ke semua tempat, kita ke tempat mu bertemu dengan Itachi ya? Dan aku akan mengatur penggantian Karin denganmu saat aku masuk kerja nanti."
"Tapi tempat itu jauh, Sasuke-kun. Dekat dengan pelabuhan. Iya, aku tidak masalah."
"Tidak apa, kita bisa menginap di penginapan dekat dengan pelabuhan."
"A-apa? Me-menginap?" ucap Sakura dengan wajahnya yang langsung memerah.
"Ya. Tenang Sakura, aku akan memesan twin bed. Kita tidak akan seranjang, aku tidak semesum itu. Setidaknya aku masih belum berani melakukannya terhadapmu." jelas Sasuke dengan wajah datarnya.
"Jangan berani macam-macam denganku, Uchiha." jawab Sakura serius.
"Atau jangan-jangan, kamu mau seranjang denganku?" tawar Sasuke mengalihkan pembicaraan sambil menyeringai dan mengangkat sebelah alisnya, menatap mesum Sakura.
"TIDAK! Terima kasih!" teriak Sakura, matanya melotot menatap Sasuke.
"Hahaha, memang asyik mengerjaimu, Sakura."
"Sialan kau, dokter mesum." ucap Sakura sambil menatap Sasuke dengan tajam.
"Aku mengajakmu menikah tadi, aku tidak mesum. Jika sudah menikah, suami berhak atas istri 'kan?"
"Enak saja, siapa yang akan menerima lamaranmu? Diam dan cepat makan!"
Sasuke tidak membalas perkataan Sakura, ia tertawa kecil. Ia tidak dapat menahan tawanya. Oh sungguh menyenangkan mengerjai Sakura dan membuat pipinya merah terus-terusan. Wajahnya menggemaskan, itu yang Sasuke sukai.
POV: Sasuke
"Itadakimasu." ucapku.
"Itadakimaaasu." ucap Sakura tersenyum pada Sasuke.
"Enak." ucapku sambil menyantap nasi kari beserta karage buatan Sakura yang benar-benar sangat lezat. Sakura tidak lupa menambahkan irisan tomat pada nasiku, oh sungguh perhatian sekali gadis ini padaku.
"Tentu saja, buatan Sakura Haruno memang selalu enak!" balas Sakura membanggakan hidupnya sendiri.
"Hn, marga Haruno tidak cocok untukmu." ucapku cepat.
"Hah? Maksudmu?" tanya Sakura dengan sedikit menekan suaranya.
"Uchiha, Sakura Uchiha lebih cocok. Terdengar manis dan elegan. Dengan Uchiha, pasti banyak orang yang segan dan tunduk hormat padamu nanti."
"A-apa apaan kau Sasuke? Jangan terus mempermainkanku begini. Apa maksudmu? Begitu hebatkah Uchiha? Aku bukan orang yang mengejar hormat."
"Hm, tidak. Aku tidak bermain. Lihat wajahku. Heh, kau tinggal di Konoha dan tidak tahu betapa Uchiha disegani disini? Dan, ngomong-ngomong, kemana –kun ku?"
"Lalu apa? Meminta seseorang yang baru saja kau kenal menikahimu, Sasuke-kun? Soal Uchiha, aku memang pernah mendengarnya. Tapi aku kira itu hanya isu belaka."
"Ya. Memangnya ada masalah? Dan itu bukan sekedar isu belaka, keluargaku memang keluarga terhormat, Sakura."
"Apa ini hanya permainanmu? Aku tidak mau bermain-main. Lalu kemana keluargamu?"
"Aku serius, Sakura Uchiha lebih cocok untukmu. Keluarga.. keluargaku sudah meninggal dalam kecelakaan. Kecelakaan saat aku 10 tahun, Itachi 15 tahun. Kecelakaan mobil saat kami ingin berlibur." ucapku menjawab pertanyaan Sakura sambil menundukkan kepalaku.
"Eh? Ma-maaf Sasuke-kun. Aku tidak tahu. Maafkan kelakuanku tadi." sahut Sakura memegang pundakku.
Aku terdiam, rasanya aku benar-benar ditolak oleh seorang wanita yang berhasil membuatku mengingat masa laluku lagi. Padahal, ini pertama kalinya aku melamar seorang wanita. Sungguh aku malu sebenarnya, namun aku benar-benar tidak ingin ia meninggalkanku, maka dari itu yang keluar dari mulutku adalah aku mengajaknya menikah. Aku tahu aku tidak sedang memegang cincin dan berlutut, aku terlalu gengsi untuk melakukan itu. Tapi, aku benar-benar tidak ingin ia hilang dari hidupku. Aku benar-benar muak dengan rasa sakit, aku ingin bahagia. Bantu aku, Kami-sama. Aku berusaha melupakan masa lalu dan berbicara padanya lagi.
"Tak apa, itu sudah lama sekali. Itachi juga dikabarkan meninggal dalam kecelakaan itu."
"Heh? Benarkah? Oh, jadi karena hal itu. Itachi hidup, dia nyata."
"Aku baru saja ingat, aku mendengar ada beberapa orang yang berkata bahwa mayat kakakku sepertinya bukanlah Itachi yang sebenarnya. Tapi aku mendengarnya sayup-sayup."
"Mungkin itu ada benarnya, Sasuke-kun. Itachi yang menolongku."
"Iya, Sakura. Kamu sudah mengulangnya banyak kali."
"Oh ya, lenganmu.. Apa hilang dalam kecelakaan itu juga?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Ada kecelakaan lain lagi." jawab Sasuke cepat
"Oh, sial sekali kau, dokter." balas Sakura sedikit menghina.
"Bisa dibilang begitu." ucap Sasuke tidak peduli dengan ucapan Sakura.
Kami terdiam setelah itu, melanjutkan makan masing-masing.
"Aku selesai. Terima kasih." ucapku setelah selesai menghabiskan makananku. Dan berdiri dari tempat makan.
"Ya, pergilah. Aku akan membereskannya." balas Sakura.
Aku berjalan pergi, menuju kamarku. Kulihat kembali fotoku dan kak Itachi yang tadi di genggam oleh Sakura. Nii-san, aku merindukanmu. Mengapa tidak pulang ke rumah jika tidak meninggal? Sungguh jahat kau, Itachi, beraninya kau meninggalkanku sendirian disini, batin Sasuke. Lama kelamaan aku malah menjadi kesal terhadap kakakku itu, aku berusaha senang, tapi tetap yang muncul adalah kekesalan yang semakin mendalam. Aku mengambil handuk, masuk ke kamar mandi dan membersihkan diriku. Setelah selesai, aku berbaring di tempat tidurku. Aku merenungkan beberapa kejadian dalam hidupku, kemudian menutup mata. Aku membiarkan pintu kamarku terbuka.
"Sasuke-kun, ta-tadi.. kamu memintaku menginap. Boleh ku tahu kamar mana yang akan ku tempati? Aku ingin membersihkannya. Dan, aku juga ingin bertanya kamar mandi yang bisa ku gunakan untuk mandi." tanya Sakura dari depan pintu.
"Oh, iya. Hmm, tidurlah dikamarku. Aku bisa tidur di sofa lantai 1. Pakai saja kamar mandi di dalam kamarku ini." balasku cepat sambil membuka mata.
"Eh? Tapi, itu 'kan tidak sopan. Aku tamu disini. Baiklah, aku akan mandi nanti."
"Lalu? Mau tidur bersamaku? Disini?"
"Ti-tidak mau." ucap Sakura sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, turuti saja perkataanku."
"Baiklah."
Aku berdiri dari tempat tidurku, mengambil selimut ekstra dalam lemari, dan berjalan keluar.
"Oyasumi, Sasuke-kun."
"Hn, oyasumi."
POV: Sakura
Sasuke memintaku menginap malam ini. Aku tidak tahu harus gembira atau sedih. Mengenai perasaan gembira, tentu saja aku senang, ada seseorang yang ingin menerima ku menjadi sahabatnya, terlebih lagi ia adalah seorang dokter tampan, oh gadis mana yang tidak senang. Tapi, setelah bercerita tentang Itachi, kalau tidak salah itu namanya, Sasuke menjadi rapuh seketika. Bahkan besok ia mengajakku untuk pergi ke tempat aku bertemu Itachi tahun lalu, dan aku mengiyakan ajakannya.
Aku tidak membuang waktu, ini sudah sangat larut. Pukul 00.00 dini hari. Aku segera membersihkan badanku dengan cepat. Aku lupa membawa sabun, jadi aku memakai sabun yang ada di kamar mandi Sasuke. Ah, aku dapat mencium bau pria itu di sekujur tubuhku sekarang. Setelah mandi, aku mengganti pakaianku dan berbaring diatas tempat tidur.
Terlintas dipikiranku, Sakura Uchiha. Lucu juga mendengarnya. Tapi apa yang dikatakan Sasuke benar, nama itu akan membuatku disegani. Eh? Apa ini? Tidak, tidak, Sakura. Jangan berpikiran bahwa kau akan menerima lamaran si Uchiha itu? Dia bahkan tidak berlutut atau memberimu cincin. Lagipula sedari tadi dia juga mengerjaimu. Tapi, terakhir tadi wajahnya serius. Ah, tidak tidak, dia pasti mengerjaiku lagi. Memang kurang ajar juga dia sebagai seorang dokter, teganya menggunakan kata-kata penting seperti itu untuk mengerjai mahasiswi yang sedang magang bersama. Hm, tapi setelah dipikir-pikir aku 'kan sahabatnya. Ternyata begini rasanya punya sahabat, punya teman beradu mulut. Aku tersenyum sendiri memikirkan hal itu.
'Tik.. Tik.. Tik..' suara jam dinding terus terdengar di telingaku.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, dan aku masih belum bisa tidur. Aku hanya memejamkan mata dari tadi. Gawat, kalau begini terus, besok aku tidak akan punya cukup energi untuk kesana kemari, aku masih mengingat percakapanku dengan Sasuke yang telah setuju untuk pergi ke berbagai tempat besok.
Ah, aku masih belum bisa tidur. Aku memutuskan untuk turun ke lantai 1. Aku membawa susu tadi, mungkin segelas susu hangat dapat menenangkanku.
Aku berjalan turun dari tangga. Aku melihat sesosok pria, berdiri memandang keluar ke jendela balkon lantai 2. Lantai 2 ini memang sedikit misterius. Hanya lorong lurus yang luas dan kiri kanannya terdapat beberapa pintu, mungkin dibagi beberapa ruangan. Berbeda letaknya dengan lantai 3, terdapat ruang keluarga di lantai tersebut dan juga terdapat 3 ruangan, salah satunya kamar Sasuke. Sedangkan isi lantai 1 adalah lantai yang paling normal untuk rumah. Aku menggelengkan kepala, membuyarkan lamunanku tentang struktur rumah ini yang menurutku sangat aneh.
"Sa-Sasuke-kun? Kau 'kah itu?" tanyaku mengingat hanya ada aku dan Sasuke dalam rumah ini.
Pria itu tidak menjawab. Aku memberanikan diri mendekatinya. Karena malam ini cerah, aku dapat melihat pria itu memakai jaket berwarna hitam yang dibubuhi beberapa awan merah. Pria itu membalikkan sedikit wajahnya, matanya melirik ke arahku.
Seketika itu juga, aku terdiam. Aku menghentikan langkahku. Mata pria itu, merah. Seperti darah. Dan juga ada beberapa titik hitam di mata tersebut. Aku.. apakah aku melihat hantu? Atau vampir? Atau alien? Atau semacamnya? Karena gelap aku hanya dapat menduga-duga. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Kyaaaaaa." Aku memutuskan berteriak.
'Syuut.' Tiba-tiba Sasuke muncul disampingku.
"Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke dengan nada panik.
"I-itu." ucapku sambil menunjuk kea rah pria misterius itu.
"Siapa kau? Beraninya masuk ke rumahku!" teriak Sasuke
'Syuut'
Sasuke bergerak secepat kilat menghampiri pria itu. Aku sungguh tidak percaya apa yang ku lihat. Aku hanya dapat membatu di tempatku sekarang dan menyaksikannya dalam diam. Sasuke bersiap meninju pria itu, seketika pria itu membalikkan badannya dan menatap Sasuke. Kakiku gemetar, aku terduduk di lantai. Siapa pria itu? Dan juga, bagaimana bisa Sasuke bergerak secepat itu?
"Nii.. Nii-san." ucap Sasuke dengan matanya yang semakin membesar. Kepalan di tangannya melemah, lalu ia turunkan.
Aku dapat mendengarnya, apakah mungkin dia itu Itachi? Pria itu… Itachi?
"Ti-tidak mungkin." sambung Sasuke lagi, tidak percaya apa yang ia lihat di depan matanya sekarang.
"Matamu. Bisa seperti ini?" tanya Itachi tanpa basa basi.
"Ah, hn." jawab Sasuke. Dia menutup kemudian membuka matanya lagi.
"Berarti kau juga-" ucap Itachi sedikit terkejut.
"Hn. Nii-san, juga?" sela Sasuke.
"Mungkin cerita kita berbeda." jawab Itachi menatap dalam otouto nya itu.
Mereka diam sejenak. Saling memandang. Aku heran, apa apaan mereka itu. Yang satu hanya 'hn', yang satunya lagi tidak memberi pertanyaan yang jelas. Mereka juga seperti berbisik, tapi aku masih bisa dengar. Mereka berbicara soal mata. Tapi aku tidak pernah melihat mata Sasuke menjadi merah seperti itu. Malam itu, saat Itachi menyelamatkanku, aku juga tidak melihat matanya seperti itu. Ah, aku semakin bingung dengan semua ini.
"Kenapa nii-san tidak pulang? Aku tidak tahu, kamu masih hidup selama ini." tanya Sasuke memecah keheningan, ia mulai merubah ekspresinya.
"Lain kali ya, Sasuke. Aku ada misi hari ini." jawab Itachi mengetuk pelan dahi Sasuke dengan kedua jarinya. Lalu ia tersenyum pada Sasuke.
"Tidak, jangan tinggalkan aku lagi." ucap Sasuke, kali ini dengan ekspresi rapuhnya yang hampir menangis.
Kemudian aku melihat Itachi menarik bahu Sasuke, sepertinya ia membisikkan sesuatu. Aku tidak dapat mendengar kali ini.
"Ta-tapi," kali ini Sasuke mengganti ekspresinya dengan ekspresi bingung, sekaligus terkejut.
Itachi membuka pintu balkon yang besar itu, menghilang dengan gagak-gagak yang beterbangan. Sasuke hanya dapat pasrah melihat kepergiannya.
Seketika Sasuke tersentak, ia berbalik ke arahku, ia segera berlari mendekatiku.
"Kamu tidak apa-apa Sakura?" tanyanya padaku.
"Sasuke-kun, mata.. matamu.. itu.." aku sedikit ketakutan melihat mata merah darah, yang di lengkapi satu titik hitam dilingkari dengan tiga titik hitam lainnya itu. Aku tidak pernah melihat mata seperti itu sebelumnya. Ternyata, mereka memang benar kakak adik kandung. Apakah ini semacam kekuatan yang ada diwariskan keluarga Uchiha? Batinku penasaran. Mungkin aku akan bertanya nanti pada Sasuke.
"Oh, maaf." Sasuke mengedipkan mata, matanya berubah menjadi onyx lagi.
Aku menghela nafas lega.
"Sudah tidak apa-apa 'kan? Jangan takut, aku tetap Sasuke-kun mu." sambung Sasuke sambil memelukku.
"A-ah, iya. A-aku.. A-apakah tadi itu..?" tanyaku pura-pura bodoh. Aku membalas pelukannya, aku benar-benar takut saat ini.
"Hn, itu Itachi." jawab Sasuke.
"Apa yang ia katakan?"
"Rahasia."
"Apa? Kau mau bermain rahasia dengan sahabatmu?"
"Hn."
"Hentikan 'hn' 'hn' mu itu Sasuke. Aku akan mulai membencimu jika kau terus 'hn' 'hn' seperti itu."
"Ya, ya. Sebelum itu, aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Apa? Rahasia lagi?"
"Ya, rahasia terbesar dalam hidupku."
"Hah?" aku kaget, aku sempat berpikir, karena ia dokter, mungkin ia melakukan percobaan terlarang atau semacamnya.
"Ayo ikut aku, ke suatu tempat."
"Apa? Kemana?"
"Diam dan ikut saja."
"Sasuke-kun, ini setengah empat dini hari. Memangnya tempat mana ya-"
"Diam, Sakura. Kau harus tahu ini sebelum menjadi anggota keluarga Uchiha. Lebih tepatnya, men-menjadi is-istriku." ucap Sasuke terbata-bata, mungkin ia malu. Aku melihat sedikit rona kemerahan di pipinya. Ah, aku jauh lebih malu sekarang, wajahku pasti sudah merah padam.
"Apa? Sejak kapan aku-" aku berusaha mengelak dengan berbicara.
"Kamu akan menjadi istriku, titik." kali ini Sasuke menjawab dengan tegas.
"A-apa? Ti-"
"Aku tidak terima penolakan. Terima saja."
"Ta-tapi,"
"Tapi apa? Membiarkan Itachi membawamu pergi dariku? Jangan mimpi."
"Eh? Oh, jadi itu tadi yang di.. katakan Itachi ya?"
"Hn, sebenarnya, apa hubunganmu dengannya?"
"Tidak ada, aku hanya berbicara ringan dengannya malam itu. Saat makan juga kami hanya membicarakan hal-hal ringan, tapi tanpa perkenalan. Eh. Oh iya. Aku baru saja ingat, ia memanggilku Sakura. Aku pikir ia memanggilku karena rambut merah mudaku. Apa mungkin ia mengenalku sebelum itu?"
"Hn, tak tau lah. Yang jelas, jangan berani kabur dariku." ucap Sasuke menatapku tajam.
"Aku mau kemana, dokter pemaksa? Sekarang aku dirumahmu bukan?"
"Ya, aku hanya mengingatkanmu."
"Ganti pakaianmu, kita akan pergi 15 menit lagi."
"Huh? Dasar pemaksa, baiklah."
POV: Sasuke
Aku mengganti bajuku dengan setelan jas hitam rapi. Aku duduk di ruang tamu menunggu Sakura.
'Ada Sakura. Sayangi dan cintai dia, aku tahu perasaanmu. Jangan pernah kau sakiti dia, dia gadis polos dan baik. Karena jika kau menyakitinya, aku tidak akan segan mengambilmu darinya.'
Kata-kata Itachi terus membekas dipikiranku.
Dia menganggap siapa Sakura itu? Apa hubungannya dengan Sakura? Mengapa ia menyuruhku menjaganya? Dan mengapa ia mengacamku seperti itu? Ah, sebenarnya tanpa disuruh, aku memang mulai menyanyangi gadis itu. Ia memberiku semangat untuk hidup lagi. Mendengar pernyataan Itachi, aku menjadi merasa punya rival untuk memenangkan hati Sakura. Enak saja dia, tiba-tiba muncul lalu mengamcam ingin mengambil Sakuraku. Lihat saja kak, aku tidak akan membiarkanmu berlaku seenaknya. Aku akan menikahi Sakura secepatnya. Kakak tidak akan bisa mengambil kebahagiaanku, aku tidak mau lagi sendiri, aku tidak mau lagi sakit hati karena kehilangan. Aku akan keluar dari organisasi kapten sekarang juga.
Entahlah, aku yakin ia punya perasaan sama denganku. Ia bahkan memarahiku karena rumahku kotor, aku membawa mobil terlalu kencang dan minuman alkoholku. Ia begitu perhatian. Biar saja, jika ia tidak merasakan yang sama sekarang, nanti juga ia akan jatuh cinta sendiri padaku.
"Sa-Sasuke-kun, kita berangkat sekarang?"
"Hn, pakai ini. Lalu tutup kepalamu."
Aku menyerahkan jubah hitam kepada Sakura. Ia sedikit heran, tapi ia pakai juga. Gadis ini memang manis dan penurut. Meski ia terkadang menyebalkan.
"Pa-pakaianmu kenapa formal begitu?"
"Sudah jangan banyak tanya, cerewet. Nanti juga tahu."
"Tapi aku tidak memakai baju for-"
"Sudah kubilang diam ya diam, Sakura." Ucapku sedikit kasar.
Sakura terdiam, ia menunduk.
"Eh, ma-maaf. Aku tidak bermaksud. Tidak apa-apa dengan pakaianmu. Aku hanya akan membawamu ke suatu tempat. Kurasa sudah saatnya kamu mengetahui hal ini."
"Hal apa?"
"Makanya ikut aku Sakura. Kamu akan menjadi istriku secepatnya, maka dari itu aku memberitahu hal ini padamu."
Wajahnya memerah, tapi ia tersenyum. Apakah ia juga ingin menikah denganku? Ah, baguslah kalau itu kenyataannya.
Aku segera mengambil jubah hitamku yang ada di sofa, dan aku memakainya.
"Sebenarnya kita mau kemana, Sasuke-kun?"
"Ke tempatku bekerja pada malam hari." ucapku dengan mudah.
To Be Continue
Terima kasih untuk semuanya yang sudah review dan baca
Sankyuu minna-san~ :D
Mengenai pertanyaan beberapa reviewer, akan terjawab jika terus mengikuti cerita ini.
Terima kasih dukungannya yaaa
Sincerely,
Shady.
