Semuanya menantikan lanjutan, baiklah ini Shady lanjutkan ceritanya.
Maaf yah agak lama, sibuk skripsi,
dan habis kebut update fic yang satunya lagi, hehe
Terima kasih yang sudah menyukai fic ini, Shady akan usahakan update secepat mungkin untuk kedepannya.
Ada yang penasaran orang tua kandung Sakura siapa? Nah, baca chapter ini.
Happy reading! :D
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
*Not own anything of Naruto.
*This story is originally made by me.
Future Depends On You
Written by Shady (DeShadyLady)
Chapter 9: Parents (Orang tua)
POV: Normal
Tampak empat orang saling berhadapan di parkiran belakang supermarket. Satu dengan kemeja ungu tua yang digulung lengannya dan rambut raven mencuat, lainnya dengan rambut kuning cepak dan kaos jingga bergaris hitam. Di depan kedua pria itu tampak seorang pria memakai kaos hijau tua, berkulit pucat dengan rambut hitam. Di sebelah pria itu tampak juga seorang wanita cantik yang memakai gaun seksi berwarna ungu dan bermahkota pirang.
Sekilas, pemandangan itu seperti seorang pria yang melindungi kekasihnya dari serangan kedua pria didepannya. Tapi tidak, kenyataanya bukan seperti itu.
Beruntung keadaan parkiran itu sedang sepi. Bahkan tidak ada seorang pun yang melintas. Mungkin karena ini masih termasuk dalam jam kerja pada umumnya.
Ketiga pria itu masih saling menatap dengan tajam. Seakan mereka sedang beragumen melalui mata. Wanita yang berdiri di samping Sai sesekali menarik lengan Sai, mungkin saja ia takut. Apalagi setelah mendengar mereka berdua itu hasil percobaan. Jangan-jangan Sai yang berkulit pucat juga hasil percobaan.
"Sai," panggil wanita itu sambil menarik pelan lengan Sai. Tidak ada jawaban.
"Sai,"
"Sai!"
"Diam, Ino!" balas Sai dengan ketus.
"Cih, laki-laki macam apa kau Sai? Kau membaca wanita dalam urusan pria? Sungguh tidak jantan." Sasuke menghina Sai terang-terangan. Ia sudah tidak tahan dengan pria di depannya yang sama sekali tidak memiliki kriteria seorang pria. 'Bahkan seorang Naruto masih jauh lebih baik darimu', batin Sasuke.
"Betul itu -ttebayo!" Naruto mengiyakan. Meski ia terlihat bercanda, ia berdiri tak gentar. Tangannya siap meraih handgun Beretta 92 kesayangannya. Harus Naruto akui itu memang bukan yang terbaik, tapi handgun ini sudah banyak kali menyelamatkannya dari saat itu, Naruto selalu membawanya dan menyelipkannya di bagian belakang pinggangnya. Jangan lupakan pekerjaan Naruto yang merupakan seorang detektif, tentu ia memiliki banyak musuh. Sehingga ia perlu sesuatu untuk berjaga-jaga.
Sai memberi tatapan yang semakin tajam pada Sasuke dan Naruto. Ia terlihat menepis tangan Ino dan tidak menghiraukan wanita itu. Ino tersentak, ia tak menyangka Sai akan seperti ini padanya. Tapi perkataan kedua pria di depannya memang ada benarnya. Mengingat beraninya Sai menyuruhnya berpura-pura membeli ramen tadi pagi hanya untuk mengawasi Sasuke dan Naruto serta pacar mereka. Sebenarnya, Ino juga belum mengerti apa motif Sai yang sebenarnya. Merasa takut, Ino mundur beberapa langkah dari tempat Sai berdiri.
"Sudah kuduga, kau wanita tadi pagi 'kan? Aura tubuhmu sama, meski kali ini kau ketakutan." Tatapan intimidasi Sasuke beralih pada Ino. Sasuke masih mengaktifkan mata merahnya. Ino yang menyadari tatapan itu, menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap.
"Ternyata percobaan orang tua mu itu berguna ya, Uchiha." balas Sai ketus. Cara bicaranya seperti anak kecil yang iri tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan dari orang tua.
"Kau tidak perlu mengalihkan topik pembicaraan, dasar mayat hidup! Semua percobaan terhadap kami bukan urusanmu." kali ini Naruto melepas ancang-ancangnya untuk mengambil handgun miliknya. Ia berdiri tegak, mengepalkan kedua tangannya dan memunculkan cahaya jingga kekuningan-yang lebih terlihat seperti api, mengelilingi tubuhnya. Naruto hanya merasa, cara seperti ini akan lebih mempan terhadap Sai. Mengingat dari tadi Sai menyebut percobaan, percobaan, dan percobaan.
"Objek percobaan seperti kalian tidak pantas untuk hidup!" ucap Sai sambil mengibaskan tangannya menunjukkan penolakan.
"Lantas? Apa yang kau inginkan?" ujar Sasuke mengintimidasi Sai. Ia sudah siap bertarung, meski dengan tangan kosong. Ya, matanya sudah cukup. Sasuke berjalan perlahan mendekati Sai. Jangan lupakan lengannya yang hanya tersisa 1 dan digunakan untuk mengangkat belanjaannya di supermarket tadi.
Terlihat Sai yang semakin memundurkan langkahnya, ia juga merasa takut dengan mata merah Sasuke. Sharingan, begitu mereka menyebutnya. Apalagi dengan adanya kekuatan Naruto, Sai merasa semakin terpojok dalam keadaan ini. Salahmu sendiri Sai, mencari gara-gara dengan orang seperti mereka. Sasuke terus berjalan hingga ia tepat berdiri di samping Sai.
"Pergilah, sebelum aku menyuruh Naruto mengulitimu, mengobrak abrik isi perutmu dan mencabut jantungmu. Kurasa kau tahu kekuatannya." Sasuke kembali mengancam Sai, kali ini dengan aura membunuhnya.
Jujur saja, Sai tidak siap dengan keadaan seperti ini. Sasuke dan Naruto terlalu kuat untuknya. Sai memilih mundur, ia membalikkan badan dan menjauh dari Sasuke dan Naruto. Dapat dilihat, Sai menarik Ino dengan kasar, kemudian mereka berdua berjalan pergi dan memasuk sebuah mobil sedan hitam.
"Wah, kau hebat, teme! Dasar Sai kurang ajar." Naruto menghilangkan cahaya yang tadi keluar dari tubuhnya itu sekali tebasan tangan.
"Berisik, ayo pergi dari sini. Kita bahas nanti saja. Aku ingin beli bubur untuk Sakura."
"Ayo ayo."
Sasuke dan Naruto segera berjalan memasuki mobil Naruto. Kedua pria itu masih diliputi rasa jengkel yang menjalar hingga ubun-ubun, sehingga tidak ada pembicaraan dalam mobil. Hanya radio yang menyala mengalunkan lagu-lagu populer saat ini, diselingi beberapa berita. Naruto fokus menyetir, Sasuke hanya memandang keluar jendela. Saat ini ada banyak hal yang berputar dalam pikiran kedua pria itu, karena tidak biasanya Naruto terdiam.
POV: Sasuke
Sesampai kami di sebuah kedai makanan jepang yang juga menjual bubur, aku segera memesan 2 porsi bubur salmon serta seporsi gyoza. Entah mengapa aku juga jadi ingin makan bubur. Naruto memesan 3 porsi gyoza, satu set sushi dan 4 nasi kepal. Katanya sih untuk stok jika tengah malam lapar dan Hinata juga menyukai sushi. Heran aku, pria satu ini memang tidak pernah memikirkan uangnya jika sudah berhubungan dengan makanan. Meski aku telah berkali-kali menasehatinya untuk tidak makan sebanyak itu. Sudahlah, peran dokter baik tidak ada hari ini. Aku sedang tidak bekerja.
Setelah selesai mengambil pesanan kami, kami segera pulang. Tidak ingin meninggalkan kedua tuan putri kami terlalu lama berdua di rumah sebesar itu.
Aku teringat ucapan Naruto yang tadi. Ada benarnya, Sai memang kurang ajar. Lebih tepatnya kurang dihajar. Hmm, terkadang otak dobe ini jalan juga rupanya. Ha-ha, jangan tertawa jika aku berkata seperti itu. Semua itu kenyataan. Sebenarnya otak dibalik semua percobaan ini adalah ayah Sai, Shimura Danzo. Meski aku tahu Sai itu bukan anak kandung, ia hanya seorang gelandangan yang dipungut. Cih, jangan salahkan aku yang berbicara kasar mengenai Sai. Maaf saja, aku tidak sudi berteman dengan orang seperti itu. Mengatakan orang lain hasil percobaan, padahal sendiri juga sama. Dan bahkan ia melanjutkan eksperimen ayahnya, aku dan Naruto juga tahu banyak korban yang disebabkan oleh eksperimennya itu. Siapa yang tak punya hati sekarang? Silahkan nilai sendiri.
Aku dan Naruto diam saja karena tidak ingin menambah kekacauan. Dulu, orang tuaku dan orang tua Naruto sempat ingin membongkar eksperimen Danzo. Tapi karena keselamatan kami juga terancam, mereka tidak jadi melakukannya. Orang tuaku dan Naruto sepakat menjadikan kami objek percobaan, semua ini untuk memberikan kami hidup yang lebih aman. Mengingat ayahku adalah seorang polisi yang merangkap sebagai pembunuh bayaran dan ayah Naruto itu juga seorang tentara kelas atas. Tentu mereka punya banyak musuh, sehingga mereka ingin anak-anaknya mempunyai kemampuan melindungi diri. Sebelum percobaan, darahku juga sudah diambil sampelnya dan dinyatakan cocok dengan serum yang akan disuntikkan. Bahkan ayah, ibu dan kakakku juga disuntik serum yang sama. Sehingga tidak ada alasan aku untuk membenci mereka. Serum itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan tenaga, meningkatkan intelijensi dan juga mata merah ini, Sharingan. Rahasia aku dapat mengemban dua pekerjaan juga karena serum ini. Aku bahkan tahan seminggu tidak tidur. Kekurangan dari percobaan ini adalah Sharingan hanya dapat berkembang seiring membunuh. Itu berarti kau harus membunuh untuk meng-upgrade-nya.
Hm, ya aku berbohong pada Sakura. Aku mengatakan bahwa mata merah ini keturunan. Bahkan kapten juga tidak tahu mengenai percobaan ini. Aku hanya perlu waktu untuk menjelaskan semua ini pada Sakura, aku takut ia meninggalkanku hanya karena ia tahu bahwa aku ini hasil percobaan laboratorium dan bukan manusia alami lagi. Aku takut kehilangan seseorang yang berharga bagiku lagi. Suatu hari nanti aku juga akan jujur pada kapten.
Harus kuakui, percobaan Naruto jauh lebih mengerikan. Ish, membayangkannya saja terkadang membuatku merinding. Bukannya aku takut, tapi aku merasa jijik dan tidak masuk akal. Ayah Naruto, Minato, memutuskan untuk menyegel setengah kekuatan monster rubah ekor sembilan keramat itu ke dalam tubuh Naruto. Astaga, apa ia sudah gila? Apalagi percobaan ini dilakukan saat usia kami masih berumur 5 tahun. Tapi ayah Naruto berkata ia percaya pada anaknya. Ia sendiri juga menyegel setengah dari kekuatan rubah itu pada dirinya. Semua ini memang ayahnya lakukan karena ia tidak ingin melihat Kushina, ibu Naruto, menanggung beban monster yang sebenarnya ada pada dirinya itu. Tapi apakah Naruto mengerti? Sekarang saja bodohnya kelewatan, apalagi waktu umur 5 tahun? Untung saja Naruto masih tidak menyalahkan ayahnya atas percobaan ini. Karena ayahnya juga sangat mengerti Naruto, ya mungkin mereka mempunyai pemikiran yang sama. Haaa, terlalu banyak yang aku pikirkan, lebih baik aku menutup mataku untuk menenangkan diriku sejenak.
"Sasuke."
"Oi, teme! Sudah sampai!"
"Hn." Aku tersentak sejenak, mataku terbuka, memandang pintu gerbang rumahku. Aku membukanya dengan remote yang kuraih dari kantung celanaku. Naruto memarkirkan kendaraannya dalam halaman rumahku.
"Tak ku sangka seorang Uchiha Sasuke bisa tertidur di mobil juga."
"Kau yang bodoh, aku ini manusia, dobe."
"Ehhh, mana mungkin -ttebayo! Jelas-jelas kau dan aku itu hasil percobaan. Dan aku juga tahu serum itu memberimu tenaga dan kemampuan lebih dari manusia biasa." Naruto malah berbalik semakin berisik.
Aku tidak mempedulikannya, aku segera turun dari mobil dan membawa barang belanjaan. Naruto hanya menggeleng dan mengikuti pergerakanku. Mungkin ia sudah biasa aku tinggal.
Aku membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Kami menaruh barang belanjaan dan makanan di meja ruang tamu yang cukup besar untuk menampung seluruhnya.
Aku tidak mendapati Sakura dan Hinata di ruang tamu.
"Sakura." gumamku entah pada siapa. Aku segera pergi ke dapur dan gudang. Kosong.
"Naruto, mereka tidak ada!" teriakku dari dapur.
"Hah? Mereka tidak ada? Yang benar saja? Astaga, Hinata! Sakura!" Naruto segera berjalan entah ke arah mana.
Aku sendiri berlari menuju lantai 2 dan 3. Kamar, kosong. Ruangan-ruangan di lantai 2, kosong. Tidak ada siapa-siapa. Haduh, yang benar saja?
"Naruto! Apa kau menemukan mereka?"
"Sttt!" Naruto menaruh telunjuknya ke depan mulutnya, pertanda menyuruhku diam.
"Hn? Ada apa?"
"Kecilkan suaramu, teme. Lihat itu."
Ah, ternyata ada Sakura dan Hinata yang sedang duduk di ayunan belakang rumah. Oh, ayunan itu masih dapat bergerak ternyata. Eh, debunya juga sudah hilang. Mungkin mereka membersihkannya saat aku dan Naruto pergi.
"Pemandangan yang indah ya, teme." Naruto tersenyum lembut sambil memandang ke arah Hinata. Jujur aku sedikit terkejut mendengar penuturan Naruto. Ternyata bisa juga ia romantis seperti ini. Aku ikut memandang Sakura dalam diam, senyumku tak tertahankan.
Memang sejak Sakura hadir, hidupku lebih ceria. Setidaknya ia mampu membuatku nyaman dan merasa lebih 'hidup'. Aku bahkan menuruti perkataannya, entah apa yang salah denganku. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku memang sudah lama menunggu wanita seperti Sakura. Ya, aku sudah menemukannya. Maka ia akan langsung ku nikahi, aku tidak ingin menyesal jika nanti ia direbut orang lain. Apalagi pernyataan Itachi pada waktu itu, aku menggeram setiap kali mengingat kalimat yang ia ucapkan sebelum menghilang. Hal itu semakin membuatku membulatkan tekad untuk segera menikahi Sakura.
"Naruto, saranku, segera nikahi Hina-"
"Ya, aku tahu. Mungkin malam ini aku akan melamarnya."
"Apa? Kau serius? Memangnya kau sudah punya cincin atau semacamnya?"
"Ini." Naruto mengeluarkan sebuah kotak merah, ia membukanya. Aku tidak percaya apa yang aku lihat. Sebuah cincin dengan permata kecil diatasnya. Indah. Tak ku sangka, dobe bisa seromantis ini.
"Bagaimana? hehe" tanya Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hn, lumayan. Dan jangan tertawa seperti itu saat melamarnya. Jangan memalukanku sebagai sahabatmu." Aku berjalan mendekati Sakura setelah menyelesaikan kalimatku.
"Oiiii, tunggu aku, teme!"
POV: Normal
Suara hujan mengguyur permukaan Bumi terdengar jelas dari dalam kamar yang Sakura tempati saat ini. Cuaca bertambah dingin, sesekali petir juga menyambar dengan keras. Sakura duduk tenang di atas tempat tidur. Membaca buku kedokteran yang ia dapat dari lemari buku Sasuke. Hinata sedang berada di dapur, menyiapkan cemilan malam untuk Naruto, mengingat ini sudah pukul 12 malam. Ah, kini jari Hinata terdapat sebuah cincin berkilau yang manis, ternyata Naruto sudah melamarnya. Hinata sesekali tersenyum melihat cincin itu. Oh ya, dan jangan salahkan Sakura yang duduk santai membaca, Sasuke memang bukan tipe pria yang makan tengah malam. Dokter itu sangat menjaga kesehatannya.
Mobil sport Sasuke juga sudah terlihat menemani mobil SUV Naruto, keduanya selamat dari hujan lebat karena Sasuke punya garasi mobil tersendiri, tentu saja tertutup. Sasuke sudah mengambil mobilnya setelah selesai mengantarkan makanan dan barang belanjaan dari supermarket semalam. Tidak mungkin ia meninggalkan mobil sport kesayangannya tanpa pengawasannya lebih lama lagi.
Sedangkan kedua pria pemilik mobil itu, berada dalam ruang kerja Sasuke sejak selesai makan malam tadi. Mengingat ini adalah malam kedua Naruto dan Hinata menginap, maka esok mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Dalam ruang kerja itu, tampak dua pria yang sedang berbincang serius. Meja kerja Sasuke dipenuhi kertas yang terlihat sudah tua dan kumuh.
Sasuke duduk di kursi singgasananya, bagaikan seorang bos besar. Sedangkan Naruto duduk di hadapannya, seperti karyawan yang sedang menerima arahan. Tidak, tidak, mereka hanya dua lelaki hasil percobaan laboratorium yang kini bersahabat. Kedua pria dewasa itu menatap kertas di depannya dan berpikir keras.
"Harusnya seperti itu sih, teme. Kondisi saat ini tidak memungkinkan."
"Hn, hanya itu yang terbaik. Keadaan sekarang semakin berbahaya. Aku juga tidak ingin Sakura maupun Hinata terkena dampak."
"Yosh, baiklah. Kita laksanakan plan B saja."
"Hn. Akan ku diskusikan dengan kapten juga nanti."
'Tok tok tok'
"Naruto, ramenmu sudah siap."
"Ah iya Hinata, terima kasih." Naruto membukakan pintu dan tersenyum memandang Hinata, sesekali ia melirik cincin yang diberikannya. Ramen itu masakan Hinata sendiri, bukan ramen instan atau ramen cup. Tadi pagi Naruto yang pergi membeli bahan-bahannya dan meminta Hinata yang memasak. Setelah Naruto menerima mangkuk ramen itu, Hinata tersenyum dan berjalan pergi. Naruto pun menutup kembali pintu ruangan kerja Sasuke.
Naruto melahap ramen itu dengan cepat. Habis tak tersisa. Meski belum selezat yang di kedai Ichiraku, tapi ini cukup cocok dengan selera Naruto. Ah, apakah faktor Hinata? Masakan orang tercinta memang selalu nikmat bukan?
"Aku senang istrimu memperhatikanmu, dobe." Sasuke tersenyum tipis, ia turut bahagia untuk sahabatnya.
"Aku juga senang kau mendapat istri yang dapat mengerti dirimu, teme. Sakura bahkan tidak bertanya apa pun saat kau berkata ingin berbicara hal penting denganku." Naruto membalas senyum sahabatnya.
"Hn, dia memang baik. Dan juga cantik."
"Ah, teme. Jangan tunda lagi, lamar dia."
"Sudah."
"Apa? Aku tidak melihat cincin di jarinya."
"Mengapa aku merasa kau perhatian sekali pada Sakura? Cincinnya menyusul."
"Apa? Yang benar saja, tidak jantan seperti itu, teme."
"Emang kau sejantan apa? Berisik."
"Kau bertanya seperti itu padaku? Tanya saja pada Hinata, hahaha."
"Aku tidak ingin mengetahui perbuatan kotormu, Naruto."
"Sudahlah, bilang saja kau juga mau dengan Sakura, ya kan? ya kan? Oh, jangan bilang kau belum pernah?"
Topik ini lagi, topik yang paling Sasuke benci. Sungguh ia tidak ingin membicarakan privasi seperti ini dengan Naruto. Mereka bukan lagi anak SMA bisa yang bermain-main dengan perempuan.
"Diam, dobe. Berisik! Sudah, kau tidur sana!"
"Eh, maaf suamiku~, jangan marah yaaa~ hahaha." Naruto meniru suara Sakura, tentu saja tujuannya untuk menggoda Sasuke.
"Kau!" Sasuke mengambil buku tebal yang berada di meja kerjanya dan melemparnya ke kepala Naruto. Yak, tepat sasaran.
"Ittai! Aku bisa semakin bodoh, teme!"
"Keluar, berisik."
"Yasudah, iya iya." Naruto mengalah dan keluar dari ruangan itu. Tidak ada gunanya berdebat dengan Sasuke, toh yang menang juga pasti si pangeran raven itu. 'Lebih baik aku cari Hinata, dasar sahabat menyebalkan.' batin Naruto.
Tidak lama setelah itu, Sasuke yang sudah selesai mengemasi seluruh kertas yang tadi dibuka menutup pintu ruangan kerjanya. Ia kembali ke kamarnya dan berharap Sakura belum tidur. Meski tadi ia sudah menyuruh Sakura untuk istirahat terlebih dulu dan tidak perlu menunggunya. Rasa senang meliputinya saat mendapati Sakura yang masih duduk dan membaca buku. Sakura tidak mengunci pintu kamar yang ditempatinya, lebih tepatnya itu memang kamar Sasuke.
"Sasuke-kun, sudah selesai?"
"Kau belum tidur Sakura? Aku kan menyuruhmu tidak usah menunggu." Sasuke berjalan mendekat ke arah Sakura.
"A-aa, i-itu.. aku hanya ingin menunggumu." wajah Sakura memerah seketika.
"Hn? Aku senang kalau begitu."
Sakura memberanikan diri menatap Sasuke tepat di matanya. Yang ia temukan adalah wajah Sasuke yang tengah tersenyum padanya. Sungguh hal ini semakin membuat wajah Sakura memerah seperti tomat. Sasuke tertawa kecil melihat wajah Sakura yang menurutnya lebih tampak seperti udang rebus dibanding tomat.
"Hei, biasakan dirimu. Kita akan segera menikah." Sasuke mengambil posisi diatas tempat tidur dan memeluk Sakura setelah mengucapkan kalimat itu.
Dalam dekapan Sasuke, Sakura juga dapat mendengar detak jantung Sasuke yang tak kalah cepatnya dengan detak jantungnya. Sakura begitu nyaman, hingga ia tangannya bergerak sendiri membalas pelukan dari Sasuke. Mereka seperti membagi kehangatan di malam yang dingin ini.
"Sudah dini hari, sebaiknya kita istrahat, Sakura."
"Baiklah."
Mereka tidur bersama di ranjang besar milik Sasuke. Memang ini bukan pertama kalinya, karena semalam mereka juga seperti ini. Sasuke yang melihat calon istrinya malu-malu, terlebih dulu mendekap Sakura. Sakura balas mendekap Sasuke. Tak lama setelah itu, mereka terlelap dalam hangatnya pelukan tersebut.
POV: Normal
Hari ini Sasuke kembali bekerja setelah cuti selama 2 hari. Rencana untuk mencari Itachi dan mengganti mobil ditunda dahulu, Sakura juga sudah sepakat. Sakura kembali magang dirumah sakit, mengingat dokter yang mengajarinya adalah calon suaminya sendiri Sakura merasa lega sekaligus geli. Oh, memang ia sudah berusia 21 tahun. Tapi ia tidak menyangka juga akan mendapat seorang suami tampan secepat ini. Ah Sakura semakin malu memikirkannya. Dan sekarang disini lah mereka, ruang praktek Sasuke. Sasuke terlihat membaca beberapa dokumen dengan tenang. Sakura hanya duduk diam di sofa. Ia sesekali menggelengkan kepalanya mengingat Sasuke adalah calon suaminya, bukan lagi dokter yang menjadi mentornya.
"Kau kenapa, Sakura?"
"Eh? Tidak, tidak ada apa-apa."
"Jangan bohong padaku."
"Em, aku hanya sedikit terkejut dengan perubahan hidupku."
"Hm? Kau tidak bahagia?"
"Bukan, bukan seperti itu, Sasuke-kun. Hanya saja aku merasa ini begitu cepat. Tapi jujur aku sangat bahagia."
"Terlalu cepat yah? Apa kita memang harus menundanya?"
"Ku-kurasa tidak perlu."
"Yakin?"
"Ya, aku yakin. Aku percaya pada Sasuke-kun."
Sebuah senyuman terukir pada wajah Sasuke. Siapa yang tidak bahagia mendengar gadis yang dicintai berkata ia percaya pada dirimu? Sasuke mendekati Sakura yang duduk di sofa. Ia mendekatkan dirinya dan sedikit menekan badan Sakura dan memeluknya. Sakura yang menyadari tentu saja malu, wajahnya memerah lagi.
"Sa-sasuke-kun."
"Hn? Aku tidak boleh memelukmu?"
"Bukan, ini 'kan di rumah sakit."
"Tenanglah, aku tidak ada praktek hari ini." Sakura mengangkat sebelah alisnya dan menatap Sasuke tidak percaya. Ia merasa dokter satu ini sedikit seenaknya, mengingat dokter ini memiliki sepuluh persen saham di rumah sakit.
"Jangan menatapku seperti itu, aku memang tidak ada praktek hari ini." sambung Sasuke dengan tegas.
Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Sasuke menatap dalam mata Sakura. Ia segera melumat bibir merah muda yang berada di hadapannya itu. Awalnya Sakura tersentak, sampai pada akhirnya Sakura pasrah. Sebenarnya Sakura juga menikmatinya, bahkan ia sedikit membalas ciuman dari Sasuke. Sasuke yang tidak puas hanya dengan ciuman saja, mulai menjamah tubuh Sakura. Dan menyelinapkan tangan satu-satunya ke dalam pakaian Sakura.
"Sa-sasuke-kun~"
"Ada apa?"
"A-apa boleh kita melakukan hal ini?"
"Dasar. Kau lupa kau 'calon istriku'? " Sasuke menekan kata calon istri itu seberat mungkin dengan suaranya.
Sakura hanya terdiam. Ah, benar juga, batinnya. Sakura yang notabenenya calon dokter itu, tidak mungkin tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi jika ia tidak menolak. Tapi sedari tadi tubuhnya memang tidak menolak perlakuan Sasuke. Hm, kau juga menikmatinya 'kan Sakura?
"Hn, bagaimana jika kau langsung jadi 'istriku' saja?"
"Sa-sasukeee~!"
Sasuke menindih Sakura di sofa tersebut. Ia melanjutkan aksinya. Jam dinding yang terus berdetak itu akan menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka dalam ruang praktek Sasuke.
POV: Sasuke
Jangan tanya apa yang aku lakukan tadi. Sebagai seorang lelaki, ralat, calon suami. Wajar saja bukan? Entah mengapa Sakura itu semakin hari semakin menggoda. Atau memang aku yang sedang tidak beres? Entahlah, aku tidak perlu berpikir berat seperti itu. Toh Sakura menerima semua perlakuanku tadi.
"Sakura, kenapa kau tak bilang kau masih perawan?" Aku melirik noda darah yang terbekas di atas sofa. Hm, mungkin nanti aku yang akan membersihkannya, sebagai bentuk tanggung jawab.
"Pertanyaan macam apa itu, Sasukeee!" Wajah Sakura memerah seketika. 'Hm, begitu saja sudah malu lagi.' batinku.
"Hei, hei. Kau ini calon dokter. Begitu saja sudah malu? Ck, ck, ck." aku menggelengkan kepala.
"Ya kalau ke pasien 'kan berbeda."
"Oh, jadi kau akan biasa saja jika berbincang seperti itu dengan pasienmu?"
"Bukan itu maskudnya. Kalau denganmu, ah kau tau sendiri maksudku!" Sakura memalingkan mukanya dan membenarkan pakaiannya. Semalu itukah Sakura denganku?
"Hn? Tidak Sakura, aku tidak tahu jika kau tidak berkata." Aku memancing Sakura untuk mengatakannya padaku.
"A-aku kan punya pe-perasaan pa-padamu, jadi wajar saja a-aku akan ma-malu jika kau yang bertanya seperti itu." Sakura menundukkan kepalanya, tidak berani menatapku.
"Hn? Perasaan? Perasaan seperti apa?" Aku memeluknya dari belakang.
"Oh, Sasuke! Cukup!" Ia melepaskan pelukanku dan menatapku tajam.
"Ayolah, Sakura. Mau berapa kali aku berkata bahwa aku ini calon suamimu, hm?"
"A-aku mencintaimu." Ah, kata itu lepas juga dari mulut Sakura. Aku sungguh bahagia mendengarnya. Meski ia masih tidak berani menatapku saat mengatakannya.
"Ya, aku tahu."
"Apa? Balasanmu hanya itu?"
"Jadi? Apa maumu? Melakukan yang 'kegiatan' tadi lagi?"
"Kau gila, Sasuke? Aku tidak pernah meminta."
"Ya, tapi kau tidak menolak."
"Sasukeeeeee" Sakura mencubitku tepat di pinggang kanan.
"Aw! Teganya kau, Sakura!"
"Huh, biar. Kau kira kau siapa kau berkata seenaknya padaku!"
Oh, Sakura mulai berani berteriak padaku. Heh? Pernyataan macam apa itu. Haaa, sepertinya memang aku perlu mengulangi ucapanku lagi.
"Hei, kau istriku. Masih tidak mengerti?" Kali ini aku hilangkan 'calon' nya.
Sakura hanya diam, tapi ia melirikku dengan pandangan tidak suka.
"Ini sudah jam makan siang, Sakura. Aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Aku mau makan, mana bentoku?"
"APA? Tadi kau yang mengajakku berdebat, Sasuke. Sekarang kau membalikkan fakta dan memerintahku seenaknya? Jadi itu yang kau maksud dengan 'suami', hah, Sasuke?"
"Sakura, aku lapar." Aku serius dengan ucapanku kali ini. Aku memeluknya dari belakang dan menaruh kepalaku di pundaknya.
"Huh, dasar mesum!"
"Mau aku mesum dengan perempuan lain?"
"Sialan kau, Uchiha Sasuke! Aku akan membuang bentomu jika kau terus seperti ini!" Sakura melepaskan pelukanku.
"Ya sudah, aku makan saja bentomu." Aku mulai berjalan dan mencari bento yang dibawa Sakura. Hm, dimana ya ia menaruhnya?
"Sasuke! CUKUP!"
"Haaa~ Iya, iya. Kau tidak bisa diajak bercanda Sakura?"
"APA? Katakan sekali lagi, bercanda? Dari tadi kau bercanda? Mengapa tidak ada yang lucu, tuan Uchiha?"
"Oh, aku lapar, Nyonya Uchiha. Aku mohon bawakan bentoku ke sini, istriku~." Kali ini aku memohon sambil menunjukkan wajah cemberutku. Ya tentu saja aku tidak pernah menujukkan wajah seperti itu di depan siapapun, selain Sakura.
"Ha, hahah, hahaahaha" tawa Sakura menggema di ruang praktek tersebut. Aku hanya menatap malas ke arah Sakura, pasti ia menertawakan wajahku. Maka aku kali ini aku lemparkan wajah malasku kepadanya.
"Haha, hahaha, wajahmu semakin lucu. Ah, sudah sudah. Ini bentomu." Sakura mengambil bento dari laci dalam nakas di sebelah sofa.
Aku tidak mengomentari apapun, aku segera menerima bento itu darinya. Meski begitu aku tetap menatapnya tidak suka karena ia masih menertawakan ekspresi wajahku.
'Drrttt, drrrttt'
"Halo? Hn, iya.. hn. Baiklah, aku segera kesana. Ya, ya, aku mengerti."
"Dari siapa, Sasuke-kun?"
"Kapten, lebih tepatnya Tou-san. Dia menyuruhku membawamu ke markas sekarang juga."
"Hah? Ada apa?"
"Entahlah, kita akan tahu setelah sampai disana katanya."
"Baiklah, kalau begitu lebih baik kita makan terlebih dulu."
"Hn."
Aku dan Sakura segera menghabiskan makanan kami. Setelah itu kami berjalan keluar dari rumah sakit, dengan tidak mempedulikan tatapan tajam Karin yang duduk di depan ruanganku tentunya. Kami lebih mementingkan panggilan dari tou-san.
POV: Normal
Sasuke dan Sakura tiba di gedung tempat Sasuke biasa datangi saat malam hari. Sasuke sedikit terkejut, mendengar ayah angkatnya itu tiba-tiba memanggilnya dan menyuruhnya mengajak Sakura. Tapi pasti ada sesuatu yang sangat penting. Mereka berdua segera berjalan masuk. Tentu saja dengan arahan dari Sasuke, Sakura juga berhasil melewati perangkap yang dipasang di lantai 1, dan berusaha mengingat letak perangkap tersebut. Sebenarnya perangkapnya hanya laser. Namun laser merah itu bukan laser biasa, laser itu dapat menggosongkan kulit manusia maupun hewan, bahkan tumbuhan sekalipun akan kering jika terkena laser tersebut.
'Tiing' Lift sudah tiba di lantai 7.
Sasuke dan Sakura segera menuju ruangan kapten yang memimpin organisasi yang merangkap sebagai pemilik gedung ini. Sasuke tidak menghiraukan pandangan beberapa wanita seksi yang berada di lantai tersebut. Ada yang melempar pandangan malu, padangan menggoda, bahkan pandangan menyerahkan diri pada Sasuke. Harus Sakura akui, Sasuke memang tampan. Ditambah lagi sikap dinginnya yang dapat menarik perhatian wanita. Sakura jijik melihat reaksi wanita-wanita tersebut, sambil berjalan Sakura memang melirik mereka satu per satu dengan ujung matanya. Ada beberapa diantara mereka yang memandang tak suka pada Sakura. Tapi Sakura tidak peduli, toh tak saling kenal.
Begitu sampai di depan pintu ruangan kapten, Sasuke dan Sakura langsung diizinkan masuk. Mereka berdua pun segera berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut, mengingat lorong panjang yang harus dilewati sebelum sampai pada bagian ruangan yang digunakan.
"Tou-san, ada apa memanggilku dan Sakura?" tanya Sasuke to the point.
Dapat Sakura dan Sasuke lihat, ada seorang wanita dengan rambut merah yang terlihat duduk di sofa ruangan itu. Terlihat sang kapten menduduki sofa tunggal, tempat yang biasa ia duduki saat ada yang bertamu.
"Sasuke, Sakura, kemarilah. Duduk di sini." sang kapten, yang bernama Kakashi itu menunjuk ke sofa yang berada di depan sofa yang diduduki wanita itu. Sasuke dan Sakura segera mengambil tempat duduk.
Kakashi terlihat menghela nafas panjang. Seperti berat mengatakan sesuatu.
"Sakura, kenalkan. Wanita ini bernama Uzumaki Ayame."
"Uzumaki? Ada kaitannya dengan Naruto?" tanya Sasuke penasaran
"Dia.. ibu kandung Sakura."
Mata Sakura melebar, menatap wanita yang berada di hadapannya. Sasuke juga demikian. Sekilas memang wanita ini mirip sekali dengan Sakura. Matanya juga berwarna emerlard, ah bentuk wajah mereka juga sama. 'Mirip', batin Sasuke. Ia memandang Sakura dan wanita itu bergantian seolah tak percaya dengan perkataan ayah angkatnya.
Sakura yang masih belum bisa menerima kenyataan itu berusaha membalas senyum dari wanita itu. Senyum wanita itu begitu teduh, tapi sepertinya ia melewati banyak derita. Entah mengapa, Sakura tiba-tiba merasa iba pada wanita yang dikatakan sebagai ibu kandungnya itu meski ia belum mengenalnya.
Kakashi yang merupakan penengah dalam situasi tersebut memilih diam sesaat, membiarkan Sakura dan Sasuke mencerna keadaan ini. Sebelum ia membuka fakta-fakta yang mungkin akan lebih mengejutkan Sakura dan Sasuke lagi.
To be Continue
Akhirnyaaa, selesai juga!
Bagaimana? Mengecewakan tidak yah?
Shady belakangan ini takut mengecewakan readers, hmm..
Terima kasih sudah mengikuti fic ini :D
Jangan lupa reviewnya yaa~
Sincerely,
Shady.
