All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.
Chapter 12 : Ferret dan Apple.
12.
Hermione baru selesai mandi dan Adler mengetuk jendelanya. Hermione tersenyum tahu Draco mengiriminya surat.
Granger..
Apa kau sudah tidur? Aku tidak tahu bagaimana cara menghubungimu, dan aku mulai merasa surat tidak cukup cepat untuk menjangkaumu.
Aku tahu aku bertindak seperti Love-Sick-Puppy, aku terus memikirkanmu, ini menjijikan sebenarnya, dan aku bahkan tidak pernah menyangka akan mengatakan hal seperti pada seorang perempuan, tapi, selamat tidur Granger.
P.S Apa kau bisa menemaniku membeli Muggle Ponsel besok sepulang kerja?
P.P.S Kau tidak perlu membalas surat ini, Mom tidur di kamarku malam ini, dan ia terus mengoceh dan ingin tahu apa isi surat ini.
Draco Malfoy.
Hermione tersenyum, The-Arrogant-Foul-Git Draco Malfoy mengiriminya surat hanya untuk mengatakan selamat malam? Love-sick-puppy.
Hermione meletakkan surat dari Draco di laci khusus suratnya. Lalu berjalan kekamarnya dengan langkah ringan dan senyuman diwajahnya.
-Dramione-
Hermione membuat sarapan pagi harinya, ini hari Jumat dan ia dan Draco akan membeli ponsel sepulang kerja. Hermione tidak sabar ingin mengajak Draco berjalan-jalan di departement store muggle, ia bahkan bersenandung sambil mengaduk kopinya.
Seseorang mengetuk pintu apartementnya. "Sebentar." Kata Hermione berjalan menuju ke pintu, ia mengintip dari lubang kecil dan melihat Draco di depan pintunya.
Hermione membuka pintunya dan menyambut Draco dengan senyuman. "Pagi." Kata Hermione menyapa.
"Pagi." Draco tersenyum.
"Masuklah." Kata Hermione melebarkan pintunya. "Bagaimana kau tahu yang mana apartementku?" tanya Hermione berjalan kembali menuju Pantry.
"Aku bertanya pada anak kecil di bawah, Flat Ms. Granger nomor berapa ya? Oh, Ms. Granger yang rambutnya seperti sarang burung itu?" Draco mengulang percakapannya tadi dengan seorang anak di bawah.
Crook yang sedang duduk di atas sofa memperhatikan Draco yang berjalan dari pintu depan menuju ke pantry.
"Um, Granger, apa kau sudah memberi makan kucingmu?" tanya Draco.
"Belum, kenapa memangnya?" tanya Hermione.
"Sepertinya ia ….lapar." kata Draco melirik kucing Hermione yang masih melihatnya garang.
Hermione melihat Crook lalu mengerti apa maksud Draco. "Don't be silly, Crook memang selalu seperti itu pada orang asing." Kata Hermione membuat kopi untuk Draco.
"Kau kurang tidur?" tanya Hermione menyadari bahwa ada lingkaran hitam disekitar mata Draco.
Draco mengangguk dan mengambil kopi yang baru disodorkan Hermione padanya. "Mom bertengkar dengan Father, dan setiap mereka bertengkar maka Mom akan tidur di kamarku." Kata Draco menjelaskan.
Hermione tertawa. "Jadi kau masih sering tidur dengan Narcissa?" tanya Hermione tidak percaya.
Draco memutar matanya. "Itu karena Mom tidak ingin tidur sendiri." Kata Draco menjelaskan, tidak ingin Hermione menganggapnya kolokkan.
Hermione melirik jam dindingnya. "Draco, kurasa masih ada waktu satu jam sebelum masuk, apa kau mau tidur dulu?" tanya Hermione menawarkan. "Kau bisa tidur di kamar tamu." Kata Hermione menawarkan.
Draco melihat kearah pintu yang tertutup. "Apa aku boleh tidur dikamarmu saja?" tanya Draco.
Hermione tertawa, ia kemudian melepas celemeknya dan menarik Draco menuju ke kamarnya.
Draco memperhatikan kamar Hermione, selulruh dindingnya tertutup wallpaper bergambar bunga yang sangat feminim, ada cukup banyak foto di dinding, baik yang bergerak atau tidak.
Ada foto bergerak Hermione dan Potter juga Weasley mungkin mereka masih tahun pertama atau kedua, rambut Hermione benar-benar mengembang dan keriting, tapi ia benar-benar terlihat cantik dan manis.
Ada juga foto tidak bergerak hermione dengan kedua orangtuanya, mereka duduk di sofa dan tersenyum ke kamera.
Draco menyapu matanya keseluruh foto, puas karena tidak ada foto Hermione dengan Cedric, Well secara teknis ada foto Cedric, tapi dengan seluruh anggota Order.
Satu foto yang benar-benar disukai Draco, Hermione menggunakan dress berwarna khaki sedang bermain ayunan kayu di sebuah taman didorong oleh ayahnya, mereka berdua tertawa di foto itu.
Hermione mengantarnya sampai di depan pintu saja. "Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti." Kata Hermione mendorong Draco masuk kemudian pergi.
Draco berjalan menuju ke kasur, ia melepaskan sepatunya lalu merebahkan badannya di kasur Hermione. Draco bisa merasakan bau yang khas, aroma Hermione ada disekitar kasur yang ditidurinya sekarang. Draco memeluk bantal guling yang ada disitu, menarik selimut dan menutup matanya. Ia ingin tidur disini selamanya.
Hermione merapikan dapurnya sebentar sebelum menyiapkan makanan kucingnya, saat Hermione berjongkok dan menuangkan makanan Crook, Crook mengeong galak sambil melirik ke arah kamar Hermione.
"Itu Draco." Kata Hermione memberitahu.
Crook mengeong tidak setuju.
"Jangan bersikap seperti itu Crook." Kata Hermione memberitahu kucingnya agar bersikap ramah pada Draco.
Crook memutar matanya dan mulai memakan jatah sarapan paginya. "Dasar kucing gemuk." Kata Hermione mengelus kepala Crook.
Hermione kemudian mencuci tangannya dan menuju ke kamarnya, Draco di sisi kiri kasurnya, memeluk bantal gulingnya dan memakai selimutnya. Hermione bisa melihat kakinya yang tidak tertutup selimut.
Hermione mendekat dan duduk di dekat kepala Draco. Hermione memperhatikan wajah Draco yang sedang tertidur. Rambut pirangnya menutupi sebagian matanya, kemudian Hermione menyingkirkan rambut itu dari wajah Draco.
Hermione kemudian menyusuri tulang hidung Draco dengan jarinya, ia tersenyum, mungkin Tuhan sengaja ingin menurunkan jelmaan Dewa Yunani dalam sosok Draco. Hermione memperhatikan tulang rahangnya, dagunya.
Hermione tertawa sendiri, ia tidak bisa menahan dirinya dan kemudian mencium hidung Draco lalu keluar dari kamarnya, tidak ingin membangunkan kekasih barunya itu. Kekasih? Hermione Granger! Kau menjijikkan.
Akhirnya Hermione memutuskan untuk membaca Daily Prophet sambil menunggu waktu untuk membangunkan Draco. Ia nyaris langsung membakar koran itu begitu melihat berita di halaman depannya.
Fotonya dan Draco bergandengan tangan keluar dari kementrian menghiasi halaman depan koran itu.
Hermione Granger dan Draco Malfoy Menjalin Hubungan.
Lalu Kemanakah Cedric Diggory?
Kemarin siang, seluruh kementrian sihir (juga dunia sihir) dihebohkan dengan kemunculan Hermione Granger, War Heroine, Gryffindor Princess, bersama dengan Draco Malfoy, Ex-Death Eater, Slytherin Prince.
Menurut beberapa sumber, keduanya terlihat keluar dari ruangan mereka sambil bergandengan tangan untuk pergi makan siang bersama.
Untuk anda yang belum tahu, saat ini Draco Malfoy ditempatkan di departement yang sama dengan Hermione Granger, Departement of Magical Creature sehingga keduanya bekerja di ruangan yang sama.
Kontan saja, kemunculan mereka berdua yang terlihat seperti sepasang kekasih memunculkan banyak tanda tanya, bukankah beberapa minggu yang lalu Ms. Granger baru saja terlihat dengan Mr. Diggory? Terlebih lagi spekulasi yang bermunculan mengatakan bahwa merek berdua kembali menjalin hubungan.
Tapi kemudian kemunculan Ms. Granger dengan Mr. Malfoy di depan publik kemarin seakan-akan ingin memberitahu dan mempertegas bahwa Ms. Granger tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Mr. Diggory, melainkan sedang menjalin tali asmara dengan Draco Malfoy.
Apakah ini adalah era baru dari percintaan Romeo dan Juliet Modern?
Apa pasangan baru ini akan bertahan lama?
Seperti yang kita semua tahu, latar belakang Ms. Granger dan Mr. Malfoy sangat amat berbeda, mereka berdua bahkan berada di sisi yang berbeda saat perang.
Keluarga Malfoy selama ini dikenal sebagai keluarga yang mendukung Lord Voldemort dan juga merupakan salah satu keluarga ber-darah murni yang usianya paling tua di Inggris.
Sementara Ms. Granger adalah anggota dari The Golden Trio, pahlawan perang, dan seorang kelahiran-Muggle.
Apa Keluarga Malfoy sudah tidak menganggap kemurnian darah sebagai sesuatu yang penting? Apa mereka benar-benar sudah melupakan Prejudice mereka?
Kami belum bisa mendapatkan konfirmasi dari pihak-pihak terdekat Ms. Granger maupun Mr. Malfoy atau Mr. Diggory, tapi mari kita ucapkan selamat pada pasangan baru yang menggemparkan dunia sihir ini.
Hermione menghela nafasnya. Ia melipat korannya dan meletakkannya di tempat biasa ia menumpuk koran-korannya. Hermione kemudian menghabiskan kopinya dan mencuci gelasnya, ia melirik jam dan sepertinya sudah waktunya untuk membangunkan Draco.
Hermione menuju kekamarnya, ia berjalan mendekat dan membangunkan Draco pelan.
"Draco…" Hermione mengelus-elus lengan pria itu. "Draco bangunlah, kita harus pergi sekarang." Kata Hermione lagi.
Mata Draco perlahan-lahan terbuka dan melihat Hermione yang duduk disampingnya, ia tersenyum. "Tidak bisakah aku tidur lebih lama lagi?" tanya Draco dengan suara mengantuk.
"Bangunlah…" kata Hermione menarik tangan Draco agar ia duduk. Draco menguap lalu duduk.
Draco kemudian berdiri dan memakai sepatunya. Hermione duduk dikasurnya dan memperhatikan Draco, kemeja sedikit kusut dan Hermione menggumamkan spell kemudian kemejanya kembali lurus.
"Kau tahu Granger?" kata Draco memulai.
"Apa?" tanya Hermione kemudian berdiri, dan mereka berdua berjalan keluar kamar.
"Tidak jadi." Kata Draco cepat, ia belum ingin mengatakan hal ini pada Hermione.
"Apa?" tanya Hermione penasaran. "Kau tidak boleh seperti itu Malfoy, ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, membuat orang penasaran saja." Kata Hermione kesal.
Draco tertawa. "Apa kita akan menggunakan floo? Atau ber-apparating ke dekat kementrian?" tanya Draco mengalihkan pembicaraan.
"Kurasa Floo lebih baik." Kata Hermione, mereka lalu berjalan menuju perapian. Draco melingkarkan tangannya dipinggang Hermione, kemudian keduanya menghilang di telan api hijau.
Sebenarnya Draco ingin mengatakan, bahwa saat Hermione membangunkannya tadi, ia tahu seketika itu juga bahwa ia tidak ingin pernah bangun tanpa melihat wajah Hermione lagi saat ia membuka mata.
-Dramione-
Hermione menghabiskan waktunya di kementrian membantu merencanakan dekorasi untuk pesta tahun baru, dan mendengarkan banyak celotehan orang-orang tentang hubungannya dengan Draco Malfoy.
Saat ia di toilet seorang perempuan, mungkin berumur sekitar 30 tahun bertanya apa ia benar-benar berhubungan dengan Draco Malfoy. Hermione tersenyum dan berkata bahwa itu bukan urusannya.
Saat ia sedang berkumpul dengan semua bagian dekorasi seorang perempuan dari Departement Muggle Relation bertanya.
"Ms. Granger, apa kau benar-benar berpacaran dengan Draco Malfoy?" tanya perempuan itu, Draco kebetulan sedang ke toilet, maka Hermione memasang senyumannya yang paling ramah dan berkata bahwa itu bukan urusannya.
Perempuan itu langsung diam dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Draco bahkan lebih buruk, saat ia berjalan untuk membuat kopi di pantry seorang dari bagian Auror bertanya bagaimana cara ia mendapatkan Hermione dengan tidak sopan.
"Hey, Malfoy apa kau menggunakan love potion atau semacamnya?"
Draco menghela nafasnya, memutuskan untuk tidak menjawabnya, ia mengaduk kopinya dan mengabaikan orang itu.
Saat ia keluar dari toilet seorang pria mencegatnya. Cormac McLaggen.
"Apa maumu McLaggen?" kata Draco, ia tidak ingin mencari masalah, hanya saja McLaggen memang selalu mencari masalah dengannya.
"Aku tidak menyangka kau menyukai Granger." Kata McLaggen memulai.
Draco mendengus menghina, ia selalu benci pada McLaggen karena ia selalu berusaha bertingkah seperti Draco, McLaggen selalu meniru cara Draco berjalan, bicara, dan bahkan cara Draco menyeringai.
Awalnya ia tidak terlalu peduli, tapi kemudian Pansy, Blaise, dan Theo mengeluh padanya kalai McLaggen sering meniru tingkah laku Draco, tapi caranya meniru Draco benar-benar membuat orang yang melihatnya ingin muntah, dan mereka bahkan langsung tahu siapa yang ditirunya.
"Berhentilah mencampuri urusanku." Kata Malfoy dengan swagger-nya.
"Apa kau tahu aku dan Granger sempat menjalin hubungan di tahun ke enam? Lagipula kurasa sampai sekarang ia masih tidak bisa melupakanku." Kata McLaggen penuh percaya diri.
Draco tertawa, McLaggen benar-benar harus pergi ke psikiater. Draco berjalan pergi meninggalkan McLaggen, memutuskan tidak ada gunanya bicara dengan pria bodoh didepannya.
"Apa kau dan McLaggen pernah berhubungan di tahun ke enam?" tanya Draco saat mereka berjalan menuju Muggle London untuk membeli ponsel.
Hermione tertawa. "Siapa yang mengatakannya padamu?" tanya Hermione, mereka berjalan berdampingan menuju pusat perbelanjaan yang cukup besar.
" McLaggen yang mengatakannya padaku." kata Draco.
Hermione tertawa lagi. "Aku sekali mengajaknya ke pesta Professor Slughorn, karena tidak ada yang bisa kuajak." Kata Hermione menjawab.
"Dan kenapa dia berasumsi bahwa kau menyukainya?" tanya Draco.
Hermione tetawa lagi. "Sudahlah, jangan membicarakannya lagi." Kata Hermione teringat saat-saat memalukan di tahun ke enamnya.
"Oh iya, Draco, ponsel macam apa yang kau inginkan?" tanya Hermione.
"Entahlah, aku bahkan tidak yakin bagaimana cara menggunakan ponsel." Kata Draco memberitahu.
Hermione mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menyodorkannya pada Draco, "Coba lihat dulu ponselku." Kata Hermione.
Draco melihat ponsel yang ada dipegangnya, "Jika ada telepon masuk, maka tanda merah berarti menolak, tand hijau berarti menerima." Kata Hermione menunjuk dua tombol berwarna merah dan hijau.
"Ini tombol pesan." Kata Hermione lagi. "Sebaiknya kita segera membeli ponselmu agar kita bisa mencoba fiture-nya." Kata Hermione menarik tangan Draco agar mereka berjalan lebih cepat ke pusat perbelanjaan.
"Kenapa banyak sekali Muggle disini?" tanya Draco saat mereka memasuki salah satu pusat perbelanjaan terbesar di London.
"Kita ada di Muggle London Draco, apa yang kau harapkan? Tentu saja banyak Muggle disini." Kata Hermione berjalan menuju ke bagian elektronik.
Hermione dan Draco memasuki salah satu booth ponsel yang cukup terkenal.
"Kenapa toko ini lambangnya apel yang sudah digigit?" tanya Draco bingung.
"Memangnya kenapa?" tanya Hermione.
"Itu menjijikkan, kenapa tidak apel yang masih utuh saja? Apa berarti ponsel yang dijual disini bekas digunakan seseorang?" tanya Draco melihat-lihat seluruh booth yang didominasi warna silver keputihan.
"Jangan bercanda Malfoy! Tentu saja semua produk disini baru" kata Hermione kemudian melihat sebuah IPhone yang sepertinya baru keluar beberapa minggu yang lalu, sebenarnya ia ingin membelikan Draco ponsel yang sederhana saja, tapi gerai ponsel ini menarik perhatiannya.
Hermione menghampiri seorang sales, dan menjelaskan bahwa ia ingin membeli ponsel untuk pacarnya, sales itu mulai menjelaskan fitur-fitur terbaru ponsel yang dimaksud Hermione pada Draco dan Hermione.
Sementara Hermione mengangguk dan sesekali mengajukan pertanyaan, Draco sudah terkesima pada sebuah benda seperti ponsel, hanya saja ukurannya besar sekali, terpajang disalah satu meja, dengan jari-jarinya Draco menggeser-geser layar yang ada di depannya, memilih beberapa icon yang menurutnya menarik.
"Granger." Kata Draco tersadar.
"Iya?" tanya Hermione.
"Aku ingin yang ini." kata Draco. Hermione melihat IPad yang masih ditatap kagum oleh Draco.
Hermione menghela nafasnya, tadinya ia akan membelikan Draco IPhone, sekaligus untuk mengganti tiket konser Sir Paul waktu itu, tapi ia tidak yakin uangnya cukup untuk membeli IPad juga.
"Hey…" kata Draco pada sales yang tadi diajak bicara Hermione.
"Yes sir? Apa yang anda inginkan?" tanya Sales itu ramah pada Draco.
Draco menunjuk IPad yang ada didepannya. "Aku ingin yang ini, dua." Kata Draco kemudian berjalan menyusuri meja yang terdapat berbagai produk-produk Apple yang lain.
"Draco!" kata Hermione berbisik marah. "Aku tidak punya cukup uang Muggle untuk membayar dua Ipad mu!" kata Hermione tidak ingin di dengar sales ataupun orang-orang yang ada disana.
"Granger… Granger…" kata Draco menggeleng-gelengkan kepalanya. "Siapa yang menyuruhmu membayar?" tanya Draco tidak habis pikir.
"Lalu? Apa kau punya uang sekarang?" tanya Hermione kesal.
Draco mengambil sesuatu dari sakunya. "Pernah mendengar Credit Card?" tanya Draco sombong.
Hermione tidak percaya, matanya seperti akan keluar, apa Draco Malfoy punya kartu debit? Ia tidak percaya hal ini.
"Granger, tapi kurasa benda yang kau sebut IPad barusan pasti tidak mudah untuk dibawa-bawa kan? Kurasa aku tetap membutuhkan ponsel yang lebih kecil." Kata Draco menunjuk IPhone yang ditanyakan Hermione tadi.
Draco memanggil sales yang lain dan mulai bertanya-tanya tentang produk IPhone yang ada di depannya. Meskipun tidak begitu mengerti apa yang dijelaskan oleh sales itu, Draco meminta sales itu memberikannya dua Iphone.
Hermione nyaris pingsan, Draco Malfoy is a dead man.
Keluar dari booth Apple, Draco membeli dua IPad, dua IPhone, dua IPod, dua MacBook, dua AppleWatch, dan beberapa aksesoris bodoh. Sales yang melayani Draco tersenyum lebar dan dengan ramah meminta Draco untuk jangan segan kembali lagi.
Dan pria bodoh itu bahkan membeli dua Apple Watch yang dilapisi emas. Hermione nyaris pingsan begitu mendengar total belanjaan Malfoy di kasir.
"Kau gila." Kata Hermione pada Draco yang membawa tentengan di kedua tangannya. Mereka sekarang berjalan menjauh menuju pintu keluar. "Kenapa kau membeli begitu banyak? Dan lebih buruk, kenapa kau membeli masing-masing dua?" tanya Hermione masih tidak habis pikir akan kelakuan Malfoy. Draco Malfoy baru saja menghabiskan 35.000 Pounds atau sekitar 7000 Galleon untuk benda yang bahkan ia tidak tahu cara memakainya.
"Bloody Hell." Kata Hermione berjalan cepat, ia ingin segera sampai rumah dan tidur, menghilangkan rasa frustasinya. Gajinya sebulan saja hanya 5000 Galleon
"Granger." Kata Draco, langkahnya terhenti matanya tertumbu pada sesuatu.
"Apa lagi?" kata Hermione yang sudah beberapa langkah di depannya.
"Ayo kita makan Pizza." Kata Draco melihat kearah restoran Pizza di dekat mereka.
Hermione menghela nafasnya. "Sebaiknya kita pulang." Kata Hermione tidak mau, ia masih shock dengan cara belanja Malfoy barusan. Tapi Draco malah masuk ke restoran Pizza itu. Hermione menghela nafasnya dan mengikuti Draco dari belakang.
Draco duduk di salah satu kursi paling dalam, ia segera memesan satu loyang besar Pizza keju dan mulai mensortir barang belanjaannya. Hermione menghela nafasnya dan duduk di kursi di depan Malfoy.
"Granger, apa kau pernah ke Italia? Blaise mengajakku berlibur disana saat liburan musim panas sebelum tahun ke lima, kau harus makan Pizza disana, ah, dan Gelatonya…" kata Draco. Ia berhenti bicara begitu melihat ekspresi Wajah Hermione yang sepertinya lelah sekali.
"Kau kenapa? Kau sakit?" tanya Draco kuatir.
"Draco Malfoy, kau sudah gila." Kata Hermione mengeluarkan frustasinya.
Draco tertawa. "Granger, kau tidak perlu mencemaskan cara hidupku, aku bisa membelikan seluruh wizarding world Apple Watch dan keluargaku masih bisa hidup mewah bepuluh-puluh keturunan." Kata Draco dengan sombongnya.
"Tapi itu bukan berarti kau bisa memboroskan seluruh uangmu!" kata Hermione tidak terima.
Draco tersenyum. "Tenanglah Granger, kurasa kau harus mulai menyesuaikan dirimu dengan gaya hidupku mulai sekarang." Kata Draco, ia selesai menyortir barang belanjaannya menjadi dua plastik saja.
Tidak lama pesanan mereka datang, Hermione dan Draco makan dalam diam, Draco beberapa kali memulai pembicaraan tapi sepertinya Hermione tidak tertarik untuk mengobrol. Ia masih mengalami semacam mental breakdown karena Malfoy.
Setelah selesai makan, Draco memesan ice cream lalu mengangkat satu plastik belanjaannya ke meja dan mendorongnya ke arah Hermione.
"Apa?" kata Hermione tidak mengerti. Hermione melirik kantong belanjaan itu kemudian meledak. "Kau berharap aku akan membantumu membawa barang belanjaanmu? Enak saja!" kata Hermione tidak terima.
Draco tertawa lagi, ia menggeleng tidak habis pikir. "Granger, ini untukmu!" kata Draco lagi.
Mata Hermione membelalak. Ia sepertinya salah dengar. "Apa?"
"Ini untukmu Granger!" kata Draco lagi.
Hermione dan Draco meghabiskan setengah jam untuk bertengkar di restoran Pizza, Hermione menolak mentah-mentah pemberian Draco, Draco balik emosi dan berkata lalu untuk apa dia membeli dua dua setiap barang jika Hermione tidak mau, Hermione berkata itu salah Draco kenapa ia boros dan tidak bertanya dulu pada Hermione.
"Lalu untuk apa aku membeli dua dua setiap barang jika kau tidak mau?"
"Itu salahmu, kenapa kau boros sekali, membeli barang yang tidak kau butuhkan."
Mereka berjalan keluar dari restoran itu, Draco masih membawa dua kantong belanjaannya, Hermione masih menolak untuk menerima pemberian Draco. Begitu sampai di luar, Hermione berteriak menyuruh Draco mengembalikan saja belanjaannya ke toko.
"Kembalikan saja barangnya ke toko!" kata masih tidak mau menerima pemberian Draco.
"Baiklah jika kau tidak mau, aku akan meletakkan barangnya disini, di pinggir jalan, biar orang asing yang mengambilnya." Kata Draco kesal.
Hermione berkacak pinggang. Draco tidak peduli, ia benar-benar meletakkan satu plastiknya di pinggir jalan lalu menghilang.
"Stupid Ferret!" kata Hermione, ia mengambil plastik itu kemudian menghilang, langsung berapparating menuju ke apartementnya.
Hermione menyalakan lampu Apartementnya dan menemukan Ginny sedang duduk di depan televisinya sambil memakan sepiring salad buah.
"Gin?" tanya Hermione melihat rambut merah temannya.
"Hermione?" tanya Ginny membalikkan kepalanya lalu kembali fokus pada tv.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hermione lalu berjalan ke sofa dimana Ginny duduk. Hermione meletakkan plastik yang dibawanya di samping meja.
"Apa itu?" tanya Ginny bertanya.
"Nothing." Kata Hermione tidak ingin Ginny tahu dan heboh sendiri. "No, Gin… No…" kata Hermione mencegah Ginny mengambil plastik itu. Tapi Hermione terlambat dan Ginny sudah mengambil plastik itu.
"Oh, ini Apple kan?" tanya Ginny melihat-lihat barang yang ada di plastiknya.
"Gin, kumohon, jangan dibuka." Kata Hermione, jika Ginny membukanya maka Hermione tidak bisa mengembalikannya pada Malfoy.
"Kenapa tidak boleh dibuka? Hadiah untuk seseorang? Hermione, Dad pernah mengatakan bahwa barang Apple terkenal di kalangan Muggle karena mahal." Kata Ginny lalu menyipitkan matanya dan melihat Hermione.
Sure, ia tahu Hermione menyimpan seluruh penghasilannya untuk biaya kuliahnya, dan ia tidak yakin bahwa Hermione akan menghabiskan uangnya untuk barang-barang yang tidak begitu ia perlukan.
"Well, Gin… aku akan mengembalikan barang itu secepatnya." Kata Hermione.
"Pada siapa?" tanya Ginny sudah tahu.
"Malfoy."
Ginny kemudian mendengar cerita Hermione, bagaimana Draco baru saja menghabiskan sekitar tujuh ribu galleon untuk barang-barang yang ia bahkan tidak tahu cara menggunakannya.
"Jadi kau menolak semua barang ini?" tanya Ginny tidak percaya.
"Tentu saja, aku bukan tipe perempuan yang bisa dibeli dengan barang." Kata Hermione melipat tangannya.
Ginny tertawa. "Hermione, kurasa Draco Malfoy benar-benar menyukaimu." Kata Ginny.
Hermione memutar matanya.
"Hermione, apa yang kau harapkan dari seorang Draco Malfoy, ia dibesarkan dengan cara seperti itu, menunjukan kasih sayang dan perhatian dengan barang. Kau ingat kan bagaimana orangtuanya selalu mengirim cokelat dan permen, atau membelikan barang-barang baru dan mengirimkannya lewat owl. Draco Malfoy memang begitu Hermione…" kata Ginny menjelaskan.
Hermione menghela nafasnya, Ginny benar. Draco Malfoy memang dibesarkan dengan cara seperti itu, materi menjadi cara untuk menunjukkan kasih sayang, dan hal itu membuat Hermione sedih.
"Hermione, jika kau tidak menginginkan ini, kau bisa memberikannya padaku." kata Ginny melihat kotak dengan gambar jam tangan.
Hermione mencubit Ginny dan berkata bahwa jam itu berlapis emas.
"What?" tanya Ginny tidak percaya. "Draco Malfoy is Crazy." Kata Ginny setuju.
"Jadi apa yang membawamu kesini?" tanya Hermione.
Senyuman di wajah Ginny memudar.
"Aku bertengkar dengan Harry." Kata Ginny.
"Kenapa lagi?" tanya Hermione bingung, Harry dan Ginny adalah salah satu pasangan paling harmonis yang pernah ia temui. Bukan karena Hermione teman mereka maka Hermione mengatakan bahwa Ginny dan Harry harmonis, tapi memang karena mereka harmonis.
Harry dan Ginny tidak pernah bertengkar, mereka sering berbeda pendapat tapi tidak jarang sekali bertengkar, karena mereka berdua tahu kapan harus mengalah, mereka berdua tahu kapan perdebatan mereka harus dihentikan, intinya mereka tahu kapan harus berhenti.
Ginny bercerita bahwa Harry pulang dan Ginny menemukan noda cokelat di kemejanya, Ginny marah karena Harry lagi-lagi membeli cokelat-swiss tanpa sepengetahuannya. Harry meminta maaf dan tidak melawan, tapi Ginny malah marah karena Harry tidak melawam. Ginny marah dan pergi kesini.
Setelah sampai disini baru Ginny menyadari ia hanya menjadikan Harry sebagai pelampiasan perubahan moodnya. Ginny ingin langsung pulang dan memeluk Harry, minta maaf karena ia menyalahkan Harry atas sesuatu yang tidak dilakukannya.
"Oh, Gin, aku yakin Harry pasti akan mengerti." Kata Hermione menepuk pundak temannya yang sedang menangis.
"Oh, aku tidak tahu kehamilan akan membuatku seperti ini. Emosiku naik turun, dan aku tidak bisa mengontrolnya." Kata Ginny terisak, sekarang ia benar-benar merasa bersalah pada Harry.
"Kau mau aku aku memanggil Harry kesini?" tanya Hermione.
Ginny mengangguk. Hermione menelepon Harry dengan ponselnya dan memberitahu bahwa Ginny ada di apartementnya. Tidak lama Harry muncul dan Ginny langsung memeluk, menangis, meminta maaf.
Hermione hanya menghela nafas melihat dua sahabatnya itu.
-To Be Continued-
Seriously Guys... I only got three reviews for chapter 11? Kalian kenapa? cerita ini mulai membosankan ya? Hmm...
.
.
Hermione : Hello all reader.. would you mind gave her reviews? She's miserable with the lacks of reviews... please...
Draco : Right people, gave her, her review or she's gonna make us miserable...
.
.
-dramioneyoja
