Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

*Not own anything of Naruto.

*This story is originally made by me.


Future Depends On You

Written by Shady (DeShadyLady)

Chapter 11: Test Subject (Subjek Percobaan)


POV: Normal

"Nghh.." Sakura berusaha membuka matanya, kepalanya terasa pusing. Pandangannya kabur, ia berusaha mengedipkan matanya berulang kali agar penglihatannya kembali cerah. Betapa terkejutnya dia. Ini… ruangan ini, tempat ini… Oh! Ini! Ia merasa pernah berada di tempat ini! Bahkan saat pingsan setelah dari kedai ramen hari itu, ia juga merasa melihat bayang-bayang dari ruangan ini.

"Ini.. sebenarnya ini dimana?" tanya Sakura entah pada siapa.

"Wah wah, kau sudah siuman, cantik?" tampak Sasori yang datang membawa sejumlah perkakas medis, seperti jarum suntik dan beberapa pisau bedah dalam nampan besi. Sasori sangat menginginkan tubuh Sakura untuk menjadi boneka kayunya. Karena hal ini, ia memberanikan diri menculik Sakura ke laboratorium ini. Sebenarnya Sasori sudah tahu kekasih Sakura, Uchiha Sasuke. Tentu saja ia takut dengan Sharingan milik Sasuke, tapi ia mengadu nasib dengan menculik Sakura saat Sasuke tidak ada.

Sakura yang menyadari barang-barang itu tentu saja langsung memberontak. Tapi tidak ada gunanya, Sakura diikat di atas ranjang pasien dengan erat. Sasori hanya tersenyum sinis melihat Sakura yang tidak dapat terlepas dari ikatannya. Ia meletakkan nampan berisi alat itu di samping ranjang pasien Sakura.

"Hm, bagaimana? Ikatanku sangat erat, bukan? Hahaha.." ucap Sasori sambil mengelus pelan dagu Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya, menolak sentuhan Sasori. "Jangan sentuh aku, makhluk menjijikkan!"

"Hah? Makhluk menjijikkan katamu? Bahkan kekasihmu itu jauh lebih menjijikkan dariku."

"A-apa maksudmu?"

"Kau tidak tahu? Sudah kuduga, harga diri si Uchiha itu tinggi sekali sampai tidak memberitahumu."

"A-apa? Jangan berbicara tidak-tidak mengenai Sasuke-kun!"

"Hahaha, kau itu memang sangat mudah dibohongi, Sakura. Sasuke itu hasil percobaan dari lab ini, kau tahu?"

"A-APA?" Mata Sakura membulat.

"Hahaha, hahaha. Aku sungguh menikmati menyiksamu luar dalam seperti ini." Sasori tertawa sambil menahan perutnya.

"Kurang ajar kau, Sasori!" emosi Sakura tidak tertahankan lagi. Sakura amat sangat tidak suka bila ada yang menghinanya. Dan sekarang, Sasori menghina Sasuke.

Muncul tanda permata berwarna hijau di dahi Sakura, mungkin Sakura tidak menyadarinya, tapi tentu Sasori melihatya.

"Heeeaaaaa-!" teriak Sakura berusaha melepaskan diri. Dan benar saja, Sakura berhasil melepaskan dirinya.

Sasori terkejut. Apa-apaan semua ini? Apakah Sakura juga? Apakah Sakura juga bahan percobaan? Tapi tidak ada data mengenai Sakura di buku hitam. 'Atau aku tidak menyadarinya?', batin Sasori.

"Kau! Tak akan kubiarkan kau menyakitiku lagi! Shannaroooo!" Sakura tidak mengerti, ia hanya merasakan tubuhnya penuh dengan energi.

-buaaghh

Sebuah tinju langsung ia layangkan pada pipi Sasori.

-brukkk

-sraaaakk

Sasori terpental sampai ke bagian luar dari laboratorium ini.

"Hah, hah, hah" nafas Sakura terpenggal, ia berjalan keluar mendekati ke tempat Sasori tersungkur.

"Heh, lumayan juga kau. Tak kusangka, kau adalah wanita penghancur dengan code name 'Destroyer' itu."

"Kau tak usah mengarang cerita yang tidak benar! Mati kau!" Sakura hendak melayangkan tinju lainnya lagi pada Sasori, tapi-

-dakkk

Tangan Sakura dihadang oleh sesuatu, seperti kayu.

-kakakakakak

Terlihat dua boneka kayu berukuran seperti manusia muncul di depan Sasori. Boneka tersebut besuara sambil terus menggertakkan giginya. Sakura tampak tak takut sekalipun, ia tak gentar.

"Jangan kira hanya kalian yang dicoba. Hahaha. Aku jauh-jauh hari sudah menjadi bahan percobaan terlebih dulu. Dasar ingusan." Selesai mengucapkan kalimatnya, Sasori menyerang Sakura. Tampak benang biru muda di jari-jarinya, digunakan untuk mengontrol kedua boneka tersebut.

Sakura berhasil menghindar. Namun Sasori belum menyerah, ia terus menerus memojokkan Sakura.

Kanan kiri kanan kiri, begitu terus menerus. Boneka kayu yang dikendalikan Sasori menyerang Sakura.

Tubuh Sakura seperti bergerak sendiri, ia berhasil mengelak seluruh serangan dari Sasori.

Sakura yang menyadari adanya celah, langsung bertindak cepat. "Shannaroooo!" ia melancarkan serangan tepat di perut kedua boneka kayu Sasori. Kedua boneka kayu itu terbelah dua seketika. Ia terus maju dan akhirnya memukul perut Sasori bertubi-tubi hingga Sasori tidak sadarkan diri.

"Haah, haaa, haah." Nafas Sakura masih terengah. Tanda permata di dahinya sudah memudar dan kemudian hilang. Tak lama kemudian, sekelilingnya kabur, badannya lemas, ia tertidur setelah itu.

:::

Flashback On – POV: Normal

Sasuke dengan malas mengemudikan mobilnya ke tempat Naruto berada. Hanya karena ucapan 'tentang percobaan, tentang Sai' ia rela membatalkan jadwal prakteknya hari ini. Yah, mau bagaimana lagi. Memang menjadi subjek percobaan itu tidak mungkin dapat hidup menjadi manusia biasa dengan tenang. Tapi dengan adanya percobaan ini, buktinya Sasuke menjadi lebih kuat dan lebih cekatan dibanding orang biasa. Sama halnya dengan Naruto, meski Naruto itu memang sudah sangat energik dari sejak lahir hingga saat ini.

Sasuke memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Naruto. Kemudian ia berjalan masuk ke tempat kejadian perkara. Dari luar, tempat ini terkesan seperti gudang.

"Oi, teme! Akhirnya kau sampai juga. Pakai ini." Naruto memberi name tag yang bertuliskan Police padanya. Hal ini sudah sering mereka lakukan, Sasuke, menyamar menjadi salah satu anggota polisi. Hanya Shikamaru, kepala detektif, yang tahu bahwa Sasuke bukan polisi. Ia tahu bahwa Sasuke adalah teman Naruto yang jenius dan entah mengapa suka sekali ikut campur. Meski begitu, Shikamaru tidak pernah melarangnya, karena Sasuke sering membantu mereka memecahkan beberapa kasus. Bahkan Shikamaru melindungi Sasuke saat ada orang yang curiga bahwa ia bukan polisi pada suatu kasus dulu.

"Hn." Sasuke memeriksa sekelilingnya. Gudang ini ternyata.. laboratorium!

"Teme, dari informasi yang ku dapat, ini adalah lab milik Sai. Kau tahu kan dia sering berpindah-pindah?"

"Hn, aku selidiki dulu. Kau kembali lah ke sana." Naruto hanya mengangguk mengerti dan membiarkan Sasuke berkeliaran dalam lab tersebut.

Sasuke merasa laboratorium milik Sai ini kurang lengkap. Sebagai subjek percobaan tentu ia sangat sering bolak balik laboratorium sewaktu kecil, sampai ia bosan dan menghapal seluruh alat yang mereka gunakan. Matanya tertuju pada sebuah buku hitam tebal. Di sampul buku tersebut terdapat tulisan "BLACK BOOK".

Sasuke memakai sarung tangan yang sempat ia ambil diam-diam dari tim forensik tadi, kemudian berjalan menuju buku hitam tersebut. Ia mengangkatnya dan membukanya perlahan karena dari luar kertas buku ini terlihat sudah tua dan menguning. Betapa terkejutnya ia dengan apa yang dibacanya sekarang.


Test Subject 001

Manusia dengan penggabungan 5 jantung, berpotensi hidup abadi. Dapat menyambung usia dengan mengambil jantung manusia lainnya.

Code name: The Undead

Jenis Kelamin: Laki-laki

Status: Tewas saat percobaan pemasukan jantung ke-6 oleh dirinya sendiri.

Ciri-ciri fisik: Memakai masker, bermata hijau, berkulit coklat.

Rentang waktu percobaan: sekitar 15 tahun.

Ketahanan subjek: 30 – 91 tahun.


Beberapa halaman kemudian adalah penjelasan mengenai cara yang mereka gunakan untuk memanipulasi tubuh manusia agar tubuh tersebut menerima lebih dari 1 jantung. Begitu juga dengan halaman-halaman berikutnya. Berisi biodata subjek percobaan, kemudian penjelasan bagaimana percobaan itu dilakukan.

Sasuke menelan ludah saat membacanya. Entah mengapa yang menariknya hanya beberapa halaman biodata yang tidak tercantum foto subjek percobaannya. Maka ia memutuskan untuk membuka halaman-halaman berikutnya.


Test Subject 053

Subjek dapat mengeluarkan benang biru dari jari-jarinya, digunakan untuk mengendalikan boneka kayu. Subjek mempunyai obsesi terhadap beribu boneka kayu yang dibuatnya. Hingga dalam pengecekan status ke 15, subjek meminta tubuhnya disatukan dengan boneka kayu. Percobaan berhasil, sehingga subjek tidak membutuhkan makan ataupun minum untuk bertahan hidup. Subjek dapat hidup selagi jantungnya tidak ditusuk.

Code name: Puppet Guy

Jenis kelamin: Laki-laki

Status: Hidup

Ciri-ciri fisik: Berambut merah, bermata coklat, terkadang menyembunyikan diri di dalam boneka kayunya.

Rentang waktu percobaan: 3 tahun.

Ketahanan subjek: 20 tahun – sekarang.


Sasuke hanya dapat tercengang dalam diam melihat apa yang ada dihadapannya. Sasori, pria yang merupakan mantan kekasih Sakura, juga merupakan hasil percobaan. Tapi tentu saja Sasuke tidak takut, dia malah tersenyum remeh. 'Heh? Obesesi pada boneka? Dasar banci. Untung saja Sakura menemukanku yang jauh leih jantan darimu.', batin Sasuke dengan percaya diri. Sasuke memperhatikan sesuatu, kolom ketahanan subjek. Menurutnya itu seharusnya ditulis usia awal percobaan hingga berapa umur subjek tersebut saat meninggal.

Sasuke membuka lagi halaman-halaman berikutnya. Kali ini ia sungguh tersentak.


Test Subject 143

Percobaan Serum Red Blood.

Anak bungsu dari sekeluarga yang mencoba serum ini. Serum berjalan dengan baik, sesuai dengan DNA subjek. Subjek harus membunuh untuk mengaktifkan mata merah yang berharga, Sharingan. Sharingan hanya dapat berkembang dengan membunuh. Sharingan yang berkembang akan sangat membantu subjek saat bertempur maupun melindungi diri.

Imunitas dan tingkat ketahanan tubuh subjek sudah sangat baik. Subjek akan dapat bertahan meski tidak tidur selama 10 hari. Intelijensi subjek terus bertambah dan berkembang melebihi anak seusianya. Subjek juga memiliki kemampuan bergerak dalam kegelapan ataupun saat menutup mata. Subjek diyakini akan tumbuh kuat dan jenius, sekaligus berbahaya bila dia menjadi musuh.

Code name: Venomous

Jenis kelamin: Laki-laki

Status: Hidup

Ciri-ciri fisik: Berambut hitam kelam dan mencuat ke belakang, matanya sehitam rambutnya.

Rentang waktu percobaan: 1 tahun 3 bulan.

Ketahanan subjek: 5 tahun – sekarang.


Sasuke tidak percaya, bahkan biodata dirinya juga ada di dalam buku tersebut. Selebihnya, ia dikejutkan dengan kemampuannya untuk bergerak dalam kegelapan. Ternyata semua kemampuannya hasil percobaan. Sasuke sungguh merasa seperti monster. Bahkan code namenya, astaga, Venomous? Bisa? Racun? Sasuke hanya diam, sekarang ia merasa menjadi iblis atau setan yang akan menghancurkan Bumi. Mungkin yang dimaksud 'racun' itu adalah saat dririnya menyerang. Dirinya akan menjadi 'racun' bagi para peneliti. Sasuke tahu benar kehebatannya, hanya saja ia tidak ingin memamerkan seluruh kemampuannya. Ia cukup lama membaca profilnya sendiri yang tertulis di buku itu.

'Astaga, buku ini tidak boleh jatuh ke pihak kepolisian. Bisa-bisa polisi itu memburu satu per satu orang yang ada di buku ini dan membunuh semuanya', batin Sasuke. Sasuke masih ingin hidup dan menikah dengan Sakura, tentu saja ia tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Rasa penasaran Sasuke tidak habis sampai disana. Ia kembali ke halaman sebelum percobaan mengenai dirinya ditulis. Dan benar saja, Sasuke sudah menduga apa yang akan ia temukan.


Test Subject 142

Percobaan Serum Red Blood.

Anak sulung dari sekeluarga yang mencoba serum ini. Serum bekerja baik dengan DNA subjek. Sharingan sudah bangun beberapa hari setelah percobaan dilakukan. Subjek diduga melihat sahabatnya sendiri tertabrak mobil. Imunitas dan intelejensi subjek berkembang pesat.

Subjek diyakini akan berkembang melebihi kedua orang tuanya dan adiknya. Sehingga para ilmuwan sepakat menambahkan serum 'Changer'. Serum tersebut memungkinkan subjek berpindah tempat dalam sekejap dengan menggunakan bantuan hewan sebagai wujud klamufasenya. Subjek memilih burung gagak. Berhati-hatilah dengan subjek ini.

Code name: Crimson Crow

Jenis kelamin: Laki-laki

Status: Hidup

Ciri-ciri fisik: Berambut hitam kelam dan sedikit keabuan, panjang dan diikat ke belakang. Mata hitam. Terdapat dua garis tegas di wajahnya.

Rentang waktu percobaan: 2 tahun 5 bulan.

Ketahanan subjek: 10 tahun – sekarang.


"Itachi.." gumam Sasuke entah pada siapa. Ia tidak mungkin tidak mengenal orang yang dideskripsikan dalam halaman tersebut. Tanpa banyak berpikir, ia juga membalikkan halamannya dan membaca biodata ayah dan ibunya. Namun serum tersebut tidak terlalu bekerja baik pada tubuh ayah dan ibunya. Ibunya bahkan tidak dapat membangunkan Sharingan, namun kemampuan intelejensi dan imunitasnya bertambah. Sedangkan ayah, ia mencapai tingkat Sharingan tertinggi, yaitu Mangekyou Sharingan. 'Apakah ayah terus membunuh untuk mendapatkan itu?' batin Sasuke.

Ada juga sesuatu yang Sasuke perhatikan setelah membaca sejauh ini. Tidak semua orang memiliki code name. Mungkin code name hanya diberikan pada beberapa subjek yang istimewa, begitu asumsi Sasuke untuk sementara.

Teringat akan sahabatnya, Naruto, ia segera membolak-balikkan lagi halaman buku tersebut.


Test Subject 145

Penyegelan setengah kekuatan rubah ekor sembilan ke dalam tubuh anak berumur lima tahun. Awalnya rubah itu menolak, tapi rubah disegel paksa ke dalam tubuh subjek. Sehingga dibutuhkan kehebatan si subjek untuk menenangkan rubah yang bersemanyam di dalam tubuhnya. Jika si subjek berhasil, maka ia akan dapat menggunakan kekuatan rubah ekor sembilan itu baik untuk menyerang maupun berlindung.

Code name: Foxaniere

Jenis kelamin: Laki-laki

Status: Hidup

Ciri-ciri fisik: Berambut kuning cepak, bermata biru muda. Mempunyai 3 garis pada kedua pipinya seperti rubah.

Rentang waktu percobaan: 1 tahun 6 bulan.

Ketahanan subjek: 5 tahun – sekarang.


'Ternyata ada juga', batin Sasuke. Sasuke semakin khawatir dengan keadaan ini. Buku ini sungguh dapat membahayakan nyawanya dan Naruto, juga seluruh manusia yang pernah menjadi subjek percobaan yang ditulis dalam buku ini. Saat akan menutup buku tersebut, kebetulan Sasuke melihat tanda merah di suatu halaman. Tentu saja Sasuke langsung membuka halaman tersebut. Halaman itu sama dengan halaman lain yang menarik baginya, tidak ada foto. Dan matanya tercengang saat ia membaca ciri-ciri fisik gadis yang dilakukan percobaan.


Test Subject 180

Gadis disuntikkan serum stimulan 'X'. Serum ini akan bereaksi jika subjek marah. Akan muncul tanda permata di dahi subjek. Bahkan jika subjek sudah dapat mengendalikannya, permata itu akan tetap berada di dahinya secara permanen. Terlebih lagi, jika subjek marah di bawah pengendalian yang hebat akan kekuatannya, permata di atas dahi subjek akan membentuk tato di wajah dan lengan subjek dan kekuatan subjek akan bertambah kuat 100x lipat dibanding sebelumnya.

Code name: Destroyer

Jenis kelamin: Perempuan

Status: Menghilang

Ciri-ciri fisik: Berambut seperti warna bunga Sakura, bermata hijau muda.

Rentang waktu percobaan: 2 tahun.

Ketahanan subjek: 4 tahun – sekarang.


Sasuke menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sejauh hidupnya, ia belum pernah bertemu gadis dengan rambut merah muda, selain... Sakura! Apa mungkin Sakura juga hasil percobaan? Tapi, mengapa ia tidak pernah bercerita pada Sasuke? Ah, Sasuke ingat akan saat Sakura pingsan setelah dari kedai ramen tersebut. Mungkin saja Sakura belum dapat mengendalikan kekuatannya. Sasuke semakin khawatir. Ia segera mengeluarkan ponselnya.

Tuut tuut tuuut, nomor yang Anda tuju tidak menjawab, silahkan coba beberapa saat lagi.

"Sial, angkat Sakura!"

Sasuke menelepon Sakura berkali-kali, tapi ia tidak juga mendapat jawaban. Kesabarannya habis.

"Dobe! Dobe!" Sasuke berteriak sesukanya sambil berkeliling gedung tersebut. Teriakannya mengejutkan, hingga orang-orang yang berada di sana meliriknya dan merasa takut dengan aura yang ia keluarkan.

"Naruto! Dimana Uzumaki Naruto?!" teriak Sasuke pada salah satu ahli forensik.

"Oi, teme!" Naruto muncul dari balik salah satu mesin percobaan, yang lebih mengejutkannya, ia melihat Sasuke menatap marah ke arahnya.

"A-ada apa Sa-sasuke?" tanya Naruto sambil menelan ludahnya dan mengedipkan matanya berulang kali.

"Ikut aku!" Sasuke menarik lengan Naruto dengan kuat, lebih tepat Sasuke menyeretnya.

Tubuh Naruto hampir terjatuh ke lantai, ia berusaha berdiri menyeimbangi langkahnya dengan Sasuke.

"Iya iya! Jangan seret aku, Sasuke!" teriak Naruto.

Kemudian dua pria itu hilang begitu saja dari tempat tersebut. Hanya tertinggal mobil Naruto yang tidak sempat ia bawa karena Sasuke memaksa Naruto untuk mengikutinya secepat mungkin.

Flashback Off

:::

POV: Normal

Betapa terkejutnya Naruto dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Gedung percobaan yang dulu ia sering datangi. Ia tahu benar tempat apa ini.

"Apa maksudmu, Sasuke?"

Sasuke melempar Black Book itu pada Naruto. Naruto membukanya, membolak-balikkan buku itu sambil membacanya.

"A-apa? Apa-apaan ini? Mengapa ada data kita disini?"

"Bodoh, itu tandanya kita masih diintai selama ini, entah oleh siapa. Yang jelas orang yang mengintai pasti suruhan Sai."

"Gila, ini gila, Sasuke. Harusnya kita bunuh saja Sai sialan itu."

"Dan yang lebih gilanya lagi, Sakura ada di dalam daftar itu. Meski hanya ciri-ciri yang dituliskan, aku cukup yakin itu Sakura."

"Hah? Kau bercanda, teme?"

"Apa aku terlihat seperti bercanda, dobe? Sudahlah, ayo kita turun dan segera selidiki laboratorium yang ini."

"Baik, baik."

Sasuke dan Naruto segera turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke laboratorium tersebut yang dari luar tampak seperti pabrik.

"Sakura!" Sasuke melihat Sakura yang terkapar lemas di depan pintu laboratorium tersebut. Naruto tidak bersuara, namun ia mengikuti sahabatnya itu.

Sasuke melirik keadaan sekitar. 'Eh, itu kan... pria yang mengendalikan boneka? Sasori!', batin Sasuke.

'Bahkan terdapat lubang besar di salah satu dinding laboratorium tersebut, pasti Sakura telah menggunakan tenaganya. Apa Sakura sudah tahu ia itu hasil percobaan?', batin Sasuke.

Selebihnya, sasuke mengumpat dan merutuki dirinya sendiri yang tidak dapat menjaga Sakura dengan baik. Ia mengangkat Sakura dan mendudukkan Sakura di bagian belakang mobil. Sedikit sempit karena mobil sport itu didesain untuk 2 orang. Rencana menyelidiki laboratorium ditunda, Naruto juga menyetujuinya.

"Naruto, kau bisa menyetir mobil ini kan?" ucap Sasuke sambil mengambil posisi duduk di bagian belakang mobil. Meski mobil ini hanya memiliki 2 pintu, tapi masih mempunyai kursi penumpang bagian belakang. Dan saat ini Sasuke lebih memilih duduk menjaga Sakura di kursi penumpang belakang.

"Tentu saja, aku ini pengemudi handal, kau tahu, Sasuke?"

"Tolong jangan tabrak apapun. Aku yakin kau tidak mampu mengganti mobil ini."

"Ya, ya tenang saja."

Naruto segera melaju ke arah rumah Sasuke. Mereka baru sadar bahwa banyak orang yang dijadikan percobaan setelah membaca Black Book tersebut. Bahkan kebanyakan dari subjek percobaan tersebut adalah anak-anak, seperti mereka dulu. Sasuke hanya dapat menghela nafas panjang melihat Sakura yang sepertinya tertidur sangat pulas.

"Nghh.." Sakura mulai sadar, ia membuka matanya perlahan.

"Sakura, kau sudah sadar?" tanya Sasuke.

"A-aku dimana?" Sakura memutar kepalanya.

"Tenang, ini mobilku. Maaf aku membiarkan pria brengsek itu menculikmu. Hal ini tidak akan terjadi lagi, aku janji."

"Sasuke-kun? Kau kah itu?" mata Sakura masih belum dapat terbuka secara utuh.

"Hn, ini aku."

"Oh, Sasori sialan." Sakura memegang kepalanya yang masih terasa sakit. "Tadi tubuhku seperti bergerak sendiri, Sasuke-kun, aku tidak tahu mengapa seperti itu."

"Tenangkan dirimu dulu. Apa kau mengingat sesuatu?"

"Ya, aku mengingat laboratorium itu. Rasanya aku sering mengunjunginya dalam kurun suatu waktu tertentu saat aku masih kecil."

"Hn, kita bicarakan lebih lanjut jika sudah sampai di rumah." Sasuke tersenyum lembut sambil mengusap rambut Sakura.

Sakura meletakkan kepalanya di atas dada bidang Sasuke, mengambil posisi nyaman kemudian memeluk pria itu dengan erat.

"Oh ya, teme. Hinata tadi menelponku, ia berkata ingin berkunjung ke rumahmu. Kau tidak keberatan 'kan ia datang?" tanya Naruto, pandangannya masih tertuju ke depan. Berhati-hati dalam menyetir agar tidak menabrak apapun dengan mobil Sasuke. Ia tahu ia tak sekaya Sasuke yang gila pekerjaan.

"Hn, tentu saja tidak."

"Baiklah."

:::

POV: Sakura

Apa yang terjadi pada diriku? Mengapa aku bisa mengeluarkan kekuatan seperti itu? Saat itu yang aku tahu, aku sangat marah, benar-benar marah. Dan yang membuatku marah adalah... Sasori mengatakan Sasuke adalah hasil percobaan. Tunggu, apakah itu benar? Kurasa aku harus mencari waktu yang tepat untuk bertanya padanya.

"Sakura, kita sudah sampai." suara Sasuke memasuki pendengaranku.

"Ya." jawabku. Kemudian kami turun bersama dari mobil tersebut.

Naruto segera menghampiri Hinata yang sudah tiba dengan mengemudi mobilnya sendiri.

"Hinata, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto saat mendekati kekasihnya, lebih tepatnya tunangannya.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku bisa melindungi diriku sendiri." jawab Hinata.

Sasuke segera membuka pintu rumahnya dan kami berempat masuk bersama. Hinata terlihat asik berbicara dengan Naruto. Sasuke masih memelukku dan mengkhawatirkanku, terlihat jelas dari raut wajahnya.

"Sasuke-kun, aku tidak apa."

"Hn, benarkah? Apa ada yg masih sakit?"

"Tidak, tidak ada."

Aku tidak sengaja melirik sebuah buku hitam yang dibawa oleh Naruto.

"Em, Sasuke-kun, buku apa yang dibawa oleh Naruto?"

"Hn? Oh itu. Aku rasa ini saat yang tepat juga. Dobe, bawa bukunya kesini." ucap Sasuke pada Naruto yang duduk tepat di depan kami.

"Kau yakin, teme?"

"Hn."

Sasuke menatapku dengan serius. "Sakura, aku ingin berbicara serius. Aku harap kau tidak meninggalkanku setelah kau tahu kebenaran ini."

"Ba-baiklah, aku siap mendengar" jawabku pelan.

Sasuke terlihat menenangkan dirinya sejenak dan menghela nafas panjang.

"Aku hasil percobaan, aku bukan lagi manusia alami."

Mataku membulat, Sasori tidak bohong padaku.

"Aku tidak mencoba untuk menyimpan ini darimu. Tapi aku takut kau meninggalkanku saat kau tahu bahwa aku ini hasil percobaan."

Meski aku tidak menjawab, Sasuke terus menjelaskan.

"Sewaktu aku berumur 5 tahun, orang tuaku memutuskan untuk mengikuti sebuah percobaan. Ini demi keamanan hidup kami, karena ayah merupakan seorang kepala polisi, tentu banyak kriminal yang mengincar ayah. Ayahku tidak ingin kami, anaknya, kesulitan dalam melawan para penjahat itu, maka ayah memutuskan hal ini. Ayah menghubungi Shimura Danzo, ilmuwan yang tenar akan berhasilnya percobaan yang ia lakukan pada manusia. Dan tidak lama kemudian, kami sekeluarga disuntik dengan serum. Mata merah, Sharingan ini, juga hasil dari percobaan."

Sasuke menundukkan kepalanya, semakin ia bercerita, semakin ia tak berani menatapku.

"Bahkan kemampuan bergerak dalam gelap, juga merupakan hasil percobaan. Aku merasa seperti monster, Sakura. Aku tidak pantas untukmu."

Aku tidak ingin Sasuke lebih sedih dari ini lagi, ia pria baik, sungguh ia pria yang sangat baik. Aku memeluk Sasuke dan membelai rambutnya pelan. Aku menempatkan kepalanya pundakku, aku dapat merasakan cairan bening yang muncul dari matanya.

"Tenang, Sasuke-kun, meski kau berubah menjadi monster sungguhan sekalipun, aku akan tetap berada disisimu. Mencintaimu apa adanya." ucapku sambil mengusap pelan rambutnya yang mencuat itu.

"Te-terima kasih, terima kasih, Sakura." aku dapat mendengarnya. Aku hanya tetap memeluknya dan tersenyum.

Naruto dan Hinata yang merasa menganggu kami segera menghilang ke arah dapur. Mungkin mereka tidak ingin dimarahi Sasuke nanti.

Aku dan Sasuke terdiam dalam waktu yang cukup lama, sampai..

"Naruto juga hasil percobaan." ucap Sasuke pelan.

"Benarkah? Baguslah, kau punya sahabat kalau begitu."

"Hn, kami bersahabat juga karena bertemu di laboratorium itu."

"Hmm.. Sasuke, aku ingin bertanya."

"Tanya saja, jangan sungkan." Sasuke mengangkat wajahnya dari pundakku. Menatapku lembut.

"A-aku, aku merasa jangan-jangan aku juga hasil percobaan." ucapku sambil menundukkan kepala.

"Aku rasa memang benar, Sakura." Sasuke mengambil Black Book itu. Membuka salah satu halaman dan menunjukkannya padaku.

"Dari ciri-cirinya, ini dirimu 'kan, Sakura?" tanya Sasuke pelan.

Kepalaku sakit, seketika aku mengingat seluruh kejadian saat aku berumur 4 tahun. Waktu itu, ibu dan ayah angkatku membawa diriku ke sebuah laboratorium. Aku disuntik, kemudian tidak sadarkan diri setelah itu. Aku sempat melihat dalam samar, mencium bau obat, merasakan sesuatu masuk ke dalam diriku. Tubuhku terasa panas saat aku benar-benar sadar. Aku sudah terikat di sebuah tempat tidur pasien. Aku tidak mengerti, mengapa aku diikat? Apakah aku tidak menuruti perintah ayah dan ibu? Apakah ayah dan ibu tidak menginginkanku lagi? Segala pemikiran berkecambuk dalam pikiranku saat itu.

"Sakura? Sakura? Kau tidak apa-apa?" aku mendengar suara Sasuke, aku berusaha memfokuskan penglihatanku lagi. Tapi yang kudapat hanya sakit berkepanjangan di kepalaku.

"A-aa, Sasuke-kun, sakit." aku memegang kepalaku.

"Sakura, tenanglah! Tarik nafas mu, lupakan semua yang kau ingat itu!" Aku menuruti perintah Sasuke. Aku segera melupakan semuanya, menghapus semua ingatan itu. Mengganti pikiranku dengan ruangan kosong yang putih bersih. Cara ini ternyata ampun, kepalaku kembali normal.

"Sakura, apa sudah baikan?" Aku dapat melihat raut khawatir pada wajah Sasuke.

"Iya, Sasuke-kun. Maaf." Sasuke segera memelukku.

"Tidak, jangan minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf. Harusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian." ujar Sasuke mengeratkan pelukannya.

"Teme, ada apa? Kenapa kau teriak tadi?" Naruto dan Hinata muncul bersamaan dari arah dapur.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Hinata.

"Ya, kami baik-baik saja." jawabku sambil tersenyum.

"Sakura, aku teringat sesuatu." ucap Sasuke sambil menatapku dalam.

"Apa itu, Sasuke-kun?"

"Aku pernah melihatmu di laboratorium milik Sai. Pantas saja, hari itu, saat kau masuk ke dalam ruangan praktekku, aku merasa mengenalmu."

"Oh, iya. Sepertinya aku juga pernah melihatmu, Sasuke-kun. Apa sewaktu kecil kau selalu memakai baju berwarna hitam kebiruan? Oh ya, kau juga sangat menggemaskan!" aku tersenyum semanis mungkin pada Sasuke.

Sasuke terlihat malu dan memutar kepalanya. "A-aa, ya itu aku."

"Hinata, kurasa sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua. Aku tidak mau jadi orang ketiga." Naruto merebahkan kepalanya di pundak Hinata.

"Hihi, baiklah, ayo kita pergi, Naruto-kun." balas Hinata sambil mengusap rambut Naruto.

"Dasar dobe!" gerutu Sasuke "Jangan lakukan hal kotor di rumahku, Naruto!" teriak Sasuke pada Naruto dan Hinata yang berjalan menjauh.

Aku hanya terkekeh pelan melihat dua sahabat yang manis sekaligus menyebalkan.

:::

POV: Normal

Malam ini, Naruto dan Hinata memutuskan untuk menginap lagi. Sakura dan Hinata sepakat untuk memasak. Saat ini makanan sudah tersaji sempurna di atas meja makan, Sakura mengambil tempat duduk di samping Sasuke demikian juga dengan Hinata yang duduk di samping Naruto.

"Dobe, mengenai rencana kita itu, sebaiknya kita batalkan." Sasuke menatap Naruto datar.

"Hm, setelah membaca black book itu kurasa juga lebih baik begitu." balas Naruto setelah minum air putih yang dibawakan oleh Hinata.

"Ha? Rencana apa Sasuke-kun?" tanyaku penasaran.

"Sebenarnya..."

Flashback ON - POV: Sasuke

Hari ini aku meminta Naruto menginap di rumahku selama 2 malam. Semua ini demi rencanaku, yah rencana yang sudah kurancang sejak dulu tapi tak mungkin aku laksanakan sendirian. Dan sekarang, disinilah kami, di ruang kerjaku. Aku duduk di kursi besarku, sedangkan Naruto duduk tepat di depanku.

"Teme, sebenarnya apa yang kau rencakan?"

"Hn, aku punya dua rencana plan A dan plan B. Sebenarnya sudah lama aku ingin membunuh Sai."

"Woah, aku setuju, teme! Apa rencanamu? Coba katakan!" Naruto sangat bersemangat, ia langsung tersenyum.

"Plan A, menyerbunya dari pintu depan, merobek kulitnya kemudian menusuk jantungnya."

"Waaaaah, ide cemerlang, teme! Sungguh itu gayaku sekali!"

"Dan menurutku plan A itu tidak akan berjalan sukses sama sekali, Baka Naruto."

"Apa? Enak saja! Asal kau tahu saja, menyerang tiba-tiba itu selalu berhasil karena lawan tidak akan menyangka!"

"Ya, dan kau lupa dobe. Kau lupa bahwa yang kita hadapi itu Sai. Ia tentu punya banyak senjata rahasia. Apalagi kita ini hasil percobaan mereka."

"Eh? Iya ya, kau benar juga teme hehehe. Jadi apa yang harus kita lakukan?"

"Plan B, aku akan menyusup menjadi salah satu anggota ilmuwan. Kemudian kita menyerang perlahan saat tidak ada yang tahu. Bisa saat Sai tidur atau saat ia lengah. Tapi aku masih memikirkan beberapa hal. Sedikit sulit menyusup ke dalam laboratorium itu."

"Kurasa kau bisa mengeluarkan catatan orang tua kita yang dulu, teme. Mereka menitipkan rancang bangun dan beberapa rencana yang mereka susun dulu 'kan?"

"Hn, sebentar aku ambil."

Sasuke meraba laci sekitar meja kerjanya. Sampai ia menemukan sebuah tombol. 'Klik' ia menekan tombol tersebut. Sebuah laci rahasia dari bawah meja tersebut terbuka. Sasuke segera mengeluarkan kertas-kertas tua tersebut dan meletakkannya diatas meja.

Naruto dan Sasuke membahas beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi. Dan mereka sepakat melakukan ini demi Sakura dan Hinata. Mereka tidak ingin wanita yang mereka sayangi menjadi buruan Sai dan bawahannya. Dan jika nantinya mereka mempunyai anak, mereka juga ingin anak-anak mereka terhindar dari bahaya semacam itu.

Flashback OFF

"...kami berhenti setelah Hinata datang membawakan Naruto ramen." Ini pertama kalinya Sasuke berbicara panjang.

"Oh, apakah aku mengganggu?" Hinata merasa bersalah.

"Tidak, kami memang sudah selesai sampai disitu." balas Sasuke.

"Naruto-kun, apakah mereka akan datang menangkap kalian?" Hinata menatap Naruto dengan khawatir.

"Tidak, tidak akan, aku berjanji tidak akan tertangkap oleh mereka, Hinata. Dan aku berjanji akan selalu melindungimu juga." Naruto memeluk Hinata untuk menenangkannya.

Sasuke dan Sakura hanya saling memandang. Tatapan Sasuke melembut, menandakan ia juga akan berbuat hal yang sama pada Sakura. Bersama dengan Sasuke beberapa waktu ini, membuat Sakura sangat mengerti Sasuke. Sakura memutuskan membalas senyum padanya. Sakura tahu bahwa Sasuke tidak mungkin meninggalkannya apapun yang terjadi.

"Hm, Naruto, Hinata, Sasuke-kun, aku punya ide."

"Ide apa?" Sasuke yang terlebih dulu menanggapi.

"Bagaimana kalau.. kita pindah saja?"


To be Continue


Maaf, maaf, maafkan telatnya Shady mengupdate chapter ini, hehe.

Sekedar info, fic ini akan segera tamat. Mungkin dalam 1-3 chapter lagi. Sehingga author ingin mendengar saran dan kritik dari readers.

Ini fic perdana author, yang author buat dari ide yang sudah lama berputar-putar. Maaf kalau fic ini bertele-tele dan membosankan.

Author akan berusaha lebih baik lagi kedepannya.

Terima kasih semua yang sudah read, review, favorite, follow, dan juga para silent readers. :D

Balasan review

zarachan: terima kasih sudah menyemangati author! author akan selalu semangat, hehe. Thanks sudah read dan review :D

sarahachi: rambut merah, itu lhoo, si Sasori yang masih tak ada habisnya ngikutin Sakura. Thanks sudah read dan review :D

Hoshi Riri: hahaha, begitulah Kakashi itu. Mungkin lebih mesum lagi daripada yang tertulis #dijitakKakashi. Yep, benar! Sasori itu. Thanks sudah read dan review :D

lightflower22: hmm, mereka itu kan saling kangen sih sebenarnya. Jadi tidak ada salahnya kan mereka melepas kangen? hehe Thanks sudah read dan review :D

Asuka Kazumi: Kakashi sama Ayame lupa itu SasuSaku masih di depan mereka. Atau jangan2 Kakashi itu sengaja memberi contoh pada SasuSaku? oh, astaga, hahaha. Hm, iya Sasori. Sakura menyelamatkan dirinya sendiri lhooo, ayo baca chapter ini, hehe. Thanks sudah read dan review :D

hanazono yuri: ini lanjutannya yang ditunggu. Thanks sudah read dan review :D

Thasya Rafika Winata: Terima kasih sudah suka fic ini. Salam kenal, Shady disini. Maaf sedikit lelet updatenya. Kemaren malah kecantol sama ide lain, jadi buat fic baru dulu baru ngelanjutin ini, hehe. Thanks sudah read dan review :D

LORDmarionettespieler: Sebenarnya Sasori itu masih tidak ingin lepas dari Sakura dan menginginkan tubuh Sakura untuk dijadikan boneka kayunya. Penjelasan selengkapnya ada di chapter ini. Hubungan ke pekerjaan Sasuke sebenarnya sih gak ada. Tapi ada hubungannya dengan jati diri Sasuke di fic ini. Ada pertanyaan apa tanya saja, jangan sungkan. Thanks sudah read dan review :D

puma178: ini updatenyaa, ini ga didiskon sih, hanya dipotong sedikit, hahahaa. Thanks sudah read dan review :D

Oh ya, karena fic ini sudah mau tamat. Author menggarap fic baru, tentu saja pemeran utamanya SasuSaku juga.

kalo mau gampang carinya, buka profile author, lalu cari aja yang judulnya Please Stay Beside Me.

Jangan lupa reviewnya yaaaa.

Terima kasih semuanya.

Sincerely,

Shady.