Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
*Not own anything of Naruto.
*This story is originally made by me.
Future Depends On You
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 8: Past (Masa Lalu) – Part 2
POV: Sasuke
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya wanita misterius itu pergi dengan mengambil ramen pesanannya. Entah mengapa, aku merasa sangat familiar dengan hawa membunuh yang ku rasakan itu. Rasanya hatiku sebagai manusia sudah mulai kembali. Aku khawatir dengan Naruto dan Hinata, terutama Sakura. Aku khawatir wanita itu akan bertindak melewati batas di kedai ini. Untung saja ketakutanku tidak menjadi kenyataan. Aku berpikir terlalu dalam.
"Oi, teme! Kau melamun?" Naruto memukul bahuku.
"Sialan kau!" teriakku padanya. Tentu saja aku kaget.
"Hoi, hoi, kau mengumpat lagi padaku? Oh, Uchiha Sasuke, tidak sadarkah kau? Lihat Sakura!"
Aku menoleh ke arah Sakura, dan… astaga!
"Sa-Sakura! A-ada apa denganmu?" Aku segera mengangkat kepala Sakura yang tergeletak lemas di atas meja makan. Badannya sama sekali tidak melawan pergerakanku. Aku memeriksa denyut nadinya dan nafasnya, syukurlah masih ada. Namun ia tergeletak lemas. Ah, SAKURA PINGSAN!
"SAKURA!" Aku menggoyangkan tubuh Sakura secara perlahan.
"Sa-sakura?" Hinata mulai cemas.
"A-apa? Sa-sakura? Ayo cepat bawa ke rumah sakit, Sasuke bodoh!" kali ini aku biarkan Naruto mengumpat padaku.
"Tidak usah, ke rumahku saja! Kali ini bantu aku, Naruto. Dan, Hinata juga. Tolong." ucapku pelan. Naruto sedikit terkejut mendengar kata 'tolong' dariku. Ya memang aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Baiklah, ayo. Kita harus bergegas." balas Naruto. Ia terlihat cemas juga.
Aku.. Eh, tepatnya kami berempat keluar dari kedai ramen itu dengan perasaan cemas, takut, gelisah yang bercampur menjadi 1. Sakura masih pingsan, aku menggendongnya dengan bantuan dari Naruto yang menaikkannya ke punggungku. Sedangkan Naruto dan Hinata menampilkan wajah cemas mereka. Tentu saja aku juga, aku tidak mungkin tidak cemas.
"Sasuke, pakai mobilku saja. Mobilku lebih besar. Mobil sport-mu itu sempit." ucap Naruto membuka pintu mobil SUVnya dengan remot.
"Ya, aku tahu. Apa kau punya minyak kayu putih?" tanyaku.
"Ah, aku ada, ini." Hinata mengambil botol kecil berisi minyak kayu putih dan menyerahkannya padaku.
Aku terdiam, saat ini tanganku hanya satu dan sedang menopang badan Sakura. Oh tidak sadarkah Hinata dengan keadaanku ini?
"Hinata, nanti di mobil saja. Tangan Sasuke kan-" ucap Naruto yang segera disela Hinata.
"Eh, iya! A-ano, Ma-maaf, Sasuke. Aku tidak bermaksud."
"Hn, tidak apa."
Aku meninggalkan mobil sport ku di parkiran kedai tersebut. Kemudian aku dan Sakura masuk ke mobil bagian belakang. Naruto membantuku mendudukkan Sakura. Oh sungguh miris nasibku yang hanya mempunyai 1 lengan, menggendong calon istri yang pingsan saja tidak bisa kulakukan sendiri.
"Sasuke. Jangan murung begitu." ucap Naruto saat melihatku.
"Hn."
Naruto dan Hinata segera masuk ke bagian depan mobil. Hinata menyerahkan minyak kayu putih padaku. Naruto segera tancap gas ke rumahku, tentu saja dengan arahan dariku, ia tidak pernah berkunjung ke rumahku. Aku berusaha membangunkan Sakura dengan mengusapkan minyak kayu putih pada bagian bawah hidungnya. Sebenarnya aku ingin mencoba CPR, tapi terlalu malu dan gengsi. Apalagi ada Naruto, pasti akan menjadi heboh. Aku mengusap beberapa kali pada bagian bawah hidung Sakura dan menggerakkan badannya, tapi ia tak kunjung sadar. Aku semakin khawatir.
"Naruto, lebih cepat. Nanti sampai dipertigaan belok kanan. Lalu ada perempatan belok kiri. Kemudian lurus sampai ujung, nanti akan tampak rumah dengan pagar tinggi warna coklat." Aku menjelaskan.
"Aaaa, aku tidak ingat temeeee!" teriak Naruto sambil menggaruk kepalanya.
"Tidak apa, Naruto-kun, aku ingat. Aku akan mengulangnya untukmu." ucap Hinata dengan tenang.
Aku diam saja. Sungguh aku malas berdebat dengan si bodoh Naruto. Untung saja ada Hinata. Sampai saat ini juga aku masih heran mengapa perempuan ini bisa menjadi pacar dobe yang super duper tidak peka dan tentu saja bodoh ini. Tapi aku juga heran mengapa ia bisa jadi detektif segala. Memang penuh kejutan si Naruto. Aku yang sahabatnya dari kecil saja tidak dapat menebak sebenarnya apa saja yang dapat ia kerjakan.
"Sasuke, yang ini?" ucap Naruto sambil menunjuk rumahku dan memperlambat mobilnya.
"Hn."
"Woaaaah, besar sekali. Tak ku sangka Sasuke, ini hasil dari pekerjaanmu itu?"
"Diam kau, dobe. Ini peninggalan orang tuaku."
"Oh, ku kira. Tapi memang harusnya kau kaya 'sih, teme. Punya pekerjaan ganda, bayaran keduanya tinggi pula."
"Naruto-kun, cepat parkirkan mobilmu. Sakura lebih penting." ucap Hinata menghentikan perdebatan tidak penting kedua pria itu. Ia bahkan tidak mempedulikan perkataan 'pekerjaan ganda' dari mulut Naruto.
"Eh, iya iya. Teme, mobilku bisa masuk ke dalam?"
"Hn, sebentar." Aku mengeluarkan rimot kecil dari sakuku, aku membuka pagar pintu rumah.
"Wuaaah, teme kereeeeen sekali."
"Hentikan dobe, kau berisik."
"Hehehe, mengertilah sahabatmu ini tidak pernah ke tempat semewah ini Sasuke."
Naruto segera memarkirkan mobilnya di dalam perkarangan rumahku.
"Ayo cepat bawa Sakura masuk." ucap Hinata yang semakin khawatir dengan Sakura.
"Hn."
POV: Normal
Sasuke menggendong Sakura dengan punggungnya. Ia sedikit kesusahan saat akan membuka pintu utama rumahnya yang dikunci dengan sidik jari.
"Teme, biar aku yang gendong Sakura saja. Tidak apa-apa kan Hinata?" tanya Naruto bermaksud baik.
"Tidak, kau tahan punggungnya sebentar. Pintu sialan ini hanya butuh jariku, tidak lebih." balas Sasuke dengan ketus.
"Cih, dasar posesif." Ucap Naruto sambil menahan punggung Sakura ke arah Sasuke.
Sasuke tidak membalas perkataan Naruto. Ia segera menempelkan jarinya pada pemindai sidik jari itu kemudian masuk ke dalam rumahnya dan membaringkan Sakura di atas sofa. Sedangkan Naruto, matanya tidak berkedip dan mulutnya terbuka lebar.
"Te-teme, keren sekali rumahmu. Sungguh aku tidak bercanda."
"Hentikan, dobe."
"Naruto-kun, sekarang bukan saatnya bercanda! Sasuke apa kau bisa menyadarkan Sakura?"
Sasuke tidak menjawab. Ia diam cukup lama.
Cup!
Tanpa berpikir panjang lagi, Sasuke memberikan CPR pada Sakura. Setelah itu ia memompa pelan dada Sakura. Meski ia malu harus melakukan hal ini didepan Naruto dan Hinata, tapi ia rasa tidak ada cara lain lagi. Naruto dan Hinata yang melihat kejadian itu hanya saling memandang dan merasa malu satu sama lain. Mereka berdua hanya bisa diam dan menonton.
"U-Uhuk uhuk!" perlahan Sakura mulai membuka matanya.
"SAKURA! Apa kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke panik.
"Ng? Sasuke-kun.. ini.. di rumahmu ya?" ucap Sakura sambil menatap sekeliling yang masih terlihat kabur dalam pandangannya.
"Hn, tadi apa yang kau rasakan? Mengapa tiba-tiba pingsan?" tanya Sasuke penuh perhatian ia tidak melepas pandanganya dari Sakura sedetik pun. Ia membantu Sakura bangun dari posisi tidurnya untuk duduk.
"A-aku.. Maaf merepotkanmu. Kepalaku tiba-tiba sakit dan pusing. Kemudian muncul beragam kejadian. Aku bahkan tidak bisa mengingat itu semua kejadian seperti apa. Yang dapat ku ingat hanya aku berbaring di suatu ruangan remang-remang, dipenuhi banyak orang-orang berjas putih." jelas Sakura dengan wajah penuh bersalah, ia tidak menyangka harus merepotkan Sakura serta Naruto dan Hinata sampai seperti ini. Namun ia juga tidak mengerti apa yang ia rasakan. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu.
"Hm? Situasi macam apa itu? Apakah kau merasa berada pada situasi seperti itu?" tanya Sasuke lagi.
"Tidak. Rawat inap di rumah sakit saja tidak pernah, Sasuke-kun. "
"Ya sudah, kalau begitu nanti istirahatlah dulu dikamarku Sakura. Aku akan membelikan beberapa makanan hangat dan bubuk coklat hangat atau sereal."
"Ya, baiklah. Ah, maaf Naruto, Hinata, maaf merepotkan kalian." ucap Sakura sambil melihat ke arah Naruto dan Hinata secara bergantian.
"Tidak apa-apa, Sakura. Tenang saja." ucap Naruto sambil menampilkan senyum khasnya itu.
"Ya, betul itu. Yang penting Sakura sudah tidak apa-apa." ucap Hinata membeli senyum lembut pada Sakura.
"Naruto, bolehkah aku meminta Hinata menemani Sakura selagi aku pergi membeli makanan?" tanya Sasuke.
"Ah, boleh boleh, tentu saja boleh. Kalau begitu, Hinata disini. Dan aku ikut denganmu saja, bagaimana?" jawab Naruto sambil menawarkan bantuan.
"Hn, tapi jangan berisik dobe." jawab Sasuke.
"Ya, ya, aku janji teme. Kau memang menyebalkan." nalas Naruto.
"Cih, harusnya aku yang berkata seperti itu, usuratonkachi. Aku masih heran kenapa Hinata mau dengan lelaki sepertimu."
"Apa? Kau meremehkanku, Uchiha Sasuke?"
"Bukankah memang kenyataan kau bodoh, Uzumaki Naruto?"
"KAU!" Naruto mengepalkan tangannya dan bersiap melayangkan sebuah tinju.
"APA? Mau apa?" Sasuke juga tidak senang, ia mengaktifkan mata merahnya itu.
"UCHIHA SASUKE!" - "UZUMAKI NARUTO!" ucap Hinata dan Sakura bersamaan.
"APA?" balas Sasuke dan Naruto bersamaan menatap ke arah Hinata dan Sakura dengan pandangan tidak senang.
"Hentikan! Kalian berdua seperti anak berumur 5 tahun yang sedang bertengkar berebut permen!" ucap Sakura sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu seperti itu Naruto-kun. Hentikan. Jangan seperti anak kecil." sambung Hinata.
Rasa malu muncul seketika karena kedua gadis yang mereka cintai mengkritik tindakan meraka. Kedua pria itu saling menatap tajam sesaat. Lalu membuang muka ke arah berlawanan. Suasana hening sejenak.
"Jadi ikut aku tidak?" tanya Sasuke. Ia berbicara namun tidak menatap Naruto. Jangan harapkan minta maaf keluar dari mulutnya, gengsinya terlalu tinggi.
"Iya iya. Hinata, Sakura kami pergi dulu ya." jawab Naruto sambil melambaikan tangannya pada Sakura dan Hinata. Ia sungguh mengerti dan bersabar terhadap sifat sahabatnya itu.
"Sakura istirahatlah, Hinata tolong jaga Sakura ya." ucap Sasuke sambil membalikkan badannya. Lagi-lagi kata tolong keluar dari mulutnya. Mungkin Sasuke akan melakukan apa saja demi Sakura.
"Baiklah, kalian hati-hati di jalan." jawab Hinata.
"Jangan ngebut, Sasuke." ucap Sakura dengan nada menekan.
"Hn. Naruto yang menyetir." balas Sasuke tanpa melihat ke arah Sakura.
Kedua pria itu berjalan pergi bersamaan. Tentu saja Sasuke tidak lupa mengunci pintu dengan sidik jarinya lagi. Sungguh pintu yang menyebalkan, karena harus meletakkan jarinya ia tidak dapat meminta bantuan orang lain. Sasuke berjanji akan menggantinya nanti.
Naruto dan Sasuke memasuki mobil, Naruto menyetirnya dan mereka melesat menuju tempat tujuan.
"Um, Hinata. Benarkah tidak apa-apa merepotkanmu dan Naruto seperti ini? Kita baru saja mengenal." tanyaku pada Hinata dengan rasa penuh bersalah.
"Tidak apa-apa. Percayalah padaku, Sakura. Kami tidak merasa keberatan sama sekali. Naruto sudah bersahabat lama dengan Sasuke, dan tentu saja aku yakin kita juga bisa bersahabat seperti mereka. Bukan begitu, Sakura?" ucap Hinata.
"Ya, kau benar. Baiklah, terima kasih, Hinata." balas Sakura sambil tersenyum lembut pada Hinata.
"Iya, sama-sama, Sakura." balas Hinata dengan senyuman juga.
Suasana hening. Sakura menundukkan kepalanya dengan, raut kecemasan muncul dari wajahnya.
"Sakura, kau boleh bercerita padaku jika ada yang mengganggu pikiranmu." Hinata menundukkan kepalanya dan menatap Sakura.
"U-um, tapi aku mohon jangan beritahu ini pada Sasuke." Sakura balas menatap Hinata.
"Baiklah, aku janji ini akan jadi rahasia diantara kita saja Sakura."
"Begini. Aku merasa ada yang aneh dengan wanita di kedai ramen tadi."
"Wanita? Oh, yang memesan ramen bungkus? Aku tadi menyadari ia melihat ke arah kita berempat."
"Ya. Aku sempat melihat matanya saat Sasuke menyuruhku untuk tidak berbalik badan."
"Benarkah? Lalu apa yang kau rasakan?"
"Wanita itu menatapku dengan tajam, seperti ingin membunuhku. Tidak lama setelah itu, aku merasa kepalaku pusing dan sangat sakit. Aku tidak dapat menahan rasa sakit itu lebih lama lagi, telingaku berdengung, mataku gelap setelah itu."
"Mengapa rasa sakit dan pusing itu datang tiba-tiba? Apakah kau pernah bertemu orang itu sebelumnya, Sakura?"
"Tidak, aku tidak sempat memperhatikan wajahnya. Aku melihat matanya hanya sekilas. Dan aku juga tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, Hinata."
"Kau yakin tidak ingin membicarakan hal ini dengan Sasuke?"
"Kurasa tidak untuk sekarang."
"Baiklah, aku akan menghormati keputusanmu, Sakura."
Setelah berbincang, kedua gadis itu memutuskan untuk menonton televisi sebagai hiburan. Mereka menonton sambil berbincang ringan.
"Sakura, tadi Sasuke memberimu CPR. Dan kau bangun setelah itu." ucap Hinata langsung ke tujuan.
"A-apa?" Sakura tidak percaya apa yang ia dengar, wajahnya merah padam. Ia berpira-pura untuk menatap televisi untuk menghilangkan rasa malunya mendapat ciuman pertama.
"Ia juga menekan dadamu tadi. Aku rasa hal itu wajar bukan untuk pertolongan pertama pada orang pingsan?" tanya Hinata dengan polos.
"A-ah, i-iya." Sakura tidak dapat menahan malunya lagi. Tentu saja bukan hal biasa jika Sasuke yang melakukannya terhadap Sakura. Meski baru mengenal, Sakura memang menyukai Sasuke dari sejak pertemuan pertama mereka. Apalagi mengingat kenyataan Sasuke akan menikahinya dalam waktu dekat, oh sungguh Sakura belum siap punya suami tampan seperti itu. Tapi mau tidak mau ia harus siap.
Saat ini Sakura hanya dapat mengganti channel televisi, berusaha tidak melihat ke arah Hinata. Hinata hanya tertawa kecil melihat sikap Sakura, mungkin ia mengerti apa yang sedang Sakura rasakan setelah mendengar kenyataan itu.
POV: Normal
Sasuke dan Naruto berjalan menelusuri seisi supermarket. Sasuke sedang memilih beberapa bungkus sereal dan minuman cokelat bubuk. Kemudian ia mengambil dua kotak susu 1 liter dari lemari pendingin. Ia memasukkan seluruh belanjaannya ke dalam keranjang. Kemudian ia menghampiri Naruto.
"Dobe, apa sudah selesai?" tanya Sasuke.
"Eh? Sebentar, teme. Aku masih bingung mau rasa apa." Naruto sedang memilih ramen cup.
"Sudah berapa kali aku bilang, kau bisa mati perlahan jika terus-terusan makan makanan seperti itu."
"Huh? Benarkah? Aku merasa sehat-sehat saja."
"Jangan pura-pura bodoh. Kau baru saja menemuiku dua hari yang lalu dan hari ini kau bilang kau baik-baik saja? Pikirkanlah Hinata, jika kau serius dengannya. Jaga kesehatanmu agar dapat bekerja dan mencari uang untuk menikahinya, dobe."
"Wah, Sasuke. Kau perhatian sekali padakuuuu, temeeeee! Oh sungguh aku cinta padamu!" Naruto merangkul tangan Sasuke dengan erat.
"Diamlah, ini tempat umum. Lepaskan aku!" Sasuke menepis pegangan Naruto.
"Hehehe, maaf maaf. Aku tidak gay kok, teme. Tenang saja. Aku memang akan menikahi Hinata. Aku rasa dalam waktu dekat, penghasilanku sebagai detektif cukup 'sih. Kalau tidak paling aku akan meminta beberapa pekerjaan darimu. Aku takut ia berubah pikiran." ucap Naruto sambil nyengir dan menggaruk kepalanya.
"Haha, ternyata kau masih sadar akan dirimu ya?" Sasuke menatap malas sahabatnya itu.
"Diam kau, teme. Aku tidak seburuk yang kau kira."
"Ya sudah. Aku sarankan kau tinggalkan ramen cup itu dan ambil beberapa biskuit atau snack saja. Cokelat juga boleh."
"Baiklah, pak dokter."
Naruto segera memilih beberapa makanan ringan dan beberapa botol minuman air mineral dan teh. Sasuke juga menyuruhnya mengambil beberapa untuk dirinya.
"Kalau kau tidak sibuk, aku ingin memintamu menginap di rumahku selama 2 malam, dobe."
"Apa? Tidak, tidak, Sasuke. Aku masih normal! Aku hanya cinta pada Hinata."
"Baka! Aku mengajakmu menginap karena ingin membicarkan hal penting, dobe! Tentang Sakura."
"Ah aku hanya bercanda. Ada apa dengannya?"
"Ceritanya panjang. Makanya aku tanya kau sibuk apa tidak?"
"Ya, aku rasa aku bisa, aku tidak sedang menangani kasus apapun."
"Baiklah, kalau begitu menginaplah malam ini sampai besok malam."
"Iya, iya. Nanti aku akan pulang mengambil bajuku. Dan aku juga akan bertanya apakah Hinata bisa menginap, aku ingin ia menemani Sakura saat kita berbicara panjaaaang nanti."
"Kau perhatian sekali pada Sakura?"
"Posesif sekali kau, teme. Pacarmu adalah sahabatku juga. Jelas?"
"Baiklah, terima kasih."
Naruto mengedipkan matanya berulang-ulang. Ia tidak percaya kata ' terima kasih ' keluar dari mulut seorang Uchiha Sasuke. Seingat Naruto, Sasuke sangat jarang.. ah mungkin tidak pernah mengucapkan kata itu padanya meski sudah banyak kali membantunya. Saat Naruto ingin membalasnya dengan 'sama-sama', Sasuke malah membalikkan badan dan langsung berjalan pergi. Dan lebih terkejutnya lagi, Sasuke kembali untuk menyambar keranjang yang dipegang Naruto. Sasuke segera berjalan ke kasir, ia membayar seluruh belanjaan. Karena terkejut dengan perlakuan Sasuke, Naruto bahkan tidak sempat melarangnya untuk membayar belanjaan tersebut.
Setelah selesai berbelanja, dua pria itu segera berjalan keluar dengan membawa kantong plastik barang belanjaan. Dan, betapa terkejutnya dengan siapa yang mereka temui di depan supermarket itu!
"Ka-kau?" Naruto tercengang. Ia tidak menyangka akan bertemu orang itu lagi.
"Hai, Naruto, Sasuke. Lama tidak jumpa, ya?" ucap lelaki itu dengan senyum palsu sudah biasa ia lakukan.
Tampak seorang lelaki berkulit pucat, berambut hitam. Wah, kini ia tidak sendiri. Ia menggandeng seorang wanita bertubuh ramping dengan mata biru mudah serta rambut pirangnya yang menawan.
Eh…? Tunggu.
Mata itu.
Jika Sasuke tidak salah ingat, wanita di kedai ramen tadi pagi.
Matanya sama persis!
Rahang Sasuke mengeras mengingat hal itu. Naruto yang berprofesi sebagai detektif, tentu saja menyimpan sebuah pistol kecil di bagian belakang pinggulnya. Sasuke bahkan langsung mengaktifkan mata merahnya itu.
Sungguh pertemuan yang mengejutkan.
"Mau apa kalian?" tanya Sasuke penuh penekanan.
"Huh, kau tidak berubah Uchiha? Kau kira aku takut dengan matamu itu?" ucap lelaki itu.
"Kami juga tidak pernah takut denganmu, Sai!" teriak Naruto.
Wanita yang berdiri di samping Sai hanya diam dan tenang.
"Oh, benarkah? Tidak takut aku bocorkan MASA LALU kalian kepada pacar-pacar kalian, hm? Kurasa mereka akan meninggalkan kalian jika tahu bahwa kalian bukanlah orang sebaik itu, benar 'kan? hahahaha." balas Sai dengan tawa meremehkan.
Ya, memang benar. Masih ada rahasia yang disimpan oleh Naruto dan Sasuke. Rahasia dari masa lalu yang sangat penting. Dan karena rahasia itulah mereka berdua bertemu dan bersahabat hingga saat ini. Naruto dan Sasuke sedikit terkejut mendengar Sai mengetahui mereka berdua sudah punya kekasih hati.
Naruto dan Sasuke semakin naik darah. Rasanya mereka ingin merobek kulit pria sialan ini kemudian mencabut jantungnya keluar dan mengobrak abrik isi perutnya.
"Jangan berlagak seperti tuan tahu segalanya. Kau tidak tahu apa-apa tentangku maupun Naruto." Aura membunuh Sasuke kini mengintimidasi suasana.
"Hahaha, jangan buat aku tertawa Uchiha! Jangan kau kira aku tidak tahu percobaan yang orang tua kalian lakukan beberapa tahun silam itu!" ucap Sai mengejek, lebih tepatnya menghina.
...
Hening.
Terbongkar sudah. Mungkin tidak apa-apa saat ini, karena disini tidak ada Sakura dan Hinata.
Naruto tampak marah, Sasuke tetap tenang.
"Kau tidak berhak menilai orang tua kami, kau tidak mengenal mereka!" Naruto angkat bicara.
"Diam kau, siluman rubah. Kalian berdua juga hasil percobaan 'kan? Mata si Uchiha itu juga. Tindakan orang tua kalian sungguh keji, memakai anak sendiri sebagai bahan percobaan." balas Sai.
"Oh, apakah aku perlu menyuruh wartawan untuk mengunjungi tempat eksperimenmu, Sai? Menjadi pelukis? Huh, lucu sekali kau. Aku rasa titel 'Sai si pelukis terkenal' yang kau sandang akan segera berubah menjadi 'Sai si ilmuwan gila'. Coba saja jika kau berani."ucap Sasuke mengacamnya.
Sai terdiam. Ia tak menyangka bahwa Sasuke tahu mengenai kehidupannya saat ini.
Ketiga pria itu saling memandang dengan tatapan mematikan. Wanita yang berada di samping Sai itu hanya bisa diam, namun badannya sedikit bergetar, mungkin ia tidak terlalu sanggup menghadapi situasi seperti ini.
To be Continue
Hyaaa ini sudah Chapter 8! tidak terasa ya.
Terima kasih sudah mengikuti fic Shady hingga sejauh ini semuanyaaa, hehe.
Terima kasih untuk yang sudah baca dan review, terima kasih juga untuk para silent reader.
Maaf tidak dapat membalas review satu per satu, hehe.
Jangan sungkan untuk kritik dan saran ya, Shady malah sangat berharap. Karena masih newbie dalam membuat fanfic.
Ketemu lagi di chapter selanjutnyaaaaa :D
Sincerely,
Shady.
