All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

Chapter 9 : Ferret dan Pangeran Slytherin adalah orang yang sama.

9.

Hermione merebahkan badannya di kasurnya, ia masih menggunakan baju kantornya, sepatunya bahkan masih terpasang. Hermione tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Ia dan Draco baru saja menghabiskan waktu bermenit-menit untuk berciuman di ruangan mereka.

Untung Hermione segera menyadari apa yang mereka lakukan lalu melepaskan tangannya dari leher Draco kemudian segera pergi.

Kenapa Draco menciumnya? Membuat semuanya tambah rumit.

Hermione menutup kepalanya dengan bantal. Draco Malfoy baru saja mengatakan bahwa ia menyukai Hermione dan tidak ingin dirinya kembali berhubungan dengan Cedric.

Apa yang harus dilakukan Hermione sekarang?

Hermione berpikir, apa ia masih mencintai Cedric?

Bahkan hanya dalam waktu satu hari ini saja ia tahu bahwa perasaannya tidak lagi sama. Ia tidak lagi mencintai Cedric Diggory.

Lalu apa ia mencintai Draco Malfoy? Well, mencintai terdengar sedikit muluk, mereka baru dekat beberapa hari, belum sampai dua minggu bahkan, tapi Draco berkata bahwa ia sudah menyukai Hermione sejak tahun ke tiga mereka di Hogwarts.

Tapi apa ia menyukai Draco?

Iya.

Bloody Hell !

Draco Malfoy menyukai Hermione Granger, dan Hermione Granger juga menyukai Draco Malfoy.

Hermione menyukai Draco. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?

.

Cedric Diggory sedang memeriksa laporan perusahaan ayahnya. Sebelum ini, perusahaan mereka dikelola oleh kakeknya, sementara ayahnya bekerja sebagai karyawan kementrian Departement of Magical Creature.

Tiga tahun belakangan ini karena kesehatan kakeknya menurun maka Amos Diggory akhirnya mengambil alih perusahaan.

Dua tahun yang lalu Cedric pergi dengan perjanjian bahwa ia akan membantu mengurus perusahaan mereka sekembalinya Ia dari perjalanannya. Cedric tidak menyangka ia akan menghabiskan waktu dua tahun untuk berpetualang, ia tidak menyadarinya tapi kemudian waktu sudah berlalu begitu saja.

Ia tidak menyesali kepergiannya, tidak, sama sekali tidak. Cedric melihat sisi dunia yang belum pernah dilihatnya sebelumnya, ia pergi ke Benua Amerika dan Benua Asia, ke negara-negara eksotis yang selama ini hanya di dengarnya atau dibacanya dari buku. Tapi tidak seharipun ia tidak merindukan Hermione Granger.

Satu-satunya yang disesalinya adalah Ia tidak mengajak Hermione bersamanya, dan sekarang gadis itu sepertinya tidak lagi mencintainya. Cedric bisa merasakannya, senyuman Hermione tidak lagi sama, caranya bicara, caranya tersenyum. Cedric tahu ia sudah tidak mengisi ruang hati Hermione lagi.

Tapi Cedric akan terus berusaha, berusaha agar Hermione mau kembali padanya.

Cedric menghela nafasnya melihat laporan perusahaan mereka, Cedric tidak menyangka perusahaan mereka bisa menjadi sebesar sekarang, setelah jatuhnya Voldemort perusahaan mereka yang bergerak di bidang yang sama dengan Malfoy Enterprise mengalami kemajuan yang pesat.

Banyak dari klien Malfoy Enterprise yang beralih ke perusahaan mereka kebanyakan disebabkan karena image keluarga Malfoy yang menjadi sangat negatif setelah perang, dan meskipun secara keseluruhan perusahaan milik keluarga Malfoy masih menguasai pasar, pangsa pasar perusahaan Diggory meningkat hampir 70%.

Cedric menguap, ia sudah terlalu lama duduk di kantor dan sepertinya sudah nyaris tidak ada karyawan yang masih berada di kantor. Cedric merapikan berkas yang ada di mejanya lalu berjalan keluar dari ruangannya.

"Akhirnya kau keluar juga." Kata Draco Malfoy yang duduk di ruang tunggu di depan ruangannya.

Cedric menaikkan alisnya sebelah, apa yang dilakukan Draco Malfoy di kantornya, duduk dengan mengangkat kedua kakinya di meja dan bertingkah sangat angkuh.

"Ada perlu apa Malfoy?" tanya Cedric berjalan mendekat.

"Aku hanya ingin memperingatkanmu tentang beberapa hal." Kata Draco berdiri.

"Tentang Hermione?" tanya Cedric menduga.

Draco menyeringai. "Betul sekali." Kata Draco penuh percaya diri. "Aku tahu kau dan Hermione punya sejarah, tapi Ia sudah tidak mencintaimu lagi, dan jangan berpura-pura kau tidak menyadarinya. Jadi selagi aku masih memperingatkanmu baik-baik sebaiknya kau melupakan Hermione." Kata Draco langsung tanpa tedeng aling-aling.

"Kau menyukai Hermione?" tanya Cedric.

"Bukankah sudah jelas?" tanya Draco.

Cedric tertawa. "Apa kau pikir kau akan mendapatkan Hermione dengan mudah? Apa kau pikir aku akan duduk diam karena kau datang dan mengancamku? Apa kau pikir Harry dan Ron akan membiarkan Ex-Death Eater mendekati sahabat mereka?" tanya Cedric.

Sekarang giliran Draco yang tertawa. "Apa kau pikir Hermione akan membiarkan orang lain menentukan sesuatu untuk hidupnya? Apa kau pikir Hermione berpikir seperti orang kebanyakan? Hermione tidak akan membiarkan statusku sebagai Death Eater menghalanginya jika ia memang menyukaiku." Kata Draco angkuh.

"Mari kita lakukan ini seperti laki-laki sungguhan Malfoy!" kata Cedric berusaha menjadi pria dewasa. "Kau menyukai Hermione? Aku tidak bisa melarangmu, maka biarkan Hermione yang memutuskan." Kata Cedric.

Draco tersenyum penuh kemenangan. "Sure, biarkan Hermione yang memutuskan." Kata Draco penuh kemenangan, lalu berjalan pergi.

Draco ber-apparating kerumahnya dan langsung menuju ke kamarnya tidak menyapa ibunya dulu seperti biasa.

-Flashback-

Draco tidak yakin apa ia masih hidup apa sudah mati, tapi seandainya sudah mati-pun pasti ia sekarang berada di surga. Draco mempererat tangannya di pinggang Hermione, bibir mereka berdua bergerak dengan cara-cara yang tidak dimengertinya. Draco tidak tidak ingin berhenti minum dari sumber air ini, Ia merasa seperti pengembara di padang gurun yang menemukan sumber air.

Hermione tiba-tiba menarik nafasnya. Draco melihat mata cokelat di depannya. Draco bisa melihat kalau Hermione sepertinya tidak percaya apa yang baru saja mereka lakukan. Hermione menarik dirinya dari pelukkan Draco lalu menutup mulutnya kaget.

"Astaga..." katanya shock. "Draco, apa yang baru saja kita lakukan?" tanya Hermione benar-benar tidak percaya. "Maafkan aku." kata Hermione lalu langsung pergi, ia megambil tasnya lalu berlari keluar ruangan.

Draco diam. Apa Hermione menyesali apa yang baru saja mereka lakukan? Apa yang harus ia lakukan, mengejar Hermione atau?

-End of Flashback-

.

"Gin." Kata Hermione memohon agar temannya itu datang kerumahnya sekarang juga. "Ayolah, aku sangat membutuhkan nasihatmu, tapi aku tidak bisa membiarkan Harry mendengar pembicaraan kita." Kata Hermione.

Ia sedang membuat makan malam sambil menelepon Ginny lewat ponsel Harry.

"Umm, baiklah Mione, aku akan datang sepuluh menit lagi oke?" kata Ginny.

"Oh, thankyou so much Gin…" kata Hermione benar-benar berterima kasih. Ia kemudian menunggu Ginny dengan sabar di sofa di depan perapiannya.

"Ada apa Mione?" tanya Ginny begitu ia muncul dari perapian.

Hermione menarik wanita hamil di depannya untuk duduk di sofanya yang paling nyaman, Hermione kemudian mengeluarkan sekotak ice cream dan mengambil sendok, memberikannya pada Ginny.

Ginny mulai makan sambil mendengarkan cerita Hermione.

Hermione menjelaskan semuanya. Bagaimana Draco mulai bersikap baik padanya, bagaimana Draco dan ia mulai dekat, bagaimana ia ingin sekali mencium Draco saat mereka pulang dari McDonald, bagaimana Draco terlihat cemburu karena ia dan Cedric makan siang bersama.

Dan bagaimana Draco akhirnya mengatakan bahwa ia menyukai Hermione. Terakhir bagaimana mereka berciuman di ruangan tadi.

Ginny tersedak saat Hermione menceritakan bagian terakhir.

"Jadi kau baru saja berciuman dengan Draco Malfoy? Kemudian kau pergi kabur begitu saja?" tanya Ginny dengan mulut penuh Ice Cream.

Hermione mengangguk.

"Oh, Hermione kau pasti sudah gila, bagaimana jika seseorang menciummu lalu kabur begitu saja? Malfoy pasti sekarang sedang sakit hati." kata Ginny berlebihan, meletakkan tangannya di dadanya, seakan-akan ia yang terluka.

Hermione berpikir sebentar, apa ia baru saja menyakiti perasaan Malfoy?

Ginny menghabiskan sendok terakhir dari kotak Ice cream yang ada dipangkuannya kemudian meletakkan kotak kosong itu ke meja, menarik nafasnya lalu menggeleng melihat Hermione.

"Apa kau menyukai Malfoy?" tanya Ginny.

Hermione mengangguk pelan.

"Lalu dimana masalahnya? Oh Hermione, sebagai The Brightest Witch of Your Age kau terkadang bisa sangat bodoh." Kata Ginny mencubit lengan Hermione.

"Awww…" kata Hermione menggosok lengannya yang dicubit Ginny.

"Kalau kau menyukai Malfoy, dan Malfoy juga menyukaimu lalu dimana masalahnya? Cedric? Itu risikonya, siapa suruh ia pergi? Bukan salahmu kau tidak mencintainya lagi dan kemudian move-on." Kata Ginny.

"Berhentilah memikirkan perasaan orang lain dan lakukan apa yang membuatmu bahagia!" kata Ginny.

"Tapi aku tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa aku tidak mencintai Cedric Lagi. Aku akan melukai perasaannya Gin." Kata Hermione menjelaskan.

"Itu risiko dalam percintaan Mione. Kau tidak bisa berharap semua orang bahagia, pasti ada yang terluka." Kata Ginny menjelaskan.

Hermione menghela nafasnya. "Aku tidak bisa pergi dan mengatakan pada Cedric bahwa aku tidak mencintainya lagi, dan aku juga tidak bisa langsung melompat ke pelukkan Malfoy lalu mengatakan aku juga menyukainya." Kata Hermione.

"Kenapa tidak bisa?" tanya Ginny tidak mengerti.

"Karena tidak bisa Gin." Kata Hermione lagi menjelaskan pada sahabatnya itu.

"Aku tidak habis pikir, kenapa jalan pikiranmu rumit sekali?" tanya Ginny.

Hermione menghela nafasnya.

.

Sampai akhir minggu itu Hermione terus menghindari Draco dan Cedric. Tidak membiarkan kedua pria itu mendekatinya dan bicara dengannya.

Hermione selalu langsung ber-apparating dari apartementnya ke dekat kementrian agar Cedric tidak mengantarnya, saat pulang ia juga langsung kabur sebelum salah satu dari mereka berdua sempat mencegatnya.

Saat jam makan siang Hermione langsung pergi untuk makan siang dengan Ron dan Harry, menghindari Draco. Meskipun dua sahabatnya itu masih belum minta maaf atas kejadian tempo hari, tapi Hermione sedang terdesak sehingga akhirnya Ia yang terpaksa bicara pada mereka duluan.

Draco nyaris mencegatnya hari Jumat, untung saja Harry muncul dan memanggilnya. Hermione segera berlari menghampiri Harry dan pergi meninggalkan Draco.

Draco tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Hermione membuatnya gila. Sebenarnya bagaimana perasaan perempuan itu padanya? Kenapa waktu itu Hermione membalas ciumannya lalu keesokan harinya bertindak seperti mereka tidak kenal satu sama lain.

Satu hal yang bisa membuat Draco menahan dirinya adalah karena ia tahu bahwa Hermione juga bertingkah seperti itu pada Diggory. Beberapa kali Diggory datang dan mendapat perlakuan yang sama seperti dirinya. Hermione mengacuhkan mereka berdua.

Ada beberapa teori yang berputar dalam pikiran Draco.

1. Hermione Granger tidak menyukai salah satu diantara mereka berdua.

2. Hermione Granger menyukai Draco Malfoy

3. Hermione Granger menyukai Cedric Diggory

4. Hermione Granger menyukai mereka berdua.

Satu hal yang Draco tahu pasti. Hermione Granger wanita yang rumit.

.

Draco terpaksa menghadiri pesta keluarga Greengrass. Sekarang ia duduk di bar, seperti orang bodoh sementara orang-orang lain menikmati pesta.

Tadinya Draco sudah tidak ingin datang, tapi ia merasa tidak enak pada akhirnya. Lagipula Ibunya memintanya datang baik-baik.

"Draco!" Seseorang menepuk pundaknya.

"Blaise?" tanya Draco tidak percaya siapa yang dilihatnya.

"Mate!" Blaise berseru. "Aku rindu padamu." Kata Blaise lalu memeluk Draco.

"Ewh… Lepaskan aku, sejak kapan kau bertingkah seperti perempuan." Kata Draco tidak ingin dipeluk lama-lama oleh Blaise.

Blaise tertawa. "Kau tidak berubah." Kata Blaise.

"Kapan kau kembali ke Inggris?" tanya Draco.

"Aku baru tiba kemarin malam." Kata Blaise menjawab, ia sudah duduk di samping Draco dan baru memesan minuman pada bartender.

"Apa yang membuatmu kembali? Kau kembali untuk menetap atau hanya singgah?" tanya Draco.

"Aku akan menjawabnya nanti." Kata Blaise tidak begitu ingin membahas kehidupannya, ia lebih penasaran akan kehidupan Draco. "Tell me!" kata Blaise memulai. "Apa yang kau lakukan disini? Duduk sendirian seperti pria kesepian." Kata Blaise.

Blaise tahu Draco bukan tipe pria yang akan datang ke pesta seorang diri. Ia bahkan mengira bahwa Draco akan terus berdiri di samping Astoria sepanjang acara, tapi anehnya Draco malah duduk disini.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin duduk dan minum." Kata Draco menjawab.

Blaise menyipitkan matanya. "Apa kau sudah punya seorang perempuan sekarang?" tanya Blaise menduga.

Draco menghela nafasnya.

"Oh Astaga! Ini sangat menarik. Slytherin Sex God jatuh cinta pada seorang perempuan. Wow mate!" kata Blaise menepuk pundak Draco. "Aku bahkan tidak menyangka kau punya hati." Kata Blaise lalu tertawa.

"Sial." Kata Draco.

"Ayolah, kita pergi dari sini!" kata Blaise. "Aku ingin minum kopi dan kau harus menceritakan, siapa perempuan yang akhirnya berhasil menaklukan hati Our Slytherin Prince." Kata Blaise menyeret Draco pergi dari pesta tidak penting ini.

.

"Hermione Granger?" tanya Blaise tidak percaya. "Maksudmu Hermione Granger? Hermione Bloody Granger? Bushy-hair-know-it-all? Member of golden trio? Best friends of the boy who lived to be pain in our arse?" tanya Blaise tidak percaya.

"Well, jika kau meneriakkanya seperti itu maka semua orang akan tahu tentang hal ini dalam kurun waktu lima detik." Kata Draco.

"Ups. Sorry mate" kata Blaise memelankan suaranya. "But, Seriously? Hermione Granger?" kata Blaise masih sulit percaya.

-Flashback-

"Ku rasa Draco menyukai Granger." kata Theo berbisik.

"Jangan bercanda." Kata Blaise masih sibuk makan.

"Kau tidak melihat bagaimana cara Draco memperhatikan Granger? Seperti siap menerkam kapan saja." Kata Theo lagi.

"Mungkin karena Draco membencinya." Kata Blaise akhirnya memperhatikan Draco yang memang sedang melihat ke arah meja Gryffindor.

"Berbeda Blaise!" kata Theo. "Ada sesuatu dengan cara Draco menatap Granger, ada yang berbeda." Kata Theo menjelaskan.

Blaise mengangkat bahunya. "Jangan berasumsi yang aneh-aneh, kau pikir Draco akan menurunkan seleranya untuk seorang muggle-born?" tanya Blaise.

Theo melihatnya. "Kurasa kau benar." Kata Theo menyerah akan argumennya.

-End Of Flashback-

"Jika Theo mendengar hal ini ia pasti akan men-hex ku." Kata Blaise menceritakan percakapannya dengan Theo waktu itu.

Draco tertawa pelan, ia meminum kopi panas yang ada di depannya, minum kopi seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada mabuk di bar sendirian.

"Aku tidak pernah menyangka akan melihat hari ini, hari dimana Draco Malfoy jatuh cinta, terlebih lagi pada seorang Muggle-Born, Gryffindor Princesss." Kata Blaise masih sulit percaya.

"Sudahlah Blaise, kau tidak perlu membuat seisi dunia sihir tahu!" kata Draco mulai kesal. "Jadi apa yang menyebabkan kau kembali ke Inggris?" tanya Draco pada Blaise, berharap perhatian temannya teralihkan.

"Aku akan menikah." Kata Blaise senang.

"Benarkah?" Tanya Draco tidak percaya. "Baiklah, siapa perempuan sial yang akan menanggung penderitaan sepanjang hidupnya dengan menikah dengan pria brengsek sepertimu?" tanya Draco lagi.

Blaise tertawa. "Setidaknya istriku nanti akan lebih beruntung daripada istrimu." Kata Blaise.

"Jadi, siapa orangnya?" tanya Draco lagi.

"Pansy."

Draco menyemburkan kopi yang sedang diminumnya.

.

Draco baru sampai di rumahnya saat Lucius sudah menunggunya di depan pintu.

"Kau pergi kemana?" tanya Lucius marah.

"Ke pesta keluarga Greengrass." Kata Draco berusaha tetap tenang.

"Ayah Astoria bilang kau menghilang ditengah-tengah pesta! Kemana kau pergi?" tanya Lucius berteriak.

"Aku bertemu dengan Blaise dan kami pergi untuk minum kopi." Kata Draco tenang, ia tidak ingin membuat ibunya terbangun.

"Jangan bohong!" kata Lucius lagi, ia sepertinya benar-benar marah.

"Untuk apa aku bohong?" tanya Draco mulai terpancing juga amarahnya. "Terserah jika Kau tidak percaya! Aku lelah." Kata Draco kemudian berjalan menuju ke kamarnya.

"Draco, kembali kesini! Aku belum selesai bicara! Kau seharusnya mendekati Astoria! Bukannya malah pergi dari pesta tanpa pamit!" kata Lucius berteriak meskipun Draco tetap berjalan menuju ke kamarnya tanpa berbalik.

Draco masuk ke kamarnya, mengganti pakaiannya kemudian memanggil peri rumahnya.

"Seezy." Kata Draco dan dengan cepat suara 'pop' terdengar disampingnya.

"Master Draco memanggil Seezy?" tanya Seezy membungkuk.

"Aku tidak ingin siapapun menggangguku besok, tidak Mom, tidak Lucius." Kata Draco memberi perintah.

"Baik Master Draco. Seezy mengerti." Kata Seezy.

"Kau boleh pergi Seezy." Kata Draco.

Keesokan harinya, Draco hanya bermalas-malasan di kasurnya, sepanjang hari, ia hanya membaca buku, kemudian tertidur, kemudian terbangun dan meminta seezy membawakannya makanan. Lagipula ini hari Sabtu dan ia hanya ingin beristirahat.

Draco sedang memikirkan nasihat yang didapatnya dari Blaise tadi malam. Apa ia harus mendengarkan nasihatnya atau tidak, bagaimana ia menerapkan nasihat itu pada hubungannya dengan Granger.

Draco kembali mengingat ciumannya dengan Granger sore itu. Jika seperti itu rasanya mencium seseorang yang kau cintai, maka Draco tidak akan pernah mau mencium perempuan lain lagi.

Draco ingat bagaimana Hermione melingkarkan tangannya dilehernya, membalas ciumannya. Shit. Draco harus mandi air dingin lagi.

Sekitar pukul empat sore, Seezy muncul di kamarnya.

"Master. Ada surat." Kata Seezy memberitahu. Draco bangun dari kasurnya dan mengambil gulungan yang diberikan Seezy.

Malfoy.

Mr. Cole meminta dua orang dari departement kita untuk membantu panitia New Year's Ball. Apa kau bisa membantuku?

-HJG-

Draco bingung harus membalas apa, tentu saja ia ingin membantu Hermione, tapi beberapa hari ini gadis itu terus mengacuhkannya dan menghindarinya. Draco menimbang-nimbang dalam hatinya.

Granger.

Sure.

Draco Malfoy

.

Hermione menunggu dengan cemas jawaban Malfoy, ia sudah meminta bantuan rekan kerjanya yang lain, tapi semuanya menolak dengan berbagai alasan, dan hanya tinggal Malfoy yang belum ia hubungi.

Sebenarnya Hermione tidak ingin meminta bantuan Malfoy, apalagi beberapa hari ini ia terus mengabaikan Malfoy.

Saat Adler mengetuk di jendelanya, jantungnya berdebar. Ia segera mengambil gulungan surat yang ada di kaki Adler kemudian membukanya.

"Sure?" tanya Hermione tidak yakin apa yang baru dibacanya. Sure? Draco Malfoy, pria yang baru saja mengatakan bahwa ia menyukainya, hanya membalas suratnya dengan kata sure ?

Hermione meremukkan kertas yang dipegangnya dengan tangannya lalu melemparnya ke tong sampah.

"Oh, Hermione! Kau menyedihkan sekali." Kata Hermione kemudian menuju kekamarnya untuk mengasihani dirinya sendiri.

Ia yang pertama kali mengabaikan Malfoy, dan sekarang giliran Malfoy bersikap dingin padanya dan Ia yang kesal sendiri. Sebenarnya mauku apa? Pikir Hermione kesal.

Saat hampir menangis karena perasaanya memang sedang kacau balau, Adler mengetuk jendelanya lagi. Hermione berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Granger.

Tiket Sir Paul sudah ada ditanganku. Kau dan kedua orangtuamu hanya perlu datang hari Rabu malam.

Draco Malfoy.

Hermione menghela nafasnya lagi. Bagaimana ia bisa bertemu dengan Malfoy, menonton konser bahkan, terlebih lagi dengan kedua orangtuanya.

.

Hermione dan Draco menghadiri rapat besar panitia New Year's Ball pada hari Senin. Mereka berdua duduk bersebelahan di antara banyak orang. Ada sekitar 100 orang di ruangan itu. Hermione duduk dan memperhatikan banyak orang di sekitarnya.

Hermione dan Draco sampai di ruangan itu, mereka berdua belum bicara satu sama lain saat seseorang lewat di depan mereka, orang itu mundur lagi ketika menyadari bahwa Ia baru saja melewati Draco Malfoy, kemudian menyapa Draco.

"Draco." Kata orang itu sopan.

Draco hanya mengangguk kemudian orang itu pergi lagi. Hermione berusaha mengingat siapa orang itu, kemudian ingat bahwa orang yang baru menyapa Draco adalah wakil kepala bagian Departement of Muggle Relations, Slytherin, dua tahun dibawah mereka.

Kemudian tidak lama seseorang menepuk pundak Draco dari belakang dan menyapanya lagi, lagi-lagi Draco hanya menganggukkan kepalanya kemudian orang itu pergi. Sebelum rapat dimulai ada kurang lebih tujuh orang yang menyapa Draco seperti itu. Dan setelah Hermione pikir-pikir semuanya adalah Slytherin, beberapa lebih tua dari mereka, dan beberapa lebih muda. Bahkan beberapa jabatannya setingkat kepala bagian atau wakil kepala bagian.

Terkadang Hermione lupa kalau pria disampingnya ini masih seorang Pangeran Slytherin.

"Wow, Malfoy, kau memang benar-benar seorang Pangeran Slytherin." Kata Hermione sedikit takjub.

Draco melihat Hermione dengan tatapan aneh, ia tidak mengatakan apa-apa lalu mereka berdua diam lagi sepanjang rapat berlangsung.

Selama rapat berlangsung Hermione terus-menerus melirik Draco dari samping matanya, jantungnya berdegup, bagaimana mungkin pria di sampingnya bisa tetap tenang setelah kejadian Jumat lalu.

Setelah rapat mereka selesai, mereka berdua tergabung dalam divisi dekorasi dengan beberapa orang dari departement lainnya.

"Malfoy, kau mau makan siang bersama?" tanya Hermione setelah mengumpulkan keberaniannya, ia mulai penasaran tentang kelanjutan hubungan mereka, dan ingin tahu apakah ada kemungkinan untuk memulai sebuah hubungan dengan seorang Draco Malfoy.

Draco tersenyum. "Aku ada janji dengan seseorang." Kata Draco.

"Oh…" kata Hermione menahan rasa malunya, ia baru saja mengajak Malfoy makan siang bersama dan ditolak mentah-mentah.

Sialan. Pikir Hermione. Semoga wajahku tidak memerah, semoga, semoga!

Draco bisa melihat bahwa Hermione sedikit kecewa dengan jawabannya. "Aku duluan Granger." Kata Draco pergi.

Hermione melihat Draco pergi dengan mulut terbuka. Sekarang ia tidak ada bedanya dengan perempuan-perempuan lain yang menyukai Draco Mafoy. Mau diletakkan dimana mukanya?

Draco tersenyum sambil pergi menjauh. Hermione Granger, I Got You.

Draco pergi makan siang di restoran dekat kementrian dengan Blaise dan Theo. Blaise memberinya saran bagaimana cara mendapatkan Hermione Granger. Blaise meyuruhnya menggunakan trik tarik-ulur

Sure, Draco memang Slytherin Sex God, tapi hanya itu titik.

Ia bisa mendapatkan perempuan manapun, sedikit sekali perempuan yang menolak untuk tidur dengannya, bahkan mereka yang datang pada Draco, tapi masalah cinta? Mungkin anak laki-laki berumur 10 tahun lebih berpengalamannya darinya.

Dan Blaise memang benar. Hermione Granger bukan tipe perempuan yang mudah didapatkan, ia tidak bisa menggunakan modal tampangnya saja, atau hartanya saja, atau statusnya saja. Jika ia benar-benar menginginkan Hermione Granger, maka ia harus berusaha keras, membuat Hermione jatuh akan pesonanya. Pesona seorang Draco Malfoy

"Bagaimana? Kau sudah melakukan seperti apa yang beritahu?" tanya Blaise saat Draco datang dan duduk di depannya dan Theo.

Draco mengangguk.

"Benarkan Blaise!" kata Theo tidak bisa berhenti tersenyum. "Draco memang menyukai Granger." Kata Theo.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Draco pada Theo.

"Kurasa karena kau terus menerus melihatnya saat di Great Hall, setiap makan pagi atau siang atau malam seperti siap menerkamnya kapan saja."

"That Obvious?" tanya Draco, tidak percaya Theo menyadarinya.

Draco dan kedua temannya bicara banyak hal, Blaise terus-menerus memberitahunya bahwa ia harus menarik ulur Hermione seperti seorang Pofessional.

Blaise memaksa Draco untuk tetap cool selama beberapa hari, agar Hermione penasaran.

"Akhir minggu ini ia akan datang sendiri padamu Drake!" kata Blaise penuh percaya diri.

-To Be Continued-

Read and Review...

-dramioneyoja

.

.

Edited : 11/21/15