Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
*Not own anything of Naruto.
*This story is originally made by me.
Future Depends On You
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 7: Past (Masa Lalu) - Part 1
POV: Normal
"Sungguh ironis, kejadian ini terulang lagi, ya? Hahaha." ucap Kapten itu. Sasuke dan Sakura hanya saling memandang dengan penuh kebingungan.
"A-apa maksudnya, kapten?" tanya Sasuke.
"Heh, kalian duduk lah dulu." balas seseorang yang dipanggil kapten itu menawarkan Sasuke dan Sakura untuk duduk di sofa besar tempat yang biasa ia gunakan untuk menerima tamu.
"Ayo, Sakura." ucap Sasuke ambil menggandeng Sakura untuk duduk di sofa tersebut. Sakura hanya diam dan mengikutinya.
"Kau tidak mengenalku, Sakura?" tanya kapten itu sambil mengambil tempat duduk yang biasa ia tempati di sofa tersebut.
"Ti-tidak. A-apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" jawab Sakura.
"Oh, waktu itu mungkin masih terlalu kecil untukmu untuk mengingatku ya." ucap Kapten.
"A-anda pernah menemuiku?" tanya Sakura lagi.
"Ya, menemui ibu angkatmu tepatnya. Mebuki." jawab Kapten.
Mendengar pembicaraan kedua orang itu, Sasuke hanya diam dan memasang wajah datar. Tapi ia tetap serius mendengarkan, ia tak menyangka latar belakang keluarga Sakura ternyata lebih rumit dari dirinya yang sudah tidak punya keluarga, meski besar kemungkinan Itachi masih hidup.
"A-apa i-ibu angkat? Bukan dia yang melahirkanku?" tanya Sakura dengan nada meninggi.
"Bukan. Apa kamu tidak heran? Tidak pernah bertanya-tanya dalam diri sendiri? Warna rambut dan matamu tidak ada yang mirip dengan Mebuki ataupun Kizashi, ayah angkatmu." jawab Kapten itu dengan tenang.
Sakura yang mendengar perkataan itu dari si Kapten langsung berpikir. Benar juga, Sakura tidak mirip sama sekali dengan kedua orang tua yang selama ini mengasuhnya. Meski kedua orang tua itu sangat protektif padanya, ia malah merasa jijik karena diperhatikan secara berlebihan. Bahkan Mebuki menyuruh Sakura untuk mengecat rambut asli merah mudanya menjadi coklat, yang tentu saja perintah itu di abaikan oleh Sakura, ia mencintai rambut aslinya.
"Ta-tapi, ka-kalau begitu.. dimana orang tua kandungku? Apa Anda tahu?" tanya Sakura.
"Rahasia." jawab Kapten itu dengan sederhana.
"A-apa? Apa maksud Anda?" Mata Sakura sudah mulai sembab, Sasuke dapat melihat air mata akan turun dari gadis yang akan dinikahinya itu.
"Hm, rahasia, Sakura. Sekarang belum saatnya." balas si Kapten sambil sambil memalingkan wajahnya dan melihat ke arah jendela.
Melihat Sakura yang bersedih, Sasuke tidak dapat menahannya. Seakan ia juga merasakan sakit yang Sakura rasakan. Sudah sebesar ini dan belum mengetahui siapa orang tua kandungnya? Bahkan orang yang tahu pun tidak ingin memberitahunya siapa sebenarnya orang tua kandung dari Sakura. Oh, sungguh malang nasib Sakura. Saat ini Sasuke merasa Sakura jauh lebih membutuhkan perhatian dibandingkan dirinya.
"Tou-san, jangan buat gadisku menangis gara-gara hal ini." Sasuke angkat bicara.
"Hahaha, wah.. Sasukeku sudah besar ternyata… hahaha. Tenang saja, Sakura. Jika saatnya sudah tepat, aku akan mempertemukanmu dengan mereka." balas Kapten itu, memandang Sasuke sambil tersenyum miring.
"Ba-baiklah. Tidak apa-apa." jawab Sakura pasrah. Ia mengusap matanya dengan cepat.
"Benar tidak apa-apa Sakura?" tanya Sasuke padanya.
"Ya, aku bisa menunggu." jawab Sakura sambil menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Sasuke.
"Kau dan ibumu.. benar-benar mirip, Sakura." Kapten itu kembali berbicara sambil menudukkan kepalanya.
"Benarkah?" tanya Sakura.
"Ya. Sifat pun mirip, kata-kata 'menunggu' itu.. dia juga sering berkata seperti itu." jawab Kapten sambil memandang ke langit – langit, seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin masa lalu yang sulit untuk dilupakan.
Sasuke dan Sakura terdiam melihat respon sang Kapten terhadap kata-kata Sakura yang mungkin mengingatkannya pada ibu kandung Sakura. Sepertinya Kapten itu begitu sedih. Sakura mempunyai sedikit kemampuan prediksi untuk membaca suasana hati seseorang dari ekspresi dan tindakan orang tersebut.
"Ah sudahlah, nanti aku beritahu jika sudah waktunya. Sebenarnya apa tujuanmu Sasuke? Mengapa membawa Sakura kemari? Apa ada masalah? Apa ada yang mengganggunya?" Kapten mengajukan sejuta pertanyaan.
"Aku ingin menikahinya." jawab Sasuke terus terang, cepat, jelas dan tegas. Benar-benar seperti tipe pria idaman para wanita.
Wajah sakura memerah, ia tidak berani menaikkan wajahnya saat ini. Ucapan Sasuke yang lantang dan tegas berhasil membuat ruangan itu senyap seketika. Sakura sedikit terkejut karena bingung mengapa Sasuke dapat mengatakan hal itu dengan sangat jelas? Bahkan tanpa malu sedikit pun, wajahnya sungguh sangat serius.
"Haaaah, kejadian terulang lagi." ucap Kapten itu sambil memijit pelan ujung matanya kirinya.
"Kejadian apa, tou-san? Kau belum menjawabku dari tadi." tanya Sasuke dengan tenang.
"Hm, kejadian Ayah dan Ibumu. Jangan bilang padaku kau tidak tahu kalau ayahmu itu agen ganda? Dia mata-mata dari tim ini yang bekerja sama dengan polisi." jawab Kapten.
"Apa? Benarkah? Ayah juga melakukan pekerjaan ganda?" tanya Sasuke lagi, ia tidak percaya apa yang ia dengar.
"Ya, begitulah. Namun pekerjaan dia tidak seberat pekerjaanmu sih, sama-sama menangkap orang jahat karena ia juga bekerja sebagai seorang polisi, bedanya mungkin hanya di menangkap atau membunuh. Aku membutuhkanmu, Sasuke, seperti aku membutuhkan keahlian ayahmu. Aku bahkan tidak ingin memisahkan dua orang yang sudah sangat saling mencintai. Meski Fugaku itu mukanya sangat keras, tapi aku dapat melihat ketulusannya pada Mikoto yang lemah lembut dari matanya. Kau kira dari mana aku menemukanmu saat kalian kecelakaan?" ucap Kapten sambil menjelaskan kenyataan masa lalu.
"Hm, begitu rupanya. Ayah tidak pernah cerita tentang hal itu padaku. Tapi, melihat aku dan Itachi ada di dunia ini, Kapten mengizinkan mereka untuk bersama?" tanya Sasuke untuk memperjelas penjelasan Kapten. Ia sangat khawatir akan terjadi adegan bunuh-bunuhan jika Kapten mendengarnya akan menikah.
"Ya, tepatnya ayahku mengizinkan mereka. Aku masih remaja waktu itu. Dan.. aku rasa aku juga tidak bisa melarangmu, Sasuke. Aku juga ingin segera menimang cucu darimu, hahaha."
"Kalau begitu menikah dan lahirkan anak sendiri, tou-san. Kau bahkan hanya terpaut 18 tahun denganku."
"Kau pikir aku tertarik dengan semua wanita diluar itu, huh? Seleraku tidak serendah itu, Sasuke anakku. Mereka hanya ingin uangku."
"Heh? Benarkah? Aku lihat tou-san selalu senang-senang saja dengan mereka."
"Hanya seks, bukan bercinta. Tolong dibedakan ya, anak bodoh."
"Ya sudah, aku keluar dari organisasi ini."
"Eeeeh, beraninya kau mengancamku yang sudah merawatmu selama ini? Sudah menikahlah dan cepat beri aku cucu."
Sakura terdiam dan wajahnya memerah. Pembicaraan dua pria ini semakin lama semakin kasar, seakan-akan tidak ada wanita dalam ruangan itu. Oh, cucu? Benarkah? Haruskah secepat itu? Semakin lama ia berpikir, pikirannya semakin menjalar ke hal yang tidak-tidak. Ia menggelengkan dan menundukkan kepala setelah itu.
"Oh ya, Sakura." Kapten memanggil Sakura yang sedang menunduk itu.
Ternyata Sakura masih diingat.
"Panggil saja aku tou-san ya? Tidak keberatan 'kan? Hehe.." sambung si Kapten.
"Eh? Oh-um, ba-baiklah, tou-san." jawab Sakura.
"Aku akan memberitahu orang tua kandungmu jika kamu akan menikah. Bagaimana?"
"Ya, beritahulah. Tolong beritahu Mebuki dan Kizashi juga."
"Hm? Mengapa aku? Apa ada masalah?"
"A-aku.. kabur dari rumah 2 bulan yang lalu. Dan sampai sekarang mereka tidak mencariku, aku juga tidak ingin pulang meski dicari."
"Hah? Benar begitu, Sakura? Astaga, kenapa tidak menceritakannya padaku?" lagi-lagi Sasuke khawatir dengan gadisnya itu.
"Maaf, Sasuke. Aku ingin mencari waktu yang tepat. Aku rasa dirimu sudah cukup tertekan saat mengetahui Itachi, kakakmu satu-satunya, masih hidup." jawab Sakura.
"Oh, benarkah Itachi masih hidup? Hm… Aku rasa ia memang masih hidup ya." ucap Kapten sambil berpikir keras, menopang kepala dengan tangan kirinya ke atas sandaran sofa.
"Apa? Tou-san juga tahu? Berapa banyak hal yang tou-san sembunyikan dariku?" tanya Sasuke tidak terima.
"Aku tidak pasti, Sasuke. Aku mendengar dari bawahan. Ada beberapa orang berkata melihatnya sebulan yang lalu di dekat pelabuhan Konoha." jelas Kapten
"Pelabuhan? Ia menyelamatku disana, aku diserang preman hari itu saat berjalan sendirian." ucap Sakura.
"Syukurlah, masih ada Itachi." Kapten menghela nafas panjang.
Sasuke memandang bergantian pada Kapten yang ia panggil ayah serta Sakura yang akan dinikahinya. Alisnya mengerut dan kemudian ia memalingkan muka ke arah dinding.
"Hoi, Sasuke. Kenapa? Cemburu?" tanya Kapten.
"Heh! Yang benar saja? Buat apa cemburu pada zombie itu?" balas Sasuke tidak terima.
"Lho? Tuh jelas-jelas cemburu, hahaha."
"Diam, tou-san. Pergi seks saja sana dengan wanita – wanita seksimu." ucapan Sasuke mulai vulgar, lebih tepatnya ia emosi saat ini.
"Ya ya ya. Aku berhenti. Sepertinya Itachi berada di organisasi berseberangan denganku. Mungkin ia berada di bawah pimpinan Orochimaru."
"Orochi-maru? Si Ular itu?"
"Ya, mereka itu pembunuh bayaran yang sebenarnya. Membunuh siapapun asal dibayar."
"Hah? Kak itachi jadi orang jahat? Benarkah?"
"Entah Sasuke, tanya saja saat bertemu dengannya. Atau cari saja ia di sekitar pelabuhan itu."
"Baiklah, memang itu rencanaku, mencarinya."
"Aku rasa.. Matanya sama dengan matamu?"
"Ya, sama. Mungkin bisa jadi lebih hebat dari mataku."
"Hm, baiklah. Aku harap kau banyak berlatih mulai sekarang, Sasuke. Dan Sakura, kau sudah tahu konsekuensi menikah dengan Sasuke? Kau bisa terima ia dokter yang merangkap pembunuh? Meski ia hanya membunuh orang jahat, tapi kau tahu 'kan maksudku kalau membunuh tetaplah membunuh? Aku sungguh membutuhkan keahliannya, Sakura." jelas Kapten pada Sakura yang dari tadi diam saja.
Sakura diam dan menunduk. Sasuke mulai cemas dengan jawaban Sakura. Si Kapten masih menunggu jawaban Sakura.
"Ya, aku terima konsekuensinya. Aku mencintainya, meski kami baru saja bertemu." jawab Sakura. Betapa leganya Sasuke mendengar jawaban Sakura. Ternyata ia bisa menikahi Sakura tanpa mengecewakan Kapten yang sudah ia anggap ayah.
"Baiklah. Tentukan tanggal pernikahan kalian. Dan jangan kecewakan aku jika aku tidak mendengar Sakura hamil dalam 1 minggu setelah pernikahan kalian. Kalau bisa sih sebelum itu sudah hamil, Sasuke."
Sasuke hanya menatap kesal kaptennya itu.
"Jangan munafik, Sasuke. Kau tahu kau menginginkannya."
"Itu privasi Kapten, disini ada seorang wanita, gadis tepatnya."
"Masih perawan? Wah hebat kau, Sasuke. Masih bisa menahan, hahaha."
"Tou-san…" ucap Sasuke penuh penekanan, ia mengaktifkan mata merahnya.
"Eh? Iya iya. Maaf. Maafkan aku, Sakura." ucap Kapten itu buru-buru meminta maaf pada Sakura.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Sasuke-kun, sudahlah." Sakura tersenyum pada Kapten, dan ia mengelus satu-satunya lengan Sasuke dengan lembut.
"Hn." Sasuke mengembalikan matanya ke mata onyx kelamnya itu. Ia memandang ke Sakura dan menghela nafas panjang.
"Mata.. merahmu itu.. keturunan?" tanya Sakura sambil menunjuk pada mata Sasuke.
"Ya, keturunan Uchiha. Aku bisa mengaktifkannya sejak anjing kesayanganku mati saat aku berumur 9 tahun. Kemudian seiring aku berlatih dan membunuh, mata ini semakin berkembang."
"Apa yang bisa dilakukan dengan mata itu?"
"Membuat ilusi, memprediksi gerakan lawan, menghafal atau menirukan teknik apapun yang dilihat. Sejauh ini aku hanya bisa begitu."
"Hm. Banyak berlatih, Sasuke. Oh ya, astaga Sasuke, sudah jam 5 pagi. Aku mau pulang, kalian juga pulang lah." ucap Kapten menyela pembicaraan mereka.
"Ya, terima kasih, tou-san."
"Terima kasih, tou-san."
Sesaat Sakura dan Sasuke dapat melihat plat nama di sebuah meja kerja besar di belakang sofa yang mereka duduki tadi, nama 'Hatake Kakashi' terpajang disitu. Sakura mencoba mengingatnya, sedangkan Sasuke hanya melihat sekilas, tentu saja ia sudah tau nama kaptennya itu. Sasuke dan Sakura berjalan keluar dari ruangan Kapten itu sambil bergandengan tangan. Wanita seksi yang berdiri di sekitar pintu itu merasa heran. Sasuke dan Sakura tidak peduli dengan tatapan para wanita itu, mereka berdua berjalan bersama menuju lift, dan turun ke lantai 1.
"Sakura." Sasuke segera menjulukan lengannya yang hanya sebelah itu. Ia mengangkat dan menggendong Sakura a la bridal style. Sakura yang mengerti akan keadaan, hanya diam dan mengangguk. Sasuke berjalan melewati seluruh perangkap dengan sangat baik.
POV: Sasuke
Hari ini benar-benar tidak ku sangka. Kapten memberiku izin menikahi Sakura! Sungguh menakjubkan. Aku hanya dapat berterima kasih pada Kami-sama yang telah mengabulkan doaku. Aku akan segera menikahi Sakura. Aku berharap tidak ada halangan kedepannya. Aku tidak akan segan membunuh siapa pun yang menghalangi niatku. Ya, aku serius. Setelah berjalan melewati seluruh perangkap, aku berjalan kembali ke mobil bersama Sakura. Setelah sampai, kami berdua masuk bersamaan dan memakai sabuk pengaman.
"Sasuke-kun.."
Aku segera menoleh ke arah suara itu datang.
"Hn?"
"A-aku lapar." ucap Sakura.
"Ingin makan apa?" tanyaku dengan lembut.
"Hm, mu-mungkin.. ra-ramen?"
"Pagi hari seperti ini? Ramen?"
"Ah maaf. Aku rasa permintaanku sedikit berlebihan."
"Tidak, tidak, tidak apa. Kurasa kedai ramen Ichiraku yang biasa dobe makan itu buka 24 jam."
"Benarkah?"
"Tidak keberatan makan di kedai?"
"Tentu saja tidak, yang penting makanannya lezat hehehe.."
"Hampir setara dengan Ramen di mal. Ya sudah, kita kesana ya."
"Ya, baiklah."
Aku segera mengendarai mobilku menuju kedai ramen Ichiraku. Harapanku saat mengendarai, adalah aku tidak ingin bertemu dobe disana. Ia sungguh penggila ramen sampai-sampai tidak bisa hidup tanpa ramen. Dulu Ia sering mengajakku makan ramen pagi hari pukul 5 atau 6 sebagai sarapan. Dan bahkan, makan siang juga ramen, di kedai yang sama. Sungguh aku tidak mengerti apa isi otaknya. Dan yang aku lebih heran lagi, ia bisa punya kekasih, cantik pula. Sekarang ia dan kekasihnya mungkin saja berada di kedai ramen itu. Benarkah ada perempuan yang tahan dengan sikapnya yang seperti itu? Sungguh menjelekkan martabat laki-laki saja. Aku menggelengkan kepalaku karena mengingat tingkah laku konyol si dobe itu.
"Sakura." Panggilku memecah keheningan.
"Ya? Ada apa?"
"Nanti jika bertemu dobe, tidak masalah 'kan?"
"Dobe? Oooh, aku ingat. Pasien mu yang bernama Uzumaki.. apa ya.. Oh, Naruto. Uzumaki Naruto! Ah, sahabatmu itu?"
"Hn. Ia suka makan ramen waktu pagi dan siang hari di kedai yang sama. Terkadang makan malamnya juga ramen."
"Wah, tidak kusangka ada orang seperti itu. Bukankah itu unik?" ucap Sakura, wajahnya tersenyum sangat bersemangat.
"Hah? Bukankah hal itu aneh?" aku heran dengan tingkah Sakura. Unik? Apa tidak salah? Batinku.
"Um.. Aku rasa tidak jika ia menyukainya." jawab Sakura penuh perhitungan.
"Benarkah? Baiklah akan kupertimbangkan untuk masuk ke kategori unik dalam penilaianku. Oh ya, karena ia sudah punya kekasih, biasanya ia mengajak kekasihnya juga. Dan sekarang aku juga mengajak kekasihku, mungkin kalian bisa berkenalan nanti."
"Ke-keka-kekasih?" wajah Sakura memerah lagi.
"Jadi? Apa sebutan tepat untukmu? Hm.. Calon istri?"
"Ti-tidak! Cu-cukup ke-kekasih saja."
"Hn."
Tidak lama kemudian, kami sampai di kedai ramen Ichiraku. Kedai ini memang kecil dan sederhana. Terletak di tengah-tengah pusat makanan di Konoha. Aku dan Sakura turun dari mobil dan segera berjalan masuk. Dan… yang benar saja.. ketakutanku… sepertinya menjadi kenyataan. Astaga.
"Oiii! Teme! Eh itu? Oh, pacarnya? Hei, Sakura!" teriak Naruto dari dalam kedai, hal ini tentu sangat memalukan. Untung saja si pemilik kedai ini sudah akrab dengan Naruto dan lebih beruntung lagi, tidak ada orang di kedai itu selain Naruto dan kekasihnya.
"Bisakah kau pelankan suaramu?" tanyaku sambil menatap sinis pada Naruto.
"Ah, hehe, baiklah. Aku hanya bersemangat melihat sahabatku datang. Kenapa? Kangen yah sama aku? Hihihi." balas Naruto dengan semangat.
"Ish, menjijikkan. Pergi cari pasangan yaoi saja sana." jawabku.
Kekasih Naruto yang berambut ungu dan bermata indigo itu hanya tertawa kecil melihat Naruto dan Sasuke beradu mulut.
"Oh ya! Sakura, kenalkan ini Hinata. Kekasihku." Naruto menunjuk gadis yang dari tadi duduk diam disampingnya.
"Oh, iya. Haruno Sakura, senang bertemu denganmu." ucap Sakura sambil menjulurkan tangannya pada Hinata.
"Hyuuga Hinata, senang bertemu denganmu." jawab Hinata sambil menjabat tangan Sakura. Kedua perempuan itu saling tersenyum satu sama lain.
"Oh ya, kami juga baru sampai, mau pesan sekalian?" tanya Naruto.
"Hn, ramen kari ayam satu." sahutku.
"Ah, jadikan dua." ucap Sakura.
"Baiklah. Paman! Ramen kari ayam dua, ramen original satu, dan ramen ayam panggang satu ya!"
"Kau memesan tanpa bertanya pada kekasihmu, hn?"
"Aku tahu kok dia mau makan apa, benar 'kan Hinata?"
Gadis berambut ungu itu tersenyum senang ke arah Naruto dan menganggukkan kepalanya.
Sakura dan aku hanya dapat berusaha membaca situasi saat ini. Sungguh kedua orang ini sangat mengerti satu sama lain.
"Eh, um.. Maaf. Anda dari keluarga Hyu-hyuuga? Ke-keturunan bangsawan itu?" tanya Sakura dengan penuh kehati-hatian.
"Hm? Iya. Ada apa ya?" jawab Hinata.
"Ah, tidak, aku hanya memastikan." jawab Sakura sambil tersenyum. Awalnya Hinata memberi ekspresi heran, tapi pada akhirnya ia ikut tersenyum juga.
Aku mulai penasaran. Mengapa tiba-tiba Sakura bertanya mengenai keluarga Hinata? Setahuku Hyuuga memang keluarga bangsawan, tapi mengapa ia sangat berhat-hati dalam bertanya akan hal itu? Aku akan cari tahu jika keluarga Sakura ada kaitannya dengan keluarga Hyuuga itu.
"Naruto, sebenarnya kau apa kan dia? Mengapa ia bisa menjadi kekasihmu?" tanyaku tanpa basa-basi kepada pria berkepala kuning itu.
"Hihihi, Naruto -kun tidak berbuat apa-apa denganku. Dengannya aku merasa hariku lebih ceria dan menyenangkan. Ia juga pintar membuatku tertawa. Dan juga aku termotivasi karena ia sangat semangat dan tidak pernah menyerah dalam mengerjakan segala sesuatu." jawab Hinata.
"Ah, itu sisi kerenku. Dengar sendiri 'kan? Hahaha. Oh ya, lalu… mengapa kau bisa menjadi kekasih teme? Apa yang kau lihat dari dokter dingin nan sombong ini?"
Naruto balik bertanya pada Sakura. Beraninya dia. Ah, tapi aku juga ingin mendengar apa yang Sakura pikirkan tentangku. Semoga saja ia tulus kepadaku.
"Eh? Ah, itu ya.. Um, ia sebenarnya tidak sedingin itu. Ia juga tidak sombong, bahkan sangat ramah kepada pasiennya, kecuali denganmu mungkin. Ia sangat baik padaku, ia memberikanku perasaan bahagia dan hangat saat berada di dekatnya. Selain itu aku juga merasa aman." jelas Sakura. Setelah mendengar penjelasan Sakura, aku menunduk agar semua orang yang berada satu meja denganku tidak dapat melihat wajahku yang sedang merona dan bibirku yang sedang tersenyum lebar.
"Hm, jangan-jangan, kau juga sudah tahu bahwa ia…" ucap Naruto.
"Tidak disini, dobe." aku menyela perkataan Naruto.
"Jadi apa kau sudah tahu?" Naruto kembali bertanya, tidak menghiraukan peringatan Sasuke.
"Dobe, kau-" aku berusaha menyela lagi.
"Naruto juga sudah tahu?" Sakura berbalik bertanya pada Naruto.
"Tentu saja, aku yang membantunya. Aku ini polisi, Sakura." jawab Naruto dengan suara sepelan mungkin. Syukurlah dobe masih tahu diri. Aku bisa dipenjara jika identitasku bocor.
"HEH? Polisi? Benarkah?" tanya Sakura tidak percaya.
"Kau tidak percaya? Ah sudahlah tidak apa. Nah, aku benar-benar seorang polisi. Detektif lebih tepatnya." ucap Naruto sambil menampilkan nyengir khasnya.
"Wah, tidak ku sangka. Hinata, kau sangat beruntung." ucap Sakura memandang serius Hinata.
"Apa maksudmu, Sakura?" selaku tidak senang. Apa aku yang seorang dokter tidak cukup baik untuk Sakura? Ya, maksudku, aku memang pembunuh juga tapi setidaknya memang aku benar-benar seorang dokter sungguhan.
"Tidak aku hanya senang ternyata Hinata mendapat kekasih yang baik juga. Meski baiknya itu tidak terlihat, hahaha." jawab Sakura sambil tersenyum padaku.
"Hihihi, tidak apa Sakura. Aku malah menyukai Naruto yang apa adanya." jawab Hinata.
"Nah, pesanan ramen sudah datang." ucap seorang gadis muda mengambil 4 mangkuk ramen pesanan dan meletakkannya pada meja makan yang diduduki oleh Naruto, Hinata, Sasuke dan Sakura.
"Itadakimasu! Sudah lama tidak makan ramen denganmu, teme! Hahaha."
Aku tidak menjawab pernyataan Naruto.
"Itadakimasu." ucapku datar.
"Itadakimasu" ucap Sakura dan Hinata hampir bersamaan.
Kami berempat makan dalam diam. Naruto sibuk menikmati ramen kesukaannya, sedangkan Hinata memakan ramennya dengan pelan dan anggun. Sakura terlihat menikmati ramen pesanannya, ya aku senang seleranya hampir sama dengan seleraku. Aku cukup menyukai ramen kari daripada ramen lainnya. Setelah hampir menyelesaikan makan kami, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita selain Sakura dan Hinata dan gadis pelayan tadi di kedai ramen ini.
"Paman, pesan ramen original satu ya, dibungkus." ucapnya pada paman penjual ramen.
Entah mengapa, aku merasakan hawa membunuh dari wanita itu. Dan, perasaan ini sangat familiar, sepertinya aku mengenalnya. Aku menoleh ke belakang, wajahnya ditutupi oleh semacam kain. Meski penampilannya biasa saja, tapi aku cukup yakin dengan perasaanku ini. Aku sudah membunuh terus menerus selama 4 tahun. Seketika wanita itu melihat ke arah kami. Ia melirik Hinata dan Naruto yang kebetulan duduk menghadap keluar, sedangkan aku dan Sakura duduk membelakangi pintu. Tidak lama kemudian ia juga melirikku dan Sakura. Aku melihat Sakura yang ingin menoleh ke arahnya.
"Sakura, jangan lihat dia." Peringatku kepada Sakura.
"Eh?" Dengan cepat Sakura mengembalikan kepalanya yang sudah diputar setengah tadi karena menyadari ada yang melihatnya.
"Teme, ada apa?" tanya Naruto dengan suara pelan.
"Stt. Biarkan saja. Bersikap biasa saja." jawabku pelan.
Kami berempat hanya diam setelah itu. Hinata terlihat bingung dengan keadaan, Naruto melihatku sambil menyerngitkan alisnya, sedangkan Sakura mengaduk-aduk sup ramen yang sudah tidak ingin dimakannya lagi. Oh, ada yang bertanya aku sedang apa? Aku hanya duduk diam memasang muka datarku. Menunggu wanita sialan itu untuk pergi. Meski sebenarnya aku semakin penasaran siapa wanita itu sebenarnya.
To Be Continue
Halo semuaaaa, maaf lama banget updatenya hehe..
Alasan biasa, sibuk. Ah ya jangan bosan-bosan untuk baca yaaa
Shady akan usahakan update secepatnya :D
utk Chapter 7 ini merupakan part 1 dari sub-judul Past, nanti ada part 2nya, ditunggu yaaa
Terima kasih untuk semua yang baca dan review, para silent reader juga, maaf tidak sempat membalas review satu per satu.
Yang sudah baca jangan lupa reviewnyaaa~
Terima kasih :D
Sincerely,
Shady.
