Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
*Not own anything of Naruto.
*This story is originally made by me.
Future Depends On You
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 6: Truth (Kebenaran)
POV: Sasuke
"Ke tempatku bekerja pada malam hari." ucapku dengan mudah.
"Hah? Kamu memiliki pekerjaan lain lagi selain dokter? Memangnya gaji dokter tidak cukup untuk hidupmu? Kamu bahkan memiliki saham 10% rumah sakit itu. Dan rumahmu juga besar, banyak barang-barang antik dan mewah jika aku tidak salah lihat." ucap Sakura.
"Haaaa, diam, Sakura. Jangan membuat asumsi sendiri jika tidak tahu kenyataannya." aku mulai malas mendengar ocehan Sakura yang dengan tidak langsung menyebutku sebagai 'orang kaya'.
"Kalau begitu jelaskan padaku." tutur Sakura dengan penuh penekanan.
"Ya, kita ke tempat itu dulu." balasku cepat.
"Ta-tapi" ucap Sakura menghentikan langkahnya, sepertinya ia mulai ragu untuk mengikutiku.
"Sudah lah, ayo cepat!" ajakku sambil menggenggam tangannya.
Gila. Ini benar-benar gila. Aku tidak menyangka akan melakukan hal ini. Apakah aku sudah kehilangan aku akal sehatku? Hm, seorang dokter dan pembunuh bayaran. Apa reaksi Sakura ya, saat mendengar dua pekerjaanku yang sangat bertolak belakang? Yang aku tahu saat ini, aku benar-benar tidak ingin Sakura meninggalkanku. Baiklah, ini keputusanku. Aku tidak ingin menundanya lagi.
"Ayo, Sakura." ucapku mengajak Sakura untuk segera masuk ke mobil.
"Iya." jawab Sakura pasrah.
Aku segera tancap gas menuju tempatku bekerja pada malam hari, gedung gelap itu, gedung kapten. Aku benar-benar ingin menikahi gadis ini. Maafkan aku kapten, jika kemarin malam aku membuatmu bangga, maka aku akan membuatmu kecewa malam ini. Aku harap kapten dapat memaafkanku dan membiarkan kami menikah dengan tenang, batinku sedikit sedih mengingat aku harus mengecewakan kaptenku setelah membuatnya bangga sekian tahun ini. Rasa sedihku bercampur aduk dengan egoku yang ingin segera menikahi Sakura dan menjadikannya milikku seutuhnya. Tanpa kusadari, emosi ini memicuku untuk menginjak pedal gas semakin lama semakin dalam.
"Sasuke-kun, kamu benar-benar bisa membuatku mati karena tabrakan." suara Sakura memecah keheningan.
"Tidak akan, aku cukup handal mengendarai benda mati ini." ucapku ketus.
"Kalau begitu, aku akan mati karena serangan jantung." balas Sakura lagi.
"Setahuku, istriku tidak begitu lemah." balasku. Oh wanita ini memang selalu tahu cara mencairkan emosiku. Sungguh aku tidak akan melepasmu, Sakura Haruno, batinku.
"Si-siapa yang kamu sebut istrimu?" tanya Sakura, wajahnya mulai memerah lagi.
"Heh? Memangnya disini ada orang lain lagi selain dirimu?"
"E-eh..Ta-"
"Sudah sampai." ucapku cepat memotong pembicaraannya.
'Ckiiiit' suara rem ban mobil.
Aku berhenti dengan melakukan drift, karena tadi aku melaju dengan kecepatan tinggi yang membuatku tidak bisa berhenti dengan kecepatan biasa. Tubuhku dan tubuh Sakura terlihat tersentak ke arah depan.
"Aduh! Sasuke, kau benar-benar ingin membunuhku?" tanya Sakura, raut wajah yang awalnya berupa ekspresi marah berubah menjadi takut.
"Maaf. Kamu tidak apa-apa kan?" balasku khawatir melihatnya, ya kata 'maaf' itu keluar lagi.
"Apanya yang tidak apa-apa! Mungkin aku harus segera memeriksakan jantungku!"
"Ya sudah biar nanti aku yang memeriksamu. Maafkan aku. Aku hanya ingin cepat, ini sudah pukul 4, Sakura. Kapten akan pulang sebentar lagi." jelasku. Selesai berbicara aku sedikit terkejut, kali ini aku berbicara dengan tenang meski sedang emosi.
"Kapten? Siapa itu? Kaptenmu? Kapten yang memerintahmu?" tanya Sakura heran.
"Ya. Dia juga sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Sudah jangan banyak tanya, ayo masuk." ucapku sambil membuka pintu mobil.
Sakura tidak menjawabku, namun ia mengikutiku keluar dari mobil. Aku menggandeng tangannya dan menuntunnya berjalan masuk ke gedung itu.
POV: Normal
Sasuke dan Sakura berjalan bergandengan tangan menuju gedung tersebut. Karena Sasuke memarkirkan mobilnya agak jauh dari gedung itu, mereka harus berjalan kaki cukup jauh. Mereka berjalan melewati lorong yang sangat gelap dan sunyi.
"Sa-Sasuke-kun, disini gelap sekali." ucap Sakura, badannya mulai bergertar.
"Hn." ucap Sasuke, kemudian ia menghentikan langkahnya di depan sebuah gedung besar.
"Sasuke-kun, ini tempatnya?" tanya Sakura.
"Hn." Sasuke masih terdiam, terlihat memikirkan sesuatu.
"Kamu yakin?" tanya Sakura lagi, ia benar-benar ketakutan.
"Hn. Sini." Jawab Sasuke cepat. Ia langsung menggendong Sakura a la bridal style.
"Kyaaaaa" teriak Sakura karena terkejut dengan perbuatan pria itu.
"A-Apa apaan kau Sasuke?" sambung Sakura.
"Diamlah, jika tidak mau alarm disini berbunyi." jawab Sasuke.
"Hah, kenapa dipasang alarm?" tanya Sakura dengan polosnya.
"Karena ini organisasi rahasia, Sakura. Aku salah satu anggota organisasi ini." ucap Sasuke dengan tegas dan terus terang.
Sakura bingung. Organisasi rahasia? Apa mungkin ini organisasi yang dalamnya terdapat orang-orang jenius dan membangun sesuatu yang terlarang? Atau mungkin mereka para dokter pintar menyimpan alien atau sejenisnya disini? Pikirannya terus berputar-putar. Sakura terdiam dan hanya melamun dalam dekapan Sasuke yang sedang serius.
POV: Sakura
Aku benar-benar takut. Tempat ini begitu sunyi dan menyeramkan. Untung ada si Sasuke ini, wajah datar dan aura membunuhnya saat ini membuatku tenang. Sepertinya ia siap menyerang kapan saja. Entahlah, aku dapat merasakan dan mengerti perasaan pria ini dengan mudah. Sasuke mulai melangkah masuk ke dalam gedung, aku menghentikan lamunanku, kemudian melihat sekelilingku.
Tempat organisasi macam apa ini? Gedung tinggi megah namun hanya dengan pencahayaan yang samar. Aneh, tidak ada seorang pun di dalam. Lobby dari gedung ini juga terlihat sangat megah. Hm, sepertinya aku tidak pernah melihat gedung ini sebelumnya di Konoha. Ah, tadi aku bahkan melihat mata merah Sasuke di rumah tadi saat ia berbicara dengan Itachi dan denganku. Benarkah ini kenyataan? Atau semua ini hanya mimpi? Aku kembali melamun, sementara aku dapat merasakan langkah Sasuke yang pelan dan berhati-hati menghindari seluruh perangkap yang dipasang di lantai 1 gedung itu.
Pikiranku kembali berputar, ah ya Itachi. Berbicara mengenai Itachi dan mengingat posisiku yang sedang di gendong seperti ini, membuatku ingat akan sesuatu.
Flashback – POV: Sakura
Malam itu pikiranku kacau, aku benar-benar lelah dengan keadaan ini. Keluarga yang tidak pernah mengerti diriku, keluarga yang selalu memaksaku berjalan di jalan yang bukan jalanku, keluarga yang tidak pernah mendukung apa yang ku sukai. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi keadaan seperti ini. Maka dari itu, malam ini aku memutuskan untuk keluar dari rumah itu. Aku membawa barang-barangku dalam koper dan tas kecilku. Aku juga membawa sejumlah uang yang sempat aku tabung. Aku bisa menyewa rumah dan membiayai kuliahku, setidaknya untuk 1-2 semester ke depan. Aku juga akan mencari pekerjaan untuk menunjang kehidupanku. Aku berjalan ke arah pelabuhan, entah mengapa, aku hanya ingin melihat laut dan merasakan angin laut menerpa tubuhku. Aku hanya ingin menenangkan diri.
"Hei, nona. Kau sendirian?" tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari arah belakangku.
Aku sedikit melirik ke belakang, ada 3 orang laki-laki mabuk, berpakaian seperti preman. Mereka mengikutiku. Aku mulai takut, kupercepat langkahku.
"Hei, mau kemana kau nona?" ucap salah satu dari 3 laki-laki itu.
"Malam ini kau milik kami nona, hahahaha." sahut laki-laki yang lain.
Dilanjutkan dengan tertawa mesum dari ketiga laki-laki itu.
Aku benar-benar takut. Sungguh. Tolong aku, Kami-sama. Aku baru akan memulai hidup baruku, aku mohon jangan biarkan mereka menyakitiku, batinku sambil berlari dari kejaran ketiga laki-laki itu. Namun mungkin kami-sama berkata lain, kaki kananku tersandung.
"Auh!" ucapku menahan sakit.
Aku berusaha bangkit berdiri lagi, tapi sepertinya mata kakiku terkilir. Sial, aku tidak dapat berjalan. Aku berusaha menggerakkan badanku dengan kedua tanganku dan sebelah kaki yang dapat bergerak, aku bisa merasakan sikuku terluka sekarang.
"Hahaha, kau tidak akan bisa lari lagi, nona. Kau milik kami, hahaha."
"Ya, nona cantik, ayo ikut kami, hahaha."
"Jangan sombong begitu, nona. Kau harus melayani kami dengan baik malam ini, hahaha."
Suara tertawa ketiga laki-laki itu terus menggema di kepalaku. Aku tidak melihat ke belakang, aku tidak peduli lagi, aku harus segera kabur. Aku terus dan terus menyeret badanku dengan kedua tangan. Aku tidak mempedulikan sakit di siku dan di kakiku lagi. Tiba-tiba aku merasa bahwa ada yang memegang kakiku, aku menoleh ke belakang.
"Hahaha, hahaha. Kau tidak bisa ke mana-mana lagi, nona cantik."
Ternyata ketiga laki-laki itu sudah tepat di belakangku sekarang. Aku.. takut. Sungguh aku takut. Tapi aku tahu aku tidak boleh menangis, aku harus melawan. Tawa ketiga laki-laki mabuk itu terus menggema. Aku melawan dengan tendangan, terus melawan. Tapi tendanganku tidak berarti apa-apa, mereka mengangkat tubuhku secara bersamaan.
"Aaaa! Lepaskan aku, tolong! Tolong! Tolong!" teriakku dengan lantang.
"Diamlah, nona. Hahahaha." salah satu dari lelaki mabuk itu.
"Turunkan aku! Tolong, tolong! Jangan sentuh aku!" teriakku semakin menjadi-jadi. Aku juga memukul kepala ketiga laki-laki itu bergantian.
"Kau mau kami apakan nona? Mau gaya apa ya nanti? Hahahahahaha."
"Hahaha, hahaha, hahaha."
Ketiga lelaki itu bergumam dan tertawa seperti orang gila. Menjijikkan.
"Tolong! Tolong!" aku terus berteriak.
'Syuut'
'Duak duak duak'
Aku tidak dapat melihat apa yang terjadi, semua terlalu cepat. Yang kutahu adalah tubuhku terjatuh dari tangan tiga laki-laki itu tadi.
"Aaaa!" teriakku saat hampir terjatuh.
'Grep'
Aku dapat merasakan sesuatu menahanku. Aku berpindah ke lengan seorang pria. Eh, pria ini menyelamatkanku?
"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu.
"I-iya. Hanya sedikit lu-luka." Jawabku terbata-bata, pasti wajahku memerah saat ini.
"Oh, maaf. Aku turunkan." ucap pria itu sadar kelakuannya membuatku malu.
Pria itu menurunkanku karena melihatku malu. Namun, saat kakiku menyentuh lantai.
"Ah! Sakit!" aku terpekik.
"Eh? Kakimu terkilir? Tidak bisa berjalan?" ucap pria itu lagi.
"U-um, iya." Aku mengangguk.
"Ya sudah, begini saja. Tidak keberatankan 'kan?" ucap pria itu sambil tersenyum, ia kembali menggendongku a la bridal style.
"A-ah, ba-baiklah." Aku mengiyakan.
'Kruuuk' perutku berbunyi. Oh, kau membuatku malu, perut sialan. Pasti wajahku memerah lagi.
"Ah, kau lapar? Pasti belum makan."
"Um, bagaimana jika kau duduk disana dan aku belikan makanan?"
"Ba-baiklah."
Ia menurukanku di sebuah bangku yang menghadap ke laut, inilah bangku yang aku tuju sejak tadi. Aku duduk dan melihatnya berjalan pergi. Oh, masih ada juga pria dengan rambut gondrong diikat seperti itu, tapi itu tidak mengurangi ketampanannya. Mataku berpindah pada tempat yang sedikit jauh ke arah aku datang tadi. Dari kejauhan, aku dapat melihat ketiga laki-laki itu tergeletak di jalan, entah mereka sudah mati atau hanya pingsan?
Aku bersyukur pada Kami-sama, doaku dijawab. Dan, aku hanya berharap pria ini adalah pria baik. Memang dia sudah terlihat baik karena menyelamatkanku, tapi aku tidak bisa percaya seseorang begitu saja. Aku menatap laut di depanku, aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Nah." Pria itu memberikan sebungkus makanan padaku.
"A-ah, iya." Aku menerimanya dengan gugup.
"Hm, makanlah." ucap pria itu sambil mengambil posisi duduk disampingku, ia sedikit menjaga jarak denganku.
Hening. Tidak ada yang berbicara antara kami, kami hanya duduk dan memandang laut yang ada di depan. Kami menikmati desiran ombak dan suara ombak yang sesekali menghantam ke karang.
"Kau sendiran?" tanya pria itu memecah keheningan.
"Um,i-ya. Bagaimana denganmu?" aku menjawab dan balik bertanya padanya.
"Sama." jawab pria itu.
"Benarkah?" aku kembali bertanya.
"Hm, sudah selesai makannya?" dia tidak menjawab, malah balik bertanya padaku.
"Ah, iya. Sudah selesai." jawabku.
"Boleh kulihat kakimu?" tanya pria itu lagi.
Aku tidak menjawab, namun aku mengangkat kakiku. Shannaro, untung saja aku memakai celana panjang, kalau tidak celana dalamku pasti sudah tampak sekarang. Dia memegang kakiku, kemudian mengambil sesuatu dari tas selempangnya. Ia mengusapnya pada kakiku. Kemudian ia berusaha menggerakkan kakiku.
'Krek' ia menggerakan mata kaki kananku yang terkilir.
"A-auh!" aku merintih, berusaha menahan sakit.
"Coba gerakkan sendiri." ucapnya.
"Eh?" aku terheran, namun aku melakukan apa yang ia suruh. Aku terkejut, kakiku benar-benar sudah bisa digerakkan, meski masih ada sedikit rasa sakit. Pria itu tersenyum melihat aku menggerakkan kakiku.
"Coba kulihat sikumu." ucap pria itu lagi.
Aku mengangkat sikuku yang lecet kepadanya. Ia mengobatinya dengan suatu krim yang ia keluarkan dari tasnya, kemudian ia menempelkan plester pada kedua lukaku, serta perban pada mata kaki ku yang terkilir tadi.
"Nah, begini sudah tidak apa-apa." Pria itu kembali tersenyum. Senyum pria itu sungguh tampan, terlebih lagi ia sangat baik dengan orang yang tidak dikenalnya sepertiku. Aku membalasnya dengan senyuman juga.
"A-ah, iya. Teri-"
"Syukurlah sudah baik-baik saja." Pria itu menyela ucapanku, kemudian ia berdiri menghadapku.
"Jaa ne, Sakura." lanjut pria itu.
'kaaak' 'kaaak' 'kaaak'
Pria itu menghilang bersama gagak-gagak. Benar-benar hilang tak berbekas.
Apa apaan ini? Apakah ia semacam malaikat yang dikirimkan oleh Kami-sama untuk menolongku? Tapi, tadi dia memanggil namaku.. Apa karena rambutku yang merah muda ini? Atau karena ia mengenalku? Sungguh pria yang sangat misterius.. hm..
Akhirnya aku memutuskan untuk berteriak ke arah laut, berharap pria itu dapat mendengar apa yang aku katakan. Aku memutar kepala untuk memastikan tidak ada orang disekitarku lagi.
"Terima kasih, pria siapa pun namamu! Aku harap kita bertemu lagi!" teriakku keras ke arah laut.
Sungguh aku lega setelah berterima kasih, meski aku tidak dapat melihat pria itu lagi. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku memang berharap bertemu seorang pria yang dapat mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Aku kembali berjalan ke penginapan terdekat dari pelabuhan tersebut. Aku tidak ingin diluar lagi, aku takut orang-orang seperti preman tadi mengejarku.
Flashback End
POV: Sasuke
"Sakura, hei! Sakura!" teriakku padanya. Aku heran, Sakura benar-benar suka melamun.
Sakura terlihat terkejut, dia mengangkat kepalanya, melihatku sejenak, kemudian melihat sekeliling.
"Kita ada dimana?" tanya Sakura.
"Lift. Kau kenapa sih? Aneh sekali daritadi melamun." tanyaku ketus.
"Ti-tidak. Tidak apa-apa." jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Huh, awas kau melamunkan laki-laki lain selain diriku!" Aku menatapnya dengan tajam.
Sakura hanya diam, ia tidak menjawabku. Aku juga tidak membahas apa-apa lagi dan segera menekan tombol angka 5 pada lift. Kemudian aku menurunkan Sakura saat lift bergerak ke lantai 5 gedung ini.
"Turunlah." ucapku menurukannya dari gendonganku.
"Oh, iya. Arigatou, Sasuke-kun."
"Hn."
'Tiiing' suara lift telah tiba di lantai 5. 'Ziing' pintu lift terbuka.
Gelap. Tidak ada seorang pun. Sakura mulai ketakutan, ia memegang lenganku.
"Tenang saja." Aku berbalik memegang tangan Sakura dengan tanganku satu-satunya.
"I-iya." balas Sakura.
Kami berjalan bersama sampai ke ruanganku, ruang yang bertuliskan 'Uchiha' lengkap dengan lambang keluarga tersebut.
"I-ini ruanganmu, Sasuke-kun?"
"Hn."
Tanpa menghabiskan waktuku, aku menempelkan sidik jariku untuk membuka pintu. Aku memutar kepala mengecek sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Aku membiarkan Sakura masuk terlebih dulu, kemudian aku menyusulnya. Setelah kami masuk, aku mengunci pintu ruanganku. Kemudian aku menyalakan lampu.
"A-apa pekerjaanmu disini? Ke-kenapa terlihat seperti pekerjaan kantoran?" ucap Sakura sambil menunjuk pada tumpukan kertas yang ada di meja kerjaku.
"Hn. Tidak seperti yang terlihat dengan mata, Sakura."
"Ja-jadi apa sebenarnya pekerjaanmu?"
Aku tidak menjawabnya. Aku menuju sebuah loker yang kubuka dengan retina scanner, kemudian aku mengeluarkan benda kesayanganku, pedang Kusanagi. Aku mengangkat dan mengelus pedangku dengan lembut.
"Apa itu? A-apa itu pe-pedang?" tanya Sakura, aku dapat melihat raut wajah takutnya lagi.
"Peganglah, maka kamu akan mengerti." ucapku santai.
Sakura menuruti perkataanku, ia mengelus pedangku. Ia orang pertama yang aku biarkan memegang benda kesayanganku ini. Pedang ini pemberian kapten saat aku berusia 17 tahun.
Seketika, Sakura tersentak. Sepertinya ia merasakan sesuatu dari pedangku.
"Sa-Sasuke-kun, pe-pedang apa ini? Mengapa aku tiba-tiba terlintas di pikiranku darah yang berceceran, kemudian ada orang menangis, tapi ada juga orang yang bersorak? Hal tersebut muncul secara acak dikepalaku begitu saja. A-aku tidak mengerti." ucap Sakura menjelaskan penglihatan yang ia dapat setelah menyentuh pedangku.
"Ini pedangku. Benarkah kau mendapat penglihatan seperti itu? Pedang ini memang menakjubkan, aku juga dapat melihat hal seperti itu saat aku menyentuhnya." balasku.
"Sasuke-kun, a-apa pedang itu u-untuk.."
"Aku menggunakan ini, untuk membunuh para penjahat, semua diatur oleh kapten. Kertas-kertas ini hasil penyelidikanku terhadap targetku. Ya, aku seorang pembunuh. Dokter yang merangkap menjadi pembunuh."
"A-APA? Ti-tidak.."
"Sakura, inilah kenyataannya. Aku tidak dapat melawan perintah kapten, ia terlalu berharga untukku. Meski saat ini dirimu lah yang lebih berharga."
"A-aku?"
"Hn. Tidak kah kau mengerti, Sakura?" ucapku dengan menatapnya dalam-dalam. Aku harap ia mengerti perasaanku, perasaan ini harus dapat kusampaikan padanya.
Sakura menatap mataku dalam-dalam. Ia menghela nafas panjang. Tiba-tiba, ia berjalan ke arahku, memelukku erat dan menyandarkan wajahnya di dadaku.
"Apakah pekerjaan ini sulit? Mengingat dirimu seorang dokter yang selalu menyelamatkan nyawa?" tanya Sakura padaku, aku rasa ia mengerti pekerjaan yang aku hadapi saat ini. Baiklah, mungkin saat ini wajahku yang memerah, untung saja aku lebih tinggi darinya.
"A-ah.. Sebenarnya tidak terlalu, karena saat aku kehilangan orang tuaku, diriku menjadi kosong, aku tidak merasakan apa-apa saat membunuh orang lain. Aku sudah menggeluti profesi ini selama 4 tahun hingga sekarang. Ta-tapi, saat dirimu hadir, Sakura, aku merasa berbeda. Aku merasa mengetahui lagi, apa arti cinta dan apa arti belas kasih, apa arti menjadi seorang manusia. Saat aku melihat pasienku sangat bahagia ditemani keluarganya, aku merasa ingin menjadi dokter seutuhnya dan lari dari kenyataan. Tapi, aku tidak sanggup melakukannya. Namun, sekarang aku ada alasan yang kuat untuk berhenti dari pekerjaan ini."
"Benarkah? Kapten.. Daritadi dirimu menyebut kapten, apakah ia benar-benar sangat kau hormati, Sasuke-kun?"
"Ya, bahkan sudah seperti ayahku sendiri. Aku bertemu dengannya saat aku beberapa bulan setelah keluargaku meninggal. Ia yang menjagaku, mengajariku bertarung, serta menyemangatiku untuk melanjutkan hidupku. Sejak aku bertemu dengannya, ia selalu bangga padaku. Lebih tepatnya, aku selalu melakukan apa pun yang ia suruh. Dan mungkin, malam ini aku akan mengecewakannya. Tapi aku rasa itu sepadan dan aku siap dengan segala konsekuensinya. Meski harus bunuh-bunuhan juga aku rela."
"A- apa ma-maksudmu, Sasuke-kun?" tanya Sakura, aku menurunkan wajahku untuk menatap wajahnya. Ia juga mengangkat wajahnya untuk menatapku. Ia sungguh khawatir padaku.
"Aku mengikuti organisasi ini karena ajakan kapten. Ada berbagai aturan di organisasi ini, salah satunya tidak boleh menikah. Dan, aku ingin menikahimu. Aku akan keluar dari organisasi ini dan aku siap dengan segala konsekuensinya. Sudah mengerti, Sakura?"
"Sasuke-kun, a-apa kamu seserius itu?"
"Lho? Tentu saja. Memangnya aku terlihat main-main ya?"
"Ti-tidak, maksudku, apa tidak terlalu cepat?"
"Hn. Buat apa peduli cepat atau tidak. Kita sama-sama sudah dewasa, aku tidak akan dianggap pedofil. Aku tahu kau juga merasakan apa yang aku rasakan bukan?"
"Hm.. I-iya sih, tapi aku masih kuliah dan juga aku masih harus magang, Sasuke-kun."
"Tenang saja, aku biayai semua itu dan magang juga bersamaku 'kan?" aku menjawab dengan tatapan penuh arti dan mengeratkan pelukanku padanya.
Sakura terdiam, ia terlihat berpikir sangat dalam.
"Lagipula, aku dapat membuatmu mendapat gelar sarjana dokter tanpa harus menyelesaikan tugas akhirmu, Sakura." sambungku.
"Tidak! Aku tidak mau lulus dengan uang!" sanggah Sakura.
"Sebenarnya bukan itu yang ku maksud. Sudah lah, Itu nanti saja bahasnya. Aku ingin bertemu dengan kapten."
"E-eh? A-apa tidak apa-apa? Apakah kaptenmu akan marah?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya dapat bersiap-siap jika ia memang marah."
"A-aku ta-takut, Sasuke-kun."
"Tenanglah, berdoa saja kapten bersedia aku keluar dari organisasi ini dan membiarkanku bahagia bersamamu."
Kemudian kami berdua terdiam dalam pelukan hangat ini. Pelukan yang sudah lama tidak kurasakan. Pelukan yang membuatku merasa menjadi seorang manusia lagi. Pelukan ini menyadarkanku terhadap profesiku sebagai seorang dokter, penyelamat nyawa. Yang sekaligus pada malam hari mengakhiri nyawa seseorang. Miris sekali hidupmu, Sasuke. Aku baru menyadari hal ini. Cukup, cukup sudah. Sekali pun orang itu orang jahat ia, ia pantas mendapat pengacara dan diadili sebelum diberi hukuman.
"Benarkah kau mencintaiku?" Sakura bertanya dengan tatapan penuh arti dan memecahkan lamunanku.
"Ya, sangat." jawabku singkat.
"Yakin? Apa kau akan menerima ku apa adanya, Sasuke-kun?"
"Yakin. Tentu saja, sekarang aku sudah menerimamu. Bagaimana denganmu?"
"A-ah.. I-iya. A-aku juga jatuh cinta padamu, Sasuke-kun. Kau pria terbaik yang pernah ada. Oh ya, selain Itachi, mungkin, hehe."
"I-ta-chi.. dia hanya menolongmu sekali, Sakura." ucapku penuh penekanan. Aku benci dibanding-bandingkan dengan pria lain, tidak peduli sekali pun itu kakakku atau ayahku.
"Tapi menolong tetaplah menolong." jawab Sakura dengan penuh keadilan.
"Baiklah, kau pilih aku atau dia?" tanyaku tidak dapat menahan emosi lagi.
Sakura terdiam, ia menunduk dalam pelukanku dan berpikir. Oh, aku mohon, pilih aku.
"A-aku memilih…" ucapan Sakura tergantung, aku rasa ia sengaja.
"Memilihmu." sambung Sakura sambil mengeratkan pelukannya padaku.
Ah, aku senang bukan main. Yeay! Kau kalah, kak Itachi. Rasanya aku ingin tertawa, tahan Sasuke, tahan. Buat saja senyum tipis di wajahmu. Ya, senyum sudah cukup.
"Kalau begitu, tenangkan dirimu Sakura, dan bersiaplah. Jika kapten bertanya padamu, jawab saja sejujurnya." Aku kembali mengeratkan pelukanku, mengarahkan kepalanya ke dadaku. Oh, untung saja Sakura tidak dapat melihat senyum lebar yang tidak dapat kutahan ini.
"Iya, baiklah." jawabnya sambil mengangkat wajahnya dan tersenyum padaku, tentu saja kubalas dengan senyum yang sangat jarang aku lakukan. Wajahnya memerah setelah melihatku tersenyum. Ah, menggemaskan.
Tidak lama kemudian, kami berjalan keluar dari ruanganku, aku sudah mengaitkan pedangku dengan tali pinggang yang dibuat khusus untuk menyangga pedang itu di pinggang. Aku menggandeng tangan Sakura, kami akan pergi ke lantai 7. Lantai kapten berada. Huff, baiklah. Aku sudah siap, aku akan melindungi Sakura apa pun yang terjadi. Jika kapten marah besar, maka aku akan membawa Sakura kabur dari Konoha. Oh, Kami-sama, ayah, ibu, kali ini bantulah aku untuk mendapatkan izin seseorang yang sudah kuanggap 'ayah'. Kami berjalan bersama memasuki lift dan aku menekan tombol berangka 7.
POV: Normal
'Tiingg' 'Ziing' Lift tiba di lantai 7.
Kelopak mata Sakura melebar. Ia dapat melihat isi lantai itu. Terang, sungguh terang. Dinding lantai ini berlapis dengan warna putih keemasan. Terdapat beberapa lukisan indah dan barang antik. Sakura merasa harusnya seperti inilah lobby dari gedung ini. Sasuke hanya diam dan menarik tangan Sakura untuk segera keluar dari lift.
"Selamat datang, Sasuke-sama. Bukankah anda tidak bekerja hari ini? Dan.. siapa wanita ini?" ucap seorang wanita yang mendekat ke arah Sasuke dan Sakura. Wanita itu berpakaian seksi, tidak berlengan. Belahan dadanya tampak sangat menggoda, bahkan roknya juga sangat pendek. Batin Sakura mulai berbicara, mengapa Sasuke memilihnya? Padahal ada gadis seksi dan cantik seperti ini disini.
"Bukan urusanmu. Mana kapten? Aku ingin menemuinya." balas Sasuke dengan ketus.
Sakura terkejut sekaligus bersyukur dengan respon Sasuke. Baguslah jika calon suaminya ini tidak tergoda dengan jalang yang berpakaian seperti itu, batinnya.
"Baiklah, aku hubungi dia sebentar." ucap wanita seksi itu.
Ia berjalan ke arah telepon yang terletak pada salah satu dinding ruangan tersebut.
"Sasuke-sama, kapten meminta kalian langsung masuk ke ruangannya saja." Ucap wanita itu setelah meletakkan gagang telepon.
"Hn."
SAsuke menggandeng tangan Sakura tanpa ragu. Mereka berjalan maju, bersiap memasuki sebuah pintu coklat besar dengan dua daun pintu di hadapan mereka. Sasuke dapat merasakan adanya getaran pada tangan Sakura.
"Sakura, jangan takut. Ada aku." ucap Sasuke.
"I-iya. Aku akan berusaha sebaik mungkin." jawab Sakura.
"Hn, ayo masuk." ucap Sasuke
"Buka pintunya." sambung Sasuke sambil melihat dua wanita seksi yang berdiri di depan pintu sedari tadi.
Kedua wanita itu tersenyum. Masing-masing dari mereka memegang satu gagang pintu.
'Kriiieettt' pintu megah itu terbuka.
"Bungkukkan badanmu dan berlutut saat aku berlutut nanti." ucap Sasuke pada Sakura dengan cepat.
"Oh, baiklah." balas Sakura.
Mereka bergandengan tangan, sambil membungkukkan badan, berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu sangat dalam, terkesan seperti lorong yang hanya diterangi lampu-lampu kecil, mereka terus berjalan lurus ke arah depan.
Sampai pada suatu posisi, meski masih dalam keadaan gelap, Sasuke berlutut dengan sebelah lututnya. Sakura segera mengikuti pergerakannya.
"Oh, Sasuke? Kau kah itu, anakku?" ucap seseorang dengan suara yang sudah sangat dikenal oleh Sasuke.
"Ha 'i, ini Sasuke, tou-san." Jawab Sasuke.
Sakura tersentak, tou-san? Bahkan Sasuke memanggilnya seperti itu. Ia merasa bersalah jika hubungan ayah dan anak ini akan hancur hanya karena Sasuke mencintai dirinya.
"Lalu? Siapa? Wanita… itu?" tanya orang itu lagi. Wajahnya belum tampak, ia masih duduk di kursi kebesarannya, jauh di dalam gelap.
"Jawablah." ucap Sasuke pada Sakura.
"Saya Sakura Haruno, salam kenal." ucap Sakura.
Seketika bayangan hitam itu berdiri dari kursinya, dan berjalan mendekat ke arah Sasuke dan Sakura. Karena adanya sinar kecil, lambat laun terlihat sedikit demi sedikit wajah sang kapten.
"Oh, Sakura ya?" ucap sang kapten.
Pria yang dipanggil kapten selama ini oleh Sasuke mengenali Sakura. Hal ini sangat mengejutkan Sasuke. Sang kapten berjalan dekat dan semakin dekat ke arah Sasuke dan Sakura. Wajah sang kapten benar-benar terlihat jelas sekarang. Sakura tidak merasa mengenal orang ini.
"Sungguh ironis, kejadian ini terulang lagi, ya? Hahaha." ucap kapten itu. Sasuke dan Sakura hanya saling memandang dengan penuh kebingungan.
To Be Continue
Kyaaa, makasih banyak semuanyaaa~
Sudah mengikuti FDOY sampai sejauh ini, hehe.
Maaf lama update, kesibukan dunia nyata yang tidak bisa dihindari.
Jangan lupa review ya? Butuh banyak kritik dan saran nih :D
Terima kasih semua yang sudah membaca, me-review, dan juga para silent reader.
Maaf tidak dapat menyebut nama kalian satu per satu.
Oh yaa, Shady juga ada fanfic satu lagi, judulnya A Little Secret. Jangan lupa dibaca juga ya, hehehe..
Sincerely,
Shady.
